Terus terang saya sangat miris membaca berita ini.
Dulu saya sering membayangkan bahwa kebobrokan mentalitas bangsa ini mungkin akan segera berakhir seiring dengan habisnya angkatan-angkatan tua dan mungkin selepas angkatan saya nanti sekalipun.
Tapi, eh ladhalah, saya terpaksa take back impian saya itu jauh-jauh dan put aside pikiran-pikiran yang baik lainnya tadi dan berpikir ulang apakah saya pantas untuk berandai-andai dan memimpikan hal-hal seperti itu? Tidak terlalu dini dan tidak terlalu pagi?
Coba tengok kisah si Ver, siswi SMA berumur 18 tahun yang karena ketakutannya menghadapi UN lantas mengambil jalan pintas dengan konsultasi ke dukun. Sebenarnya nggak akan jadi kisah kalau konsultasi berakhir dengan baik-baik, tapi lha ini beda jhe! Si Dukun nggak cuma memberikan konsultasi tapi sekalian meminta bayaran termahal dari apa yang bisa diberikan oleh seorang gadis, keperawanannya. Kalau suka sama suka sih ndak mangsalah itu hak mereka berdua, tapi aku yakin ini bukan perkara itu kok. Aku yakin si Ver punya bayangan yang lebih indah tentang bagaimana harus melepaskan keperawanannya ketimbang ditiduri dukun seperti itu?
Sebagai siswa yang telah mengenyam pendidikan lebih dari sembilan tahun, Ver harusnya bisa berpikir mana hal yang masuk akal dan mana yang tidak. Mana pendapat yang benar dan mana yang kurang tepat sekalipun pendapat itu datang dari ibunya sendiri, tho?
Saya bener-bener geleng kepala dan ndak habis pikir kalau begitu caranya. Menurut saya apa ada hal yang lebih maksimal yang bisa diberikan oleh dukun ketimbang memberikan efek ketenangan belaka ? Jadi supaya Ver bisa tenang dalam mengerjakan soal-soal UN maka ia pun datang ke dukun untuk minta 'petunjuk'. Tapi kalau sudah begini apa ya Ver masih bisa tenang mengerjakan soal-soal UN ? Alih-alih bisa lulus, justru mungkin sekarang si Ver lagi berpikir jangan-jangan usai UN, terlepas dari lulus atau tidaknya, ia malah harus mengandung anak hasil perbuatan cabul si dukun dengannya itu.
Ini sungguh-sungguh hal yang konyol itu sebabnya saya terpaksa harus berhenti bermimpi tentang sebuah generasi yang lebih baik. Gombalmukiyo kalau kata teman-teman saya di desa dulu untuk menyebut suatu kegombalan dan kekonyolan tingkat tinggi yang keterlaluan. Tapi ya sudahlah. Nasi telah menjadi bubur, keperawanan toh tak bisa dikembalikan lagi bagaimanapun caranya. Hal terbaik yang harus dilakukan Ver ya jangan mengulangi perbuatan masa lalu dan jangan telan mentah-mentah semua pendapat angkatan tua seperti ibunya sendiri yang kadang malah mengajarkan sesuatu yang menyesatkan itu.
Lalu tancapkan dalam otak dalam-dalam kenyataan bahwa sesuatu itu tak akan datang secara tiba-tiba, melainkan melalui perjuangan dengan bumbu doa.
Tidak ada istilah shortcut, tidak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah sebuah jalan yang akan terasa sangat panjang kalau kita tidak mau berusaha, dan terasa akan terjangkau pendeknya ketika kita telah mati-matian berusaha dan melihat spanduk finish di ujung jalannya.
Jrot!!!!
ps. eh.. mengko sikik.. lha kok jebul wong Klaten? Wohhh.. ojo-ojo tanggaku dewe yo!
banyak jalan menuju roma begitu kata orang. sayangnya ga tau roma itu apa dan bagaimana serta berujung dimana.
@Angga: Hahahahahahahaahha... komentar yang bagus dan kritis khas Angga..:)
Sakjane nek kamu ngeblog gitu, dari gaya tulisanmu, ketoke bakalan menarik lho...!
Apalagi kamu kan sudah sarjana, pasti blognya bakalan lebih rame ketimbang saya yang belum lulus ini.
Atau kamu ku bawa ke dukun wae supaya cepetan punya blog?
Huahuahuahuahuahua
@Windy
engga aneh kok menurut saya
hlawong orang yang "blum" lulus kuliah aja.
- bisa jadi boss
- bisa ngeblog, rame pisan.
- bisa minta maaf
bila digali bakatnya lebih dalem, enggak menutup kemungkinan bakat jadi dukun juga ada.
tapi menurut saya, pada umur itu, sangat memungkinkan, jujur!, saya umur segitu pernah jauh jauh ke ke gunung di sekitar salatiga hanya untuk minta jimat "supaya kalau membolos tidak kena marah para guru", dan yang berangkat bukan cuman saya, tapi satu rombongan. (beda beda sekolah pisan).
ah..untung dukunnya laki laki normal..
gw lebih menghargai usaha bakar buku terus abunya di minum dibandingin harus ke dukun...kok ya aneh...emang si dukun lulusan S2 apa ya...? anak SMU kok kaya ga pernah sekolah....
intinya bukan kegagalan bos, tapi kecolongan buaya darat. maka dari itu kita tidak boleh jadi buaya darat, dan selalu inget dosa. amin... hehehe... ngomonge pinter yo dab! hahaha...
yah begitulah kalo lagi gelap mata...
ee' kucing pun dikira toblerone
tapi bagemanapun kegagalan itu adalah guru yang harus dihormati :)

Ya! Sayalah Donny Verdian.
Hingga saat ini, setidaknya saya menetap di Yogyakarta, menjalani hidup dengan bahagia dan apa adanya. Saya hidup dalam dunia yang saya sendiri terkadang bingung untuk menyatakan dan mengenalinya.
Maka dari itu,saya tak gegabah untuk mengintisarikan keberadaan diri saya, lebih baik membaca/mengamati saja semua konten saya terutama pada kategori: Donny Verdian atau mengunjungi link partisipasi saya di beberapa social-community website di bawah ini:
Kalau Anda ingin menghubungi saya, silakan kirimkan email ke donny[at]verdian.net atau melalui akun YM: donnyverdian

Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.
Logo, desain halaman dan script situs web ini dibangun oleh Donny Verdian - Citraweb Nusa InfoMedia (2007) .
Ilustrasi dan ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Ardian Sukmaji (2007 - 2008), diinspirasi oleh Anjung Sakti (2005).
Foto hasil kreasi Ronny J. Dharma.
Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.
Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini.
Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.