Cetusan | March 18, 2008

Celana Mangsuk Silit

T-String
Dari seorang temanku dulu, dalam konteks bercanda, istilah cemas dijadikan akronim yang agak menjijikkan.
Cemas adalah celana masuk silit. Silit adalah bahasa jawa dari lubang dubur.
Jadi, celana masuk silit kira-kira berarti suatu keadaan dimana seseorang yang mengenakan celana, sebagian dari celana itu terjebak dalam lipatan pantat dan bersentuhan dengan silit itu tadi. Akibatnya, meski sudah diceboki dengan kertas tissue ataupun air dan sabun tapi toh yang namanya silit tetaplah silit yang menjadi sumber pembuangan yang senantiasa berbau, termasuk membaui permukaan celana yang terjebak itu tadi.

Tadi pagi, pada sebuah siaran berita di televisi, saya melihat ulasan tentang bagaimana kecemasan masyarakat negara ini menghadapi kelangkaan BBM, utamanya minyak tanah.
Saya menyaksikan bagaimana para ibu sibuk mengantri untuk mendapatkan minyak dengan harga melambung dan parahnya lagi, dengan jumlah yang sangat terbatas.
Sedangkan untuk berpindah dari penggunaan BBM ke gas yang rajin didengungkan, pada kenyataannya masih terlihat banyak kendala teknis yang akhirnya membuat rakyat kita pun ketakutan, miris.

Lalu saya membayangkan betapa masyarakat kita memang benar-benar cemas… laksana celana atau bagian celana yang masuk ke dalam silit. Terjepit dan mau tak mau harus membaui aroma tinja yang menggelora di depannya. Terhimpit masalah harga BBM yang melambung, persediaan terbatas, konversi gas yang tak kunjung lancar, serta ancaman naiknya harga-harga barang kebutuhan hidup karena kenaikan demi kenaikan yang terjadi di sektor ini.

Pemerintah toh bisa bilang dan menyalahkan “Oh… harga minyak dunia memang sedang melambung tinggi!”
Atau mungkin ada yang sanggup bilang “Kalau rakyat terus disubsidi nanti merusak rencana anggaran negara yang juga membengkak!”

Sah? Ya sah saja bilang begitu, bicara begitu lha wong mereka punya mulut dan empunya negara.
Tapi sah juga kan kalau rakyat lalu bilang sebaliknya “Kemana larinya uang pajak kami?” atau yang lebih parah lagi “Kenapa kalian seperti ulat keket dalam mengadili para koruptor?”
Apa mereka mau memberikan penjelasan yang sangat terbuka dan logis tentang semua itu kepada kami, bangsa dan rakyatnya?

Jadi bagaimana?
Kami sudah semangkin terhimpit oleh keadaan yang, oklah… bukan kalian yang bikin totally 100 persen.
Tapi, kalau sudah terhimpit seperti sekarang ini jangan lantas selalu ngomong laksana kentut di depan hidung kami berkali-kali.
Takutnya nanti kami tak tahan lagi atau malah jadi terbiasa dan tak mampu mengenali bau-bau yang lainnya lagi selain ini?

{ 8 comments… read them below or add one }

windy March 18, 2008 at 8:52 pm

iya emang don….semua serba mahal euy sekarang….ngajuin naek gaji belom di approve2 juga….payah….btw mulus jg tuh bokong ya…hehe

Reply

DM March 20, 2008 at 9:54 am

Hahaha!! Sajane awal tulisan iki nggilani! :) )

Tapi logiknya, bukankah makin makmur sebuah negara, justru makin bisa mensubsidi rakyatnya. Mensubsidi kesehatan, pendidikan, atau apapun yang membuat kelayakan hidup masyarakatnya.

Sudah berapa tahun usia Republik Indonesia? Segala dan semua masih dibebankan pada rakyat.

Ini mencemaskan, Don, mencemaskan! Kamu cemas?

Ndi, kamu cemas nggak?

Reply

Eka Yuli January 25, 2009 at 9:19 am

Iya mang benar ya, terus gimana solusi terbaiknya ..??

Reply

DV January 25, 2009 at 9:19 am

Lha mbuh…

Reply

silit February 12, 2009 at 8:24 am

silite mambu

Reply

cemas June 17, 2009 at 4:54 am

aduh,aq lg cemas skrg..
celanaku lg masuk silit..
hahahahaa

Reply

DV June 17, 2009 at 4:54 am

ndagel dot com

Reply

hendri (eric) June 18, 2011 at 5:55 pm

semua itu permainan elite tingkat tinggi……..minyak mentah.di bawa keluar negeri sedang sumur2 minyak kita di kelola orang asing/negara lain example;chevron tg santan bontang,santos camplong sumenep,handill total balikpapan dan banyak lagi…………….karena bodoh nya bangsa ini sehingga rakyat lah jd korbanya………..kebodoan yg selalu di dengung kan…….

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: