Cetusan | August 31, 2008

Nyekar ke Makam, Salahkah ?

Minggu siang kemarin, bersama Papa aku nyekar ke makam leluhurku di Klaten dalam rangka nyadran, sebuah tradisi Jawa menyangkut pengiriman doa bagi arwah leluhur
yang telah meninggal khusus menjelang Bulan Pasa, bulan kesembilan dalam kalendar Jawa.

Sedianya Mama dan Ciprut hendak turut namun apa dikata, mereka berdua sedang mendapatkan halangan bulanan, menstruasi,
yang membuat mereka tidak dapat ikut serta mengirim doa ke makam.
Ada tiga makam yang berada di dua tempat yang kudatangi tadi. Dua makam yang bersebelahan adalah makam Eyang Buyut Kakung dan Eyang Buyut Putri yang ada di Kompleks
Pemakaman Sungkur
, sedangkan satu makam lagi adalah makam Eyang Kakung yang ada di Pemakaman Mangkak Klaten.

Acara nyekar pun tak sampai satu jam selesai. Di tengah terik matahari yang membakar siang hari ini, satu kewajiban nyadran ke makam leluhur telah usai.
Tak seberapa lama setelah beristirahat di rumah orang tuaku, aku pun kembali ke Jogja untuk melanjutkan aktivitas harian seperti biasa.

Sesampainya di Jogja, ketika sedang mencoba menuliskan header artikel ini, tiba-tiba Tunggonono,
preman ndeso yang setia kepadaku itu mendatangi ruanganku.
Kedatangannya seperti biasa adalah peluang ide baru dalam menulis, oleh karenanya kuhentikan kegiatan menulisku demi seonggok ide yang kadang datangnya tak dinyana itu.

“Weh, tumben Bos minggu siang ada di kantor..”
Tukasnya pringas-pringis.

“Hehehe iya Nggon, abis mudik ke Klaten nyadran.. nyekar leluhur. Kamu sudah?”

“Wah kulo sampun. Lho si Bos itu masih ngenal tradisi nyadran juga tho?”

“Lho lha iya tho, kan aku ini orang Jawa, Nggon! Pertanyaanmu kok aneh… ”

“Wohh… lha kupikir si Bos itu kan sudah priyayi IT, tiap hari ngadepnya komputer terusss, udah canggihlah istilahnya tapi kok ya ternyata masih kenal nyekar segala lho…”

“Hehehehe… oalah Nggon, Nggon! Aku itu memang orang IT, tapi aku ya tetap ndak bisa meninggalkan identitasku sebagai orang Jawa tho? Dan sebagai orang Jawa ya tetap tak bisa dipisahkan
juga dari tradisi-tradisi yang menempel disitu.”

“Oh.. gitu tho.. ya, ya..” Tunggonono manggut-manggut.
Dalam keter-manggut-manggut-annya itu aku sering membaca sebagai proses pencernaan hal baru ke dalam otaknya.

Aku pun melanjutkan pembicaraan.
“Bagiku nyekar itu punya dua fungsi yang keduanya saling tidak bisa dipisahkan, Nggon.”

“Wah, asyik ini ilmu baru- ilmu baru, hihihi!”

“Ilmu baru, gundulmu, Nggon! Hehehehe, ya gitu lah…
Nyekar itu, fungsi pertamanya adalah bersyukur kepada Tuhan sebab Dia telah memberikan leluhur yang begitu baik sehingga mereka pun bisa melahirkan orang tuaku yang baik, dan orangtuaku
melahirkan serta merawatku.”

Tunggonono masih manggut-manggut lagi, kurasakan otaknya mencerna “ilmu baru” ku itu tadi.
“Lalu yang kedua, nyekar sebagai perhomonan doa restu dari leluhur bagi kita. Aku adalah pribadi yang percaya bahwa meski para leluhur kita itu sudah meninggal akan tetapi
mereka adalah tetap menjadi pihak yang senantiasa berdoa dan memohonkan yang terbaik bagi kita yang masih mengembara di muka bumi ini.
Seperti layaknya dalam sebuah perlombaan lari, mereka, para leluhur itu adalah orang-orang yang telah menyelesaikan lintasan terlebih dahulu kemudian menanti di ujung garis finish
sambil menyemangati kita yang masih berlari ini untuk terus memacu kekuatan yang terbaik hingga akhirnya bersatu di garis finish yang sama.”

“Oh gitu ya… Weh kok nyahutnya ke lomba lari kayak Usain Bolt yang juara dunia itu Bos.”

“Gundulmu peang, Nggon!” sergahku singkat padanya.

“Hehehe.. Walah, si Bos gitu aja es-mos-si!

Tapi bener kok ucapan sampeyan itu tadi. Tapi Bos…”

“Tapi opo maneh?”

“Tapi orang-orang itu banyak menilai bahwa nyekar itu kadang dikait-kaitkan dengan klenik jhe, dengan mejik-mejikan gitu. Piye jal niku?”

“Hehehehe.. itu kan kata orang, Nggon. Nek miturutku, nyekar itu bukan kegiatan magis kok. Kan tergantung tujuannya tho…”

“Oh gitu tho Bos..” Ia kembali takjub mendengarnya..

“Ho oh.. hidup itu memang kontras Nggon! Kalau hari ini kamu menilai aku sangat kontras karena aku ini orang IT tapi kok ya masih menjalankan ritual nyekar pas Nyadran kayak sekarang ini.
Tapi percayalah justru dari kekontrasan itu terjadilah kelengkapan. Lha kamu apa ndak sadar kalau kita ini menjalankan sebuah persahabatan yang kontras juga?”

“Kok bisa ? Kontrasnya dimana? Apa karena kulit sampeyan putih dan saya hitam gitu? Iya !?” Mata Tunggonono mulai dipicing-picingkan ke atas khas intimidasi kepremanannya yang sudah lumayan
jarang kulihat belakangan ini dan terus terang saja kurindukan sangat.

“Hehehehe, rileks Bro, rileks… Itu benar, tapi ada yang lebih benar lagi, Nggon..”

“Apa itu?”

Ia tampak masih tak mengendorkan tensi bicaranya padaku.

“Aku orang sing jaremu priyayi IT itu, dimata orang-orang aku pinter, sementara kowe ki preman ndeso sing pinter cuma kalau pas ada di mimpiku aja dan dimata orang-orang yang mbaca blogku
kowe ki yo goblok tenane jhe !”

Tunggonono yang tadinya melotot-melotot kali ini malah mesam-mesem saja dan berujar “Lha ya itu kan katanya.. Padahal aslinya kita ini sama-sama goblok tho Bos!”

“Wohhhhh.. asu!” Umpatku padanya.
Tunggonono pun cepat-cepat keluar ruangan saya sambil terbahak-bahak …

Kali ini, aku yang kena Tunggonono …

{ 41 comments… read them below or add one }

Ikkyu_san August 31, 2008 at 4:06 pm

Nyekar ya….

Saya bukan orang Jawa, saya bukan islam juga. Tapi bagi saya nyekar itu penting. kapan saja. Tapi yang lebih penting bukan kehadiran di makam, tapi pemikiran kita pada leluhur dan Tuhannya. Tanpa kesadaran itu buat apa kita hadir di kompleks pemakanan nan panas terik menyengat itu.

Jepang punya kebiasaan setahun 2 kali, pas pergantian musim dari panas ke gugur, dan dari dingin ke semi. Selain hari upacara tertentu peringatan 49 hari, 1 tahun, 3 tahun dan 13 tahun.
Tapi Jepang juga punya altar di rumah, tempat menyapa leluhur setiap pagi, dan menyatukan kedua tangan mohon restu.

Sekali lagi, bukan tempat, waktu atau jumlah… yang terpenting esensinya.

Reply

DV August 31, 2008 at 4:06 pm

Saya setuju dengan Anda. Kata kuncinya adalah penghomatan pada leluhur.

Reply

angga August 31, 2008 at 5:22 pm

iya
duduk ditengah kuburan mau gak mau memberi sebuah perasaan khusus.., seperti peringatan sunyi tentang dimana kelak kita akan berakhir.

nggak usahlah sampe duduk ditengahnya..
cukup memandang sasono Mbonoloyo Solo dari kaca bus yang merayap perlahan jam 11 malem aja…,gimme a fuuh..
kamboja kamboja itu..

Reply

DV August 31, 2008 at 5:22 pm

Bahasa Latinnya, Memento Mori :)
Artinya kurang lebih, ingatlah akan kematian :)

Reply

Rafki RS August 31, 2008 at 8:21 pm

Menurut saya tidak ada salahnya. Asalkan jangan berlebih-lebihan dengan meminta macam-macam sehingga malahan menjadikan makam sebagai tempat meminta-minta. Terlalu mengkeramatkan makam inilah yang salah menurut saya.

Reply

DV August 31, 2008 at 8:21 pm

Betul Pak Rafki.
Saya mengkeramatkan makam dalam artian bahwa saya menghormati tempat beristirahatnya jasad manusia.

Tapi kalau meminta yang berlebih-lebihan, saya pikir itu terjadi karena muatan doa yang menurut saya sebenarnya bisa tak melulu permintaan dan permohonan. Kita bisa memberi muatan doa sebagai ungkapan syukur.

Setuju!

Reply

Jauhari August 31, 2008 at 9:28 pm

Semua tergantung Niat ;)

Reply

DV August 31, 2008 at 9:28 pm

Amin, Pak :)

Selamat menjalankan ibadah puasa jika Anda berpuasa

Reply

My August 31, 2008 at 11:31 pm

menurut saya sech gak ada salahnya.. malah dapat mengingatkan kita ttg kematina.. :)

Reply

DV August 31, 2008 at 11:31 pm

Kematian, Mbak.. bukan kematina..
Pelan-pelan atuh jangan terburu-buru ngetiknya :)

Reply

Yoga September 1, 2008 at 12:11 am

Kemarin melewati tiga makam yang ke-tiga-tiga penuh sesak dengan manusia. Bahkan ada yang seperti piknik –gelar tikar, bawa makanan dan minuman. Saya juga baru tahu istilah “nyadran” kemarin itu. Biarpun… (ah nggak penting ini). Justru dipikir-pikir bagus juga ya, menyiapkan diri jelang Ramadhan dengan mengingat kematian agar ibadah lebih khusyuk, “indah” dan bermakna.

Reply

masenchipz September 1, 2008 at 1:32 am

kayaknya semua bergantung ama niatnya dech. om…

Reply

Lala September 1, 2008 at 1:36 am

Hai, Mas!

Ada dua pendapat di sini dan kedua-duanya datang dari Guru Ngaji saya yang berbeda-beda. Yang satu bilang, nggak boleh tuh nyekar ke makam karena itu artinya syirik. Berdoa untuk leluhur yang sudah meninggal bisa dilakukan saat selesai sholat, di atas tempat tidur, dll dsb, tidak melulu harus di atas pusaranya.

Sedangkan pendapat kedua, bilang kalau boleh saja nyekar, dengan esensi mendoakan dan sekaligus mengingatkan kita bahwa suatu saat kelak kita juga akan mati.

Nah,
saya ambil pendapat yang kedua saja, Mas. Ini yang paling pas buat seorang Lala yang memang datang ke makam bukan untuk minta wangsit, petunjuk mejik, atau hal-hal klenik-klenik lainnya…. :D

Reply

ika September 1, 2008 at 2:18 am

saya keinget jaman kecil saya tiap sebelum puasa diajak nenek ke makam,, ah bete abis..yang diliat cuman nisan,, dan kurang ajarnya aku berhubung ga mudeng itu doa2 gitu (nenek muslim, aku non) aku iseng banget rewel sama emak minta jajan,minta keluar dari situ..hehehhee

Reply

DV September 1, 2008 at 2:18 am

Ika,
saya juga non muslim meski Papa saya muslim.
Eyang yang kusekar makamnya itu juga dua orang muslim dan yang satu lagi non-muslim.

Saya berdoa dengan cara yang saya imani benar, asalkan niat dan tujuannya jelas kupikir tak mengapa juga :)

Reply

windy September 1, 2008 at 4:06 am

hmm…. ke kebumen yuk don…. jadi pengen nyekar juga….huaaaaaa

Reply

DV September 1, 2008 at 4:06 am

Lha, bukannya besok sebelum loe kemari ama DM, loe berdua mau mampir ke Kebumen dulu ? Jadi nggak tuh?

Reply

DM September 1, 2008 at 6:10 am

Sama DM? Berdua ke Kebumen dulu?
Hei-hei-hei… aku menangkap gelagat nih?
Hmmm…

*cepat-cepat mengontak intel untuk disebar ke seluruh penjuru Jakarta, Yogyakarta, Denpasar*

Reply

DV September 1, 2008 at 6:10 am

Denpasar nggak perlu, Bung!
Emangnya mau ng-intel-in lakinya?

Kirim ke Jakarta aja!
Hahahha….

Reply

tanti September 1, 2008 at 7:47 am

nyekar untuk mengenang mereka yang telah dipanggil Tuhan kembali,
untuk menyatakan cinta kasih kita pada mereka,
untuk mengucap syukur atas keberadaan mereka dalam hidup kita,
untuk menyatakan penghargaan dan meneladani hal-hal yang patut dicontoh selama hidup mereka

nyekar tidak semata mengingatkan pada kematian, tetapi untuk lebih menghargai hidup dan membuat hidup itu berarti

Reply

DV September 1, 2008 at 7:47 am

Komentarmu positif buanget kuwi, Mbak.
Aku suka kalimat – menghargai hidup dan membuat hidup itu berarti -

Splendid!

Reply

iman brotoseno September 1, 2008 at 10:21 am

yang klenik kalau minta nomor di makam khan.
Budaya ini justru mesti dilestarikan agar ada keterikatan dengen leluhur kita

Reply

DV September 1, 2008 at 10:21 am

Yak, tul Mas Imam!
Tapi sayangnya orang-orang lebih suka men-generalisasi masalah ketimbang mengurainya satu per satu …

Thanks komentarnya, Mas.

Reply

ario saja September 1, 2008 at 1:20 pm

emang orang IT gak boleh nyekar yah ??? eh tapi suatu hari nanti nyekar ke makam cukup buka putty trus langsung traceroute ip makamnyanya dulu langsung aja di ping doa-doa

Reply

suhadinet September 1, 2008 at 6:24 pm

Nyekar? Gak ada salahnya kok.
Emang kalau kamu non muslim gak boleh nglanjutin tradisi nyekar orang jawa di bulan pasa?

Reply

DV September 1, 2008 at 6:24 pm

Betul, Mas Suhadi.
Saya, meskipun non muslim juga tak mau tersekat-sekat hanya untuk nyekar ke makam.

Seperti yang ditulis Bung Iman Brotoseno di bawah, nyekar lebih bermakna sebagai penghormatan untuk para leluhur yang sudah meninggal…

Reply

Irene September 1, 2008 at 10:35 pm

bagi gue, nyekar itu adalah suatu tradisi.. dan setelah hampir 7 tahun enggak nyekar karena jauh dari tanah air, rasanya kangen banget :(

Reply

DV September 1, 2008 at 10:35 pm

Ah, Irene, aku bisa merasakan seperti apa kangenmu untuk nyekar.

Aku juga sedang berpikir bagaimana nanti kalau aku sudah di OZ dan kangen nyekar ya..? Tapi setidaknya sekali dalam setahun kusempatkan untuk pulang dan nyekar, ah.

Thanks untuk komentarnya my old friend :)

Reply

tukangobatbersahaja September 1, 2008 at 11:44 pm

saya pribadi jarang sekali nyekar. cukup mendoakannya dari dalam hati. tapi ga apa-apa kok kalo mau nyekar…

Reply

DV September 1, 2008 at 11:44 pm

Intinya adalah mengingat leluhur dan mengirim doa Mas, sepakat dengan Anda!

Salam kenal dan salam super!

Reply

marshmallow September 2, 2008 at 5:23 pm

intinya: ziarah sebagai penghormatan pada leluhur dan mengingatkan diri akan mati.

adegan ngobrolnya lucu banget.
hahaha… DV kalah sama tunggunono.
kena batunya deh.

Reply

DV September 2, 2008 at 5:23 pm

Tunggonono memang pintar, tapi kadang bisa juga dibikin goblok, Kak :)

Reply

remon September 2, 2008 at 7:47 pm

hmmmmmm…. nyekar yah? ya ga ada yang aneh sama itu. paling ngga nunjukin kalo kita masih inget sama mereka yang menjadi pembentuk silsilah keluarga kita. terus mau percaya ga percaya doa orang tua kepada anak-cucunya itu kan doa sakti yang selalu meneduhkan hari-hari kita… jadi yah tak ada salahnya juga kalo kita mensyukuri itu semua dengan mendoakan mereka supaya mendapatkan kedamaian abadi.

Reply

DV September 2, 2008 at 7:47 pm

Superb!

Reply

qizink September 3, 2008 at 8:51 pm

Hmmm… jadi inget.. aku dah dua tahun nggak nyekar di makam bapak!

Reply

DV September 3, 2008 at 8:51 pm

Wah, kalau ada waktu bisa nyekar tuh Mas, Bapak pasti kangen disekar panjenengan…

Reply

edratna September 7, 2008 at 7:44 am

Nyekar tidak salah, mengingatkan kita bahwa suatu ketika kita juga akan dipanggil oleh Nya.Cuma saya dan keluarga jarang memaksakan diri untuk nyekar, karena jarak yang jauh, dan kesibukan….jadi jika demikian sekedar mendoakan para pinisepuh setiap kali habis sembahyang. Namun jika memungkinkan, saat ada tugas atau ada kesempatan, kami juga nyekar ke leluhur.

Reply

Silo September 10, 2008 at 7:07 pm

Menurut saya sebagai orang Islam Ziarah kubur itu tidak salah bahkan dianjurkan karena bisa mengingatkan kita pada kematian. Asalkan kita mengetahui ilmunya dan menjauhi hal yang di larang..
Nah tugas kita untuk mengetahui tata cara ziarah dan hal yang dilarang dalam ziarah kubur.

Reply

DV September 10, 2008 at 7:07 pm

Betul, Mas.
Ketika kita sudah tahu rambu-rambu mana yang benar dan mana yang dilarang, semuanya akan tampak lebih menyenangkan…

Reply

arjunasama May 9, 2009 at 1:09 pm

nyekar tidak ada salahnya justru banyak baiknya,dan harus dibedakan mana nyekar mana ziarah.nyekar terikat pada bulan tertentu ditempat tertentu seperti makam,laut atau gunung.nyekar,nyadran ini hasil peninggalan leluhur yang bernilai tinggi.sementara ziarah ke makam perbuatan baik yang bisa dilakukan kapan saja ada kesempatan.

Reply

nug February 13, 2010 at 4:32 pm

nyekar itu diboleh kan yang tidak dibolehkan itu niatnya, kalo nyekar niatnya minta doa kesuksesan ato apalah itu ke orang yang disekar itu yang tidak boleh, begono dulure begini dulure begitu :D

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: