Cetusan | October 13, 2008

Setelah Tiga Tahun Tanpa Nikotin

Sebelum 14 Oktober 2005, tak pernah terpikirkan padaku bahwa tepat pada hari itu aku akan melakukan satu keputusan besar, berhenti merokok setelah lima belas tahun sebelumnya menjadi orang yang sangat tergantung pada satu hingga dua bungkus rokok setiap harinya.

Meski sebelum-sebelumnya telah berulangkali mencoba dengan berbagai metode untuk lepas dari ketergantungan batang-batang tembakau yang dipadatkan itu, akan tetapi justru hari itu kulewati tanpa berpikir sedikitpun tentang bagaimana berhenti rokok.

Sama sekali tak kulibatkan permen karet anti nikotin yang susah-susah kutitip dari Australia dan dibawakan Joyce, mantan kekasih yang sekarang menjadi istriku itu. Tak kupasang juga plester anti nikotin yang katanya setiap kita tempel di lengan akan menstimulasi sistem syaraf perasa kita bahwa kita “seakan-akan telah merokok” itu.

Juga Tuhan, ah.. pihak yang sering kujadikan simbol menakutkan yang kuanggap selalu berkata “tubuhmu adalah bait suciku, jangan kau kotori dengan rokokmu….”. Ya, bahkan dia waktu itu tak kulihat berjaga-jaga menakut-nakutiku dengan gada dan tongkatnya.

Yang dibutuhkan ternyata hanya seorang kerabat dekat yang sangat lembut berkata padaku melalui teleponnya malam itu “Don, aku divonis kanker.”

Akupun tercekat, terkesiap lalu secara tak sadar kumatikan batang rokok dengan memusnahkan baranya pada permukaan kaca asbak rokokku sambil membayangkan betapa sel-sel ganas mulai merenggut tubuh letih kerabatku itu tadi.

Satu hal yang kuingat, itulah rokok terakhir yang kuhisap sejak tiga tahun lalu hingga sekarang …
Lalu pada akhirnya sekarang aku sanggup berkata, inilah kemenangan tahun ketiga setelah aku memutuskan untuk menjadi orang yang bisa hidup bebas bergerak tanpa rokok.

Merdeka!

{ 29 comments… read them below or add one }

DM October 13, 2008 at 1:30 pm

Haduh, Don! Jangan menakut-nakuti begini…
Aku belum sanggup berhenti…
Haduh, kamu ini!
Bikin tercekat dan terkesiap aja.
Rokokku sampe mati.

Reply

mantan kyai October 13, 2008 at 3:56 pm

wah kalo saya blom pernah mencicipin nikotin mas. btw selamat!!! emang susah menghindari rokok bagi yg udah kecanduan. saya lihat sendiri bagaimana susahnya bbapak saya menghindari kecanduan rokok. kalo gak ngerokok sesak nafas. nah lo !!!

Reply

Gunawan Rudy October 13, 2008 at 7:57 pm

Mas, saya 3 kali mencoba berpisah dari nikotin itu… tapi paling lama 3 bulan.

Akhir-akhir ini mencoba lagi, ada motivasi sih dari seseorang. :D

Reply

iJul October 13, 2008 at 9:23 pm

selamat menjadi orang merdeka. Nothing can control our life ;) welcome to the club! (soalnya 3 tahun lalu kita belum kenal)

Reply

Angga October 13, 2008 at 11:17 pm

merokok memang sangat nikmat, menentramkan fikiran, memacu produksi ide

sayang banget kudu memilih berhenti, buat ditebus ama bangun pagi bebas dahak dan harapan akan paru paru yang lebih tahan lama.

harga yg cukup mahal menurutku, tp worth it…, kubeli tunai sejak 9 Agustus lalu.

Reply

sawali tuhusetya October 14, 2008 at 2:07 am

hingga saat ini saya masih merasakan betapa susahnya untuk berhenti merokok, mas donny. entah, saya sendiri tak tahu kapan saya bisa berhenti membakar dada dengan gulungan tembakau itu, haks. selamat juga kepada mas donny yang telah berhasil lepas dari cengkeraman asapk bernikotin itu. doakan, saya bisa segera menyusul, mas.

Reply

edratna October 14, 2008 at 3:00 am

Bagi seorang perokok, sering mengatakan bahwa peluang orang yang sakit kanker dibanding yang tidak, gara-gara merokok adalah sangat kecil.

Tapi pernahkah terbayangkan bagaimana sedihnya jika yang terkena kanker paru-paru adalah isteri atau anak yang dicintai, hanya gara-gara menjadi perokok pasif…..dan tak pernah mencoba merokok sebatangpun.

Ada dua orang yang kukenal baik, terkena kanker paru-paru karena suaminya perokok….duhh sedihnya, terpaksa si ibu meninggalkan putra-putranya yang masih kecil, dan sang suami yang tertunduk kelu penuh penyesalan.

Reply

iman brotoseno October 14, 2008 at 3:52 am

waduh , saya baca postingan ini sambil ngerokok…

Reply

Yoga October 14, 2008 at 4:43 am

@DV,
Selamat Mas DV anda sekarang beralih menjadi perokok pasif… :D
Serba repot ya…

@DM,
Aku cuma kasihan sama buku-buku dan keyboardmu…pasti bau rokok! Mereka bisa protes lho… :P

Reply

Silo October 14, 2008 at 4:53 am

Akhirnya bisa bertahan kan…salut.
Meski saya bukan perokok tapi saya tahu betapa sulitnya berhenti…Selamat

Reply

grubik October 14, 2008 at 5:34 am

berhenti merokok?
hebat mas…

Reply

Rafki RS October 14, 2008 at 7:27 pm

Kalau saya belum bisa berhenti sepenuhnya. Masih saja ada godaan untuk mencoba agak sebatang sehari. Tapi boleh dikatakan saya belum termasuk pencandu rokok.:D

Selamat buat Mas Donny yang berhasil berhenti total.

Reply

Farhan October 14, 2008 at 11:15 pm

saya juga dah 1,5 tahun dah merdeka dari nikotin… Hidup benar2 fresh :D

Reply

goenoeng October 15, 2008 at 12:21 am

whalah…rokokku ikut2an mati. gara2 tulisanmu, aku mbacanya sampe ngowoh…terus ngeces, netesi rokok

Reply

Qizink October 15, 2008 at 2:31 am

Selamat buat DV yang udah menang melawan nikotin. Saya cuma sanggup tiga hari, waktu kuliah muntah darah. Setelah itu tetap ngadu bako .

Reply

mascayo October 15, 2008 at 11:09 am

sewaktu kuliah pernah berhenti 3 bulan .. selepas kerja pertama berenti lagi 6 bulan .. di tempat kerja kedua bisa berenti lagi 3 bulan … jadi total sudah 12 bulan … gyah! saya pasti berenti …

Reply

tanti October 15, 2008 at 12:05 pm

Tiga tahun?
Bravo !!!!!

Reply

Ikkyu_san October 16, 2008 at 7:24 am

seperti kata ibu Enny,
perokok itu sebetulnya egois
dia pikir toh hanya dia yang akan sakit dan mati
dia tidak pikir bahwa di sekelilingnya (perokok pasif) juga bisa kena getahnya. Saya pernah diperiksa paru-parunya berbayang, langsung dokter tanya, “Suami ibu perokok? …”ya”.
Dan satu hal yang paling tidak saya suka yaitu ketika seorang perokok merokok di depan anak kecil. Biarlah saya atau yang sudah dewasa yang menderita, jangan anak kecil /bayi harus menanggung beban itu juga. Banyak orang Jepang yang merokok dengan seenaknya di depan anaknya. Untung suami saya tidak, tapi semakin besar riku, dia selalu mencari ayahnya yang sdang merokok di luar…dan dia akan menjadi perokok pasif. Kalau sudah begitu saya marahi Riku, agar tidak mendekati ayahnya yg sedang merokok.
Saya tahu suami saya merokok krn stress dengan pekerjaan (masih untung dia tidak berjudi/main perempuan) but…..

Tapi…sekali lagi…keputusan untuk berhenti merokok harus dari diri sendiri.

sorry jadi panjang ya Don…

Reply

Arie October 17, 2008 at 2:21 am

Masih terlintas dalam ingatan, percakapan dengan Dv, kurang lbh 5 thn yg lalu @ citraweb

Arie : Abis berapa bungkus sehari Bos? Apa nggak boros?(kenapa saya menanyakan hal ini, karena dari pertamakali ketemu tangan Dv tidak lepas dari genggaman sebungkus rokok :) ) )

DV : Lho, jangan dilihat dari borosnya, lihat dari berapa rupiah yang kamu dapatkan untuk membeli sebungkus rokok hari ini..

Ternyata sekarang sudah 3 th tidak merokok lagi, Selamat, Bos!!

kalo diitung2 udah ngirit berapa rupiah ya??

:) )

Reply

bewe October 17, 2008 at 7:58 pm

Wah dahsyat! Semoga motivasi stop merokokmu cepat menular lewat blog, Kisanak!

Reply

Andy MSE October 17, 2008 at 11:32 pm

Makasih mas pencerahannya…
*saya mau coba berhenti merokok…

Reply

johanis October 20, 2008 at 9:12 am

selamat ya..

kalo mw tau info2 ttg sehat alami, hanya d blog saya..
mampir2 ya..

Reply

sapimoto October 22, 2008 at 2:33 am

Entah mengapa saya merinding membaca tulisan diatas. Sampai saat ini, saya belum bisa menghentikan kebiasaan merokok.
Padahal bapak dan bapak mertua meninggal juga akibat rokok…
Mudah-mudahan ini menjadi semangat baru bagi saya untuk berhenti merokok…

Reply

bravo9682 October 28, 2008 at 3:59 am

selamat ya bung.
saya juga dulunya juga perokok berat. hingga akhirnya saya memutuskan bercerai dengan rokok.
malah saya talak 3 sekalian
wuiiih alihirnya nikmat sekali hidup ini tanpa rokok

Reply

tia November 3, 2008 at 7:29 am

plester anti rokok nya beli dimana? kirain yg diplester mulutnya.. hahahaha!!!

Reply

DV November 3, 2008 at 7:29 am

Wah, waktu itu dibeliin Joyce di Perth kalau ndak salah. Yang paling penting bukan plester atau mulutnya, Ti.. tapi NIAT! NIAT hahahah!

Reply

samsul arifin June 9, 2009 at 10:41 pm

wah, keren mas. ceritanya inspiratif.
semoga ga akan pernah membakar tambakau yang dikeringkan itu lagi ya…

Reply

DV June 9, 2009 at 10:41 pm

Amen..:)

Reply

ariemega October 18, 2011 at 12:33 pm

aduh, aku brenti .. mulai lagi.. brenti.. mulai lagi. padahal dari nikah sampe hamil dan 4th anakku, aku stop beneran!.. eh.. ngudut lagi… hhuhuhuhhu

Reply

Leave a Comment

{ 1 trackback }

Previous post:

Next post: