Cetusan | February 22, 2009

Weker Alarm

WekerDulu waktu kecil, ketika menjelang tidur, hal yang paling kutakutkan adalah kalau-kalau matahari besok tidak terbit lagi dan gelaplah dunia! Tapi akhir-akhir ini, doa yang selalu kupanjatkan sebelum tidur adalah semoga pada keesokan paginya, weker alarm yang kustel dapat berbunyi senyaring-nyaringnya dan tidak ngadat. Aku lebih mengkawatirkan alarm ketimbang matahari karena matahari diatur oleh alam, sementara justru bangun pagiku sangat dan sungguh diatur oleh dering alarm.

Kenapa aku sangat tergantung pada alarm?
Awalnya adalah komitmen.
Secara disadari atau tidak, sedari kecil aku, dan juga kalian, selalu dituntut untuk berkomitmen terhadap sesuatu dengan menggunakan waktu sebagai pijakannya, sebagai lahannya.

Komitmen untuk masuk sekolah pukul 07.00 pagi!
Komitmen untuk masuk kelas kuliah jam 9 pagi!
Komitmen untuk berangkat kerja jam 6.30 pagi atau kalau tidak maka satu-satunya bis yang bisa mengkoneksikan jadwal bus lainnya yang ada di kota menuju tempat kerja akan berlalu begitu saja!

Komitmen seperti itu sama halnya dengan menancapi sepetak lahan waktu yang linier dengan bilah-bilah bambu lalu kita berjalan diantaranya. Setiap kita merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan menyandung depan, maka disitulah kita tahu bahwa kita telah sampai pada bilah terdekat dan satu komitmen yang telah kita tancapkan sebelumnya siap untuk kita hadapi dan selesaikan.

Alarm adalah pengganjal tersebut. Pemberi sandungan untuk merangsang otak kita bahwa harus ada reaksi dan penyelesaian terhadap sesuatu yang menyandung itu, berdering itu.

Waktu kecil, waktu aku belum terlalu memandang perlu alarm karena Mamaku lah yang menjadi “alarm” hidup, aku diajari oleh nenekku untuk berucap “Kakang Kawah Adi Ari-ari, tangekno aku jam enem!” menjelang tidur.
Konon menurutnya, mantra tersebut berguna untuk meminta pertolongan pada kakak “kawah” serta adik “ari-ari” untuk membangunkan kita pada waktu yang kita mintai sehingga sedikit banyak dapat menghemat energi Mamaku yang biasa dihabiskan untuk menggoncang-goncangkan tubuhku serta berbicara agak keras hingga aku terbangun oleh karenanya.

Siapa dan apa itu Kakang Kawah dan Adi Ari-Ari?
Menurut adat orang Jawa (dan karena aku orang Jawa!), orang lahir tidak hanya sendirian. Ia memiliki seorang kakak bernama kawah, adalah air ketuban yang dikeluarkan Ibu sebelum melahirkan, serta seorang adik bernama ari-ari, adalah plasenta, yang dikeluarkan Ibu setelah kita lahir.

Mejiknya, pada awal-awalnya mantra itu sedemikian manjur bagiku.
Untuk beberapa pagi sesudah nenekku mengajariku dan aku memraktekannya, Mamaku selalu merasa terlambat membangunkanku karena begitu masuk ke kamar tidurku, ia temui aku sudah duduk sambil membaca buku bersiap mandi dan bersekolah.
Tapi lama-kelamaan tampaknya Kakak Kawah dan Adik Ari-ari tak lagi sanggup untuk membangunkanku terlebih ketika aku mulai meminta hal-hal yang kurang masuk akal, misalnya seperti selepas nonton sepakbola hingga pukul 03.30 lalu sebelum tidur merapal mantra untuk dibangunkan pukul 5.30, ya jelas untuk bangun tidur pada jam segitu itu, nggak mungkin punya :)

Pindah ke Jogja selepas SMP dan berpredikat anak asrama, sudah barang tentu weker alarm adalah barang yang sangat kubutuhkan menggantikan sosok Mama yang sebelumnya selalu membangunkanku.

Tak ada lagi sentuhan tangan halus berujar “Le, tangi… wes jam enem! Ayo.. gek ndhang pakpung :) ” dan tergantikan oleh suara sember alarm yang dihasilkan dari sebuah pelatuk alumunium kecil yang dipukul-pukulkan ke dalam sebuah mangkuk-mangkukan berbahan baku sama ketika jam telah menunjukkan waktu tertentu.

Ajaib!
Pada awal-awal tinggal di Jogja, alarmku sangat berfungsi luar biasa dengan hasil menakjubkan karena cukup sekali dering dan aku telah terbangun dengan suksesnya. Tapi sekali lagi, hal itupun tak berlangsung lama!
Memasuki bulan-bulan berikutnya, alarmku tak lagi mempan membangunkanku dari tidur semalam.
Kehadirannya, hingga akhirnya aku lulus SMA dan keluar dari asrama, alarm terefektifku adalah tendangan kaki, pukulan ke arah pantat serta teriakan “Woyyyy.. bangun woyyyy! Udah setengah tujuh woyyyy!!!!!!”
Yap, teman-teman asrama adalah alarm yang paling mujarab!

Pernah pula dalam kurun waktu lebih dari delapan setengah tahun, aku hidup dalam dunia yang memperbolehkan aku tak perlu berkomitmen terhadap waktu pagi seketat dulu-dulunya. Bekerja di kantor sendiri selama itu membuatku tak memandang penting lagi dengan apa yang dinamakan alarm. Aku bebas bangun jam berapapun untuk bekerja hingga jam berapapun pula, selama laba kudapat dan gaji karyawan terpenuhi dan tak ada satupun yang menunggak, persetan dengan yang namanya waktu dan alarm!

Tapi ketika aku memutuskan untuk pergi ke Australia dan mulai bekerja untuk orang lain, aku seperti berputar ke masa lalu, ke masa dimana alarm adalah barang yang lebih penting keberadaannya ketimbang sarapan dan secangkir kopi yang kusantap sesudah alarm itu sukses membangunkanku.

Maka bisa dibayangkan andai saja, ya andai saja semoga saja tidak pernah terjadi, alarmku ngadat dan tak mau berbunyi ketika saatnya harus berbunyi, di titik itu aku tahu betapa aku juga barangkali istriku akan mengawali hari begitu terlambat.
Kenapa istriku? Karena aku adalah suaminya yang menjadi alarm baginya sesaat setelah aku selesai mandi dan hendak bergegas pergi melalui kecupan lembut ke pipi yang hangat, tanpa teriakan maupun bunyi bel yang kuantuk-antukkan seperti halnya alarm-alarm yang dulu pernah membantu membangunkanku.

Sumber foto.

{ 42 comments… read them below or add one }

Chandra February 22, 2009 at 8:54 pm

iiih…kebluk ternyata!

Reply

DV February 22, 2009 at 8:54 pm

kebluk? apaan tuh ?

Reply

anto84 February 22, 2009 at 9:54 pm

wah aku ga pny jam weker …

Reply

DV February 22, 2009 at 9:54 pm

Kacian

Reply

Wita February 23, 2009 at 12:49 am

Wah, Mas DV, untung gk kaya Mr. Bean yg sedia pestol bwt nembak alarmnya trus tidur lagi hihihi

Salam kenal mas, br kali ini berkunjung ke blognya Mas DV setelah sering liat Mas DV komen di blognya Si Neechan Imelda hehehhe

Reply

DV February 23, 2009 at 12:49 am

Salam kenal dan terimakasih atas kunjungannya Mbak Wita.

Ya, saya memang sering komen di blognya Imelda meski ia jarang kemari :)

Tak mengapa, hihihihi…

Reply

ernalilis February 23, 2009 at 1:49 am

Katanya sih ada bagian otak kita yang bisa dirangsang oleh sinar matahari.. maka manusia tidur dimalam hari.. Tapi kayaknya jam diotak kita makin kacau ya?

Kalau aku sendiri justru kebalik, waktu jaman masih smp sma dulu setiap nyetel weker.. ya denger.. ya bangun kemudian matikan alarm itu.. dan balik tidur lagi.. BEsuknya biasanya ribut..tanya Siapa yang matikan wekerku? Kenapa aku gak dibangunin.. ? dan seisi rumahpun tertawa….

Reply

DV February 23, 2009 at 1:49 am

Hahahaha, itulah sebabnya saya milih weker saya letakkan jauh dari tempat tidur, supaya sekalinya bangun untuk mematikan, sesudahnya akan bangun terus :)

Reply

kris February 23, 2009 at 5:00 am

aku dulu diajari ibuk untuk mengucapkan kalimat spt ini, “malaikat pamomong, tolong aku dibangunkan jam 5 ya!” dan memang manjur banget! aku selalu bisa bangun jam 5 tepat. lalu setelah menikah, aku kadang tidur lebih malam dibandingkan suamiku karena aku nglembur mengerjakan terjemahan. akibatnya, aku tidak bisa bangun pagi sehingga tidak bisa membuatkan sarapan untuk suamiku. wlpn suamiku nggak protes, tapi aku kasihan membiarkannya berangkat tanpa melalap oatmeal/pancake/setangkap roti tawar dengan selai kesukaannya. tapi tadi pagi aku bangun pagi2, dan kubuatkan pancake kesukaannya… hehehe.

Reply

DV February 23, 2009 at 5:00 am

Ah cerita suamimu sama denganku!
Aku selalu bangun lebih dulu dan menyiapkan segalanya sendirian, sesudahnya baru membangunkan istriku :)

Reply

yessy muchtar February 23, 2009 at 7:15 am

Tenang aja Don..nanti gue bangunin…

*Bangunn Don..udah pagi…jangan lewat pintu depan ya..*

Kekekekekekek

Reply

DV February 23, 2009 at 7:15 am

wekssss….

Reply

tanti February 23, 2009 at 7:58 am

Kalo sekarang Simba bisa nggak dilatih jadi alarm cadangan? :D

Reply

DV February 23, 2009 at 7:58 am

Simba adalah alarm yang TERLALU baik!
Dia membangunkanku sejak pukul 2 pagi hanya karena dia kebelet boker..:)

Reply

Ersis Warmansyah Abbas February 23, 2009 at 5:19 pm

Ya ya ya … alarmnya kan bisa pindah ke otak kita, jadi ngak usah risau. Weker alram sesungguhnya adalag perintajh otak, itu yang dilatih weker bakan Mas DV?

Reply

Chandra February 23, 2009 at 7:46 pm

Kebluk = orang yg tidurnya susah dibangunin!

Lo gimana sih don, dah berbulan2 di Sydney masih ga tau kebluk…Tanya orang-orang kantor lo deh, pasti pada tau kebluk…. :p

Reply

DV February 23, 2009 at 7:46 pm

Mereka taunya Chicago Bulls (ngga nyambung banget yaw)

Reply

edratna February 23, 2009 at 8:57 pm

Hehehe…ternyata mantranya kok sama
“Kakang kawah, adi ari-ari dst nya….” Dan ajaib..ternyata bisa bangun pagi sesuai keinginan.

Terus makin besar (karena nggak percaya mantra tsb), sebelum tidur berdoa, bantal dipukul tiga kali, berharap kita bangun tepat waktu.

Don, nanti semua akan terbiasa. Karena terbiasa bangun pagi, saya tak bisa “mbangkong”…mesti tetap bangun pagi. Kecuali sakit, itupun pasti mata udah melek saat pagi. Jadi, nanti alarm tubuhmu akan bereaksi sendiri, pada jam-jam tertentu.

Reply

DV February 23, 2009 at 8:57 pm

Yang masalah adalah, alarm tubuh juga bukan alarm yang konsisten, Bu…
Jadi bukannya tak percaya pada alarm tubuh, tapi ada baiknya kita juga siaga dengan alarm2 yang lainnya, bukan?

Reply

Donny yang laen February 23, 2009 at 9:08 pm

Salam kenal mas..
Saya Donny juga nih…
Soal jam alarm : Saya gak tahu kenapa saya selalu bermasalah dengan pagi. Dan alarm sepertinya ga ngaruh sama sekali.
So youre not alone if youre always late to wake up in the morning hahaha…

Reply

DV February 23, 2009 at 9:08 pm

Yeah! Gimme five bro, gimme five!

Reply

anderson February 23, 2009 at 10:06 pm

Wah, kalo gue dirumah justru jadi weker nya isteri gue.. Bangun pagi biasanya bukan masalah dan gue secara refleks selalu bangun di jam yang sama, misalkan jam 5 pagi (kcuali abis begadang nonton siaran langsung sepak bola,kekeke,,,)

Reply

DV February 23, 2009 at 10:06 pm

Gw malah jadi weker buat istri gw… :)

Reply

perempuan February 23, 2009 at 10:07 pm

weker alarm q kalo pagi yaitu ke toilet buat nguras perut.. yaps *hehehe..

slm knl :D

Reply

DV February 23, 2009 at 10:07 pm

Sama dunks! Ngurasnya pake apa yah?
Slm knl jg!

Reply

balladona February 24, 2009 at 1:11 am

wekker emang membantu kita untuk menjadi insan yang disiplin dan menghargai waktu

Reply

DV February 24, 2009 at 1:11 am

Sip! Akur! Setubuh!

Reply

Myryani February 24, 2009 at 8:41 am

saya sering gak pake alarm,
tapi tetep aja terbangun kalo mmg ada niat bangun,,,

Reply

DV February 24, 2009 at 8:41 am

Wah hebat dunk!
Salam kenal :)

Reply

sawali tuhusetya February 24, 2009 at 10:39 am

suara yang timbul dari weker alarm memang bisa menjadi tanda2 agar kita bisa on time, mas donny. tapi konon ada suara yang lebih dahsyat agar kita tetep bisa on time, yakni suara hati. *halah*

Reply

DV February 24, 2009 at 10:39 am

Suara hati ada do re mi fa so la si do nya, Pak ? Hahahahah

Reply

DM February 24, 2009 at 1:23 pm

Sampai dengan hari ini, aku malah masih berusaha keras mencari: SIAPA PENEMU JAM WEKER!!! Cari-cari di ensiklopedia, belum nemu.

Itulah satu dari beberapa benda yang tidak menyehatkan kualitas hidup umat manusia.

Jam weker!!! Ya ampun…

Bisakah hidup tanpa jam weker?

Reply

DV February 24, 2009 at 1:23 pm

Jam weker bagimu adalah sepotong tubuh berlingerie yang membawakan teh hangat ke dekat hidungmu lantas menawari tubuhnya untuk…hmm untuk kau nikmati dan kamu terbangun, tergagap-gagap dan bilang dalam hati “Asemik! Kenapa nggak dari kemarin..”

Huahuahua!

Reply

DM February 24, 2009 at 11:22 pm

Asemik!

Reply

DV February 24, 2009 at 11:22 pm

Asemik sedulure Arsenik!

Reply

Yoga February 26, 2009 at 5:50 am

Don, alarm, weker, beker, nggak mempan sama aku kalau udah capek banget. Alarm biologis lebih ok buatku. Tapi biar begitu, tetap saja aku set alarm hpku. Kupikir-pikir, hidup kok jadi aneh.

Nice post Don.

Reply

DV February 26, 2009 at 5:50 am

ALarm biologis itu satu pemakluman untuk tidak bangun pagi, Yog ?

Hehehehe!

Reply

Dony Alfan February 26, 2009 at 3:36 pm

Alarm saya ada dua, HP dan tivi yang sudah diset timernya. Dan ternyata dua alarm itu tidak cukup membangunkan saya, bangun sebentar untuk matiin, dan ngebo lagi.
Mungkin saya nggak cocok jadi orang kantoran, apalagi PNS. Jadi wiraswasta kayaknya lebih enak, bisa mengatur waktu sesuka udel sendiri :P
Salam hangat dari Solo

Reply

DV February 26, 2009 at 3:36 pm

Hehehehe, mas yang Donny juga namanya, kita selamanya tak kan bisa mengatur waktu, kalau bisa pasti Jan Pieter Zoen Coen, Pattimura dan banyak leluhur kita tidak akan mati-mati.

Salam untuk Bengawan!

Reply

Kartika February 26, 2009 at 7:34 pm

salam kenal…
boleh komen yah.
tulisan mas Donny,bagus banget!
untuk bangun tiap pagi saya seperti umumnya teman2 dibangunkan oleh alarm HP dan nada alarm dipilih lagu kesukaan biar otak langsung tanggap and happy trus bangun paginya tambah semangat.
tapi sebenernya kalo udah niat bangun pagi gak susah2 amat koq,JANGAN BOBO LARUT MALAM (pesan ortu ku..) kalo terpaksa lembur besok paginya begitu alarm pertama berbunyi langsung bangun!!! karena kalau dimatiin dan bobo lagi,percaya deh.. gak bangun2 lagi sampai siang.. (pengalaman pribadi)
okey.. smoga alarm mas gak ngadat lagi ya.. sukses!

Reply

prameswari March 1, 2009 at 8:35 pm

alarmku selama ini tuh berdoa minta supaya dibangunkan oleh-Nya pagi hari…
mmm….selalu berhasil

jadi gak pernah punya jam beker.
hehehe

Ini toh tulisan yang jadi inspirasinya mas DM. hehehe

Reply

genthokelir March 7, 2009 at 12:01 am

mas pake alarm perut luih sip anggere jam 6 isuk trus kroso mules banjur kepekso tangi hahaha asik toh sampean kan ngono hahaha

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: