Cetusan | March 31, 2009

Lampu Hati

1

Aku menyebutnya lampu hati.

Sekitar tiga bulan yang lalu, ketika aku masih sibuk mencari pekerjaan, dalam sehari terbilang lebih dari dua puluh lamaran kukirimkan melalui internet. Saking banyaknya, tak jarang ketika ada agent ataupun perusahaan menelponku, aku lupa jabatan yang kulamar pada perusahaan tersebut.

Hingga suatu malam, kira-kira pukul 10 waktu Sydney, handphone berdering.
Setelah kuangkat, seseorang dari sebuah perusahaan menawari pekerjaan sebagai.. ya sebagai seseorang yang sesuai dengan bidang yang kudalami selama ini. Gembira? Tentu saja, tapi aku juga sedikit curiga, kenapa ia menelpon malam benar!

Ia meninggalkan sebuah alamat website perusahaan yang ia jalankan, dan akupun tak sabar untuk melihatnya.
Aku dan istriku yang sebenarnya sedang bersiap tidur, akhirnya turun kembali ke bawah ke ruang belajar untuk mengaktifkan laptop, menghubungkannya dengan internet dan membuka alamat website tersebut.

Dan… abrakadabra!
Sesaat setelah halaman muka situs tersebut terbuka, kami berdua kaget bukan kepalang!
Situs porno, Saudara-saudara!
Suasana malam itupun mencair, kami terbahak-bahak larut dalam tawa yang berkepanjangan, menertawakan akhir dari keingintahhuan kami, menertawakan sesuatu yang tak disangka untuk kami dapati.

Setelah tawa mereda, kami terlibat dalam pembicaraan serius tentang bagaimana menanggapi lamaran tadi.
Di satu sisi, pekerjaan adalah hal yang paling kubutuhkan saat itu. Aku butuh uang dan status setelah beberapa bulan menganggur karena kepindahanku dari Indonesia.

Tapi di sisi lain, aku tak bisa memungkiri bahwa itu adalah situs porno.
Aku tidak mengatasnamakan agama ataupun dosa, akan tetapi bekerja pada perusahaan seperti itu jelas berlawanan dengan prinsip yang kuanut dan kuyakini. Misi hidupku tak pernah kurendahkan hingga seperti itu, menurutku.

“Tapi, kerja di tempat seperti itu pasti gajinya gede banget ya Hon?” tanyaku pada istri kemudian.
“Iya, pasti! Tapi ya mau bagaimana lagi?” jawab istriku lurus.

Aku terdiam.

Kujadikan percakapanku dengan istriku itu sebagai penutup pergumulanku malam itu.
Aku mempertegas sikapku untuk tidak berpaling bekerja di bidang seperti itu dengan imbalan gaji sebesar apapun!

Malam itu adalah malam dimana lampu hatiku sedang menyala.
Entah malam berikutnya, atau malam dan siang sebelumnya.
Dalam terang nyalanya, aku bisa melihat yang mana yang baik dan mana yang kurang baik sementara dalam gulitanya, yang terang pun akan tampak sama dengan yang abu-abu dan yang benar-benar gelap.

Aku sangat jauh dari suci, tapi setidaknya aku menyadari betapa aku memiliki sebuah penerang dengan nurani sebagai stekernya.
Mau switched “on”, ataupun switched “off”, tergantung bagaimana si nurani menang perang melawan nafsu dan keduniawian.

Aku menyebutnya sebagai lampu hati, entah kalian setuju atau tidak, suka-sukalah.

{ 37 comments… read them below or add one }

mantan kyai March 31, 2009 at 6:04 pm

kok gak diforward ke aku aja toh mas?? aku dengan senang hati lho …. wes ah hihihihi

Reply

DV March 31, 2009 at 6:04 pm

Huahuahuahua, nambah dosaku nambah duitmu, Mas :)

Reply

Chandra March 31, 2009 at 7:43 pm

HAHAHAHAHAHA!
Ngakak terguling-guling!
Ada-ada aja..Kali kerja di situ emang malem2 ya, n kalo diambil mungkin skill lainnya lo kudu fasih pole dancing?!! kikikikik

Reply

DV March 31, 2009 at 7:43 pm

pole dancing itu apaan yaks?
Kinda doggy style dancing gitu?

Reply

kris March 31, 2009 at 8:16 pm

itu namanya nggak berjodoh don. belum waktunya dpt kerjaan. tp stl dapat kerjaan, udah tentrem kan?

Reply

DV March 31, 2009 at 8:16 pm

Udah dong.. tentrem, trem, trem :)

Reply

denmas kobis March 31, 2009 at 8:49 pm

lho don, kalopun kowe nyasar kesitu, itu bukan takdir kok, ning memang kowe diarahke ke bidang kesukaanmu

Kowe lak mbiyen senenge mbukak situs sing gambare mung gapi thok tho :) )

Reply

DV March 31, 2009 at 8:49 pm

Iki sopo yo, kok mbukak-mbukak wadi ahuahauhauhua… huasuuuuuu!

Iki mesti wong lawas:)
Hayo ngaku :)

Reply

Eka Situmorang - SIr March 31, 2009 at 10:36 pm

-> Misi hidupku tak pernah kurendahkan hingga seperti itu

SALUT !
butuh keteguhan hati dan integritas tinggi :)
kalau nurani diacuhkan, nurani pasti jadi tumpul dan nantinya tidak bisa kasih warning lagi…

Reply

DV March 31, 2009 at 10:36 pm

Kalo menurutku nurani tidak bisa tumpul, tapi hanya terhalang bebal yang terlampau tebal.

Sama halnya lampu, ia tak bisa redup kecuali debu yang mengumpul terlalu banyak (ya kecuali kalau lampunya udah soak ya diganti aje) hehehe!

Reply

perumahan cibubur April 1, 2009 at 1:03 am

salut akan idealismenya. terus gimana kelanjutannya?

Reply

p u a k™ April 1, 2009 at 1:17 am

:lol:
Aku tuh malah ngebayangin kalian berdua dengan semangat turun ke bawah dan menyalakan laptop itu.
Hahaha.. gak tahunya… :mrgreen:

Bener, pakde DV.. yang megang stekernya emang kita, tapi kadang2 ada anak-anak yang iseng mainin steker itu. Kalo iseng lewat dinyalain..balik lagi dimatiin. Gitu nggak?.. ;)

Reply

Muzda April 1, 2009 at 1:30 am

Wah..
Saya kan nggak tau ni ya, bidang Mas itu apa..
Tapi tetep aja bidang apa pun gak bisa dijadikan pembenaran yaa, tetep nyebur ke situ-situ juga..
Hahaaa :D

Salam kenal buat istri Mas Donny ya…
Makasih permenungannya.

Reply

Lala April 1, 2009 at 1:36 am

Don, Don…

Yakin kamu nggak ngelamar di situs itu? Beneran, Don? Ah, jangan boong deh…

*siap-siap dilemparin BlackBerry*

Eh, Don..
Kamu bener banget, deh. Aku setuju dengan istilah lampu hati itu. Kita punya saklar dan kemampuan untuk menghidupkan atau memadamkan. Di situlah letak privilege manusia: MEMILIH.

(aduh, Don.. lama nggak ngobrol, kamu semakin bijaksana nih…)

*semakin siap dilemparin BlackBerry* hihihi

Reply

Endang Koli April 1, 2009 at 2:15 am

1. aku wajib tertawa juga hahahhha…

2. Aku salut…. lampu hatimu benderang saat Joyce ada di sisimu… entah ketika tak ada…

3. Aku menghargaimu sahabat… betapapun kita… missi hidup kita harus jelas dan terang!

4. Bagi dong cahayanya….

Reply

imoe April 1, 2009 at 2:20 am

hahahahahaha, membiarkan lampu hati tetap benderang bukan perkara mudah…kekuatan luar biasa untuk itu….SALUT deh…

Reply

Yoga April 1, 2009 at 8:00 am

Salut Don, ini adalah bukti Tuhan itu pecinta humor sejati dan nggak pernah tidur untuk menguji umatnya, supaya lekas naik kelas.

:)

Reply

uradn April 1, 2009 at 5:47 pm

ngakak puooll moco komentare denmas kobis!

Reply

suwung April 1, 2009 at 7:57 pm

wah jadi tukang bawa kamera, tukang catat adegan atau sebagai artisnya mas?

Reply

Ersis Warmansyah Abbas April 1, 2009 at 8:36 pm

Salute … Malam itu adalah malam dimana lampu hatiku sedang menyala

Reply

Ria April 2, 2009 at 2:53 am

hahahahaha…situs porno pasti begitu liat layarnya kalian berdua saling berpadangan dan tertawa terbahak2…kekekekeke *lg ngebayangin*

Mas Don, salut deh dirimu punya prinsip teguh sekali walaupun dengan iming2 imbalan yang lumayan bgt pasti…

keep it that way ya mas :)

Reply

febry April 2, 2009 at 8:15 am

Hehe… mas-mas, kalo tawarannya kamu terima, emang mau jadi bagian apanya? hehe… tukang syuting pa. :)

Reply

DV April 2, 2009 at 8:15 am

Jadi artisnya aku kan macho huahuahua! Joke!

Reply

Rafki RS April 2, 2009 at 8:15 pm

Tenang saja Mas, sekarang ditawari sebagai web developer di sana. Bentar lagi ditawari jadi modelnya….ha..ha…ha.

Reply

DV April 2, 2009 at 8:15 pm

Lha itu yang saya cari sebenernya hahaha

Reply

Pertanyaan April 3, 2009 at 2:09 am

yah .. disini pengangguran juga, forward dunk, ha3

Reply

DV April 3, 2009 at 2:09 am

FF dunk!

Reply

Murid Baru April 3, 2009 at 3:30 am

Wadoh, apa susah ya di Ostrali nyari pekerja, hingga menghubungi orang yang gak cocok untuk situs perpornoan itu… hehe… Salam kenal mas, salam hangat…

Artikel terbaru Murid Baru: Kepedulian pada Bencana Mungkin Sekadar Pola Hidup Topikal

Reply

DV April 3, 2009 at 3:30 am

Anda tuh kalau mbaca mbok sampe selesai dan dipahami jadi nggak salah persepsi :)
Jangan cuma karena mau numpang promosi njuk anda cuma mbaca sekilas trus komen seenak hati kayak gini :)

Reply

yessy muchtar April 3, 2009 at 7:11 am

hey, salut deh Don, dan gue suka banget sama kalimat ketika lo mengakui lampu hati itu sednag menyala :)

hey..ku tagih janjimu :)

Reply

DV April 3, 2009 at 7:11 am

Yoi… thanks

Reply

GoenRock April 3, 2009 at 4:00 pm

Kerjaannya ndak usah diforward saya takut dosanya, duitnya aja aku mau. *sami mawon* :P

Reply

DV April 3, 2009 at 4:00 pm

Miwon, dong!

Reply

DM April 3, 2009 at 4:55 pm

Sudah mbaca sejak kali pertama di-posting, tapi kok belum komen-komen juga. Apa karena lampu (hati) di rumahmu mati tah? Kok belum sempet-sempet aja.

Ya-ya-ya, menarik sekali atas apa yang dituturkan Pak Rafki,

Bentar lagi ditawari jadi modelnya

Huakakakkk!! Kayaknya bayarannya jauh lebih besar, Nyuk.

Kalo aku lebih setuju dengan istilah petromak hati, Nyuk. Kalo udah mulai redup, tinggal dipompa je. Piye?

Hoi!! Ditanya piye kok menengae?

Reply

DV April 3, 2009 at 4:55 pm

Dipompa apa disosor? Hauahuahuahua….
Lha wong ditinggal orang mandi kok malah maen sosor-sosoran ki piye tho Mas DM!

Anda memang kebanyakan fans dan mengefans-i banyak wanita jadi blog ini mulai panjenengan tinggalkan!

Hauhauhauhaua…

Reply

DM April 4, 2009 at 4:46 am

@DV:

Hmmm…

Reply

edratna April 7, 2009 at 11:38 pm

Kadang dalam kondisi kepepet, orang menerima tawaran pekerjaan apapun. Namun saya selalu berusaha, apapun pekerjaan itu, harus sesuai dengan nurani, dan untuk kebaikan, baik diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Tapi geli juga…kok mereka nggak malu ya kalau di tolak? Terus DV nolaknya bagaimana? melalui telepon atau apa?

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: