Aku | April 28, 2009

Pin Pin Bo, Pintar Pintar Bodo

Tiga bulan sudah aku bekerja di perusahaan ini dan tak ubahnya aku tetap menjadi sosok Pin-Pin-Bo, Pintar-Pintar tapi tetap Bodo :)

Yang membuat Bodo terutama adalah menyangkut Bahasa Inggrisku.
Kantorku ini memang isinya bule semua sementara aku adalah satu-satunya Asia, berasal dari negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu dan berlidah Jawa.
Mereka berbicara, menulis bahkan berpikir menggunakan Bahasa Inggris. Sementara aku berpikir dan menulis dalam Bahasa Indonesia. Belum lagi, nyaris 8 jam kerja setiap harinya, 90 persennya kuhabiskan berbicara dengan komputer dan 10 persennya baru berbicara dengan mereka, melaporkan hasil pekerjaan, berdiskusi dan sedikit bercengkrama.

Sementara di rumah, aku berbicara dengan istriku dalam Bahasa Indonesia.
Pernah suatu kali istriku mengajakku berbicara dalam Bahasa Inggris, tapi aku cenderung malu dan lantas menolaknya sambil berujar “Pake bahasa kita aja Hon, pake English nggak romantis!” Teman-teman dekatku di sinipun lebih familiar dengan ungkapan “Eh, apa kabarmu?” ketimbang “Hi, mate! How is going?” meski mereka ya jauh lebih lama tinggal di sini ketimbangku.

Kalau ingin mengetahui seberapa parah Bahasa Inggrisku, berikut fragmen-fragmen yang bisa kuceritakan di sini:

Suatu waktu di Queen Victoria Building, aku pergi ke toilet.

Pada pintunya tertera tulisan “Push”. Aku lantas berusaha keras menarik kenop panel pintunya untuk membuka hingga akhirnya ada bule di belakang yang ternyata mengantri itu gusar berkata padaku “Hey, itu Push bukan Pull!”
O well, aku baru sadar Push itu ditekan, bukan ditarik.

Senin malam aku super bete dengan semuanya termasuk istriku.
“Kamu kenapa sih, Hon kok jadi bete gitu?”
“Besok aku presentasi!”
“Ya udah siapin!”
“Iya ini mau aku siapin, aku heran kenapa ya managerku cuma ngasih waktu tiga hari untuk persiapan, gila!”
Keesokan paginya, tergopoh-gopoh aku bertanya pada manajerku
“Jadi aku mesti siapin viewer buat presentasi sore nanti?”
“Ouh, presentasi apa?”
“Lho, update development phase yang kemarin itu!”
“Weh, kan Kamis… Thursday, bukan Tuesday!”
Dia tertawa, aku tertawa juga, tapi dalam hati aku merintih, bodohnya aku tak bisa membedakan Tuesday dan Thursday!

Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabatnya istriku yang hendak menyumbang nikahku, ia mengaku telat tapi tetap keukeuh nyumbang meski nikahanku sendiri sudah Oktober yang lalu.
Dalam emailnya yang kebetulan ditujukan padaku, ia menuliskan “six hundred US Dollar”
Aku kaget sekaget-kagetnya, langsung kuangkat telepon menelpon istriku “Hon! Si itu nyumbang kita ENAM RIBU DOLLAR!
Gila nggak? Kita bisa belanja!”
Ah, aku tak perlu lanjutkan ceritaku bukan :)

Kadang aku merasa sangat tertekan dengan keadaan ini.
Setiap pulang kantor, di saat “bad english day”, aku selalu bertanya sambil merintih dalam hati “Kapan ya, Englishku bisa membaik dan cas-cis-cus tanpa harus bodo kayak gini?” atau yang lebih ekstrim lagi “Kapan ya para bule itu belajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa?”

Tapi untunglah itu hanya rintihan-rintihan sesaat.
Aku bukanlah tipikal orang yang mudah menyerah dalam keadaan apapun.
Maka yang kulakukan hanyalah berusaha dan terus berusaha. Setiap bangun pagi, aku selalu minta kepada Tuhan supaya Ia juga turut menjaga Englishku dan terutama membersihkan kotoran telingaku sehingga aku bisa paham apa yang mereka ucapkan.

Dan untunglah rekan-rekan kantorku adalah orang yang sangat mempedulikan hancurnya Englishku.
Mereka adalah guru-guru yang baik.
Setiap percakapan yang tak luput dari salah, mereka selalu menambahkan kata-kata pelengkap semacam “as well” dan akupun menirukan “eh iya… as well” dan mereka tersenyum.

Pernah pula aku mengeluhkan hal ini, eh tepatnya bukan mengeluh ya tapi bertanya pada manajerku.
“Gimana Bos, englishku kok payah gini, kamu ngerti apa yang kuomongin?”
“No worries! Kami semua ngerti kok!”
“Heh, ngerti apa? Ngerti apa yang kuomongin atau ngerti kalau englishku ancur?”
Manajerku tersenyum nggleges “Kami ngerti apa yang kamu omongin!”

Hal-hal seperti itu pada akhirnya menjadi sesuatu yang meng-energize-ku.
Membuatku berani untuk selalu mencoba berbahasa Inggris meski salah dan salah dan salah lagi.

OK sekian dulu ulasanku. Silakan termehek-mehek menertawakan Englishku!


Eh wait-wait, kalau demikian dimana letak pintarku kalau begitu?
Ah entahlah, as long as Bosku masih mau menggajiku itu sudah bisa kubilang cukup, meski tak terlalu pintar.

{ 44 comments… read them below or add one }

mantan kyai April 28, 2009 at 6:35 pm

“Kapan ya para bule itu belajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa?” >>> ngenteni ndog blorok nek iki mas.. jiakakaka

Reply

LC Pianist April 28, 2009 at 6:41 pm

anjing menggonggong, kafilah berlalu..

yg penting ga super malu2in banget, selama little-little sih i can , mereka ngerti apa yg lo omongin, and sebaliknya.. selesai perkara ! :D toh, kalo sampe super mentoq pun, msh ada yg judulnya bahasa tarzan, huahaa..

selebihnya.. yaa.. adaptasi, mate..adaptasi.. heuhehe..

Reply

Ikkyu_san April 28, 2009 at 8:30 pm

hhihihi…
butuh waktu Don untuk bisa adaptasi.
Biar waktu aku datang ke Jepang udah belajar bahasanya 4 tahun di universitas, tetap saja bahasa sekolah dan bahasa “Lapangan” itu lain. Apalagi di Jepang angka itu tidak berhenti di satuan ribu tapi sepuluh ribu. Mabok deh kalau dengar gitu.

Kalau tidak yakin waktu mendengar, lebih baik tulis dan perlihatkan pada mereka. bawa notes kecil kemana-mana akan berguna.

Good luck (dan alon alon asal kelakon hihihi)

EM

Reply

DM April 28, 2009 at 9:48 pm

Hahahaha!!!
Nggak, aku nggak termehek-mehek. Aku ngakak sungguhan. Cerita ini lucu tenan. Ndagel kowe. Apalagi pas adegan merintih dalam hati itu.

*membayangkan wajahmu*

Bwhahahaha…

Sama denganmu, sejak lead pertama, aku mencari-cari: di mana soal pintarnya?

Hohoho, rupanya pintarmu itu ya karena berhasil merawi cerita ini! :p

Reply

Muzda April 28, 2009 at 10:09 pm

Letak pinternya ..
Uhm,, di komputer ..??
hahaa ..

*cepet-cepet kabur lagi takut disumpahi sama DV*

Reply

Jamal eL Ahdi April 28, 2009 at 11:37 pm

Pertamaxxxxx

Wah Memang berat mas , di tangerang saja saya jarang pake bahasa indonesia,la teman kerja dan kuliah orang jawa xixixixiixi.
yg penting berani coba mas,temenku lebih parah,ketemu ma inggris prancis ..didengerin bikin pusing hehhee.

Reply

Jamal eL Ahdi April 29, 2009 at 1:26 am

Pertamaxxxxx

Wah Memang berat mas , di tangerang saja saya jarang pake bahasa indonesia,la teman kerja dan kuliah orang jawa xixixixiixi.
yg penting berani coba mas,temenku lebih parah,ketemu ma inggris prancis ..didengerin bikin pusing hehhee.

Reply

Eka Situmorang - SIr April 29, 2009 at 2:29 am

soal beda push and pull aku juga ndak dong-dong bedanya dimana, selaluuu aja ketuker-tuker hehehe.

Sampai suatu kali nonton pilem Friends, si Rachel mo melahirkan trus Ros bilang Push… Push.. !

bis itu selalu inget bedanya, kalo Push = dorong (inget rachel push baby mo melahirkan hehehehe)

Bener dech, push itu diotak asosiasinya Rachel mo melahirkan hehehhe

Reply

iin April 29, 2009 at 4:17 am

pede aja lagi, donnnnnnn…..

Reply

dian GReTaN April 29, 2009 at 4:19 am

wadughh….
untung orang2 di oz ada pelajaran wajib bahasa indonesia waktu sekolah ya, jadi masih bisa ngerti omongan lo…:p

Reply

Bimo April 29, 2009 at 4:27 am

waduh mas nggawe company dewe wae … pasang tulisan : JOWO Language only …hehehe

NB : De Britto BW-nya exceed tuh, sampean sing nggawe termasuk ngelola mboten?

Reply

Arie April 29, 2009 at 5:23 am

Wakakakakakaka…..

perlu di ingat bos
“everything is a process”

Reply

kris April 29, 2009 at 5:58 am

plok…plok…plok. hebat deh, kamu berani nulis kebodohanmu sendiri hehehe. jarang lo ada orang yg begini. salut aku. iki ora ngenyek lo. tenan. wong aku yo rung karuan iso boso enggris lancar. halah. aku wanine nek neng mburi layar tok hahaha.

Reply

DV April 29, 2009 at 5:58 am

Hehehehe, ketika aku berani menuliskan kebodohanku di publik seperti ini sebenarnya pertanda aku telah berhasil mengatasinya nyaris sepenuhnya. Aku tidak sebodoh orang yang menuliskan kebodohannya, Kris :) HIhihihi

Reply

kris April 29, 2009 at 6:00 am

plok…plok…plok. hebat deh, kamu berani nulis kebodohanmu sendiri hehehe. jarang lo ada orang yg begini. salut aku. iki ora ngenyek lo. tenan. wong aku yo rung karuan iso boso enggris lancar. halah. aku wanine nek neng mburi layar tok hahaha.

Reply

DV April 29, 2009 at 6:00 am

Hehehehe, ketika aku berani menuliskan kebodohanku di publik seperti ini sebenarnya pertanda aku telah berhasil mengatasinya nyaris sepenuhnya.

Aku tidak sebodoh orang yang menuliskan kebodohannya, Kris :)

HIhihihi

Reply

Chandra April 29, 2009 at 6:36 am

duh terharu….

Reply

DV April 29, 2009 at 6:36 am

terharu dot com :)

Reply

Chandra April 29, 2009 at 6:51 am

eh eh tips dari gue bedain Tuesday dan Thursday :
Selama lo mendengar mereka ngucapinnya ada “u”nya, bearti Selasa…cusdey gitu kan mereka ngomongnya?? Nah cus-nya itu yg gue apalin..hehehhe…soalnya gue juga sempet bermasalah ma si cusdey dan tersday ini….duh, pokoknya gue mengerti banget suasana hati lo, don…coz kisah lo tuh gue banget deh! ^_^

Reply

DV April 29, 2009 at 6:51 am

Hehehehe, makasih Chan :)

Reply

mas April 29, 2009 at 7:33 am

saya kok belum bisa pede kaya sampean to mas

Reply

DV April 29, 2009 at 7:33 am

Harus bisa, Mas :)

Reply

Carlos April 29, 2009 at 12:34 pm

LOL……
Sante aja kali don namanya juga baru berberapa bulan ini… tar juga ok sendiri.

yg penting jangan takut ngomong don, salah masalah belakang. sing penting wani :)

Reply

DV April 29, 2009 at 12:34 pm

Huehehehe, he eh :)
Sakjane yo tetep dan terus berani kok. Ndak ada jalan lain juga selain itu, anyway :)

Reply

Ersis Warmansyah Abbas April 29, 2009 at 6:48 pm

Wah … aku surprise dengan istilah sangat kreatif tersebut … pin pin pin … kira-kira apa Mas DV

Reply

DV April 29, 2009 at 6:48 pm

Pin Pin Pin artinya Pintar, Pintar, Pincang Pak hahah :)

Reply

riris ernaeni April 29, 2009 at 11:20 pm

Gak ada bayi yang bisa langsung bicara dan berjalan. Gak ada orang yang langsung mahir di dunia barunya…semua harus menjalani masa-masa belajar. Ikut bersyukur dengan teman2 yang baik seperti teman2mu itu…SEMANGAT YAA?!!

Reply

DV April 29, 2009 at 11:20 pm

Makasih Riris :)
Aku tak pernah patah semangat, hidup tanpa semangat seperti hidup tanpa nyawa

Reply

iJul April 30, 2009 at 3:09 am

Yang memang harus dirubah adalah mindset-nya. Seperti berpikir dan menulis langsung dalam bahasa inggris, bukan pake indonesia terus diterjemahkan hehe sebenernya kalau mau cepat, ga boleh ada kenalan yang bisa berbahasa “ibu”, tapi kalau istri ya susah ya don? ;) Aku dulu “untungnya” ga punya teman orang indonesia. Btw, ipod-nya bisa diisi percakapan2 atau cerita pake bahasa inggris kan..(Download dari bbc, the guardian dll). Lumayan daripada U2 terus.. Hehe Semangaaaaaaat Don! Practice makes perfect!

Reply

DV April 30, 2009 at 3:09 am

Hehehehe, kalo U2 itu sama dengan istri, udah takdir :)
Aku slalu ingat kata-katamu dan masih selalu menunggu “uncosciously” jadi bisa berbahasa Inggris :)

Thanks Jul!

Reply

-GoenRock- April 30, 2009 at 6:34 am

Walagh, senasib kita Mas. Sayange saya ndak sepede Sampeyan =))

Reply

DV April 30, 2009 at 6:34 am

Itu yang mbedain Pak :)
Ayo Pede!

Reply

p u a k April 30, 2009 at 8:01 am

Untuuung.. kompi mu nggak bisa ngomong yaa, Don?.. :mrgreen:

*balik kanan, langsung kabur*

Reply

DV April 30, 2009 at 8:01 am

Hehehehe iya ya :)

Reply

sawali tuhusetya April 30, 2009 at 10:21 am

mungkin itu suasana yang terjadi saat mas dony sedang mengalami masa transisi, apalagi dalam soal penggunaan bahasa. konon bahasa itu akan sangat dipengaruhi faktor kebiasaan. lama2 pasti mas dony bisa lancar bhs linggisnya, hehe … apalagi kalau hanya sekadar presentasi. sukses selalu buat mas dony.

Reply

DV April 30, 2009 at 10:21 am

Makasih, Pak :)
Betul, barangkali memang faktor kebiasaan.
Doakan saya cepat lancar Pak :)

Reply

Ria May 4, 2009 at 3:51 am

wakakakaka…baca kejadian2 diatas jadi inget sama kejadia2 ku disini…tapi mas…ada tapinya nih…dari kejadianku yg banyak bikin malu at least perkembangan bahasa inggrisku dah lumayan lahhh di bandingin dulu sebelum kerja disini…hehehehehehe

Reply

DV May 4, 2009 at 3:51 am

Bagus, kata Pak Tino Sidin :)

Reply

mascayo May 5, 2009 at 9:19 am

maaf yaa saya nggak tahan … huahahahaha…
saya juga ndak bisa inglish nih .. mau kursus mahal, jadi ya udah, biar malu-maluin, saya daftar kursus menulis bahasa inggris yang dibayar itu .. hehehe
dapet inglishnya dapet duitnya :)

Reply

DV May 5, 2009 at 9:19 am

Hihihi dot com :)

Reply

edratna May 7, 2009 at 1:01 am

Ceritamu lucu…dan membuatku terharu.

Donny yang berusaha sekuat tenaga…. nggak apa-apa Don, semua temanku yang ke LN cerita seperti itu..bahkan ada yang selama dua bulan kuliah ga ngerti apa-apa, padahal TOEFL nya di atas 600, jadi setiap hari ke perpustakaan sampai malam, karena nggak ngerti apa yang diomongi dosen. Ternyata setelah sekian bulan semuanya lancar.

Reply

yoga May 10, 2009 at 6:28 am

Don, aku juga ngalami kek kamu pas awal kerja dengan mantan babe yang berasal dari UK. Bahkan aku bisa mendadak blank ketika dia bicara panjang lebar dan suaranya hilang sama sekali. Tapi lama-lama aku terbiasa, dan aku terapkan seperti yang diajarkan Ijul, lumayan jadi lebih lancar. Intinya gimana men-switch mindset-ku dalam bahasa yang sedang aku pakai.

Reply

omphonk May 15, 2009 at 11:24 pm

hauhuahuahuaha…..wangunnn…tapi aku percaya kok don, kalo kamu pasti bisa…semua tergantung fly watch (jam terbang)…heheheheh..sukses dab

Reply

DV May 15, 2009 at 11:24 pm

Hahahahaha… asal ra tau keno Enter Wind wae yo Dit :)

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: