Tustel | December 12, 2009

Batu Penjuru

Tulisan ini memuat beberapa foto berukuran besar. Perhatikanlah kapasitas koneksi internet Anda sebelum memutuskan untuk melanjutkan membuka halaman ini hingga tuntas.

Beberapa minggu yang lalu di sebuah Ahad yang kerontang, bersama istri dan ibu mertua, aku pergi ke Penrose Park, sebuah tempat peziarahan umat Katolik yang letaknya sekitar 150 km dari kota Sydney, NSW, Australia.

Sacred Place - Pintu gerbang menuju tempat peziarahan.

Sacred Place - Pintu gerbang menuju tempat peziarahan.

Penrose Park bagiku pada akhirnya bukan lagi hanya bermakna sebagai tempat ziarah dan berdoa saja.
Ia lebih cenderung menjadi batu penjuru yang layak untuk dikunjungi tiap-tiap aku mengenang tentang migrasiku ke Australia.
Satu setengah tahun silam, satu tahun yang lalu, kemarin dan waktu-waktu yang akan datang…

Di Penrose Park, pada sebuah lahan disediakan tempat untuk setiap komunitas-komunitas katolik migran membangun kapel (gereja kecil) untuk berdoa. Dan ini adalah kapel milik CIC (Catholic Indonesia Community) dengan bentuk bangunan rumah gadang.

Di Penrose Park, pada sebuah lahan disediakan tempat untuk setiap komunitas-komunitas katolik migran membangun kapel (gereja kecil) untuk berdoa. Dan ini adalah kapel milik CIC (Catholic Indonesia Community) dengan bentuk bangunan rumah gadang.

Aku seperti mendapatkan re-energi setiap pulang dari sana.
Jangan berpikir yang bukan-bukan, ini bukan perkara magis melainkan justru kesadaranku terpacu untuk berpikir mengenang tentang apa yang telah kulalui, bersyukur untuk semua itu dan dari situlah ia mengisi optimisme untuk menatap yang ada di depan.

Selamat berakhir pekan!

Baca juga:
Untaian Cinta Kepada Bunda di Penrose Park

{ 36 comments… read them below or add one }

hielmy December 12, 2009 at 12:20 pm

keren fotonya :) jadi pengen keluar negri mas, hehe…

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 9:28 am

Hehehe marilah kemari, Mas Hielmy :)

Reply

aurora December 12, 2009 at 12:20 pm

wah…. mantap bang… beribadah memang terkadang memberikan efek magis. bukan hanya jiwa, entah mengapa raga juga terkadang terasa seperti di upgrade….
teruslah beribadah bang…

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 9:29 am

He eh, Bang :)

Reply

Ria December 12, 2009 at 3:06 pm

mas…maaf yg bentuk kayak rumah gadang itu bukannya mirip rumah tongkonang asal sulawesi selatan (tana toraja) dan rumah adat batak. kalau rumah adat minangkabau itu lebih berundak2 :D

btw…aku suka foto2nya, romantis dan misterius…

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 9:31 am

Haduh kamu itu, mau ngasi tahu kok pake minta maaf :)
Aku sepakat dan baru nyadar ini memang ternyata bukan rumah gadang tapi rumah tana toraja ya…

Aku jadi semakin yakin karena pastor pendamping umat katolik indonesia yang ada di Sydney itu asalnya dari daerah Manado .. jadi tampaknya betul hehehe :)

Reply

edratna December 13, 2009 at 11:54 am

Komentarku mirip Ria, seperti bentuk atap di rumah adat Toraja atau Batak ya?
Foto-foto mu sekali lagi indah untuk dinikmati…

Merenung, berdoa sampai mendapatkan perasaan sejuk memang menyenangkan, justru inilah yang membuatku suka berdoa malam hari…suasana tenang membuat lebih khusuk untuk berdoa, introspeksi diri apa yang pernah kita lakukan…

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 9:32 am

Maturnuwun untuk komentar fotonya, Bu….
Saya paling susah berdoa malam hari karena biasanya malah ketiduran hahaha :) )

Reply

tukangpoto December 14, 2009 at 12:34 am

Yang jelas energi untuk membuat sesuatu yang lebih baik dan lebih bagus lagi tentunya. Fotografinya saya suka mas, kayaknya di sana juga lagi panas sekali ya?

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 9:33 am

Australia memang sedang musim panas (summer), Mas… Suhu di sini bisa sampe 40-an kalau siang… tahun lalu malah sampe 50-an :)
Thanks kunjungan dan komentar atas fotonya :)

Reply

nanaharmanto December 14, 2009 at 1:12 am

komentarku sama dengan Ria dan Bu Enny…atap kapel itu menyerupai tongkonan, (rumah adat Toraja) atau rumah adat Batak, konon, kedua suku ini berasal dari moyang yang sama, entah bagaimana bisa terpencar di dua pulau berbeda..
mungkin aku sok tahu, Don…tapi sepanjang pengetahuanku, rumah gadang artinya rumah besar. Sedangkan kalau yang kau maksudkan sebagai rumah adat Minang itu, yang meruncing menyerupai tanduk kerbau namanya rumah bagonjong.
eh, kita sorakin Uda Vizon aja yuk yang lebih paham masalah ini. :) Udaaa…tolong jelasin nih gimana tepatnya…..

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 10:14 am

Hi Nana, aku tertarik tentang moyang yang sama antara Batak dan Toraja.
Aku sih nggak heran kenapa bisa sama meski terpisah pulau karena mungkin saja mereka memang menyebar atau dulu barangkali Sulawesi dan Batak itu satu daratan…

*menunggu Uda Vizon memberi konpresensi pers* :) )

Reply

komuter December 14, 2009 at 11:50 am

untung buka postingan ini saat pagi hari, jadi masih sedikit yang pakai jaringan, bisa lihat-lihat photonya dehhhhhh

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 2:12 pm

Hehehe thanks.. dan sorry untuk ukuran foto yang besar2 ya :)

Reply

imadewira December 14, 2009 at 12:38 pm

selamat berakhir pekan, foto2nya bagus…

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 2:13 pm

Thanks, Bli Wira :)

Reply

Riris E December 14, 2009 at 1:55 pm

Kumpulan Rosario itu untuk apa, Don? Dibagikan kepada para pengunjung, ya?

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 2:13 pm

Nggak, Ris..
Kumpulan rosario itu justru dari pengunjung yang setelah berdoa memilih untuk meninggalkan rosarionya begitu saja di dekat patung Bunda Maria…

Reply

Bro Neo December 15, 2009 at 12:09 pm

oh rosario itu ditinggal pemiliknya yach?? sungguh indah!!!! wah kayaknya kalo di sini bisa-bisa hilang semua tuh… (wah aku kok jd pesimis gini sih??)

jadi pingin ke sendang sono besok kalo mudik…

Reply

anderson December 14, 2009 at 2:53 pm

Donny strikes back…. dengan foto-fotonya yang bandwith killer tapi rugi kalo nggak dipelototin. Well taken, Bro…

Kamu memilih batu-batu penjuru yang mengagumkan untuk memberikan energi menghadapi masa depanmu. Dan begitulah hakikatnya kita beribadah, mengadukan perjalan hidup kepada Yang Maha Kuasa serta mohon bimbinganNya. Energi pembimbing itulah yang barangkali kamu rasakan, Bro…

Reply

Donny Verdian December 14, 2009 at 4:47 pm

Thanks, Bro….
Sebenernya apapun energi dari Sang Pembimbing itu tak hanya bisa dirasakan disitu sih… di manapun kita harus bisa, tapi entahlah barangkali kamu benar, di sana rasanya beza.. *halah*

Reply

indah December 14, 2009 at 4:49 pm

kalo ujungnya terpancung gitu tongkonan , pak…kalo batak lancip…
suk nek aku mrono diterke nang penrose park, yo….takgolek sangu sik…

Reply

Donny Verdian December 15, 2009 at 9:00 am

Yo, mreneo :) )

Reply

fekhi December 14, 2009 at 5:04 pm

Foto Yesus disalib bagus sekali. Membuat aku terpaku melihatnya :)
Bagus-bagus

Reply

Donny Verdian December 15, 2009 at 9:01 am

Thanks, Fekhi :)

Reply

sawali tuhusetya December 14, 2009 at 10:13 pm

Penrose Park, agaknya menyajikan sebuah sensasi keindahan tersendiri, mas don. meski belum pernah melihatnya, gambar2 yang ditampilkan mas donny sdh cukup membuktikan sensasi itu.

Reply

Donny Verdian December 15, 2009 at 9:01 am

Betul, Pak.. Makasih…

Reply

arham blogpreneur December 15, 2009 at 4:03 am

banyak patung kalau malam jangan jangan …..jangan …jangan

Reply

Donny Verdian December 15, 2009 at 9:07 am

Hehe

Reply

Bro Neo December 15, 2009 at 12:12 pm

DV, Corpus itu sangat indah.. tampak damai sekali… oh senyum itu!!!

Btw Penrose Park itu ziarah apa ya? Devosi kepada Bunda Maria?

Reply

Donny Verdian December 15, 2009 at 12:36 pm

He eh.. devosi Bunda Maria, Sob..
Makasi :)

Reply

Sash December 15, 2009 at 7:54 pm

Dilihat dari fotonya tempat ini pasti sangat tenang dan ‘nyaman’ untuk berdoa ya mas…

Dan tentang mendapat energi baru, aku juga merasakan hal yang sama tiap kali pulang dari tempat ziarah maupun peribadatan. Kalo menurutku energi baru itu muncul karena sejak awal berkunjung kita sudah menyiapkan hati, jadi saat berada di tempat-tempat tersebut pikiran bisa benar-benar terfokus pada DIA sehingga kita merasa mendapatkan sesuatu…tapi itu cuma menurutku lho mas.

Ah jadi pengen kembali lagi ke Ganjuran apa Emalta…

Reply

pushandaka December 15, 2009 at 10:02 pm

Wah, menikmati akhir pekan dengan wisata religi seperti ini harus digalakkan. Apalagi kalau sampai bisa memberi energi tambahan untuk kita menghadapi hari Senin yang sibuk. Betul ndak, mas? :)

Reply

H December 16, 2009 at 2:19 am

Tone gambar dapet, make filter warna apa mas?

Kalo kameranya tipe D40 ya?

Reply

Eka Situmorang-Sir December 23, 2009 at 12:07 am

Kenapa kayak rumah adat batak ya? Gambar terakhir itu…

Reply

Ingnawati December 25, 2009 at 6:23 pm

Wah, ternyata bagus juga ada tempat peziarahan yang ok banget di Ausie. Keren banget lagi. Jadi pengen ke sana.

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: