Nirmana | April 3, 2010

Hikayat Tattoo (2), sejarah yang berkelanjutan

Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

Suatu malam, setelah tattooku yang pertama mulai mengering, sembuh dari luka pembuatannya, Martho, teman baikku berujar padaku, demikian. “Don, smalam aku mimpi kakimu dua-duanya bertattoo dari bawah sampai atas!”

“Hah? Atas gimana maksudmu?”

“Ya, atas, sampai segini!” ujarnya sambil mengangkat celana pendeknya hingga ke pangkal paha. Akupun tergelak dibuatnya. Bagiku, apa yang diimpikannya adalah hal yang mustahil ketika itu.

“Segila-gilanya aku, nggak mungkin lah sampe sepanjang itu…” tukasku menutup pembicaraan.

Namun pada kenyataannya, tak sampai sebulan sesudah tattoo pertamaku jadi, aku sudah ingin ditattoo lagi! Ada semacam kerinduan untuk merasakan proses pembuatan dan kepuasan ketika melihat hasilnya. Ketagihan? Barangkali, tapi yang pasti, pada titik itu aku belum bisa menyebutkan perasaan itu demikian.

Segera saja kukontak Munir untuk bertanya apakah kira-kira ia punya ide untuk melanjutkan tattooku karena, seperti pada tattoo yang pertama, aku tidak memiliki secuil konsep pun mau dibuat seperti apa tattooku selanjutnya.

Jawaban yang ditunggu pun datang dari mulut Munir. Ia menyuruhku datang untuk berdiskusi tentang tattoo selanjutnya. Diskusi berlangsung menyenangkan. Munir tampak senang dengan hasil tattoo pertamaku. Ia bilang bahwa karakter kulitku yang tak terlalu hitam membuat tinta-tinta yang ditorehkannya terkesan menyala.

“Jadi, gimana Nir?”

“Gimana apanya?”

“Ya gambarnya… kamu sudah ada?”

“Oh, belum! Eh tapi kan tinggal melanjutkan aja dari yang sudah ada ke atas sampai ke lutut!”

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat apa yang diimpikan Marto tadi namun ah… itu hanya ilusi. Pada kenyataannya saat ini aku sedang direncanakan untuk ditattoo hingga lutut dan bukan paha!

Hari pelaksanaan dan harga pun disepakati! Aku pergi ke ToxicTattooPark pada hari yang telah ditentukan. Deg-degannya kurang lebih masih sama dengan apa yang kurasakan pada saat tattoo untuk yang pertama kalinya. Namun kali ini lebih ke soal sakit tidaknya ketimbang tentang bagaimana nantinya menghadapi orang-orang yang masih alergi terhadap tattoo maupun mereka yang ingin memberikan penilaian baik dan buruknya desain tattooku nanti.

Ketika tinta-tinta dimasukkan ke lapisan bawah kulit lewat jarum-jarum yang tergerak oleh dinamo, aku juga tak merasa sedang mengukir sejarah yang baru. Bagiku, tattoo kedua adalah lanjutan dari tattoo pertama, dimana sejarah untuk pertama kali digulirkan.

Dan tak seperti sesudah pembuatan tattoo pertama, aku tak memutuskan untuk pergi ke Jazz Coffee atau ke rumah teman sekadar memamerkan tattoo keduaku itu. Aku memilih untuk langsung pulang dan melanjutkan hidup seperti biasa. Mauku memang demikian, menganggap tattoo sudah lagi bukan barang asing maupun mewah. Ia harus kuanggap sebagai sesuatu yang tak lebih dari sekadar bagaimana layaknya kita harus menghirup nafas agar tetap hidup dan makan supaya tetap kenyang…

{ 32 comments… read them below or add one }

oglek April 3, 2010 at 4:57 am

Ketika tinta-tinta dimasukkan ke lapisan bawah kulit lewat jarum-jarum yang tergerak oleh dinamo

Mengerikan!! gak berani membayangkan deh sakitnya.

BTW sekarang punya tato berapa mas dab?

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:23 pm

Heheheh soal berapanya… nantikan kelanjutan kisah ini, Glek :)

Reply

Arham April 6, 2010 at 5:51 pm

kayaknya mas DV bakal ngebuat tattoo lagi nih

Reply

wahyurez April 3, 2010 at 5:55 am

wow.. keren! bayarnya berapa tu ya? :D

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:23 pm

Murmer :)

Reply

Dewa Bantal April 3, 2010 at 8:39 am

Ini malah rodok medeni buatku… koyok koreng… atau habis jatuh, terus itu luka yang terbuka sek kocrot2 darah e huahahaha….

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:24 pm

Hehe, dari caramu menilai, aku jadi mahfum kenapa kamu urung bertattoo, Ka :)
hehehehehe

Reply

Riris April 3, 2010 at 12:53 pm

sampai sekarang..kendatipun aku (kadang) kepingin punya tatto..tetep aja gak tertarik membayangkan dan merasakan pedihnya kulitku disayat2…

Btw, mau nambah tato dimana lagi, Don? :D

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:25 pm

Dalam tattoo tidak ada penyayatan kulit… Yang ada cuma penanaman tinta dengan cara ditusuk ribuan kali dalam menit dengan kedalaman sekitar 2 mm saja.. nggak sakit kok (bohong mode is ON)

Reply

edratna April 3, 2010 at 1:07 pm

Aha…saya masih membayangkan sakitnya……

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:26 pm

Jangan dibayangkan, Bu! :)

Reply

Yessi April 3, 2010 at 3:33 pm

aku emoh tattonan ah nek loro ngunu kuwi…nek tatto tempel aku gelem.. :P
xixixixixiix…

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:30 pm

Tempel nganggo lambe.. Gelem?:)

Reply

Yessi April 6, 2010 at 5:03 pm

wakakakakakkka…..hemoh!!! :P

Reply

haris April 3, 2010 at 4:23 pm

jadi ingat kisah dalam salah satu buku seri supernova-nya dee. tentang seorang tukang tato yang juga backpaker. dunia yang menarik, mas.

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:51 pm

He eh.. dunia slalu menarik kalau kita bisa menikmatinya, Mas :)

Reply

sawali tuhusetya April 3, 2010 at 8:35 pm

wah, ternyata oengalaman bertattoo mas donny sudah sampai sejauh itu. pasti mantab dan keren, mas don, hehe …

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:52 pm

Hehehe, makasih Pak Sawa…

Reply

Susan Noerina April 4, 2010 at 6:51 am

Mas, gambarnya kerenan tattonya Odie yang di leher :-)

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:55 pm

hehehehe… semua keren menurut saya :)

Reply

zee April 4, 2010 at 11:33 am

Hebad jg munir ya, soalnya bisa melanjutkan konsep tattoo-nya, jadi kesannya semua tattoo itu sekali buat. Cool dah emang klo bcr tattoo..

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:56 pm

Ayo tattoo! :)

Reply

antyo rentjoko April 5, 2010 at 3:05 pm

Sampai sekarang, eh apalagi sekarang, saya gak berani menato diri karena:
1. Saya pembosan. Repot menghapusnya
2. Ternyata saya memang gak begitu berminat, sejak dulu :D

Tapi itu soal pilihan to?

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 3:59 pm

Betul, Man.. soal pilihan..
Jadi Paman milih letak tattoo yang sebelah mana enaknya? *loh*

Reply

bukan detikcom April 5, 2010 at 7:42 pm

Memang cenderung ketagihan sih…yang perlu diingat kalau berniat menambah tatto sebisa mungkin ditempat yang tidak rentan mengendur ketika di makan usia mas. Kalo ndak nanti gambarnya berantakan kalo kulit dah gak kenceng. :D

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 4:00 pm

Siap, Gan! ;)

Reply

vizon April 6, 2010 at 1:22 pm

aku dah baca yang jilid 1, komennya di sini aja ya…

soal bertato memang soal pilihan Don, terlepas dari persoalan-persoalan normativ. akar budaya dan agama yang masih melekat kuat di masyarakat kita, cukup membuat tatto berimej kurang baik. perlu waktu untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa tatto juga bagian dari seni.

hanya saja, kesan buruk di masyarakat bagi para pemilik tatto, juga dikarenakan sikap yang ditunjukkan oleh mereka. rata-rata para pemilik tatto dekat dengan kehidupan “gelap”. maka, jika ada orang “baik-baik” yang bertatto, tetap saja dianggap “buruk” oleh masyarakat kita…

so, terlepas dari persoalan-persoalan itu, aku tetap tidak mau ditatto… mau tau kenapa? karena aku musuhan sama jarum suntik, huahahaha… :D

Reply

Donny Verdian April 6, 2010 at 4:06 pm

Sepakat dengan pola pikirmu, Uda….
Pola pikir moderat yang mendamaikan semua kalangan….
Salut!

Reply

boyin April 9, 2010 at 5:58 pm

wah..wah..banyak juga yah tatoonya..gileee

Reply

nanaharmanto April 9, 2010 at 9:18 pm

hmm…. aku tetap emoh bertatto… kayaknya sakit deh Don… ngeri aku…

Reply

Ria April 14, 2010 at 3:35 pm

serem mas…mmmm…
*lanjut baca yg ketiga*

Reply

imadewira April 22, 2010 at 5:03 pm

sudah tidak surprise lagi ya?

Reply

Leave a Comment

{ 6 trackbacks }

Previous post:

Next post: