Aku ingat betul ketika membaca di salah satu media, sekitar 15 tahun yang lampau, Ari Burhani (formerly drummernya KLa Project) mengaku mendapatkan inspirasi tabuhan drum lagu "Yogyakarta" itu dari nuansa suara andhong (kereta yang ditarik kuda dan dikendarai seorang kusir) yang waktu itu banyak berkeliaran di Jogja. Ya, kupikir juga memang sangat sedikit orang yang bisa menampik anggapan bahwa lagu itu dan suara andhong itu sangatlah Jogja sekali. Tapi sekarang, setelah lima belas tahun berlalu, haruskah lagu itu direvisi aransemennya, utamanya pada bagian derap suara andhong itu, mengingat semangkin sedikitnya andhong-andhong yang bertebaran di kota ini? Atau mengingat, mungkin, jumlah andhong yang tetaplah sama, tapi suara bising knalpot ribuan kendaraan bermotor telah meredam suara mistis hentakan sepatu kuda yang dijejakkan ke aspal di jalan-jalan di Jogja?
Ya! Lalu lintas di kota ini, pada titik-titik tertentu telah menjadi sedemikian brengseknya.
Mungkin kalian yang ada di luar Jogja nggak begitu percaya dengan kenyataan ini, tapi please jangan berpikir terlalu "meremehkan" kota kami karena pada kenyataannya, kecuali banjir dan tingginya tingkat kriminalnya,
kami telah sukses memindahkan "Jakarta" ke Jogja, utamanya tentang kemacetannya :)
Cobalah berkendara di Jogja pada sabtu sore menjelang malam.
Arahkan lajunya ke Ambarrukmo Plaza, anggap berangkat dari perempatan Tugu Yogyakarta maka "wowww.. mejik!" kamu akan mendapatkan satu kenyataan yang bahkan setahun yang lalu
sebelum gempa pun kamu belum mendapatkan kemacetan yang parah seperti itu. Atau kalau tidak mau jadi salah satu anggota pemacet (*halah*) tapi tetap ingin melihat bagaimana mereka bermacet ria sepanjang Jogja, cobalah naik kereta dari arah timur dan melihatlah ke bawah pada
jembatan Kali Code untuk melihat kendaraan-kendaraan mengular berebut masuk dan keluar sentra Malioboro.
Yuk Mari! Kesemuanya itu terjadi di Jogja, di kota yang dinyanyikan begitu syahdu oleh Katon Bagaskara dan kawan-kawan sejak 15 tahunan yang lampau.
Saya, sebagai orang yang cukup ber-logika, sebenarnya sangat sadar dan mahfum akan kenyataan bahwa jumlah manusia yang semakin besar karena kencederungan untuk ber-regenerasi akan terasa semakin menyempitkan lahan publik yang ada di sekelilingnya. Sehingga, sekali lagi, sangat mahfum se mahfum-mahfumnya bahwa cepat atau lambat kemacetan akibat semangkin banyaknya orang menggunakan jalan raya itu pasti akan terjadi termasuk di Jogja ini. Tapi yang tidak terlalu masuk logika adalah kenapa kemacetan yang terjadi justru seperti sekonyong-konyong memuncak dalam setahun belakangan, tidak terkontrol, dan pada akhirnya menjadi sebuah pemandangan yang biasa hari lepas hari?
Macet seperti ini jelas mempengaruhi tatanan orang dalam menciptakan budaya tepat waktu.
Kalau di Jakarta mungkin hal-hal begini sudah menjadi kebiasaan oleh karenanya misalnya seseorang yang tinggal di Lebak Bulus hendak janji bertemu dengan orang lain di satu tempat Tangerang Kota jam 4 sore, maka jauh-jauh waktu
sejak pukul 1 siang sudah bergegas mencari kendaraan umum dan waktu tiga jam itu dipertaruhkan untuk berada di jalanan menikmati perjalanan yang lebih banyak memacetkan. Atau dengan kata lain, you-you yang ada di Jakarta
sudah mampu memasukkan variabel waktu tambahan karena "macet" di dalam agenda catatan dan PDA kalian.
Lha tapi kalau di Jogja, kita belum bisa men-set seperti itu karena kemacetan adalah hal yang baru bagi orang-orang di sini. Hal yang baru terjadi "belum ada setahun" sehingga belum bisa dimasukkan
dalam perhitungan waktu seseorang.
Rencana pemerintah Jogja untuk membuat bus khusus seperti busway di Jakarta juga kupikir belum tentu bisa mengontrol kepadatan lalu lintas. Harapan mereka supaya para warganya memanfaatkan moda transportasi baru itu dengan meninggalkan kendaraan pribadi di rumah kok membuatku males berharap ya. Kenapa? Karena bagi kalangan kita, kendaraan pribadi itu masih merupakan salah satu perhiasan daripada kebutuhan.
Kalian seharusnya setuju dengan omonganku, kalau nggak percaya sekarang juga kubalik bertanya kenapa ada banyak salon mobil dan montor di Jogja?
Kenapa juga tempat cuci mobil dan montor itu ramai menjelang weekend?
Kenapa juga tempat-tempat jualan helm di sekitar Kota Baru itu selalu ramai dan yang laku kok helm-helm yang cantik, bukan yang safety?
Kenapa juga orang banyak melego mobil-mobil Kijangnya, yang sebenarnya belum terlalu butut, menjadi Toyota Alphard padahal dia cuma hidup bareng satu istri dan satu anak,
dengan kata lain kalau pake Alphardnya ke Ambarrukmo Plaza itu bisa dinunuti tangga teparonya sekalian?
Jadi bisa dibilang, menghadapi arus kemacetan yang semangkin menghebat, ditambah dengan semangkin sempitnya badan jalan karena bangunan-bangunan yang didirikan di kanan kirinya saling empet-empetan serta persepsi orang tentang kederajatan personal yang dikaitkan dengan bagus/tidaknya kendaraan pribadinya adalah seikat persoalan yang berpeluang menjadi lingkaran sebab-akibat yang tak akan pernah bisa ditemukan lagi mana ujung dan mana pangkalnya!
Jadi gimana ?
Apa masih berharap kita bisa melihat seorang ibu-ibu anggota sosialita Jogja hendak belanja Levi's dan Hush Puppies dari rumahnya di bilangan Gondomanan,
misalnya, naik Busway ke Ambarrukmo Plaza ?
Kok ya ndak mungkin ya...?
"Belanja 501 dan high heels yang baru ya pake mobil dong. SECARA gw kan socialite di Jogja jhe... wagu no nek numpaknya cuman bis?"
"Ra siyut, coro Wonosarian berucapnya!" Aku membayangkan si ibu akan memenye-menye seperti itu sebelum menstarter mobil deluksnya di garasi rumah mewahnya.
Jadi gimana Mas Adi, Mas Katon... mau kubantu ngaransemen ulang lagunya dengan deru busway dan suara berdesis mobil-mobil mewah ala Jogja ?
Hola Bos! Natalan ra bali po?
QQ : Yupe! Aura romantis ga nyambung ke macetnya lalin kali... Justru kian macet kian romantis karena berlama-lamaan berdua di jalan raya ahuahuahua
mungkin aransemen baru lagu yogyakarta jadi lebih slow...karena suara andongnya jadi semakin tak terdengar dan timik2 karna macet...
Jogja udah seramai itu kah? Wah....tp aura romantisnya masih ada kah?

Ya! Sayalah Donny Verdian.
Hingga saat ini, setidaknya saya menetap di Yogyakarta, menjalani hidup dengan bahagia dan apa adanya. Saya hidup dalam dunia yang saya sendiri terkadang bingung untuk menyatakan dan mengenalinya.
Maka dari itu,saya tak gegabah untuk mengintisarikan keberadaan diri saya, lebih baik membaca/mengamati saja semua konten saya terutama pada kategori: Donny Verdian atau mengunjungi link partisipasi saya di beberapa social-community website di bawah ini:
Kalau Anda ingin menghubungi saya, silakan kirimkan email ke donny[at]verdian.net atau melalui akun YM: donnyverdian

Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.
Logo, desain halaman dan script situs web ini dibangun oleh Donny Verdian - Citraweb Nusa InfoMedia (2007) .
Ilustrasi dan ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Ardian Sukmaji (2007 - 2008), diinspirasi oleh Anjung Sakti (2005).
Foto hasil kreasi Ronny J. Dharma.
Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.
Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini.
Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.