Setelah mencermati beberapa berita seperti misalnya yang dilansir oleh
DetikCom, saya berpikiran demikian:
Saya akan protes kalau sesuatu yang saya dapatkan tak sama dengan apa yang saya korbankan. Saya akan protes kalau dengan uang 10 ribu, saya hanya mendapatkan sepotong tahu, tempe dan telor dadar di warung makan sebelah. Saya akan protes kalau pada tanggal gajian saya belum menerima uang seperti kesepakatan yang telah terjadi antara pemilik perusahaan dengan saya pada awal kontrak kerja.
Tapi saya ndak akan protes hanya karena ada lukisan karya seorang seniman tempoe doeloe yang biasanya diasosiasikan sebagai lukisan Perjamuan Akhir Yesus dengan para Murid lalu dijadikan cover majalah dengan obyek yang berbeda seperti tertera dalam gambar di postingan ini. Kenapa saya ndak protes, karena penggunaan gambar itu sebagai cover majalah tadi tidak akan mengubah kecintaan saya kepada Yesus. Tidak akan mengurangi rasa cinta dan tidak akan sanggup lagi menambahnya karena sudah mentok, tak menyisakan rongga di dalam hati untuk lebih mencintaiNya. Dan kondisi mentok ini telah dimateraikan semenjak saya mengamini bahwa saya adalah seorang Katolik.
Wahai para pemrotes, kenapa tidak kau protes saja banyak mangsalah-mangsalah sosial yang terjadi di sekitar kita?
Bukankah Ia sendiri dulu datang juga tidak banyak protas-protes apapun menyangkut keberadaan diriNya melainkan terus bekerja bagi sesama?
Bukankah Ia tak pernah menghujat para penghujatnya?
Mencibir para pencibirnya?
Meludah para peludahnya?
Dan bukankah TEMPO tak bermaksud buruk seperti itu semua?
Kalian mengatasnamakan diri sebagai wakil Katolik ?
Maaf, sebagai seorang Katolik saya tidak merasa terwakili dan tidak butuh diwakili hanya untuk masalah-masalah
sepele seperti ini.
@leksa: kalo anda mbaca ya pasti tau fokusnya pada para pemrotes cover itu. saya ndak tipe yang ikut-ikutan protas-protes soal harto kayak mereka-mereka itu :) Salam kenal ya...
fokus cerita ini pada protes Cover? atau pada para tukang tuntut adili kasus Soeharto?
Sepertinya kasus Soeharto mendingin sudah , Om :)
emang klo jadi org jawa ngomongnya kudu pake "eng " ya...mangsup...mangsalah....pak harto bgt....

Ya! Sayalah Donny Verdian.
Hingga saat ini, setidaknya saya menetap di Yogyakarta, menjalani hidup dengan bahagia dan apa adanya. Saya hidup dalam dunia yang saya sendiri terkadang bingung untuk menyatakan dan mengenalinya.
Maka dari itu,saya tak gegabah untuk mengintisarikan keberadaan diri saya, lebih baik membaca/mengamati saja semua konten saya terutama pada kategori: Donny Verdian atau mengunjungi link partisipasi saya di beberapa social-community website di bawah ini:
Kalau Anda ingin menghubungi saya, silakan kirimkan email ke donny[at]verdian.net atau melalui akun YM: donnyverdian

Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.
Logo, desain halaman dan script situs web ini dibangun oleh Donny Verdian - Citraweb Nusa InfoMedia (2007) .
Ilustrasi dan ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Ardian Sukmaji (2007 - 2008), diinspirasi oleh Anjung Sakti (2005).
Foto hasil kreasi Ronny J. Dharma.
Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.
Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini.
Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.