Dirgahayu Indonesia

14 Februari 2008 : Tunggonono

Global Warming dan AC yang Dipretheli

Global Warming Angan untuk tidak terlalu tergantung kepada teknologi ternyata memang nggak gampang untuk dicapai ya. Laku prihatin untuk tidak meng-update beberapa gadget dalam beberapa bulan terakhir ini boleh dibilang lumayan berhasil lah, tapi justru aku kecolongan di teknologi yang sifatnya cukup 'mendasar' yaitu AC, Air Conditioner.

"Lha kok ada teknologi mendasar tuh maksudnya piye? Apa ada yang tidak mendasar tho, Mas Don?" Demikian tanya Tunggonono di suatu malam yang panasnya pol-polan.

"Ya mendasar itu maksudku sesuatu yang tak disadari sudah sedemikian masuk ke dalam hidup kita. Koyoto nek di dunia kuliner itu garam. Bayangke urip tanpo garam, piye jal?"

Tunggonono terdiam, entahlah dia diam karena meresapi omongan saya atau ndak ndong babar blas omonganku.

Hari-hari ini memang AC seluruh kantor dipretheli satu per satu untuk dipindah ke gedung baru yang segera kami tempati bulan depan.
Maka jadilah kami belingsatan terutama kalau siang. Lha Mbakyu JombloSelaluCeria, anak buahku yang tersenior pun sekarang jadi juragan minyak. Saya kok ndak bisa membayangkan kalau dia ketahuan Pertamina apa ya wajahnya yang kileng-kileng minyak karena panas itu bakalan dikonversi jadi gas elpiji atau nggak... Kringet anak-anak yang lain juga jadi mak seng mambune kalau pas aku lagi lewat di depannya.

"Sebenarnya aku sempat mikir opo kita perlu beradaptasi lagi ya Bos?" Tunggonono menyela diantara kesibukanku mengipas-ngipasi badan menggunakan koran bekas.

"Nyak! Lambemu! Adaptasi apa tho Nggon?"

"Lho lha iya! Maksudku, dulu waktu kita belum kenal AC apa ya kita kepanasan begini. Rak ya ndak tho..?"

"Ya betul.. trus?"

"Lha ya tapi kok setelah kita terbiasa ber AC trus ketika AC ndak ada kita jadi kepanasan begini. Mangkanya perlu adaptasi Mas nanti lama-lama terbiasa lagi"

"Heheheh... mundhak pinter maneh kowe Nggon. Aku semula juga berpikir gitu.. tapi kampanye soal global warming yang gencar itu mbikin saya melupakan soal adaptasi jhe."

"Maksudmu, Mas?"

"Ya maksudku apa ya panas yang kita rasakan saat ini sama dengan panas yang kita rasakan sebelum kita kenal AC dulu. Atau jangan-jangan panasnya sudah naik beneran tapi kita tetap dimanja oleh AC yang hebat bolehnya menetapkan suhu seenaknya kita!"

"Lha nek gitu dosane AC dobel, Mas?!"

"Halah.. AC kok nganggo dosa segala.. Dosa apa jhe..?"

"Lha ya dosa soale selain mbikin kulit kita dimanja dengan suhu buatannya dia, yang kedua dosanya adalah nggak menyampaikan informasi keadaan bahwa suhu dunia sebenarnya sudah naik beberapa derajat."

"Hahahaha... boljug itu Nggon.. boljug!"

"Boljug? Apa jhe itu ?" Tunggonono kembali plonga-plongo.

Saya diam lagi.
Mendadak saya menjadi takut sekali dengan keadaan ini. Dalam benak saya jadi berpikir keras tentang global warming. Ketakutan itu ternyata memang sudah seharusnya ada di dalam benakku setelah sekian lama kuanggap cuma isu komoditi yang layak jual saja di kalangan pemrotes lingkungan hidup.
Tapi mau gimana, pilih panas seperti ini atau pilih dingin ber AC kayak biasanya...?

Lepas dan tanggalkan idealisme, maka jawabanmu pasti sama denganku, kita tak bisa hidup tanpa AC dan teknologi meski di satu sisi kita tahu itu semua turut andil merusak tatanan lingkungan hidup dan memicu suhu bumi yang kian memanas dan memanas.

Sad but true!

Gambar diambil dari sini.


Posting Terkait Kategori "Tunggonono"

Mimpi Tunggonono Membubarkan Parlemen

28 Agustus 2008 - 14 tanggapan

Bencana Refleksi dari Perilaku Wanita?

27 Mei 2008 - 4 tanggapan

Tunggonono dan Hak Kebebasan Berbicara

12 April 2008 - 3 tanggapan

lintasberita

delicious delicious digg Furl Stumbleupon Technorati Newsvine Magnolia Reddit

Icons by: FastIcon.com



ada 11 tanggapan

Ray - 17 Februari 2008

Betul don.. ketergantungan akan AC memang semakin menjadi jadi, ya bayangkan saja.. aku sendiri juga begitu, tidak bisa dipungkiri, dalam keadaan panas otak ku tidak bisa berfikir, apalagi kalo menyangkut coding.. wah wes iso di pastikan mending ngadem daripada kerja.

Donny Verdian - 16 Februari 2008

@Alfaroby: Makasi komennya Sob.
Betul-betul menyejukkan dan menyegarkan jhe postinganmu itu.

Salam kenal yah! Sering-sering mampir dan nglempar uneg-uneg di sini.

alfaroby - 16 Februari 2008

sebenarnya ya kita tidak sekonyong konyong terus meninggalkan teknologi yang "gak" ramah lingkungan...

"nek gak iso nglakoni kabeh... yo ojok do tinggalno kabeh"

mungkin mulai dari pemakaian AC di atas jam 9 pagi sampe jam 3 sore atau menyalakan AC mobil kalau jam 11 siang sampai jam 3 sore an lah...

hidup hemat bukan berarti menuju liang lahat

Donny Verdian - 16 Februari 2008

@ALL: Kakeyan iyik kabeh!!! :) Hahahaha....

DM - 16 Februari 2008

Hmmm, sejak awal sesungguhnya aku sudah bertanya-tanya: Tunggonono alias 'tukang tunggu' (lha wong namanya saja Tunggonono) itu ada betul nggak ya... Jangan-jangan fiktif. Hasil imajinasi Donny belaka. Aku kok sepakat sama Leah, apa Tunggonono kuwi dikon ngeblog wae yo? Atau kita minta Donny menampilkan fotonya. Minimal foto tampak samping. Gimana... Dan kalau perlu Si Tunggonono dan Donny kita minta foto bareng, dan foto bareng tersebut dimuat di blog ini. Atau sebetulnya Tunggonono itu malah aktor intelektual di balik blog ini. Dengan kata lain, Donny hanyalah pelaksananya. Piye? Ada yang punya pendapat lain?

angga AB5589YU - 16 Februari 2008


lama lama tunggonono bisa jadi lebih populer daripada ndoro-nya yah?, udah ada gejalanya tuh..

kris - 16 Februari 2008

benernya bisa kok don bikin bangunan yg ramah lingkungan. yg tetep adem walaupun di luar panas. coba search nama Heinz Frick.

leah - 16 Februari 2008

gmn jadinya kalo tunggonono ngeblog....

Donny Verdian - 15 Februari 2008

@Windy: Kamu omong apa sih.. ktr ktr.. bahasa sms dibawa kemari.. udik banget!

Tunggonono pemalu, dia takut fotonya masuk ke duniasex dan sebagainya...

windy - 15 Februari 2008

don, lu ktr ngobrolnya cuma sama si tunggono doang ya....kenalin gw dong...kirim potonya sekalian...

DM - 15 Februari 2008

Dulu, dulu sekali, aku yakin kita bisa sehari tanpa handphone, tanpa internet, dan tanpa pacar! Yo po ra? ;)


Nama. -- wajib isi

Email. -- wajib isi

URL. -- lengkapi dengan http://

Pesan. -- wajib isi

kode

arsip / peta situs / depan

Saya, Donny Verdian!

DonnyVerdian

Ya! Sayalah Donny Verdian.
Hingga saat ini, setidaknya saya menetap di Yogyakarta, menjalani hidup dengan bahagia dan apa adanya. Saya hidup dalam dunia yang saya sendiri terkadang bingung untuk menyatakan dan mengenalinya.

Maka dari itu,saya tak gegabah untuk mengintisarikan keberadaan diri saya, lebih baik membaca/mengamati saja semua konten saya terutama pada kategori: Donny Verdian atau mengunjungi link partisipasi saya di beberapa social-community website di bawah ini:

flickrfriendsterdeliciousfacebook View Donny Verdian's profile on LinkedIn Add to Technorati Favorites


Kalau Anda ingin menghubungi saya, silakan kirimkan email ke donny[at]verdian.net atau melalui akun YM: donnyverdian




Versi Beta

Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.

Logo, desain halaman dan script situs web ini dibangun oleh Donny Verdian - Citraweb Nusa InfoMedia (2007) .

Ilustrasi dan ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Ardian Sukmaji (2007 - 2008), diinspirasi oleh Anjung Sakti (2005).

Foto hasil kreasi Ronny J. Dharma.

Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.

Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini.

Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.