Dari seorang temanku dulu, dalam konteks bercanda, istilah 'cemas' dijadikan akronim yang agak menjijikkan.
Cemas adalah celana masuk silit. Silit adalah bahasa jawa dari lubang dubur.
Jadi, celana masuk silit kira-kira berarti suatu keadaan dimana seseorang yang mengenakan celana, sebagian dari celana itu terjebak dalam lipatan pantat dan bersentuhan dengan silit itu tadi. Akibatnya, meski sudah diceboki dengan kertas tissue ataupun air dan sabun tapi toh yang namanya silit tetaplah silit yang menjadi sumber pembuangan yang senantiasa berbau, termasuk membaui permukaan celana yang terjebak itu tadi.
Tadi pagi, pada sebuah siaran berita di televisi, saya melihat ulasan tentang bagaimana kecemasan masyarakat negara ini menghadapi kelangkaan BBM, utamanya minyak tanah. Saya menyaksikan bagaimana para ibu sibuk mengantri untuk mendapatkan minyak dengan harga melambung dan parahnya lagi, dengan jumlah yang sangat terbatas. Sedangkan untuk berpindah dari penggunaan BBM ke gas yang rajin didengungkan, pada kenyataannya masih terlihat banyak kendala teknis yang akhirnya membuat rakyat kita pun ketakutan, miris.
Lalu saya membayangkan betapa masyarakat kita memang benar-benar cemas... laksana celana atau bagian celana yang masuk ke dalam silit. Terjepit dan mau tak mau harus membaui aroma tinja yang menggelora di depannya. Terhimpit masalah harga BBM yang melambung, persediaan terbatas, konversi gas yang tak kunjung lancar, serta ancaman naiknya harga-harga barang kebutuhan hidup karena kenaikan demi kenaikan yang terjadi di sektor ini.
Pemerintah toh bisa bilang dan menyalahkan "Oh... harga minyak dunia memang sedang melambung tinggi!" Atau mungkin ada yang sanggup bilang "Kalau rakyat terus disubsidi nanti merusak rencana anggaran negara yang juga membengkak!"
Sah? Ya sah saja bilang begitu, bicara begitu lha wong mereka punya mulut dan empunya negara. Tapi sah juga kan kalau rakyat lalu bilang sebaliknya "Kemana larinya uang pajak kami?" atau yang lebih parah lagi "Kenapa kalian seperti ulat keket dalam mengadili para koruptor?" Apa mereka mau memberikan penjelasan yang sangat terbuka dan logis tentang semua itu kepada kami, bangsa dan rakyatnya?
Jadi bagaimana?
Kami sudah semangkin terhimpit oleh keadaan yang, oklah... bukan kalian yang bikin totally 100 persen.
Tapi, kalau sudah terhimpit seperti sekarang ini jangan lantas selalu ngomong laksana kentut di depan hidung kami berkali-kali.
Takutnya nanti kami tak tahan lagi atau malah jadi terbiasa dan tak mampu mengenali bau-bau yang lainnya lagi selain ini?
Hahaha!! Sa'jane awal tulisan iki nggilani! :))
Tapi logiknya, bukankah makin makmur sebuah negara, justru makin bisa mensubsidi rakyatnya. Mensubsidi kesehatan, pendidikan, atau apapun yang membuat kelayakan hidup masyarakatnya.
Sudah berapa tahun usia Republik Indonesia? Segala dan semua masih dibebankan pada rakyat.
Ini mencemaskan, Don, mencemaskan! Kamu cemas?
Ndi, kamu cemas nggak?
iya emang don....semua serba mahal euy sekarang....ngajuin naek gaji belom di approve2 juga....payah....btw mulus jg tuh bokong ya...hehe

Ya! Sayalah Donny Verdian.
Hingga saat ini, setidaknya saya menetap di Yogyakarta, menjalani hidup dengan bahagia dan apa adanya. Saya hidup dalam dunia yang saya sendiri terkadang bingung untuk menyatakan dan mengenalinya.
Maka dari itu,saya tak gegabah untuk mengintisarikan keberadaan diri saya, lebih baik membaca/mengamati saja semua konten saya terutama pada kategori: Donny Verdian atau mengunjungi link partisipasi saya di beberapa social-community website di bawah ini:
Kalau Anda ingin menghubungi saya, silakan kirimkan email ke donny[at]verdian.net atau melalui akun YM: donnyverdian

Situs web ini akan selalu dalam tahap pengembangan sejak dipublikasikan pertama kali pada 20 Desember 2007.
Logo, desain halaman dan script situs web ini dibangun oleh Donny Verdian - Citraweb Nusa InfoMedia (2007) .
Ilustrasi dan ikon manusia "Donny Verdian" hasil kreasi Ardian Sukmaji (2007 - 2008), diinspirasi oleh Anjung Sakti (2005).
Foto hasil kreasi Ronny J. Dharma.
Seluruh tulisan dan isi konten lainnya kecuali "tanggapan" adalah hasil pemikiran Donny Verdian.
Untuk konten khusus yang saya sadur maupun tayangkan dari tautan luar situs web ini, akan saya cantumkan sumber/pengkreasinya. Ingatkan saya apabila saya lalai akan hal ini.
Pemberlakuan copyrights di situs web ini adalah sesuai dengan salinan di sini.