<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; Cetusan</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/category/cetusan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[harimau sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[taronga zoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2544</guid>
		<description><![CDATA[Awal januari lalu, bersama anak dan istri aku berkunjung kembali ke Taronga Zoo. Kalau dihitung, ini adalah kunjunganku yang ketiga sejak kepindahanku ke Australia, 2008 silam. Yang namanya zoo, di musim liburan seperti sebulan lalu itu pastilah ramai. Antrian orang mengular membeli tiket masuk; rata-rata datang tak seorang diri, tak juga berdua, melainkan berombongan, kebanyakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html" title="Permanent link to Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_kembali.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali" /></a>
</p><p>Awal januari lalu, bersama anak dan istri aku berkunjung kembali ke <a href="http://taronga.org.au/taronga-zoo"><strong>Taronga Zoo</strong></a>. Kalau dihitung, ini adalah <a title="Jalan ke Taronga Zoo" href="http://donnyverdian.net/2009/03/16/jalanke-taronga-zoo.html">kunjunganku yang ketiga sejak kepindahanku ke Australia, 2008 silam</a>.</p>
<p>Yang namanya zoo, di musim liburan seperti sebulan lalu itu pastilah ramai. Antrian orang mengular membeli tiket masuk; rata-rata datang tak seorang diri, tak juga berdua, melainkan berombongan, kebanyakan keluarga.</p>
<p>Namun yang menarik dibanding dengan kunjungan-kunjunganku sebelumnya, ada semacam keriuhan siang itu, penyebabnya tak lain adalah begitu banyak orang antusias untuk menyaksikan <a href="http://www.taronga.org.au/tiger"><strong>tiga anak harimau yang lahir Agustus tahun silam</strong></a> dan siang itu hendak dipamerkan ke khalayak.</p>
<p><em><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_001.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2546" title="kembali_001" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_001.jpg" alt="" width="400" height="443" /></a>&#8220;Ah ini ternyata yang membuat orang antusias bener!&#8221;</em> sergahku ke istri. Aku sendiri tak menganggap hal seperti itu sebagai sesuatu yang istimewa, mungkin karena latar belakangku yang tak begitu menghargai detail seperti itu. Ke zoo ya ke zoo aja, nonton binatang, jalan-jalan, lalu pulang.</p>
<p>Tapi angin membawaku akhirnya untuk tertarik dan &#8216;masuk&#8217; pada &#8216;event&#8217; tersebut. Menjelang pukul 14:30, di sekitar areal tempat makan di dalam Taronga Zoo, seorang petugas datang menyambangi meja dan berkata, <em>&#8220;Hey, tahukah kamu, anak-anak harimau yang lucu itu sedang tidak tidur siang sampai jam 16:30 nanti? Kalau kamu tertarik, datang ke bagian Harimau dan kamu bebas menyaksikannya!&#8221;</em> ujarnya ramah.</p>
<p>Kamipun bergegas. Bukan karena antusiasme terhadap harimau sebenarnya, tapi lebih karena makanan telah usai kami santap dan kami harus jalan lagi sementara sudah banyak binatang favorit yang kami saksikan sebelumnya dan tak tahu lagi mau kemana untuk menghabiskan waktu.</p>
<p>Adapun antrian masuk ke kandang harimau ternyata tak bisa dibilang sepi. Panjangnya antriannya barangkali sama&#8230; atau bahkan aku berpikir jangan-jangan semua orang yang mengantri di depan tadi memang hanya hendak menyaksikan tiga anak macan yang hingga saat itu belum juga membuatku penasaran itu, saking panjangnya.</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_003.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2548" title="kembali_003" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_003.jpg" alt="" width="300" height="428" /></a>Hingga tak lama dari situ, istriku menyadarkanku, <em>&#8220;Eh, ternyata yang baru lahir itu anak harimau sumatra!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Oh&#8230;&#8221;</em> sahutku. Bagiku, bercengkrama dengan Odilia, anakku sambil sesekali melirik linimasa di Twitter via iPhone lebih menarik ketimbang mendengar kata &#8216;harimau sumatra&#8217;</p>
<p>Lalu antrian meringsekku semakin merapat ke dalam dan para petugas zoo semakin keras menyuarakan info-info tentang anak-anak harimau sumatra. Dalam hati aku tetap keukeuh berujar, <em>&#8220;Harimau sumatra? So what!?&#8221;</em></p>
<p>Tak lama kemudian kami telah benar-benar masuk ke lorong menuju kandang harimau, kumasukkan iPhone ke saku dan aku mencoba menikmatinya&#8230; ya, mencoba.</p>
<p>Mendekat menjelang kandang, di sisi kanan dan kiri lorong beratap itu dipasang screen monitor yang membantu menjelaskan tentang asal mula dan seluk beluk ketiga anak harimau itu.</p>
<p>Dan dari beberapa menit pertama tayangan, yang bisa kutangkap adalah bahwa nama ketiga anak sumatra itu adalah <strong>Sakti,</strong> <strong>Kartika</strong> dan <strong>Kembali.</strong> Ketiganya adalah anak pasangan harimau pejantan <strong>Satu,</strong> dan betina <strong>Jumilah.</strong></p>
<p><em>&#8220;Wow, Indonesia sekali ya!&#8221;</em> aku mulai bergairah. Ke-Indonesia-anku merentang dan aku semakin nyaman menyimak.</p>
<p>Tayangan berikutnya adalah tentang bagaimana jenis harimau sumatra termasuk bagaimana mereka semakin terdesak untuk mempertahankan hidup di alam bebas.</p>
<p><em><strong>&#8220;Life in Sumatra is tough for tigers &#8211; it is hard to find safe habitat and enough food&#8221;</strong></em><br />
demikian larik demi larik ditampilkan dalam screen.</p>
<p>Aku tercekat karena pada kenyataannya memang tinggal 400 ekor di habitat aslinya, Sumatra, harimau jenis ini tersisa. Mereka harus bertarung melawan kepunahan karena rusaknya ekosistem yang kebanyakan dialihfungsikan atas nama kesejahteraan makhluk yang lebih tinggi derajatnya daripadanya, manusia.</p>
<p><em><strong>&#8220;Buy sustainable palm oil si a good oil &#8211; insist on it in the product you buy!&#8221;</strong></em></p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_004.jpg"><img class="size-full wp-image-2549 alignright" title="kembali_004" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_004.jpg" alt="" width="294" height="428" /></a>Larik itu muncul di presentasi selanjutnya.<br />
Ya, kita dihimbau untuk tidak sembarang mengkonsumsi minyak kepala sawit selain minyak yang ramah lingkungan. Tentu sudah bukan rahasia lagi bahwa begitu banyak perkebunan kepala sawit didirikan dan dikembangkan di Sumatra. Keberadaannya mungkin bagus bagi ekonomi negara, tapi untuk harimau sumatra?</p>
<p>Nah, ajakan untuk tidak mengkonsumsi minyak kelapa sawit adalah sebagai wujud kepedulian bahwa kita tak butuh kepala sawit selain yang &#8216;ramah lingkungan&#8217; karena pengembangan perkebunannya berarti mempersempit areal hidup harimau sumatra tersebut.</p>
<p>Tak hanya itu, kita juga dihimbau untuk membeli kayu yang ramah lingkungan pula <em>(sustainable timber)</em> serta menggunakan kertas daur ulang karena dengan demikian maka permintaan akan kayu sebagai bahan baku kayu olahan dan kertas akan menyusut dan hutan di Sumatra sana jadi tertunda untuk semakin cepat digunduli sehingga diharapkan, harimau sumatra tetap tak kehilangan habitat dan makanannya.</p>
<p>Mungkin dari kita banyak bertanya, <em>&#8220;Kan sudah ada reboisasi? Penghijauan kembali lahan yang bekas pakai?&#8221;</em></p>
<p>Benar! Tapi, pikirku, reboisasi pun bukan pilihan terbaik mengingat butuh waktu berapa lama untuk memulihkan ekosistem yang seimbang bagi harimau sumatra? Katakanlah sebuah pohon akan tumbuh dalam waktu puluhan tahun untuk mencapai besar yang sama dengan yang ditebang, maka haruskah selama itu pula harimau sumatra dan rantai makanan dibawahnya menunggu perbaikan alam? Dan, selama waktu menunggu itu semua mereka harus terus kucing-kucingan dengan manusia yang keberadaannya semakin mengepung mereka?</p>
<p>Tayangan screen usai dan antrian membawaku mendekat ke kandangnya dari balik kaca. Dan, ketika aku berada di jarak yang paling dekat dengan anak-anak harimau itu, Bummm! Aku tak kuasa untuk tak jatuh cinta kepadanya. Ketiga anak harimau itu begitu lucu, bermain ke sana kemari, sesekali menggelendot manja ke Jumilah, Ibunya, sementara si Satu, bapaknya, mengamati dari jauh.</p>
<p>Hidup di alam bebas bagaimanapun juga adalah dambaan bagi setiap makhluk hidup karena setiap kehidupan yang diselenggarakan menawarkan kehendak bebas.</p>
<p>Namun, membandingkan dengan apa yang terjadi belakangan di alam aslinya dengan apa yang kulihat saat itu, meski harus hidup dalam alam imitasi dengan intensi hidup di alam &#8216;kebun binatang&#8217; untuk diteliti dan dipamerkan kepada khalayak, aku justru berharap bahwa Kembali dan saudara-saudara kandungnya itu tak perlu kembali ke Sumatra, ke alam asalnya.</p>
<p>Maaf, bukannya aku lebih percaya pada harimau, tapi manusia terkadang lebih sering mengelastiskan pikiran dan niatnya tergantung situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya.</p>
<p>Niatnya pada mulanya biasanya bagus dan mau mengkonservasi alam, tapi ujung-ujungnya kalau kepepet akan takutnya cepat berubah untuk berujar, <em>&#8220;Pilih mana? Harimaunya hidup tapi kami tak bisa makan dan tak ada tempat tinggal? Atau sebaliknya?&#8221;</em></p>
<p>Aku tersontak dari lamunan panjangku ketika petugas memintaku bergeser dari kandang karena antrian berikutnya sudah tak sabar ingin menikmati bagaimana lincahnya harimau-harimau sumatra itu di kandangnya.</p>
<p>Sesaat sebelum bergegas pergi, aku menoleh ke Sakti, Kartika dan Kembali, melalui kaca yang banyak menyisakan uap air dengus nafas pengunjungnya, lalu kehidupan pun kembali berjalan seperti sedia kala.</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_002.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2547" title="kembali_002" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_002.jpg" alt="" width="250" height="250" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gak dibayar kok mau!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/02/05/gak-dibayar-kok-mau.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/02/05/gak-dibayar-kok-mau.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 06:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[donny bu]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2537</guid>
		<description><![CDATA[oleh Donny BU* Ya, gak dibayar kok mau? Lah sampeyan itu mau nyari bayaran apa nyari temen? Kalo hidup sampeyan cuma untuk nyari bayaran, alias jadi orang bayaran, makan temen pun sampeyan pasti tega. Tapi kalo sampeyan nyari temen, dan berhasil punya banyak temen, suatu saat sampeyan bokek sebokek2nya, akan banyak temen yg mau nyawer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>oleh</em><strong><em> Donny BU*</em></strong></p>
<p>Ya, gak dibayar kok mau?<br />
Lah sampeyan itu mau nyari bayaran apa nyari temen?</p>
<p>Kalo hidup sampeyan cuma untuk nyari bayaran, alias jadi orang bayaran, makan temen pun sampeyan pasti tega. Tapi kalo sampeyan nyari temen, dan berhasil punya banyak temen, suatu saat sampeyan bokek sebokek2nya, akan banyak temen yg mau nyawer bantuin sampeyan.</p>
<blockquote class="left"><p>Nabiku, Muhammad SAW, pernah berkata, “Carilah harta seolah kamu akan hidup selamanya, tapi beribadahlah seolah kau akan mati besok.” </p></blockquote>
<p>Makanya saya ndak terlalu suka kalau belum apa2, mulut sampeyan sudah bau duit.<em> &#8220;Bisa dapet duit gak? Aku dibayar berapa?&#8221;</em> kurang lebih begitu deh cerocosan yg pasti tak bales dgn doa dalam hati, <em>&#8220;Tuhan, berilah orang ini uang sesuai dgn yg diinginkannya. Dan sekaligus jadikan duit itu cobaan baginya!&#8221;</em> Lah kok gitu?</p>
<p>Ya kalau hidup dan kehidupan sampeyan itu <em>all about the money</em>, karena sudah kadung jadi temen, saya akan doakan sesuai keinginan Anda. Biar kapok, sebab ingin bukan berarti perlu. Sampeyan kalo dikabulkan keinginannya, besok2 pasti minta lebih. Sampai suatu titik, keinginan tak terkendali sampeyan yg akan mengubur sampeyan di titik nadir.</p>
<p>Tapi kalo sampeyan orang yg suka berbagi dan ikhlas, mudah2an Tuhan tahu apa yg sebenarnya apa diperlukan oleh sampeyan. Tak doakan, sampeyan diberi kecukupan. Cukup itu kata kuncinya. Sayang, kata kunci itu jumpalitan susah ditangkap oleh sebagian dari kawan2 kita. Cukup itu tidak kurang, tidak lebih. Kurang perhatian, bisa berakibat lebih bregajulan! Para cukong, waspadalah!</p>
<p>Cukong ilmu itu sejatinya lebih mulia daripada cukong harta. Sampeyan nyandu ilmu, gak bakalan bangkrut! Apalagi nyandu untuk berbagi ilmu. Tetapi cukong harta, ya sampeyan pikir sendiri deh. Bukan gak boleh punya harta. Sah kok. Nabiku, <strong>Muhammad SAW</strong>, pernah berkata, <em>&#8220;Carilah harta seolah kamu akan hidup selamanya, tapi beribadahlah seolah kau akan mati besok.&#8221;</em> Dianjurkan tho cari harta?</p>
<p>Tapi kalau hartamu gak berkah, buat apa? Gak pernah berbagi itu sama derajatnya dgn berbagi banyak nuntutnya ke orang yg sampeyan bagi. <em>&#8220;Sampeyan tak kasih segini, tapi aku minta dapet ini, itu, entu…&#8221;</em> Wes, sampeyan ikhlas ndak sih mau berbagi? Trus sampeyan yg terima duit, jangan mau jadi orang bayaran! Di bayar boleh, jd orang bayaran itu nanti dulu.</p>
<blockquote class="right"><p>Jadi, kenapa nulis ini tak dibayar pun aku mau? Karena saya tau, saya harus belajar ikhlas.</p></blockquote>
<p>Punya uang ya perlu. Aku ya dibayar, atas kebisaanku, yg terbatas, untuk berbuat sesuatu. Selama ini, syukurlah, yg bayar aku tidak menjadikan aku orang bayaran. Orang yg he eh aja, manggut2 aja, nurut kayak kebo dicocok hidungnya.</p>
<p>Ini namanya sikap, integritas kalau bahasa orang pinternya. Sampeyan jangan mau jadi orang bayaran. Sampeyan jg jangan apa2 nanya bayaran. Setali tiga uang itu, jadi orang bayaran yg gak punya sikap dengan jadi orang yg apa2 nanya bayaran.</p>
<p>Jadi, kenapa nulis ini tak dibayar pun aku mau? Karena saya tau, saya harus belajar ikhlas. Ikhlas itu ilmu yg harus dipelajari sampai mati! Kalo ilmu rakus, tak ajarin 5 menit beres, langsung praktek tho! Nah, kesempatan menulis di blog orang ini, ternyata memancing hasratku untuk belajar jadi ikhlas.</p>
<p>Bayangkan, sudah ndak dibayar, malah ngeramein trafik blog orang. Biarin! Aku yakin kalo bisa belajar ikhlas dari sini, gak belum apa2 minta bayaran, akan ada manfaatnya! Dan yg punya blog ini, karena sudah ngasih kesempatan buat orang lain, khususnya aku, untuk belajar ikhlas (dlm ngebloglah minimal), tak doakan 1001 kebaikan buat dirimu!</p>
<p><em>Ps: bro, kalo akhirnya 1001 kebaikan itu dating beneran, aku bagi persekotnya ya, 1 aja itu khan dari doaku juga…. Hehehehe… ikhlas… ikhlas… susah bener tho…</em></p>
<div class="wagen">
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://donnybu.com/"><span style="color: #ff7d1a;">Donny BU</span></a> (<a href="http://twitter.com/donnybu"><span style="color: #ff7d1a;">@donnybu</span></a>)</span>,</span> penulis adalah penganjur kebebasan berekspresi, pembayar pajak serta pengharap dunia bisa di-fastforward karena kangen setengah mati pingin denger anaknya merengek, &#8220;ayah, beliin mainan itu dong&#8230;&#8221;.<br />
</strong> <em>Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Donny BU? Silakan baca informasi di <span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html"><span style="color: #ff7d1a;">sini</span></a></span></em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/02/05/gak-dibayar-kok-mau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korupsi dan Kompetisi</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/02/02/korupsi-dan-kompetisi.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/02/02/korupsi-dan-kompetisi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 06:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[debritto]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2530</guid>
		<description><![CDATA[Bagiku, bencana korupsi itu marak salah satunya karena manusianya tamak! Sifat alamiah manusia yang satu ini, tamak, terpicu karena tak adanya batas kepuasan ditambah dengan perasaan harus menang apapun dan bagaimanapun caranya. Keharusan itu timbul karena kita mengandaikan hidup ini tak ubahnya sebagai sebuah perlombaan yang bersifat mutlak dan tak bertoleransi. Sayangnya, sejak kecil kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Bagiku, bencana korupsi itu marak salah satunya karena manusianya tamak!</p>
<p>Sifat alamiah manusia yang satu ini, tamak, terpicu karena tak adanya batas kepuasan ditambah dengan perasaan harus menang apapun dan bagaimanapun caranya. Keharusan itu timbul karena kita mengandaikan hidup ini tak ubahnya sebagai sebuah perlombaan yang bersifat mutlak dan tak bertoleransi.</p>
<p>Sayangnya, sejak kecil kita memang dibiasakan untuk berkompetisi! Di sekolah misalnya, kita selalu dituntut untuk menjadi yang terbaik berbasis angka karena angka dianggap menyimpan informasi tentang peringkat kita dalam penguasaan mata pelajaran berbanding yang lainnya, kawan sebangku yang akhirnya menjadi lawan kita.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;meletakkan arti kebebasan hanya sebatas hal-hal tersebut adalah seperti memetakan dunia dalam sekotak televisi berukuran empat belas inchi, tak optimal.&#8221;</p></blockquote>
<p>Padahal pada kenyataannya, tak selamanya angka itu pandai berbicara karena kehidupan ini tak semuanya bisa diperhitungkan dan dirasionalisasikan.</p>
<p>Hingga sebelum akhirnya takdir membawaku mengenyam pendidikan di <a title="So, kamu cina, aku jawa? So what?" href="http://donnyverdian.net/2011/08/22/jawa-cina-so-what.html"><strong>SMA Kolese De Britto</strong></a> Yogyakarta pada 1993 &#8211; 1996, akupun penikmat kompetisi nan menyeramkan itu! Orang tua selalu menyarankanku untuk mendapatkan posisi juara di kelas dengan nilai-nilai mata pelajaran yang tinggi tanpa pernah memberi beban kepadaku bahwa aku harus mengerti kenapa aku bisa dapat posisi juara dan sedalam apa aku mengerti mata pelajaran yang diberikan seolah hal-hal tersebut datang otomatis bersama dengan peringkat yang kuraih.</p>
<p>Di De Britto lah aku diberi wacana baru tentang arti sebuah kompetisi.</p>
<p>De Britto mengajarkan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab bagi siswanya. Orang mungkin hanya melihat kebebasan itu dari sesuatu yang kasat mata yang selama ini menjadi ciri khas anak-anak De Britto saja. Misal, siswa berrambut gondrong, seragam sekolah yang bebas, serta diperbolehkannya mengenakan sendal gunung ketimbang melulu menggunakan sepatu yang tertutup rapat.</p>
<p>Tapi meletakkan arti kebebasan hanya sebatas hal-hal tersebut adalah seperti memetakan dunia dalam sekotak televisi berukuran empat belas inchi, tak optimal.</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Siapa di antara kalian yang tak ingin mencibir para koruptor? Kurasa tak ada karena mereka memang manusia bermartabat rendah yang patut direndahkan karena kelakuannya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kebebasan yang diberikan pada para siswa di De Britto tak semata-mata seperti memberi keliaran pada kawanan kuda di sebuah padang rumput.,Ttapi lebih dari itu, kebebasan yang diberikan justru membuat kami berpikir apa imbas dari setiap hal yang kami lakukan berdalih kebebasan itu sendiri. Hal inilah pada akhirnya yang menjadi esensi dan memicu kami untuk berpikir sebelum bertindak, semisal di bawah ini.</p>
<p><em>Kenapa harus gondrong? Kenapa harus tak gondrong? Apa akibat dari keduanya?</em><br />
<em> Kenapa harus menggunakan kaos kusut? Kenapa milih berbusana parlente ke sekolah?</em><br />
<em> Kenapa harus menggunakan sepatu dinas dan bukannya menggunakan sendal gunung?</em></p>
<p>Tempaan atas nilai ‘bebas bertanggung jawab’ ini pada akhirnya terimplementasi nyaris pada semua hal selama bersekolah di De Britto termasuk dalam berkompetisi.</p>
<p>Dalam hal yang satu ini, pengejawantahan nilai tersebut tampak pada penentuan sikap ketika sedang memilih untuk bersikap jujur dalam berkompetisi atau memilih curang untuk menang.</p>
<p>Terlepas dari pakem dasar bahwa ketidakjujuran adalah sebuah kesalahan, kami dididik untuk tak hanya pasrah pada ‘salah’ atau benar saja tapi lebih dari itu, kenapa kita berani memilih bersikap jujur atau sebaliknya, kenapa engkau tak takut memilih untuk curang dalam berkompetisi karena kedua sikap tersebut akan mendatangkan akibat yang berbeda satu sama lain.</p>
<p>De Britto juga mengenalkan jargon man for others, bagaimana membuat hidup kita berguna bagi sesama. Sesama dalam pandangan kami bukanlah mereka yang hanya sama-sama satu agama, sama-sama satu ras dan daerah tapi sesama dalam arti luas yaitu sesama manusia tak peduli siapapun itu.</p>
<p>Idealnya, konsep Man for Others sendiri sebenarnya tidak lantas melemahkan konsep persaingan semata karena kita harus peduli terhadap sesama karena bukankah kepedulian bukan berarti kita harus kalah ataupun mengalah jika memang keduanya malah nanti tak lebih memajukan sesama kita?</p>
<p>Justru sebaliknya, menempatkan konsep ‘man for others’ sebagai tujuan dan menggunakan nilai ‘bebas bertanggung jawab’ dalam kaitannya dengan berproses untuk mendapatkan hasil kompetisi tersebut sesungguhnya adalah amunisi yang lengkap.</p>
<p>Mereka bukan hanya bicara tentang bagaimana cara mengalahkan lawan dan meraih kemenangan saja, tapi juga bicara tentang bagaimana berproses dan menghayati proses tersebut detik demi detik dengan terus mengutamakan <em>self-checking</em> atas tanggung jawab nantinya serta berorientasi pada kemajuan manusia seutuhnya termasuk dirinya sendiri, keluarga, umat manusia dan lingkungan serta Tuhan.</p>
<p>Nah kalau sudah demikian, cerita-cerita soal bagaimana orang mencuri uang dan kesempatan dengan cara selintat-selintut seperti yang sekarang marak ditayangkan media tak lain adalah upaya untuk mempermalukan nilai kepedulian dan kebebasan manusia dan berakibat pada perendahan martabat manusia.</p>
<p>Tak percaya?<br />
Siapa di antara kalian yang tak ingin mencibir para koruptor? Kurasa tak ada karena mereka memang manusia bermartabat rendah yang patut direndahkan karena kelakuannya.</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=O97HBLIB-UY">http://www.youtube.com/watch?v=O97HBLIB-UY</a></p>
</p>
<p>Selamat hari Pesta Nama <a href="http://www.johndebritto.com/"><strong>Santo Yohanes De Britto</strong></a>, 4 Februari 2012!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/02/02/korupsi-dan-kompetisi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How to Read a Book</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/31/how-to-read-a-book.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/31/how-to-read-a-book.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 04:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[ollie]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2498</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ollie* I&#8217;ve been writing a lot of tips on how to write. And I guess this is the right time to write tips about how to read. Why? Because more and more people said they don&#8217;t have time to read (a book) &#8211; but of course they have time to read twitter timeline the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>Oleh <strong>Ollie*</strong></em></p>
<p><em>I&#8217;ve been writing a lot of tips on how to write. And I guess this is the right time to write tips about how to read. Why? Because more and more people said they don&#8217;t have time to read (a book) &#8211; but of course they have time to read twitter timeline the whole day <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) *including me</em></p>
<p><em>I carry 2 books in my bag &amp; I have 10 books beside my bed (that means I bought &#8216;em but I haven&#8217;t read &#8216;em). So, if I&#8217;m a soldier, I&#8217;m always ready with my amunition.</em></p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;we also hear a new term of ‘social reading’. What is it exactly?&#8221;</p></blockquote>
<p><em>I think the first reason why people can&#8217;t managed to read is because they don&#8217;t know WHY they read. We read for different purposes, but for me, I read to add my knowledge about my expertise (so I&#8217;ll read business books, etc), I love beautiful words and wisdom (so I&#8217;ll read poetry &amp; philosophical books), I&#8217;d like to research for my next novel (so I&#8217;ll read novels with similar genre), when I feel down (I&#8217;ll read self-help), etc. I know what I want from my books. That&#8217;s how I can read 2 or 3 books per week.</em></p>
<p><em>Nowadays we also hear a new term of &#8216;social reading&#8217;. What is it exactly? It&#8217;s when you read a book, and you find good tweetable content, then you&#8217;ll tweet or share about it on social media. This is also make one good reason to read: to inspire more people on your social media channels.</em></p>
<p><em>Books have changed my life. It gives me inspiration (as a writer), source of knowledge (to share with friends), source of income (as a business woman), and last but not least, a supporting shoulder when I needed the most (I do have dark moments in life and motivational books have saved me big time).</em></p>
<p><em>Let&#8217;s read! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><em>Thanks Donny for a chance to Wagen post on your blog <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<div class="wagen">
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://www.salsabeela.com/"><span style="color: #ff7d1a;">Ollie</span></a> (<a href="http://twitter.com/salsabeela"><span style="color: #ff7d1a;">@salsabeela</span></a>)</span>,</span> She&#8217;s a writer of 20 books. Co-founder of startups like online bookstore Kutukutubuku.com and online self-publishing NulisBuku.com. An avid reader.<br />
</strong> <em>Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Ollie? Silakan baca informasi di <span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html"><span style="color: #ff7d1a;">sini</span></a></span></em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/31/how-to-read-a-book.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke-sejenak-an Tuhan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 01:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[150 kata]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2492</guid>
		<description><![CDATA[Orang menggunduli bukit untuk kayu dan lahan hidup tanpa berpikir sepuluh tahun sesudahnya banjir membandang tanpa ampunan. Akibatnya tanaman yang dibudidayakan di lerengnya membusuk, panen pun gagal. Akibatnya, harga pangan membubung tinggi padahal perut manusia hanya bisa diberi makanan untuk hidup, selain itu mati. Ratapan dibalut doa lalu terdengar di sana-sini mengharap tuhan turun tangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html" title="Permanent link to Ke-sejenak-an Tuhan"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_150_title.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Ke-sejenak-an Tuhan" /></a>
</p><p>Orang menggunduli bukit untuk kayu dan lahan hidup tanpa berpikir sepuluh tahun sesudahnya banjir membandang tanpa ampunan. Akibatnya tanaman yang dibudidayakan di lerengnya membusuk, panen pun gagal. Akibatnya, harga pangan membubung tinggi padahal perut manusia hanya bisa diberi makanan untuk hidup, selain itu mati.</p>
<p>Ratapan dibalut doa lalu terdengar di sana-sini mengharap tuhan turun tangan menolong.</p>
<p>Karena maha baik, penolong serta pemaaf, ia tak tinggal diam. Ia menolong meski barangkali perlu waktu sejenak untuk terpingkal-pingkal menertawakan tingkah polah manusia ciptaannya yang bodoh; dulu tampak begitu perkasa membabat hutan sekarang tulus menghiba menanti bantuan.</p>
<p>Persoalannya adalah, ke-sejenak-an bagi dia apakah sama dengan kita? Ada dibilang sehari di surga sebanding dengan seribu tahun di dunia. Jadi kalau dia butuh waktu tertawa satu jam saja? Hmm&#8230; hitunglah sendiri brapa lama di dunia? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Otak dan pantat</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 06:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[150 kata]]></category>
		<category><![CDATA[kursi]]></category>
		<category><![CDATA[toilet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2521</guid>
		<description><![CDATA[Tak perlu protes kalau ada yang butuh dana 2 milyar untuk renovasi toilet dan ongkos penggantian kursi hingga 24 juta per buah. Alasanku sederhana, mereka toh perlu memanjakan pantat, tempat dimana otak mereka berada sebagaimana halnya kita perlu memanjakan kepala. Jadi kalau kita perlu creambath supaya otak segar dan pikiran cemerlang, berilah dirimu pengertian bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html" title="Permanent link to Otak dan pantat"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_150_title.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Otak dan pantat" /></a>
</p><p>Tak perlu protes kalau ada yang butuh dana 2 milyar untuk renovasi toilet dan ongkos penggantian kursi hingga 24 juta per buah.</p>
<p>Alasanku sederhana, mereka toh perlu memanjakan pantat, tempat dimana otak mereka berada sebagaimana halnya kita perlu memanjakan kepala.</p>
<p>Jadi kalau kita perlu <em>creambath</em> supaya otak segar dan pikiran cemerlang, berilah dirimu pengertian bahwa mereka pun perlu menyegarkan pikiran dan refreshing otak demi pekerjaan mereka yang konon untuk rakyat.</p>
<p>Toh kawan lamaku dulu pernah bilang, duduk di kursi yang tak mengenakkan bagi sebagian orang akan mengakibatkan gegar otak.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Di kantong safarimu kami titipkan, masa depan kami dan negeri ini&#8230; </em><br />
<strong><em>(Surat Kepada Wakil Rakyat &#8211; Iwan Fals)</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita adalah inspirasi dan inilah saatnya</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/21/kita-adalah-inspirasi-dan-inilah-saatnya.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/21/kita-adalah-inspirasi-dan-inilah-saatnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 05:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[ferry haris]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[oleh Ferry Haris * Menjelang pergantian tahun 2011-2012, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di hadapan 30-40 orang mahasiswa sebuah universitas di Bali. Ketika menerima tawaran tersebut, saya merasa bingung karena merasa masih belum menjadi sosok yang patut untuk berbagi dan didengarkan oleh orang lain. Namun, akhirnya kita sepakat bahwa sesi yang dibawakan hanyalah berupa sharing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>oleh <strong>Ferry Haris</strong> *</em></p>
<p>Menjelang pergantian tahun 2011-2012, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di hadapan 30-40 orang mahasiswa sebuah universitas di Bali. Ketika menerima tawaran tersebut, saya merasa bingung karena merasa masih belum menjadi sosok yang patut untuk berbagi dan didengarkan oleh orang lain. Namun, akhirnya kita sepakat bahwa sesi yang dibawakan hanyalah berupa sharing pengalaman ketika kuliah dan bekerja di luar negeri.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;saya ingin berujar bahwa &#8216;Good Inspirational Content is The New King&#8217;&#8221;</p></blockquote>
<p>Namun sepanjang sesi sharing berlangsung, hingga pulang ke Bandung, saya merasa ada sebuah <em>gap</em> yang telah saya isi di hati dan pemikiran para mahasiswa tersebut. Saya? Ya, saya yang bukan siapa-siapa ini telah &#8220;berhasil&#8221; memberikan sedikit harapan dan membangun mimpi para mahasiswa di sana untuk menjadi lebih baik, lebih besar, dan lebih maju bahkan dari apa yang keluarga dan masyarakat sekitar sudah terbiasa untuk pikirkan.</p>
<p>Bali, sebuah pulau nan indah yang sangat dikagumi oleh beragam orang dari segala penjuru dunia, ternyata masih dihuni oleh orang-orang yang beranggapan bahwa diri mereka tidak bisa berkembang dan berhasil lebih dari mereka yang berasal dari Jawa. Ya itulah garis besar yang saya dapatkan dari diskusi selama 2 jam kala itu. Bagimana dengan lokasi lainnya di Indonesia?</p>
<p>Dari kisah singkat tersebut, ada harapan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca sekalian. Merujuk kepada keyakinan seorang <strong><a href="http://budiputra.com/">Budi Putra</a></strong> yang mengatakan bahwa <em>&#8220;Content is King!&#8221;</em>, saya ingin berujar bahwa <em>&#8220;Good Inspirational Content is The New King&#8221;</em>. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang mendukung masing-masing kita untuk menghasilkan karya-karya terbaik, mari kita hasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi orang lain. Yakinlah setiap apa yang baik yang kita lakukan dan bagikan, akan ada yang mengambil dan menyakininya menjadi bagian dari hidup mereka.</p>
<p>Media sosial yang berkembang sangat pesat di Indonesia, sudah saatnya menjadi sarana pengembangan diri dan semangat pertumbuhan bangsa dan negara. Mari kita mulai tahun 2012 dengan semangat menginspirasi kebaikan bagi orang lain.</p>
<div class="wagen">
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://eastmeetwest.posterous.com"><span style="color: #ff7d1a;">Ferry Haris</span></a> (<a href="http://twitter.com/FeHa"><span style="color: #ff7d1a;">@FeHa</span></a>)</span>,</span> seorang IT Auditor, penyuka jazz berdomisili di Bonn, Germany.<br />
</strong> <em>Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Ferry? Silakan baca informasi di <span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html"><span style="color: #ff7d1a;">sini</span></a></span></em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/21/kita-adalah-inspirasi-dan-inilah-saatnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiamat 2012, jadikah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 23:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[150 kata]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2505</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita masih diberi umur hingga 21 Desember 2012, dan andaikata hari itu kiamat jadi diadakan menurut ramalan-ramalan yang giat beredar, maka kita akan menjadi saksi patahnya apa yang dulu Pramoedya Ananta Toer kemukakan dalam bukunya, ‘Bukan Pasar Malam”. Di buku yang menceritakan kematian ayahnya itu, Pram mengatakan bahwa hidup ini tidaklah seperti mendatangi sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html" title="Permanent link to Kiamat 2012, jadikah?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_150_title.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Kiamat 2012, jadikah?" /></a>
</p><p>Kalau kita masih diberi umur hingga 21 Desember 2012, dan andaikata hari itu kiamat jadi diadakan menurut ramalan-ramalan yang giat beredar, maka kita akan menjadi saksi patahnya apa yang dulu <strong>Pramoedya Ananta Toer</strong> kemukakan dalam bukunya, <em>‘Bukan Pasar Malam”</em>.</p>
<p>Di buku yang menceritakan kematian ayahnya itu, Pram mengatakan bahwa hidup ini tidaklah seperti mendatangi sebuah pasar malam dimana kita datang dan pulang bersama rekan sepermainan. Kita lahir dan akan mati sendirian, begitu imbuhnya.</p>
<p>Namun dengan adanya kiamat akhir tahun ini, kalau jadi, maka kematian adalah kepulangan masal karena kita sama-sama akan pulang ke haribaanNya tanpa satupun yang disisakan hidupnya.</p>
<p>Dan, soundtrack yang tepat untuk acara ‘kiamat’ itu nanti adalah <strong><em>“Gelang Sipato Gelang’</em>!</strong> karena di sana tertulis penggalan liriknya <em>“Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama.”</em></p>
<p>Apa yang akan kalian lakukan pada tanggal itu? Duduk di lapangan sembari mengudap kacang rebus dan kopi panas sembari menunggu &#8216;jemputan&#8217;? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maling tetaplah maling</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[maling]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[Seorang berteriak, &#8220;Bebaskan maling sandal! Kalau koruptor saja bisa bebas kenapa dia tidak? Dimana letak keadilan kita?&#8221; Pernyataan itu spontan kubalas, &#8220;Kenapa harus dibebaskan, justru kalau dibebaskan, dimana adilnya?&#8221; &#8220;Tapi koruptor maling berjuta-juta lipat ketimbang sandal!?&#8221; &#8220;Itu urusan lain!&#8221; tangkisku. &#8220;Koruptor ya koruptor, maling sandal ya maling sandal!&#8221; &#8220;Nggak bisa dong! Harusnya koruptor dihukum berlipat-lipat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html" title="Permanent link to Maling tetaplah maling"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_maling.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Maling tetaplah maling" /></a>
</p><p>Seorang berteriak, <em>&#8220;Bebaskan maling sandal! Kalau koruptor saja bisa bebas kenapa dia tidak? Dimana letak keadilan kita?&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan itu spontan kubalas, <em>&#8220;Kenapa harus dibebaskan, justru kalau dibebaskan, dimana adilnya?&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Tapi koruptor maling berjuta-juta lipat ketimbang sandal!?&#8221;<br />
&#8220;Itu urusan lain!&#8221; tangkisku. &#8220;Koruptor ya koruptor, maling sandal ya maling sandal!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak bisa dong! Harusnya koruptor dihukum berlipat-lipat lebih kejam ketimbang si maling sandal, Don!&#8221;<br />
&#8220;Benar? Kalaupun benar itu tugas pengadilan dan itu tidak menghilangkan esensi bahwa si maling sandal juga harus dihukum kan?&#8221; balasku.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi&#8230; ini maling sandalnya masih anak-anak lho, Don&#8230; Coba kalau anakmu yang dibegitukan&#8230; Bagaimana reaksimu? Apa ya tetap tega bilang begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku maling? Ya kuhukum!&#8221;<br />
&#8220;Ah, tak percaya! Kau pasti akan tak terima kalau anakmu dimejahijaukan!&#8221;<br />
Pembicaraan kuhentikan disitu karena ia telah menjadi bias dan tak menarik lagi.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<blockquote class="left"><p>Bagiku maling adalah maling&#8230;</p></blockquote>
<p>Bagiku maling adalah maling terlepas dia maling sandal, baju, software, waktu, kekuasaan ataupun uang, atau yang biasa disebut sebagai koruptor, ia tetaplah maling. Mau &#8216;bayi&#8217; umur delapan tahun, dua belas, lima puluh ataupun sembilan puluh tahun, kalau dia mengambil barang milik orang lain tanpa ijin tetaplah ia maling. Yang namanya maling, haruslah dihukum dan hukum inilah yang harus disesuaikan berat-ringannya tapi intinya, ia harus tetap dihukum.</p>
<p>Malah, menurutku, hukuman diperlukan oleh si maling itu sendiri sebagai sarana untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Maling tanpa hukuman akan membuat ia selamanya menjadi maling, sebaliknya, ketika seorang maling telah menjalani hukuman, ia berhak untuk hidup lebih baik lagi meski kalau maling lagi ya, dihukum lagi.</p>
<p>Tanpa hukuman atau status terhukum, esensi kesalahan terhadap tindakan maling takutnya juga akan kabur dan masyarakat semakin rabun mana yang baik dan mana yang benar karena keduanya tak ada yang membedakan. Kalau pada akhirnya tiap hukuman itu berbeda ya tak mengapa selama setidaknya tak men-ciderai konsep &#8216;maling tetaplah maling&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Baiklah aku setuju bahwa dalam kasus maling sandal dimana pelakunya masih anak di bawah umur barangkali memang tak pantas dimejahijaukan. Tapi justru ini adalah momentum untuk kita menuntut pada negara bahwa ia harus memfasilitasi keadaan jika ada kejadian seperti ini; maling di bawah umur.</p>
<p>Baiklah aku setuju pula bahwa anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Tapi kalau demikian adanya, apa bentuk pertanggungjawaban orang tua kalau anaknya maling? Ada yang berani menyeret orang tua ke muka hakim karena anaknya maling? Padahal kalau mau fair, karena anak adalah tanggung jawab orang tua, maka ketika si anak melakukan kesalahan dalam hal ini menjadi maling, maka orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan si anak.</p>
<p>&#8220;Ya maksudku, anak jadi tanggung jawab orang tua itu si anak dididik dengan cara orang tuanya masing-masing!&#8221;<br />
Ok, katakanlah demikian, tapi bagaimana cara membuktikan bahwa bentuk didikanmu tak kan membuat anakmu jadi maling? tanyaku.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; ya pasti bisalah.. Lagipula itu cuma sandal gitu loh.. gimana dengan koruptor yang maling trilyunan kok ga dihukum seberat anak itu!?&#8221; balasnya.</p>
<p>Sekarang cuma sandal?<br />
Lalu besok tape dan radio?<br />
Meningkat ke televisi?<br />
Hingga titik itu kamu tetap akan bilang &#8220;Ah, cuma televisi!&#8221; ?</p>
<p>Lalu besoknya lagi uang, dan kekuasaan lalu uang lagi&#8230; semula ribu, juta, milyar, ratus milyar dan terakhir trilyun dan aku akan berkata &#8220;Tak terasa waktu berlalu. Dulu anakmu maling sanndal tak kau apa-apakan dan sekarang anakmu maling trilyunan, dan kau&#8230; kau sudah tak bisa apa-apa sekarang!&#8221;</p>
<p><em>Begitu?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 06:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2428</guid>
		<description><![CDATA[Semua berawal dari nama dan benda yang ditunjuk oleh nama itu. Anjing. An-jing. Awalnya hanyalah sebutan untuk binatang. Mereka hidup mengembara di alam bebas hingga konon sejak 12 ribu tahun silam manusia jatuh hati lalu membawanya ke rumah , dijadikannya sebagai piaraan, kesayangan maupun menjalankan fungsi-fungsi lainnya yang disematkan kepadanya. Suatu waktu, seseorang patah hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html" title="Permanent link to Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blind.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?" /></a>
</p><p>Semua berawal dari nama dan benda yang ditunjuk oleh nama itu.</p>
<p>Anjing. <em>An-jing.</em> Awalnya hanyalah sebutan untuk binatang. Mereka hidup mengembara di alam bebas hingga konon sejak 12 ribu tahun silam manusia jatuh hati lalu membawanya ke rumah , dijadikannya sebagai piaraan, kesayangan maupun menjalankan fungsi-fungsi lainnya yang disematkan kepadanya.</p>
<p>Suatu waktu, seseorang patah hati terhadapnya. Dalam ilustrasi pikiranku, barangkali orang itu awalnya suka, tapi gara-gara ia menggoda di saat yang tak tepat, si anjing marah lalu menggigit betisnya hingga berdarah. Saking kaget dan sakitnya, ia pun sontak berteriak,<em> &#8220;Anjing!&#8221;</em> Sejak saat itu ia selalu berteriak, <em>&#8220;Anjing!&#8221;</em> kepada siapapun yang menyerang atau mereka dan apapun itu yang membuat marah tak peduli apakah mereka atau sesuatu itu anjing betulan atau bukan. Uniknya, hal itu lantas diikuti oleh banyak orang, hingga sekarang.</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;&#8230;sadarkah kita bahwa agama tercipta pada satu masa dimana tak semua hal yang muncul sekarang sudah ada saat itu&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Sapaan untuk hewan tersayang akhirnya menjadi umpatan yang mendatangkan sakit hati untuk orang yang dikenai dan konstruksi moral masyarakat lambat laun mengkotakkan kata &#8216;anjing&#8217; sebagai umpatan adalah sesuatu yang tak elok untuk diucapkan.</p>
<p>Soal jari tengah itu lain lagi.</p>
<p>Apa salah jari tengah dibanding jari lainnya mungkin hanya surga yang tahu. Hingga akhirnya muncul beberapa versi sebab kenapa orang masa kini (terutama yang hidup di sini) sangat sensitif ketika diacungi jari tengah. Tapi dari sekian banyak versi, aku tertarik untuk mencomot satu, milik bangsa Yunani kuno. Dalam peradaban bangsa itu, jari tengah disebut sebagai <em>katapugon</em>; menusukkan jari tengah ke lubang anus untuk mendapatkan sensasi seks yang berbeda dari biasanya. Lalu semakin kemari, dengan fungsi yang sama (menusuk), tak hanya penetrasi anal namun juga penetrasi ke liang senggama ya menggunakan jari tengah tersebut.</p>
<p>Maka sejak saat itu, orang seperti kehabisan daya untuk tersenyum dan gembira ketika orang lain mengacungkan jari tengah ke mukanya karena membayangkan dan tahu untuk apa sebenarnya jari tengah itu ditujukan. Mudah ditebak sesudahnya, jari tengah menemani ungkapan &#8216;anjing&#8217; sebagai sesuatu yang &#8216;tak elok&#8217; untuk ditunjukkan pada orang lain</p>
<p style="text-align: center;">*  *  *</p>
<p>Dua contoh di atas, anjing dan jari tengah kusajikan sebagai ilustrasi untuk menyampaikan opiniku bahwa kehidupan ini berdinamika dan kita butuh tanggap terhadap gerakannya. Tak ada yang statis dalam kehidupan ini, bahkan sesuatu yang semula bermakna tunggal dan baik, karena satu kejadian kecil menjadikan ia memiliki dua arti yang tak semuanya baik. Sesuatu yang awalnya tak ada, tiba-tiba muncul dan orang pun bertanya-tanya, apakah itu baik atau tidak?</p>
<p>Masyarakat tradisional yang terlalu manja untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan akal budinya lalu memilih agama untuk menjawab karena hanya itu yang ia rasa ia punyai. Mereka berharap kitab-kitab suci secara aktif memberi jawaban kepada mereka, para pemalas itu.</p>
<p>Masyarakat modern akan memilih untuk menggunakan akal budi dengan tetap menggunakan dasar moralitas dan religiositas dari agama yang dianutnya secara hati-hati namun penuh keyakinan.</p>
<p>Lalu pertanyaannya, mana yang lebih benar dalam mengupayakan cara terbaik untuk mencari jawaban itu? Golongan tradisional kah? Modern kah?</p>
<p>Terlepas dari benar-salahnya, sadarkah kita bahwa agama tercipta pada satu masa dimana tak semua hal yang muncul sekarang sudah ada saat itu sehingga mudah ditebak, hal-hal yang muncul belakangan tak kan tertulis secara eksplisit dalam kitab-kitab pendukungnya?</p>
<p>Seperti seseorang yang beberapa waktu silam kuajak berdiskusi tentang satu profesi yang kutanyakan &#8216;keabsahannya&#8217; menurut dia. Semula aku tak mengharapkan diskusi itu dibawa ke dalam ranah &#8216;tradisional&#8217; karena kupikir ia cukup modern.</p>
<p>&#8220;Eh jadi menurutmu profesi A itu salah atau tidak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak!&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Karena hal itu tidak tertulis dalam kitab!&#8221;</p>
<p>Diskusi lantas kuhentikan di situ. Bagiku, hal itu bukannya tak menarik lagi, tapi kalau kulanjutkan takutnya akan menciderai persepsiku terhadap agama itu sendiri dan lantas menganggap agama sebagai sebuah konstruksi purba nan gagu menghadapi jaman yang begitu pesat larinya ini. Lagipula. taruhlah jawaban temanku itu benar bahwa profesi A dihalalkan karena tak tertulis di kitab, lalu bagaimana dengan persepsi tentang anjing dan jari tengah yang kujabarkan di atas itu tadi?</p>
<p>Bagaimana pula pembajakan karya cipta, teroris, hacking.. apakah kita akan baik-baik saja jika kita melakukannya semata karena ia tak ditulis secara eksplisit oleh kitab-kitab nan suci itu jauh sebelum kata-kata itu menemui maknanya yang terkini?</p>
<p>Atau akankah kita akhirnya mencari-cari alasan dengan bilang <em>&#8220;Sudah tertulis tapi dengan istilah lain!&#8221;</em> Kalau demikian, kenapa profesi A juga tak dimungkinkan sebagai <em>&#8216;hal yang ditulis tapi dengan istilah lain&#8217;</em> juga?</p>
<p><em>Touche!</em>  Tulis Umar Kayam setiap Pak Ageng (dirinya) kena sekak Mr. Rigen, pembantunya itu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

