<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; Aku</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/category/donny-verdian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Prei Sik Yo…* (2011)</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/29/prei-sik-yo-2011.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/29/prei-sik-yo-2011.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 06:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2395</guid>
		<description><![CDATA[Seperti halnya tahun lalu, aku akan berhenti sejenak mengupdate blog ini seiring dengan masa liburan Natal dan Tahun Baru yang jatuh mulai hari ini hingga tanggal 8 Januari 2012 mendatang. Awalnya aku berpikir hendak terus update meski liburan toh bank tulisan masih banyak di folderku, tapi bagiku blog bukan perkara bagaimana mempublikasikan tulisan saja tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_preisikyo_2011.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2398" title="blog_preisikyo_2011" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_preisikyo_2011.jpg" alt="" width="500" height="373" /></a></p>
<p><a title="Prei Sik Yo…*" href="http://donnyverdian.net/2010/12/27/prei-sik-yo.html">Seperti halnya tahun lalu</a>, aku akan berhenti sejenak mengupdate blog ini seiring dengan masa liburan Natal dan Tahun Baru yang jatuh mulai hari ini hingga tanggal 8 Januari 2012 mendatang.</p>
<p>Awalnya aku berpikir hendak terus update meski liburan toh bank tulisan masih banyak di folderku, tapi bagiku blog bukan perkara bagaimana mempublikasikan tulisan saja tapi juga sedia setiap saat untuk menanggapi semua tanggapan yang masuk.</p>
<p>Padahal aku telah merencanakan untuk meninggalkan riuh rendah social media selama liburan dan akan lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan sahabat offline-ku di sini, maka kuputuskan untuk &#8216;libur&#8217; dulu ketimbang meninggalkan tulisan tanpa &#8216;jiwa&#8217;.</p>
<p>Blog ini akan kembali update hari Senin, 9 Januari 2012 pukul 13.00 WIB dengan tulisan yang telah kupersiapkan berjudul, <strong>&#8220;Apa salah anjing dan jari tengah?&#8221;  </strong><em>(akhirnya kuubah menjadi <strong>&#8216;Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?&#8217;</strong>)</em><strong><br />
</strong></p>
<p>Selamat menikmati Natal dan Tahun Baru! Tuhan berkati!</p>
<p><em>*Prei Sik Yo = Libur dulu ya (jawa)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/29/prei-sik-yo-2011.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang pohon natal mungil nenek yang sering dipajang dulu&#8230;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 06:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2415</guid>
		<description><![CDATA[Martin Place adalah titik nol kilometernya-Sydney. Tempat dimana produsen-produsen busana dan aksesoris pendukung kelas dunia memanjakan konsumen hingga ke ujung-ujung syaraf kepuasan. Menjelang Natal, seperti halnya pusat perbelanjaan lainnya, di sana pun dipajang pohon natal berukuran besar, menjulang dan banyak orang menikmati pemandangan itu ditemani paduan suara yang mengalun lembut menyanyikan Natal, merpati-merpati yang terbang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html" title="Permanent link to Tentang pohon natal mungil nenek yang sering dipajang dulu&#8230;"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_natal_cover.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Tentang pohon natal mungil nenek yang sering dipajang dulu&#8230;" /></a>
</p><p><em>Martin Place</em> adalah titik nol kilometernya-Sydney. Tempat dimana produsen-produsen busana dan aksesoris pendukung kelas dunia memanjakan konsumen hingga ke ujung-ujung syaraf kepuasan. Menjelang Natal, seperti halnya pusat perbelanjaan lainnya, di sana pun dipajang pohon natal berukuran besar, menjulang dan banyak orang menikmati pemandangan itu ditemani paduan suara yang mengalun lembut menyanyikan Natal, merpati-merpati yang terbang rendah ditingkahi anak-anak kecil yang berlari-larian mencoba untuk mengejar lalu menangkapnya.</p>
<p>Ingatanku tiba-tiba melayang ke pohon natal milik nenekku yang dulu selalu dipasang di almari sebelah-menyebelah dengan televisi hitam putih 14 inchinya.</p>
<p>Pohon natal itu tingginya tak lebih dari 75 cm dan setiap Natal pada sekitar akhir 80-an hingga pertengahan 90-an, ketika anak terkecilnya yang adalah pamanku, <strong>Kokok</strong>, masih tinggal di situ, pohon itu dirangkai sejak awal Desember hingga awal Januari tahun berikutnya. Selama kurang lebih sebulan, ia terpasang, terpajang.</p>
<p>Tak ada yang terlalu istimewa dengan pohon natal itu. Tak ada hadiah yang diletakkan di bawahnya, hiasan yang tergantung di dahan-dahan plastiknya pun ala kadarnya, hanya serangkai lampu ‘<em>byar-pet</em>’ warna-warni yang dililitkan di badan pohonnya. Bahkan untuk memberi kesan ‘<em>snow</em>’, Omku yang sekarang tinggal di Purwokerto itu memilih menggunakan kapas yang diambil dari laci meja rias ibunya, Nenekku.</p>
<p>Tapi pohon natal yang mungil itu selalu menjadi saksi keriaan anak-anak nenek yang datang ke rumah itu untuk merayakan keceriaan Natal dan akhir tahun bersama-sama.</p>
<p>Mulai dari yang tertua, keluarga Mamaku yang tinggal di Kebumen waktu itu. Kami biasa datang lebih dulu, “<em>Tergantung liburannya Donny, Bu!</em>” kata Mamaku setiap ditanya Nenek kira-kira tanggal berapa kami akan tiba di Klaten pada liburan Natal tahun itu dan biasanya kami sudah sampai di Klaten pada awal tanggal 20-an, atau lima hari menjelang Natal.</p>
<p>Lalu anak kedua Nenek,<strong> Tanteku (alm) Iin</strong>, biasa datang bersama suaminya, <strong>Om</strong> <strong>Agus</strong> dan kedua anaknya yang waktu itu masih balita, <strong>Chyntia</strong> dan <strong>Aditya</strong>. Mereka datang dari Jakarta, dan biasanya datang juga tanggal 20-an bulan Desember.</p>
<p>Anak ketiga Nenek, <strong>Om</strong> <strong>Momok</strong>, karena ia tinggal di Solo, ‘sepelemparan batu’ jaraknya dari Klaten, malah biasanya tak pernah menginap di Klaten meski ketika pagi beranjak siang, bersama istri, <strong>Bu Yani</strong> dan anak sulungnya <strong>Ndaru</strong> (waktu itu adiknya, <strong>Ucas</strong> belum lahir), telah berada di Klaten untuk sorenya pulang kembali ke Solo, selalu seperti itu.</p>
<p>Anak keempat, <strong>Tante Suzanna</strong> dan anak kelima Nenek, <strong>Tante Yohanna</strong>, keduanya masih ‘single’ waktu itu keduanya biasa datang bersamaan dari Jakarta datang sekitar tiga hari sebelum perayaan Natal.</p>
<p>Sementara Si Bungsu yang biasa memasang pajangan Pohon Natal itu, hingga sebelum melanjutkan studi ke Purwokerto tentu ia berdiam di rumah, namun ketika ia telah pindah ke Purwokerto, biasa ia datang pertengahan bulan Desember ketika libur semester tiba.</p>
<p>Sebagai sebuah keluarga besar, kami benar-benar menyatu. Terlebih karena suasana menjelang dan sesudah Natal, ada beberapa anggota keluarga yang berulang tahun diawali denganku yang berulang tahun pada tanggal 20 Desember, lalu Om Agus pada 22 Desember (beberapa tahun berikutnya, <strong>Adelia</strong>, anak Tante Suzanna pun lahir pada tanggal yang sama) serta Tante  Yohanna yang berulang tahun pada 28 Desember, maka keriaan tak hanya melulu seputar perayaan Natal saja, setiap dari kami yang berulang tahun toh memiliki ‘Natal’ pada tanggal-tanggal yang kusebutkan tadi.</p>
<p>Pagi hari diawali dengan sarapan di meja makan yang bisa berlarut-larut lamanya. Tentu tak sekadar makan putu mayang dan klepon gurih buatan<strong> Bulik Parni</strong>, istri <strong>Mas Sarjoko</strong> yang telah dianggap ‘anak’ oleh Nenek,  tapi juga ngobrol menceritakan apa saja.</p>
<p>Mamaku bersama adik-adik dan menantunya seperti saling berebut cerita sementara <strong>Citra</strong>, adikku, beserta sepupu-sepupunya bermain sendiri sementara aku yang usianya jauh lebih tua ketimbang sepupu-sepupuku lainnya tapi juga tak seusia bahkan dengan Om Kokok, paman terkecilku, memilih untuk main dengan anak tetangga di luar rumah.</p>
<p>Aku lebih ‘<em>tune in</em>’ untuk demikian karena anak-anak tetangga semacam <strong>Agus</strong>, <strong>Cicuk</strong>, <strong>Gower</strong>, <strong>Adi</strong>, <strong>Dani</strong> dan yang lain adalah kawan sepermainan sejak kecil, sejak lahir hingga sebelum tahun 1984, saat Papa memutuskan memboyong Mama dan aku (waktu itu Citra belum lahir) ke Kebumen.</p>
<p><em>Tahun 1998 akhirnya Papa memutuskan untuk memboyong Mama,dan Citra kembali ke Klaten, tinggal di rumah Eyang hingga <a href="http://donnyverdian.net/tag/diek">Papa meninggal April 2011 silam</a>, sementara aku semenjak 1993 telah merantau studi di Jogja. Kini rumah Klaten didiami Nenek, Mama dan Citra, adikku sementara aku menetap di Sydney, Australia sejak November 2008.</em></p>
<p>Selepas sarapan biasanya disambung dengan ‘makan ringan’ sekitar pukul sepuluh pagi saat tukang jajan ‘tenongan’ datang. Tenong adalah jenis alat pengangkut makanan yang digendong seorang ibu menggunakan selendang. Hampir setiap pagi, tukang ‘tenong’ ini selalu datang ke rumah dan ketika musim Natal, alangkah bahagianya dia karena ia tak perlu berkeliling terlalu lama mencari untung, nyaris semua jajanannya selalu laku laris manis di rumah Nenek.</p>
<p>Setelah kenyang sarapan plus makan tenongan, para tante dan om biasanya ber-acara sendiri-sendiri. Om Agus dengan istrinya, Tante Iin misalnya, mereka beserta anaknya Cyntia dan Aditya lebih senang menghabiskan hari untuk jalan-jalan di Jogja maupun Solo sedangkan aku dan Mama serta Citra memilih di rumah karena kami sudah terbiasa untuk jalan-jalan di Jogja waktu itu.</p>
<p>Om Momok, beserta istri dan anaknya mereka juga rajin menjenguk rumah mertua yang berada di Delanggu, sekitar 20 kilometer sebelah timur kota.</p>
<p>Tante Suzanna, Tante Yohanna dan Om Kokok lain lagi. Mungkin karena waktu itu mereka masih muda, masih banyak teman yang bisa dikunjungi yang kebetulan juga sedang sama-sama berlibur Natal, maka mereka pun pergi sendiri-sendiri di areal kota.</p>
<p>Ketika malam Natal tiba, biasanya kami ke gereja bersama-sama. Jadwal misa Natal biasanya jam setengah delapan malam tapi sejak setengah lima kami telah antri mandi dan bersiap serta berdandan.</p>
<p>Dulu waktu Eyang buyut masih ada, selama kami semua ke gereja, rumah hanya menyisakan Eyang buyut karena beliau muslim, ditemani seorang penjaga malam yang usianya nyaris sama dengan usia nenekku, anak eyang buyutku itu.</p>
<p>Ramai-ramai kami berjalan kaki menyeberangi alun-alun ke arah Sidowayah lalu ke<strong> Gereja St Maria Assumpta</strong> mengikuti Misa Ekaristi Malam Natal. Mengenakan pakaian-pakaian terbaik kami (biasanya baru pula), kami mencoba sekusyuk mungkin mengikuti jalannya misa yang biasanya berlangsung sangat lama sekitar 3 jam! Saking bosannya, aku lebih sering tertidur dan kulihat begitu juga dengan sepupu-sepupu yang lain. Bangun-bangun paling ketika<strong> Malam Kudus</strong> atau <strong>Dalam Gua Dingin</strong> dinyanyikan, itupun sekadar mencocokkan nada yang diambil koor Natal dengan yang beberapa hari sebelumnya kumainkan bersama teman-teman sekelasku di sekolah. Tak lebih.</p>
<p>Menjelang tengah malam, selepas misa usai kami kembali jalan pulang dan sesampainya di rumah biasanya kami disambut <strong>(alm) Papa</strong> yang baru datang dari Kebumen. Papa waktu itu masih belum menganut Katholik maka ia tak ke gereja. Tapi bukan karena itu ia memilih datang terpisah dari kami, tapi karena memang saat itu libur Natal tidaklah selonggar sekarang di Indonesia. Dulu, libur Natal, bagi Papaku yang pegawai negeri, adalah benar-benar ketika tanggal ‘merah’, 25 Desember saja.</p>
<p>Tak ada lagu-lagu Natal yang khas seperti yang sekarang banyak diputar di pusat perbelanjaan ataupun iklan-iklan produk di televisi swasta. Namun meski hanya diiringi hujan yang turun serta suhu udara yang mendingin, malam Natal biasanya kami tutup dengan sederhana. Kami masuk kamar kami masing-masing dan membiarkan Pohon Natal mungil itu menyala di ruang makan, di atas almari di samping televisi dan sayup-sayup kudengar Eyangku memutar radio siaran wayang kulit dari kamar sebelah&#8230;</p>
<p>Tanggal 25 Desember pagi, biasanya kami sibuk menerima tamu dari para tetangga yang sibuk menyalami kami dengan Salam Natal. Mereka tak lain adalah ibu dan bapak teman-teman mainku dan kamipun reriungan bersama.</p>
<p>Untuk hidangan, Nenekku menyembelih ayam peliharaannya di pagi hari, lalu mengurapinya dengan bumbu opor dan dihidangkan begitu saja dengan nasi hangat di atas meja. Lalu Mbak Parni dan Mas Sardjoko turut bergabung mereka membawa masakan-masakan andalan mereka yang gurih, manis dan legit khas Jawa.</p>
<p>Menjelang sore, Papa pamit pulang ke Kebumen untuk bekerja. Ia kembali lagi pada menjelang tahun baru untuk sesudahnya pulang bersama kami ke Kebumen dan beraktifitas seperti biasa.</p>
<p>Sisa hari di setiap akhir tahun sesudah Natal kami habiskan dengan tetap bersukaria meski Natal telah beranjak pergi. Bahan obrolan seperti tak pernah habis dari Mama dan adik-adik, adik ipar serta keponakan-keponakannya. Selalu ada hal yang bisa jadi perbincangan konyol ataupun serius dan barangkali kalau istilah ‘gosip’ waktu itu telah awam digunakan, itu adalah kata yang tepat untuk melukiskannya.</p>
<p>Malam tahun baru pun tiba. Papa kembali datang ke Klaten dan bersatu dengan seluruh anak dan menantu serta cucu Nenek menyambut tahun baru.</p>
<p>Tak ada kegiatan yang harus dituntaskan di luar rumah ketika pergantian tahun tiba. Selain karena Klaten adalah kota kecil sehingga tak ada hiburan yang digelar kecuali pertunjukan ketoprak atau wayang kulit semalam suntuk di alun-alun, kami juga merasa tak ada salahnya menikmati malam pergantian tahun dengan ‘<em>lek-lekan</em>’ (begadang <strong>-jawa</strong>) saja lalu saling memberi ucapan selamat tahun baru kemudian tidur.</p>
<p>Tanggal 1 Januari sore hari adalah saat yang paling tidak ditunggu-tunggu. Karena saat itu biasanya kami semua berpisah untuk pulang ke kota kami masing-masing. Tante-tante yang tinggal di Jakarta, mereka pulang menumpang kereta senja sementara aku dan Mama, Papa serta Citra naik kereta <strong>Purbaya</strong> (Kereta api jurusan Purwokerto Surabaya dan sebaliknya).</p>
<p>Kami berpisah di bibir pagar rumah Eyang untuk selalu berjanji mengusahakan kembali datang pada Natalan akhir tahun berikutnya.</p>
<p>Lalu sesudah kami pergi semua, rumah hanya menyisakan Eyang, Eyang buyut ketika beliau masih ada serta Mas Kokok yang tinggal di situ. Mas Kokok pernah bercerita tak lama dari sekarang ini bahwa sore itu adalah sore terberat yang harus dihadapinya di setiap awal tahun datang. Ia harus berpisah dengan keluarga kakak-kakak tercintanya, dan bersiap dengan rutinitas hariannya seperti biasa dan tinggal dengan orang-orang yang sepanjang tahun ia jumpai pula.</p>
<p>Menjelang malam, masih katanya, ia pun mematikan lampu ‘byar-pet’ warna-warni yang dililitkan di pohon Natal nan mungil, menggulung kabelnya dan menempatkan ke kardusnya kembali. Mencabuti dahan-dahan plastik pohon Natal itu, membersihkannya dengan kain lap basah, melepas hiasan-hiasan yang menempel, merawat batang pohonnya, lalu membungkus rapi semuanya dan menyimpannya di bawah almari untuk setahun kemudian dinyalakan kembali.</p>
<p>Kini, sekitar dua puluh tahunan sesudah segala ritual sederhana nan membahagiakan sekaligus mengharukan itu berlalu, setiap memandang pohon Natal dimanapun ia berada dan semegah apapun ia adanya, aku selalu ingat tiga hal, pohon natal nenek, kebahagiaan dan kebersamaan.</p>
<p>Ternyata kebahagiaan itu tak mau kompromi dengan semegah atau sesederhana apapun pernak-pernik perayaan karena disitulah tantangan kita untuk mampu menghadirkan rasa bahagia itu sendiri.</p>
<p>Adapun Natal, mau dirayakan dengan keluarga besar ketika mereka semua masih ada bersama kita, masih mampu dan mau menyempatkan diri untuk berkumpul bersama ataupun setelah sekarang beberapa di antaranya telah meninggalkan kita untuk selamanya ataupun ketika masing-masing kita telah terpisah jarak dan waktu beserta urusan-urusan masing-masing, kita pun ditantang untuk tetap bisa merasakan kebahagiaan dan kebersamaan yang meski terpencar namun tetap memaknai syukur atas Natal.</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_natal.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2416" title="blog_natal" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_natal.jpg" alt="" width="500" height="347" /></a></p>
<p>Dari Sydney,<br />
aku, <strong>Donny Verdian</strong>, <strong>Joyce</strong>, istriku, dan<strong> Odilia</strong>, anakku, … kami menyampaikan Salam Natal kepada kalian semua pembaca blog ini yang telah begitu setia menjadi sahabat. Penuh cinta dan damai sukacita untuk kalian beserta orang-orang terdekat kalian semua.</p>
<p>Tuhan Yesus memberkati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Y!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/10/10/y.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/10/10/y.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 06:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2211</guid>
		<description><![CDATA[Aih! Tak terasa sudah Oktober aja! Tinggal dua bulan lagi maka tahun 2011 segera berakhir dan kita akan sama-sama masuk ke tahun 2012 yang menurut orang-orang Hollywood lewat film &#8217;2012&#8242; nya, adalah tahun &#8216;bencana besar&#8217; itu Tapi sungguh tak penting bagi kita untuk membicarakannya saat ini karena apa yang kutulis di sini adalah terkait dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/10/10/y.html" title="Permanent link to Y!"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/stoppress.jpg" width="230" height="231" alt="Post image for Y!" /></a>
</p><p>Aih!<br />
Tak terasa sudah Oktober aja! Tinggal dua bulan lagi maka tahun 2011 segera berakhir dan kita akan sama-sama masuk ke tahun 2012 yang menurut orang-orang Hollywood lewat film &#8217;2012&#8242; nya, adalah tahun &#8216;bencana besar&#8217; itu <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi sungguh tak penting bagi kita untuk membicarakannya saat ini karena apa yang kutulis di sini adalah terkait dengan blog ini dan kehidupan ‘maya’ di seputarku. Kalau dihitung, ini adalah &#8216;laporan kedua&#8217; setelah laporan pertama (<a href="http://donnyverdian.net/2011/06/27/si-rikat.html">click di sini</a>) kulayangkan empat bulan silam. Apa perlunya sehingga hal &#8216;beginian&#8217; ditulis dan publikasikan? Tak lebih sebagai tanda bahwa aku masih tetap konsisten untuk ngeblog dan sama sekali belum surut semangat untuk tetap berbagi lewat media ini di tengah lesunya kegiatan ngeblog di kalangan umum. Mari kita yang masih rajin ngeblog kita doakan bagi mereka yang mulai letih, hilang arah, ataupun tergiur manisnya dunia dari &#8216;ladang hobi&#8217; yang lain supaya mereka kembali ngeblog :p</p>
<p>Jadi, apa saja yang bisa kuceritakan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Instagram</h3>
<p>Kalau kalian lihat di kolom kanan halaman muka, pada bagian bawah terdapat beberapa foto kecil seukuran thumbnail. Nah, foto-foto itu akan terus ter-update setiap aku menambahkan foto di akun <em>Instagram</em>-ku. Proses update itu sendiri akan berlangsung otomatis karena memang aku memasang plugin yang mendukungnya.<br />
Oh, kalian belum tau apa itu Instagram? Instagram adalah social media berbasis photo sharing yang dulunya hanya bisa dijalankan via iPhone namun sekarang sudah lebih terbuka untuk gadget-gadget lainnya.</p>
<p>Sebenarnya sih, pola otomatisasi dari Instagram tak hanya berlaku di blog ini. Kalian yang terhubung denganku di <a href="www.facebook.com/donnyverdian">Facebook</a> dan juga <a href="http://twitter.com/dv77">Twitter</a>, serta yang sering mengakses halaman <a href="http://indonesia.posterous.com">Posterous</a>-ku, kalian juga akan melihat hal yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Kpd Yth</h3>
<p>Per 1 Agustus 2011 silam aku merilis program <strong>&#8220;Kpd Yth&#8221;</strong> di blog ini. Apa dan bagaimana program tersebut silakan <a href="http://donnyverdian.net/2011/08/01/kpd-yth.html">click di sini</a>, tapi intinya, <em>Kpd Yth</em> adalah program dimana aku akan mengirim kartu pos kepada kalian yang mengisi form di artikel yang kulink barusan. Detail cerita bagaimana program ini berjalan akan kulaporkan nanti ketika program ini akan kuakhiri pas hari ulangtahunku ke-34, 20 Desember 2011 nanti.</p>
<p>Kalian mau ikut? Silakan mendaftar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Scroll Info Terbaru</h3>
<p>Kalau kalian melihat ada ‘tab’ oranye di bawah gambar utama blog ini, itu adalah kontainer tempat aku menempatkan info terbaru blog. Info terbaru yang kumaksud tentu diluar posting yang selalu kurilis setiap Senin-Kamis, atau setidaknya kalaupun berhubungan, hal itu adalah penekanan dari pesan itu sendiri.<br />
Aku sendiri belum sempat menggarap sistem otomatisasinya sehingga aku tak perlu mengulik code di ‘belakang layar’ untuk menggantinya. Maklum, akhir-akhir ini aku lumayan sibuk dengan pekerjaan rutinku. Untuk sementara ini, aku hanya mengisi kolom Info Terbaru tersebut untuk announce program ‘Kpd Yth’ saja, tapi nantinya akan ada info-info lain yang kutaruh di sana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Old Tweet Post</h3>
<p>Kalian yang aktif di Twitter dan follow aku atau yang ada di lingkaran pertemananku di Facebook, setiap empat jam sekali akan ‘terganggu’ oleh auto-tweet/post yang kupasang di blog ini karena setiap periode waktu tersebut, secara acak, postingan-postingan lama yang ada di blog ini akan ditampilkan di sana.</p>
<p>Tujuannya? Sebenarnya bukan untuk meraih traffic karena toh tak ada yang kupertaruhkan di sini terkait dengan traffic tersebut. Lebih ke semangat berbagi kepada kalian yang barangkali waktu tulisan itu dibuat belum kenal denganku atau sedang ‘alpa’ untuk berkunjung atau.. eh siapa tahu ada yang lupa karena akupun sering lupa pernah menuliskan tulisan-tulisan tertentu di sini.</p>
<p>Nah!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Deskripsi Kategori dan Tag</h3>
<p>Seperti yang kutulis di ‘laporan blog’ yang lalu, aku memang sedang menggarap halaman kategori dan tag di blog ini supaya tak hanya melompong berisi list judul tulisan, tapi juga ada deskripsi singkat tentang apa maksud dari setiap kategori dan tag itu ada.</p>
<p>Puji Tuhan hingga saat ini semua halaman Kategori sudah terisi deskripsi dan malah kusertakan foto-foto sebagai ilustrasi yang semoga nyambung <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Beberapa halaman tag juga demikian&#8230; belum semua kuberi deskripsi memang&#8230; barangkali nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>KitaIndonesia</h3>
<p>Kalian sudah tahu <a href="http://www.kitaindonesia.net"><strong>KitaIndonesia.Net</strong></a> kan? Ini bukan laporan tentang situs yang kubuat dan rilis tepat pada 17 Agustus 2011 itu, tapi lebih kepada pengumuman bahwa bersama dengan puluhan blogger Indonesia yang tinggal di luar negeri, blog ini sekarang teraggregasi dari sana.</p>
<p>So, simak!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3><strong>Y! Blogger</strong></h3>
<p>Nah ini yang terakhir dan barangkali yang paling seru! Per 1 Oktober 2011 silam aku resmi menjadi blogger di <a href="http://id.yahoo.com"><strong>Yahoo! Indonesia</strong></a>. Aku tak mensia-siakan kesempatan yang diberikan ini dan semoga secara intens aku bisa menulis di sana. Oh ya, untuk sementara ini aku terkonsentrasi pada tulisan-tulisan seni musik dan seni lainnya yang lebih bersifat Indie atau sesuatu yang diluar jalur mainstream. Kukatakan sementara karena mungkin saja suatu waktu topik penulisan akan berubah dari situ.</p>
<p>So, simak <a href="http://id.omg.yahoo.com/blogs/blog-editor/bermusik-dan-berbisnis-seperti-koil.html"><strong>tulisan pertamaku</strong></a> di Yahoo! Indonesia. Untuk tulisan-tulisan berikutnya, aku akan menginformasikan linknya dari blog ini.</p>
<p>Cekidot!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/10/10/y.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Rikat</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/06/27/si-rikat.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/06/27/si-rikat.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:54:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1817</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari belakangan ini karena load pekerjaan yang sedang tak terlalu tinggi, aku memanfaatkan waktu untuk melakukan minor update di blog ini. Namanya juga minor, jadi sebenarnya tak ada yang critical. Hanya sedang ingin merasakan efek semacam kalau kita abis potong rambut kan merasa sedikit lebih tampan ketimbang sebelumnya meski sebenarnya ya sama saja&#8230; kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/06/27/si-rikat.html" title="Permanent link to Si Rikat"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/stoppress.jpg" width="230" height="231" alt="Post image for Si Rikat" /></a>
</p><p><span class="drop_cap">B</span>eberapa hari belakangan ini karena load pekerjaan yang sedang tak terlalu tinggi, aku memanfaatkan waktu untuk melakukan <em>minor update</em> di blog ini. Namanya juga minor, jadi sebenarnya tak ada yang <em>critical</em>. Hanya sedang ingin merasakan efek semacam kalau kita abis potong rambut kan merasa sedikit lebih tampan ketimbang sebelumnya meski sebenarnya ya sama saja&#8230; kita tetap tampan!</p>
<p>Nah begitulah, supaya lebih semangat berbagi tulisan kepada kalian semua, sahabat-sahabatku, maka perubahan-perubahan ini kubuat.</p>
<h3>Header</h3>
<p>Pertama adalah header. Aku menambahkan sebuah <em>back-end script (php-lang) </em>untuk mengatur penampilan header image secara <em>random</em>. Jika kalian melakukan proses <em>refresh</em> pada halaman atau membuka satu halaman lalu beralih ke halaman yang lain di blog ini, secara random, header image akan berganti. Sayangnya kalian yang mengakses blog ini lewat RSS Reader, email, maupun iPhone dan Blackberry tak bisa menikmati perubahan ini karena hanya di normal mode saja perubahan kulakukan.</p>
<p>Berikut ini adalah header image yang hingga saat ini ada:</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_rikat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1818" title="blog_rikat" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_rikat.jpg" alt="" width="604" height="661" /></a></p>
<p>Header images akan selalu kutambahkan pada saat-saat yang akan datang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Kategorisasi dan Pengaturan Tag</h3>
<p>Ada perampingan kategori yang kutujukan justru supaya masing-masing kategori punya daya tampung topik yang lebih luas lagi.</p>
<p>Secara spesifik, aku menghilangkan kategori &#8220;<a href="http://donnyverdian.net/tag/u2"><strong>U2</strong></a>&#8221; dan &#8220;<a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo"><strong>Hikayat Tattoo</strong></a>&#8220;. Semua tulisan di bawah dua kategori itu kumasukkan ke dalam &#8220;<a href="http://donnyverdian.net/category/nirmana"><strong>Nirmana</strong></a>&#8220;, kategori yang pada awalnya adalah kategori induk bagi keduanya.</p>
<p>Supaya tak lantas jadi &#8220;hilang jejak&#8221;, perampingan kategori ini lalu kuikuti dengan pengaturan &#8220;tag&#8221; yang lebih optimal. Jadi, meski semua tulisan &#8220;U2&#8243; sudah dimasukkan ke &#8220;Nirmana&#8221;, kalian yang ingin mencari jalinan tulisan yang khusus bicara soal &#8220;U2&#8243; tetap bisa menelusurinya melalui tag U2. Demikian pula untuk tulisan-tulisan lainnya, meski belum semua, dengan adanya pengoptimalan &#8216;tag&#8217; ini semoga lacak jejak tulisan demi tulisan di blog ini jadi lebih bagus.</p>
<p>Pengaturan &#8220;tag&#8221; juga kumaksudkan supaya dimasa mendatang ketika aku ingin membuat rangkaian tulisan bersambung, aku tak perlu lagi menuliskan judul tulisan-tulisan sebelumnya tapi cukup mencantumkan pengumuman bahwa rangkaian tulisan &#8220;X&#8221; ini bisa dilihat indeksnya di tag &#8220;tag_X&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Halaman Kategori dan Halaman Tag</h3>
<p>Masih menyoal kategori dan tag, beberapa waktu silam aku mendapatkan update terbaru <a href="http://diythemes.com/thesis/"><strong>Thesis</strong></a>, theme yang kupergunakan, bahwa salah satu fungsi tambahan dalam versi terbarunya adalah memungkinkan pemilik blog untuk menyajikan indeks kategori dan tag sebagai halaman tersendiri dengan deskripsi yang melekat pada kategori/tag tersebut.</p>
<p>Coba kalian masuk ke salah satu halaman kategori yang ada di main menu di atas dan lihatlah bahwa sekarang selain menyajikan list tulisan dalam kategori, di halaman tersebut juga kuhadirkan deskripsi dari kategori itu sendiri.</p>
<p>Tak hanya kategori, <em>feature </em>ini bisa juga dimanfaatkan untuk memberi keterangan pada tag. Sayangnya saat mulai niat menuliskan keterangan untuk &#8216;tag&#8217;, waktu bermain telah habis dan pekerjaan kembali membludak. Jadi, kalau sampai saat ini ada beberapa tag yang belum sempat kutulisi keterangan pada halamannya, ya harap maklumlah.. terima jadi <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Next time aku juga ingin memberikan ilustrasi pada setiap halaman kategori/tag tersebut. Doakan saja ada waktu luang di pekerjaan sehingga bisa kumanfaatkan untuk melakukan hal-hal itu ketimbang <em>tweeting </em>ataupun <em>facebooking </em> <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Last but not least, sehubungan dengan adanya niat untuk mengoptimalisasi fungsi &#8216;tag&#8217;, aku menambahkan widget <em>&#8220;tag cloud&#8221;</em> di sisi kanan. Tujuannya untuk apa, kalian pasti sudah tahu <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Rikat</h3>
<p>Nah ini yang terakhir dan sebenarnya tidak terlalu terkait dengan blog ini. Sejak akhir Maret silam sebenarnya aku sudah berpikir untuk membeli sebuah laptop pribadi yang mumpuni karena selain ingin belajar satu teknologi baru yang tak bisa kusebutkan di sini, seumur hidup aku belum pernah punya laptop yang bener-bener bagus.</p>
<p>Uang sudah terkumpul saat itu, namun ternyata Tuhan berkehendak lain. <a href="http://donnyverdian.net/tag/diek">Papa meninggal dunia</a> bulan April lalu sehingga aku harus pulang mendadak ke Indonesia untuk hadir dalam prosesi pemakamannya dan tentu tak pada tempatnya kalau ditengah berduka aku tetap memaksakan diri untuk membeli laptop.</p>
<p>Hingga akhirnya awal Juni lalu, aku menghubungi salah satu teman dekatku, <strong>William Pramana</strong>, yang hendak menjual MacBook Pro-nya. Pembicaran pun kami langsungkan dan masing-masing dari kami menemui titik temu yang sama-sama menyenangkannya maka terjadilah transaksi jual beli MacBook Pro miliknya kepadaku.</p>
<p>Kenapa membeli bekas dan tidak membeli baru?<br />
Alasan terkuatku karena dengan uang yang sama yang kuanggarkan untuk &#8216;pengadaan&#8217; laptop ini, aku mendapatkan kualitas yang lebih kalau aku membeli MacBook Pro milik teman yang sama-sama tinggal di Sydney ini ketimbang membeli baru tapi dapatnya &#8216;standard&#8217; saja.</p>
<p>Aku tak perlu menyebutkan apa spesifikasinya dan berapa harganya&#8230; tapi satu hal yang kubagikan di sini bahwa saking cepatnya performa MacBook Pro ku, kuberi nama dia, &#8220;<em><strong>Rikat</strong></em>&#8220;. &#8220;Rikat&#8221; adalah bahasa Jawa lama yang sudah sangat jarang dipakai yang berarti &#8220;Cepat&#8221;.  Semoga, &#8220;Rikat&#8221; menjadikanku semakin produktif untuk berkarya tak hanya di blog ini tapi juga di bidang-bidang lain yang kugeluti di sini.</p>
<p>Dan, tulisan ini, adalah tulisan pertama yang kubesut menggunakan si Rikat! Sekian!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/06/27/si-rikat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terimakasih seribu&#8230;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/02/14/terimakasih-seribu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/02/14/terimakasih-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 06:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Selain kepada Tuhan, berterimakasihlah kepada orang-orang di sekitarmu!&#8221; demikian yang selalu kuucapkan pada salah satu temanku dulu. Jadi, selain kepada Tuhan, pada kesempatan ulang tahun pertama anakku yang jatuh pada hari minggu (13/02) lalu, atas nama doa, cinta, perhatian dan bimbingan yang diberikan selama ini, aku dan Joyce, istriku, berterima kasih kepada: Keempat orangtuaku, Mama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>&#8220;Selain kepada Tuhan, berterimakasihlah kepada orang-orang di sekitarmu!&#8221; demikian yang selalu kuucapkan pada salah satu temanku dulu.</p>
<p>Jadi, selain kepada Tuhan, pada kesempatan ulang tahun pertama anakku yang jatuh pada hari minggu (13/02) lalu, atas nama doa, cinta, perhatian dan bimbingan yang diberikan selama ini, aku dan <strong>Joyce</strong>, istriku, berterima kasih kepada:</p>
<p>Keempat orangtuaku, Mama, Mama mertua, Papa dan Papa mertua. Kepada merekalah, Odilia bisa memanggil &#8220;Uti&#8221;, &#8220;Nana&#8221;, &#8220;Akung&#8221; serta &#8220;Dada&#8221;.<br />
<em> (Terimakasih, untuk Mama mertua dan Papa mertua atas terselenggaranya pesta ulang tahun yang begitu meriah, utamanya atas perhatian dan luangan waktu yang sungguh kutahu tak mudah untuk mencari sela di antara jadwal kerja Papa yang begitu padat).</em></p>
<p>Adik dan kakak ipar beserta keluarganya.</p>
<p>Teman-teman &#8216;untel-untelan&#8217; di Sydney: Jaya-Irna, Paul-Rinda-Gerry dan Darrel-Cucu-Ben.<em> (terutama untuk Jaya atas foto-fotonya yang semakin mempercantik Odilia yang cantik:p )</em></p>
<p>Mami Puspa dan Papi Echa, orangtua baptis Odilia, juga Baby Zara,<em> &#8220;Hey, Zara!&#8221;</em></p>
<p>Ann Ann untuk cupcakes cantiknya.</p>
<p>Serta semuanya, kalian yang tak kan bisa tersebutkan satu-per-satu, karena bagaimana mungkin aku mampu mengeja dan menghitung nama-nama bintang yang tercantum di langit yang kelam sedang jumlah tepatnya pun aku tak tahu apakah bilangan serta angka masih sanggup merangkumnya?</p>
<p><img class="aligncenter" src="https://lh6.googleusercontent.com/_Rd9gRsjPSek/TVjMnVAoDcI/AAAAAAAAA08/yNLcqIGyJWA/blog_1stOdilia.jpg" alt="" width="455" height="482" /></p>
<p><strong>Odilia,</strong><br />
secara khusus aku dan istriku ingin berterima kasih kepadamu karena sejak setahun lalu, karena engkaulah maka kami mendapat gelar baru, &#8220;Papa&#8221; dan &#8220;Mama&#8221;.<br />
Selamat ulang tahun, Nak!<br />
Doa kami di nadimu sekarang serta selamanya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/02/14/terimakasih-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prei Sik Yo&#8230;*</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/12/27/prei-sik-yo.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/12/27/prei-sik-yo.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 06:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[Kalo coffeeshop langgananku di kantor saja bisa berlibur selama Natal dan Tahun Baru ini, maka akupun memutuskan hal yang sama. Kawan, hidup ini indah ketika kita menemukan spasi di antaranya. Oleh karena itu, selama masa libur Natal dan Tahun Baru ini, aku akan sejenak berhenti meng-update blog ini. Bukan lambang kejenuhan atau takut kalian bosan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="aligncenter" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/TRKgPMX62wI/AAAAAAAAAyA/LoGBWJZDxtc/blog_rehat.jpg" alt="" width="500" height="168" /></p>
<p><span class="drop_cap">K</span>alo <em>coffeeshop </em>langgananku di kantor saja bisa berlibur selama Natal dan Tahun Baru ini, maka akupun memutuskan hal yang sama.</p>
<p>Kawan,<br />
hidup ini indah ketika kita menemukan spasi di antaranya. Oleh karena itu, selama masa libur Natal dan Tahun Baru ini, aku akan sejenak berhenti meng-update blog ini.<br />
Bukan lambang kejenuhan atau takut kalian bosan, tapi lebih karena, seperti halnya para barrista yang bekerja di coffeeshop langgananku itu, aku pun perlu berlibur sejenak.</p>
<p>Aku hendak melancong ke Indonesia bersama keluarga kecilku, bertemu dengan orang tua, adik, sanak saudara dan sobat serta karib yang telah lebih dari dua tahun tak pernah bertemu muka. Aku juga ingin melepas rindu bersama Jogja, Malioboro, Kaliurang, Merapi, pecel lele, sate kambing samirono, sop kaki kambing, nasi goreng babi pasar Beringharjo, bakso bawor, nasi padang, gudeg permata, gudeg pawon, sate klatak, babi panggang ucok dan masih banyak lagi!</p>
<p>Selamat berlibur untuk kalian semua.<br />
Kita telah melewati satu tahun yang hebat dan sekarang saatnya rehat sebelum masuk ke tahun baru yang kuyakin juga akan selalu ada berkat Tuhan di sana.</p>
<p>Aku akan kembali meng-update blog ini per tanggal 13 Januari 2011, sehari sesudah aku kembali ke Sydney&#8230;</p>
<p><em>*Prei Sik Yo = Libur dulu ya (jawa)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/12/27/prei-sik-yo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga tahun&#8230;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/12/20/tiga-tahun.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/12/20/tiga-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 05:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1199</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, tepat tiga tahun yang lalu, blog ini untuk pertama kali resmi kuluncurkan. Pada saat itu, bahkan aku sendiri tak menyangka bahwa hari ini akan ada dengan blog ini tetap terus mengembara di ranah maya. Sebuah rentang waktu yang belum bisa dikatakan sesuatu yang panjang meski ia juga bukan waktu yang singkat. Namun, terlepas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2010/12/20/tiga-tahun.html" title="Permanent link to Tiga tahun&#8230;"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_d3v.jpg" width="205" height="116" alt="Post image for Tiga tahun&#8230;" /></a>
</p><p><span class="drop_cap">H</span>ari ini, tepat tiga tahun yang lalu, blog ini untuk pertama kali resmi kuluncurkan.<br />
Pada saat itu, bahkan aku sendiri tak menyangka bahwa hari ini akan ada dengan blog ini tetap terus mengembara di ranah maya. Sebuah rentang waktu yang belum bisa dikatakan sesuatu yang panjang meski ia juga bukan waktu yang singkat. Namun, terlepas dari itu semua, satu hal yang paling penting yang ingin kukatakan adalah blog ini sangat berarti bagiku.</p>
<h3>Saksi Sejarah</h3>
<p>Periode tiga tahun ke belakang boleh dibilang adalah periode bersejarah dalam hidupku.<br />
Setelah  menghabiskan 31 tahun hidup di Indonesia, November 2008 aku memulai peziarahan hidup baru di Australia. Bukan sesuatu yang mudah, tentu saja. Ada begitu banyak pemikiran-pemikiran yang melatarbelakangi proses perpindahan itu. Ada begitu banyak kejadian-kejadian yang bisa dijadikan &#8216;tetenger&#8217; penanda ketika proses menjelang, saat dan setelah perpindahan terjadi.</p>
<p>Nah, keberadaan blog ini lalu menjadi sangat penting terkait dengan pemaparan di atas karena mau tak mau, DonnyVerdian.Net adalah pengumpul dokumentasi terlengkap prosesi demi prosesi itu. Aku mengibaratkan keberadaannya seperti sebuah tape recorder yang selama proses itu merekam nyaris semua yang boleh terjadi.</p>
<p>Hingga kini, di sela-sela waktu entah itu di antrian kereta api di stasiun, saat makan siang atau dimanapun dan kapanpun, membuka arsip blog ini terutama pada sekitar perpindahan dari Indonesia ke Australia tak jarang membuatku merasa seperti kembali berada pada saat tulisan-tulisan itu kususun dan kuterbitkan. Semacam ada kerinduan, ada rasa yang menghentak-hentak, which is good karena ini pertanda bahwa aku cukup berhasil merekam semuanya ke paparan kata-kata, kan?</p>
<h3>Tampungan Pemikiran</h3>
<p>DonnyVerdian.Net bukanlah blog pertamaku. Sejatinya, bahkan sejak Februari 2002 aku telah mulai mengenal dunia blog melalui domain name terdahuluku, donnie.or.id.</p>
<p>Perbedaan antara apa yang ada di sini dengan apa yang dulu kutuliskan di blog yang domain namenya akhirnya mati tak terurus pada awal tahun lalu itu adalah bahwa jika dahulu blog adalah tuangan isi hati terkait dengan kehidupan pribadiku, maka di DonnyVerdian.Net, sadar tak sadar, lambat laun aku mulai menyisihkan apapun yang terkait dengan hati, menaruh ke belakang kehidupan pribadi dan mengutamakan isi otak ke dalam bentuk tulisan lalu kupublikasikan. Kalau dulu di donnie.or.id bahkan kalian bisa tahu apa warna gayung mandi kesukaanku atau klien mana yang paling kubenci dan mana yang paling kusukai, maka di DonnyVerdian.Net bahkan sebisa mungkin seperti apakah keberadaanku sesungguhnya adalah sesuatu yang tak perlu ditampilkann karena memang pada akhirnya hal itu menjadi bagian yang tak terlalu penting.</p>
<p>Ada begitu banyak anyaman pola tulisan yang terbagi dalam beberapa topik.<br />
Memang aku masih menyisakan kategori <a href="http://donnyverdian.net/category/donny-verdian"><strong>Aku</strong></a>, tapi kujamin itu bukan kategori dengan jumlah tulisan terbanyak. Masih ada <a href="http://donnyverdian.net/category/cetusan"><strong>Cetusan</strong></a>, yang berisi pemikiran dan hasil permenungan, <a href="http://donnyverdian.net/category/nirmana"><strong>Nirmana</strong></a>, yang berisi sesuatu yang kutangkap dari dunia sekitar tanpa dibumbui pemikiran dan permenungan yang dominan <em>(thanks to <a href="http://www.blogombal.org">Paman Tyo</a> atas sumbangan ide nama itu)</em> dan ada pula <a href="http://donnyverdian.net/category/tustel"><strong>Tustel</strong></a>, kategori yang kukhususkan untuk posting yang melibatkan lebih banyak faktor fotografi ketimbang tulisannya.</p>
<h3>Generasi 2.0</h3>
<p>Ketika hendak memulai nge-blog lagi di DonnyVerdian.Net, aku sadar bahwa keberadaan internet tidak lagi sama dengan apa yang dipandang orang terhadap internet delapan tahun silam. Kalau dulu internet tak lebih dari suatu &#8220;alternatif&#8221; atas apapun yang ada di dunia nyata, tapi kini (atau lebih tepatnya saat itu, tiga tahun silam) internet adalah &#8220;sesuatu&#8221; yang menawarkan dua hal besar, informasi dan komunikasi dalam satu paketnya secara nyata dan tanpa embel-embel alternatif lagi.</p>
<p>Perubahan ini oleh beberapa pihak lantas disemati dengan label &#8220;Generasi Web 2.0&#8243;<br />
Aku tak mau terlalu larut menulis tentang apa dan bagaimana label tersebut karena aku bukan ahli yang tepat untuk menjabarkannya, namun yang jelas, trend yang terjadi itu lantas mempengaruhiku untuk memberi pernak-pernik &#8220;2.0&#8243; yang sering digunakan saat itu pada DonnyVerdian.Net. Commenting system adalah contohnya. Dulu, ada begitu banyak orang menanyakan kapan donnie.or.id memiliki commenting system dan pada akhirnya hal itupun menjadi nyata demi merangkum pendapat pembaca yang kupercaya bisa memperkaya konten. Ada pula usaha untuk melakukan integrasi saat broadcast postingan terbaru yang semula hanya mengandalkan kerelaan orang datang ke blog serta bahasa mulut &#8220;Woyyy, ada update-an terbaru di blog!&#8221;, kini ketika ada postingan terbaru di blog ini, otomatis di beberapa kanal seperti Twitter dan Facebook langsung tersiar kabar tentang posting terbaru lengkap dengan link ke arahnya.</p>
<p>Tapi satu hal yang menurutku adalah langkah terbesar adalah keputusanku untuk tidak lagi menggunakan script bikinan sendiri lalu menginstall script blog WordPress di DonnyVerdian.Net. Alasan kenapa aku mengambil langkah ini adalah karena pada era terbuka dimana informasi dan komunikasi lantas menjadi kunci sebuah eksistensi, hal-hal teknis adalah pendukung dari dua hal besar itu sehingga , dalam hal ini adalah blog script, jika dikerjakan memakan begitu banyak waktu dan perhatian pada akhirnya ia hadir sebagai kendala.</p>
<p>Ini adalah keputusan besar karena dengan demikian runtuhlah segala ego dan keangkuhan untuk tetap mempertahankan &#8216;script bikinan sendiri&#8217; dan menyatu dengan rombongan mereka yang menggunakan WordPress meski barangkali aku harus berada di baris terbelakang&#8230; dan agak sedikit tertinggal.</p>
<h3>Ke Depan? Say No to Urusan Personal</h3>
<p>Tak hanya ingin memberikan pembeda antara apa yang pernah kutulis di donnie.or.id dengan apa yang kutulis di sini.<br />
Tapi yang jelas, memberikan sebegitu banyak cerita tentang kehidupan pribadi (personal) atau tentang kehidupan orang-orang dekat adalah sesuatu yang buruk dalam dunia blog sekarang ini! Bukannya kenapa-napa tapi tulisan sebagus dan seburuk apapun itu sejatinya adalah pisau bermata dua yang bisa membelai tapi di lain sisi bisa pula melukai dan aku tak mau berkubang dalam pertanyaan yang tak kan pernah usai dijawab, &#8220;Apakah tulisanku ini menghibur atau melukai?&#8221;</p>
<p>Lagipula, kemajuan peran internet dalam kehidupan manusia sekarang ini telah membawa konsekuensi hadirnya piranti hukum yang mengatur kenyamanan para pengguna jasa di dalamnya.Bukan sesuatu yang buruk, baik malah, tapi seperti halnya tulisan, piranti hukum bernama undang-undang itupun membawa konsekuensi hukum yang nyaman-tak nyaman untuk penyedia konten, dalam hal ini adalah para blogger.</p>
<p>Di satu sisi, misalnya hak cipta, kita bisa sedikit terlindungi dengan adanya aturan tapi di sisi lain kita bisa saja tiba-tiba mendapat undangan dari kepolisian atas aduan seseorang yang tak suka terhadap tulisan kita yang barangkali menurut kita sama sekali tak menyinggungnya tapi menurutnya adalah sesuatu yang menamparnya luar-dalam.</p>
<p>Ini bukan sesuatu yang konyol, justru kalau kita (at least, aku) nekat terus-menerus menulis tentang kehidupan personal atau tentang apapun terkait dengan kehidupan nyata di sekitarku lengkap dengan subyek-subyek yang mengelilingiku, itu barulah satu kekonyolan.</p>
<h3>Ke Depan? Blog adalah suratan</h3>
<p>Meski tak mudah, tapi akhirnya aku harus agak sedikit percaya dengan anggapan seorang &#8216;pakar&#8217; waktu itu bahwa blog adalah trend sesaat.<br />
Bukan sebagai gambaran tentang bagaimana denganku dan blog ini tapi lebih pada penggambaran sebagian orang/kalangan yang dulu terdengar dan tampak berada di baris terdepan menolak anggapan &#8220;blog adalah trend sesaat&#8221; tapi sayangnya mereka justru adalah pula orang-orang pertama yang meng-amini opini itu dengan memilih tak aktif di blog mereka masing-masing.</p>
<p>Maraknya social media terutama berkembangnya microblogging lantas dituduh sebagai racun yang menghancurkan mood mereka dalam nge-blog, sesuatu yang menurutku justru sebenarnya menjadi penanda bahwa apapun yang menjadi trend akan selalu dijadikan &#8216;media&#8217; bagi mereka dan ketika hal itu tak menjadi trend lagi, kaki mereka telah meloncat ke trend selanjutnya. Mirip anak kecil yang selalu ingin berdiri di atas sebuah ban yang berputar, tak mau terjatuh tapi pada akhirnya pasti terperosok juga.</p>
<p>Pada akhirnya, sebagaimana layaknya ada orang yang ditakdirkan menjadi jenderal dan ada pula yang harus menjadi kontraktor, aku percaya bahwa menjadi blogger adalah sebuah suratan, lebih dari sekadar pilihan. Seperti sesuatu yang telah digariskan sejak lama atas diri orang per orang bahwa &#8220;Ya, kamu adalah blogger!&#8221; atau &#8220;Ya, kamu adalah blogger tapi lantas karena ada trend baru dan kamu ngga jadi blogger lagi!&#8221;</p>
<p><strong>Selamat ulang tahun blogku, DonnyVerdian.Net!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/12/20/tiga-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang english yang error (melulu)</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/11/01/tentang-english-yang-error-melulu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/11/01/tentang-english-yang-error-melulu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 06:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>
		<category><![CDATA[english]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 1 November 2010, tepat dua tahun silam aku bermigrasi ke Australia menandai sebuah babak kehidupan yang baru setelah tiga puluh tahun sebelumnya kuhabiskan di Indonesia. Aku sendiri bingung hendak menuliskan apa untuk menandai hal yang bersejarah ini, namun kupikir karena aku suka menghibur kalian hingga membuat kalian tertawa tergelak-gelak, maka kuberikan saja sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Hari ini, 1 November 2010, tepat dua tahun silam aku bermigrasi ke Australia menandai sebuah babak kehidupan yang baru setelah tiga puluh tahun sebelumnya kuhabiskan di Indonesia.<br />
Aku sendiri bingung hendak menuliskan apa untuk menandai hal yang bersejarah ini, namun kupikir karena aku suka menghibur kalian hingga membuat kalian tertawa tergelak-gelak, maka kuberikan saja sebuah catatan tentang <em>&#8220;english error&#8221;</em> atau kesalahan demi kesalahan yang acap kubuat dalamku berbahasa Inggris selama dua tahun ini.</p>
<p>Catatan ini adalah catatan yang selalu kuperbaharui setiap aku melakukan kesalahan dan memang sudah kurencanakan untuk suatu waktu kupublikasikan bukan sebagai ajang untuk mempermalukan diri tapi lebih pada upaya untuk mengingatkanku bahwa sehebat apapun aku dan sesukses apapun itu kelak, aku pernah melakukan hal-hal remeh temeh yang .. semoga bisa membuatmu tertawa <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat menikmati!</p>
<p><strong>Thanks You</strong><br />
Ada begitu banyak &#8216;salam&#8217; yang bisa dijadikan sebagai penutup sebuah email.<br />
Kalau waktu di indonesia dulu aku memilih menggunakan <em>&#8220;salam, Donny Verdian&#8221;</em> maka di sini aku memilih <em>&#8220;Thanks, Donny&#8221;</em> atau<em> &#8220;Cheers, DV&#8221;</em> atau untuk yang resmi <em>&#8220;Regards, Donny Verdian</em>&#8221;<br />
Tapi dulu, sekitar empat bulan setelah aku menetap di Australia atau sebulan setelah akhirnya aku mendapat pekerjaan untuk pertama kalinya, aku menuliskan demikian,<br />
<em> &#8220;Thanks you, Donny Verdian&#8221;</em></p>
<p>Beberapa menit kemudian, dari meja orang yang kukirimi email itu terdengar suara cekikikan tawa yang tertahan&#8230;<br />
Tak lama ia memanggil temannya <em>&#8220;Look at here!&#8221;</em><br />
Lalu teman yang lain datang lagi hingga kira-kira ada empat orang berkumpul dalam cubical itu dan salah satu keceplosan menertawakan tulisanku <em>&#8220;Thanks You!&#8221;</em> Barulah aku sadar seharusnya aku menulis sebagai <em>&#8220;Thank You&#8221;</em> atau <em>&#8220;Thanks, Donny&#8221;</em> saja&#8230;</p>
<p><strong>Tuesday dan Thursday</strong><br />
Suatu waktu, masih di kantor lama, Bos memanggilku untuk mempersiapkan presentasi di hadapan General Manager, <em>&#8220;That would be on this Thursday&#8221;</em> ucapnya. Aku mengangguk lalu keluar ruangannya sambil menggumam <em>&#8220;Damn! Sekarang kan senin alias Monday? Berarti besok!&#8221;</em></p>
<p>Aku lantas menelpon istriku pamit untuk kerja lembur karena janjian presentasi itu tadi. Hingga sekitar pukul 9 malam aku lembur dan persiapan presentasi belum jadi pula. Aku memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pekerjaan di rumah.</p>
<p>1.00 AM, dan akhirnya pekerjaan itupun kelar, aku berangkat tidur dan memasang alarm jam 5.00 AM seperti biasa.</p>
<p>Pagi itu, dengan mata memerah dan muka kusut, sekitar jam 8:05 pagi aku masuk ke ruangan bosku sambil dengan bangga membawa materi presentasi yang dimintanya.<br />
<em> &#8220;Oh, kamu rajin sekali.. sekarang masih Selasa (tuesday) dan kamu sudah mengumpulkannya padaku&#8230;!&#8221;<br />
</em> Sejak saat itu aku belajar mengucapkan dan mendengarkan bagaimana itu Tuesday dan seperti apa itu Thursday <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Thit (This and That)</strong><br />
B: Hey Donny, could you please have a look?<br />
Aku: What&#8217;s that? *mendekat ke screen teman kerjaku<br />
B: Look, which one better? This one or that one? *menunjuk dua hal yang berbeda&#8230; tentang sebuah bingkisan yang menarik.<br />
Aku: THIT* one!<br />
B: What?</p>
<p><em>*THIT adalah kosakata baru yang mendadak keluar karena aku ingin mengucap This tapi kesrimpet That atau mengucap That tapi kesandung This.</em></p>
<p><strong>Foot and Food</strong><br />
B: Hey Donny, could you please browse this URL for me?<br />
Aku: Sure&#8230;<br />
<em> * menunggu sekitar 5 menit</em></p>
<p>Aku: Opened now!<br />
B: Cool, what site is that?<br />
Aku: Ah&#8230; kinda food site.<br />
B: What? Foot?<br />
Aku: Ya&#8230;<br />
B: Foot or Food?<br />
Aku: Ya, food *mulai frustrasi karena ia mengira aku mengucapkan foot yang berarti kaki <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Yes or No</strong><br />
B: Donny, i think you cant do this stuff, can you?<br />
Aku: Yes.. i can&#8217;t<br />
B: Can&#8217;t or can?<br />
Aku: Cant<br />
B: But you said &#8220;Yes i can&#8217;t&#8221; instead of &#8220;No i can&#8217;t&#8221;<br />
Aku: errrrrr&#8230;.</p>
<p><em>Semua itu lahir dari buah kebiasaan dulu selalu ngomong:<br />
Kamu nggak bisa mengerjakan ini kan ya?&#8221; tanya mereka.<br />
&#8220;Iya, aku nggak bisa&#8221; jawabku.<br />
Harusnya &#8220;Nggak, aku nggak bisa&#8221;.</em></p>
<p><strong>Pepper and paper</strong><br />
Suatu waktu, di sebuah restaurant Thai Food pada jam makan siang. Ketika hendak menyantap makan, seseorang menelponku dan kupikir aku perlu untuk mencatat nomer telepon barunya.<br />
<em> &#8220;Eh, bentar aku minta kertas dulu ke waittressnya.&#8221;</em> ujarku ke temanku yang juga adalah sesama Indonesian itu.<br />
<em> &#8220;Excuse me, could you please give me a paper?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Sure.. no worries, mate!&#8221; </em>ujarnya sambil menyorongkan padaku tabung bubuk merica yang di labelnya bertuliskan, Pepper!</p>
<p><strong>Donny, i&#8217;m asking!</strong><br />
Suatu sore, di sebuah bar sepulang kerja, aku dan kawanku, kami bersulang untuk minggu yang telah terlewati.</p>
<p>B: So, how was your week, Donny?&#8221;<br />
Aku: Ah&#8230; that was good.. bloody good!<br />
B: Aha&#8230; Nice. Do you hdkjsajdksa hukdsahkjdsa hdjskahdsjak dsadsadsadadsadsgdfds! *tak jelas terdengar dalam english yang diucapkan seperti orang berkumur.<br />
Aku: Oh really? hahahahahhahaa&#8230; *manggut-manggut<br />
B: What do you mean? I was asking.. please gimme an answer&#8230;</p>
<p><em>Upppssss&#8230;.</em></p>
<p><strong>Much People and many people</strong><br />
Sekitar minggu ketiga dari hari pertama kerjaku di perusahaan pertama di Australia, salah satu temanku yang baru pulang liburan ke Bali datang ke mejaku dan mengajakku ngobrol.</p>
<p>B: Waw.. that&#8217;s so amazing Donny&#8230; Bali is beautiful!<br />
Aku: Oh .. jelas!<br />
B: Udah gitu penduduknya tak terlalu banyak tak seperti yang kubayangkan sebelumnya.<br />
Aku: Wah, you must go to Java and see the difference. So much people there!<br />
B: So many.. not much!</p>
<p><em>Ohh&#8230;.</em></p>
<p><strong>Last and latest bus<br />
</strong> Bis yang biasa kutumpangi untuk pulang dari city ke rumah dulu adalah bus pertama dari dua bus yang disediakan dan biasa datang menjemput jam 6.30 malam (yang kedua adalah jam 7.00 malam).<br />
Tapi malam itu, sejak menunggu dari pukul 6.15, baru sekitar pukul 7.15 datanglah bus yang kupikir adalah bus kedua.<br />
Aku lalu bertanya pada sopir ketika hendak naik ke atas, <em>&#8220;Is this the latest bus?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;What do you mean?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Yea&#8230; i&#8217;m asking, is this the latest bus?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Hmmm&#8230;&#8221; </em>Ia mengernyitkan dahi <em>&#8220;Quite sure! I think it&#8217;s 2007 bus.. The new one!&#8221;</em></p>
<p>Aku lantas manggut-manggut&#8230; &#8220;Harusnya kupake last bukannya latest!&#8221; gumamku sembari masuk ke dalam bus.</p>
<p><strong>Supper dan super<br />
</strong> Dalam sebuah wawancara kerja, si penginterview menanyaiku berapa gaji yang kuminta lalu akupun menyebut suatu angka.</p>
<p>B: Hmmm&#8230; ttu sudah gaji bersih?<br />
Aku: Hmmm no&#8230; supper excluded!</p>
<p>Pipinya memerah, bibirnya berusaha untuk tidak menertawaiku.<br />
Dan aku.. aku tahu aku telah salah ucap. harusnya super (su-per) bukannya supper (sap &#8211; per). Super adalah singkatan dari superannuation, semacam dana pensiun yang wajib ditarik dari gaji bulanan kita sekitar 9%, sementara supper adalah santapan larut malam sesudah dinner <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Shit dan Sheet</strong><br />
Di kantorku dulu, tiap hari kami harus mengumpulkan laporan yang berlabel Time Sheet yang intinya adalah mencatat apa yang kita kerjakan dalam sehari itu.</p>
<p>Suatu waktu, karena tergesa-gesa pulang, aku lupa mengumpulkannya dan baru pada pagi keesokan harinya aku serahkan ke meja Bos.<br />
<em> &#8220;Sorry maybe it&#8217;s too late.. but this is my time SHIT&#8221;</em> ujarku padanya.</p>
<p>Ia tersenyum&#8230;aku lega karena itu pertanda ia tak memarahiku.<br />
Tapi sejurus kemudian, senyumnya berubah menjadi tawa dan gantian aku yang bertanya-tanya barangkali ia menertawakan keterlambatanku.<br />
<em> &#8220;Why you laugh at me?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;No&#8230; but&#8230;&#8221; </em>ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tapi meski demikian kudengar tawanya menggelegak.</p>
<p><em>&#8220;Ok Donny&#8230; come on.. this is Time Sheeetet not Time Shit!&#8221;<br />
Oh..&#8221;</em> Gantian aku yang memerah wajah.<br />
<em> &#8220;You didn&#8217;t give me a shit, did you?&#8221;</em></p>
<p><strong>Prawn and Brown</strong><br />
&#8220;Makan pake apa kau?&#8221; tanya temanku.<br />
&#8220;Oh&#8230; rice with Prawn <em>(aku sebut sebagai PRAUN tapi mendengarnya sebagai BRAUN)&#8230;&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Oh&#8230;&#8221; temanku bingung &#8220;Jadi kamu campur antara rice dengan BROWN RICE?&#8221;<br />
&#8220;No&#8230; it&#8217;s BRAUN&#8221;</p>
<p>Ia masih bingung lalu aku mainkan telunjuk membentuk bentuk seperti udang tapi astaga&#8230; ia masih juga kebingungan!</p>
<p>Aku mulai frustrasi&#8230; segera sesudah masakanku keluar dari microwave, kutunjukkan padanya dengan agak gemas.. &#8220;<em>L-O-O-K  A-T  T-H-I-S!!!!</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh i c!&#8230;.. that PRAWN (nyebutnya Prown), Donny&#8230; not BRAUN&#8221;<br />
<em> Aku lalu meninggalkan dapur, mendadak aku semakin lapar!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/11/01/tentang-english-yang-error-melulu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Piala Dunia</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/05/22/tentang-piala-dunia.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/05/22/tentang-piala-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 16:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia]]></category>
		<category><![CDATA[world cup FIFA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=952</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana persiapan kalian dalam menyambut Piala Dunia 2010 yang akan dimulai Juni nanti? Sudahkah menyiapkan kostum sepakbola tim andalan untuk dipakai saat acara nonton bareng? Sudah booking tempat paling asyik untuk acara nonton bareng bareng teman dan pacar? Atau, jangan-jangan kamu malah sudah menyiapkan tiket untuk nonton langsung di Afrika Selatan sana? Wah, asik bener kalau beneran gitu! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Bagaimana persiapan kalian dalam menyambut Piala Dunia 2010 yang akan dimulai Juni nanti? Sudahkah menyiapkan kostum sepakbola tim andalan untuk dipakai saat acara nonton bareng? Sudah booking tempat paling asyik untuk acara nonton bareng bareng teman dan pacar? Atau, jangan-jangan kamu malah sudah menyiapkan tiket untuk nonton langsung di Afrika Selatan sana? Wah, asik bener kalau beneran gitu!</p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh6.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3ct1PTGI/AAAAAAAAApE/L5hhjGwDZuI/s128/blog_worldcup_2010.jpg" alt="" width="128" height="128" />Kuyakin tak ada yang menyangkal kalau aku bilang bahwa Piala Dunia itu seperti halnya candu!<br />
Kehadirannya begitu dinanti-nantikan tak hanya warga negara yang timnya ikut bertanding tapi juga seluruh umat manusia.<br />
Tak peduli apakah mereka itu pecinta sepakbola atau bukan setidaknya berita-berita tentang &#8216;bola&#8217; akan pekat mewarnai hari-hari ke depan selama persiapan, pelaksanaan dan pasca penyelenggaraan.</p>
<p>Sedemikian kuatnya pengaruh penyelenggaraan Piala Dunia, tak jarang dari kita merasakan kesan yang luar biasa pada setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Seperti contohnya aku sendiri yang merasakan begitu banyak kesan yang berbeda-beda pada setiap Piala Dunia yang telah berlalu.</p>
<p><strong>Piala Dunia 86</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3N2QDssI/AAAAAAAAAos/qpabVPL9huM/s128/blog_worldcup_1986.jpg" alt="" width="128" height="128" />Piala Dunia yang diselenggarakan di Meksiko ini adalah perhelatan pertama yang &#8216;bisa&#8217; kunikmati.<br />
Kukatakan &#8216;bisa&#8217; karena ketika itu usiaku telah 9 tahun, dan sudah lumayan ngerti apa itu sepak bola dan apa itu Piala Dunia.</p>
<p>Ketika itu kami sekeluarga tinggal di sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah.<br />
Pada setiap pertandingan yang disiarkan televisi, rumahku selalu dipenuhi oleh para tetangga yang numpang nonton. Maklum, ketika itu pesawat televisi belum sebanyak sekarang dan jumlah pemiliknya di desaku bisa dihitung dengan jari.</p>
<p>Aku tak ingat berapa pertandingan yang kutonton langsung karena waktu itu aku masih terlampau kecil untuk begadang setiap malam hanya demi menyaksikan pertandingan. Akan tetapi yang kuingat adalah satu hal; setiap pagi, ketika bangun hendak mempersiapkan diri ke sekolah, aku selalu mencium bau &#8216;terasi&#8217; di ruang televisi. Ketika kutanya ke Mama tentang bau apakah ini, Mama menjawab &#8220;Oh, iki mambu kringet wong-wong sing mau bengi nonton bal-balan neng kene!&#8221;</p>
<p>Hoekk!</p>
<p><strong>Piala Dunia 90</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3N58Y9jI/AAAAAAAAAow/HUd6BZm5Pbs/s128/blog_worldcup_1990.jpg" alt="" width="100" height="128" />Piala Dunia yang diadakan di Italia ini adalah salah satu Piala Dunia yang bersejarah bagiku karena aku menonton semua pertandingan yang disiarkan di televisi tanpa terkecuali!<br />
Tak hanya itu, menjelang perhelatan aku bahkan telah siap dengan kliping yang kususun tentang tim-tim peserta, menghias kamar dengan poster-poster para pemain yang diramal bakalan menjadi bintang Piala Dunia semacam Juergen Klinsmann, Rudi Voller, Frank Rijkard, Ruud Gullit serta siapa lagi kalau bukan Marco Van Basten!</p>
<p>Aku juga bahkan membeli kaset yang berisi theme song Piala Dunia, To Be Number One dan ah, ini yang patut diceritakan&#8230; aku menuliskan reportase jalannya pertandingan di kertas HVS Folio bergaris dan mengumpulkannya lengkap jadi satu dengan kliping yang telah kubuat sebelumnya. (Sayangnya kliping ini harus direlakan untuk dimusnahkan ketika keluargaku pindah dari Kebumen ke Klaten pada 1998 hanya dengan alasan &#8220;menuh-menuhin tempat&#8221;).</p>
<p>Ketika perhelatan usai dan tak ada lagi siaran sepakbola di malam hari, aku sempat merasakan kegamangan yang senyapnya luar biasa terlebih ketika itu disadarkan bahwa libur kenaikan kelas telah usai dan DAMN! aku harus sekolah lagi&#8230;</p>
<p><strong>Piala Dunia 94</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3N-s9haI/AAAAAAAAAo0/GDavXJQa2vI/s128/blog_worldcup_1994.jpg" alt="" width="128" height="124" />Aku tak terlalu mengikuti jalannya Piala Dunia 94 yang diselenggarakan di US karena kuingat waktu itu aku sedang berlibur ke Jakarta. Energi yang dibutuhkan untuk begadang nonton pertandingan telah kuhabiskan sehari-harian untuk melancong ke tempat-tempat wisata di ibu kota. Tapi meski demikian, aku tak pernah meluputkan laporan pertandingan yang dimuat di koran dan majalah.</p>
<p>Hanya satu pertandingan yang kutonton yaitu final antara Brasil melawan Italia yang diselesaikan lewat adu tendangan penalti.<br />
Itupun sebenarnya lebih karena ajakan teman-teman se-asrama di Asrama SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang tak terhindarkan dan paginya, hari pertama masuk kelas II SMA, kulewatkan begitu saja di dalam kamar, terlelap&#8230; bolos sekolah.</p>
<p><strong>Piala Dunia 98</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3N1ODKDI/AAAAAAAAAo4/JU5lmomKo90/s128/blog_worldcup_1998.jpg" alt="" width="128" height="115" />Sama halnya dengan Piala Dunia sebelumnya, kali itu aku tak juga mengikuti ajang Piala Dunia yang diadakan di Perancis karena alasan kesibukan kuliah dan tetek bengeknya. Tapi sebenarnya tak fair juga kalau kuliah yang kujadikan sebagai alasan, lebih tepatnya, pada saat itu aku sedang gandrung-gandrungnya dengan chatting via mIRC, software chat berbasis text yang saat itu sedang ngetop-ngetopnya! Tapi bagaimanapun, Piala Dunia kala itu kumaknai betul karena saat pelaksanaannya bertepatan dengan acara pindahan rumah dari Kebumen ke Klaten.</p>
<p>Satu hal yang juga masih menyerpih dalam ingatanku adalah ketika itu antena televisi di rumah belum lagi dipasang maka untuk menonton pertandingan yang disiarkan langsung, aku dan Papaku pergi ke rumah tetangga untuk menyaksikannya dan kami sangat menikmatinya karena saking baiknya, tetanggaku yang sekarang telah meninggal itu tak hanya menyediakan rumah dan televisinya tapi juga menyediakan aneka macam kudapan lengkap dengan teh jahe yang begitu &#8216;cemerlang&#8217; cita rasanya.</p>
<p><strong>Piala Dunia 2002</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3OAJvGDI/AAAAAAAAAo8/usemgVVf-Wk/s128/blog_worldcup_2002.jpg" alt="" width="95" height="128" />Piala Dunia yang pertama di Asia (Korea dan Jepang) ini lumayan kuikuti terlebih karena waktu itu aku dan teman-teman di Gudegnet sepakat untuk membuat reportase khusus selama perhelatan.  Kesan yang paling mendalam dalam Piala Dunia 2002 adalah bagaimana internet mulai menunjukkan taringnya lewat keunggulannya dalam pelaksanaan proses update.<br />
Dengan alasan itu pula, ketika tak sedang bertugas meliput lewat televisi, aku memilih tetap bekerja di belakang komputer mengerjakan hal lain sembari tetap update skor pertandingan melalui refreshing web browser saja.</p>
<p><strong>Piala Dunia 2006</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S_S3cmKew5I/AAAAAAAAApA/7T3ef9_gdfM/s128/blog_worldcup_2006.jpg" alt="" width="128" height="119" />Piala Dunia ini adalah yang paling berkesan bagiku dan kupikir bagi segenap warga Jogja.<br />
Ya, piala dunia yang diadakan di Jerman ini diadakan hanya sekitar dua minggu setelah gempa besar yang menggemparkan Jogja, 29 Mei 2006 yang membawa lebih dari 6000 korban jiwa itu.</p>
<p>Menikmati pertandingan kala itu pun menjadi sangat bervariasi &#8216;perasaannya&#8217;.<br />
Sekali waktu aku pernah nonton pertandingan di koridor rumah sakit ketika menjenguk teman yang jadi korban gempa. Tak hanya penunggu pasien yang menonton, puluhan pasien yang tak kebagian kamar dan harus mau ditempatkan di koridor itupun turut bersama-sama menikmati pertandingan.</p>
<p>Kali lain aku nonton pertandingan di sebuah posko tenda tempat tinggal sementara para korban gempa di wilayah Bantul sana bersama bapak-bapak yang meski sedang berduka tapi tetap bisa keseruan sendiri menyaksikan jalannya sepakbola.</p>
<p>Ah, hampir kelupaan, yang paling berkesan adalah ketika aku bersama teman-teman Djendelo Kafe menyewa villa di Kaliurang (niatnya untuk refreshing setelah sekian lama menjadi relawan gempa Yogyakarta) untuk menonton salah satu pertandingan yang aku lupa siapa lawan siapa. Keesokan paginya, villa tempat kami menginap sukses tertutup debu Gunung Merapi dan hal itu membuat kami kelabakan untuk segera pulang karena takut Merapi akan meletus. Dan benar saja, siang itu Merapi memang benar-benar meletus hanya sesaat setelah kami memutuskan pulang ke jogja dengan tergesa-gesa <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nyaris sama dengan Piala Dunia 90, ketika pertandingan demi pertandingan berakhir, aku merasakan kesepian yang sangat, seperti kembali harus memalingkan wajah pada kenyataan bahwa Jogja, ketika itu, masih remuk redam oleh gempa&#8230;</p>
<p>Akan seperti apakah wujud dan kesan yang bisa ditimbulkan dalam Piala Dunia 2010 nanti?<br />
Apapun itu semoga semuanya berjalan dengan baik dan Piala Dunia semakin bisa menjadi supremasi perayaan akan hidup yang luar biasa megahnya ini.</p>
<p>Aku juga mengajak kalian semua untuk berdoa supaya<strong><a href="http://news.yahoo.com/s/ap/20100518/ap_on_re_mi_ea/ml_iraq_al_qaida"> berita tentang rencana teror di ajang Piala Dunia 2010</a></strong> tak menjadi kenyataan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/05/22/tentang-piala-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/04/28/hikayat-tattoo-6-akhir-yang-bukan-akhir.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/04/28/hikayat-tattoo-6-akhir-yang-bukan-akhir.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 00:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya. Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S9d9-SZIoTI/AAAAAAAAAm8/rAaf6Pts8IY/s512/kaki_kanan.jpg" alt="" width="127" height="512" />Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya.</p>
<p>Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area tattoo yang akan cukup besar bahkan terbesar ketimbang yang sebelum-sebelumnya. Belum lagi area tattoo yang berada tepat di pangkal paha yang menurut Munir akan sedikit lebih menyakitkan ketimbang yang sudah-sudah mengingat area tersebut ada di sekitar persendian dan permukaan kulitnya bukan merupakan kulit yang biasa digunakan untuk beraktivitas; sebuah kenyataan baru yang kupelajari justru ketika aku sedang ditattoo.</p>
<p>Kami memulainya tepat jam 10 pagi di hari minggu itu, 2 Januari 2005.<br />
Proses sketsa yang biasanya dilakukan secara spontan oleh Munir, kali ini dikerjakan secara lebih hati-hati mengingat detail gambar yang memang cukup realistis. Setengah jam sesudah sketsa selesai, Munir mulai menorehkan tinta dengan menggarap outline tubuh Yesus.</p>
<p>Istirahat yang cukup pada malam sebelumnya dan makan sayur-sayuran serta menghindari daging terbukti cukup membantu menyangga staminaku. Hingga proses pembuatan outline untuk Yesus, pita bertuliskan El Shaddai hingga burung merpati, aku praktis tak merasakan deraan sakit yang luar biasa.</p>
<p>Dua jam tak terasa terlewati.<br />
Munir menawariku untuk break sejenak makan siang tapi aku menolaknya.<br />
Bagiku, makan siang lebih bisa ditahan tapi rasa sakit yang kemungkinan bisa timbul karena proses penghentian bakalan lebih tak bisa dielakkan.<br />
Memasuki pukul satu siang, hujan mulai turun membasahi seputaran barat kota Jogja, dan Munir telah menyelesaikan pita bertuliskan El Shaddai dengan sangat menakjubkan juga beberapa gurat wajah Yesus telah pula diselesaikan dengan sempurna.</p>
<p>Satu hal yang sangat kunikmati dalam proses pembuatan tattoo adalah perasaan berdebar-debar menanti seperti apa hasil tattoo yang sedang dikerjakan, dan kali itu, untuk kesekian kalinya aku tetap bisa merasakan sensasi itu. Ini bukan sesuatu yang berlebihan tapi nikmatnya lebih tak terperikan.. Jauh dibandingkan kalau kita mengamati seorang pelukis melukis di atas kanvasnya. Kanvas bisa dilempar dan dibuang lalu digantikan dengan yang baru kalau pelukis merasa gagal untuk melampiaskan hasrat berkeseniannya. Tapi tattoo? Bagaimana mungkin seorang tattoo artist membuang kulit kliennya lalu meminta kulit yang baru. Kepada siapa? Seberapa lama? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sekitar pukul dua kurang sepuluh menit, ketika Munir sedang mengerjakan gambar Burung Merpati, satu hal yang tak kuinginkan terjadi, listrik padam!<br />
Damn! Aku mengumpat sejadi-jadinya! Proses pembuatan tattoo tidak bisa tidak sangat bergantung pada asupan daya listrik karena mesin yang digunakan untuk menggerakkan jarum penoreh tinta adalah dinamo kumparan yang hanya bisa digerakkan oleh listrik.</p>
<p>Rasanya hampir hilang akal!<br />
Untuk pulang dalam keadaan &#8216;setengah jadi&#8217; barangkali adalah pilihan yang terbaik, tapi bermain-main dengan perasaan tak puas untuk sebulan berikutnya ketika kulit sudah siap untuk melanjutkan ditattoo adalah satu hal yang sangat kuhindari.</p>
<p>Kami berpikir keras.<br />
Munir menyarankan untukku pulang tapi aku tetap berkeras untuk berpikir lebih beras lagi.<br />
Hingga akhirnya, satu keputusan yang tak disangka pun terjadi.</p>
<p>&#8220;Aku tunggu sampai listrik hidup!&#8221; ujarku pada Munir.<br />
&#8220;Tapi mau seberapa lama? Kamu kuat?&#8221;<br />
&#8220;Itu yang akan jadi batasannya!&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221;<br />
&#8220;Ya, ketika listrik hidup, tattoolah aku.. kalau aku sudah tak kuat aku pulang&#8230; tapi aku tak mau pulang sekarang&#8230;&#8221; ujarku.</p>
<p>Maka kamipun menunggu hingga listrik hidup kembali.<br />
Setengah jam berlalu dan sekitar sepuluh menit sesudahnya, listrik pun hidup lagi.<br />
Ada perasaan lega karena sebuah penungguan yang menjemukan terlewati tapi perasaan khawatir lantas meraja.. Khawatir apakah aku akan tetap sanggup untuk ditattoo atau&#8230;</p>
<p>Munir kembali melanjutkan menorehkan tinta ke pahaku.<br />
Sesaat setelah menyelesaikan gambar Burung Merpati dengan baik, ia beralih ke gambar sinar.<br />
Seperti yang kuceritakan di Hikayat Tattoo sebelumnya, sinar kupilih untuk menggambarkan &#8216;adanya ruang&#8217; dan ruang kuanggap sebagai representasi dari Bapa yang tak terlepas dari Putra (Yesus) dan Roh Kudus (Burung Merpati).</p>
<p>Pukul tiga lebih sedikit.<br />
Dan aku tak bisa memungkiri lagi bahwa staminaku untuk menahan sakit telah mulai tandas hingga ke permukaan.<br />
Tapi kali ini aku tak mau menyerah dengan keadaan ini, bagiku, membayangkan sebuah gambar utuh bisa terselesaikan sore itu adalah sebuah obat ampuh untuk memompa kembali staminaku beberapa level ke atasnya.</p>
<p>Tapi tak disangka, sebuah kejutan yang berulang terjadi!<br />
Ketika Munir sedang mencampur warna di palet untuk menghias tubuh Yesus, sebagai bagian akhir dari tattoo El Shaddai-ku, listrik kembali padam!</p>
<p>Dan sebelum Munir bertanya kepadaku, aku telah lebih dulu menjawab &#8220;Tenang wae! Aku masih kuat&#8230; kutunggu dan kamu lanjutkan!&#8221;</p>
<p>Waktu penungguan nan menjemukan pun kembali kami alami.<br />
Karena ketika saat itu aku masih perokok aktif, beberapa batang rokok kuhabiskan sebagai pengganti makan siang yang hingga saat itu belum juga kusantap. Kami berusaha untuk saling menghibur diri dengan banyak bercakap dan bercerita tentang apapun yang bisa dibicarakan untuk menyilapkan kebosanan.<br />
Sementara staminaku kembali menurun dan tak bisa ditutupi lagi, separuh permukaan pahaku telah melepuh bengkak.</p>
<p>Menjelang pukul lima, listrik pun menyala kembali.<br />
Kali ini aku tak menyambutnya dengan gembira karena kegembiraan yang barangkali ada pun bukanlah satu kenyataan melainkan hanya sugesti yang menutupi keadaan yang sesungguhnya.</p>
<p>&#8220;Don, kayaknya nggak bisa!&#8221; tukas Munir menatapku.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221;<br />
&#8220;Kulitmu sudah bengkak, pori-porimu sudah membesar.. aku nggak yakin bisa memasukkan tinta kalau keadaannya sudah demikian..&#8221;</p>
<p>Aku terdiam.<br />
Kecewa? Iya!<br />
Menggerutu? Aku tak tahu kepada siapa harus kulemparkan gerutuanku itu.<br />
&#8220;Tapi bagaimanapun juga tattoomu sudah jadi!&#8221;<br />
Aku diam.</p>
<p>&#8220;Kita lihat saja nanti, tapi instingku bilang, tubuh Yesus tampaknya tak perlu diwarnai.. biarkan Dia menggunakan warna kulitmu saja&#8230;&#8221;<br />
Aku tetap terdiam meski beberapa saat sesudahnya ketika hasil tattooku telah jadi semuanya aku sangat menyesali keterdiamanku ini. Kenapa? Karena apa yang dikatakan Munir adalah benar. Tubuh Yesus tanpa torehan warna kulit adalah keputusan terbaik karena jika tidak, maka justru Dia tak tampak alami dengan campuran warna sebagus apapun itu.</p>
<p>Munir segera membungkus luka tattooku dengan plastik seperti biasa.<br />
Aku menyalami dan merangkul dia.<br />
&#8220;Nuwun! Akhire kabeh rampung!&#8221; ujarku pada Munir.</p>
<p>Matahari telah menjingga sementara hujan yang sejak siang tadi membasahi telah reda menyisakan genangan air, bau tanah serta suhu dingin yang menerbitkan romansa yang entah bertitle apa.<br />
Aku memanggil taksi dan setelah berpamitan dengan Munir, akupun masuk ke kabinnya.<br />
&#8220;Kemana, Mas?&#8221;<br />
&#8220;Papringan, Pak!&#8221;</p>
<p>Dan taksi pun melaju. Pikiranku melamun hingga ke langit.<br />
Berbagai hal meluncur di bayangan dan salah satunya adalah mimpi Marto yang pernah &#8216;menubuatkan&#8217; aku bahwa suatu waktu aku akan memiliki tattoo yang memenuhi panjang kakiku.<br />
Sesaat kupandangi sekujur kaki kananku, dan kini aku telah tak memiliki lagi setungkai kaki mulus nan alami.<br />
Sepanjang hidupku jika tak diamputasi, maka seluruh gambar itu akan menjadi teman paling setiaku hingga mati.</p>
<p>Menjelang perempatan Pingit aku mengurungkan niatku untuk pulang.<br />
Kulirik jam tanganku, pukul enam kurang lima belas menit.<br />
&#8220;Pak, nggak jadi ke Papringan.. antar saya ke Gereja Kotabaru&#8230;&#8221;<br />
Lima menit kemudian akupun telah berada di bibir pintu Gereja St Antonius Kotabaru.</p>
<p>Madah nyanyian pembukaan sedang dipersiapkan riuh ramai orang bersiap mengikuti perayaan ekaristi.<br />
Dengan langkah terpincang-pincang dan diperhatikan begitu banyak orang, aku melangkah tenang masuk ke dalam gereja.<br />
Tattoo itupun sore itu kupersembahkan sebagai sebuah pujian bagi Dia yang kupuja.<br />
Bukan sesuatu yang sempurna indahnya tapi justru disitulah, kemanusiaanku kuletakkan.<br />
Memberikan yang terbaik dari keterbatasan yang ada bagi Tuhan.<br />
Ah, semoga&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/04/28/hikayat-tattoo-6-akhir-yang-bukan-akhir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

