<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; Nirmana</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/category/nirmana/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Keteraturan, kunci menjadikan kota sebagai ruang tinggal terbaik</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 05:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[economist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2513</guid>
		<description><![CDATA[Jadi ceritanya, menurut majalah Economist, Sydney ditempatkan pada posisi ke-6 sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di dunia per laporan Agustus 2011. Adapun urutan komplit sepuluh besarnya adalah:  Melbourne (Australia), diikuti oleh Vienna (Austria), Vancouver (Canada), Toronto (Canada) , Calgary (Canada), sementara setelah Sydney ada Helsinki (Finlandia), Perth (Australia), Adelaide (Australia) serta Auckland (New Zealand). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html" title="Permanent link to Keteraturan, kunci menjadikan kota sebagai ruang tinggal terbaik"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_city.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Keteraturan, kunci menjadikan kota sebagai ruang tinggal terbaik" /></a>
</p><p>Jadi ceritanya,<a href="http://www.economist.com/node/21528162"> menurut majalah <strong>Economist</strong></a>, Sydney ditempatkan pada posisi ke-6 sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di dunia per<a href="http://www.eiu.com/public/topical_report.aspx?campaignid=liveabilityAug2011"> laporan Agustus 2011</a>.</p>
<p>Adapun urutan komplit sepuluh besarnya adalah:  <strong>Melbourne</strong> (Australia), diikuti oleh <strong>Vienna</strong> (Austria), <strong>Vancouver</strong> (Canada), <strong>Toronto</strong> (Canada) , <strong>Calgary</strong> (Canada), sementara setelah Sydney ada <strong>Helsinki</strong> (Finlandia), <strong>Perth</strong> (Australia), <strong>Adelaide</strong> (Australia) serta <strong>Auckland</strong> (New Zealand).</p>
<p>Bagaimana <strong>Economist</strong> menyusun peringkat kota demi kota tersebut? Mereka menggunakan skema penilaian berdasarkan beberapa variabel sebagai berikut:</p>
<p><strong>Stability</strong><br />
<em>Prevalence of petty crime, Prevalence of violent crime, Threat of terror, Threat of military conflict, dan Threat of civil unrest/conflict.</em></p>
<p><strong>Health Care</strong><br />
<em> Availability of private healthcare, Quality of private healthcare, Availability of public healthcare, Quality of public healthcare, Availability of over-the-counter drugs, General healthcare indicators.</em></p>
<p><strong>Culture and Environment</strong><br />
<em> Humidity/temperature rating, Discomfort of climate to travellers, Level of corruption, Social or religious restrictions, Level of censorship, Sporting availability, Cultural availability, Food and drink, Consumer goods and services</em>.</p>
<p><strong>Education</strong><br />
<em> Availability of private education, Quality of private education, Public education indicators.</em></p>
<p><strong>Infrastructure</strong><br />
<em> Quality of road network, Quality of public transport, Quality of international links, Availability of good quality housing, Quality of energy provision, Quality of water provision, Quality of telecommunications</em>.</p>
<blockquote class="left"><p>Sinergi yang ‘asyik’ dari semuanya akan melahirkan keteraturan dan inilah kuncinya</p></blockquote>
<p>Aku lumayan bangga juga karena bisa tinggal di kota dengan peringkat nomer 6 paling enak ditinggali di dunia. Tapi lebih dari itu, aku berpikir kalau kota lain bisa menjadi kota yang enak ditinggali, kenapa kota-kota yang lainnya lagi tidak?</p>
<p>Faktor alam memang sedikit banyak mempengaruhi penilaian itu tadi, setidaknya secara langsung ada di poin kelembaban (<em>humidity</em>). Tentu, kota-kota di sekitar katulistiwa beriklim tropis sulit untuk mencapai tingkat kelembaban yang lebih rendah ketimbang kota-kota di kawasan subtropis semacam kota-kota di atas. Namun itu bukan pengukur satu-satunya, ada banyak sisi lain yang menurutku lebih banyak dipengaruhi pada dua hal. Pertama, seberapa baiknya pemerintah dalam bekerja mengatur kota, lalu yang kedua, sepatuh apa warganya dalam mengikuti peraturan pemerintah serta setoleran apa mereka terhadap sesamanya yang tinggal di kota yang sama.</p>
<p>Sinergi yang ‘asyik’ dari semuanya akan melahirkan keteraturan dan inilah kuncinya. Bagiku, keteraturan dalam sebuah kota selalu kubayangkan sebagai sebuah keteraturan dalam bus.</p>
<p>Adalah bus umum yang datang satu jam sekali mengangkut penumpang dengan kapasitas per unitnya 50 orang, bisa kurang tapi tak boleh lebih. Pengelola bus yang baik yang didukung oleh penumpang yang sopan dan mau diatur akan mengikuti aturan dan tak perlu digalaki lagi untuk antri dan ketika kapasitas telah penuh terisi, mereka akan berhenti masuk dan berbaris rapi menunggu bus berikutnya satu jam kemudian.</p>
<p>Tapi pengelola yang tak baik apalagi didukung oleh penumpang yang tak mau diatur dan beringasan, mereka malah akan ambil kursi lebih dulu dan mempersilakan calon penumpang yang sudah tak tau aturan itu saling berebut dan menghalangi penumpang lain untuk naik ke badan bus; dan mereka pun juga bertindak demikian ke yang lainnya.</p>
<p>Alhasil, jangankan penuh terisi, yang ada malah di dekat pintu bis, mereka adu pukul dan saling memblokade pintu bis untuk mencegah yang lain masuk lebih dulu dari dirinya. Sementara si pengatur yang tak ulung itu malah diam menutup mata dan telinga di dalam bus dan sesekali pura-pura panik seraya membentak-bentak sopir bis kenapa bus tak berangkat-berangkat serta menyalahkan calon penumpang yang berebut naik.</p>
<p>Bus adalah kota.<br />
Pengelola adalah pemerintah.<br />
Penumpang adalah kalian, warganya.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan kota kalian?<br />
Nilailah kota kalian dengan variabel-variabel yang ditentukan Economist tadi dan sudi tuliskan hasilnya di kolom komentar di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Clearly, then, the city is not a concrete jungle, it is a human zoo.<br />
(<strong>Desmond Morris</strong>, The Human Zoo)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wagèn</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 03:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2440</guid>
		<description><![CDATA[Mengawali tahun yang baru, aku memperkenalkan Program Wagèn di blog ini. Wagèn? Wagèn adalah program dimana aku mengundang kalian untuk menjadi penulis tamu dan tulisan kalian akan kupublikasikan setiap hari &#8220;wagé&#8221; kecuali hari Senin wagé dan Kamis wagé, karena pada tiap hari senin dan kamis, aku mempublikasikan tulisanku sendiri. Oh ya, hari &#8220;wagé&#8221; sendiri merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html" title="Permanent link to Wagèn"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_wagen.png" width="230" height="230" alt="Post image for Wagèn" /></a>
</p><p>Mengawali tahun yang baru, aku memperkenalkan <strong>Program Wagèn</strong> di blog ini.</p>
<h3>Wagèn?</h3>
<p>Wagèn adalah program dimana aku mengundang kalian untuk menjadi penulis tamu dan tulisan kalian akan kupublikasikan setiap hari &#8220;wagé&#8221; kecuali hari Senin wag<strong></strong>é dan Kamis wagé, karena pada tiap hari senin dan kamis, aku mempublikasikan tulisanku sendiri. Oh ya, hari &#8220;wagé&#8221; sendiri merupakan hari keempat dalam hitungan hari ‘pasaran’ Jawa.</p>
<h3>Kapan dimulai?</h3>
<p>Program ini akan kumulai pada hari <strong>Sabtu wagé, 21 Januari 2012</strong> dengan menampilkan tulisan dari seorang teman KitaIndonesia.Net yang menetap di Jerman, <a href="http://eastmeetwest.posterous.com"><strong>Ferry Haris</strong></a>.</p>
<h3>Syaratnya?</h3>
<p>Siapapun berhak menulis tentang apapun, menggunakan bahasa apapun dan sepanjang apapun itu. Satu-satunya syarat barangkali adalah kamu harus mengerti bahwa tak semua tulisan yang masuk bisa ditayangkan. Itu saja! Mudah kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Caranya?</h3>
<p>Kirimkan tulisanmu ke <strong>indonesia@gmail.com</strong> disertai dengan biodata singkatmu (nama lengkap, profesi, URL yang akan ditautkan, musik/olahraga/bacaan kesukaan) beserta foto <em>close-up</em> berukuran <em>400 x 400 px</em> jika kamu berkenan menampilkan foto tersebut.</p>
<h3>Imbalan?</h3>
<p>Ada! Karena toh kencing aja mbayar sekarang&#8230; jadi jangan takut, aku memberikan imbalan bagi yang tulisannya ditayangkan di blog ini. Imbalan itu berupa penulisan namamu sebagai penulis artikel terkait, berikut profil singkat, foto dan link ke blog atau ke apapun tautan yang kamu inginkan untuk dihubungkan.</p>
<p>Uang? Imbalan uang tak kuadakan di sini karena aku percaya orang bijak tak selamanya menilai sesuatu dari uang. Kalian orang bijak juga kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Bagaimana kalau tak ada tulisan pada suatu hari wag<strong>é</strong>?</h3>
<p>Ya tak masalah, yang penting setiap Senin dan Kamis blog ini tetap update seperti biasa. Jadi program ini hanya akan berjalan ketika ada yang mengirimkan tulisan, kalau tak ada tak jadi masalah, kalaupun ada juga jangan sampai menimbulkan masalah <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, tunggu apa lagi? Nulis yuk di program Wagèn ini!</p>
<p><em>*logo adalah &#8220;Wagèn&#8221; dalam huruf jawa, asli tulisan tanganku. Bagi kalian yang ingin belajar tentang huruf jawa, silakan baca ebook <a href="http://www.scribd.com/doc/16186813/Pedoman-Penulisan-Aksara-Jawa">ini</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Event blog mana yang paling baik? Tempe itu semuanya busuk, Jendral!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/08/acara-blog-mana-yang-paling-baik.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/08/acara-blog-mana-yang-paling-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 06:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2349</guid>
		<description><![CDATA[Sydney. Suatu malam, tak lama sebelum sekarang, pukul satu malam. Aku masih terjaga menyelesaikan sebuah tulisan ketika tiba-tiba kudengar dehem yang dari nada dan tarikan nafas sesudahnya begitu familiar. Inginku mengingat dan mengenalinya, tapi sayang  syaraf takutku lebih dahulu bereaksi. Tapi ketika bersiap untuk berlari naik tangga dan menyusul tidur anak dan istriku, tiba-tiba sosok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/12/08/acara-blog-mana-yang-paling-baik.html" title="Permanent link to Event blog mana yang paling baik? Tempe itu semuanya busuk, Jendral!"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_tunggonono.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Event blog mana yang paling baik? Tempe itu semuanya busuk, Jendral!" /></a>
</p><p>Sydney. Suatu malam, tak lama sebelum sekarang, pukul satu malam. Aku masih terjaga menyelesaikan sebuah tulisan ketika tiba-tiba kudengar dehem yang dari nada dan tarikan nafas sesudahnya begitu familiar. Inginku mengingat dan mengenalinya, tapi sayang  syaraf takutku lebih dahulu bereaksi. Tapi ketika bersiap untuk berlari naik tangga dan menyusul tidur anak dan istriku, tiba-tiba sosok ber-dehem itu muncul dan bersuara &#8220;<em>Halo, Bos&#8230; pripun kabare!</em>&#8221;</p>
<p>Aku terkesiap! Tiada angin sementara hujan telah pula reda tapi tiba-tiba <strong>Tunggonono</strong>, makhluk lawas yang dulu selalu menemaniku bercerita di blog ini muncul di depan mata! <em>Ah, kalian yang baru kenal denganku dan blog ini pasti bertanya-tanya siapa itu Tunggonono? Nah, kalau ingin berkenalan dengannya, silakan klik di <a title="Tunggonono" href="http://donnyverdian.net/tag/tunggonono"><strong>sini</strong></a> untuk menyimak arsip yang khusus bicara tentang/dengannya.</em></p>
<p>“Oalah&#8230; Munyuk edan! Kowe tho, Nggon!” sergahku segera duduk lagi di kursi yang tadi sudah hendak kutinggalkan.</p>
<p>“Hehehe.. njenengan niku&#8230; kaget apa takut?!” sapanya mengulurkan tangan. Kami pun berjabat erat layaknya sahabat yang tak bersua ribuan tahun lamanya.</p>
<p>&#8220;Apa kabar, Bos? Nggak pulang Jogja tho?&#8221; tanyanya dengan gaya dan lagak yang seperti dulu.</p>
<p>“Oh, enggak&#8230;&#8230; awalnya sih kurencanakan demikian tapi lalu kutunda jadi Juli tahun depan, Nggon!&#8230; Eh&#8230; Kamu&#8230; kamu ada soalan apa jhe kok tiba-tiba nongol kemari, Nggon?” tanyaku tergagap menebak-nebak maksud kedatangannya semendadak itu.</p>
<p>“Oh.. nggak ada apa-apa kok, Bos.. Kangen aja kan udah lama nggak ngobrol sama si Bos!’ tukasnya renyah tersenyum.<br />
“Ah&#8230; yang bener?” tanyaku menelisik.. Aku paham betul gelagatnya.</p>
<p>“Ya, selain itu aku juga pengen tanya-tanya sesuatu, Bos&#8230;”<br />
“Hmmmm, ya?”</p>
<p>“Soal blog, Bos!” cetusnya lagi.<br />
“Oh, kenapa? Kamu protes karena tak pernah kupakai untuk bahan cerita lagi di blogku?” tanyaku.</p>
<p>“Hahaha, enggak! Bukan itu! Nganu&#8230;.aku pengen tanya soal acara-acara blog itu lho, Bos!”<br />
“Acara? Acara apa? Yang mana?”</p>
<p>“Ya yang banyak itu.. kan kemarin ada di beberapa tempat tho? Itu gimana menurut sampeyan?” tanya Tunggono.</p>
<p>“Wah&#8230; itu tho? Ya.. ba.. baik lah..Bagus!” kubetulkan letak kacamataku.<br />
“Ah, masa cuma begitu tho komentarmu?”</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;tempe itu kan sama-sama kedelai jamuran dan busuk tho? Tapi kamu pasti milih satu tempe dari yang lain padahal semuanya sama-sama busuk tho?&#8221;</p></blockquote>
<p>“Hehehehe.. kamu masih hobi ‘mancing’ rupanya? Ya komentar singkatku selama semuanya baik-baik saja dan berorientasi pada kelanggengan semangat untuk ngeblog ya kudukung, Nggon!”</p>
<p>“Hmmm&#8230; tapi apa masih aktual tho ngeblog itu, Bos?”<br />
“Hehehe&#8230;aktual atau tak aktual itu urusan mereka, Nggon sementara tugasku membuktikan bahwa aku adalah contoh bahwa konsep ngeblog itu selalu aktual.”</p>
<p>“Maksudnya?”<br />
“Ya, selama kamu buka <a href="http://www.donnyverdian.net"><strong>donnyverdian.net</strong></a> dan masih ada tulisan-tulisan terbaruku di sana, berarti blogger masih ada dan blog masih hidup serta konsisten. Akulah bukti ke-aktual-an ngeblog itu!” sergahku.</p>
<p>“Hehehe&#8230; sombong tenan sampeyan, Bos!” ujarnya.<br />
“Aku harus sombong, Nggon! Cara ini yang kutempuh untuk membakar semangat mereka yang telah layu untuk ngeblog dan tetap menjaga mereka yang sekarang masih ‘terjaga’ untuk ngeblog supaya terus nulis dan ngeblog!”</p>
<p>“Edan! Semangat sampeyan itu luar biasa untuk ngeblog ya!”<br />
“Orang kan dilihat dari konsistensinya tho? Aku nyoba untuk itu aja kok.”</p>
<p>“Hehehe ya, wes&#8230; balik ke soal acara blog tadi, Bos.. Kalau disuruh milih, dari acara-acara itu kamu milih yang mana?”</p>
<p>“Kan aku udah pernah bilang di salah satu tulisanku bahwa kalau diberi kesempatan pulang waktu kemarin itu aku jelas akan datang ke seluruh acara, Nggon!”</p>
<p>“Halah&#8230;. tapi itu kan tulisanmu, Bos&#8230;. Itu basa-basi tho?”<br />
“Husshhh! Basa-basi gimana?”</p>
<p>“Nyaaakk!! Gayamu, Bos.. kayak nggak tahu aja caramu basa-basi aja&#8230; Serius dikit lah&#8230; Atau hmmm&#8230; menurutmu memang jelek acara-acara itu?”</p>
<p>“Hehehehe.. aku nggak mau njawab ah tapi ilustrasinya begini. Kalau kamu harus ke pasar buat beli tempe&#8230; tempe itu kan sama-sama kedelai jamuran dan busuk tho? Tapi kamu pasti milih satu tempe dari yang lain padahal semuanya sama-sama busuk tho?”</p>
<p>“He-eh&#8230;. eh.. iya ya hehehehe!”</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Hloh.. ya dana … duit… Itu sponsor bisa besar-besar gitu apa kamu pikir ya cuma pasang logo tanpa ngasih duit tho, Nggon!&#8221;</p></blockquote>
<p>“Nah! Itu dia, Nggon! Lagipula sebenarnya tak penting aku milih acara yang mana&#8230; Pokoknya selama acara itu berpengaruh positif untuk kelangsungan orang ngeblog ya bagus&#8230; Tapi sebaliknya, kalau acara itu hanya menjual label ‘blog’ untuk menyenangkan sponsor, panitia dan peserta&#8230; ya acara itu bakalan jadi yang terbusuk dari yang busuk lainnya, Nggon!”</p>
<p>“Oooo.. gitu tho&#8230; jadi tetap ya kalau sampeyan diundang ke acara-acara itu sampeyan akan datang semuanya”</p>
<p>“Hehehehe&#8230; tergantung&#8230; aku akan datang ke acara yang paling besar membayarku, Nggon!”<br />
“Heleh&#8230; kok gitu? Kok matre? Katanya blogger idealis!”</p>
<p>“Lho&#8230; ini lepas dari soal idealis&#8230; Aku realistis kok. Lagipula konon kabarnya, dana mereka untuk penyelenggaraan acara itu besar-besar lho!”</p>
<p>“Dana?! Dana apa Bos?” tanya Tunggonono.</p>
<p>“Hloh.. ya dana … duit&#8230; Itu sponsor bisa besar-besar gitu apa kamu pikir ya cuma pasang logo tanpa ngasih duit tho, Nggon!”</p>
<p>“Oh, gitu tho!”<br />
“Lha iya&#8230;. masa acara itu jalan tanpa duit? Ya ada duitnya!”</p>
<p>“Lah.. lalu kemana larinya duit-duit itu, Bos?”<br />
“Ah,sudahlah! Aku sudah hapal caramu mancing-mancing gini. Jangan banyak cingcong lagi deh hehehe! Kamu pulanglah! Lagipula aku sudah ngantuk dan besok harus kerja pagi, Nggon!” sergahku.</p>
<p>“Halah si Bos ini! Dikangenin kok malah ngusir lho! Hmmm.. ya wes! Aku mau pulang tapi syaratnya satu!”</p>
<p>“Nah, main syarat-syaratanmu itu kok ya belum ilang-ilang tho, Nggon?!”<br />
“Hehehe.. ngapain harus dihilangin ini namanya bargaining position jhe&#8230;”<br />
“Nyaaaaakk.. gayamu.. tau darimana istilah bargaining itu???? Sok kemajuan kowe ki! Yo wes&#8230; apa syaratmu?”</p>
<p>“Nganu&#8230; si Bos kasih tau dong jumlah duit masing-masing acara itu berapa juta tho kok kayaknya besar gitu?”</p>
<p>“Juta? Juta?”<br />
“Lhah! Terus?”<br />
“Hmmm&#8230; ya udah.. sini kubisikin jumlahnya ke kamu&#8230;!”</p>
<p>Sesaat setelah kubisikkan angka itu ke telinganya, paras Tunggonono langsung terkesiap kehilangan darah. Matanya melotot, bibir melongo dlongop dan jantungnya seperti berhenti berdetak untuk beberapa waktu lamanya.</p>
<p>“Hah?!!! Se&#8230;se&#8230; sebesar itu, Bos? Masa sih? Bu&#8230; bu&#8230; buat apa aja?” tanyanya seolah masih tak percaya.</p>
<p>“Hlohhh.. Ya buat acara tho ya! Panitia juga&#8230; barangkali.”<br />
“Ealahhhh.. kok enak ya?! Kapan lagi tho acara begituan diadain? Saya mau daftar jadi panitianya, Bos.. biar kebagian juga!”</p>
<p>“Halah&#8230;. ngimpi kamu hahahaha! Ya udah.. kamu nunggu apa lagi? Pulang sana!” tukasku. Tunggonono pun undur diri meski wajahnya masih pucat dan bibirnya bergerak-gerak menghitung angka.. angka uang yang kubisikkan tadi. Tak lama kemudian sosok Tunggonono pun menipis lalu menghilang begitu saja.</p>
<p>Suasana kembali hening dan melanjutkan sunyi. Sesaat sebelum melanjutkan tulisan aku membayangkan wajah Tunggonono jadi ketua panitia acara abal-abal berlabel blog lalu berpidato berapi-api di depan peserta yang hadir,  lalu sehari berikutnya ia pun liburan ke Timbuktu sana&#8230; sekadar untuk memanjakan tubuh&#8230;</p>
<p>Spa!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/08/acara-blog-mana-yang-paling-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia (ternyata) bisa!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nyinyir]]></category>
		<category><![CDATA[sea games]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2306</guid>
		<description><![CDATA[Se-apatis-apatisnya kita terhadap pemerintahan SBY, satu hal yang perlu diakui tanpa malu adalah tentang keberhasilan Indonesia meraih gelar juara umum dalam kancah SEA GAMES XXVI yang baru lalu setelah 14 tahun tak pernah meraihnya. Prestasi ini membanggakan karena setidaknya hal ini seperti menjadi ‘gong’ yang indah setelah pada awal persiapan pembangunan infrastrukturnya dikabarkan mengalami kemunduran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html" title="Permanent link to Indonesia (ternyata) bisa!"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_seagames.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Indonesia (ternyata) bisa!" /></a>
</p><p>Se-apatis-apatisnya kita terhadap pemerintahan SBY, satu hal yang perlu diakui tanpa malu adalah tentang keberhasilan Indonesia meraih gelar juara umum dalam kancah <a href="http://www.seag2011.com">SEA GAMES XXVI</a> yang baru lalu setelah 14 tahun tak pernah meraihnya.</p>
<p>Prestasi ini membanggakan karena setidaknya hal ini seperti menjadi ‘gong’ yang indah setelah pada awal persiapan pembangunan infrastrukturnya dikabarkan mengalami kemunduran jadwal dan terkesan tergesa-gesa, belum lagi dugaan perkara korupsi dalam pendanaan wisma atletnya yang memunculkan ‘ikon baru’, <strong>Nazzarudin</strong>.</p>
<p>Namun tulisan kali ini tak kan bicara lebih jauh soal isu korupsi dan tetek bengek yang mengitarinya. Aku tertarik untuk bicara poin per poin tentang apa yang bisa kita tarik sebagai kesimpulan dalam prestasi tersebut?</p>
<h3>Indonesia (Ternyata) Bisa</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;asal kita bersungguh-sungguh dan disiplin dalam melakukan satu proses, keberhasilan hanyalah perkara tunggu waktu saja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Hal paling positif yang bisa kita jadikan cerminan dari prestasi di SEA GAMES XXVI adalah kenyataan bahwa asal kita bersungguh-sungguh dan disiplin dalam melakukan satu proses, keberhasilan hanyalah perkara tunggu waktu saja.</p>
<p>Semoga hal ini bisa menjadi pemicu untuk berprestasi lebih tinggi lagi di kancah regional yang lebih luas semisal ASIAN GAMES ataupun Olimpiade. Bukannya tak mungkin kalau pemerintah konsisten membangun bidang olahraga maka prestasi-prestasi yang selama ini kita anggap sebagai impian termasuk <a href="http://olahraga.kompas.com/read/2011/11/21/19062171/Rita.Subowo.Kita.Incar.20.Besar.Olimpiade">tekad untuk masuk dalam hitungan 20 besar Olimpiade 2016</a> yang akan diselenggarakan di Rio de Jenairo adalah sesuatu yang bukan mustahil dapat kita raih.</p>
<h3>Platform Persatuan</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Bukan ajakan untuk membuang sekat karena bagaimanapun itu adalah identitas personal, tapi setidaknya kita harus berdiri lebih tinggi dari sekat yang ada, sehingga ketika butuh untuk bergandengan erat, tangan kita tak terhalang sekat-sekat itu tadi.&#8221;</p></blockquote>
<p>SEA GAMES XXVI yang baru lalu, bagi elemen anak bangsa kita bisa dijadikan sebuah momentum untuk kembali bersatu dan melupakan masa silam yang barangkali tak sedikit yang kelam. Meski tak terlalu kentara, pergesekan antar wilayah dan utamanya antar agama akhir-akhir ini tak bisa dibilang &#8216;tak ada&#8217;. Di sana-sini berita soal intimidasi kaum beragama tertentu oleh ormas tertentu pula, atau berita soal kerusuhan yang seolah terisolasi di daerah tertentu dan konon didalangi oleh petinggi-petinggi tertentu juga, seolah gantian mengisi tajuk berita banyak media nasional akhir-akhir ini.</p>
<p>Melalui SEA GAMES, kita bisa membuktikan bahwa ketika bersatu tanpa memandang faktor suku dan agama sebagai penghalang, di situ daya dobrak kebangsaan kita untuk maju ke depan akan berlipat ganda ketimbang ketika kita malah sibuk saling lawan dan serang, sindir serta singgung satu sama lain hanya karena kamu berasal dari pulau A dan aku suku B, atau karena agamaku XX dan kamu YY.</p>
<p>Contoh terbesar adalah dalam tim cabang sepakbola yang kerap dijuluki sebagai tim Garuda Muda. Meski gawal meraih emas karena kalah adu penalti melawan Malaysia, tapi simaklah betapa cantik kerja sama antar lini semua pemain pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Barisan depan yang didominasi orang-orang Papua dan kristiani bahu-membahu dengan barisan lain yang berasal dari suku lain dan agama yang berlainan pula.</p>
<p>Bukan ajakan untuk membuang sekat karena bagaimanapun itu adalah identitas personal, tapi setidaknya kita harus berdiri lebih tinggi dari sekat yang ada, sehingga ketika butuh untuk bergandengan erat, tangan kita tak terhalang sekat-sekat itu tadi.</p>
<h3>Indikasi Perubahan</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Kenapa masih ada kisah anak SD yang harus meniti pada seutas tali besi di atas sungai untuk pergi bersekolah?&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku menemukan sebuah pernyataan menarik dalam <a href="http://www.jstor.org/pss/27522828">abstraksi</a> buku <strong>Social Indicators Research</strong> karya <strong>Frank A.G. Den Butter</strong> dan <strong>Casper M. Van Der Tak</strong> . Di situ dinyatakan bahwa dalam penelitian terhadap hasil kompetisi Olimpiade Musim Panas yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan 1988 dan di Barcelona, Spanyol empat tahun sesudahnya, perolehan medali yang diraih tiap negara memiliki relasi erat dengan pendapatan (negara tersebut) dan juga terhadap indikasi kesejahteraan umum lainnya.</p>
<p>Dari situ aku berpikir bahwa bisa jadi, dengan hasil juara umum Indonesia kali ini, setelah 14 tahun selalu menjadi pecundang, sejatinya kita saat ini telah &#8216;kembali&#8217; pada posisi yang menguntungkan untuk menjadi sejahtera seperti sedia kala sebelum krisis moneter era 90-an dimulai.</p>
<p>Pikiran logis sederhananya, ketika pemerintah tak punya uang dan kesempatan, pembinaan olahraga akan kacau balau karena pembinaan membutuhkan dana dan perhatian. Nah, dengan prestasi yang sedemikian bagusnya dalam event SEA GAMES XXVI ini, bisakah kita simpulkan bahwa secara umum, tingkat kesejahteraan kita mengindikasikan adanya kenaikan?</p>
<p>Tapi bila memang benar telah naik kenapa masih banyak terjadi kemiskinan secara akut di banyak lini kehidupan dan daerah-daerah tertinggal?</p>
<p>Kenapa masih ada kisah anak SD yang harus <a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/10/25/15580236/Berawal.dari.Foto.Menjadi.Gerakan.JembatanAnakBangsa">meniti pada seutas tali besi di atas sungai untuk pergi bersekolah</a>?</p>
<p>Kenapa masih ada kisah orang-orang miskin yang ditelantarkan oleh rumah sakit pada saat mereka menuntut hak mereka untuk hidup sehat?</p>
<p style="text-align: center;">*     *     *</p>
<p><em>Du! Du! Du! Du!</em><br />
Ah sudahlah! Tak enak mengakhiri tulisan ini dengan sesuatu yang skeptis di tengah suasana pesta kemenangan kita.<br />
Jadi, mari kita sekali lagi ucapkan selamat bagi Indonesia yang telah memenangi SEA GAMES XXVI! Kalian hebat, kalian juara&#8230; kalian bisa!</p>
<p>Oh ya, semoga video tentang <a href="http://hermansaksono.com/2011/11/atlit-indonesia-yang-gigit-atlit-thailand-jadi-juara-sea-games.html">pencak silat ‘bite and run’</a> ini tak merusak selera kita dalam beryel-yel kemenangan!</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=mbaARQnjy0Y">http://www.youtube.com/watch?v=mbaARQnjy0Y</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyayang dan penikmat hewan. Kitakah itu?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/11/21/penyayang-dan-penikmat-hewan-kitakah-itu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/11/21/penyayang-dan-penikmat-hewan-kitakah-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 05:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[orang utan]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[wildlife]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2301</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kuawali dengan catatan sebuah peristiwa yang terjadi hampir 27 tahun silam. Nenekku, waktu itu berujar padaku, &#8220;Le, kalau kamu liburan kemari Natal nanti, Eyang mau sembelihkan ayam yang paling gemuk buatmu!&#8221; Akupun girang bukan kepalang dan meski waktu itu masih Mei, tapi aku tak sabar menunggu Natal tiba dan berharap supaya ayam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Tulisan ini kuawali dengan catatan sebuah peristiwa yang terjadi hampir 27 tahun silam. Nenekku, waktu itu berujar padaku, <em>&#8220;Le, kalau kamu liburan kemari Natal nanti, Eyang mau sembelihkan ayam yang paling gemuk buatmu!&#8221;</em> Akupun girang bukan kepalang dan meski waktu itu masih Mei, tapi aku tak sabar menunggu Natal tiba dan berharap supaya ayam yang akan disembelih itu akan menggemuk hingga hari &#8216;eksekusi&#8217; tiba.</p>
<p>Tapi lain dulu, lain pula sekarang. Kalau saja Nenekku yang kemarin 19 November 2011 berulang tahun ke-81 itu <em>(Sugeng Tanggap Warsa, <strong>Bu</strong>!)</em> berujar padaku demikian, barangkali aku tak kan sesenang dulu! Aku pasti akan menganjurkan supaya ayam kesayangannya itu dijual saja atau aku toh dengan mudah bisa membeli satu set ayam panggang/goreng &#8216;siap saji&#8217;. Alasannya? Kasihan ayamnya!</p>
<p>Eh, sebentar&#8230; apakah kalian merasakan sesuatu yang &#8216;absurd&#8217; ketika aku bilang<em> &#8216;Kasihan ayamnya!</em>&#8216; ?<br />
Oh tidak? Baiklah, kujelaskan saja sekarang. Nilai absurd dari kalimat di atas adalah pada bagaimana aku menempatkan posisi di &#8216;tengah-tengah&#8217;. Maksudku, di satu sisi, aku mencoba untuk &#8216;sok solider&#8217; terhadap ayam yang hendak disembelih itu tapi di sisi lain aku malah menyarankan eyanngku untuk menjual saja ayam itu ke tukang potong ayam yang jelas naga-naganya juga akan dipotong, disembelih. Tak hanya itu, aku malah menyarankan Eyang untuk membeli saja ayam panggang yang sudah matang padahal jelas-jelas bahan bakunya ya ayam yang semula hidup lalu disembelih&#8230; sama dengan ayam yang coba ku-solider-i itu.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Terlepas dari faktor &#8220;Yah, mau diapakan lagi kan sudah takdir!&#8221;, pemerintah harus bergerak&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Pernahkah kalian merasa seperti apa yang kurasakan? Berada di &#8216;tengah-tengah&#8217;? Kuyakin ku tak sendirian untuk berujar bahwa hubungan kita dengan hewan itu terkadang memang penuh dengan hal-hal yang absurd seperti itu. Di satu sisi kita meyayangi binatang namun di sisi lain, kita juga &#8216;sayang&#8217; untuk melewatkan kesempatan menyantap dagingnya. Sama halnya ketika aku mengumpat orang yang bercerita bagaimana mereka menyembelih babi yang menurutku sangat menyakitkan itu namun di waktu lain aku dengan lahap menyantap dagingnya dan seketika itu juga lupa atau pura-pura lupa dengan bagaimana cerita &#8216;pembunuhan&#8217; babi tadi.</p>
<p>Hal-hal seperti ini pula yang kurasakan ketika beberapa waktu lalu mencermati cepatnya derap media memberitakan penganiayaan yang berujung pada pembantaian massal orang utan di beberapa daerah di tanah air serta kematian beberapa satwa langka di sebuah kebun binatang ternama.</p>
<p>Aku memilih cepat-cepat beralih channel televisi ketika tahu sajian berita berikutnya adalah mengenai dua hal itu. Rasa iba atas terbunuhnya hewan-hewan itu meremang ke permukaan dikombinasi dengan rasa geram terhadap pelaku pembantaian maupun mereka yang seolah membiarkan satwa langka terjadi di lingkungan kebun binatang; sebuah kebun yang seharusnya didedikasikan sebagai tempat hidup yang nyaman bagi para binatang.</p>
<p>Secepat kilat aku langsung mencari sumber berita di internet tentang apa sebab orang membantai orang utan! Usut punya usut, sebagian besar didominasi oleh karena &#8216;bayaran&#8217; dari beberapa perusahaan yang ingin lahan kerjanya bebas dari gangguan orang utan. Sementara sebagian lainnya yang justru menurutku cukup mengejutkan sekaligus memprihatinkan, ada begitu banyak awam yang ikut membantai orang utan semata-mata karena tanaman yang mereka tanam diusik oleh orang utan.</p>
<p>Wah! Kalau sudah demikian parahnya, berarti ini bukan perkara yang mudah ditangani. Untuk mengalahkan ambisi satu-dua perusahaan barangkali pemerintah bisa dengan mudah (meski sejatinya pun susah!) memberikan sanksi usaha bagi mereka, tapi ketika &#8216;gerakan&#8217; pembantaian massal ini sudah begitu meng-awam dengan melibatkan masyarakat luas karena perasaan terganggu oleh para &#8216;orang utan&#8217; tersebut, apa ya mungkin mereka dihukum semua? Satu per satu?</p>
<p>Aku sempat geram dan ingin rasanya menulis yang tidak-tidak di social media tentang kecamanku terhadap para pembantai orang utan ini. Tapi nafsu itu kuredam dengan dua pertanyaan di bawah ini,</p>
<p><em>&#8220;Kalau aku jadi anggota masyarakat yang terganggu tanamanannya oleh orang utan, apakah aku tak akan bersikap sama?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Kalau aku punya impian sebesar gunung untuk memperluas usahaku, haruskah aku kalah oleh karena sekawanan orang utan yang &#8216;mengganggu&#8217; rencana perluasan lahan perusahaanku?&#8221;</em></p>
<p>Dan dua pertanyaan itu cukup manjur menjadi cermin. Aku tak mengatakan aku tak bisa untuk bersikap lebih baik dari mereka, para pembantai itu, tapi setidaknya dua pertanyaan di atas menyadarkanku bahwa setiap orang pasti punya pemikiran sendiri dalam memutuskan sesuatu dan bukan kewajibanku untuk menghukum mereka, para pembantai itu selain mengucapkan prihatin atas pilihan sikap mereka, barangkali.</p>
<p>Soal kematian satwa langka di kebun binatang ternama tadi perkara lain lagi.  Konon mata pusaran peristiwa ini adalah pertikaian di tingkat manajemen pengelola dan menyebabkan terlantarnya proses pemeliharaan kandang, pemberian makan hingga bagaimana cara mengurangi stress para hewan. Di satu sisi, jelas hal ini tak bisa ditolerir karena profil manajemen pengelola haruslah kuat dan tak boleh lemah dalam mengelola satwa hanya karena hal seperti ini saja! Tapi di sisi lain kembali aku berpikir, &#8220;<em>Harus sih harus&#8230; tapi ketika tak sanggup lagi untuk mengelola, apa dan siapa yang harus dikorbankan terlebih dahulu?</em>&#8221;</p>
<p>Ibarat kata, dalam sebuah kecelakaan kapal karena terjadi kebocoran di permukaannya, ada seratus orang penumpang dan lima ekor anjing dan hanya tersedia sebuah kapal penyelamat dengan kapasitas seratus orang saja maka siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu? Seratus orang diangkut dan lima anjing ditenggelamkan dengan terpaksa? Atau 95 orang plus lima anjing diselamatkan sementara lima orang lainnya dibiarkan mati? Tapi kalau demikian siapa yang bersedia menjadi &#8216;lima&#8217; nya yang harus ditenggelamkan?</p>
<p>Jawaban yang paling tepat menurutku adalah jangan berpikir terlalu menyudutkan seolah telah terjadi &#8216;kecelakaan&#8217;. Lebih penting dari itu untuk berpikir bagaimana supaya pihak pengelola kapal melakukan segala daya dan upaya untuk merawat kapal sehingga tak rentan terhadap kerusakan yang mengakibatkan kecelakaan seperti itu sehingga tak perlu lima anjing ditenggelamkan dan tak perlu pula lima orang dikorbankan demi lima anjing yang harus dibawa ke daratan, kan?</p>
<p>Nah siapa pengelola kapal itu? Siapa lagi? Ya pemerintah!<br />
Terlepas dari faktor <em>&#8220;Yah, mau diapakan lagi kan sudah takdir!&#8221;</em>, pemerintah harus bergerak untuk membuat &#8216;pagar&#8217;&#8230; menyusun rangka koridor yang jelas bagi masing-masing &#8216;stakeholder&#8217; alam di wilayah negaranya untuk hidup berdampingan tanpa menyisakan persinggungan yang melukai satu terhadap yang lainnya.  Ini bukan perkara yang mudah memang, tapi sudah seharusnya sejak mencanangkan pencalonan untuk menang dalam perebutan tampuk pemerintahan, siapapun itu mulai dari presiden, gubernur, bupati, hingga lurah dan ketua RT sekalipun, hal-hal seperti itu harus masuk dalam daftar &#8216;Kemampuan Dasar&#8217;!</p>
<p><em>Rasa salutku untuk mereka yang berjuang dengan penuh totalitas terhadap konsumsi daging hewan dan mereka yang tergabung dalam komunitas-komunitas penyayang binatang. Tuhan memberkati kalian!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/11/21/penyayang-dan-penikmat-hewan-kitakah-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gegar budaya lebih dahsyat ketimbang gegar bahasa?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 06:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2264</guid>
		<description><![CDATA[Persoalan bahasa sebenarnya bukan kendala utama ketika kamu memutuskan untuk pindah ke suatu tempat di luar negeri yang menggunakan bahasa yang berbeda dari yang kau gunakan sebelumnya. Katakanlah kita pindah ke negeri yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa resminya, berkat globalisasi, sekian puluh persen materi bahasa yang harus kita pelajari telah kalian dapat entah itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html" title="Permanent link to Gegar budaya lebih dahsyat ketimbang gegar bahasa?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_cultureshock.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Gegar budaya lebih dahsyat ketimbang gegar bahasa?" /></a>
</p><p>Persoalan bahasa sebenarnya bukan kendala utama ketika kamu memutuskan untuk pindah ke suatu tempat di luar negeri yang menggunakan bahasa yang berbeda dari yang kau gunakan sebelumnya. Katakanlah kita pindah ke negeri yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa resminya, berkat globalisasi, sekian puluh persen materi bahasa yang harus kita pelajari telah kalian dapat entah itu lewat siaran televisi, radio, internet dan yang lainnya.</p>
<p>Masalah utama menurutku adalah penyesuaian budaya karena tak semua budaya yang kita biasa lakukan di negeri asal itu bisa diterima di negara tujuan. Inilah tantangannya. Ibarat kata meniti di atas sebuah sebilah bambu, kamu tak perlu harus terjun ke budaya baru dengan meninggalkan budaya lama, tapi juga tak berarti kamu menolak mentah-mentah budaya baru hanya demi rasa gengsi dan ingin menonjolkan identitas diri.</p>
<p>Nah, sebagai bahan renungan pada peringatan tiga tahun kepindahanku ke Sydney, Australia 1 November 2011 silam, berikut adalah hal-hal terkait dengan perbedaan budaya yang kualami dan bagaimana aku menyesuaikan diri terhadapnya, tak sanggup kurangkum semua, hanya beberapa di antaranya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Salam</h3>
<p>Entah kalian, tapi di keluarga dan lingkungan sekitarku dulu, menguluk salam semisal <em>&#8216;Hai, selamat pagi!&#8217;</em> atau <em>&#8216;Hi, apakabar?&#8217;</em> juga <em>&#8216;Eh, bagaimana akhir pekanmu kemarin?&#8217;</em> adalah hal-hal yang &#8216;tak wajar&#8217;.  Tapi di Australia sini, hal-hal seperti amat diperlukan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dulu aku cukup canggung untuk mempraktekkannya ke teman-teman kantor karena aku takut nggak bisa balas karena bahasa Inggrisku yang pas-pasan kalau dia bales tanya dan pakai macam-macam pula!</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;..salam bukan lagi menjadi sebuah basa-basi semata karena lebih dari itu, ia adalah ice breaker yang ampuh.&#8221;</p></blockquote>
<p>Tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Bahkan, pada akhirnya salam bukan lagi menjadi sebuah basa-basi semata karena lebih dari itu, ia adalah <em>ice breaker</em> yang ampuh. Misalnya ketika Senin pagi, kebanyakan orang masih malas bahkan untuk duduk di kursi masing-masing dan menghidupkan komputer. Tapi berbekal satu pertanyaan <em>&#8216;Eh, gimana weekendmu kemarin? Cuacanya asik ya?!&#8217; </em>komunikasi dengan kawan pun lancar karena mereka menimpali dengan semangat pula menceritakan aktivitas akhir pekannya yang kalau dalam bahasa mereka <em>&#8220;Mine was soooo fantastic!&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Maaf dan Terima kasih</h3>
<p>Kebanyakan orang di sini sangat peka terhadap dua kata, &#8216;sorry&#8217; (maaf) dan &#8216;thanks&#8217; (terima kasih) dalam bersosialisasi.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Orang-orang sini cenderung untuk lebih baik merendahkan diri di depan orang lain pada awalnya ketimbang langsung meninggikan diri&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Misalnya kamu berpapasan dengan orang di sebuah gang sempit dan kalian berdua kaget, biasanya kata yang pertama kali muncul adalah <em>&#8220;Upss&#8230; sorry!&#8221;</em> meski belum tentu pihak yang berkata demikian adalah pihak yang salah. Demikian juga misalnya kamu beli sesuatu, katakanlah yang mudah dicontohkan, fast food di restaurant. Ketika paket makanan diserahkan, baik si pembeli maupun si penjual biasanya akan berebut ngomong <em>“Thanks!”</em></p>
<p>Esensi dari ‘maaf’ dan ‘terima kasih’ sebenarnya simple. Orang-orang sini cenderung untuk lebih baik merendahkan diri di depan orang lain pada awalnya ketimbang langsung meninggikan diri karena ketika kita meninggikan diri, kemungkinan untuk membuat &#8216;masalah&#8217; dengan orang yang kita hadapi akan meningkat dan itu tak baik. Utamanya untuk urusan-urusan ‘sepele’ seperti kucontohkan di atas, menjadi pihak yang ‘tampak’ bersalah toh tak kan rugi apa-apa.</p>
<p>Awalnya dulu aku juga sangat susah untuk berucap &#8216;sorry&#8217; dan &#8216;thanks&#8217; dan aku begitu malu oleh karenanya. Perasaan malu yang amat-sangat muncul karena aku tahu asal-usulku, Indonesia, negeri yang penduduknya terkenal ramah, rendah hati, suka menolong, tak emosian, suka berterima kasih, taat beribadah dan bersikap baik itu&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Omong fisik</h3>
<p>Di dalam masyarakat Jawa, tubuh berisi (tak harus gemuk tapi yang pasti tak kurus) menandakan hidup yang mukti, sejahtera. Oleh karena itu ketika ada seorang yang menggemuk sesudah menikah misalnya, orang-orang akan berkomentar dalam nada bicara positif seperti misalnya <em>&#8220;Wah, kamu udah nemuin apa yang kamu cari ya? Udah tenang sekarang?&#8221;</em> atau kalau mau yang lebih &#8216;seronok&#8217;, <em>&#8220;Wah, cocok susunya?&#8221;</em> Dan kamu tahulah &#8216;susu&#8217; yang dimaksud itu apa?</p>
<p>Tapi di sini, hal-hal seperti itu jika diungkapkan ke semua orang tanpa pandang bulu bisa berakibat fatal. Salah satu temanku pernah bercerita bahwa temannya secara tak sengaja berkomentar<em> &#8220;You looks so bold.. but cute!&#8221;</em> ke teman kerja wanitanya yang baru saja pulang berlibur dan tampak gemukan mungkin karena terlalu asyik menikmati kuliner. Akibatnya? Si Cewek tersinggung dan melaporkan teman tadi ke pengadilan dan denda.</p>
<p>Puji Tuhan hingga saat ini dan semoga selanjutnya aku tak terpancing untuk bercanda maupun memuji ataupu melecehkan dari sisi fisik terhadap satu dari mereka. Padahal kalau kalian tahu aku secara personally, dulu aku sangat mudah terpancing untuk meledek orang dari ciri fisiknya. Misalnya teman yang jalannya timpang dulu kubilang <em>&#8220;Eh, jalannya kan rata dan ngga berlobang kok loe jalannya pincang?!&#8221;</em> atau kalau ada teman yang tak terlalu tinggi (badannya) langsung kubilang <em>&#8220;Eh, kamu berdiri dong!&#8221;</em></p>
<p>Bayangkan kalau aku tak bisa melepas caraku becanda di sini, bisa-bisa uang gaji habis untuk membayar denda sana dan sini.. Ih, amit-amit!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Tuhan dan agama</h3>
<p>Waktu aku diinterview kerja awal pindah ke Australia dulu, salah seorang penanya bertanya kepadaku,<em></em></p>
<p><em>&#8220;Apa yang kau lakukan ketika senggang, Donny?&#8221;</em><br />
<em> Dengan mantap kujawab &#8220;Aku aktif di pelayanan di gereja ku. Kamu?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Hmmm, fishing.. atau traveling dengan keluargaku&#8230;&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Oh, kamu nggak ke gereja juga.. Eh agamamu apa?&#8221;</em></p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;di situ aku bisa semakin merasakan betapa Tuhan itu sangat besar kuasa dan maafnya karena Ia toh tak marah serta murka terhadap mereka yang pada akhirnya punya cara pandang masing-masing untuk mengimaniNya, termasuk yang menolakNya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dia hanya tersenyum, tak kecut tapi dari bahasa tubuhnya menampilkan bahwa ia tak terlalu nyaman kutanya begitu.</p>
<p>Untung aku diterima kerja di tempatnya dan untung pula beberapa saat kemudian ia, si penanyaku itu, jadi sahabat di kantor. Ketika kuceritakan pada istriku tentang bagaimana aku dekat dengan orang tersebut, Ia kagum dan berujar <em>&#8220;Beruntung kamu karena dia baik!&#8221;</em><br />
&#8220;Heh?&#8221;<br />
&#8220;Iya! Orang sini paling nggak bisa ditanyain hal-hal bersifat sangat personal begitu&#8230;&#8221;</p>
<p>Ya, agama dan bahkan Tuhan adalah urusan masing-masing di sini. Jangankan ditulis di KTP tentang &#8216;apa agamamu&#8217; seperti di Indonesia, ketika ditanya pun belum tentu orang-orang sini mau menjawab, seperti temanku tadi. Orang di sini bebas untuk tak beragama dan tak ber-Tuhan sekalipun dan kita dilarang untuk menghakimin dan melecehkan satupun.</p>
<p>Butuh proses untuk setuju dengan konsep &#8216;tak menghakimi&#8217; tersebut dan justru uniknya, ketika aku tak memedulikan apakah seseorang itu ber-Tuhan atau tidak, di situ aku bisa semakin merasakan betapa Tuhan itu sangat besar kuasa dan maafnya karena Ia toh tak marah serta murka terhadap mereka yang pada akhirnya punya cara pandang masing-masing untuk mengimaniNya, termasuk yang menolakNya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Panggil nama langsung</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;&#8230;karena bagiku inti dari merendahkan diri dan menghormati yang lebih tua bukan dengan cara seperti itu saja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ada masa dimana dulu aku bahkan diharuskan memanggil bayi orok yang baru lahir sebagai &#8220;Mas&#8221; atau malah &#8220;Om&#8221; hanya gara-gara orang tuanya lebih tua atau tepatnya mereka adalah om dari orang tuaku sendiri, orang Jawa bilang aku &#8216;<em>kalah awu</em>&#8216;. Tapi aku tak mau tunduk pada aturan-aturan seperti itu karena bagiku inti dari merendahkan diri dan menghormati yang lebih tua bukan dengan cara seperti itu, atau bisa jadi tak hanya &#8216;dengan cara itu&#8217; saja.</p>
<p>Jadi, ketika aku pindah ke sini dan mendapati tradisi &#8216;panggil nama langsung&#8217;, aku asik-asik aja. Ya, di sini bisa dibilang orang memanggil dengan sebutan &#8220;Sir&#8221; atau &#8220;Mister&#8221; ketika berada dalam urusan yang sangat formal dan hal itu sangat jarang terjadi karena bahkan dalam rapat perusahaan pun, seorang CEO juga akan dipanggil nama langsung oleh anak buah dari anak buahnya sekalipun.</p>
<p>Jadi jangan percaya kalau orang-orang sering membahasakan bahwa kalau ketemu bule kita harus menyapa dengan sebutan <em>&#8220;Hi, Mister!&#8221;</em> atau <em>&#8220;Hi, Sir!&#8221;</em> Itu sih cuma ada di lagu-lagu dan cerita-cerita usang <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aku pernah punya teman, namanya <strong>James.</strong> Waktu aku cerita ke Mama lewat telepon tentang temanku itu, ia mengira James berusia kurang lebih sama denganku. Aku ngakak mendengar tebakannya karena kubilang pada Mama bahwa usia James bahkan lebih tua darinya, <em>&#8220;Umurnya James itu 72 tahun, Ma!&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Loh kok kamu panggil njangkar (panggil nama langsung <strong>-jw</strong>)?&#8221;<br />
&#8220;Lah lalu apa yang kau sarankan? Pakde? Eyang?&#8221;</p>
<p>Ketika ceritaku ke Mama itu kuceritakan pada James, ia hanya tergelak dan berujar <em>&#8220;I&#8217;m James! And always be James!&#8221;</em><br />
Ya&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Makan-makan? Bayar sendiri-sendiri</strong></p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Walah! Apa hubungannya antara bayar-membayar dan esensi syukuran?&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku pernah hampir mempermalukan diri sendiri dalam acara makan-makan ulang tahun teman kantor lamaku. Alasannya simple, siang itu, dalam acara makan-makan di restaurant, aku lupa bawa uang! Untung restaurannya menerima pembayaran via kartu ATM atau yang di sini populer dengan sebutan efpos. <em>&#8220;Lho acara makan ulang tahun teman, kamu yang disuruh bayar?&#8221;</em></p>
<p>Di sini, pesta makan-makan ulang tahun atau pesta apapun bukan berarti dibayari oleh yang mengundang kecuali memang ada pernyataan yang menyatakan demikian. Acara makan-makan ulang tahun, misalnya, si pengundang, alias yang berulang tahun hanya memutuskan di restaurant mana pesta akan diadakan, tapi makan dan minum ya bayar sendiri-sendiri.</p>
<p>Wah kalau begitu dimana esensi syukurannya kalau yang ulang tahun nggak mbayarin? Walah! Apa hubungannya antara bayar-membayar dan esensi syukuran? Bukankah kalau si pengundang acara membayar sampe tekor untuk semua hidangan dan dia nggak punya uang jadinya, lantas kalian baru bilang &#8220;Sukurin!&#8221; Itukah esensi &#8216;sukurin&#8217;? Eh, &#8216;syukurin&#8217; maksudku?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalian itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/10/31/kalian-itu-sedang-membawakan-acara-atau-malah-merusaknya.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/10/31/kalian-itu-sedang-membawakan-acara-atau-malah-merusaknya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 07:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[bullying]]></category>
		<category><![CDATA[pembawa acara]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2253</guid>
		<description><![CDATA[Definisi &#8216;membawakan acara&#8217; sepertinya perlu mendapatkan tinjauan ulang terlebih setelah apa yang kurasakan ternyata juga menjadi concern bagi sebagian orang lain yang kutanya tentang &#8220;Ada yang merasa terganggu nggak dengan model guyonan dan cara membawakan acara beberapa artis di acara musik harian di sebuah stasiun televisi?&#8221; Kebanyakan mengungkapkan keberatannya dan merasakan gangguan yang tak menyenangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/10/31/kalian-itu-sedang-membawakan-acara-atau-malah-merusaknya.html" title="Permanent link to Kalian itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_mic.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Kalian itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?" /></a>
</p><p>Definisi &#8216;membawakan acara&#8217; sepertinya perlu mendapatkan tinjauan ulang terlebih setelah apa yang kurasakan ternyata juga menjadi <em>concern</em> bagi sebagian orang lain yang kutanya tentang <em>&#8220;Ada yang merasa terganggu nggak dengan model guyonan dan cara membawakan acara beberapa artis di acara musik harian di sebuah stasiun televisi?&#8221;</em></p>
<p>Kebanyakan mengungkapkan keberatannya dan merasakan gangguan yang tak menyenangkan melihat hal-hal tersebut. Secara singkat, apa yang kusaring dari pendapat mereka, aku bisa menemukan satu simpul pertanyaan, &#8216;Mereka itu sedang membawakan acara atau malah merusaknya?&#8217;</p>
<p>Aku ingat betul ketika pertama kali nonton acara itu, sebut saja judulnya <strong>Menggelegar</strong>, sekitar tahun 2010 saat parabola yang dapat menangkap siaran televisi Indonesia terinstalasi di rumah, pada awalnya aku mencintai acara tersebut. Gaya guyon para pembawa acaranya beda dari yang lainnya dan terkesan segar. Agak kasar namun lucu dan lugas. Tapi tak lama kemudian, uniknya justru faktor itu sendiri yang lantas menjadikanku bosan menonton Menggelegar karena terkesan monoton dan tak menampilkan hal-hal baru.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;lebih mengarah ke tindakan bersifat intimidatif terhadap orang yang dijadikan obyek guyonan yang terkadang adalah para artis ketimbang menjalankan tugasnya sebagai seorang pembawa acara.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan kini, bukan lagi urusan &#8216;suka&#8217; ataupun &#8216;bosan&#8217; yang meningkahi penilaianku terhadap acara itu, tapi tergantikan dengan &#8216;sebal&#8217;!<br />
Ya, bagiku cara guyon dan membawakan acara <strong>Orgi Siputri</strong> dan <strong>Harvey Rachmad</strong>, sebut saja demikian, serta konco-konco wanitanya itu lebih mengarah ke tindakan bersifat intimidatif terhadap orang yang dijadikan obyek guyonan yang terkadang adalah para artis ketimbang menjalankan tugasnya sebagai seorang pembawa acara. Parahnya lagi, sasaran intimidasi itu terkadang diarahkan ke bintang tamu cilik yang terkadang dihadirkan. Mereka tak jarang dibentak-bentak dan dikerjain dengan dalih yang barangkali untuk &#8216;lucu-lucuan&#8217;.</p>
<p>Meski setelah acara, sang pembawa acara mohon maaf atas tingkah laku dan kata yang kurang mengenakkan, bagiku itu semuanya hanya basa-basi, sekadar membuat semuanya ditutup dengan hal yang tampak baik. Kenapa, karena kalau keesokan harinya masih di acara yang sama mereka mengulang-ulang lagi kesalahan, lalu dimana esensi maafnya yang bagiku harus diikuti dengan perubahan sikap?</p>
<p>Mereka barangkali tak pernah berpikir bahwa sikap kasar mereka dalam guyon bisa menghasilkan sesuatu yang kontraproduktif bagi banyak pihak.</p>
<p>Bagi diri mereka sendiri mungkin mereka bisa bilang<em> &#8220;Tak masalah, mereka suka kok!&#8221;</em> Ok, taruhlah memang demikian,  kenyataannya, tapi apakah kata &#8216;mereka&#8217; itu menjamin setiap orang yang diguyoni dan penonton akan suka semuanya? Taruhlah ada sejuta orang yang berpikiran sepertiku maka peluang mereka untuk mendapatkan setidaknya tepuk tangan akan hilang dan ketika orang semakin menyadari betapa &#8216;menjijikkannya&#8217; cara mereka membawakan acara terutama setelah membaca tulisan ini, kuyakin angka sejuta itu akan terus berkembang, bukannya menurun.</p>
<p>Bagi diri orang lain yang dijadikan sasaran guyonan, belum tentu mereka berkenan dengan guyonan kasar seperti itu. Tingkat sensitivitas manusia kan beda, dan buktinya memang pernah ada kan artis yang keberatan dengan cara guyonnya si Orgi?  Kalau aku jadi artis yang dicela di muka umum seperti itu barangkali akan sampai ujungnya juga batas sabarku. Alih-alih terpromosikan dengan baik yang ada malah public bullying yang tak mengenakkan. Sialnya lagi kalau anak-anak yang kena! Anak-anak itu mungkin tak berani bilang apapun karena siapa sih yang tak senang disapa plus dikerjain artis? Tapi pernah kalian berpikir bahwa otak dan kepribadian mereka sedang tumbuh dan mungkin ini terlalu berlebihan namun siapa yang bisa menebak akan seperti apa efek buruknya guyonan kasar itu pada dirinya kelak? Apakah guyonan itu akan membuat mereka menjadi sosok yang penakut dan minder karena punya pengalaman tak mengenakkan seperti itu?</p>
<p>Bagi masyarakat. Banyak orang tua berujar bahwa anak muda jaman sekarang &#8216;nggak punya adat dan adab&#8217; dan kupikir harus kuakui bahwa itu benar juga. Jangan salahkan kalau aku mencomot faktor tontonan tak menyehatkan gara-gara pembawa acara yang ngawur sebagai salah satu penyebabnya. Aku toh bukan asal comot dan kupikir kalian akan setuju denganku. Contohnya saja ketika sebagian anak muda mulai menganggap guyonan ngawur sebagai hal yang wajar dan ia mengungkapkannya di depan orang tua, apa reaksi si orang tua itu selain terkaget-kaget dan akhirnya tak suka dengan si anak muda?<br />
<em> &#8220;Ah, orang tua mah udik! Kuno! Nggak gaul! Cara gw kan menyenangkan.. buktinya artis-artis pembawa acara di tivi juga demikian!&#8221;</em> Hal-hal yang begini ini yang terkadang menaikkan pitam&#8230;</p>
<p>Kenapa kita tak mengembalikan semua pada porsinya, bahwa pembawa acara itu bukan tukang cela dan penghancur acara? Aku memang tak membayangkan kalau ada pembawa acara masa kini yang dikhususkan untuk segmen anak muda tapi pembawa acaranya hadir dengan cita rasa nan tuwir tapi setidaknya berpikirlah untuk bersikap lebih wise karena kalian dilihat oleh begitu banyak pemirsa.</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;&#8230;berpikirlah untuk bersikap lebih wise karena kalian dilihat oleh begitu banyak pemirsa.&#8221;</p></blockquote>
<p>Atau kalau mau belajar menjadi pembawa acara yang santun, ini serius, belajarlah dari program-program siaran untuk anak muda dari <strong>TVRI</strong> yang kebetulan juga kutangkap siarannya dan sering kutonton juga. Mereka membawakan acara dengan sangat santun, menghargai bintang tamu, menghormati rekan kerja sesama pembawa acara dan itu semua sekaligus akan membawa pengaruh yang baik pula untuk penontonnya.</p>
<p>Tunjukkanlah pada dunia bahwa orang muda tak selalu identik dengan budaya ngawur yang liar, kalian memang mungkin bukan model remaja yang suka tawur dan berkelahi, tapi cara kalian bercanda itu seperti menampar lawan bicara kalian.</p>
<p>Dan yang terakhir, cobalah menerima tantangan ini, beranikah kalian untuk sekali waktu membawakan acara dengan tetap guyon tapi menjauhkan dari hal-hal yang konyol di atas, lalu perhatikan apakah minat masyarakat terhadap acara itu turun atau tidak? Apakah produser dan business officer akan kelimpungan atau tidak?</p>
<p>Jika jawabannya adalah &#8220;Iya&#8221; itu tandanya gawat! Lebih baik kalian cepat-cepat putus kontrak ketimbang tetap di acara itu karena kalau demikian, acara itu telah sebegitu beracun sehingga ketika hal-hal yang buruk dilepas daripadanya, orang justru merindukannya kembali, sebuah anomali yang yakinlah kian hari ke depan jika tak ada perubahan signifikan akan menjadi gejala sosial yang membawa dunia ke arah yang lebih menyeramkan lagi.</p>
<p><a href="http://www.cliparts101.com">Credit photo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/10/31/kalian-itu-sedang-membawakan-acara-atau-malah-merusaknya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat berpesta, Blogger Indonesia</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/10/24/selamat-berpesta-blogger-indonesia.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/10/24/selamat-berpesta-blogger-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 06:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[asean blogger]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogger nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[on off]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2236</guid>
		<description><![CDATA[Kenyataannya, aku memang membatalkan rencana liburanku ke Indonesia pada akhir tahun ini. Namun jika boleh berandai-andai, kalau aku pulang ke Indonesia, selain bertemu dengan keluarga besar dan teman-teman dekat, hal yang pasti kuagendakan adalah mendatangi tiga acara terkait dengan kumpul-kumpul blogger di Indonesia tanpa terkecuali. Yang pertama, aku akan datang ke acara Blogger Nusantara. Acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Kenyataannya, aku memang membatalkan rencana liburanku ke Indonesia pada akhir tahun ini. Namun jika boleh berandai-andai, kalau aku pulang ke Indonesia, selain bertemu dengan keluarga besar dan teman-teman dekat, hal yang pasti kuagendakan adalah mendatangi tiga acara terkait dengan kumpul-kumpul blogger di Indonesia tanpa terkecuali.</p>
<p><a href="http://bloggernusantara.com/"><img class="alignleft size-full wp-image-2233" title="blog_blognus" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blognus.jpg" alt="" width="227" height="50" /></a>Yang pertama, aku akan datang ke acara <a href="http://bloggernusantara.com/"><strong>Blogger Nusantara</strong></a>.<br />
Acara yang dirancang untuk &#8216;anomali&#8217; dengan menjauhi &#8216;ibukota&#8217; seperti dilansir di situs webnya itu akan dihelat di Sidoarjo, Jawa Timur, 28-30 Oktober 2011 ini. Ada begitu banyak blogger senior yang kukenal baik yang sepertinya akan datang di event ini. Sebutlah kawan <a href="http://www.bukik.com"><strong>Bukik</strong></a> yang tak jemu berbagi ilmu tentang kepribadian di blognya, Paklik <a href="http://blontankpoer.com/"><strong>BlontankPoer</strong></a> yang kritis dalam menulis dan berpendapat sekaligus adalah juragan teh <em>Blontea van Surakarta</em> yang sampai sekarang selalu bikin aku ngiler kalau dengar ada kawan mencicipi rasanya, <a href="http://samardi.wordpress.com"><strong>Mas (sam) Ardi</strong></a> yang jagoan Malang, <a href="http://donnybu.com/"><strong>Donny BU</strong></a> si kawan lama sejak jaman mIRC dulu , sampai <a href="http://suryaden.com"><strong>Suryaden</strong></a> yang secara khusus memintaku untuk mendukung acara ini beberapa bulan silam melalui jejaring Twitter.</p>
<p><a href="http://aseanblogger.com/"><img class="alignleft size-full wp-image-2234" title="blog_blogasean" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blogasean.jpg" alt="" width="227" height="264" /></a>Lalu sesudahnya aku akan terbang ke Bali! Membayangkan asyiknya mandi matahari di Kuta ataupun menikmati sajian babi panggang khas Bali di Warung Bu Oka di Ubud sana adalah juara!</p>
<p>Tapi tentu bukan itu saja tujuanku karena pada pertengahan November 2011 di Bali akan diadakan ASEAN Summit dan konon kabarnya acara itu akan menjadi ajang program <strong>ASEAN Blogger Exchange</strong>. Aku tak tahu siapa yang akan datang di sana, tapi aku membayangkan ketemu <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/"><strong>Mas Iman Brotoseno</strong></a> yang beberapa hari lalu juga mengingatkanku di Twitter bahwa selain Blogger Nusantara dan event yang akan kusebut di bawah ini, ASEAN Blogger meeting juga akan diadakan di Bali. Eh, konon kabarnya, si Anak Menteng, Presiden Barack Obama juga akan datang&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada 3 Desember 2011, aku akan menyempatkan singgah ke Jakarta berkumpul bersama dengan teman-teman penggiat social media online di ajang <strong>ON|OFF 2011</strong>. Ajang ini menurutku prestisius karena kalau tidak maka tidak mungkin event besar yang diadakan tahunan sejak 2007, Pesta Blogger, dijadikan sebagai salah satu agenda acaranya. Aku tak kuasa membayangkan bertemu idola-idolaku yang duduk sebagai panitia inti di acara ini.</p>
<p>Sebutlah <a href="http://ndorokakung.com"><strong>Ndorokaku</strong></a><a href="http://www.onoffid.org/"><img class="alignleft size-full wp-image-2235" title="blog_onoff" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_onoff.jpg" alt="" width="227" height="54" /></a><a href="http://ndorokakung.com"><strong>ng</strong></a> yang melegenda karena kepiawaiannya menulis di blog meski akhir-akhir ini jarang. Atau <a href="http://blogombal.org"><strong>Paman Tyo</strong></a> yang tulisannya kalau aku bilang sudah mencerminkan bahwa ia telah mencapai level &#8216;nabi&#8217; jurnalistik online Indonesia, <strong>Mas Iman Brotoseno</strong> yang tenar dengan Blogger ASEAN dan tulisan-tulisannya nan patriotik di blognya meski sekarang juga sudah tak sesering dulu&#8230; dan siapa lagi kalau bukan <a href="http://enda.goblogmedia.com"><strong>Enda Nasution</strong></a>, Sang Bapak Blogger Indonesia yang kerap memposting label &#8220;<strong>oldposting</strong>&#8221; di Twitter. Eh tak ketinggalan, tentu akan lunas penasaranku kalau ketemu dengan <em>The Marvelous One</em>, <a href="http://www.salsabeela.com/"><strong>Aulia Halimatussadiah</strong></a>, <em>chairwoman</em> gelaran ON|OFF, sosok yang menurutku adalah contoh ideal bagi seorang wanita muda Indonesia yang cerdas, menawan, pintar namun tetap membumi dan berazaskan keagamaan dalam menjalani hidupnya.</p>
<p>Terus terang aku sangat bahagia setiap melihat pengumuman akan adanya acara terkait dengan riuh rendahnya dunia perbloggeran khususnya di Indonesia seperti tiga di atas barusan. Saraf gembiraku menggelinjang-gelinjang meski konon kabarnya ada intrik dan gesekan di sana-sini dalam persiapannya. Tapi bagiku itu adalah lumrah dan masih dalam tahap kewajaran justru semoga semua menjadi bumbu penyedap acara dan penyedap kerja panitia. Kalaupun ada yang teriak panitia ini terima duit (lebih banyak), terima ini dan itu (dari sponsor yang berbeda),  ya diikhlaskan saja karena mereka kerja maka mereka menerima duit kecuali kalau memang ada panitia yang sudah lelah bekerja tapi tak menerima barang satu imbalan pun? Ah barangkali itu tak ada. Kuyakin tak ada panitia acara apapun itu yang pada dasarnya tak mendapat satu imbalan apapun karena sejak ditunjuk sebagai panitia (atau menunjukkan diri sendiri?) mereka telah mendapat imbalan secara langsung yaitu imbalan predikat &#8220;Panitia&#8221; pada jidat mereka sendiri-sendiri.</p>
<p>Rasa kompromi terhadap hal yang beginian ini barangkali muncul karena pada akhirnya aku melihat betapa semakin minimnya jumlah blogger yang bertahan. Yang lahir sih kuyakin masih banyak, tapi seberapa lama mereka bertahan untuk tetap ngeblog setelah kelahiran blognya, itu yang menjadi pertanyaan… Nah, siapa tahu dengan acara-acaraan begitu mereka yang semula belum kenal dengan blog serta blogger jadi tertarik ngeblog dan mereka yang mogok ngeblog jadi giat kembali karena disalami mereka yang mau ngeblog. Ya siapa tahu…</p>
<p>Kemungkinan lain kenapa rasa kompromiku muncul karena pada akhirnya aku menempatkan diri sebagai seorang blogger saja, tak kurang dan tak mau lebih. Blogger laksana prajurit dalam militer yang hanya mengenal kata &#8216;Robohkan musuh!&#8217;, Ia pun hanya mengenal, &#8220;Tulis-tulis dan tulis!&#8221; yang semoga tanpa pretensi politis apapun dan tendensi ke pihak manapun.</p>
<p>Selebihnya, sebagai orang beragama, aku hanya mendoakan yang terbaik, semoga semua acara yang dilangsungkan akan menjadi semakin baik dan memberikan kemaslahatan bagi umat perbloggeran. Kalau tak ada faedahnya mending nggak usah ber-acara sama sekali, kembali ke depan laptopmu dan mengetikkan ini itu, karena sejago-jagonya kamu bicara, sehebat-hebatnya kamu menjadi panitia, seahli-ahlinya kamu memikat perusahaan untuk mengucurkan dana, kalau kamu masih mengaku sebagai seorang blogger, tak ada yang mampu membuatmu lebih tampan ataupun cantik selain berkreasi menghasilkan tulisan-tulisan yang seksi nan mengasyikkan.</p>
<p>Salam dari Si Tampan di selatan Khatulistiwa! Selamat ber-acara&#8230; Hidup blogger Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/10/24/selamat-berpesta-blogger-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengunggah foto vulgar? Perlukah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 07:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[horror]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>
		<category><![CDATA[vulgar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, sekitar pukul sebelas, aku masuk ke ruang komputer, menyalakan laptop hendak mulai mengerjakan beberapa proyek sampingan yang tertunda pengerjaannya karena kesibukan kerja utama akhir-akhir ini. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk selalu membuka beberapa link favorit sebagai &#8216;pemanasan&#8217; sebelum kerja beneran dimulai dan beberapa diantaranya adalah radio streaming site, blog, google reader dan facebook [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html" title="Permanent link to Mengunggah foto vulgar? Perlukah?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_fotovulgar.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Mengunggah foto vulgar? Perlukah?" /></a>
</p><p>Suatu malam, sekitar pukul sebelas, aku masuk ke ruang komputer, menyalakan laptop hendak mulai mengerjakan beberapa proyek sampingan yang tertunda pengerjaannya karena kesibukan kerja utama akhir-akhir ini. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk selalu membuka beberapa link favorit sebagai &#8216;pemanasan&#8217; sebelum kerja beneran dimulai dan beberapa diantaranya adalah <em>radio streaming site</em>, <em>blog</em>, <em>google reader</em> dan <em>facebook</em> serta email. Aku biasa menghabiskan waktu sekitar lima belas menit pertama sebelumnya akhirnya menutup semua kecuali &#8216;radio streaming&#8217; yang menemaniku sepanjang jam kerja.</p>
<p>Ketika membuka facebook, malam itu, alangkah kagetnya aku menemui salah seorang teman mengunggah foto jenasah yang baru dilayatnya beberapa waktu sebelumnya lengkap dengan perasaan hati yang menggambarkan betapa ia kehilangan atas kepergiannya. Akupun menghiba karenanya, namun sayangn tak hanya itu yang kurasakan. Foto itu&#8230; ya gara-gara melihat foto itu meski sekilas, malam yang harusnya bisa kumanfaatkan untuk bekerja harus kulupakan begitu saja. Kalian boleh bilang aku penakut masa ngeliat foto jenazah saja langsung <em>&#8216;ngeper&#8217;</em>&#8230; tapi kenyataan yang lebih tepat sebenarnya adalah aku kehilangan mood untuk bekerja. Aku lalu memilih untuk mematikan laptop, melipatnya dan memasukkan ke dalam drawer dan segera naik ke atas mencoba untuk tidur.</p>
<p>Lain kisah.<br />
Masih di facebook. Akhir-akhir ini barangkali banyak dari kalian melihat foto dan kisah seorang Ibu di Jepang yang tertimbun tanah sedang memeluk anaknya. Sebagai manusia yang berperasaan tentu foto dan kisah itu menerbitkan rasa haru yang teramat sangat. Namun bukannya aku tak terketuk untuk lebih mencintai Ibuku kalau aku harus bilang <em>&#8220;Cukup!&#8221;</em> Tak perlulah kisah berfoto itu disebarluaskan dan ulas-ulas sedemikian sering sehingga alih-alih membuat kita semakin iba, yang ada justru membuat mood kita kocar-kacir karena rasa iba itu sendiri dan terlebih foto yang menyayat hati.</p>
<p>Lain lagi kisahnya.<br />
Suatu pagi yang juga tak jauh dari sekarang, ketika mengakses facebook sembari duduk di toilet, aku menemui foto sosok anak korban aborsi yang terbujur kaku berdarah-darah dan di bawahnya tertulis kisah tentang bagaimana perasaan &#8216;si anak&#8217; itu dipersonifikasikan seolah-olah ia masih hidup dan &#8216;bertanya&#8217; kenapa ia harus diaborsi. Aku makhluk ber-Tuhan dan dalam hal ini menolak keras-keras aborsi dengan alasan apapun mengingat kehidupan adalah anugerah Tuhan&#8230; Tapi, foto yang sangat vulgar karena menunjukkan darah dan mayat itu alih-alih membuat iba, yang ada malah mual. Hal ini juga berlaku untuk foto anak kecil berusia lima tahunan, korban selamat yang mengalami penyiksaan oleh orang tuanya dan ditampilkan dengan wajah lebam-lebam penuh luka. Pointnya apa? Ingin membuat rasa iba yang berlebihan? Ingin mengingatkan orang untuk tak berbuat serupa?</p>
<p style="text-align: center;">*      *      *</p>
<p>Melihat itu semua, aku jadi tertarik untuk bertanya, apa sebenarnya tujuan mereka menyebarkan foto dan kisah tersebut ke ranah social media?<br />
<em> &#8220;Tujuannya share, Don!&#8221;</em> Ok, aku setuju bahwa salah satu kekuatan social media adalah bagaimana kita bisa berbagi (share) informasi, tapi bagaimana kalian bisa mengatur kekuatan itu kupikir adalah hal yang mempengaruhi perilaku orang per orang dalam social media itu sendiri. Membagikan sesuatu dalam kerangka sosial idealnya harus selalu bertujuan membangun sesama dengan menekan sekecil mungkin angka kerugian yang ditimbulkan, kan?</p>
<p>Tidak tahukah kamu wahai kalian yang menyebarkan foto-foto sadis nan vulgar itu bahwa tak semua orang memiliki tingkat sensitivitas dan reaksi yang sama ketika melihat gambar yang sedemikian horor dan vulgarnya? Tujuan kalian mungkin bagus, granted&#8230; tapi ekses-ekses buruknya akan sejauh mana mampu mengaburkan kebaikan yang kalian tawarkan? Kalian toh harus pahami hal itu.</p>
<p><em>&#8220;Kalau nggak suka silakan un-tag atau unfollow atau&#8230; block saya!&#8221;</em> kalian bisa teriak demikian namun sebenarnya itu bukan penyelesaian; malah kupikir itu adalah jawaban yang tak cukup nyambung. Kenapa? Tindakan untuk unfollow/block adalah pilihan yang bisa diambil KETIKA peristiwa penyebaran foto-foto vulgar TELAH terjadi&#8230; tapi inti kejadiannya adalah bahwa foto-foto itu TELAH terbagi dan terlihat! Sama saja halnya kalau kamu hidup bertetangga dengan keluarga yang memiliki bayi. Suatu malam kalian muter lagu rock keras-keras dan menyebabkan bayi mereka kaget dan menangis sejadi-jadinya semalam-malaman&#8230; Akankah kalian juga bilang <em>&#8220;Silakan tutup pintu apartmentmu atau pindah dari sini dan jauh-jauh dariku!&#8221;</em> Apapun yang kalian tawarkan solusinya, termasuk misalnya kamu yang memilih pindah dari situ atau (kalau masih kurang gila) kamu yang meminta dia pindah, intinya anaknya telah menangis dan mereka begitu dirugikan oleh tindakanmu tersebut.</p>
<p>Tak hanya itu&#8230; pada kasus penyebaran foto jenasah atau korban kekerasan misalnya, seberapa pedulikah kalian pada hak seseorang untuk tak ditampilkan di muka publik?<br />
O well, jelas kalian tak bisa minta ijin pada &#8216;sang&#8217; jenazah karena mereka toh telah meninggal dunia, namun kepada keluarganya? Sudahkah kalian mendapat ijin bahwa untuk sekian jumlah foto dengan beberapa pose akan tampil di social media? Bagaimana pula dengan anak-anak korban kekerasan? Pernahkah kalian dengar bahwa kebanyakan para psikolog sangat menganjurkan orang-orang dekat para korban untuk tak mempublikasikan foto ke siapapun termasuk media luas terkait dengan trauma yang mungkin timbul ketika mereka beranjak dewasa?</p>
<p style="text-align: center;">*      *      *</p>
<p>Saranku untuk kalian yang mengunggah foto ke social media ataupun menyebarluaskannya, berpikirlah berulang-ulang sebelumnya karena sekali ia tersiar, reduplikasi ataupun re-share dari orang lain ke orang lainnya lagi adalah hal yang angka pertambahannya bersifat eksponensial! Cukup dengan kata-kata. Tak perlu dukungan sepotong foto pun kalau itu hanya dimaksudkan untuk menghadirkan kesan terlebih kalau harus mengisinya dengan foto-foto sesadis itu?</p>
<p>Kalaupun dirasa perlu, kenapa tak menampilkan foto-foto keindahan dan menceritakan hal-hal memilukan dari sudut pandang keindahan? Itu bukan sesuatu yang sulit kok!<br />
Misal, kalian ingin menceritakan sosok Ibu yang mati dalam posisi melindungi anaknya di Jepang itu&#8230; Kenapa tak kau pasang saja foto ibu yang menggendong anaknya (tentu setelah mendapatkan ijin dari fotografer maupun tokoh yang ditampilkan fotonya) dan mulai bercerita dari angle &#8220;Sang Ibu tak bisa lagi menggendong anaknya seperti ini, ia telah mati melindungi anaknya bla-bla-bla&#8221;</p>
<p>Sementara untuk kalian yang -teriritasi- oleh foto-foto vulgar itu, jangan ragu untuk bertindak! Block user, laporkan sebagai spammer ataupun nyatakan keberatan secara langsung kepada yang bersangkutan adalah langkah yang menjadi HAK kalian selain diam! Suarakanlah pula keberatan kalian itu kepada pemerintah dan departemen terkait supaya ambil tindakan. Jangan ragu mengingatkan mereka untuk tak hanya pandai memblokir foto-foto yang terkait pornografi saja karena kalau memang menurut mereka vulgar itu hanya dibatasi dinding tebal bernama pornografi, sepertinya kita harus lebih sabar untuk menunggu mereka bertindak lebih pintar daripada itu.</p>
<p><em>Tulisan ini diunggah tepat pada hari kematian <strong>Steve Jobs</strong> (1955 &#8211; 2011).  Beristirahatlah dalam damai, di Surga butuh banyak &#8216;Apple&#8217;, Steve!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kini, informasi yang menemukan kita</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/10/03/kini-informasi-yang-menemukan-kita.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/10/03/kini-informasi-yang-menemukan-kita.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 06:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>
		<category><![CDATA[tibbr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2201</guid>
		<description><![CDATA[Tak sengaja, beberapa waktu lalu, aku menemukan tagline menarik dari sebuah perusahaan social media tool, Tibbr, demikian isinya, &#8220;Now, the information finds you.&#8221; Hanya sepuluh detik, waktu yang kuperlukan untuk membaca larik tersebut, namun sepuluh menit sesudahnya bahkan lebih, ia mengeram dalam benak; bermetamorfosa menjadi sebuah permenungan. *      *      * Kalau aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/10/03/kini-informasi-yang-menemukan-kita.html" title="Permanent link to Kini, informasi yang menemukan kita"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_information.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Kini, informasi yang menemukan kita" /></a>
</p><p>Tak sengaja, beberapa waktu lalu, aku menemukan tagline menarik dari sebuah perusahaan <em>social media tool</em>, <a href="http://www.tibbr.com">Tibbr</a>, demikian isinya, <em><strong>&#8220;Now, the information finds you.&#8221; </strong></em>Hanya sepuluh detik, waktu yang kuperlukan untuk membaca larik tersebut, namun sepuluh menit sesudahnya bahkan lebih, ia mengeram dalam benak; bermetamorfosa menjadi sebuah permenungan.</p>
<p style="text-align: center;">*      *      *</p>
<p>Kalau aku menyebut nama <strong>Gundhi</strong>, tentu ia bukan nama sebenarnya. Sebelum empat bulan silam, ia adalah sosok yang tak kukenal hingga pada sebuah siang ia menghubungiku lewat email dengan sapaan pembuka,</p>
<p><span style="color: #999999;"><em>Hallo!</em></span> <span style="color: #999999;"> <em> Aku kenal kamu lewat internet, Mas!</em></span></p>
<p>Ketika aku masih mengerutkan jidat mencoba mengulas adakah kukenal namanya sebelumnya, ia mengejutkanku pada paragraf kedua. Demikian petikannya,</p>
<p><span style="color: #999999;"><em>Ini bukan email sampah, Mas. Tapi menurutku, Mas pasti tertarik pada program yang kutawarkan karena jiwa sosial Anda sangat besar, Mas Donny!</em></span></p>
<p>Aku melongo dibuatnya&#8230; <em>“Jiwa sosial?”</em> kok dia bisa menebak seperti itu?<br />
Dan belum tuntas pikirku, aku &#8216;dihajar&#8217; nya lagi dengan pernyataan berikutnya,</p>
<p><span style="color: #999999;"><em>&#8220;&#8230; yang lebih mengasyikkan lagi, di sini banyak orang-orang yang mengedepankan spiritualitas tapi tak selalu mengutamakan agama.. dan Mas tetap boleh misuh-misuh kok! Hehehehe&#8221;</em></span></p>
<p>Seribu topan badai!<br />
Ia seperti orang yang tiba-tiba datang membawa secarik kertas dan di atasnya tergambar detail wajahku padahal ia belum tahu aku baik secara online maupun fisik sebelumnya! Darimana ia tahu aku adalah tipe orang yang seperti itu? Metode perkenalan apa-apaan ini, gumamku waktu itu.</p>
<p>Tak ayal lagi, ketika itu aku merasa perlu untuk memberikannya &#8216;pelajaran&#8217; atas tindakannya yang menurutku lancang itu. Namun ketika benak sedang dipenuhi dengan emosi, tiba-tiba semuanya melempem begitu saja waktu aku mencoba memposisikan diri sebagai Gundhi.</p>
<p>Apa dan dimana letak salahku jika aku adalah Gundhi? Tak ada! Justru sebaliknya, kenyataan di atas menunjukkan betapa pandainya Gundhi untuk tak hanya mencari informasi, namun juga menyusun potongan-potongan informasi yang ia temui lalu menyusunnya menjadi sebuah gambar utuh. Padahal, kalau si Gundhi mencariku empat belas tahun silam, barangkali ia membutuhkan keajaiban untuk menemukanku kecuali kalau memang ia tahu URL personal site pertamaku yang kubangun dulu.</p>
<p>Beda pula yang terjadi jika ia mencariku sebelas tahun silam. Sekitar tahun 2000an, <strong>Google</strong> mulai menampakkan gelagatnya sebagai calon penguasa dunia melalui mesin pencari yang sanggup melakukan proses <em>crawling</em> (pencarian) dan <em>indexing</em> (pendataan) konten-konten yang ada di seantero jagat internet. Bisa jadi, ketika itu, dengan mengetikkan nama <em>&#8216;Donny Verdian&#8217;</em>, ia akan mencapai alamat personal siteku yang ketiga yang kubangun beberapa waktu sebelumnya. Tapi hanya itu, tak lebih.</p>
<p>Lalu apa yang bisa dicari Gundhi pada masa kini, atau katakanlah masa setelah pertengahan dekade lalu dimana dunia internet berkenalan dengan satu terminologi baru, <em>social media</em>?</p>
<p>Sebenarnya hampir sama dengan apa yang bisa dilakukan pada sekitar tahun 2000an, <em>&#8220;Google adalah kunci!&#8221;</em> Kelincahannya dalam mendata halaman-halaman situs yang memuat keyword &#8220;Donny Verdian&#8221; adalah senjata ampuh. Namun, yang membedakan antara apa yang terjadi pada tahun 2000an dengan apa yang terjadi masa kini adalah adanya kanal-kanal social media yang kita ikuti yang halaman-halamannya juga ikut terdata oleh mesin canggih Google.</p>
<p>Padahal, melalui social media, bersosialisasi berarti menyebar kata dan gambar yang kita siarkan di sana. Alhasil, ketika kita sudah sedemikian membuka diri pada social media, terbukalah kemungkinan yang sangat besar bagi orang-orang seperti Gundhi untuk mencari kita, mengenal dan menggambarkannya berdasarkan data-data yang ia temukan di sana.</p>
<p>Jadi sekali lagi, bisakah Gundhi dipersalahkan?<br />
Atau&#8230; kalau tidak, bisakah kita menyalahkan internet, Google dan social media? Menurutku, tak satupun dalam kaitan dengan kisah di atas bisa dipersalahkan. Sumber salahnya, kalau memang harus didefinisikan, adalah kita sendiri karena Google menjalankan fungsinya secara optimal sebagai mesin pencari, kanal-kanal social media pun laksana senjata jitu yang mampu membawa anggotanya menjadi socialized dan eksis sedangkan Gundhi tinggal memetiknya.</p>
<p>Oleh karena itu, sebelum terjun ke dalam social media, tentukanlah apa dan bagaimana engkau akan mencitrakan dirimu di sana. Jika memang kamu ingin tampil terbuka pada publik, bersiaplah untuk dikenal dan bebas dicari oleh khalayak semacam Gundhi lengkap dengan efek-efek negatifnya. Sebaliknya, jika memang ingin menutup diri, keputusan untuk tak bergabung dengan social media adalah keputusan bijak meski bagiku tetap bukanlah keputusan terbaik mengingat potensi keuntungan yang didapat dari sana.</p>
<p>Yang terbaik, menurutku adalah menjadi yang paling moderat di antara dua kutub itu tadi. Ada kalanya kita harus membuka diri terhadap dunia ketika kita perlu mengutarakan ide-ide menarik, namun ketika hendak mengujarkan sesuatu yang pribadi, seperti misalnya urusan keluarga ataupun pekerjaan, tak perlulah kita sampai menyiarkannya secara publik kecuali&#8230; ya kecuali kalau memang itu yang kalian cari.</p>
<p>Simple kan?<br />
Jadi, pernahkah kalian melakukan hal yang sama dengan yang Gundhi lakukan? Misalnya kalian sedang naksir seseorang lalu tanpa sepengetahuannya kalian bisa melukiskan sosoknya melalui kata-kata yang ditukaskannya dalam jejaring social media?</p>
<p>Siarkan komentar Anda, Jendral!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/10/03/kini-informasi-yang-menemukan-kita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

