<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 06:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Korupsi dan Kompetisi</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/02/02/korupsi-dan-kompetisi.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/02/02/korupsi-dan-kompetisi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 06:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[debritto]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2530</guid>
		<description><![CDATA[Bagiku, bencana korupsi itu marak salah satunya karena manusianya tamak! Sifat alamiah manusia yang satu ini, tamak, terpicu karena tak adanya batas kepuasan ditambah dengan perasaan harus menang apapun dan bagaimanapun caranya. Keharusan itu timbul karena kita mengandaikan hidup ini tak ubahnya sebagai sebuah perlombaan yang bersifat mutlak dan tak bertoleransi. Sayangnya, sejak kecil kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Bagiku, bencana korupsi itu marak salah satunya karena manusianya tamak!</p>
<p>Sifat alamiah manusia yang satu ini, tamak, terpicu karena tak adanya batas kepuasan ditambah dengan perasaan harus menang apapun dan bagaimanapun caranya. Keharusan itu timbul karena kita mengandaikan hidup ini tak ubahnya sebagai sebuah perlombaan yang bersifat mutlak dan tak bertoleransi.</p>
<p>Sayangnya, sejak kecil kita memang dibiasakan untuk berkompetisi! Di sekolah misalnya, kita selalu dituntut untuk menjadi yang terbaik berbasis angka karena angka dianggap menyimpan informasi tentang peringkat kita dalam penguasaan mata pelajaran berbanding yang lainnya, kawan sebangku yang akhirnya menjadi lawan kita.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;meletakkan arti kebebasan hanya sebatas hal-hal tersebut adalah seperti memetakan dunia dalam sekotak televisi berukuran empat belas inchi, tak optimal.&#8221;</p></blockquote>
<p>Padahal pada kenyataannya, tak selamanya angka itu pandai berbicara karena kehidupan ini tak semuanya bisa diperhitungkan dan dirasionalisasikan.</p>
<p>Hingga sebelum akhirnya takdir membawaku mengenyam pendidikan di <a title="So, kamu cina, aku jawa? So what?" href="http://donnyverdian.net/2011/08/22/jawa-cina-so-what.html"><strong>SMA Kolese De Britto</strong></a> Yogyakarta pada 1993 &#8211; 1996, akupun penikmat kompetisi nan menyeramkan itu! Orang tua selalu menyarankanku untuk mendapatkan posisi juara di kelas dengan nilai-nilai mata pelajaran yang tinggi tanpa pernah memberi beban kepadaku bahwa aku harus mengerti kenapa aku bisa dapat posisi juara dan sedalam apa aku mengerti mata pelajaran yang diberikan seolah hal-hal tersebut datang otomatis bersama dengan peringkat yang kuraih.</p>
<p>Di De Britto lah aku diberi wacana baru tentang arti sebuah kompetisi.</p>
<p>De Britto mengajarkan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab bagi siswanya. Orang mungkin hanya melihat kebebasan itu dari sesuatu yang kasat mata yang selama ini menjadi ciri khas anak-anak De Britto saja. Misal, siswa berrambut gondrong, seragam sekolah yang bebas, serta diperbolehkannya mengenakan sendal gunung ketimbang melulu menggunakan sepatu yang tertutup rapat.</p>
<p>Tapi meletakkan arti kebebasan hanya sebatas hal-hal tersebut adalah seperti memetakan dunia dalam sekotak televisi berukuran empat belas inchi, tak optimal.</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Siapa di antara kalian yang tak ingin mencibir para koruptor? Kurasa tak ada karena mereka memang manusia bermartabat rendah yang patut direndahkan karena kelakuannya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kebebasan yang diberikan pada para siswa di De Britto tak semata-mata seperti memberi keliaran pada kawanan kuda di sebuah padang rumput.,Ttapi lebih dari itu, kebebasan yang diberikan justru membuat kami berpikir apa imbas dari setiap hal yang kami lakukan berdalih kebebasan itu sendiri. Hal inilah pada akhirnya yang menjadi esensi dan memicu kami untuk berpikir sebelum bertindak, semisal di bawah ini.</p>
<p><em>Kenapa harus gondrong? Kenapa harus tak gondrong? Apa akibat dari keduanya?</em><br />
<em> Kenapa harus menggunakan kaos kusut? Kenapa milih berbusana parlente ke sekolah?</em><br />
<em> Kenapa harus menggunakan sepatu dinas dan bukannya menggunakan sendal gunung?</em></p>
<p>Tempaan atas nilai ‘bebas bertanggung jawab’ ini pada akhirnya terimplementasi nyaris pada semua hal selama bersekolah di De Britto termasuk dalam berkompetisi.</p>
<p>Dalam hal yang satu ini, pengejawantahan nilai tersebut tampak pada penentuan sikap ketika sedang memilih untuk bersikap jujur dalam berkompetisi atau memilih curang untuk menang.</p>
<p>Terlepas dari pakem dasar bahwa ketidakjujuran adalah sebuah kesalahan, kami dididik untuk tak hanya pasrah pada ‘salah’ atau benar saja tapi lebih dari itu, kenapa kita berani memilih bersikap jujur atau sebaliknya, kenapa engkau tak takut memilih untuk curang dalam berkompetisi karena kedua sikap tersebut akan mendatangkan akibat yang berbeda satu sama lain.</p>
<p>De Britto juga mengenalkan jargon man for others, bagaimana membuat hidup kita berguna bagi sesama. Sesama dalam pandangan kami bukanlah mereka yang hanya sama-sama satu agama, sama-sama satu ras dan daerah tapi sesama dalam arti luas yaitu sesama manusia tak peduli siapapun itu.</p>
<p>Idealnya, konsep Man for Others sendiri sebenarnya tidak lantas melemahkan konsep persaingan semata karena kita harus peduli terhadap sesama karena bukankah kepedulian bukan berarti kita harus kalah ataupun mengalah jika memang keduanya malah nanti tak lebih memajukan sesama kita?</p>
<p>Justru sebaliknya, menempatkan konsep ‘man for others’ sebagai tujuan dan menggunakan nilai ‘bebas bertanggung jawab’ dalam kaitannya dengan berproses untuk mendapatkan hasil kompetisi tersebut sesungguhnya adalah amunisi yang lengkap.</p>
<p>Mereka bukan hanya bicara tentang bagaimana cara mengalahkan lawan dan meraih kemenangan saja, tapi juga bicara tentang bagaimana berproses dan menghayati proses tersebut detik demi detik dengan terus mengutamakan <em>self-checking</em> atas tanggung jawab nantinya serta berorientasi pada kemajuan manusia seutuhnya termasuk dirinya sendiri, keluarga, umat manusia dan lingkungan serta Tuhan.</p>
<p>Nah kalau sudah demikian, cerita-cerita soal bagaimana orang mencuri uang dan kesempatan dengan cara selintat-selintut seperti yang sekarang marak ditayangkan media tak lain adalah upaya untuk mempermalukan nilai kepedulian dan kebebasan manusia dan berakibat pada perendahan martabat manusia.</p>
<p>Tak percaya?<br />
Siapa di antara kalian yang tak ingin mencibir para koruptor? Kurasa tak ada karena mereka memang manusia bermartabat rendah yang patut direndahkan karena kelakuannya.</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=O97HBLIB-UY">http://www.youtube.com/watch?v=O97HBLIB-UY</a></p>
</p>
<p>Selamat hari Pesta Nama <a href="http://www.johndebritto.com/"><strong>Santo Yohanes De Britto</strong></a>, 4 Februari 2012!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/02/02/korupsi-dan-kompetisi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How to Read a Book</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/31/how-to-read-a-book.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/31/how-to-read-a-book.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 04:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[ollie]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2498</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ollie* I&#8217;ve been writing a lot of tips on how to write. And I guess this is the right time to write tips about how to read. Why? Because more and more people said they don&#8217;t have time to read (a book) &#8211; but of course they have time to read twitter timeline the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>Oleh <strong>Ollie*</strong></em></p>
<p><em>I&#8217;ve been writing a lot of tips on how to write. And I guess this is the right time to write tips about how to read. Why? Because more and more people said they don&#8217;t have time to read (a book) &#8211; but of course they have time to read twitter timeline the whole day <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) *including me</em></p>
<p><em>I carry 2 books in my bag &amp; I have 10 books beside my bed (that means I bought &#8216;em but I haven&#8217;t read &#8216;em). So, if I&#8217;m a soldier, I&#8217;m always ready with my amunition.</em></p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;we also hear a new term of ‘social reading’. What is it exactly?&#8221;</p></blockquote>
<p><em>I think the first reason why people can&#8217;t managed to read is because they don&#8217;t know WHY they read. We read for different purposes, but for me, I read to add my knowledge about my expertise (so I&#8217;ll read business books, etc), I love beautiful words and wisdom (so I&#8217;ll read poetry &amp; philosophical books), I&#8217;d like to research for my next novel (so I&#8217;ll read novels with similar genre), when I feel down (I&#8217;ll read self-help), etc. I know what I want from my books. That&#8217;s how I can read 2 or 3 books per week.</em></p>
<p><em>Nowadays we also hear a new term of &#8216;social reading&#8217;. What is it exactly? It&#8217;s when you read a book, and you find good tweetable content, then you&#8217;ll tweet or share about it on social media. This is also make one good reason to read: to inspire more people on your social media channels.</em></p>
<p><em>Books have changed my life. It gives me inspiration (as a writer), source of knowledge (to share with friends), source of income (as a business woman), and last but not least, a supporting shoulder when I needed the most (I do have dark moments in life and motivational books have saved me big time).</em></p>
<p><em>Let&#8217;s read! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><em>Thanks Donny for a chance to Wagen post on your blog <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<div class="wagen">
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://www.salsabeela.com/"><span style="color: #ff7d1a;">Ollie</span></a> (<a href="http://twitter.com/salsabeela"><span style="color: #ff7d1a;">@salsabeela</span></a>)</span>,</span> She&#8217;s a writer of 20 books. Co-founder of startups like online bookstore Kutukutubuku.com and online self-publishing NulisBuku.com. An avid reader.<br />
</strong> <em>Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Ollie? Silakan baca informasi di <span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html"><span style="color: #ff7d1a;">sini</span></a></span></em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/31/how-to-read-a-book.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke-sejenak-an Tuhan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 01:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[150 kata]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2492</guid>
		<description><![CDATA[Orang menggunduli bukit untuk kayu dan lahan hidup tanpa berpikir sepuluh tahun sesudahnya banjir membandang tanpa ampunan. Akibatnya tanaman yang dibudidayakan di lerengnya membusuk, panen pun gagal. Akibatnya, harga pangan membubung tinggi padahal perut manusia hanya bisa diberi makanan untuk hidup, selain itu mati. Ratapan dibalut doa lalu terdengar di sana-sini mengharap tuhan turun tangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html" title="Permanent link to Ke-sejenak-an Tuhan"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_150_title.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Ke-sejenak-an Tuhan" /></a>
</p><p>Orang menggunduli bukit untuk kayu dan lahan hidup tanpa berpikir sepuluh tahun sesudahnya banjir membandang tanpa ampunan. Akibatnya tanaman yang dibudidayakan di lerengnya membusuk, panen pun gagal. Akibatnya, harga pangan membubung tinggi padahal perut manusia hanya bisa diberi makanan untuk hidup, selain itu mati.</p>
<p>Ratapan dibalut doa lalu terdengar di sana-sini mengharap tuhan turun tangan menolong.</p>
<p>Karena maha baik, penolong serta pemaaf, ia tak tinggal diam. Ia menolong meski barangkali perlu waktu sejenak untuk terpingkal-pingkal menertawakan tingkah polah manusia ciptaannya yang bodoh; dulu tampak begitu perkasa membabat hutan sekarang tulus menghiba menanti bantuan.</p>
<p>Persoalannya adalah, ke-sejenak-an bagi dia apakah sama dengan kita? Ada dibilang sehari di surga sebanding dengan seribu tahun di dunia. Jadi kalau dia butuh waktu tertawa satu jam saja? Hmm&#8230; hitunglah sendiri brapa lama di dunia? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/30/ke-sejenak-an-tuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Otak dan pantat</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 06:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[150 kata]]></category>
		<category><![CDATA[kursi]]></category>
		<category><![CDATA[toilet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2521</guid>
		<description><![CDATA[Tak perlu protes kalau ada yang butuh dana 2 milyar untuk renovasi toilet dan ongkos penggantian kursi hingga 24 juta per buah. Alasanku sederhana, mereka toh perlu memanjakan pantat, tempat dimana otak mereka berada sebagaimana halnya kita perlu memanjakan kepala. Jadi kalau kita perlu creambath supaya otak segar dan pikiran cemerlang, berilah dirimu pengertian bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html" title="Permanent link to Otak dan pantat"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_150_title.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Otak dan pantat" /></a>
</p><p>Tak perlu protes kalau ada yang butuh dana 2 milyar untuk renovasi toilet dan ongkos penggantian kursi hingga 24 juta per buah.</p>
<p>Alasanku sederhana, mereka toh perlu memanjakan pantat, tempat dimana otak mereka berada sebagaimana halnya kita perlu memanjakan kepala.</p>
<p>Jadi kalau kita perlu <em>creambath</em> supaya otak segar dan pikiran cemerlang, berilah dirimu pengertian bahwa mereka pun perlu menyegarkan pikiran dan refreshing otak demi pekerjaan mereka yang konon untuk rakyat.</p>
<p>Toh kawan lamaku dulu pernah bilang, duduk di kursi yang tak mengenakkan bagi sebagian orang akan mengakibatkan gegar otak.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Di kantong safarimu kami titipkan, masa depan kami dan negeri ini&#8230; </em><br />
<strong><em>(Surat Kepada Wakil Rakyat &#8211; Iwan Fals)</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/26/otak-dan-pantat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteraturan, kunci menjadikan kota sebagai ruang tinggal terbaik</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 05:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[economist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2513</guid>
		<description><![CDATA[Jadi ceritanya, menurut majalah Economist, Sydney ditempatkan pada posisi ke-6 sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di dunia per laporan Agustus 2011. Adapun urutan komplit sepuluh besarnya adalah:  Melbourne (Australia), diikuti oleh Vienna (Austria), Vancouver (Canada), Toronto (Canada) , Calgary (Canada), sementara setelah Sydney ada Helsinki (Finlandia), Perth (Australia), Adelaide (Australia) serta Auckland (New Zealand). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html" title="Permanent link to Keteraturan, kunci menjadikan kota sebagai ruang tinggal terbaik"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_city.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Keteraturan, kunci menjadikan kota sebagai ruang tinggal terbaik" /></a>
</p><p>Jadi ceritanya,<a href="http://www.economist.com/node/21528162"> menurut majalah <strong>Economist</strong></a>, Sydney ditempatkan pada posisi ke-6 sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di dunia per<a href="http://www.eiu.com/public/topical_report.aspx?campaignid=liveabilityAug2011"> laporan Agustus 2011</a>.</p>
<p>Adapun urutan komplit sepuluh besarnya adalah:  <strong>Melbourne</strong> (Australia), diikuti oleh <strong>Vienna</strong> (Austria), <strong>Vancouver</strong> (Canada), <strong>Toronto</strong> (Canada) , <strong>Calgary</strong> (Canada), sementara setelah Sydney ada <strong>Helsinki</strong> (Finlandia), <strong>Perth</strong> (Australia), <strong>Adelaide</strong> (Australia) serta <strong>Auckland</strong> (New Zealand).</p>
<p>Bagaimana <strong>Economist</strong> menyusun peringkat kota demi kota tersebut? Mereka menggunakan skema penilaian berdasarkan beberapa variabel sebagai berikut:</p>
<p><strong>Stability</strong><br />
<em>Prevalence of petty crime, Prevalence of violent crime, Threat of terror, Threat of military conflict, dan Threat of civil unrest/conflict.</em></p>
<p><strong>Health Care</strong><br />
<em> Availability of private healthcare, Quality of private healthcare, Availability of public healthcare, Quality of public healthcare, Availability of over-the-counter drugs, General healthcare indicators.</em></p>
<p><strong>Culture and Environment</strong><br />
<em> Humidity/temperature rating, Discomfort of climate to travellers, Level of corruption, Social or religious restrictions, Level of censorship, Sporting availability, Cultural availability, Food and drink, Consumer goods and services</em>.</p>
<p><strong>Education</strong><br />
<em> Availability of private education, Quality of private education, Public education indicators.</em></p>
<p><strong>Infrastructure</strong><br />
<em> Quality of road network, Quality of public transport, Quality of international links, Availability of good quality housing, Quality of energy provision, Quality of water provision, Quality of telecommunications</em>.</p>
<blockquote class="left"><p>Sinergi yang ‘asyik’ dari semuanya akan melahirkan keteraturan dan inilah kuncinya</p></blockquote>
<p>Aku lumayan bangga juga karena bisa tinggal di kota dengan peringkat nomer 6 paling enak ditinggali di dunia. Tapi lebih dari itu, aku berpikir kalau kota lain bisa menjadi kota yang enak ditinggali, kenapa kota-kota yang lainnya lagi tidak?</p>
<p>Faktor alam memang sedikit banyak mempengaruhi penilaian itu tadi, setidaknya secara langsung ada di poin kelembaban (<em>humidity</em>). Tentu, kota-kota di sekitar katulistiwa beriklim tropis sulit untuk mencapai tingkat kelembaban yang lebih rendah ketimbang kota-kota di kawasan subtropis semacam kota-kota di atas. Namun itu bukan pengukur satu-satunya, ada banyak sisi lain yang menurutku lebih banyak dipengaruhi pada dua hal. Pertama, seberapa baiknya pemerintah dalam bekerja mengatur kota, lalu yang kedua, sepatuh apa warganya dalam mengikuti peraturan pemerintah serta setoleran apa mereka terhadap sesamanya yang tinggal di kota yang sama.</p>
<p>Sinergi yang ‘asyik’ dari semuanya akan melahirkan keteraturan dan inilah kuncinya. Bagiku, keteraturan dalam sebuah kota selalu kubayangkan sebagai sebuah keteraturan dalam bus.</p>
<p>Adalah bus umum yang datang satu jam sekali mengangkut penumpang dengan kapasitas per unitnya 50 orang, bisa kurang tapi tak boleh lebih. Pengelola bus yang baik yang didukung oleh penumpang yang sopan dan mau diatur akan mengikuti aturan dan tak perlu digalaki lagi untuk antri dan ketika kapasitas telah penuh terisi, mereka akan berhenti masuk dan berbaris rapi menunggu bus berikutnya satu jam kemudian.</p>
<p>Tapi pengelola yang tak baik apalagi didukung oleh penumpang yang tak mau diatur dan beringasan, mereka malah akan ambil kursi lebih dulu dan mempersilakan calon penumpang yang sudah tak tau aturan itu saling berebut dan menghalangi penumpang lain untuk naik ke badan bus; dan mereka pun juga bertindak demikian ke yang lainnya.</p>
<p>Alhasil, jangankan penuh terisi, yang ada malah di dekat pintu bis, mereka adu pukul dan saling memblokade pintu bis untuk mencegah yang lain masuk lebih dulu dari dirinya. Sementara si pengatur yang tak ulung itu malah diam menutup mata dan telinga di dalam bus dan sesekali pura-pura panik seraya membentak-bentak sopir bis kenapa bus tak berangkat-berangkat serta menyalahkan calon penumpang yang berebut naik.</p>
<p>Bus adalah kota.<br />
Pengelola adalah pemerintah.<br />
Penumpang adalah kalian, warganya.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan kota kalian?<br />
Nilailah kota kalian dengan variabel-variabel yang ditentukan Economist tadi dan sudi tuliskan hasilnya di kolom komentar di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Clearly, then, the city is not a concrete jungle, it is a human zoo.<br />
(<strong>Desmond Morris</strong>, The Human Zoo)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/23/keteraturan-kunci-menjadikan-kota-sebagai-ruang-tinggal-terbaik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita adalah inspirasi dan inilah saatnya</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/21/kita-adalah-inspirasi-dan-inilah-saatnya.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/21/kita-adalah-inspirasi-dan-inilah-saatnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 05:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[ferry haris]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[oleh Ferry Haris * Menjelang pergantian tahun 2011-2012, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di hadapan 30-40 orang mahasiswa sebuah universitas di Bali. Ketika menerima tawaran tersebut, saya merasa bingung karena merasa masih belum menjadi sosok yang patut untuk berbagi dan didengarkan oleh orang lain. Namun, akhirnya kita sepakat bahwa sesi yang dibawakan hanyalah berupa sharing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>oleh <strong>Ferry Haris</strong> *</em></p>
<p>Menjelang pergantian tahun 2011-2012, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di hadapan 30-40 orang mahasiswa sebuah universitas di Bali. Ketika menerima tawaran tersebut, saya merasa bingung karena merasa masih belum menjadi sosok yang patut untuk berbagi dan didengarkan oleh orang lain. Namun, akhirnya kita sepakat bahwa sesi yang dibawakan hanyalah berupa sharing pengalaman ketika kuliah dan bekerja di luar negeri.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;saya ingin berujar bahwa &#8216;Good Inspirational Content is The New King&#8217;&#8221;</p></blockquote>
<p>Namun sepanjang sesi sharing berlangsung, hingga pulang ke Bandung, saya merasa ada sebuah <em>gap</em> yang telah saya isi di hati dan pemikiran para mahasiswa tersebut. Saya? Ya, saya yang bukan siapa-siapa ini telah &#8220;berhasil&#8221; memberikan sedikit harapan dan membangun mimpi para mahasiswa di sana untuk menjadi lebih baik, lebih besar, dan lebih maju bahkan dari apa yang keluarga dan masyarakat sekitar sudah terbiasa untuk pikirkan.</p>
<p>Bali, sebuah pulau nan indah yang sangat dikagumi oleh beragam orang dari segala penjuru dunia, ternyata masih dihuni oleh orang-orang yang beranggapan bahwa diri mereka tidak bisa berkembang dan berhasil lebih dari mereka yang berasal dari Jawa. Ya itulah garis besar yang saya dapatkan dari diskusi selama 2 jam kala itu. Bagimana dengan lokasi lainnya di Indonesia?</p>
<p>Dari kisah singkat tersebut, ada harapan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca sekalian. Merujuk kepada keyakinan seorang <strong><a href="http://budiputra.com/">Budi Putra</a></strong> yang mengatakan bahwa <em>&#8220;Content is King!&#8221;</em>, saya ingin berujar bahwa <em>&#8220;Good Inspirational Content is The New King&#8221;</em>. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang mendukung masing-masing kita untuk menghasilkan karya-karya terbaik, mari kita hasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi orang lain. Yakinlah setiap apa yang baik yang kita lakukan dan bagikan, akan ada yang mengambil dan menyakininya menjadi bagian dari hidup mereka.</p>
<p>Media sosial yang berkembang sangat pesat di Indonesia, sudah saatnya menjadi sarana pengembangan diri dan semangat pertumbuhan bangsa dan negara. Mari kita mulai tahun 2012 dengan semangat menginspirasi kebaikan bagi orang lain.</p>
<div class="wagen">
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://eastmeetwest.posterous.com"><span style="color: #ff7d1a;">Ferry Haris</span></a> (<a href="http://twitter.com/FeHa"><span style="color: #ff7d1a;">@FeHa</span></a>)</span>,</span> seorang IT Auditor, penyuka jazz berdomisili di Bonn, Germany.<br />
</strong> <em>Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Ferry? Silakan baca informasi di <span style="color: #ff7d1a;"><a href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html"><span style="color: #ff7d1a;">sini</span></a></span></em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/21/kita-adalah-inspirasi-dan-inilah-saatnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiamat 2012, jadikah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 23:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[150 kata]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2505</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita masih diberi umur hingga 21 Desember 2012, dan andaikata hari itu kiamat jadi diadakan menurut ramalan-ramalan yang giat beredar, maka kita akan menjadi saksi patahnya apa yang dulu Pramoedya Ananta Toer kemukakan dalam bukunya, ‘Bukan Pasar Malam”. Di buku yang menceritakan kematian ayahnya itu, Pram mengatakan bahwa hidup ini tidaklah seperti mendatangi sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html" title="Permanent link to Kiamat 2012, jadikah?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_150_title.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Kiamat 2012, jadikah?" /></a>
</p><p>Kalau kita masih diberi umur hingga 21 Desember 2012, dan andaikata hari itu kiamat jadi diadakan menurut ramalan-ramalan yang giat beredar, maka kita akan menjadi saksi patahnya apa yang dulu <strong>Pramoedya Ananta Toer</strong> kemukakan dalam bukunya, <em>‘Bukan Pasar Malam”</em>.</p>
<p>Di buku yang menceritakan kematian ayahnya itu, Pram mengatakan bahwa hidup ini tidaklah seperti mendatangi sebuah pasar malam dimana kita datang dan pulang bersama rekan sepermainan. Kita lahir dan akan mati sendirian, begitu imbuhnya.</p>
<p>Namun dengan adanya kiamat akhir tahun ini, kalau jadi, maka kematian adalah kepulangan masal karena kita sama-sama akan pulang ke haribaanNya tanpa satupun yang disisakan hidupnya.</p>
<p>Dan, soundtrack yang tepat untuk acara ‘kiamat’ itu nanti adalah <strong><em>“Gelang Sipato Gelang’</em>!</strong> karena di sana tertulis penggalan liriknya <em>“Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama.”</em></p>
<p>Apa yang akan kalian lakukan pada tanggal itu? Duduk di lapangan sembari mengudap kacang rebus dan kopi panas sembari menunggu &#8216;jemputan&#8217;? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/19/kiamat-2012-jadikah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maling tetaplah maling</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[maling]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[Seorang berteriak, &#8220;Bebaskan maling sandal! Kalau koruptor saja bisa bebas kenapa dia tidak? Dimana letak keadilan kita?&#8221; Pernyataan itu spontan kubalas, &#8220;Kenapa harus dibebaskan, justru kalau dibebaskan, dimana adilnya?&#8221; &#8220;Tapi koruptor maling berjuta-juta lipat ketimbang sandal!?&#8221; &#8220;Itu urusan lain!&#8221; tangkisku. &#8220;Koruptor ya koruptor, maling sandal ya maling sandal!&#8221; &#8220;Nggak bisa dong! Harusnya koruptor dihukum berlipat-lipat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html" title="Permanent link to Maling tetaplah maling"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_maling.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Maling tetaplah maling" /></a>
</p><p>Seorang berteriak, <em>&#8220;Bebaskan maling sandal! Kalau koruptor saja bisa bebas kenapa dia tidak? Dimana letak keadilan kita?&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan itu spontan kubalas, <em>&#8220;Kenapa harus dibebaskan, justru kalau dibebaskan, dimana adilnya?&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Tapi koruptor maling berjuta-juta lipat ketimbang sandal!?&#8221;<br />
&#8220;Itu urusan lain!&#8221; tangkisku. &#8220;Koruptor ya koruptor, maling sandal ya maling sandal!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak bisa dong! Harusnya koruptor dihukum berlipat-lipat lebih kejam ketimbang si maling sandal, Don!&#8221;<br />
&#8220;Benar? Kalaupun benar itu tugas pengadilan dan itu tidak menghilangkan esensi bahwa si maling sandal juga harus dihukum kan?&#8221; balasku.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi&#8230; ini maling sandalnya masih anak-anak lho, Don&#8230; Coba kalau anakmu yang dibegitukan&#8230; Bagaimana reaksimu? Apa ya tetap tega bilang begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku maling? Ya kuhukum!&#8221;<br />
&#8220;Ah, tak percaya! Kau pasti akan tak terima kalau anakmu dimejahijaukan!&#8221;<br />
Pembicaraan kuhentikan disitu karena ia telah menjadi bias dan tak menarik lagi.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<blockquote class="left"><p>Bagiku maling adalah maling&#8230;</p></blockquote>
<p>Bagiku maling adalah maling terlepas dia maling sandal, baju, software, waktu, kekuasaan ataupun uang, atau yang biasa disebut sebagai koruptor, ia tetaplah maling. Mau &#8216;bayi&#8217; umur delapan tahun, dua belas, lima puluh ataupun sembilan puluh tahun, kalau dia mengambil barang milik orang lain tanpa ijin tetaplah ia maling. Yang namanya maling, haruslah dihukum dan hukum inilah yang harus disesuaikan berat-ringannya tapi intinya, ia harus tetap dihukum.</p>
<p>Malah, menurutku, hukuman diperlukan oleh si maling itu sendiri sebagai sarana untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Maling tanpa hukuman akan membuat ia selamanya menjadi maling, sebaliknya, ketika seorang maling telah menjalani hukuman, ia berhak untuk hidup lebih baik lagi meski kalau maling lagi ya, dihukum lagi.</p>
<p>Tanpa hukuman atau status terhukum, esensi kesalahan terhadap tindakan maling takutnya juga akan kabur dan masyarakat semakin rabun mana yang baik dan mana yang benar karena keduanya tak ada yang membedakan. Kalau pada akhirnya tiap hukuman itu berbeda ya tak mengapa selama setidaknya tak men-ciderai konsep &#8216;maling tetaplah maling&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Baiklah aku setuju bahwa dalam kasus maling sandal dimana pelakunya masih anak di bawah umur barangkali memang tak pantas dimejahijaukan. Tapi justru ini adalah momentum untuk kita menuntut pada negara bahwa ia harus memfasilitasi keadaan jika ada kejadian seperti ini; maling di bawah umur.</p>
<p>Baiklah aku setuju pula bahwa anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Tapi kalau demikian adanya, apa bentuk pertanggungjawaban orang tua kalau anaknya maling? Ada yang berani menyeret orang tua ke muka hakim karena anaknya maling? Padahal kalau mau fair, karena anak adalah tanggung jawab orang tua, maka ketika si anak melakukan kesalahan dalam hal ini menjadi maling, maka orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan si anak.</p>
<p>&#8220;Ya maksudku, anak jadi tanggung jawab orang tua itu si anak dididik dengan cara orang tuanya masing-masing!&#8221;<br />
Ok, katakanlah demikian, tapi bagaimana cara membuktikan bahwa bentuk didikanmu tak kan membuat anakmu jadi maling? tanyaku.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; ya pasti bisalah.. Lagipula itu cuma sandal gitu loh.. gimana dengan koruptor yang maling trilyunan kok ga dihukum seberat anak itu!?&#8221; balasnya.</p>
<p>Sekarang cuma sandal?<br />
Lalu besok tape dan radio?<br />
Meningkat ke televisi?<br />
Hingga titik itu kamu tetap akan bilang &#8220;Ah, cuma televisi!&#8221; ?</p>
<p>Lalu besoknya lagi uang, dan kekuasaan lalu uang lagi&#8230; semula ribu, juta, milyar, ratus milyar dan terakhir trilyun dan aku akan berkata &#8220;Tak terasa waktu berlalu. Dulu anakmu maling sanndal tak kau apa-apakan dan sekarang anakmu maling trilyunan, dan kau&#8230; kau sudah tak bisa apa-apa sekarang!&#8221;</p>
<p><em>Begitu?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wagèn</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 03:24:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[wagen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2440</guid>
		<description><![CDATA[Mengawali tahun yang baru, aku memperkenalkan Program Wagèn di blog ini. Wagèn? Wagèn adalah program dimana aku mengundang kalian untuk menjadi penulis tamu dan tulisan kalian akan kupublikasikan setiap hari &#8220;wagé&#8221; kecuali hari Senin wagé dan Kamis wagé, karena pada tiap hari senin dan kamis, aku mempublikasikan tulisanku sendiri. Oh ya, hari &#8220;wagé&#8221; sendiri merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html" title="Permanent link to Wagèn"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_wagen.png" width="230" height="230" alt="Post image for Wagèn" /></a>
</p><p>Mengawali tahun yang baru, aku memperkenalkan <strong>Program Wagèn</strong> di blog ini.</p>
<h3>Wagèn?</h3>
<p>Wagèn adalah program dimana aku mengundang kalian untuk menjadi penulis tamu dan tulisan kalian akan kupublikasikan setiap hari &#8220;wagé&#8221; kecuali hari Senin wag<strong></strong>é dan Kamis wagé, karena pada tiap hari senin dan kamis, aku mempublikasikan tulisanku sendiri. Oh ya, hari &#8220;wagé&#8221; sendiri merupakan hari keempat dalam hitungan hari ‘pasaran’ Jawa.</p>
<h3>Kapan dimulai?</h3>
<p>Program ini akan kumulai pada hari <strong>Sabtu wagé, 21 Januari 2012</strong> dengan menampilkan tulisan dari seorang teman KitaIndonesia.Net yang menetap di Jerman, <a href="http://eastmeetwest.posterous.com"><strong>Ferry Haris</strong></a>.</p>
<h3>Syaratnya?</h3>
<p>Siapapun berhak menulis tentang apapun, menggunakan bahasa apapun dan sepanjang apapun itu. Satu-satunya syarat barangkali adalah kamu harus mengerti bahwa tak semua tulisan yang masuk bisa ditayangkan. Itu saja! Mudah kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Caranya?</h3>
<p>Kirimkan tulisanmu ke <strong>indonesia@gmail.com</strong> disertai dengan biodata singkatmu (nama lengkap, profesi, URL yang akan ditautkan, musik/olahraga/bacaan kesukaan) beserta foto <em>close-up</em> berukuran <em>400 x 400 px</em> jika kamu berkenan menampilkan foto tersebut.</p>
<h3>Imbalan?</h3>
<p>Ada! Karena toh kencing aja mbayar sekarang&#8230; jadi jangan takut, aku memberikan imbalan bagi yang tulisannya ditayangkan di blog ini. Imbalan itu berupa penulisan namamu sebagai penulis artikel terkait, berikut profil singkat, foto dan link ke blog atau ke apapun tautan yang kamu inginkan untuk dihubungkan.</p>
<p>Uang? Imbalan uang tak kuadakan di sini karena aku percaya orang bijak tak selamanya menilai sesuatu dari uang. Kalian orang bijak juga kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Bagaimana kalau tak ada tulisan pada suatu hari wag<strong>é</strong>?</h3>
<p>Ya tak masalah, yang penting setiap Senin dan Kamis blog ini tetap update seperti biasa. Jadi program ini hanya akan berjalan ketika ada yang mengirimkan tulisan, kalau tak ada tak jadi masalah, kalaupun ada juga jangan sampai menimbulkan masalah <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, tunggu apa lagi? Nulis yuk di program Wagèn ini!</p>
<p><em>*logo adalah &#8220;Wagèn&#8221; dalam huruf jawa, asli tulisan tanganku. Bagi kalian yang ingin belajar tentang huruf jawa, silakan baca ebook <a href="http://www.scribd.com/doc/16186813/Pedoman-Penulisan-Aksara-Jawa">ini</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/12/wagen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 06:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2428</guid>
		<description><![CDATA[Semua berawal dari nama dan benda yang ditunjuk oleh nama itu. Anjing. An-jing. Awalnya hanyalah sebutan untuk binatang. Mereka hidup mengembara di alam bebas hingga konon sejak 12 ribu tahun silam manusia jatuh hati lalu membawanya ke rumah , dijadikannya sebagai piaraan, kesayangan maupun menjalankan fungsi-fungsi lainnya yang disematkan kepadanya. Suatu waktu, seseorang patah hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html" title="Permanent link to Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blind.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Anjing dan jari tengah, adakah mereka tertulis di kitab?" /></a>
</p><p>Semua berawal dari nama dan benda yang ditunjuk oleh nama itu.</p>
<p>Anjing. <em>An-jing.</em> Awalnya hanyalah sebutan untuk binatang. Mereka hidup mengembara di alam bebas hingga konon sejak 12 ribu tahun silam manusia jatuh hati lalu membawanya ke rumah , dijadikannya sebagai piaraan, kesayangan maupun menjalankan fungsi-fungsi lainnya yang disematkan kepadanya.</p>
<p>Suatu waktu, seseorang patah hati terhadapnya. Dalam ilustrasi pikiranku, barangkali orang itu awalnya suka, tapi gara-gara ia menggoda di saat yang tak tepat, si anjing marah lalu menggigit betisnya hingga berdarah. Saking kaget dan sakitnya, ia pun sontak berteriak,<em> &#8220;Anjing!&#8221;</em> Sejak saat itu ia selalu berteriak, <em>&#8220;Anjing!&#8221;</em> kepada siapapun yang menyerang atau mereka dan apapun itu yang membuat marah tak peduli apakah mereka atau sesuatu itu anjing betulan atau bukan. Uniknya, hal itu lantas diikuti oleh banyak orang, hingga sekarang.</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;&#8230;sadarkah kita bahwa agama tercipta pada satu masa dimana tak semua hal yang muncul sekarang sudah ada saat itu&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Sapaan untuk hewan tersayang akhirnya menjadi umpatan yang mendatangkan sakit hati untuk orang yang dikenai dan konstruksi moral masyarakat lambat laun mengkotakkan kata &#8216;anjing&#8217; sebagai umpatan adalah sesuatu yang tak elok untuk diucapkan.</p>
<p>Soal jari tengah itu lain lagi.</p>
<p>Apa salah jari tengah dibanding jari lainnya mungkin hanya surga yang tahu. Hingga akhirnya muncul beberapa versi sebab kenapa orang masa kini (terutama yang hidup di sini) sangat sensitif ketika diacungi jari tengah. Tapi dari sekian banyak versi, aku tertarik untuk mencomot satu, milik bangsa Yunani kuno. Dalam peradaban bangsa itu, jari tengah disebut sebagai <em>katapugon</em>; menusukkan jari tengah ke lubang anus untuk mendapatkan sensasi seks yang berbeda dari biasanya. Lalu semakin kemari, dengan fungsi yang sama (menusuk), tak hanya penetrasi anal namun juga penetrasi ke liang senggama ya menggunakan jari tengah tersebut.</p>
<p>Maka sejak saat itu, orang seperti kehabisan daya untuk tersenyum dan gembira ketika orang lain mengacungkan jari tengah ke mukanya karena membayangkan dan tahu untuk apa sebenarnya jari tengah itu ditujukan. Mudah ditebak sesudahnya, jari tengah menemani ungkapan &#8216;anjing&#8217; sebagai sesuatu yang &#8216;tak elok&#8217; untuk ditunjukkan pada orang lain</p>
<p style="text-align: center;">*  *  *</p>
<p>Dua contoh di atas, anjing dan jari tengah kusajikan sebagai ilustrasi untuk menyampaikan opiniku bahwa kehidupan ini berdinamika dan kita butuh tanggap terhadap gerakannya. Tak ada yang statis dalam kehidupan ini, bahkan sesuatu yang semula bermakna tunggal dan baik, karena satu kejadian kecil menjadikan ia memiliki dua arti yang tak semuanya baik. Sesuatu yang awalnya tak ada, tiba-tiba muncul dan orang pun bertanya-tanya, apakah itu baik atau tidak?</p>
<p>Masyarakat tradisional yang terlalu manja untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan akal budinya lalu memilih agama untuk menjawab karena hanya itu yang ia rasa ia punyai. Mereka berharap kitab-kitab suci secara aktif memberi jawaban kepada mereka, para pemalas itu.</p>
<p>Masyarakat modern akan memilih untuk menggunakan akal budi dengan tetap menggunakan dasar moralitas dan religiositas dari agama yang dianutnya secara hati-hati namun penuh keyakinan.</p>
<p>Lalu pertanyaannya, mana yang lebih benar dalam mengupayakan cara terbaik untuk mencari jawaban itu? Golongan tradisional kah? Modern kah?</p>
<p>Terlepas dari benar-salahnya, sadarkah kita bahwa agama tercipta pada satu masa dimana tak semua hal yang muncul sekarang sudah ada saat itu sehingga mudah ditebak, hal-hal yang muncul belakangan tak kan tertulis secara eksplisit dalam kitab-kitab pendukungnya?</p>
<p>Seperti seseorang yang beberapa waktu silam kuajak berdiskusi tentang satu profesi yang kutanyakan &#8216;keabsahannya&#8217; menurut dia. Semula aku tak mengharapkan diskusi itu dibawa ke dalam ranah &#8216;tradisional&#8217; karena kupikir ia cukup modern.</p>
<p>&#8220;Eh jadi menurutmu profesi A itu salah atau tidak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak!&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Karena hal itu tidak tertulis dalam kitab!&#8221;</p>
<p>Diskusi lantas kuhentikan di situ. Bagiku, hal itu bukannya tak menarik lagi, tapi kalau kulanjutkan takutnya akan menciderai persepsiku terhadap agama itu sendiri dan lantas menganggap agama sebagai sebuah konstruksi purba nan gagu menghadapi jaman yang begitu pesat larinya ini. Lagipula. taruhlah jawaban temanku itu benar bahwa profesi A dihalalkan karena tak tertulis di kitab, lalu bagaimana dengan persepsi tentang anjing dan jari tengah yang kujabarkan di atas itu tadi?</p>
<p>Bagaimana pula pembajakan karya cipta, teroris, hacking.. apakah kita akan baik-baik saja jika kita melakukannya semata karena ia tak ditulis secara eksplisit oleh kitab-kitab nan suci itu jauh sebelum kata-kata itu menemui maknanya yang terkini?</p>
<p>Atau akankah kita akhirnya mencari-cari alasan dengan bilang <em>&#8220;Sudah tertulis tapi dengan istilah lain!&#8221;</em> Kalau demikian, kenapa profesi A juga tak dimungkinkan sebagai <em>&#8216;hal yang ditulis tapi dengan istilah lain&#8217;</em> juga?</p>
<p><em>Touche!</em>  Tulis Umar Kayam setiap Pak Ageng (dirinya) kena sekak Mr. Rigen, pembantunya itu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/09/anjing-dan-jari-tengah-adakah-mereka-tertulis-di-kitab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 1.116 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-04 04:36:15 -->
<!-- Compression = gzip -->
