<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; commenting system</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/commenting-system/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Berkomentarlah yang Baik</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/12/09/berkomentarlah-yang-baik.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/12/09/berkomentarlah-yang-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[commenting system]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran sistem pemberian komentar (commenting system) dalam blog itu menurutku bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, komentar adalah satu hal yang sangat dinantikan oleh blogger namun ketika komentar sudah mulai berdatangan, pertanyaan selanjutnya adalah komentar seperti apa yang sebenarnya diharapkan keberadaannya? Menulis tentang cara memberi komentar yang baik, sedikit banyak dari kalian barangkali berpikir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div style="text-align:center;"><a href="http://view.picapp.com/default.aspx?term=microphone&amp;iid=193832" target="_blank"><img style="border: 0px initial initial;" src="http://cdn.picapp.com/ftp/Images/0190/d6ac8849-1b57-4843-a569-5f1bc330ec6f.jpg?adImageId=8113961&amp;imageId=193832" border="0" alt="Microphone" width="223" height="276" /></a></div>
<p><script src="http://cdn.pis.picapp.com/IamProd/PicAppPIS/JavaScript/PisV4.js" type="text/javascript"></script></p>
<p>Kehadiran sistem pemberian komentar <em>(commenting system)</em> dalam blog itu menurutku bagai pisau bermata dua.<br />
Di satu sisi, komentar adalah satu hal yang sangat dinantikan oleh blogger namun ketika komentar sudah mulai berdatangan, pertanyaan selanjutnya adalah komentar seperti apa yang sebenarnya diharapkan keberadaannya?</p>
<p>Menulis tentang cara memberi komentar yang baik, sedikit banyak dari kalian barangkali berpikir bagaimana mungkin aku yang bertabiat &#8216;tak terlalu baik&#8217; dalam memberikan komentar ke blog orang lain menuliskan semua ini?<br />
Tapi tak mengapalah! Maklumiku! Karena bukankah penjahat kelas kakap pun berhak mempunyai bayangan ideal tentang dirinya seandainya suatu saat ia menjadi orang baik? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, berikut ini adalah pandanganku tentang bagaimana memberi komentar yang baik di blog.</p>
<p><strong>Bacalah!</strong><br />
Bacalah postingan terlebih dahulu sebelum memberikan komentar.<br />
Kalau bisa membaca secara mendetail bagus, tapi scanning pun tak masalah yang penting jangan cuma modal scroll ke bawah menuju kolom pemberian komentar lalu berkomentar yang kadang nyambung, kadang nggak nyambung!<br />
Jangan pula hanya sekadar membaca judul tulisan lalu mereka-reka isi konten dan srrtttt langsung menuju kolom komentar dan membubuhkan komentar seadanya di sana.</p>
<p><em>Tapi kan males, Kak kalau tulisannya panjang-panjang?<br />
Ya kalau malas jangan berkomentar!</em></p>
<p><strong>Hindari &#8216;Pemakaian&#8217; Pertamax</strong><br />
Hindari komentar &#8216;pertamax&#8217;, &#8216;keduax&#8217; ataupun &#8216;hetrix&#8217;.<br />
Bukannya kenapa-napa, tapi kalau tujuanmu adalah supaya link yang kamu tinggalkan diklik balik oleh orang lain, kupikir kamu salah menciptakan impresi. Kalau tujuanmu supaya kamu dikomentari balik oleh si pemilik blog, ya kalau orangnya lagi baik, kalau nggak? bisa-bisa dibalas dengan hal yang sama atau bahkan lebih buruk!<br />
Atau, oh kamu tak terlalu mempermasalahkan kalau dikomentari balik demikian? Ya, terserah!</p>
<p><strong>Komentar memperkaya konten</strong><br />
Berpikirlah bahwa posting yang akan kamu komentari bukanlah ayat-ayat dalam kitab suci yang sulit dibantah dan harus dituruti. Kembangkan sisi lain dari tema posting yang ada, jadilah komentator yang dapat memperkaya konten bukannya merusak konten. Itulah salah satu hakikat dikembangkannya pola web 2.0, pola open-shared terhadap apapun di internet termasuk konten.</p>
<p>Contohnya? Mudah!<br />
Andai kamu menemui postingan yang mengangkat tema tentang<strong> </strong>kondisi lalu lintas yang macet di ruas pantura dan karena kamu tinggal di salah satu daerah yang dilewati pantura, Pekalongan misalnya, maka kamu memberikan komentar tentang<strong> </strong>&#8220;jalan alternatif ketika pantura sedang dilanda kemacetan.&#8221;</p>
<p><strong>Berkomentar bukan posting</strong><br />
Yakinlah bahwa membuat blog itu sekarang sangat mudah. Banyak provider yang bilang bahwa &#8220;<em>it will take only in 3 minutes</em>&#8221; dan jadilah blog kamu. Maka, ketimbang kamu bikin komentar yang panjang-panjang, rada nggak nyambung dan membosankan, lebih baik kamu mbikin blog sendiri dan posting komentar super panjangmu itu di sana.</p>
<p><strong>Pahami karakter blog, pemilik blog dan postingannya</strong><br />
Ada orang yang tak suka blognya dikomentari yang neko-neko.<br />
Ada juga orang yang suka dan mempersilakan blognya dikomentari yang aneh-aneh. Tapi anehnya, ada orang yang sebenarnya ia suka untuk dikomentari aneh-aneh, tapi pada satu postingannya, ia berharap kamu untuk menulis komentar dengan baik dan benar. Ini sangat awam dan bahkan sebagian besar dari kita adalah demikian.<br />
Misalnya pada blog seorang pelawak. Seratus postingannya bernada guyon dan biasa ditimpali dengan komentar-komentar yang nggak kalah becandanya. Tapi suatu waktu ia menuliskan tentang suatu yang serius dan menyedihkan: istrinya menceraikannya. Maka, ya jangan lantas kamu berkomentar yang tetap guyon.. Pelawak juga manusia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/12/09/berkomentarlah-yang-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

