<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; digital</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/digital/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Belajar dari tutupnya BORDERS</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/09/15/belajar-dari-tutupnya-borders.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/09/15/belajar-dari-tutupnya-borders.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 06:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[borders]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2152</guid>
		<description><![CDATA[Kalian tahu BORDERS? Raksasa global retailer buku Amerika Serikat yang dinyatakan bankrupt beberapa waktu silam? Aku bersyukur sekaligus ngelus dada karena menjadi saksi bagaimana tutupnya salah satu outletnya di mall tak jauh dari kantor sini. Boleh dibilang proses tutupnya sangat tragis, mulai dari pengumuman kecil di atas kertas putih memuat pengumuman bahwa member BORDERS tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/09/15/belajar-dari-tutupnya-borders.html" title="Permanent link to Belajar dari tutupnya BORDERS"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/b_borders.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Belajar dari tutupnya BORDERS" /></a>
</p><p>Kalian tahu <strong>BORDERS</strong>? Raksasa global retailer buku Amerika Serikat yang dinyatakan <a href="http://blogs.wsj.com/deals/2011/07/21/its-official-borders-is-going-out-of-business/">bankrupt beberapa waktu silam</a>?</p>
<p>Aku bersyukur sekaligus ngelus dada karena menjadi saksi bagaimana tutupnya salah satu outletnya di mall tak jauh dari kantor sini. Boleh dibilang proses tutupnya sangat tragis, mulai dari pengumuman kecil di atas kertas putih memuat pengumuman bahwa member BORDERS tak bisa memperpanjang kartu diskonnya di meja kasir, hingga beberapa bulan kemudian meningkat menjadi diskon produk yang semakin lama semakin besar. Dan kira-kira tiga bulan silam, beberapa hari menjelang tutup total, di tengah kondisi toko yang kian melompong karena sudah habis terjual dan tak ada stock barang yang diimbuhkan lagi, mereka merabat habis produknya hingga 90% off termasuk rak-rak bukunya sendiri!</p>
<div id="attachment_2167" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<a href="http://donnyverdian.net/?attachment_id=2167"><img class="size-full wp-image-2167" title="b_borders_02" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/b_borders_02.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Suasana BORDERS beberapa hari sebelum tutup.. kosong melompong</p>
</div>
<p>Sebagai manusia yang sangat suka membaca termasuk &#8216;numpang baca&#8217; di toko buku, tutupnya BORDERS itu berarti sebuah kehilangan. Utamanya karena aku kehilangan salah satu spot asyik untuk &#8216;tenggelam&#8217; dalam lautan buku; sesuatu yang sedikit banyak menjadi alasan kenapa aku tak pernah suka belanja buku online karena tak bisa merasakan sensasi ketenggelaman itu.</p>
<p>Beberapa catatan yang kubuat terkait dengan tutupnya BORDERS adalah sebagai berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Era Digital</h3>
<p>Dunia bergerak dan setiap gerakannya membutuhkan perimbangan di setiap sisi yang terkait.<br />
Mari kita amati kenyataan ini: lima puluh tahun silam, buku adalah sesuatu yang mahal karena ongkos produksi cetak yang masih sulit baik dari sisi teknis maupun operatornya. Dua puluh tahun sesudahnya, semua orang latah membeli buku karena harga yang semakin murah dan kini, tiba-tiba, buku kembali menjadi mahal bukan karena teknologi produksi yang sulit dikembangkan, tapi sumber daya kertas yang berasal dari alam/pohon lah yang semakin dipersulit pengadaannya mengingat faktor konservasi alam yang sudah mencapai taraf &#8220;tak bisa ditunda-tunda lagi&#8221; pengusahaannya.</p>
<div id="attachment_2156" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<a href="http://donnyverdian.net/?attachment_id=2156"><img class="size-full wp-image-2156" title="blog_borders_01" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_borders_01.jpg" alt="" width="500" height="383" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Buku beneran dan buku &quot;digital&quot;</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang lantas menjadi sangat selektif dalam membeli buku, karena masih banyak keperluan yang perlu dipenuhi ketimbang &#8216;sekadar&#8217; membelinya. Beberapa orang yang &#8216;mampu&#8217;, atas nama konservasi alam, memilih untuk membeli buku dalam bentuk lain, e-book meski sebenarnya aku banyak bertanya-tanya ke diri apakah mereka membeli karena konservasi alam atau atas nama gengsi supaya tampak selalu terdepan dalam teknologi? Entahlah.</p>
<p>Aku sendiri, lepas dari paradigma &#8216;mampu&#8217; atau &#8216;tak mampu&#8217;, berharap banyak semoga digitalisasi buku hanyalah &#8216;produk-sela&#8217; yang ditawarkan produsen sambil menanti mereka menciptakan inovasi yang lebih bagus ketimbang e-Book. Alasannya?</p>
<p>Susah, Sob! Susah bener baca buku lewat screen gadget dimana huruf dibungkus plastik kaca dan menyisakan tangan kita menggerak-gerakkan panel pengatur &#8216;halaman&#8217; dan mata yang lebih mudah letih membaca meski sudah di-approach berbagai macam teknologi baru untuk me-neduhkannya. Barangkali aku ini termasuk tipe orang lama yang masih susah menggeser perspektif bahwa membaca adalah memegang kertasnya, menghirup aroma kertasnya lalu membolak-balikkan halaman untuk dibaca, dan ketika menyudahi bacaan, bookmarking adalah melipat sudut kertas sebagai tanda bukannya memencet tombol &#8216;Bookmark&#8217; lalu memencet tombol &#8220;OFF&#8221; pada tepi kanan atas iPad kita. Bukan.. bukan seperti itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Perpustakaan Pribadi*</h3>
<p>Toko buku dengan sistem display per-rak-rak buku seperti BORDERS, <strong>Kinokuniya</strong>, <strong>Gramedia</strong> dan banyak retailer lainnya bagiku adalah &#8216;perpustakaan pribadi&#8217; yang bisa kuakses cuma-cuma. Yang membedakannya dengan perpustakaan pribadi betulan barangkali cuma soal kepemilikan.</p>
<p>Nah, ketika toko-toko penyaji sensasi &#8216;perpustakaan pribadi&#8217; itu tutup, kenapa kita tak memulai memoles kembali mimpi kita yang lama terbengkalai, membangun sebuah perpustakaan pribadi dalam arti yang sebenar-benarnya? Kumpulkan buku-buku lawas, bangun rak-rak buku sederhana lalu atur sedemikian rupa di sudut terindah rumah kita seolah-olah ketika kita berada di dalamnya, kita berada dalam toko-toko itu?</p>
<p><em>*maaf, untuk soal buku aku memang masih sulit untuk melepaskan untuk jadi bahan bantuan ke orang-orang tak mampu. Aku terlalu sayang pada buku dan kalau harus memilih, aku lebih suka memberi uang untuk dibelikan buku untuk disumbangkan ketimbang menyumbang buku koleksiku.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cetak Buku Sendiri, Nikmati Sendiri</strong></p>
<p>Bahan baku kertas menjadi sangat sulit didapatkan dan mahal dibeli barangkali karena produksi massal dari setiap produsen buku yang dilakukan selama ini. Setidaknya hingga saat ini, aku lebih merasa tak berdosa menggunakan kertas untuk mencetak tulisan-tulisanku pribadi untuk dijadikan &#8216;buku&#8217; sebanyak satu atau dua edisi saja ketimbang misalnya membuang sampah sembarangan yang tidak pada tempatnya.</p>
<p>Untuk orang yang hobi menulis sepertiku, tutupnya BORDERS secara tak langsung memantik ide untuk mencetak buku dan memasarkannya sendiri. Tak perlu lewat penerbit bahkan tak perlu pula lewat penerbit yang menyediakan jasa print-on-demand kalau memang belum siap. Cukup cetak menggunakan printer rumahan, desain cover menggunakan software pengolah gambar, cetak dengan pilihan warna ataupun hitam putih di atas kertas yang bisa kalian pilih sendiri, bundle dan tawarkan ke khalayak sebagai buku pribadi yang dibuat dengan sangat-sangat pribadi.</p>
<p>Masih tak laku? Simpan saja di perpustakaan pribadi!<br />
Menarik bukan idenya? Orisinil tepatnya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Buka toko buku sendiri</h3>
<p><a href="http://donnyverdian.net/?attachment_id=2169"><img class="alignleft size-full wp-image-2169" title="b_borders_01" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/b_borders_01.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Iparku pernah bercerita bahwa di salah satu sudut kota Paris ada sebuah toko buku nan mungil, tak terlalu kentara, namun sangat terkenal karena otentik, elegan dan mahalnya buku-buku yang dijualnya. Aku tak tahu alasan pasti kenapa BORDERS tutup, tapi aku yakin faktor &#8216;worldwide&#8217; ikut mempengaruhi cepat-lambatnya para petinggi untuk menyatakan kebangkrutannya kepada publik. Tak lain karena bisnis yang menggurita mau tak mau membawa konsekuensi bahwa pada setiap &#8216;kaki&#8217; nya, setidaknya kita harus menyediakan &#8216;gizi&#8217; yang sama untuk semuanya. Bayangkan jika BORDERS menjaga konsep seperti toko buku mungil yang diceritakan iparku itu, kenyataannya pasti akan lain meski jangan dibayangkan sebaliknya, toko kecil mungil itu lantas jadi sebesar BORDERS&#8230;</p>
<p>Tutupnya BORDERS menggelitik ideku untuk kenapa tak membuat toko buku sendiri dengan modal buku-buku yang kita produksi sendiri? Harga? Tak harus murah, malah kalau perlu mahal. Percayalah, banyak orang memilih membeli sesuatu yang murah, tapi untuk sebuah karya yang bagus, kadang kalau ditawarkan dengan harga murah, hal itu justru membuat mereka berpikir &#8216;Kenapa bisa murah? Apa yang dikurangkan dari proses kreatif pembuatannya?&#8217; dan segala kecurigaan itu terkadang benar karena harga murah berarti modal pembuatannya berlipat-lipat lebih murah daripadanya.</p>
<p>Menjual harga mahal untuk sebuah produk yang brilian selama masih dalam takaran wajar adalah bukti bahwa karya kita memiliki harga dan kita tak mau jual murah untuk kehilangannya.</p>
<p><em>&#8220;Lha kalau tak laku, bagaimana?&#8221;</em><br />
Tak laku? Ya tutup! Apa susahnya? Pasti tak lebih susah daripada menutup gurita raksasa semacam BORDERS!</p>
<p style="text-align: center;"> *     *     *</p>
<p>Gimana? Apa pendapatmu kalau tiba-tiba raksasa toko buku semisal Gramedia menyatakan kebangkrutannya? Bukankah kalian akan kehilangan pula satu spot asyik untuk tenggelam dalam lautan buku yang tersusun rapi di rak-rak itu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/09/15/belajar-dari-tutupnya-borders.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Firasat Digital</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/09/firasat-digital.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/09/firasat-digital.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[firasat]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Percayakah kalian pada firasat? Kalau percaya, percayakah pula bahwa firasat itu juga tersirat dan tersuarakan melalui hobi kita seperti tulisan via blog misalnya? Hari Natal, 25 Desember 2009, yang lalu setelah melewati masa kritis dua minggu lamanya, salah satu sahabatku, Anton, meninggal dunia, pulang ke Rumah Bapa. Ia pergi &#8216;nyaris&#8217; tanpa pesan meski meninggalkan sejuta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Percayakah kalian pada firasat?</p>
<p>Kalau percaya, percayakah pula bahwa firasat itu juga tersirat dan tersuarakan melalui hobi kita seperti tulisan via blog misalnya?</p>
<p>Hari Natal, 25 Desember 2009, yang lalu setelah melewati masa kritis dua minggu lamanya, salah satu sahabatku, Anton, meninggal dunia, pulang ke Rumah Bapa.</p>
<p>Ia pergi &#8216;nyaris&#8217; tanpa pesan meski meninggalkan sejuta kesan.</p>
<p>Kukatakan &#8216;nyaris&#8217; karena semula aku merasa tak mendapatkan barang satu firasat pun terkait dengan kepergiannya, hingga akhirnya dua hari sesudahnya, aku baru sadar bahwa apa yang kutulis di blog ini pada 23 Desember 2009 adalah sesuatu yang kuyakini bisa kuanggap sebagai sebuah pertanda.</p>
<p>* * * * *</p>
<p>Adalah kebiasaanku bahwa setiap tulisan yang hendak ku-published di media ini, selalu melalui masa &#8216;pengendapan&#8217; selama minimal satu minggu sebelum tayang.<br />
Masa itu kumanfaatkan untuk memantapkan calon tulisan hingga mencapai satu bentuk yang &#8216;pas&#8217; dan layak dihidangkan setiap rabu dan sabtu. Tulisan berjudul &#8220;Natal&#8221; itupun demikian pula adanya, kupersiapkan bahkan sejak awal bulan Desember 2009 silam.</p>
<p>Semula aku merancang untuk menulis sebuah percakapan imajiner antara Yesus dengan Maria yang rencananya akan kulengkapi pula dengan beberapa buah foto hasil jepretanku bertema seputar makna Natal.</p>
<p>Akan tetapi, rupanya semesta berkehendak lain.</p>
<p>Hingga sekitar seminggu sebelum Natal, aku tak jua sanggup meluangkan waktu untuk memotret, maka dengan amat disayangkan tulisan yang kupikir sudah cukup kuat itupun kusisihkan dan aku memulai dari awal lagi, berjuang keras memaknai Natal melalui tulisan yang harus kususun dalam tempo yang sangat singkat, kurang dari tujuh hari.</p>
<p>Maka, nyaris seharian di hari Senin, 21 Desember 2009, disela-sela waktu kerjaku, aku memikirkan tentang apa yang sanggup kukupas dari Natal tahun ini.<br />
Agak tergesa-gesa memang, tapi apa mau dikata ini soal komitmen kepada diriku sendiri bahwa aku memang harus update blog pada rabu, 23 Desember 2009 dengan tema Natal, tidak bisa tidak!</p>
<p>Lalu Sang Ide tiba, ia menghampiri dan terkuaklah topik yang tak pernah kunyana-nyana sebelumnya yaitu tentang himpitan antara kelahiran dan kematian (Yesus) dalam satu tulisan Natal. Untuk menguatkan ide tersebut aku mengambil contoh konkrit pada pemandangan perayaan Misa Natal yang kontras. (<strong><a href="http://donnyverdian.net/2009/12/23/natal-2.html">silakan baca selengkapnya di sini</a></strong>).<br />
Kukatakan &#8216;tak kunyana-nyana&#8217; karena sebelumnya, tema Natal selalu menghasilkan tulisan-tulisan indah yang penuh sanjungan atas perasaan sukacita dan bukannya sebaliknya.</p>
<p>Hari pun berlalu.</p>
<p>Blog ter-update seperti biasa dan menuai banyak komentar (seperti biasa pula).</p>
<p>Hingga akhirnya pada 25 Desember 2009, sekitar pukul 19.00 waktu Sydney, ketika sedang menyetir pulang ke rumah, Blackberryku berdering.<br />
Aku segera meminta istriku untuk melihat pesan yang baru saja masuk dan&#8230;Tanaska, salah satu teman terbaik lainnya yang juga sobat kental Anton mengabariku bahwa Anton telah tiada.</p>
<p>27 Desember 2009.</p>
<p>Dua hari sesudahnya, ketika semua keriaan Natal telah mulai redup dan kesedihan atas kehilangan sahabat sedikit mereda, aku membuka blogku lagi untuk sekadar men-check komentar teman-teman di postingan terakhirku. Sekonyong-konyong, aku tersadar bahwa apa yang kutulis itu kurasai sebagai sebuah firasat akan kepergian Anton.<br />
Firasat bahwa hari Natal kemarin adalah salah satu hari Natal ter-unik dalam hidupku. Tuhan membolehkanku merasakan kegembiraan Natal sekaligus kedukacitaan atas perginya seorang sahabat.</p>
<p>Itulah pertanda, itulah firasat.</p>
<p>Aku menyebutnya firasat digital karena meski ia berada di dalam tulisan namun tak pernah kusangka bahwa justru melalui media baru, digital, &#8220;Sang Waktu&#8221; telah menyuarakan pertandanya, firasatnya.</p>
<p><em>Sing tentrem neng suwargo, Ton! Doaku bersamamu&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/09/firasat-digital.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

