<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; facebook</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/facebook/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengunggah foto vulgar? Perlukah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 07:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[horror]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>
		<category><![CDATA[vulgar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, sekitar pukul sebelas, aku masuk ke ruang komputer, menyalakan laptop hendak mulai mengerjakan beberapa proyek sampingan yang tertunda pengerjaannya karena kesibukan kerja utama akhir-akhir ini. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk selalu membuka beberapa link favorit sebagai &#8216;pemanasan&#8217; sebelum kerja beneran dimulai dan beberapa diantaranya adalah radio streaming site, blog, google reader dan facebook [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html" title="Permanent link to Mengunggah foto vulgar? Perlukah?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_fotovulgar.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Mengunggah foto vulgar? Perlukah?" /></a>
</p><p>Suatu malam, sekitar pukul sebelas, aku masuk ke ruang komputer, menyalakan laptop hendak mulai mengerjakan beberapa proyek sampingan yang tertunda pengerjaannya karena kesibukan kerja utama akhir-akhir ini. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk selalu membuka beberapa link favorit sebagai &#8216;pemanasan&#8217; sebelum kerja beneran dimulai dan beberapa diantaranya adalah <em>radio streaming site</em>, <em>blog</em>, <em>google reader</em> dan <em>facebook</em> serta email. Aku biasa menghabiskan waktu sekitar lima belas menit pertama sebelumnya akhirnya menutup semua kecuali &#8216;radio streaming&#8217; yang menemaniku sepanjang jam kerja.</p>
<p>Ketika membuka facebook, malam itu, alangkah kagetnya aku menemui salah seorang teman mengunggah foto jenasah yang baru dilayatnya beberapa waktu sebelumnya lengkap dengan perasaan hati yang menggambarkan betapa ia kehilangan atas kepergiannya. Akupun menghiba karenanya, namun sayangn tak hanya itu yang kurasakan. Foto itu&#8230; ya gara-gara melihat foto itu meski sekilas, malam yang harusnya bisa kumanfaatkan untuk bekerja harus kulupakan begitu saja. Kalian boleh bilang aku penakut masa ngeliat foto jenazah saja langsung <em>&#8216;ngeper&#8217;</em>&#8230; tapi kenyataan yang lebih tepat sebenarnya adalah aku kehilangan mood untuk bekerja. Aku lalu memilih untuk mematikan laptop, melipatnya dan memasukkan ke dalam drawer dan segera naik ke atas mencoba untuk tidur.</p>
<p>Lain kisah.<br />
Masih di facebook. Akhir-akhir ini barangkali banyak dari kalian melihat foto dan kisah seorang Ibu di Jepang yang tertimbun tanah sedang memeluk anaknya. Sebagai manusia yang berperasaan tentu foto dan kisah itu menerbitkan rasa haru yang teramat sangat. Namun bukannya aku tak terketuk untuk lebih mencintai Ibuku kalau aku harus bilang <em>&#8220;Cukup!&#8221;</em> Tak perlulah kisah berfoto itu disebarluaskan dan ulas-ulas sedemikian sering sehingga alih-alih membuat kita semakin iba, yang ada justru membuat mood kita kocar-kacir karena rasa iba itu sendiri dan terlebih foto yang menyayat hati.</p>
<p>Lain lagi kisahnya.<br />
Suatu pagi yang juga tak jauh dari sekarang, ketika mengakses facebook sembari duduk di toilet, aku menemui foto sosok anak korban aborsi yang terbujur kaku berdarah-darah dan di bawahnya tertulis kisah tentang bagaimana perasaan &#8216;si anak&#8217; itu dipersonifikasikan seolah-olah ia masih hidup dan &#8216;bertanya&#8217; kenapa ia harus diaborsi. Aku makhluk ber-Tuhan dan dalam hal ini menolak keras-keras aborsi dengan alasan apapun mengingat kehidupan adalah anugerah Tuhan&#8230; Tapi, foto yang sangat vulgar karena menunjukkan darah dan mayat itu alih-alih membuat iba, yang ada malah mual. Hal ini juga berlaku untuk foto anak kecil berusia lima tahunan, korban selamat yang mengalami penyiksaan oleh orang tuanya dan ditampilkan dengan wajah lebam-lebam penuh luka. Pointnya apa? Ingin membuat rasa iba yang berlebihan? Ingin mengingatkan orang untuk tak berbuat serupa?</p>
<p style="text-align: center;">*      *      *</p>
<p>Melihat itu semua, aku jadi tertarik untuk bertanya, apa sebenarnya tujuan mereka menyebarkan foto dan kisah tersebut ke ranah social media?<br />
<em> &#8220;Tujuannya share, Don!&#8221;</em> Ok, aku setuju bahwa salah satu kekuatan social media adalah bagaimana kita bisa berbagi (share) informasi, tapi bagaimana kalian bisa mengatur kekuatan itu kupikir adalah hal yang mempengaruhi perilaku orang per orang dalam social media itu sendiri. Membagikan sesuatu dalam kerangka sosial idealnya harus selalu bertujuan membangun sesama dengan menekan sekecil mungkin angka kerugian yang ditimbulkan, kan?</p>
<p>Tidak tahukah kamu wahai kalian yang menyebarkan foto-foto sadis nan vulgar itu bahwa tak semua orang memiliki tingkat sensitivitas dan reaksi yang sama ketika melihat gambar yang sedemikian horor dan vulgarnya? Tujuan kalian mungkin bagus, granted&#8230; tapi ekses-ekses buruknya akan sejauh mana mampu mengaburkan kebaikan yang kalian tawarkan? Kalian toh harus pahami hal itu.</p>
<p><em>&#8220;Kalau nggak suka silakan un-tag atau unfollow atau&#8230; block saya!&#8221;</em> kalian bisa teriak demikian namun sebenarnya itu bukan penyelesaian; malah kupikir itu adalah jawaban yang tak cukup nyambung. Kenapa? Tindakan untuk unfollow/block adalah pilihan yang bisa diambil KETIKA peristiwa penyebaran foto-foto vulgar TELAH terjadi&#8230; tapi inti kejadiannya adalah bahwa foto-foto itu TELAH terbagi dan terlihat! Sama saja halnya kalau kamu hidup bertetangga dengan keluarga yang memiliki bayi. Suatu malam kalian muter lagu rock keras-keras dan menyebabkan bayi mereka kaget dan menangis sejadi-jadinya semalam-malaman&#8230; Akankah kalian juga bilang <em>&#8220;Silakan tutup pintu apartmentmu atau pindah dari sini dan jauh-jauh dariku!&#8221;</em> Apapun yang kalian tawarkan solusinya, termasuk misalnya kamu yang memilih pindah dari situ atau (kalau masih kurang gila) kamu yang meminta dia pindah, intinya anaknya telah menangis dan mereka begitu dirugikan oleh tindakanmu tersebut.</p>
<p>Tak hanya itu&#8230; pada kasus penyebaran foto jenasah atau korban kekerasan misalnya, seberapa pedulikah kalian pada hak seseorang untuk tak ditampilkan di muka publik?<br />
O well, jelas kalian tak bisa minta ijin pada &#8216;sang&#8217; jenazah karena mereka toh telah meninggal dunia, namun kepada keluarganya? Sudahkah kalian mendapat ijin bahwa untuk sekian jumlah foto dengan beberapa pose akan tampil di social media? Bagaimana pula dengan anak-anak korban kekerasan? Pernahkah kalian dengar bahwa kebanyakan para psikolog sangat menganjurkan orang-orang dekat para korban untuk tak mempublikasikan foto ke siapapun termasuk media luas terkait dengan trauma yang mungkin timbul ketika mereka beranjak dewasa?</p>
<p style="text-align: center;">*      *      *</p>
<p>Saranku untuk kalian yang mengunggah foto ke social media ataupun menyebarluaskannya, berpikirlah berulang-ulang sebelumnya karena sekali ia tersiar, reduplikasi ataupun re-share dari orang lain ke orang lainnya lagi adalah hal yang angka pertambahannya bersifat eksponensial! Cukup dengan kata-kata. Tak perlu dukungan sepotong foto pun kalau itu hanya dimaksudkan untuk menghadirkan kesan terlebih kalau harus mengisinya dengan foto-foto sesadis itu?</p>
<p>Kalaupun dirasa perlu, kenapa tak menampilkan foto-foto keindahan dan menceritakan hal-hal memilukan dari sudut pandang keindahan? Itu bukan sesuatu yang sulit kok!<br />
Misal, kalian ingin menceritakan sosok Ibu yang mati dalam posisi melindungi anaknya di Jepang itu&#8230; Kenapa tak kau pasang saja foto ibu yang menggendong anaknya (tentu setelah mendapatkan ijin dari fotografer maupun tokoh yang ditampilkan fotonya) dan mulai bercerita dari angle &#8220;Sang Ibu tak bisa lagi menggendong anaknya seperti ini, ia telah mati melindungi anaknya bla-bla-bla&#8221;</p>
<p>Sementara untuk kalian yang -teriritasi- oleh foto-foto vulgar itu, jangan ragu untuk bertindak! Block user, laporkan sebagai spammer ataupun nyatakan keberatan secara langsung kepada yang bersangkutan adalah langkah yang menjadi HAK kalian selain diam! Suarakanlah pula keberatan kalian itu kepada pemerintah dan departemen terkait supaya ambil tindakan. Jangan ragu mengingatkan mereka untuk tak hanya pandai memblokir foto-foto yang terkait pornografi saja karena kalau memang menurut mereka vulgar itu hanya dibatasi dinding tebal bernama pornografi, sepertinya kita harus lebih sabar untuk menunggu mereka bertindak lebih pintar daripada itu.</p>
<p><em>Tulisan ini diunggah tepat pada hari kematian <strong>Steve Jobs</strong> (1955 &#8211; 2011).  Beristirahatlah dalam damai, di Surga butuh banyak &#8216;Apple&#8217;, Steve!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/10/06/mengunggah-foto-vulgar-perlukah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang blog yang mulai sepi komentar</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/06/02/tentang-blog-yang-mulai-sepi-komentar.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/06/02/tentang-blog-yang-mulai-sepi-komentar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 16:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[Blog bagaimanapun kuat dan fenomenalnya, ia tetap sebuahlah entitas yang mengalami pasang surut dan tetap berada dalam garis daur hidup yang mengenal istilah lahir, berproses lalu mati sebagai takdirnya. Oleh karenanya, ketika kita mengamati mulai ada beberapa blog yang sudah tak terlalu diurus oleh pemiliknya, atau ketika tiba-tiba ada blogger yang memutuskan untuk &#8216;hiatus&#8216; menutup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Blog bagaimanapun kuat dan fenomenalnya, ia tetap sebuahlah entitas yang mengalami pasang surut dan tetap berada dalam garis daur hidup yang mengenal istilah lahir, berproses lalu mati sebagai takdirnya. Oleh karenanya, ketika kita mengamati mulai ada beberapa blog yang sudah tak terlalu diurus oleh pemiliknya, atau ketika tiba-tiba ada blogger yang memutuskan untuk &#8216;<em>hiatus</em>&#8216; menutup blognya, itu adalah hal yang perlu kita mahfumkan sebagaimana kita memaklumkan ketika mendapati kabar tentang orang meninggal. Demikian pula ketika ada blog baru yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan, ya, itupun sesuatu yang normal selayaknya kita mendengar kabar tentang bayi lucu yang baru dilahirkan.</p>
<p>Kematian (dan kelahiran) blog-blog itu lantas hendak kukaitkan dengan apa yang menjadi kekhawatiran <strong>Mister Entah</strong>, seorang blogger kugiran yang datang kepadaku beberapa waktu lalu dan ngudar-rasa mengungkapkan bahwa jumlah komentar per post di blognya menurun drastis sebulan ini.<br />
<em> &#8220;Lho, tapi apa pengaruhnya antara pasang surut dunia perbloggeran dengan sedikitnya komentar di blogku, Don?&#8221;</em> tanyanya pasrah.</p>
<p>Begini.<br />
Menurutku, apapun istilahnya, kita harus sama-sama jujur terlebih dahulu untuk menganggap bahwa tak semua komentar yang kita terima itu datang dengan ketulusan dari komentatornya. Komentar, sejatinya hadir untuk memperkaya konten atau setidaknya sebagai sarana pengapresiasian terhadap konten yang dihadirkan si penulis, dalam hal ini blogger.</p>
<p>Ada beberapa komentar, tak semua, yang datang karena pemberi komentarnya mengharapkan kunjungan serta komentar balik dari kita ke blog serta tulisan-tulisannya. Ketika harapan itu terpenuhi, maka yang ada kemudian adalah hubungan &#8216;timbal-balik&#8217; yang seimbang. Setiap ada tulisan baru di blog milik A, maka si B akan segera berkomentar di sana, sementara ketika ada tulisan baru di blog milik B, maka si A buru-buru &#8216;meninggalkan jejak&#8217; pula di sana.</p>
<p>Haramkah itu? Tentu tidak selama kedua belah pihak sama-sama menikmatinya, bukan?<br />
Akan tetapi semuanya menjadi &#8216;tidak nikmat&#8217; ketika misalnya si B karena bosan, memutuskan untuk tidak nge-blog lagi. Dalam kondisi demikian, akankah tetap tercipta hubungan bahwa si B meski tak ngeblog lagi namun ia tetap memberi komentar ke setiap tulisan A? Bukannya berpikir negatif, tapi kalau memang demikian adanya, si B adalah seorang yang berhati mulia atau tulisan-tulisan di blog A sangatlah kuat dan menarik.</p>
<p><em>&#8220;Itulah&#8230; itulah simpul yang kuanggap menghubungkan antara fenomena &#8216;kematian blog&#8217; dengan menurunnya jumlah komentar pada blogmu!&#8221;</em> jawabku pada si Mister Entah yang termangu kehilangan daya hanya gara-gara kehilangan komentar begitu banyak di tulisan-tulisannya.</p>
<p><em>&#8220;Lantas selanjutnya?&#8221;</em> tanyanya.<br />
<em> &#8220;Carilah teman-teman baru!&#8221;</em> jawabku.</p>
<p>Ingat,  beberapa blog bahkan yang kesohor sekalipun boleh mati karena ditinggal pemiliknya, tapi percayalah pada takdir bahwa sepuluh blog mati, berpuluh-puluh lainnya tumbuh menggantikannya. &#8216;Tangkaplah&#8217; mereka menjadi kawan, bukan lawan! Jangan berpikir <em>&#8220;Ah, mereka anak baru!&#8221; </em>tapi justru berpikirlah <em>&#8220;Ah, ada anak baru.. sepertinya menarik untuk dijadikan teman!&#8221;</em></p>
<p>Lantas bagaimana caranya berteman?<br />
Jangan munafik, lemparkanlah komentar untuk mengapresiasi tulisannya dan tunggulah apa yang terjadi selanjutnya, apakah ia akan membalas komentarmu atau tidak.</p>
<p>Haram? Sekali lagi, tidak&#8230;<br />
Naif? Kalau hanya berhenti di sini barangkali iya&#8230; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oleh karenanya, teruslah berlanjut!<br />
Kembangkan sayapmu dengan menggunaan jejaring sosial yang sedang marak digunakan.<br />
Sampaikan lewat <strong>Twitter </strong>dan <strong>Facebook </strong>tentang tulisan-tulisan terbarumu sehingga kawan-kawan yang ada di jaringanmu akan tahu dan sudi mampir ke blogmu. Eh, jangan lupa juga bahwa ada banyak &#8216;mantan blogger&#8217; yang surut menulis karena aktif di dua jejaring sosial itu dengan alasan spontanitas dan &#8216;kemudahan&#8217;. Siapa tahu &#8216;kehadiranmu&#8217; di sana menjadi pelita bagi mereka untuk kembali ke &#8216;<em>khittah</em>&#8216;, nge-blog meski jangan berlaku sebaliknya, kamu yang keblinger dengan nikmatnya komunikasi instant yang ditawarkan dan lupa kepada blogmu sendiri!</p>
<p><em>&#8220;Sudah, itu saja?&#8221;</em> tanya Mister Entah tak sabar.<br />
<em> &#8220;Oh belum&#8230; yang terpenting dari semua yang paling penting adalah menulislah secara konsisten dan selalu berusaha menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Ah, Klise!&#8221;</em> tukas Mister Entah skeptis.</p>
<p>Memang!<br />
Tapi percayalah konsistensi akan menampakkan dirimu di belantara blog yang pasang-surut. Semakin kamu konsisten, harusnya semakin lancar pula cara menulismu. Tinggal pilih topik yang menarik tapi tak bombastis, analisa dan ungkap dengan jelas dan menyenangkan menggunakan bahasa yang mudah dipahami maka jadilah tulisan yang menarik.</p>
<p>Tulisan yang menarik, harusnya, menarik pula minat baca banyak orang sehingga kalaupun tetap sepi komentar, berpikirlah positif! Berpikirlah bahwa barangkali tulisanmu sudah terlalu baik sehingga mereka tak perlu lagi berkomentar. Atau berpikirlah sebaliknya, barangkali kamu harus terus belajar untuk menulis dan menulis sehingga perbanyaklah praktek menulis! Hanya itulah cara untukmu meningkatkan konsistensi dan kualitas-kualitas tulisanmu.</p>
<p><em>&#8220;Begitu! Puas?&#8221;</em> tanyaku.<br />
Mr Entah tampak manggut-manggut. Bola matanya mulai bermain-main riang, dan meski masih dikulum, kuperhatikan senyum tampak mulai membersit di bibir kusamnya.</p>
<p><em>&#8220;Nah, sekarang kamu sudah lega kan&#8230; coba kutanya balik padamu, Mr Entah, sedari tadi kamu mengeluhkan soal komentar di blogmu&#8230; Sebenarnya, seberapa penting sih komentar itu bagimu?&#8221;</em></p>
<p>Senyum itu mendadak pudar. Bola matanya kembali beku, Mr Entah mengernyitkan dahi pertanda otaknya sedang mengunyah pelan-pelan pertanyaanku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/06/02/tentang-blog-yang-mulai-sepi-komentar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

