<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; global warming</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/global-warming/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Berhentilah mencetak dokumen digital</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/08/12/berhentilah-mencetak-dokumen-digital.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/08/12/berhentilah-mencetak-dokumen-digital.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 07:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[go green]]></category>
		<category><![CDATA[kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1010</guid>
		<description><![CDATA[Berpartisipasi untuk tetap mengawetkan bumi sebagai planet yang layak ditinggali barangkali adalah demikian&#8230; Lebih dari satu dekade aku mengukuhkan diri sebagai orang yang harus mencukupi hidupnya melalui singgungan dengan dunia komputer dan internet. Selama itu, jika dirata-rata barangkali tak kurang dari setengah waktu per hari kuhabiskan dengan jalan bekerja di depan layar komputer. Ada begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Berpartisipasi untuk tetap mengawetkan bumi sebagai planet yang layak ditinggali barangkali adalah demikian&#8230;</p>
<p>Lebih dari satu dekade aku mengukuhkan diri sebagai orang yang harus mencukupi hidupnya melalui singgungan dengan dunia komputer dan internet. Selama itu, jika dirata-rata barangkali tak kurang dari setengah waktu per hari kuhabiskan dengan jalan bekerja di depan layar komputer. Ada begitu banyak hal yang harus kukerjakan di situ. Mulai dari pekerjaan hingga hiburan pun terkadang cukup bisa terpenuhi hanya dengan memandang dan mengamati informasi-informasi yang bersliweran di layar komputer.</p>
<p>Namun meski demikian, satu hal yang sejak dulu tak bisa kuatasi hanya dengan menggunakan layar komputer adalah ketika aku perlu membaca detail sebuah dokumen.<br />
Bagi kalian yang pernah kuliah Teknik Informatika dan ingat tentang mata kuliah Pengantar Ilmu Komputer barangkali ingat betapa kebanyakan dari kita hanya bisa membaca scanning di layar komputer dan demikianlah halnya denganku.<br />
Misalnya ketika butuh membaca email yang panjang lagi penting, aku dengan spontan langsung memencet tombol Ctrl+P untuk mencetaknya dalam format kertas, membacanya lalu kalau perlu memberi bubuhan ini itu di atas kertas menggunakan pensil ataupun pena.<br />
Belum lagi ketika mengunduh ebook dan membacanya. Namanya saja ebook, tapi pada kenyataannya, ia menjadi buku yang sebenarnya yang lantas kucetak dan kubaca.</p>
<p>Kenapa bisa demikian?<br />
Jauh dari segala teori yang pernah kupelajari, pada dasarnya aku merasa bahwa ketika aku menggenggam kertas dan membaca tulisan yang dicetak adalah lebih &#8216;meyakinkan&#8217; ketimbang hanya memelototi screen layar dan membaca di sana.<br />
Ini memang menyangkut pola kebiasaan; menyangkut tentang apa yang kita dapat dan pelajari pada awal kita bertumbuh. Aku, dan sebagian besar dari kita, tumbuh pada masa dimana kertas telah dapat diproduksi dengan mudah dan murah dan kita terbiasa dimanja oleh keadaan tersebut. Sehingga, ketika datang sebuah era baru dengan teknologi terbaru ditambah lagi dengan <em>concern</em> yang semakin meninggi menyangkut konservasi alam yang menuntut kita untuk beralih dari ketergantungan terhadap sesuatu ke suatu yang lain, dalam hal ini kertas ke layar monitor, kita cenderung gagap menanggapinya.</p>
<p>Aku berharap kebiasaan &#8216;buruk&#8217; ini akan semakin terkikis dalam diri kita serta terlebih pada mereka, manusia-manusia yang baru akan dewasa sekitar 10-20 tahun lagi.<br />
Aku tak bisa membayangkan jika anak-anak generasi Odi, anakku, nanti masih juga harus mencetak email ataupun ebook maka harus ada berapa juta pohon yang harus ditebang untuk diproses menjadi kertas hanya demi kenyamanan dan atas nama kebiasaan yang telah uzur usianya itu? Anak-anak, bagaimanapun juga harus dibiasakan untuk melakukan interaksi dengan layar komputer sebanyak mungkin dan perlahan-lahan melupakan bahwa kertas adalah media yang baik untuk dibubuhi tulisan dan dibaca. Mereka harus mengubah pola pandang bahwa pohon adalah makhluk hidup yang bisa membantu kita lebih pada bagaimana membantu menciptakan lingkungan hidup yang layak ketimbang sebuah bahan baku untuk kepentingan-kepentingan pribadi kita seperti misalnya untuk keperluan properti, furniture dan kertas itu tadi.</p>
<p>Jadi, please, stop bagi kalian yang barangkali sudah tak sabar mencetak postingan ini untuk dibaca dan jadi teman tidur&#8230; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <em>*eh emang ada?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/08/12/berhentilah-mencetak-dokumen-digital.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampah Handphone</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/07/17/sampah-handphone.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/07/17/sampah-handphone.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 16:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[mobile muster]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[waste management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[Hingga detik ini, satu hal yang kupercayai terkait dengan isu bobroknya manajemen penanganan sampah di seluruh dunia adalah karena sikap konsumtif kita terhadap produk-produk yang limbahnya tidak ramah lingkungan hidup, termasuk handphone. Sikap konsumtif yang kumaksud adalah gaya hidup yang lebih mengedepankan nikmat dan nyamannya memiliki handphone terbaru serta meninggalkan yang lama padahal dari sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Hingga detik ini, satu hal yang kupercayai terkait dengan isu bobroknya manajemen penanganan sampah di seluruh dunia adalah karena sikap konsumtif kita terhadap produk-produk yang limbahnya tidak ramah lingkungan hidup, termasuk handphone.  Sikap konsumtif yang kumaksud adalah gaya hidup yang lebih mengedepankan nikmat dan nyamannya memiliki handphone terbaru serta meninggalkan yang lama padahal dari sisi kegunaan, handphone yang lama masih bisa difungsikan secara baik dan optimal.</p>
<p>Marilah kita sejenak melongok ke belakang, kapan pertama kali kamu menggunakan handphone dan sudah berapa kali kamu ganti bukan dengan alasan rusak tapi lebih karena supaya tak ketinggalan jaman?</p>
<p>Aku sendiri memiliki sejarah per-henpon-an yang cukup &#8216;mengesankan&#8217; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Sejak pertama kali menggunakan handphone tahun 2000, aku nyaris selalu berganti handphone setiap tahunnya.<br />
Malah kalau tak salah ingat sejak 2004 hingga sekarang, aku menggunakan dua nomor pada dua handphone. Alasannya klasik, aku ingin membagi arus informasi dalam dua kanal, kanal pekerjaan dan kanal personal. Tapi alasan itu tetaplah hanya menjadi alasan karena pada praktiknya, penggunaan kedua nomor malah jadi tak optimal meski memiliki dua handphone sekaligus adalah pemuas nafsu konsumtifku itu tadi.<br />
Oh ya ada satu lagi yang hampir kelupaan untuk kuceritakan, minimal setiap tahun sekali, aku selalu mengganti handphone-handphone itu dengan edisi terbaru dengan alasan yang tak kalah klasiknya, supaya tak ketinggalan jaman!</p>
<p>Nah, bayangkan jika di dunia ini ada lebih dari sejuta orang yang berpola pikir serta bersikap sepertiku, maka secara logika, dari tahun 2000 hingga 2010, sejuta orang itu akan memiliki handphone dan &#8216;sampah&#8217; handphone sebanyak (1 + 1 + 1 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2) x 1 juta = 15 juta handphone!</p>
<p>Di negara berkembang seperti Indonesia, barangkali &#8216;sampah&#8217; itu tetap bisa terkendali karena seperti yang pernah dan selalu aku lakukan dulu, sebelum aku membeli yang baru, beberapa saat sebelumnya aku telah menjual terlebih dulu yang lama. Akan tetapi, bagi negara seperti Australia, karena harga handphone baru semakin murah, handphone second hand jadi tak memiliki pasar dan oleh karenanya,<br />
sangat jarang orang menjual handphone bekas. Akibatnya, orang-orang yang mengikuti teknologi sebagai mode dan gaya hidup itu akan menumpuk begitu banyak handphone tak terpakai di rumahnya dan tinggal menunggu waktu saja sebelum akhirnya dibuang begitu saja.</p>
<p>Persoalannya sekarang adalah, hampir semua bagian handphone yang terbuang itu bersifat tak dapat diuraikan dalam kurun waktu yang singkat, malah beberapa komponennya memiliki sifat yang meracuni lahan pembuangan! Tentu saja ini bukan sesuatu yang menyenangkan di tengah maraknya isu pemanasan global dan rusaknya keseimbangan lingkungan hidup, kan?</p>
<p>Nah, saat jalan-jalan ke mall weekend silam, ketika sedang masuk ke sebuah toko peralatan elektronik yang cukup ternama, aku menemukan sebuah kotak berisi handphone-handphone bekas yang terpajang di dekat kasir. Kotak tersebut menarik perhatian karena sebagai orang yang dulu &#8216;hobi&#8217; gonta-ganti handphone, tentu kotak itu membuatku flashback ke belakang, mengingat jenis-jenis handphone yang pernah kumiliki dan sekarang &#8216;tinggal nama&#8217; itu. Ada puluhan bahkan ratusan handphone yang tertumpuk di kotak itu. Aneka rupa handphone keluaran hingga tiga tahun silam, semuanya dibiarkan tak bertuan di situ.</p>
<p>Mau dikemanakan tumpukan handphone itu?<br />
Ternyata eh ternyata, ada sebuah layanan yang namanya <strong><a href="http://www.mobilemuster.com.au/">Mobile Muster</a></strong> yang melakukan jasa pembuangan limbah handphone secara baik dan terstruktur, sehingga meski tak mungkin dapat mereduksi 100 persen<br />
pembuangan limbahnya tapi setidaknya faktor perusakannya diminimalkan.</p>
<p>Handphone-handphone itu didekonstruksikan.<br />
Bagian-bagian yang memang tak bisa dipakai lagi akan dibuang dalam pembuangan khusus yang terproteksi dari lahan bebas. Sementara itu bagian-bagian yang bisa digunakan kembali (reuse) akan diurai dan dikelompok-kelompokkan untuk kemudian dipakai lagi pada produk-produk baru. Alhasil, perusahaan-perusahaan produsen handphone dan barang-barang elektronik lainnya yang bisa menggunakan bahan dasar yang sama dengan handphone pun jadi punya pilihan untuk tidak selalu mengambil bahan dasar langsung dari alam, melainkan menggunakan yang pernah dipakai sebelumnya dan telah diurai dengan baik.</p>
<p>Sebuah wujud dari tujuan yang begitu mulia, bukan?<br />
Tapi bagiku, sebenarnya jika mau lebih dioptimalkan &#8216;kemuliaan&#8217; nya, ide untuk me-recycle itu bisa dipecah dua dengan tak hanya mengurai namun juga mengirimkannya ke negara-negara lain yang membutuhkan handphone-handphone lama tersebut untuk keperluan komunikasi. Aku berpikir demikian karena selain bisa lebih meminimalkan lagi kemungkinan kerusakan alam, pembagian maupun penjualan dengan harga murah bagi handphone-handphone tak terpakai itu bisa menekan angka penjualan handphone-handphone baru sehingga meski langkah ini akan banyak dibenci oleh produsen-produsen handphone, setidaknya hal itu akan lebih memberikan arti tentang bagaimana kita menjaga alam ini untuk tetap lestari dalam waktu yang lebih lama lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/07/17/sampah-handphone.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhemat Air</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/11/25/berhemat-air.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/11/25/berhemat-air.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 17:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[water]]></category>
		<category><![CDATA[water restriction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Air memang sumber daya alam yang bisa diperbaharui, tapi seiring berjalannya waktu dan semakin besarnya populasi manusia diperparah lagi dengan penyempitan lahan hijau yang berfungsi untuk menjaga air tanah, pembaharuan dari sembarang air menjadi air bersih menjadi perkara yang tidak terlalu mudah. Menjelang musim panas yang akan dimulai tepat pada 1 Desember 2009 ini, hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div style="text-align:center;"><a href="http://view.picapp.com/default.aspx?term=water&amp;iid=300582" target="_blank"><img src="http://cdn.picapp.com/ftp/Images/0297/ff624c31-b7c3-4575-97ab-25fbd0402d4d.jpg?adImageId=7779087&amp;imageId=300582" border="0" alt="Glass of Mineral Water" width="320" height="480" /></a></div>
<p><script src="http://cdn.pis.picapp.com/IamProd/PicAppPIS/JavaScript/PisV4.js" type="text/javascript"></script></p>
<p>Air memang sumber daya alam yang bisa diperbaharui, tapi seiring berjalannya waktu dan semakin besarnya populasi manusia diperparah lagi dengan penyempitan lahan hijau yang berfungsi untuk menjaga air tanah, pembaharuan dari sembarang air menjadi air bersih menjadi perkara yang tidak terlalu mudah.</p>
<p>Menjelang musim panas yang akan dimulai tepat pada 1 Desember 2009 ini, hampir di setiap negara bagian di Australia diterapkan tata aturan <em>water restriction</em>, pengetatan aturan penggunaan air untuk keperluan umum. Seperti apakah penjabaran tata aturan tersebut, beberapa yang bisa kusebutkan diantaranya seperti pembatasan penggunaan air untuk pengisian kolam renang, aturan pelarangan menyirami tanaman dengan air hingga larangan untuk mencuci kendaraan pada jam-jam tertentu. Untuk mendapatkan informasi tentang water restriction khusus negara bagian New South Wales, silakan <strong><a href="http://www.sydneywater.com.au/Savingwater/WaterRestrictions/">klik di sini</a></strong>.</p>
<p>Tapi terlepas dari ada tidaknya aturan tersebut dan tak pandang dimanapun kita berada, kupikir hal-hal di bawah ini bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa menahan pemborosan penggunaan air untuk konsumsi rumah tangga. Demi bumi yang lebih menawan, masa depan kita sendiri dan mungkin agak berlebihan, akan tetapi.. demi anak cucu kita pula!</p>
<p><strong>Mandi empat menit!</strong><br />
Beberapa waktu yang lalu aku jalan-jalan bersama istri ke <strong>Taronga Zoo</strong>, di salah satu expo booth terpampang pengumuman dari <strong>Energy Australia</strong> yang mensosialisasikan gerakan <em>&#8220;Mandi (shower) cukup 4 menit!&#8221;</em><br />
Aku sempat terbelalak, <em>&#8220;What!!! Empat menit?? Itu bahkan belum cukup untuk membersihkan kedua kakiku!&#8221;</em></p>
<p>Tapi setelah kuamat-amati dan sedikit bertanya pada penjaga stand kenapa harus &#8220;hanya empat menit&#8221; jawabannya adalah karena efisiensi!  Tahukah kamu bahwa bahkan mandi selama empat menit di bawah shower itu sudah sama saja dengan menghabiskan energi sebesar energi yang dibutuhkan untuk menghidupkan sebuah LCD tv selama delapan jam?<br />
Dan rata-rata moncong shower itu memuncratkan air sebanyak 9 liter per 1 menitnya?</p>
<p><strong>Mandi sehari sekali</strong><br />
Beberapa waktu lalu ketika aku memasang status di Facebook dan Twitter bahwa aku mandi hanya sekali, banyak teman berkomentar <em>&#8220;Jorok! Pantes bau!&#8221;</em><br />
O well, aku harus katakan bahwa kalau hal ini dilakukan di Indonesia memang benar-benar akan jorok dan bau karena tingkat humiditas (kelembaban) yang tinggi yang membuat kita mudah berkeringat dan kulit berminyak. Akan tetapi, di Australia, tingkat humiditas betul-betul rendah sehingga kulit tidak terlampau mudah untuk berkeringat apalagi berminyak. Jadi, mandi sehari sekali adalah sesuatu yang cukup tepat dalam rangka pengiritan debit air yang kita pergunakan serta mempertahankan kelembaban kulit.</p>
<p>Strategi paling tepat untuk mengatur &#8216;mandi sekali&#8217; kupikir adalah dengan mandi tepat menjelang tidur sehingga semua kotoran yang menempel seharian akan luruh, kita tidur dalam keadaan bersih dan keesokan paginya, kita bisa mulai beraktivitas kembali dalam kondisi yang juga tetap bersih.</p>
<p><strong>Siram Setengah dan Siram Penuh</strong><br />
Kebanyakan jamban toilet yang dipasarkan dan dipergunakan saat ini adalah jamban yang dilengkapi dengan <em>flush tank</em> untuk menyiram kotoran tubuh yang kita buang ke dalamnya. Tahukah kamu bahwa sekali kita pencet tombol yang penuh (biasanya ada dua opsi, tombol yang penuh dan tombol setengah), maka sekitar 7 &#8211; 8 liter air bersih tergelontorkan untuk membuang kotoran kita. Dan, bayangkan jika air bersih sebanyak itu dipergunakan untuk konsumsi minum, maka keperluan 1 &#8211; 2 hari bagi seseorang akan terpenuhi.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana cara mengiritnya?</strong><br />
Beberapa bulan terakhir ini aku memilih menggunakan tombol setengah untuk menyiram jamban ketika buang air kecil, dan tombol penuh untuk menyiram ketika buang air besar. Pola pikirku mudah, pergunakan air untuk menggelontor sesuai dengan besar kecilnya &#8220;hal&#8221; yang hendak digelontor <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Penggunaan Air Hujan</strong><br />
Penggunaan air hujan apabila ditunjang dengan peralatan yang memadai bisa dipergunakan dalam skala luas hingga misalnya ke pengisian flush tank di toilet serta pengisi air bak mesin cuci. Tapi tentu itu membutuhkan alat serta pemeliharan yang keduanya membutuhkan biaya.  Tanpa alat, bukannya kita tak bisa memanfaatkan air hujan. Beberapa contoh penggunaan air hujan untuk pemenuhan kebutuhan adalah dengan memanfaatkan ember untuk menampung air hujan dan bisa kita gunakan untuk mencuci mobil serta pakaian, juga bisa pula dimanfaatkan untuk menyirami tanaman.<br />
Namun meski demikian, beberapa isu terkait dengan penggunaan air hujan adalah isu kesehatan karena bisa saja air yang mengalir melalui atap rumah sudah terkontaminasi dengan polusi yang sebelumnya menempel di atap. Selain itu air hujan yang disimpan lama-lama di bak terbuka bisa dimanfaatkan nyamuk untuk berkembang biak.</p>
<p><strong>&#8216;Cebok&#8217; kering vs &#8216;Cebok&#8217; basah</strong><br />
Setahun selalu ketika pindah dari Indonesia ke Australia, &#8216;cebok&#8217; adalah sebuah jurang yang harus kulompati dari yang &#8216;basah&#8217; ke yang &#8216;kering&#8217;.<br />
Yang kumaksud dengan cebok basah adalah cebok (membersihkan permukaan dubur selepas buang hajat) dengan menggunakan air, sementara cebok kering adalah cebok dengan menggunakan tissue kering.<br />
Puji Tuhan aku bisa melaluinya dengan baik dan ditinjau dari sisi pengiritan air, aku menyumbang beberapa liter air setiap hari dengan tidak menggunakan air untuk mencebok.<br />
Tapi jangan ditanya soal bersih tidaknya, aku tetap tak mengiyakan bahwa cebok dengan tissue adalah lebih bersih ketimbang dengan air.<br />
Untuk itu aku mengatur waktu, bahwa waktu yang paling tepat untuk buang hajat adalah sesaat sebelum mandi sehingga sesudahnya kita bisa membilas permukaan dubur dengan air dan sabun.</p>
<p><strong>&#8216;Berhemat&#8217; Pakaian</strong><br />
Maksudku, kalau memang tidak terlalu kotor, jangan mencuci pakaian maupun celana setiap sekali pakai demi pengiritan air untuk mencuci. Aku juga terbiasa memilih baju/kaos yang bukan berwarna putih dan terlampau terang karena pemilihan warna-warna tersebut akan memudahkan pakaian kita tampak lebih mudah kotor.<br />
Untuk menakar kapan pakaian harus dicuci, aku biasa menggunakan standar &#8220;seberapa bau&#8221; pada bagian lipatan ketiak serta lengan untuk kemeja/kaos, atau pada bagian pantat dan selangkangan serta paha depan untuk celana. Keuntungan tinggal di daerah dengan kelembaban yang rendah seperti Australia, yang kurasai, adalah pakaian yang tak perlu dicuci bahkan dalam 3 kali pakai karena keringat yang sangat jarang keluar.</p>
<p>Oh ya, hal ini tentu tak berlaku untuk pakaian dalam termasuk kaus kaki. Untuk hal ini aku sangat stritch, menggantinya setiap hari satu kali. <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagaimana dengan cara kalian menghemat air?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/11/25/berhemat-air.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

