<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; hikayat tattoo</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/04/28/hikayat-tattoo-6-akhir-yang-bukan-akhir.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/04/28/hikayat-tattoo-6-akhir-yang-bukan-akhir.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 00:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya. Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S9d9-SZIoTI/AAAAAAAAAm8/rAaf6Pts8IY/s512/kaki_kanan.jpg" alt="" width="127" height="512" />Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya.</p>
<p>Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area tattoo yang akan cukup besar bahkan terbesar ketimbang yang sebelum-sebelumnya. Belum lagi area tattoo yang berada tepat di pangkal paha yang menurut Munir akan sedikit lebih menyakitkan ketimbang yang sudah-sudah mengingat area tersebut ada di sekitar persendian dan permukaan kulitnya bukan merupakan kulit yang biasa digunakan untuk beraktivitas; sebuah kenyataan baru yang kupelajari justru ketika aku sedang ditattoo.</p>
<p>Kami memulainya tepat jam 10 pagi di hari minggu itu, 2 Januari 2005.<br />
Proses sketsa yang biasanya dilakukan secara spontan oleh Munir, kali ini dikerjakan secara lebih hati-hati mengingat detail gambar yang memang cukup realistis. Setengah jam sesudah sketsa selesai, Munir mulai menorehkan tinta dengan menggarap outline tubuh Yesus.</p>
<p>Istirahat yang cukup pada malam sebelumnya dan makan sayur-sayuran serta menghindari daging terbukti cukup membantu menyangga staminaku. Hingga proses pembuatan outline untuk Yesus, pita bertuliskan El Shaddai hingga burung merpati, aku praktis tak merasakan deraan sakit yang luar biasa.</p>
<p>Dua jam tak terasa terlewati.<br />
Munir menawariku untuk break sejenak makan siang tapi aku menolaknya.<br />
Bagiku, makan siang lebih bisa ditahan tapi rasa sakit yang kemungkinan bisa timbul karena proses penghentian bakalan lebih tak bisa dielakkan.<br />
Memasuki pukul satu siang, hujan mulai turun membasahi seputaran barat kota Jogja, dan Munir telah menyelesaikan pita bertuliskan El Shaddai dengan sangat menakjubkan juga beberapa gurat wajah Yesus telah pula diselesaikan dengan sempurna.</p>
<p>Satu hal yang sangat kunikmati dalam proses pembuatan tattoo adalah perasaan berdebar-debar menanti seperti apa hasil tattoo yang sedang dikerjakan, dan kali itu, untuk kesekian kalinya aku tetap bisa merasakan sensasi itu. Ini bukan sesuatu yang berlebihan tapi nikmatnya lebih tak terperikan.. Jauh dibandingkan kalau kita mengamati seorang pelukis melukis di atas kanvasnya. Kanvas bisa dilempar dan dibuang lalu digantikan dengan yang baru kalau pelukis merasa gagal untuk melampiaskan hasrat berkeseniannya. Tapi tattoo? Bagaimana mungkin seorang tattoo artist membuang kulit kliennya lalu meminta kulit yang baru. Kepada siapa? Seberapa lama? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sekitar pukul dua kurang sepuluh menit, ketika Munir sedang mengerjakan gambar Burung Merpati, satu hal yang tak kuinginkan terjadi, listrik padam!<br />
Damn! Aku mengumpat sejadi-jadinya! Proses pembuatan tattoo tidak bisa tidak sangat bergantung pada asupan daya listrik karena mesin yang digunakan untuk menggerakkan jarum penoreh tinta adalah dinamo kumparan yang hanya bisa digerakkan oleh listrik.</p>
<p>Rasanya hampir hilang akal!<br />
Untuk pulang dalam keadaan &#8216;setengah jadi&#8217; barangkali adalah pilihan yang terbaik, tapi bermain-main dengan perasaan tak puas untuk sebulan berikutnya ketika kulit sudah siap untuk melanjutkan ditattoo adalah satu hal yang sangat kuhindari.</p>
<p>Kami berpikir keras.<br />
Munir menyarankan untukku pulang tapi aku tetap berkeras untuk berpikir lebih beras lagi.<br />
Hingga akhirnya, satu keputusan yang tak disangka pun terjadi.</p>
<p>&#8220;Aku tunggu sampai listrik hidup!&#8221; ujarku pada Munir.<br />
&#8220;Tapi mau seberapa lama? Kamu kuat?&#8221;<br />
&#8220;Itu yang akan jadi batasannya!&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221;<br />
&#8220;Ya, ketika listrik hidup, tattoolah aku.. kalau aku sudah tak kuat aku pulang&#8230; tapi aku tak mau pulang sekarang&#8230;&#8221; ujarku.</p>
<p>Maka kamipun menunggu hingga listrik hidup kembali.<br />
Setengah jam berlalu dan sekitar sepuluh menit sesudahnya, listrik pun hidup lagi.<br />
Ada perasaan lega karena sebuah penungguan yang menjemukan terlewati tapi perasaan khawatir lantas meraja.. Khawatir apakah aku akan tetap sanggup untuk ditattoo atau&#8230;</p>
<p>Munir kembali melanjutkan menorehkan tinta ke pahaku.<br />
Sesaat setelah menyelesaikan gambar Burung Merpati dengan baik, ia beralih ke gambar sinar.<br />
Seperti yang kuceritakan di Hikayat Tattoo sebelumnya, sinar kupilih untuk menggambarkan &#8216;adanya ruang&#8217; dan ruang kuanggap sebagai representasi dari Bapa yang tak terlepas dari Putra (Yesus) dan Roh Kudus (Burung Merpati).</p>
<p>Pukul tiga lebih sedikit.<br />
Dan aku tak bisa memungkiri lagi bahwa staminaku untuk menahan sakit telah mulai tandas hingga ke permukaan.<br />
Tapi kali ini aku tak mau menyerah dengan keadaan ini, bagiku, membayangkan sebuah gambar utuh bisa terselesaikan sore itu adalah sebuah obat ampuh untuk memompa kembali staminaku beberapa level ke atasnya.</p>
<p>Tapi tak disangka, sebuah kejutan yang berulang terjadi!<br />
Ketika Munir sedang mencampur warna di palet untuk menghias tubuh Yesus, sebagai bagian akhir dari tattoo El Shaddai-ku, listrik kembali padam!</p>
<p>Dan sebelum Munir bertanya kepadaku, aku telah lebih dulu menjawab &#8220;Tenang wae! Aku masih kuat&#8230; kutunggu dan kamu lanjutkan!&#8221;</p>
<p>Waktu penungguan nan menjemukan pun kembali kami alami.<br />
Karena ketika saat itu aku masih perokok aktif, beberapa batang rokok kuhabiskan sebagai pengganti makan siang yang hingga saat itu belum juga kusantap. Kami berusaha untuk saling menghibur diri dengan banyak bercakap dan bercerita tentang apapun yang bisa dibicarakan untuk menyilapkan kebosanan.<br />
Sementara staminaku kembali menurun dan tak bisa ditutupi lagi, separuh permukaan pahaku telah melepuh bengkak.</p>
<p>Menjelang pukul lima, listrik pun menyala kembali.<br />
Kali ini aku tak menyambutnya dengan gembira karena kegembiraan yang barangkali ada pun bukanlah satu kenyataan melainkan hanya sugesti yang menutupi keadaan yang sesungguhnya.</p>
<p>&#8220;Don, kayaknya nggak bisa!&#8221; tukas Munir menatapku.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221;<br />
&#8220;Kulitmu sudah bengkak, pori-porimu sudah membesar.. aku nggak yakin bisa memasukkan tinta kalau keadaannya sudah demikian..&#8221;</p>
<p>Aku terdiam.<br />
Kecewa? Iya!<br />
Menggerutu? Aku tak tahu kepada siapa harus kulemparkan gerutuanku itu.<br />
&#8220;Tapi bagaimanapun juga tattoomu sudah jadi!&#8221;<br />
Aku diam.</p>
<p>&#8220;Kita lihat saja nanti, tapi instingku bilang, tubuh Yesus tampaknya tak perlu diwarnai.. biarkan Dia menggunakan warna kulitmu saja&#8230;&#8221;<br />
Aku tetap terdiam meski beberapa saat sesudahnya ketika hasil tattooku telah jadi semuanya aku sangat menyesali keterdiamanku ini. Kenapa? Karena apa yang dikatakan Munir adalah benar. Tubuh Yesus tanpa torehan warna kulit adalah keputusan terbaik karena jika tidak, maka justru Dia tak tampak alami dengan campuran warna sebagus apapun itu.</p>
<p>Munir segera membungkus luka tattooku dengan plastik seperti biasa.<br />
Aku menyalami dan merangkul dia.<br />
&#8220;Nuwun! Akhire kabeh rampung!&#8221; ujarku pada Munir.</p>
<p>Matahari telah menjingga sementara hujan yang sejak siang tadi membasahi telah reda menyisakan genangan air, bau tanah serta suhu dingin yang menerbitkan romansa yang entah bertitle apa.<br />
Aku memanggil taksi dan setelah berpamitan dengan Munir, akupun masuk ke kabinnya.<br />
&#8220;Kemana, Mas?&#8221;<br />
&#8220;Papringan, Pak!&#8221;</p>
<p>Dan taksi pun melaju. Pikiranku melamun hingga ke langit.<br />
Berbagai hal meluncur di bayangan dan salah satunya adalah mimpi Marto yang pernah &#8216;menubuatkan&#8217; aku bahwa suatu waktu aku akan memiliki tattoo yang memenuhi panjang kakiku.<br />
Sesaat kupandangi sekujur kaki kananku, dan kini aku telah tak memiliki lagi setungkai kaki mulus nan alami.<br />
Sepanjang hidupku jika tak diamputasi, maka seluruh gambar itu akan menjadi teman paling setiaku hingga mati.</p>
<p>Menjelang perempatan Pingit aku mengurungkan niatku untuk pulang.<br />
Kulirik jam tanganku, pukul enam kurang lima belas menit.<br />
&#8220;Pak, nggak jadi ke Papringan.. antar saya ke Gereja Kotabaru&#8230;&#8221;<br />
Lima menit kemudian akupun telah berada di bibir pintu Gereja St Antonius Kotabaru.</p>
<p>Madah nyanyian pembukaan sedang dipersiapkan riuh ramai orang bersiap mengikuti perayaan ekaristi.<br />
Dengan langkah terpincang-pincang dan diperhatikan begitu banyak orang, aku melangkah tenang masuk ke dalam gereja.<br />
Tattoo itupun sore itu kupersembahkan sebagai sebuah pujian bagi Dia yang kupuja.<br />
Bukan sesuatu yang sempurna indahnya tapi justru disitulah, kemanusiaanku kuletakkan.<br />
Memberikan yang terbaik dari keterbatasan yang ada bagi Tuhan.<br />
Ah, semoga&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/04/28/hikayat-tattoo-6-akhir-yang-bukan-akhir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (5), El Shaddai</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/04/21/hikayat-tattoo-5-el-shaddai.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/04/21/hikayat-tattoo-5-el-shaddai.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=636</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. El Shaddai dalam bahasa Israel adalah salah satu gelar untuk Tuhan, Allah Maha Besar. Aku jatuh cinta pada ungkapan &#8220;El Shaddai&#8221; sejak aku mengenal lagu dengan judul yang sama yang pertama kali kudengar pada awal dekade 2000 an silam. Demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p>El Shaddai dalam bahasa Israel adalah salah satu gelar untuk Tuhan, Allah Maha Besar.<br />
Aku jatuh cinta pada ungkapan &#8220;El Shaddai&#8221; sejak aku mengenal lagu dengan judul yang sama yang pertama kali kudengar pada awal dekade 2000 an silam.</p>
<p>Demikian liriknya,</p>
<p><em>Tak usah kutakut, Allah menjagaku<br />
Tak usah kubimbang, Yesus pliharaku<br />
Tak usah kususah, Roh Kudus hiburku<br />
Tak usah kucemas, Dia memberkatiku</em></p>
<p><em>El Shaddai, El Shaddai, Allah Maha Kuasa<br />
Dia besar, Dia besar, El Shaddai Mulia<br />
El Shaddai, El Shaddai, Allah Maha Kuasa<br />
BerkatNya berlimpah, El Shaddai</em></p>
<p>Aku tak berani bilang bahwa lagu itu menguatkan hidupku karena bagaimanapun juga Tuhanlah yang melakukannya, namun aku harus berani menyatakan betapa lagu dan lirik lagu itu adalah salah satu penyulut yang menyadarkanku kembali bahwa ada Something yang menjaga, memelihara dan menghibur hingga akhirnya memberkati sepanjang hidupku.</p>
<p>Maka jadilah! El Shaddai dalam konteks &#8216;kata&#8217; kuletakkan pada urutan paling puncak konsep tattooku selanjutnya.<br />
Namun semua tentu tak selesai hanya dengan menorehkan kata &#8216;El Shaddai&#8217;, itu jauh dari rasa puasku!</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S83ArPFxQXI/AAAAAAAAAkk/Qsey8lcml2U/konsep_tattoo.jpg" alt="" width="500" height="554" />
	<p class="wp-caption-text">Konsep tattoo El Shaddai (Gambar asli)</p>
</div>
<p>Aku lantas memanfaatkan waktu sekitar sebulan lamanya untuk menerjemahkan El Shaddai dalam bentuk gambar sehingga bisa menjadi sesuatu yang lebih bermakna implisit ketimbang hanya tulisan saja.</p>
<p>Bersumber pada lirik lagu itu tadi, aku lantas berpikir tentang konsep yang sangat teknis dalam lingkungan Gereja Katolik Roma, Tritunggal Maha Kudus. Aku tak kan menjelaskan di sini seperti apa itu karena aku sendiri pun sejatinya tak mengetahui barang secuil kukupun dari konsep suci ini.</p>
<p>Tapi yang jelas, sebagai penjabaran konsep tattoo &#8216;El Shaddai&#8217; itu, aku lantas memilih figur Yesus dan burung merpati sebagai Roh Kudus. Lalu, figur apa yang menjadi Bapa?</p>
<p>Dan, ini adalah pertanyaan yang paling susah untuk kujawab!</p>
<p>Semula aku berpikir Bapa sebagai matahari.<br />
Tapi kupikir ini juga kurang tepat karena matahari adalah barang ciptaan seperti halnya manusia.<br />
Lantas setelah mencari referensi, Bapa dalam sastra lama sering dilukis sebagai orang tua berjenggot yang bijaksana.<br />
Tapi instingku menolak karena ia akan lebih tercitrakan sebagai Abraham, Nuh ataupun Musa atau kalau tidak, hey apakah Bapa itu adalah manusia?</p>
<p>Dan akhirnya, pikiranku menuju ke sebuah pemikiran bahwa Bapa kulukiskan sebagai sebuah ruang.<br />
Sebagai sesuatu yang memberi ruang kepada Yesus dan Roh Kudus untuk berkarya.<br />
Dan karena ruang itu tak bisa dilukiskan dalam gambar, maka kuimbuhi cahaya di dalamnya.<br />
Bagiku, cahaya bisa tampak jika ada ruang dan oleh karenanya aku tak mewakilkan Bapa sebagai cahaya, tapi ruang dengan cahaya menunjukkan bahwa Bapa itu ada.</p>
<p>Malam itu juga sketsa kasar kurampungkan dengan terus memperdengarkan lagu El Shaddai dari pemutar mp3 ku.<br />
Sekitar pukul satu malam semuanya terselesaikan dan segera kukirim sms ke Munir<br />
<em> &#8220;Gambarku wes dadi.. Secara filosofi rodo abot tur kowe ra sah mbahas sing penting nattoo hehehe&#8221;</em><br />
Tak lama kemudian Munir pun menjawab &#8220;<em>Yes! Tentukan tanggal Mas Bro!</em>&#8221;</p>
<p>Dan kurasakan Tuhan semakin berada di pihakku!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/04/21/hikayat-tattoo-5-el-shaddai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (4), Aku duwe konsep!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/04/17/hikayat-tattoo-4-aku-duwe-konsep.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/04/17/hikayat-tattoo-4-aku-duwe-konsep.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 16:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Kerumitan dan betapa menyiksanya proses pembuatan dan penyembuhan tattoo yang keempat yang kuceritakan di Hikayat Tatto (3) ternyata membuatku harus berhenti sejenak untuk melanjutkan tattooku setahun lamanya. Bukannya jera atau tak bisa ditattoo dengan pertimbangan kesehatan, tapi lebih karena kupikir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p><img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S8a5W8BOw4I/AAAAAAAAAkE/JyELSpAkP78/blog_tattoo4.jpg" alt="" width="407" height="704" />Kerumitan dan betapa menyiksanya proses pembuatan dan penyembuhan tattoo yang keempat yang kuceritakan di Hikayat Tatto (3) ternyata membuatku harus berhenti sejenak untuk melanjutkan tattooku setahun lamanya. Bukannya jera atau tak bisa ditattoo dengan pertimbangan kesehatan, tapi lebih karena kupikir aku butuh jeda untuk mengembalikan syaraf keberanianku yang mengkerutnya tak sebanding dengan meluap-luapnya nafsu untuk ditattoo.</p>
<p>Ah, jangan ditanya bagaimana rasanya menahan rindu setahun itu&#8230;<br />
Ditattoo memang menyakitkan, tapi setahun tidak ditattoo dan selama itu sakitnya lebih benar-benar terasa ketimbang ditattoo sekalipun! Maka, sesudah semuanya berlalu, dengan penuh kegembiraan, sebuah pertanyaan terbit di dalam hatiku, &#8220;What&#8217;s next? Apa dan bagaimana tattooku selanjutnya?&#8221;</p>
<p>Aku merasa berada di persimpangan waktu itu&#8230;<br />
Kenyataan yang tersedia adalah setungkai mata kaki hingga betis kaki kananku telah terisi penuh dengan tattoo non-konsep sementara masih ada sebidang kulit di paha yang bisa dirajah tinta. Di satu sisi persimpangan, aku ingin dan bisa saja meneruskan tattooku tanpa konsep, membiarkan <strong>Munir</strong>, tattoo artistku bermain semaunya dia.<br />
Tapi di sisi lain, aku merasa perlu untuk membuat sebuah &#8216;gong&#8217;, sebuah ending yang menyengat dari rangkaian tattooku sebelum-sebelumnya, tapi aku tetap tak tahu apa!</p>
<p>Tiga bulan pun berjalan dan aku masih terus didera pikiran yang terbalut pertanyaan sederhana <em>&#8220;What&#8217;s next? Apa dan bagaimana tattooku selanjutnya?&#8221;</em></p>
<p>Hingga suatu sore, aku tercerahkan!<br />
<em> &#8220;Aku duwe konsep!&#8221; </em>lantangku kepada Munir lewat sambungan telepon sore itu. Munir hanya tergelak entah apa maksudnya namun barangkali ia berpikir betapa akhirnya aku terikat juga dengan satu hal yang dinamakan konsep.</p>
<p>Kami sepakat bertemu pada suatu hari di bulan September 2004.<br />
Lalu kepada Munir, kusampaikan bahwa konsep besar dari tattooku selanjutnya adalah agama/religi.</p>
<p>Kenapa aku memilih itu?<br />
Simply karena aku berpikir bahwa &#8216;issue&#8217; agama adalah yang bisa dibilang paling &#8216;selamanya&#8217; untuk mengimbangi sifat tattoo yang permanen itu. Aku memerlukan sebuah konsep yang tak bisa menjemukan pikiranku hingga kapanpun dan kupikir itu adalah agama, tiada lain! Satu-satunya penyesalan yang melebihi kejemuan akan terjadi jika saja aku berpindah agama atau mendadak jadi tak ingin kenal Tuhan. Namun bagiku, meski aku tak terlalu religius, kedua hal pengecualian itu adalah hal yang paling akan kusesali jika harus terjadi, dan aku benci penyesalan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyesal.</p>
<p>Malam itu kami sepakat untuk terus meruncingkan konsep, menajamkan arah hingga pada akhirnya muncul beberapa ide gambar yang bisa diaplikasikan, disesuaikan dengan tattoo yang sudah ada. Hingga menjelang seperempat malam, gambar tak kunjung ditetapkan dan aku memilih untuk meringkus kertas yang ada dihadapanku untuk kubawa pulang dan kuendapkan terlebih dahulu sebelum menetapkan gambar akhirnya.</p>
<p>Sebagai pengobat rindu, malam itu aku menambah tattooku dari lutut hingga beberapa senti ke atasnya.<br />
Anehnya kali ini tanpa rasa sakit yang menyengat padahal setahun sebelumnya, daerah lutut, seperti halnya daerah mata kaki adalah daerah yang paling menyakitkan untuk ditattoo karena minimnya topangan tulang belulang dan banyaknya urat syaraf yang membebat.</p>
<p>Semula kupikir keanehan itu karena sejuta malaikat mendadak berada dipihakku sejak kutetapkan bahwa tema religi akan menjadi konsep tattooku selanjutnya. Tapi kupikir aku yang terlalu banyak berandai-andai&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/04/17/hikayat-tattoo-4-aku-duwe-konsep.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (3), sakit yang tak terperikan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/04/10/hikaya-tattoo-3-sakit-yang-tak-terperikan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/04/10/hikaya-tattoo-3-sakit-yang-tak-terperikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 17:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Juni 2003. Pembuatan tattoo yang ketiga adalah pengalaman yang sangat berharga. Letaknya di bawah betis, mata kaki hingga sedikit menutupi punggung telapak kaki kanan. Kukatakan berharga karena pada fase ini aku menemui kenyataan bahwa sakitnya ditattoo di daerah itu adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p><img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S76KVkHa7AI/AAAAAAAAAjE/Pp6GJJjYook/blog_tattoo_03.jpg" alt="" width="407" height="527" />Juni 2003. Pembuatan tattoo yang ketiga adalah pengalaman yang sangat berharga. Letaknya di bawah betis, mata kaki hingga sedikit menutupi punggung telapak kaki kanan. Kukatakan berharga karena pada fase ini aku menemui kenyataan bahwa sakitnya ditattoo di daerah itu adalah sesuatu yang nyaris tak terperikan.</p>
<p>Semula aku berpikir bahwa proses pembuatan tattoo yang paling menyakitkan adalah di daerah-daerah yang memiliki kulit tipis dan bertulang keras seperti betis bagian depan misalnya. Tapi aku salah besar, justru bagian yang berupa engsel, berkulit tebal dan tak memiliki tulang adalah bagian yang paling menyakitkan untuk disusupi tinta ke dalamnya.</p>
<p>Besar tattoo yang kubuat tak terlalu besar, lebih kecil ketimbang yang kedua malah, namun proses pembuatannya memakan waktu sampai lebih dari dua jam. Selama itu, aku lebih banyak meminta Munir untuk berhenti menattoo, beristirahat sebentar dan melanjutkannya lagi. Begitu terus, berulang-ulang&#8230;</p>
<p>Tak hanya itu, bila pada pembuatan tattoo sebelumnya aku masih bisa berpikir untuk &#8216;ngelayap&#8217; terlebih dahulu ketimbang langsung pulang, tapi kali itu, aku tak memiliki pemikiran lain selain langsung pulang dan beristirahat untuk memberikan tubuh terutama bagian yang ditattoo untuk melakukan pemulihan.</p>
<p>Nyaris seminggu setelah ditattoo aku juga tak melakukan kegiatan apapun. Untung aku dulu bisa memilih tidur di kantor sehingga tak memerlukan banyak jalan untuk beraktivitas.</p>
<p>Tak hanya itu, pada hari kelima , hari dimana seharusnya tattoo mulai sembuh, yang terjadi justru sebaliknya. Engsel mata kaki, betis bagian bawah hingga punggung telapak kakiku mengalami pembengkakan yang cukup jelas akibat pembuatan tattoo. Suhu tubuh pun kurasakan naik meski tak terlalu banyak dan seluruh badan sangat tak nyaman untuk digerakkan.</p>
<p>Pada titik ini aku hampir menyerah. Tak henti-hentinya aku merutuki diri sendiri kenapa harus terus menerus ditattoo kalau akibatnya seperti itu. Kuputuskan untuk pergi ke dokter meminta obat penyembuh dan diberikannya aku antibiotik serta obat penurun demam.</p>
<p>Tiga hari aku bedrest dan pada hari keempat ketika aku mulai beraktivitas, tattoo yang paling menyakitkan pembuatannya itupun mengering serta mengelupas indah. Aku begitu membanggakan tattoo di mata kakiku itu karena tingkat pembuatan serta lama dan beratnya pemulihan yang harus kulakukan untuk mendapatkannya.</p>
<p>Akupun kembali mengutuki diri sendiri kenapa empat hari sebelumnya aku sempat mengutuki diri karena terus menerus ditattoo&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/04/10/hikaya-tattoo-3-sakit-yang-tak-terperikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (2), sejarah yang berkelanjutan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/04/03/hikayat-tattoo-2-sejarah-yang-berkelanjutan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/04/03/hikayat-tattoo-2-sejarah-yang-berkelanjutan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 17:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Suatu malam, setelah tattooku yang pertama mulai mengering, sembuh dari luka pembuatannya, Martho, teman baikku berujar padaku, demikian. &#8220;Don, smalam aku mimpi kakimu dua-duanya bertattoo dari bawah sampai atas!&#8221; &#8220;Hah? Atas gimana maksudmu?&#8221; &#8220;Ya, atas, sampai segini!&#8221; ujarnya sambil mengangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p><img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S7XZYdO5DlI/AAAAAAAAAic/uO2UI99gXiw/blog_tattoo_02.jpg" alt="" width="285" height="369" />Suatu malam, setelah tattooku yang pertama mulai mengering, sembuh dari luka pembuatannya, Martho, teman baikku berujar padaku, demikian. <em>&#8220;Don, smalam aku mimpi kakimu dua-duanya bertattoo dari bawah sampai atas!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Hah? Atas gimana maksudmu?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ya, atas, sampai segini!&#8221; </em> ujarnya sambil mengangkat celana pendeknya hingga ke pangkal paha. Akupun tergelak dibuatnya. Bagiku, apa yang diimpikannya adalah hal yang mustahil ketika itu.</p>
<p><em>&#8220;Segila-gilanya aku, nggak mungkin lah sampe sepanjang itu&#8230;&#8221; </em>tukasku menutup pembicaraan.</p>
<p>Namun pada kenyataannya, tak sampai sebulan sesudah tattoo pertamaku jadi, aku sudah ingin ditattoo lagi! Ada semacam kerinduan untuk merasakan proses pembuatan dan kepuasan ketika melihat hasilnya. Ketagihan? Barangkali, tapi yang pasti, pada titik itu aku belum bisa menyebutkan perasaan itu demikian.</p>
<p>Segera saja kukontak Munir untuk bertanya apakah kira-kira ia punya ide untuk melanjutkan tattooku karena, seperti pada tattoo yang pertama, aku tidak memiliki secuil konsep pun mau dibuat seperti apa tattooku selanjutnya.</p>
<p>Jawaban yang ditunggu pun datang dari mulut Munir. Ia menyuruhku datang untuk berdiskusi tentang tattoo selanjutnya. Diskusi berlangsung menyenangkan. Munir tampak senang dengan hasil tattoo pertamaku. Ia bilang bahwa karakter kulitku yang tak terlalu hitam membuat tinta-tinta yang ditorehkannya terkesan menyala.</p>
<p><em>&#8220;Jadi, gimana Nir?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Gimana apanya?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ya gambarnya&#8230; kamu sudah ada?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Oh, belum! Eh tapi kan tinggal melanjutkan aja dari yang sudah ada ke atas sampai ke lutut!&#8221;</em></p>
<p>Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat apa yang diimpikan Marto tadi namun ah&#8230; itu hanya ilusi. Pada kenyataannya saat ini aku sedang direncanakan untuk ditattoo hingga lutut dan bukan paha!</p>
<p>Hari pelaksanaan dan harga pun disepakati! Aku pergi ke ToxicTattooPark pada hari yang telah ditentukan. Deg-degannya kurang lebih masih sama dengan apa yang kurasakan pada saat tattoo untuk yang pertama kalinya. Namun kali ini lebih ke soal sakit tidaknya ketimbang tentang bagaimana nantinya menghadapi orang-orang yang masih alergi terhadap tattoo maupun mereka yang ingin memberikan penilaian baik dan buruknya desain tattooku nanti.</p>
<p>Ketika tinta-tinta dimasukkan ke lapisan bawah kulit lewat jarum-jarum yang tergerak oleh dinamo, aku juga tak merasa sedang mengukir sejarah yang baru. Bagiku, tattoo kedua adalah lanjutan dari tattoo pertama, dimana sejarah untuk pertama kali digulirkan.</p>
<p>Dan tak seperti sesudah pembuatan tattoo pertama, aku tak memutuskan untuk pergi ke Jazz Coffee atau ke rumah teman sekadar memamerkan tattoo keduaku itu. Aku memilih untuk langsung pulang dan melanjutkan hidup seperti biasa. Mauku memang demikian, menganggap tattoo sudah lagi bukan barang asing maupun mewah. Ia harus kuanggap sebagai sesuatu yang tak lebih dari sekadar bagaimana layaknya kita harus menghirup nafas agar tetap hidup dan makan supaya tetap kenyang&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/04/03/hikayat-tattoo-2-sejarah-yang-berkelanjutan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Tattoo (1), Pelajaran untuk mencintai, pelajaran untuk tidak menyesal</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/03/27/hikayat-tattoo-1-pelajaran-untuk-mencintai-pelajaran-untuk-tidak-menyesal.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/03/27/hikayat-tattoo-1-pelajaran-untuk-mencintai-pelajaran-untuk-tidak-menyesal.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 21:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini. Orang-orang yang memutuskan untuk bertattoo, biasanya sudah memiliki konsep sejak awal sebelum tinta ditorehkan ke kulitnya, akan tetapi tujuh tahun silam, ketika pertama kali aku ditattoo, tidaklah demikian. Bisa dibilang aku tak punya konsep apalagi hal-hal berbau filosofis yang biasanya terdengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik <a href="http://donnyverdian.net/tag/hikayat-tattoo">di sini</a>.</em></pre>
<p>Orang-orang yang memutuskan untuk bertattoo, biasanya sudah memiliki konsep sejak awal sebelum tinta ditorehkan ke kulitnya, akan tetapi tujuh tahun silam, ketika pertama kali aku ditattoo, tidaklah demikian. Bisa dibilang aku tak punya konsep apalagi hal-hal berbau filosofis yang biasanya terdengar &#8220;waw!&#8221;. Niatku, konsepku dan apapun itu yang melatarbelakangiku untuk ditattoo pada awal mulanya hanyalah satu, &#8220;Aku ingin ditattoo!&#8221; .Titik!</p>
<p>Keinginan itu sangat kuat bahkan sebenarnya sudah ada sejak masih duduk di bangku SMP meski waktu itu masih kecil baranya. Aku ingat betul ketika itu aku masih tinggal di Kebumen (Jawa Tengah), di sebuah iklan koran lokal kutemukan iklan jasa pembuatan tattoo dengan gambar-gambar yang waktu itu sudah tampak menarik. Namun, apalah daya, usia yang masih terlampau kecil menghalangiku untuk mewujudkannya. Aku merasa jika aku nekat ditattoo waktu itu, aku tak kan sanggup untuk melawan lingkungan lengkap dengan tata aturan norma yang sudah pasti akan menghajarku. Akupun hanya bisa berandai-andai, suatu mimpi yang tak tahu kapan kesampaian.</p>
<p>Pada waktu kuliah, keinginan bertattoo ku nyaris menjadi kenyataan setelah salah satu teman dekatku, seorang wanita, mentattoo kakinya dengan gambar ikan lumba-lumba. Aku betul-betul tersemangati kala itu terlebih rayuan mautnya menggelitik di telingaku &#8220;Nggak sakit kok, Don! Kamu pasti cocok karena kulit kamu nggak hitam sehingga warnanya bisa tampak indah betul!&#8221; Tapi sayang seribu sayang, ketika tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu, aku berpikir harus lebih berkompromi dengan perut dan bayar sewa kamar kost bulanan terlebih dahulu ketimbang tattoo. Atas nama skala prioritas kebutuhan, akupun mengubur kembali keinginan itu, dan tak berharap banyak kepada angin yang mampu menyingkapkannya.</p>
<p><em>Ssssstttt.. you know what?!? Dua tahun sesudahnya aku bahkan sudah bersiap pergi ke studio tattoo membawa segepok uang dan secarik gambar rancangan tattoo tapi apa daya, halangan sekarang muncul dari orang yang waktu itu jadi pacarku&#8230; tapi syukurlah tak lama sesudahnya kami bubaran hahaha!</em></p>
<p>Tahun 2003 pun datang tanpa firasat bahwa itu adalah tahun dimana aku akan menorehkan sejarah ditattoo untuk pertama kalinya. Semesta seperti telah sepakat dengan seluruh komponennya untuk menjerumuskan aku ke dalam sebuah kenyataan baru bahwa aku bertattoo. Dalam sebuah pertemuan yang tak kusengaja, bersama dengan seorang kawan lama yang baru berlibur ke Jogja dari Jerman, dan seorang kawan lama lagi yang tiba dari Jakarta untuk juga berlibur ke Jogja, kami bertiga seperti diarahkan untuk bertattoo bersama-sama.</p>
<p>Uniknya lagi, ketiga dari kami sama-sama mengantungi satu nama tattoo studio dan satu nama tattoo artist pula. Maka jadilah kami berangkat ke ToxicTattooPark, sebuah studio tattoo yang dimiliki oleh seorang tattoo artist, Munir Kusrianto. Aku tak langsung ditattoo waktu itu. Ferry, temanku yang dari Jakarta yang ditattoo duluan. Alex, sobat dari Jerman tadi hanya merancang tattoo untuk liburan selanjutnya, sedangkan aku hanya diam memendam nafsu.</p>
<p>Seminggu sesudahnya, aku masih tak berkeputusan untuk ditattoo meski keinginan sudah mencapai ubun-ubun. Bukannya ragu, tapi lebih karena aku bingung harus memilih gambar yang seperti apa untuk tempat yang terbaik di sebelah mana dari tubuhku.</p>
<p>Satu hal yang menarik dari apa yang kualami waktu itu adalah, boleh dibilang aku tak perlu ragu sama sekali dengan yang namanya ijin. Papa dan Mamaku hanya bisa pasrah ketika kukabari betapa aku sedang menggebu-gebu utuk ditattoo, mantan kekasihku yang sekarang sudah menjadi istriku saat ini, pun waktu itu tak ragu memberikan ijin&#8230; malah, ia telah bertattoo sekitar sebulan sebelum pada akhirnya aku ditorehi tattoo untuk yang pertama kalinya.</p>
<p>Maka jadilah! Tanggal telah kurancang, hati telah kusiapkan dan uang telah pula kusisihkan. Aku berangkat pada suatu sore ditemani Marto, teman dekatku, ke ToxicTattooPark. Kuserahkan sekitar 15 x 5 cm bagian betis kanan untuk dirajah dengan pola tribal. Prosesnya memakan waktu tak lebih dari 45 menit dengan rasa sakit yang lumayan bisa ditahan namun tetap saja perih.</p>
<p>Mengalami proses ditattoo ternyata tak lebih dari seperti mengalami proses pembuatan sebuah karya seni lainnya, membuat jantung berdebar-debar akan seperti apa hasilnya, dan ketika selesai dengan baik, hati pun berbunga-bunga. Tak sampai sejam setelah ditattoo, aku dan Marto tak langsung pulang. Kami berdua mampir ke Jazz Coffee, sebuah coffee shop langgananku dulu dengan ujub, mau pamer critanya.</p>
<p>&#8220;Woh sangar, Donny tattooan!&#8221; ujar seorang teman yang mendadak berdiri dari kursinya untuk melihat hasil tattooku.</p>
<p>Aku hanya mesam-mesem dibuatnya&#8230;</p>
<p>Lalu yang lain bertanya, &#8220;Tattoo opo? Artine opo? Kenapa kamu milih gambar itu?&#8221;</p>
<p>Akupun terdiam. Aku tak punya jawaban. Satu-satunya cara untuk tetap bertahan adalah menyadari bahwa apapun kata orang, apa yang telah dirajah tak bisa lagi dihilangkan. Mulai saat itu akupun belajar satu hal, mencintai dan menyukai apa yang telah dibubuhkan secara permanen tanpa harus berpikir ke belakang apalagi sampai menyesal. Ah, jangan sampai, jangan pernah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/03/27/hikayat-tattoo-1-pelajaran-untuk-mencintai-pelajaran-untuk-tidak-menyesal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tattoo, Dosa dan Surga</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/03/13/tattoo-dosa-dan-surga.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/03/13/tattoo-dosa-dan-surga.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 17:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat tattoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[Selasa lalu, 9 Maret 2010, aku menghadiahkan kulit leherku untuk ulang bulan Odi yang pertama. Sebuah tattoo bertuliskan &#8220;Odilia&#8221; sejak hari itu bertengger di sana. Ini bukan kali pertama aku ditattoo dan bukan pula sebuah kebetulan kenapa aku memilih hari selasa silam selain karena Munir, tattoo artist langgananku di Jogja dulu sedang berkunjung ke Sydney [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="aligncenter" src="http://lh6.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S5nIUn0iRTI/AAAAAAAAAg8/vgPklCyLzPc/tattoo.jpg" alt="" width="500" height="341" /></p>
<p>Selasa lalu, 9 Maret 2010, aku menghadiahkan kulit leherku untuk ulang bulan Odi yang pertama.</p>
<p>Sebuah tattoo bertuliskan &#8220;Odilia&#8221; sejak hari itu bertengger di sana. Ini bukan kali pertama aku ditattoo dan bukan pula sebuah kebetulan kenapa aku memilih hari selasa silam selain karena Munir, tattoo artist langgananku di Jogja dulu sedang berkunjung ke Sydney untuk sebuah pameran.</p>
<p>Bagiku tattoo adalah sesuatu yang tak terlalu harus dihebohkan apalagi kalau harus disangkutpautkan dengan tata nilai moral dan tingkah laku. Semua (semoga aku tak bohong) tahu aku orang baik, meski aku bertattoo. Kalaupun ada yang menganggap tak demikian, keburukanku bukan karena tattooku <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Soal dosa? Kamu tak takut tak masuk surga? Aku takut dosa tapi bukan yang berasal dari tattoo karena Tuhan, kuyakin tak melihat baik dan buruk orang dari satu hal saja, dari tattoo saja.</p>
<p>Soal surga, bagiku ia adalah milik semua orang baik tak peduli ia bertattoo ataupun tidak. Namun kalaupun surga ternyata memang benar-benar bukan untuk orang bertattoo, apa boleh buat, aku akan buka franchise surga tepat di sebelah surga yang asli dan kubiarkan mereka yang bertattoo, selama dia pernah hidup dengan baik, untuk masuk ke dalamnya.</p>
<p>Fair enough? Happy weekend!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/03/13/tattoo-dosa-dan-surga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

