<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; indonesia</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/indonesia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[harimau sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[taronga zoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2544</guid>
		<description><![CDATA[Awal januari lalu, bersama anak dan istri aku berkunjung kembali ke Taronga Zoo. Kalau dihitung, ini adalah kunjunganku yang ketiga sejak kepindahanku ke Australia, 2008 silam. Yang namanya zoo, di musim liburan seperti sebulan lalu itu pastilah ramai. Antrian orang mengular membeli tiket masuk; rata-rata datang tak seorang diri, tak juga berdua, melainkan berombongan, kebanyakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html" title="Permanent link to Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_kembali.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali" /></a>
</p><p>Awal januari lalu, bersama anak dan istri aku berkunjung kembali ke <a href="http://taronga.org.au/taronga-zoo"><strong>Taronga Zoo</strong></a>. Kalau dihitung, ini adalah <a title="Jalan ke Taronga Zoo" href="http://donnyverdian.net/2009/03/16/jalanke-taronga-zoo.html">kunjunganku yang ketiga sejak kepindahanku ke Australia, 2008 silam</a>.</p>
<p>Yang namanya zoo, di musim liburan seperti sebulan lalu itu pastilah ramai. Antrian orang mengular membeli tiket masuk; rata-rata datang tak seorang diri, tak juga berdua, melainkan berombongan, kebanyakan keluarga.</p>
<p>Namun yang menarik dibanding dengan kunjungan-kunjunganku sebelumnya, ada semacam keriuhan siang itu, penyebabnya tak lain adalah begitu banyak orang antusias untuk menyaksikan <a href="http://www.taronga.org.au/tiger"><strong>tiga anak harimau yang lahir Agustus tahun silam</strong></a> dan siang itu hendak dipamerkan ke khalayak.</p>
<p><em><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_001.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2546" title="kembali_001" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_001.jpg" alt="" width="400" height="443" /></a>&#8220;Ah ini ternyata yang membuat orang antusias bener!&#8221;</em> sergahku ke istri. Aku sendiri tak menganggap hal seperti itu sebagai sesuatu yang istimewa, mungkin karena latar belakangku yang tak begitu menghargai detail seperti itu. Ke zoo ya ke zoo aja, nonton binatang, jalan-jalan, lalu pulang.</p>
<p>Tapi angin membawaku akhirnya untuk tertarik dan &#8216;masuk&#8217; pada &#8216;event&#8217; tersebut. Menjelang pukul 14:30, di sekitar areal tempat makan di dalam Taronga Zoo, seorang petugas datang menyambangi meja dan berkata, <em>&#8220;Hey, tahukah kamu, anak-anak harimau yang lucu itu sedang tidak tidur siang sampai jam 16:30 nanti? Kalau kamu tertarik, datang ke bagian Harimau dan kamu bebas menyaksikannya!&#8221;</em> ujarnya ramah.</p>
<p>Kamipun bergegas. Bukan karena antusiasme terhadap harimau sebenarnya, tapi lebih karena makanan telah usai kami santap dan kami harus jalan lagi sementara sudah banyak binatang favorit yang kami saksikan sebelumnya dan tak tahu lagi mau kemana untuk menghabiskan waktu.</p>
<p>Adapun antrian masuk ke kandang harimau ternyata tak bisa dibilang sepi. Panjangnya antriannya barangkali sama&#8230; atau bahkan aku berpikir jangan-jangan semua orang yang mengantri di depan tadi memang hanya hendak menyaksikan tiga anak macan yang hingga saat itu belum juga membuatku penasaran itu, saking panjangnya.</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_003.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2548" title="kembali_003" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_003.jpg" alt="" width="300" height="428" /></a>Hingga tak lama dari situ, istriku menyadarkanku, <em>&#8220;Eh, ternyata yang baru lahir itu anak harimau sumatra!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Oh&#8230;&#8221;</em> sahutku. Bagiku, bercengkrama dengan Odilia, anakku sambil sesekali melirik linimasa di Twitter via iPhone lebih menarik ketimbang mendengar kata &#8216;harimau sumatra&#8217;</p>
<p>Lalu antrian meringsekku semakin merapat ke dalam dan para petugas zoo semakin keras menyuarakan info-info tentang anak-anak harimau sumatra. Dalam hati aku tetap keukeuh berujar, <em>&#8220;Harimau sumatra? So what!?&#8221;</em></p>
<p>Tak lama kemudian kami telah benar-benar masuk ke lorong menuju kandang harimau, kumasukkan iPhone ke saku dan aku mencoba menikmatinya&#8230; ya, mencoba.</p>
<p>Mendekat menjelang kandang, di sisi kanan dan kiri lorong beratap itu dipasang screen monitor yang membantu menjelaskan tentang asal mula dan seluk beluk ketiga anak harimau itu.</p>
<p>Dan dari beberapa menit pertama tayangan, yang bisa kutangkap adalah bahwa nama ketiga anak sumatra itu adalah <strong>Sakti,</strong> <strong>Kartika</strong> dan <strong>Kembali.</strong> Ketiganya adalah anak pasangan harimau pejantan <strong>Satu,</strong> dan betina <strong>Jumilah.</strong></p>
<p><em>&#8220;Wow, Indonesia sekali ya!&#8221;</em> aku mulai bergairah. Ke-Indonesia-anku merentang dan aku semakin nyaman menyimak.</p>
<p>Tayangan berikutnya adalah tentang bagaimana jenis harimau sumatra termasuk bagaimana mereka semakin terdesak untuk mempertahankan hidup di alam bebas.</p>
<p><em><strong>&#8220;Life in Sumatra is tough for tigers &#8211; it is hard to find safe habitat and enough food&#8221;</strong></em><br />
demikian larik demi larik ditampilkan dalam screen.</p>
<p>Aku tercekat karena pada kenyataannya memang tinggal 400 ekor di habitat aslinya, Sumatra, harimau jenis ini tersisa. Mereka harus bertarung melawan kepunahan karena rusaknya ekosistem yang kebanyakan dialihfungsikan atas nama kesejahteraan makhluk yang lebih tinggi derajatnya daripadanya, manusia.</p>
<p><em><strong>&#8220;Buy sustainable palm oil si a good oil &#8211; insist on it in the product you buy!&#8221;</strong></em></p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_004.jpg"><img class="size-full wp-image-2549 alignright" title="kembali_004" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_004.jpg" alt="" width="294" height="428" /></a>Larik itu muncul di presentasi selanjutnya.<br />
Ya, kita dihimbau untuk tidak sembarang mengkonsumsi minyak kepala sawit selain minyak yang ramah lingkungan. Tentu sudah bukan rahasia lagi bahwa begitu banyak perkebunan kepala sawit didirikan dan dikembangkan di Sumatra. Keberadaannya mungkin bagus bagi ekonomi negara, tapi untuk harimau sumatra?</p>
<p>Nah, ajakan untuk tidak mengkonsumsi minyak kelapa sawit adalah sebagai wujud kepedulian bahwa kita tak butuh kepala sawit selain yang &#8216;ramah lingkungan&#8217; karena pengembangan perkebunannya berarti mempersempit areal hidup harimau sumatra tersebut.</p>
<p>Tak hanya itu, kita juga dihimbau untuk membeli kayu yang ramah lingkungan pula <em>(sustainable timber)</em> serta menggunakan kertas daur ulang karena dengan demikian maka permintaan akan kayu sebagai bahan baku kayu olahan dan kertas akan menyusut dan hutan di Sumatra sana jadi tertunda untuk semakin cepat digunduli sehingga diharapkan, harimau sumatra tetap tak kehilangan habitat dan makanannya.</p>
<p>Mungkin dari kita banyak bertanya, <em>&#8220;Kan sudah ada reboisasi? Penghijauan kembali lahan yang bekas pakai?&#8221;</em></p>
<p>Benar! Tapi, pikirku, reboisasi pun bukan pilihan terbaik mengingat butuh waktu berapa lama untuk memulihkan ekosistem yang seimbang bagi harimau sumatra? Katakanlah sebuah pohon akan tumbuh dalam waktu puluhan tahun untuk mencapai besar yang sama dengan yang ditebang, maka haruskah selama itu pula harimau sumatra dan rantai makanan dibawahnya menunggu perbaikan alam? Dan, selama waktu menunggu itu semua mereka harus terus kucing-kucingan dengan manusia yang keberadaannya semakin mengepung mereka?</p>
<p>Tayangan screen usai dan antrian membawaku mendekat ke kandangnya dari balik kaca. Dan, ketika aku berada di jarak yang paling dekat dengan anak-anak harimau itu, Bummm! Aku tak kuasa untuk tak jatuh cinta kepadanya. Ketiga anak harimau itu begitu lucu, bermain ke sana kemari, sesekali menggelendot manja ke Jumilah, Ibunya, sementara si Satu, bapaknya, mengamati dari jauh.</p>
<p>Hidup di alam bebas bagaimanapun juga adalah dambaan bagi setiap makhluk hidup karena setiap kehidupan yang diselenggarakan menawarkan kehendak bebas.</p>
<p>Namun, membandingkan dengan apa yang terjadi belakangan di alam aslinya dengan apa yang kulihat saat itu, meski harus hidup dalam alam imitasi dengan intensi hidup di alam &#8216;kebun binatang&#8217; untuk diteliti dan dipamerkan kepada khalayak, aku justru berharap bahwa Kembali dan saudara-saudara kandungnya itu tak perlu kembali ke Sumatra, ke alam asalnya.</p>
<p>Maaf, bukannya aku lebih percaya pada harimau, tapi manusia terkadang lebih sering mengelastiskan pikiran dan niatnya tergantung situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya.</p>
<p>Niatnya pada mulanya biasanya bagus dan mau mengkonservasi alam, tapi ujung-ujungnya kalau kepepet akan takutnya cepat berubah untuk berujar, <em>&#8220;Pilih mana? Harimaunya hidup tapi kami tak bisa makan dan tak ada tempat tinggal? Atau sebaliknya?&#8221;</em></p>
<p>Aku tersontak dari lamunan panjangku ketika petugas memintaku bergeser dari kandang karena antrian berikutnya sudah tak sabar ingin menikmati bagaimana lincahnya harimau-harimau sumatra itu di kandangnya.</p>
<p>Sesaat sebelum bergegas pergi, aku menoleh ke Sakti, Kartika dan Kembali, melalui kaca yang banyak menyisakan uap air dengus nafas pengunjungnya, lalu kehidupan pun kembali berjalan seperti sedia kala.</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_002.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2547" title="kembali_002" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kembali_002.jpg" alt="" width="250" height="250" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/02/06/tentang-kembali-dan-saudara-saudaranya-yang-tak-pernah-kembali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maling tetaplah maling</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[maling]]></category>
		<category><![CDATA[permenungan]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[Seorang berteriak, &#8220;Bebaskan maling sandal! Kalau koruptor saja bisa bebas kenapa dia tidak? Dimana letak keadilan kita?&#8221; Pernyataan itu spontan kubalas, &#8220;Kenapa harus dibebaskan, justru kalau dibebaskan, dimana adilnya?&#8221; &#8220;Tapi koruptor maling berjuta-juta lipat ketimbang sandal!?&#8221; &#8220;Itu urusan lain!&#8221; tangkisku. &#8220;Koruptor ya koruptor, maling sandal ya maling sandal!&#8221; &#8220;Nggak bisa dong! Harusnya koruptor dihukum berlipat-lipat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html" title="Permanent link to Maling tetaplah maling"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_maling.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Maling tetaplah maling" /></a>
</p><p>Seorang berteriak, <em>&#8220;Bebaskan maling sandal! Kalau koruptor saja bisa bebas kenapa dia tidak? Dimana letak keadilan kita?&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan itu spontan kubalas, <em>&#8220;Kenapa harus dibebaskan, justru kalau dibebaskan, dimana adilnya?&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Tapi koruptor maling berjuta-juta lipat ketimbang sandal!?&#8221;<br />
&#8220;Itu urusan lain!&#8221; tangkisku. &#8220;Koruptor ya koruptor, maling sandal ya maling sandal!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak bisa dong! Harusnya koruptor dihukum berlipat-lipat lebih kejam ketimbang si maling sandal, Don!&#8221;<br />
&#8220;Benar? Kalaupun benar itu tugas pengadilan dan itu tidak menghilangkan esensi bahwa si maling sandal juga harus dihukum kan?&#8221; balasku.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi&#8230; ini maling sandalnya masih anak-anak lho, Don&#8230; Coba kalau anakmu yang dibegitukan&#8230; Bagaimana reaksimu? Apa ya tetap tega bilang begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anakku maling? Ya kuhukum!&#8221;<br />
&#8220;Ah, tak percaya! Kau pasti akan tak terima kalau anakmu dimejahijaukan!&#8221;<br />
Pembicaraan kuhentikan disitu karena ia telah menjadi bias dan tak menarik lagi.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<blockquote class="left"><p>Bagiku maling adalah maling&#8230;</p></blockquote>
<p>Bagiku maling adalah maling terlepas dia maling sandal, baju, software, waktu, kekuasaan ataupun uang, atau yang biasa disebut sebagai koruptor, ia tetaplah maling. Mau &#8216;bayi&#8217; umur delapan tahun, dua belas, lima puluh ataupun sembilan puluh tahun, kalau dia mengambil barang milik orang lain tanpa ijin tetaplah ia maling. Yang namanya maling, haruslah dihukum dan hukum inilah yang harus disesuaikan berat-ringannya tapi intinya, ia harus tetap dihukum.</p>
<p>Malah, menurutku, hukuman diperlukan oleh si maling itu sendiri sebagai sarana untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Maling tanpa hukuman akan membuat ia selamanya menjadi maling, sebaliknya, ketika seorang maling telah menjalani hukuman, ia berhak untuk hidup lebih baik lagi meski kalau maling lagi ya, dihukum lagi.</p>
<p>Tanpa hukuman atau status terhukum, esensi kesalahan terhadap tindakan maling takutnya juga akan kabur dan masyarakat semakin rabun mana yang baik dan mana yang benar karena keduanya tak ada yang membedakan. Kalau pada akhirnya tiap hukuman itu berbeda ya tak mengapa selama setidaknya tak men-ciderai konsep &#8216;maling tetaplah maling&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Baiklah aku setuju bahwa dalam kasus maling sandal dimana pelakunya masih anak di bawah umur barangkali memang tak pantas dimejahijaukan. Tapi justru ini adalah momentum untuk kita menuntut pada negara bahwa ia harus memfasilitasi keadaan jika ada kejadian seperti ini; maling di bawah umur.</p>
<p>Baiklah aku setuju pula bahwa anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Tapi kalau demikian adanya, apa bentuk pertanggungjawaban orang tua kalau anaknya maling? Ada yang berani menyeret orang tua ke muka hakim karena anaknya maling? Padahal kalau mau fair, karena anak adalah tanggung jawab orang tua, maka ketika si anak melakukan kesalahan dalam hal ini menjadi maling, maka orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan si anak.</p>
<p>&#8220;Ya maksudku, anak jadi tanggung jawab orang tua itu si anak dididik dengan cara orang tuanya masing-masing!&#8221;<br />
Ok, katakanlah demikian, tapi bagaimana cara membuktikan bahwa bentuk didikanmu tak kan membuat anakmu jadi maling? tanyaku.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; ya pasti bisalah.. Lagipula itu cuma sandal gitu loh.. gimana dengan koruptor yang maling trilyunan kok ga dihukum seberat anak itu!?&#8221; balasnya.</p>
<p>Sekarang cuma sandal?<br />
Lalu besok tape dan radio?<br />
Meningkat ke televisi?<br />
Hingga titik itu kamu tetap akan bilang &#8220;Ah, cuma televisi!&#8221; ?</p>
<p>Lalu besoknya lagi uang, dan kekuasaan lalu uang lagi&#8230; semula ribu, juta, milyar, ratus milyar dan terakhir trilyun dan aku akan berkata &#8220;Tak terasa waktu berlalu. Dulu anakmu maling sanndal tak kau apa-apakan dan sekarang anakmu maling trilyunan, dan kau&#8230; kau sudah tak bisa apa-apa sekarang!&#8221;</p>
<p><em>Begitu?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2012/01/16/maling-tetaplah-maling.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang pohon natal mungil nenek yang sering dipajang dulu&#8230;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 06:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2415</guid>
		<description><![CDATA[Martin Place adalah titik nol kilometernya-Sydney. Tempat dimana produsen-produsen busana dan aksesoris pendukung kelas dunia memanjakan konsumen hingga ke ujung-ujung syaraf kepuasan. Menjelang Natal, seperti halnya pusat perbelanjaan lainnya, di sana pun dipajang pohon natal berukuran besar, menjulang dan banyak orang menikmati pemandangan itu ditemani paduan suara yang mengalun lembut menyanyikan Natal, merpati-merpati yang terbang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html" title="Permanent link to Tentang pohon natal mungil nenek yang sering dipajang dulu&#8230;"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_natal_cover.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Tentang pohon natal mungil nenek yang sering dipajang dulu&#8230;" /></a>
</p><p><em>Martin Place</em> adalah titik nol kilometernya-Sydney. Tempat dimana produsen-produsen busana dan aksesoris pendukung kelas dunia memanjakan konsumen hingga ke ujung-ujung syaraf kepuasan. Menjelang Natal, seperti halnya pusat perbelanjaan lainnya, di sana pun dipajang pohon natal berukuran besar, menjulang dan banyak orang menikmati pemandangan itu ditemani paduan suara yang mengalun lembut menyanyikan Natal, merpati-merpati yang terbang rendah ditingkahi anak-anak kecil yang berlari-larian mencoba untuk mengejar lalu menangkapnya.</p>
<p>Ingatanku tiba-tiba melayang ke pohon natal milik nenekku yang dulu selalu dipasang di almari sebelah-menyebelah dengan televisi hitam putih 14 inchinya.</p>
<p>Pohon natal itu tingginya tak lebih dari 75 cm dan setiap Natal pada sekitar akhir 80-an hingga pertengahan 90-an, ketika anak terkecilnya yang adalah pamanku, <strong>Kokok</strong>, masih tinggal di situ, pohon itu dirangkai sejak awal Desember hingga awal Januari tahun berikutnya. Selama kurang lebih sebulan, ia terpasang, terpajang.</p>
<p>Tak ada yang terlalu istimewa dengan pohon natal itu. Tak ada hadiah yang diletakkan di bawahnya, hiasan yang tergantung di dahan-dahan plastiknya pun ala kadarnya, hanya serangkai lampu ‘<em>byar-pet</em>’ warna-warni yang dililitkan di badan pohonnya. Bahkan untuk memberi kesan ‘<em>snow</em>’, Omku yang sekarang tinggal di Purwokerto itu memilih menggunakan kapas yang diambil dari laci meja rias ibunya, Nenekku.</p>
<p>Tapi pohon natal yang mungil itu selalu menjadi saksi keriaan anak-anak nenek yang datang ke rumah itu untuk merayakan keceriaan Natal dan akhir tahun bersama-sama.</p>
<p>Mulai dari yang tertua, keluarga Mamaku yang tinggal di Kebumen waktu itu. Kami biasa datang lebih dulu, “<em>Tergantung liburannya Donny, Bu!</em>” kata Mamaku setiap ditanya Nenek kira-kira tanggal berapa kami akan tiba di Klaten pada liburan Natal tahun itu dan biasanya kami sudah sampai di Klaten pada awal tanggal 20-an, atau lima hari menjelang Natal.</p>
<p>Lalu anak kedua Nenek,<strong> Tanteku (alm) Iin</strong>, biasa datang bersama suaminya, <strong>Om</strong> <strong>Agus</strong> dan kedua anaknya yang waktu itu masih balita, <strong>Chyntia</strong> dan <strong>Aditya</strong>. Mereka datang dari Jakarta, dan biasanya datang juga tanggal 20-an bulan Desember.</p>
<p>Anak ketiga Nenek, <strong>Om</strong> <strong>Momok</strong>, karena ia tinggal di Solo, ‘sepelemparan batu’ jaraknya dari Klaten, malah biasanya tak pernah menginap di Klaten meski ketika pagi beranjak siang, bersama istri, <strong>Bu Yani</strong> dan anak sulungnya <strong>Ndaru</strong> (waktu itu adiknya, <strong>Ucas</strong> belum lahir), telah berada di Klaten untuk sorenya pulang kembali ke Solo, selalu seperti itu.</p>
<p>Anak keempat, <strong>Tante Suzanna</strong> dan anak kelima Nenek, <strong>Tante Yohanna</strong>, keduanya masih ‘single’ waktu itu keduanya biasa datang bersamaan dari Jakarta datang sekitar tiga hari sebelum perayaan Natal.</p>
<p>Sementara Si Bungsu yang biasa memasang pajangan Pohon Natal itu, hingga sebelum melanjutkan studi ke Purwokerto tentu ia berdiam di rumah, namun ketika ia telah pindah ke Purwokerto, biasa ia datang pertengahan bulan Desember ketika libur semester tiba.</p>
<p>Sebagai sebuah keluarga besar, kami benar-benar menyatu. Terlebih karena suasana menjelang dan sesudah Natal, ada beberapa anggota keluarga yang berulang tahun diawali denganku yang berulang tahun pada tanggal 20 Desember, lalu Om Agus pada 22 Desember (beberapa tahun berikutnya, <strong>Adelia</strong>, anak Tante Suzanna pun lahir pada tanggal yang sama) serta Tante  Yohanna yang berulang tahun pada 28 Desember, maka keriaan tak hanya melulu seputar perayaan Natal saja, setiap dari kami yang berulang tahun toh memiliki ‘Natal’ pada tanggal-tanggal yang kusebutkan tadi.</p>
<p>Pagi hari diawali dengan sarapan di meja makan yang bisa berlarut-larut lamanya. Tentu tak sekadar makan putu mayang dan klepon gurih buatan<strong> Bulik Parni</strong>, istri <strong>Mas Sarjoko</strong> yang telah dianggap ‘anak’ oleh Nenek,  tapi juga ngobrol menceritakan apa saja.</p>
<p>Mamaku bersama adik-adik dan menantunya seperti saling berebut cerita sementara <strong>Citra</strong>, adikku, beserta sepupu-sepupunya bermain sendiri sementara aku yang usianya jauh lebih tua ketimbang sepupu-sepupuku lainnya tapi juga tak seusia bahkan dengan Om Kokok, paman terkecilku, memilih untuk main dengan anak tetangga di luar rumah.</p>
<p>Aku lebih ‘<em>tune in</em>’ untuk demikian karena anak-anak tetangga semacam <strong>Agus</strong>, <strong>Cicuk</strong>, <strong>Gower</strong>, <strong>Adi</strong>, <strong>Dani</strong> dan yang lain adalah kawan sepermainan sejak kecil, sejak lahir hingga sebelum tahun 1984, saat Papa memutuskan memboyong Mama dan aku (waktu itu Citra belum lahir) ke Kebumen.</p>
<p><em>Tahun 1998 akhirnya Papa memutuskan untuk memboyong Mama,dan Citra kembali ke Klaten, tinggal di rumah Eyang hingga <a href="http://donnyverdian.net/tag/diek">Papa meninggal April 2011 silam</a>, sementara aku semenjak 1993 telah merantau studi di Jogja. Kini rumah Klaten didiami Nenek, Mama dan Citra, adikku sementara aku menetap di Sydney, Australia sejak November 2008.</em></p>
<p>Selepas sarapan biasanya disambung dengan ‘makan ringan’ sekitar pukul sepuluh pagi saat tukang jajan ‘tenongan’ datang. Tenong adalah jenis alat pengangkut makanan yang digendong seorang ibu menggunakan selendang. Hampir setiap pagi, tukang ‘tenong’ ini selalu datang ke rumah dan ketika musim Natal, alangkah bahagianya dia karena ia tak perlu berkeliling terlalu lama mencari untung, nyaris semua jajanannya selalu laku laris manis di rumah Nenek.</p>
<p>Setelah kenyang sarapan plus makan tenongan, para tante dan om biasanya ber-acara sendiri-sendiri. Om Agus dengan istrinya, Tante Iin misalnya, mereka beserta anaknya Cyntia dan Aditya lebih senang menghabiskan hari untuk jalan-jalan di Jogja maupun Solo sedangkan aku dan Mama serta Citra memilih di rumah karena kami sudah terbiasa untuk jalan-jalan di Jogja waktu itu.</p>
<p>Om Momok, beserta istri dan anaknya mereka juga rajin menjenguk rumah mertua yang berada di Delanggu, sekitar 20 kilometer sebelah timur kota.</p>
<p>Tante Suzanna, Tante Yohanna dan Om Kokok lain lagi. Mungkin karena waktu itu mereka masih muda, masih banyak teman yang bisa dikunjungi yang kebetulan juga sedang sama-sama berlibur Natal, maka mereka pun pergi sendiri-sendiri di areal kota.</p>
<p>Ketika malam Natal tiba, biasanya kami ke gereja bersama-sama. Jadwal misa Natal biasanya jam setengah delapan malam tapi sejak setengah lima kami telah antri mandi dan bersiap serta berdandan.</p>
<p>Dulu waktu Eyang buyut masih ada, selama kami semua ke gereja, rumah hanya menyisakan Eyang buyut karena beliau muslim, ditemani seorang penjaga malam yang usianya nyaris sama dengan usia nenekku, anak eyang buyutku itu.</p>
<p>Ramai-ramai kami berjalan kaki menyeberangi alun-alun ke arah Sidowayah lalu ke<strong> Gereja St Maria Assumpta</strong> mengikuti Misa Ekaristi Malam Natal. Mengenakan pakaian-pakaian terbaik kami (biasanya baru pula), kami mencoba sekusyuk mungkin mengikuti jalannya misa yang biasanya berlangsung sangat lama sekitar 3 jam! Saking bosannya, aku lebih sering tertidur dan kulihat begitu juga dengan sepupu-sepupu yang lain. Bangun-bangun paling ketika<strong> Malam Kudus</strong> atau <strong>Dalam Gua Dingin</strong> dinyanyikan, itupun sekadar mencocokkan nada yang diambil koor Natal dengan yang beberapa hari sebelumnya kumainkan bersama teman-teman sekelasku di sekolah. Tak lebih.</p>
<p>Menjelang tengah malam, selepas misa usai kami kembali jalan pulang dan sesampainya di rumah biasanya kami disambut <strong>(alm) Papa</strong> yang baru datang dari Kebumen. Papa waktu itu masih belum menganut Katholik maka ia tak ke gereja. Tapi bukan karena itu ia memilih datang terpisah dari kami, tapi karena memang saat itu libur Natal tidaklah selonggar sekarang di Indonesia. Dulu, libur Natal, bagi Papaku yang pegawai negeri, adalah benar-benar ketika tanggal ‘merah’, 25 Desember saja.</p>
<p>Tak ada lagu-lagu Natal yang khas seperti yang sekarang banyak diputar di pusat perbelanjaan ataupun iklan-iklan produk di televisi swasta. Namun meski hanya diiringi hujan yang turun serta suhu udara yang mendingin, malam Natal biasanya kami tutup dengan sederhana. Kami masuk kamar kami masing-masing dan membiarkan Pohon Natal mungil itu menyala di ruang makan, di atas almari di samping televisi dan sayup-sayup kudengar Eyangku memutar radio siaran wayang kulit dari kamar sebelah&#8230;</p>
<p>Tanggal 25 Desember pagi, biasanya kami sibuk menerima tamu dari para tetangga yang sibuk menyalami kami dengan Salam Natal. Mereka tak lain adalah ibu dan bapak teman-teman mainku dan kamipun reriungan bersama.</p>
<p>Untuk hidangan, Nenekku menyembelih ayam peliharaannya di pagi hari, lalu mengurapinya dengan bumbu opor dan dihidangkan begitu saja dengan nasi hangat di atas meja. Lalu Mbak Parni dan Mas Sardjoko turut bergabung mereka membawa masakan-masakan andalan mereka yang gurih, manis dan legit khas Jawa.</p>
<p>Menjelang sore, Papa pamit pulang ke Kebumen untuk bekerja. Ia kembali lagi pada menjelang tahun baru untuk sesudahnya pulang bersama kami ke Kebumen dan beraktifitas seperti biasa.</p>
<p>Sisa hari di setiap akhir tahun sesudah Natal kami habiskan dengan tetap bersukaria meski Natal telah beranjak pergi. Bahan obrolan seperti tak pernah habis dari Mama dan adik-adik, adik ipar serta keponakan-keponakannya. Selalu ada hal yang bisa jadi perbincangan konyol ataupun serius dan barangkali kalau istilah ‘gosip’ waktu itu telah awam digunakan, itu adalah kata yang tepat untuk melukiskannya.</p>
<p>Malam tahun baru pun tiba. Papa kembali datang ke Klaten dan bersatu dengan seluruh anak dan menantu serta cucu Nenek menyambut tahun baru.</p>
<p>Tak ada kegiatan yang harus dituntaskan di luar rumah ketika pergantian tahun tiba. Selain karena Klaten adalah kota kecil sehingga tak ada hiburan yang digelar kecuali pertunjukan ketoprak atau wayang kulit semalam suntuk di alun-alun, kami juga merasa tak ada salahnya menikmati malam pergantian tahun dengan ‘<em>lek-lekan</em>’ (begadang <strong>-jawa</strong>) saja lalu saling memberi ucapan selamat tahun baru kemudian tidur.</p>
<p>Tanggal 1 Januari sore hari adalah saat yang paling tidak ditunggu-tunggu. Karena saat itu biasanya kami semua berpisah untuk pulang ke kota kami masing-masing. Tante-tante yang tinggal di Jakarta, mereka pulang menumpang kereta senja sementara aku dan Mama, Papa serta Citra naik kereta <strong>Purbaya</strong> (Kereta api jurusan Purwokerto Surabaya dan sebaliknya).</p>
<p>Kami berpisah di bibir pagar rumah Eyang untuk selalu berjanji mengusahakan kembali datang pada Natalan akhir tahun berikutnya.</p>
<p>Lalu sesudah kami pergi semua, rumah hanya menyisakan Eyang, Eyang buyut ketika beliau masih ada serta Mas Kokok yang tinggal di situ. Mas Kokok pernah bercerita tak lama dari sekarang ini bahwa sore itu adalah sore terberat yang harus dihadapinya di setiap awal tahun datang. Ia harus berpisah dengan keluarga kakak-kakak tercintanya, dan bersiap dengan rutinitas hariannya seperti biasa dan tinggal dengan orang-orang yang sepanjang tahun ia jumpai pula.</p>
<p>Menjelang malam, masih katanya, ia pun mematikan lampu ‘byar-pet’ warna-warni yang dililitkan di pohon Natal nan mungil, menggulung kabelnya dan menempatkan ke kardusnya kembali. Mencabuti dahan-dahan plastik pohon Natal itu, membersihkannya dengan kain lap basah, melepas hiasan-hiasan yang menempel, merawat batang pohonnya, lalu membungkus rapi semuanya dan menyimpannya di bawah almari untuk setahun kemudian dinyalakan kembali.</p>
<p>Kini, sekitar dua puluh tahunan sesudah segala ritual sederhana nan membahagiakan sekaligus mengharukan itu berlalu, setiap memandang pohon Natal dimanapun ia berada dan semegah apapun ia adanya, aku selalu ingat tiga hal, pohon natal nenek, kebahagiaan dan kebersamaan.</p>
<p>Ternyata kebahagiaan itu tak mau kompromi dengan semegah atau sesederhana apapun pernak-pernik perayaan karena disitulah tantangan kita untuk mampu menghadirkan rasa bahagia itu sendiri.</p>
<p>Adapun Natal, mau dirayakan dengan keluarga besar ketika mereka semua masih ada bersama kita, masih mampu dan mau menyempatkan diri untuk berkumpul bersama ataupun setelah sekarang beberapa di antaranya telah meninggalkan kita untuk selamanya ataupun ketika masing-masing kita telah terpisah jarak dan waktu beserta urusan-urusan masing-masing, kita pun ditantang untuk tetap bisa merasakan kebahagiaan dan kebersamaan yang meski terpencar namun tetap memaknai syukur atas Natal.</p>
<p><a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_natal.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2416" title="blog_natal" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_natal.jpg" alt="" width="500" height="347" /></a></p>
<p>Dari Sydney,<br />
aku, <strong>Donny Verdian</strong>, <strong>Joyce</strong>, istriku, dan<strong> Odilia</strong>, anakku, … kami menyampaikan Salam Natal kepada kalian semua pembaca blog ini yang telah begitu setia menjadi sahabat. Penuh cinta dan damai sukacita untuk kalian beserta orang-orang terdekat kalian semua.</p>
<p>Tuhan Yesus memberkati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/26/tentang-pohon-natal-mungil-nenek-yang-sering-dipajang-dulu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2012 dan dunia social media di Indonesia</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/22/2012-dan-dunia-social-media-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/22/2012-dan-dunia-social-media-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 06:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[buzzer]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2402</guid>
		<description><![CDATA[Urusan prediksi-memprediksi itu bukan perkara keahlian seseorang dalam hal yang diprediksikan kok. Kalau memang harus demikian, tentu kalian ingat pada fenomena Paul si Gurita yang memprediksi hasil akhir pertandingan sepak bola padahal mana pernah Paul main sepakbola? Jadi berikut ini adalah prediksiku terhadap apa yang akan terjadi dan menjadi trend dalam dunia social media Indonesia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/12/22/2012-dan-dunia-social-media-di-indonesia.html" title="Permanent link to 2012 dan dunia social media di Indonesia"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blo_2012.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for 2012 dan dunia social media di Indonesia" /></a>
</p><p>Urusan prediksi-memprediksi itu bukan perkara keahlian seseorang dalam hal yang diprediksikan kok. Kalau memang harus demikian, tentu kalian ingat pada fenomena Paul si Gurita yang memprediksi hasil akhir pertandingan sepak bola padahal mana pernah Paul main sepakbola?</p>
<p>Jadi berikut ini adalah prediksiku terhadap apa yang akan terjadi dan menjadi trend dalam dunia social media Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Buzz.. eh, maksudku Social Media Worker</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8230;barangkali ini bisa jadi pilihan berkarir toh masih ‘nyrempet-nyrempet’ IT juga.</p></blockquote>
<p>Social Media Worker akan jadi pilihan jenis pekerjaan alternatif di bidang IT selain programmer, system analyst dan hal-hal lain yang lebih mengarah ke hal teknis.</p>
<p>Ini memang subyektif, tapi kalau boleh aku nilai dari kacamata teknis, social media worker adalah jenis pekerjaan dengan beban pekerjaan yang relatif ringan tapi mendatangkan penghasilan yang tak kalah dibanding kedua yang kusebutkan barusan. Tak ada yang salah dengan adanya jenis pekerjaan baru ini. Jadi untuk kalian mahasiswa yang merasa tak nyaman dengan programming maupun networking, barangkali ini bisa jadi pilihan berkarir toh masih &#8216;nyrempet-nyrempet&#8217; IT juga <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Politik dan Perusahaan</h3>
<blockquote class="right"><p>Aku lebih mempedulikan bagaimana nantinya social media worker yang terlibat di dalamnya bisa menjaga jarak antara idealisme pribadi/komunitas dan tanggung jawab pekerjaan</p></blockquote>
<p>Memanasnya suhu politik menjelang PEMILU 2014 mau tak mau ikut meningkatkan greget social media tanah air. Akan ada banyak orang-orang yang butuh mencitrakan diri ke publik untuk <em>positioning</em> dan <em>boosting up</em> atau istilahnya menaikkan harga tawar terhadap dirinya pada PEMILU mendatang. Akan ada yang banyak butuh &#8216;corong&#8217; untuk menyuarakan opini dan kegiatan-kegiatan sosial-politiknya dan untuk itu banyak social media worker dibutuhkan untuk diberdayakan.</p>
<p>Burukkah? Tidak.<br />
Haramkah? Tidak pula.. Atau setidaknya, tergantung dari sisi mana kamu memandangnya.</p>
<p>Aku lebih mempedulikan bagaimana nantinya social media worker yang terlibat di dalamnya bisa menjaga jarak antara idealisme pribadi/komunitas dan tanggung jawab pekerjaan yang dibebankan kepadanya atas segepok uang yang ia terima. Hal tersebut juga berlaku untuk kalangan perusahaan/instansi yang tak mau ketinggalan membutuhkan kawalan seorang social media worker untuk merepresentasi pesan ke social media.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Kemanusiaan? <em>Close your app! Do action!</em></h3>
<blockquote class="left"><p>bagaimana mengubah ‘penyampaian pesan’ menjadi sesuatu yang lebih ‘implementatif’ daripada sekedar me-retweet atau posting panjang lebar</p></blockquote>
<p>Salah satu sisi baik dari membiaknya Social Media tahun depan adalah semakin mudahnya mobilisasi massa untuk membantu setidaknya menyebarkan informasi atas kebutuhan sosial kemanusiaan. Tahun depan, seperti yang sudah-sudah, misalnya ketika ada bencana (semoga tak ada bencana tahun depan), dengan cepat dan sigap, informasi menyebar ke seluruh penjuru social media dan pesan pun tersampaikan.</p>
<p>Hanya saja yang menjadi titik berat bagiku adalah bagaimana mengubah &#8216;penyampaian pesan&#8217; menjadi sesuatu yang lebih &#8216;implementatif&#8217; daripada sekedar me-retweet atau posting panjang lebar. Diperlukan suatu mekanisme pengitegrasian antara sistem penyampaian informasi yang brilian nan sporadis khas social media dengan pihak yang langsung turun tangan di lapangan untuk menindaklanjuti informasi tersebut.</p>
<p>Atau, kalau berinisiatif, ketimbang asyik retweet ataupun posting supaya kita tampak peduli, lebih baik matikan aplikasimu dan lakukan aksi.. <em>Close your app and do action!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Blog? Hello.. It&#8217;s 2012!</h3>
<p>Tahun 2012 adalah tahun yang sudah tak tepat lagi bicara tentang blog meski masih akan ada begitu banyak orang mengaku dirinya blogger <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Barangkali oleh karena itu pula aku salut dengan orang yang punya ide membuat acara semacam pesta blogger karena dengan demikian acara itu akan selalu teraktualisasi dari tahun ke tahun. Ia tak kan pernah usang karena meski tak pernah ngeblog, sembarang orang toh boleh mendaulat dirinya sebagai blogger jadi mereka boleh dan akan selalu datang di acara-acara tersebut, kan?</p>
<p><em>Semacam memikirkan pesta musisi tapi yang datang pegawai-pegawai tuwir yang ketika ditanya, “Loh, kamu musisi? Bukankah kamu pegawai kantor A?”</em> dan mereka menjawab, <em>“Iya, tapi aku masih sering nyanyi-nyanyi di kamar mandi, jadi aku musisi!”</em></p>
<blockquote class="right"><p>Ada orang bijak beberapa waktu silam berujar padaku bahwa akan ada gelombang yang membawa orang-orang balik ngeblog lagi akhir-akhir ini. Tapi sayangnya aku tak percaya&#8230;</p></blockquote>
<p>Oleh karena itu, aku prediksikan tahun depan tetap akan ada pesta blogger dan tetap akan meriah . Yang menarik justru bungkus apalagi yang akan dipakai untuk mengemas acaranya nanti. Untuk itu maka <em>‘board of advisors’</em> perlu berpikir keras dan pinter-pinter memilih siapa yang pantas menjadi <em>chairperson</em> dan berikut Event Organizernya supaya ‘enak’ dan ‘lancar’ acaranya&#8230; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ))</p>
<p>Mengenai blog itu sendiri, maraknya kanal-kanal social media dengan membawa sistem &#8216;pesan pendek&#8217; berbatas karakter (aku sering mengistilahkannya dengan <em>‘boker kok sepotong-potong’</em>) dalam menyuarakan pendapat akan semakin menyudutkan blog sebagai barang usang karena untuk menulis, bagi sebagian orang membutuhkan begitu banyak sumber daya.</p>
<p>Blog juga terbukti tidak mengakomodasi sistem sentralisasi padahal dalam hal sosialisasi, kita butuh saluran terpadu untuk menampakkan diri dan opini kita secara lebih mudah. Blog berdiri sendiri-sendiri, berbeda dengan keberadaan kita di Facebook ataupun Twitter atau social media lainnya yang terelasi satu sama lain.</p>
<p>Ada orang bijak beberapa waktu silam berujar padaku bahwa akan ada gelombang yang membawa orang-orang balik ngeblog lagi akhir-akhir ini. Tapi sayangnya aku tak percaya gelombang itu bisa tinggi dan konsisten seperti dulu. Itu hanya euforia dari beberapa acara berlabel &#8216;blogger&#8217; yang baru-baru lalu diadakan, sebentar juga akan hilang dan senyaplah kembali <em>blogosphere</em>&#8230;</p>
<p>Kecuali, kalau memang akan ada banyak perusahaan yang menawarkan posting berbayar dengan harga yang tinggi atau&#8230;. kalau ada banyak perusahaan/organisasi/instansi yang menggelar kuis dan meminta pesertanya untuk menuliskan hal yang menjadi tuntutan lomba di blog personalnya.. itu lain perkara <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dengan demikian, apa yang dulu diungkapkan oleh si Ahli Telematika bahwa blog hanyalah trend sesaat itu memang akan semakin mendekati kebenaran yang utuh meski untuk membuatnya 100% utuh, ia tak boleh melupakanku. Ia harus berhadapan satu lawan satu denganku!</p>
<p>Bagiku, diluar perkara trend atau bukan, blog dan aku adalah satu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/22/2012-dan-dunia-social-media-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why should i get married?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/12/why-should-i-get-married.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/12/why-should-i-get-married.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 06:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2361</guid>
		<description><![CDATA[Selain soal ciuman, &#8216;pasangan hidup&#8217; juga dipandang dalam persepsi yang berbeda oleh banyak kalangan. Tak jarang perbedaannya membuat sesuatu kurang &#8216;mengenakkan&#8217; ketika seseorang/sekelompok orang mulai &#8216;kepo&#8217; dan bertanya, &#8220;Kok mereka gitu sih? Salah tau!&#8221; Kalau kita tinggal di Indonesia dan berkenalan dengan pria yang baru kita kenal di acara kawinan misalnya, dengan paparan usia sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/12/12/why-should-i-get-married.html" title="Permanent link to Why should i get married?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_nikah.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Why should i get married?" /></a>
</p><p>Selain soal <strong><a title="Ciuman?" href="http://donnyverdian.net/2011/12/05/ciuman.html">ciuman</a></strong>, &#8216;pasangan hidup&#8217; juga dipandang dalam persepsi yang berbeda oleh banyak kalangan. Tak jarang perbedaannya membuat sesuatu kurang &#8216;mengenakkan&#8217; ketika seseorang/sekelompok orang mulai &#8216;kepo&#8217; dan bertanya, <em>&#8220;Kok mereka gitu sih? Salah tau!&#8221;</em></p>
<p>Kalau kita tinggal di Indonesia dan berkenalan dengan pria yang baru kita kenal di acara kawinan misalnya, dengan paparan usia sekitar 30-an, sebagai basa-basi kita biasa bertanya, <em>&#8220;Istri dan anaknya nggak diajak? Sudah menikah?&#8221;</em></p>
<p>Sembilan puluh persen jawaban akan baik-baik saja semisal, <em>&#8220;Oh, saya belum menikah, Pak!&#8221;</em> atau <em>&#8220;Oh, istri saya repot ngurus anak di rumah&#8230;&#8221;</em> Tapi membayangkan pertanyaan seperti itu ditujukan pada orang-orang di sini, bisa-bisa jawaban yang diberikan akan tak terlalu menyenangkan atau bisa jadi di luar perkiraan kita.</p>
<h3></h3>
<h3>&#8220;Married? Are you kidding me? I&#8217;m still 30!&#8221;</h3>
<p>Pada dasarnya rata-rata orang di sini tak mematok bahwa pada usia tertentu kita harus menikah. Ada yang menikah umur 35-an, ada pula yang malah menikah ketika usia sudah 60-an.</p>
<p>Suatu waktu aku datang ke pesta dan banyak orang kaget ketika aku bercerita bahwa aku sudah punya seorang anak perempuan berusia satu tahun. <em>&#8220;Hah? Kamu 33 tahun sudah punya istri dan anak? You&#8217;re too young, Donny!&#8221;</em> Dalam hati aku berpikir, ini orang belum pernah datang ke Indonesia. Barangkali kalau ia datang ke pesta di sana dan ketika tahu bahwa ia belum lagi menikah apalagi punya anak padahal keriput di sudut matanya telah lebih dari 3 lekukan, apa kata dunia?!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>&#8220;Istri? Aku tinggal bersama my girl friend and why should i get married?&#8221;</h3>
<p>Banyak orang di sini memilih untuk tak menikah (bahkan seumur hidupnya) dan lebih senang tinggal kumpul kebo bersama pacarnya.</p>
<p>Alasannya banyak, tapi beberapa yang kutahu, mereka memilih untuk tidak/belum menikah karena pertimbangan komitmen. Bukan komitmen untuk saling mencintai lho, karena kalau itu mereka sudah tahu dan rata-rata terbuka bahwa ketika mereka sudah tak cinta ya mereka akan langsung mengemukakan satu sama lain. Komitmen yang dimaksud adalah komitmen yang sifatnya administratif di hadapan hukum (dan sebagian orang masih respek terhadap agama tentu saja).</p>
<p>Ketika sebuah pasangan bercerai, di sini, detail urusan administrasi yang menyertai proses itu harus dilakukan secara seksama. Nah, inilah yang membuat mereka rata-rata memilih untuk berpacaran saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>&#8220;Istri? Saya tinggal bersama my boyfriend!&#8221;</h3>
<p>Nah loh! Kenyataan bahwa ada sebagian orang yang memilih untuk berorientasi seksual sesama jenis sebenarnya bersifat mendunia. Tak hanya di Australia, bahkan di Vatikan pun barangkali ada, maka di Indonesia juga banyak seharusnya! Yang membedakan cuma soal keterbukaan dan bagaimana kita mampu menghargai keberadaan mereka sehingga mereka pun tak malu-malu untuk mengakui identitasnya dan balik menghormati kita.</p>
<p>Sejauh yang kutahu, di sini ada pasangan yang masih belum mengumumkan ke khalayak namun semakin hari semakin banyak yang ketika ditanya, tak segan bilang<em> &#8220;I&#8217;m a gay!&#8221;</em> atau <em>&#8220;I&#8217;m a lesbian!&#8221;</em> Jadi jangan heran kalau misalnya di kereta, tiba-tiba di depanmu ada dua orang pria yang saling berpelukan, membelai rambut satu sama lain lalu tiba-tiba&#8230; berciuman bibir&#8230;</p>
<p>OK! Jangan panik! Ambil handphonemu, sibukkan diri misalnya dengan membuka facebook or twitter atau baca buku atau palingkan wajah ke arah jendela mengamati alam sekitar misalnya&#8230; Tapi kalau kamu malah menikmati pemandangan itu? Ya,beda urusan sih <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>&#8220;Eh, kamu pikir kamu siapa? Kenapa tanya-tanya?&#8221;</h3>
<p>Kalau ini yang paling pahit! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote class="left"><p>Paribahasanya sih memang &#8220;Air susu dibalas dengan air tuba&#8221; tapi nyatanya masa kini tak semua orang doyan susu, dan kamu memancing orang untuk diberi setetes tuba.</p></blockquote>
<p>Sama dengan kenyataan bahwa homoseksualitas adalah fakta, maka pernikahan, pilihan orientasi seksual dan pacar adalah juga hal-hal yang faktanya bersifat personal. Namanya juga personal, ia berada dalam pagar diri kita masing-masing. Kita berhak untuk tak membagikan hal itu pada orang lain dan orang lain wajib menghormati keputusan tersebut.</p>
<p>Hal hormat-menghormati ini tentu dalam rangka menciptakan civil society yang lebih baik; kalau dalam bahasa guruku SD dulu, <em>&#8220;Kalau kamu tak mau dicubit ya jangan mencubit!&#8221;</em></p>
<p>Maka pertanyaan-pertanyaan semacam yang kusebut di kalimat pertama tulisan ini bukannya tak awam di sini tapi setidaknya tak jarang orang menghindari kalau mereka memang belum kenal secara personal.</p>
<p>Jadi misal kamu berlibur atau pindah kemari, trus di dalam bis atau kereta bertemu seseorang lalu ingin berkenalan, meski tak kusarankan tapi silakan dicoba. Sekalinya dicoba berhasil dan dia OK saja, hal itu bukan berarti pertanyaan kamu selanjutnya padanya adalah <em>&#8220;Eh kamu kok sendirian? Suami kamu mana?&#8221;</em></p>
<p>Wah, kalau dia berkepribadian OK, barangkali ia menjawab, bisa pula ia menghindar dengan bilang <em>&#8220;Sorry&#8230;&#8221;</em> lalu pergi karena merasa tidak nyaman. Tapi kalau ketemu yang senewen lalu pertanyaan kamu yang sebenarnya tak bermaksud apa-apa selain basa-basi itu dibalas dengan sesuatu yang kurang menyenangkan, ya lantas jangan ngambek dan bilang <em>&#8220;Yah, ditanya baik-baik kok jawabnya ketus&#8230;!&#8221;</em></p>
<p>Paribahasanya sih memang &#8220;Air susu dibalas dengan air tuba&#8221; tapi nyatanya masa kini tak semua orang doyan susu, dan kamu memancing orang untuk diberi setetes tuba.</p>
<p>Ya, gitu deh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/12/why-should-i-get-married.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciuman?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/12/05/ciuman.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/12/05/ciuman.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 06:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2340</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Momon, salah satu blogger yang kukagumi karena kelihaiannya menuangkan kecerdasan otaknya dalam bentuk tulisan, membuatku berpikir apa iya, hanya gara-gara ciuman apalagi melihat foto ciuman antara Presiden Obama dengan Julia Gillard (PM Australia) maka kita lantas menjadi &#8216;asusila&#8217;? Asusila sendiri dalam KBBI dirumuskan secara singkat tapi sekaligus menebar ambiguitas. Disebutnya demikian ‘tidak susila; tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/12/05/ciuman.html" title="Permanent link to Ciuman?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_ciuman.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Ciuman?" /></a>
</p><p><a href="http://hermansaksono.com/2011/11/swasensor-ciuman-obama-pm-australia.html">Tulisan Momon</a>, salah satu blogger yang kukagumi karena kelihaiannya menuangkan kecerdasan otaknya dalam bentuk tulisan, membuatku berpikir apa iya, hanya gara-gara ciuman apalagi melihat foto ciuman antara Presiden Obama dengan Julia Gillard (PM Australia) maka kita lantas menjadi &#8216;asusila&#8217;?</p>
<p>Asusila sendiri dalam KBBI dirumuskan secara singkat tapi sekaligus menebar ambiguitas. Disebutnya demikian ‘<em>tidak susila; tidak baik tingkah lakunya</em>’.</p>
<p>Apa standard susila? Apa standard baik dan tak baik?<br />
O well, ketimbang pusing dan hanya akan memperpanjang debat kusir yang tak perlu, marilah kalian membaca ceritaku tentang budaya ‘berciuman’ di Australia sini.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;ciuman tak lebih adalah ‘tanda’&#8221;</p></blockquote>
<p>Sama seperti di permukaan dunia lainnya, di Australia, ciuman tak lebih adalah ‘tanda’. Tanda yang memiliki ‘kelas’ tergantung dari siapa kepada siapa, ciuman dihadiahkan.</p>
<p>Sepasang kekasih berjalan bergandengan di trotoar. Dalam beberapa langkah, mereka tiba-tiba berhenti, saling berhadapan dan dengan penuh perasaan mencium pasangannya, bibir bertemu bibir, begitu lembut, begitu mesra. Aku memandangnya demikian, entah yang berciuman, entah yang melihatnya. Mungkin nafsu, mungkin jijik dan berteriak dalam hati, ‘Asusila!’ Entahlah&#8230;</p>
<p>Seorang teman pria menggandeng pacarnya, bertemu temannya yang lain yang juga menggandeng pacarnya. Serta-merta si pria mencium pipi pacar temannya dan demikian juga sebaliknya. Aku memandangnya sebagai ciuman persahabatan, bagaimana menghargai lawan jenis yang kita kenal sebagai teman.</p>
<p>Aku tak bisa meyakinkan diriku bahwa mereka berciuman tanpa nafsu, tapi aku berpikir logis, kalaupun mereka mencium penuh nafsu, bukankah itu lantas menjadi persoalan diri mereka sendiri?</p>
<p>Seorang pria bergandengan dengan pria lainnya, lalu sama seperti sepasang kekasih kebanyakan, mereka tiba-tiba berciuman bibir di sebuah coffee shop. Ya, kalau yang ini tak perlu dijelaskan lagi&#8230;. Preferensi seseorang terhadap kepada siapa dan berjenis kelamin apa kita mencium bibir kan ada dalam lingkaran asasi masing-masing <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aku sendiri dulu awalnya juga cukup canggung untuk berciuman dengan lawan jenis yang bukan istri maupun saudaraku di Australia sini.</p>
<p>Melihat teman sekerja di kantor lama dulu yang beda jenis kelamin saling mencium ketika lama tak bertemu adalah ‘sesuatu banget’ dan spontan menerbitkan tanya, <em>“Mereka berpacaran?”</em></p>
<p>Tapi ketika akhirnya aku membuktikan bahwa bagi teman-temanku tadi, ciuman antar keduanya ditempatkan dalam ‘kelas’ persahabatan, akupun membuang jauh-jauh pikiran usang dalam benakku yang selalu merujuk pada nafsu untuk melukiskan ciuman antar lawan jenis yang tak terkait hubungan saudara..</p>
<p>Otak lantas berpikir bahwa ciuman bagi mereka dan kebanyakan orang di sini yang berbeda jenis kelamin namun bersahabat adalah cara bagaimana mereka menyapa.</p>
<p>Sebagai makhluk berbudaya yang harus menempatkan adaptasi sebagai jalan untuk melestarikan kebudayaan itu sendiri, akupun bertanya dalam hati, <em>“Perlukah aku mencium teman lawan jenisku meski tentu ia bukan istriku?”</em></p>
<p>Aku tak harus menjawab “Ya” karena latah, misalnya. Tapi aku juga tak mau buru-buru bilang “Tidak” kalau aku harus melibatkan <em>crappy thing</em> semacam ‘cap asusila’ itu tadi untuk menjadi pengadilnya <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_2346" class="wp-caption alignright" style="width: 250px">
	<a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_ciuman2.jpg"><img class="size-full wp-image-2346 " title="blog_ciuman2" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_ciuman2.jpg" alt="" width="250" height="373" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Nah kalau ini aku mencium Odilia, anakku heheh (credit photo: Wijaya Trio)</p>
</div>
<p>Dan hal itupun terjadi. Desember 2009.<br />
Dalam acara Christmas Lunch yang diadakan bersama rekan-rekan kerja, selepas makan, kami ‘say goodbye’ satu sama lain. Pada rekan kerja yang pria, aku jabatkan tangan, berpelukan, dada bertemu dada. Pada rekan kerja yang wanita, akhirnya kuloloskan pipiku untuk bertemu dengan pipi mereka, tangan kusampirkan di pinggulnya dan mereka memeluk bahuku.</p>
<p><em>“Rasanya?”</em> Hmmm&#8230; biasa saja dan kupastikan tak ada nafsu birahi yang berani mendekatiku waktu itu. Yang ada justru sebaliknya. Ketika tiba keesokan harinya bertemu dengan mereka di kantor, aku merasakan kepercayaan diri yang lebih untuk menganggap bahwa aku memang benar-benar telah semakin berteman dengan mereka karena ‘bicara’ dalam cara yang sama..</p>
<p>Waktupun berlalu dan aku semakin terbiasa untuk tak segan-segannya meloloskan ciuman kepada teman wanita yang memang sudah kuanggap dekat. Sekali lagi, yang kuanggap dekat, bukan sembarang teman juga.</p>
<p>Hingga akhirnya beberapa waktu lalu aku menyadari ternyata masih ada yang ‘salah’ dalam cara menciumku. Mereka, teman-temanku tadi, karena selama ini tak kuperhatikan betul detail menciumnya, mereka benar-benar menempelkan bibir ke pipi teman lawan jenisnya, mengecup hingga terdengar suara “Cup!”</p>
<p>Otakku kembali berpikir&#8230;. Perlukah aku melakukan seperti itu juga? Bisakah?<br />
Ini bukan perkara bahwa aku takut nantinya terjebak nafsu ketika melakukan ciuman model ini, tapi lebih pada sesuatu yang mengganggu di benak hingga kini yaitu ketakutanku kalau nanti ciumanku membuat temanku merasa tak nyaman hanya karena aku menyisakan sedikit basah di pipinya.</p>
<p>Aha! Konyol ya alasanku? Tak mengapa, ini lagi-lagi kuanggap sebagai tanda bahwa aku makhluk berbudaya yang tak latah untuk melakukan apapun yang mereka lakukan sekaligus tanda bahwa aku memiliki alasan tersendiri yang barangkali cukup orisinal untuk diungkap di sini, kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi lebih dari itu semua, satu hal yang patut kusyukuri adalah aku tak memiliki otak ‘kelas udang’ yang tak sanggup mengalahkan nafsu birahi hanya gara-gara sebuah ciuman.</p>
<p>Aku juga bersyukur karena diberi kemampuan untuk menyaksikan bahwa ada sebegitu banyak teman-temanku di sini yang saling berciuman, namun mereka toh tak bisa dimasukkan dalam standard asusila.</p>
<p>Bukan karena pada ambiguitas arti ‘asusila’ itu sendiri, tapi lebih pada bagaimana mereka justru mampu menempatkan ciuman yang sebagian orang dianggap sebagai ‘iblis’ itu ke dalam satu bentuk yang lebih hangat untuk menyatakan kasih kepada sesama di luar nafsu yang sayangnya bagi sebagian orang seolah menjadi momok yang tak mampu dikalahkan.</p>
<p>Lagipula, seperti kubilang di atas, ciuman kan hanya sebuah cara&#8230; Sebuah tanda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/12/05/ciuman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia (ternyata) bisa!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nyinyir]]></category>
		<category><![CDATA[sea games]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2306</guid>
		<description><![CDATA[Se-apatis-apatisnya kita terhadap pemerintahan SBY, satu hal yang perlu diakui tanpa malu adalah tentang keberhasilan Indonesia meraih gelar juara umum dalam kancah SEA GAMES XXVI yang baru lalu setelah 14 tahun tak pernah meraihnya. Prestasi ini membanggakan karena setidaknya hal ini seperti menjadi ‘gong’ yang indah setelah pada awal persiapan pembangunan infrastrukturnya dikabarkan mengalami kemunduran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html" title="Permanent link to Indonesia (ternyata) bisa!"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_seagames.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Indonesia (ternyata) bisa!" /></a>
</p><p>Se-apatis-apatisnya kita terhadap pemerintahan SBY, satu hal yang perlu diakui tanpa malu adalah tentang keberhasilan Indonesia meraih gelar juara umum dalam kancah <a href="http://www.seag2011.com">SEA GAMES XXVI</a> yang baru lalu setelah 14 tahun tak pernah meraihnya.</p>
<p>Prestasi ini membanggakan karena setidaknya hal ini seperti menjadi ‘gong’ yang indah setelah pada awal persiapan pembangunan infrastrukturnya dikabarkan mengalami kemunduran jadwal dan terkesan tergesa-gesa, belum lagi dugaan perkara korupsi dalam pendanaan wisma atletnya yang memunculkan ‘ikon baru’, <strong>Nazzarudin</strong>.</p>
<p>Namun tulisan kali ini tak kan bicara lebih jauh soal isu korupsi dan tetek bengek yang mengitarinya. Aku tertarik untuk bicara poin per poin tentang apa yang bisa kita tarik sebagai kesimpulan dalam prestasi tersebut?</p>
<h3>Indonesia (Ternyata) Bisa</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;asal kita bersungguh-sungguh dan disiplin dalam melakukan satu proses, keberhasilan hanyalah perkara tunggu waktu saja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Hal paling positif yang bisa kita jadikan cerminan dari prestasi di SEA GAMES XXVI adalah kenyataan bahwa asal kita bersungguh-sungguh dan disiplin dalam melakukan satu proses, keberhasilan hanyalah perkara tunggu waktu saja.</p>
<p>Semoga hal ini bisa menjadi pemicu untuk berprestasi lebih tinggi lagi di kancah regional yang lebih luas semisal ASIAN GAMES ataupun Olimpiade. Bukannya tak mungkin kalau pemerintah konsisten membangun bidang olahraga maka prestasi-prestasi yang selama ini kita anggap sebagai impian termasuk <a href="http://olahraga.kompas.com/read/2011/11/21/19062171/Rita.Subowo.Kita.Incar.20.Besar.Olimpiade">tekad untuk masuk dalam hitungan 20 besar Olimpiade 2016</a> yang akan diselenggarakan di Rio de Jenairo adalah sesuatu yang bukan mustahil dapat kita raih.</p>
<h3>Platform Persatuan</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Bukan ajakan untuk membuang sekat karena bagaimanapun itu adalah identitas personal, tapi setidaknya kita harus berdiri lebih tinggi dari sekat yang ada, sehingga ketika butuh untuk bergandengan erat, tangan kita tak terhalang sekat-sekat itu tadi.&#8221;</p></blockquote>
<p>SEA GAMES XXVI yang baru lalu, bagi elemen anak bangsa kita bisa dijadikan sebuah momentum untuk kembali bersatu dan melupakan masa silam yang barangkali tak sedikit yang kelam. Meski tak terlalu kentara, pergesekan antar wilayah dan utamanya antar agama akhir-akhir ini tak bisa dibilang &#8216;tak ada&#8217;. Di sana-sini berita soal intimidasi kaum beragama tertentu oleh ormas tertentu pula, atau berita soal kerusuhan yang seolah terisolasi di daerah tertentu dan konon didalangi oleh petinggi-petinggi tertentu juga, seolah gantian mengisi tajuk berita banyak media nasional akhir-akhir ini.</p>
<p>Melalui SEA GAMES, kita bisa membuktikan bahwa ketika bersatu tanpa memandang faktor suku dan agama sebagai penghalang, di situ daya dobrak kebangsaan kita untuk maju ke depan akan berlipat ganda ketimbang ketika kita malah sibuk saling lawan dan serang, sindir serta singgung satu sama lain hanya karena kamu berasal dari pulau A dan aku suku B, atau karena agamaku XX dan kamu YY.</p>
<p>Contoh terbesar adalah dalam tim cabang sepakbola yang kerap dijuluki sebagai tim Garuda Muda. Meski gawal meraih emas karena kalah adu penalti melawan Malaysia, tapi simaklah betapa cantik kerja sama antar lini semua pemain pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Barisan depan yang didominasi orang-orang Papua dan kristiani bahu-membahu dengan barisan lain yang berasal dari suku lain dan agama yang berlainan pula.</p>
<p>Bukan ajakan untuk membuang sekat karena bagaimanapun itu adalah identitas personal, tapi setidaknya kita harus berdiri lebih tinggi dari sekat yang ada, sehingga ketika butuh untuk bergandengan erat, tangan kita tak terhalang sekat-sekat itu tadi.</p>
<h3>Indikasi Perubahan</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Kenapa masih ada kisah anak SD yang harus meniti pada seutas tali besi di atas sungai untuk pergi bersekolah?&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku menemukan sebuah pernyataan menarik dalam <a href="http://www.jstor.org/pss/27522828">abstraksi</a> buku <strong>Social Indicators Research</strong> karya <strong>Frank A.G. Den Butter</strong> dan <strong>Casper M. Van Der Tak</strong> . Di situ dinyatakan bahwa dalam penelitian terhadap hasil kompetisi Olimpiade Musim Panas yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan 1988 dan di Barcelona, Spanyol empat tahun sesudahnya, perolehan medali yang diraih tiap negara memiliki relasi erat dengan pendapatan (negara tersebut) dan juga terhadap indikasi kesejahteraan umum lainnya.</p>
<p>Dari situ aku berpikir bahwa bisa jadi, dengan hasil juara umum Indonesia kali ini, setelah 14 tahun selalu menjadi pecundang, sejatinya kita saat ini telah &#8216;kembali&#8217; pada posisi yang menguntungkan untuk menjadi sejahtera seperti sedia kala sebelum krisis moneter era 90-an dimulai.</p>
<p>Pikiran logis sederhananya, ketika pemerintah tak punya uang dan kesempatan, pembinaan olahraga akan kacau balau karena pembinaan membutuhkan dana dan perhatian. Nah, dengan prestasi yang sedemikian bagusnya dalam event SEA GAMES XXVI ini, bisakah kita simpulkan bahwa secara umum, tingkat kesejahteraan kita mengindikasikan adanya kenaikan?</p>
<p>Tapi bila memang benar telah naik kenapa masih banyak terjadi kemiskinan secara akut di banyak lini kehidupan dan daerah-daerah tertinggal?</p>
<p>Kenapa masih ada kisah anak SD yang harus <a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/10/25/15580236/Berawal.dari.Foto.Menjadi.Gerakan.JembatanAnakBangsa">meniti pada seutas tali besi di atas sungai untuk pergi bersekolah</a>?</p>
<p>Kenapa masih ada kisah orang-orang miskin yang ditelantarkan oleh rumah sakit pada saat mereka menuntut hak mereka untuk hidup sehat?</p>
<p style="text-align: center;">*     *     *</p>
<p><em>Du! Du! Du! Du!</em><br />
Ah sudahlah! Tak enak mengakhiri tulisan ini dengan sesuatu yang skeptis di tengah suasana pesta kemenangan kita.<br />
Jadi, mari kita sekali lagi ucapkan selamat bagi Indonesia yang telah memenangi SEA GAMES XXVI! Kalian hebat, kalian juara&#8230; kalian bisa!</p>
<p>Oh ya, semoga video tentang <a href="http://hermansaksono.com/2011/11/atlit-indonesia-yang-gigit-atlit-thailand-jadi-juara-sea-games.html">pencak silat ‘bite and run’</a> ini tak merusak selera kita dalam beryel-yel kemenangan!</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=mbaARQnjy0Y">http://www.youtube.com/watch?v=mbaARQnjy0Y</a></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/11/24/indonesia-ternyata-bisa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gegar budaya lebih dahsyat ketimbang gegar bahasa?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 06:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2264</guid>
		<description><![CDATA[Persoalan bahasa sebenarnya bukan kendala utama ketika kamu memutuskan untuk pindah ke suatu tempat di luar negeri yang menggunakan bahasa yang berbeda dari yang kau gunakan sebelumnya. Katakanlah kita pindah ke negeri yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa resminya, berkat globalisasi, sekian puluh persen materi bahasa yang harus kita pelajari telah kalian dapat entah itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html" title="Permanent link to Gegar budaya lebih dahsyat ketimbang gegar bahasa?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_cultureshock.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Gegar budaya lebih dahsyat ketimbang gegar bahasa?" /></a>
</p><p>Persoalan bahasa sebenarnya bukan kendala utama ketika kamu memutuskan untuk pindah ke suatu tempat di luar negeri yang menggunakan bahasa yang berbeda dari yang kau gunakan sebelumnya. Katakanlah kita pindah ke negeri yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa resminya, berkat globalisasi, sekian puluh persen materi bahasa yang harus kita pelajari telah kalian dapat entah itu lewat siaran televisi, radio, internet dan yang lainnya.</p>
<p>Masalah utama menurutku adalah penyesuaian budaya karena tak semua budaya yang kita biasa lakukan di negeri asal itu bisa diterima di negara tujuan. Inilah tantangannya. Ibarat kata meniti di atas sebuah sebilah bambu, kamu tak perlu harus terjun ke budaya baru dengan meninggalkan budaya lama, tapi juga tak berarti kamu menolak mentah-mentah budaya baru hanya demi rasa gengsi dan ingin menonjolkan identitas diri.</p>
<p>Nah, sebagai bahan renungan pada peringatan tiga tahun kepindahanku ke Sydney, Australia 1 November 2011 silam, berikut adalah hal-hal terkait dengan perbedaan budaya yang kualami dan bagaimana aku menyesuaikan diri terhadapnya, tak sanggup kurangkum semua, hanya beberapa di antaranya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Salam</h3>
<p>Entah kalian, tapi di keluarga dan lingkungan sekitarku dulu, menguluk salam semisal <em>&#8216;Hai, selamat pagi!&#8217;</em> atau <em>&#8216;Hi, apakabar?&#8217;</em> juga <em>&#8216;Eh, bagaimana akhir pekanmu kemarin?&#8217;</em> adalah hal-hal yang &#8216;tak wajar&#8217;.  Tapi di Australia sini, hal-hal seperti amat diperlukan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dulu aku cukup canggung untuk mempraktekkannya ke teman-teman kantor karena aku takut nggak bisa balas karena bahasa Inggrisku yang pas-pasan kalau dia bales tanya dan pakai macam-macam pula!</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;..salam bukan lagi menjadi sebuah basa-basi semata karena lebih dari itu, ia adalah ice breaker yang ampuh.&#8221;</p></blockquote>
<p>Tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Bahkan, pada akhirnya salam bukan lagi menjadi sebuah basa-basi semata karena lebih dari itu, ia adalah <em>ice breaker</em> yang ampuh. Misalnya ketika Senin pagi, kebanyakan orang masih malas bahkan untuk duduk di kursi masing-masing dan menghidupkan komputer. Tapi berbekal satu pertanyaan <em>&#8216;Eh, gimana weekendmu kemarin? Cuacanya asik ya?!&#8217; </em>komunikasi dengan kawan pun lancar karena mereka menimpali dengan semangat pula menceritakan aktivitas akhir pekannya yang kalau dalam bahasa mereka <em>&#8220;Mine was soooo fantastic!&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Maaf dan Terima kasih</h3>
<p>Kebanyakan orang di sini sangat peka terhadap dua kata, &#8216;sorry&#8217; (maaf) dan &#8216;thanks&#8217; (terima kasih) dalam bersosialisasi.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Orang-orang sini cenderung untuk lebih baik merendahkan diri di depan orang lain pada awalnya ketimbang langsung meninggikan diri&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Misalnya kamu berpapasan dengan orang di sebuah gang sempit dan kalian berdua kaget, biasanya kata yang pertama kali muncul adalah <em>&#8220;Upss&#8230; sorry!&#8221;</em> meski belum tentu pihak yang berkata demikian adalah pihak yang salah. Demikian juga misalnya kamu beli sesuatu, katakanlah yang mudah dicontohkan, fast food di restaurant. Ketika paket makanan diserahkan, baik si pembeli maupun si penjual biasanya akan berebut ngomong <em>“Thanks!”</em></p>
<p>Esensi dari ‘maaf’ dan ‘terima kasih’ sebenarnya simple. Orang-orang sini cenderung untuk lebih baik merendahkan diri di depan orang lain pada awalnya ketimbang langsung meninggikan diri karena ketika kita meninggikan diri, kemungkinan untuk membuat &#8216;masalah&#8217; dengan orang yang kita hadapi akan meningkat dan itu tak baik. Utamanya untuk urusan-urusan ‘sepele’ seperti kucontohkan di atas, menjadi pihak yang ‘tampak’ bersalah toh tak kan rugi apa-apa.</p>
<p>Awalnya dulu aku juga sangat susah untuk berucap &#8216;sorry&#8217; dan &#8216;thanks&#8217; dan aku begitu malu oleh karenanya. Perasaan malu yang amat-sangat muncul karena aku tahu asal-usulku, Indonesia, negeri yang penduduknya terkenal ramah, rendah hati, suka menolong, tak emosian, suka berterima kasih, taat beribadah dan bersikap baik itu&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Omong fisik</h3>
<p>Di dalam masyarakat Jawa, tubuh berisi (tak harus gemuk tapi yang pasti tak kurus) menandakan hidup yang mukti, sejahtera. Oleh karena itu ketika ada seorang yang menggemuk sesudah menikah misalnya, orang-orang akan berkomentar dalam nada bicara positif seperti misalnya <em>&#8220;Wah, kamu udah nemuin apa yang kamu cari ya? Udah tenang sekarang?&#8221;</em> atau kalau mau yang lebih &#8216;seronok&#8217;, <em>&#8220;Wah, cocok susunya?&#8221;</em> Dan kamu tahulah &#8216;susu&#8217; yang dimaksud itu apa?</p>
<p>Tapi di sini, hal-hal seperti itu jika diungkapkan ke semua orang tanpa pandang bulu bisa berakibat fatal. Salah satu temanku pernah bercerita bahwa temannya secara tak sengaja berkomentar<em> &#8220;You looks so bold.. but cute!&#8221;</em> ke teman kerja wanitanya yang baru saja pulang berlibur dan tampak gemukan mungkin karena terlalu asyik menikmati kuliner. Akibatnya? Si Cewek tersinggung dan melaporkan teman tadi ke pengadilan dan denda.</p>
<p>Puji Tuhan hingga saat ini dan semoga selanjutnya aku tak terpancing untuk bercanda maupun memuji ataupu melecehkan dari sisi fisik terhadap satu dari mereka. Padahal kalau kalian tahu aku secara personally, dulu aku sangat mudah terpancing untuk meledek orang dari ciri fisiknya. Misalnya teman yang jalannya timpang dulu kubilang <em>&#8220;Eh, jalannya kan rata dan ngga berlobang kok loe jalannya pincang?!&#8221;</em> atau kalau ada teman yang tak terlalu tinggi (badannya) langsung kubilang <em>&#8220;Eh, kamu berdiri dong!&#8221;</em></p>
<p>Bayangkan kalau aku tak bisa melepas caraku becanda di sini, bisa-bisa uang gaji habis untuk membayar denda sana dan sini.. Ih, amit-amit!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Tuhan dan agama</h3>
<p>Waktu aku diinterview kerja awal pindah ke Australia dulu, salah seorang penanya bertanya kepadaku,<em></em></p>
<p><em>&#8220;Apa yang kau lakukan ketika senggang, Donny?&#8221;</em><br />
<em> Dengan mantap kujawab &#8220;Aku aktif di pelayanan di gereja ku. Kamu?&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Hmmm, fishing.. atau traveling dengan keluargaku&#8230;&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Oh, kamu nggak ke gereja juga.. Eh agamamu apa?&#8221;</em></p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;di situ aku bisa semakin merasakan betapa Tuhan itu sangat besar kuasa dan maafnya karena Ia toh tak marah serta murka terhadap mereka yang pada akhirnya punya cara pandang masing-masing untuk mengimaniNya, termasuk yang menolakNya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dia hanya tersenyum, tak kecut tapi dari bahasa tubuhnya menampilkan bahwa ia tak terlalu nyaman kutanya begitu.</p>
<p>Untung aku diterima kerja di tempatnya dan untung pula beberapa saat kemudian ia, si penanyaku itu, jadi sahabat di kantor. Ketika kuceritakan pada istriku tentang bagaimana aku dekat dengan orang tersebut, Ia kagum dan berujar <em>&#8220;Beruntung kamu karena dia baik!&#8221;</em><br />
&#8220;Heh?&#8221;<br />
&#8220;Iya! Orang sini paling nggak bisa ditanyain hal-hal bersifat sangat personal begitu&#8230;&#8221;</p>
<p>Ya, agama dan bahkan Tuhan adalah urusan masing-masing di sini. Jangankan ditulis di KTP tentang &#8216;apa agamamu&#8217; seperti di Indonesia, ketika ditanya pun belum tentu orang-orang sini mau menjawab, seperti temanku tadi. Orang di sini bebas untuk tak beragama dan tak ber-Tuhan sekalipun dan kita dilarang untuk menghakimin dan melecehkan satupun.</p>
<p>Butuh proses untuk setuju dengan konsep &#8216;tak menghakimi&#8217; tersebut dan justru uniknya, ketika aku tak memedulikan apakah seseorang itu ber-Tuhan atau tidak, di situ aku bisa semakin merasakan betapa Tuhan itu sangat besar kuasa dan maafnya karena Ia toh tak marah serta murka terhadap mereka yang pada akhirnya punya cara pandang masing-masing untuk mengimaniNya, termasuk yang menolakNya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Panggil nama langsung</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;&#8230;karena bagiku inti dari merendahkan diri dan menghormati yang lebih tua bukan dengan cara seperti itu saja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ada masa dimana dulu aku bahkan diharuskan memanggil bayi orok yang baru lahir sebagai &#8220;Mas&#8221; atau malah &#8220;Om&#8221; hanya gara-gara orang tuanya lebih tua atau tepatnya mereka adalah om dari orang tuaku sendiri, orang Jawa bilang aku &#8216;<em>kalah awu</em>&#8216;. Tapi aku tak mau tunduk pada aturan-aturan seperti itu karena bagiku inti dari merendahkan diri dan menghormati yang lebih tua bukan dengan cara seperti itu, atau bisa jadi tak hanya &#8216;dengan cara itu&#8217; saja.</p>
<p>Jadi, ketika aku pindah ke sini dan mendapati tradisi &#8216;panggil nama langsung&#8217;, aku asik-asik aja. Ya, di sini bisa dibilang orang memanggil dengan sebutan &#8220;Sir&#8221; atau &#8220;Mister&#8221; ketika berada dalam urusan yang sangat formal dan hal itu sangat jarang terjadi karena bahkan dalam rapat perusahaan pun, seorang CEO juga akan dipanggil nama langsung oleh anak buah dari anak buahnya sekalipun.</p>
<p>Jadi jangan percaya kalau orang-orang sering membahasakan bahwa kalau ketemu bule kita harus menyapa dengan sebutan <em>&#8220;Hi, Mister!&#8221;</em> atau <em>&#8220;Hi, Sir!&#8221;</em> Itu sih cuma ada di lagu-lagu dan cerita-cerita usang <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aku pernah punya teman, namanya <strong>James.</strong> Waktu aku cerita ke Mama lewat telepon tentang temanku itu, ia mengira James berusia kurang lebih sama denganku. Aku ngakak mendengar tebakannya karena kubilang pada Mama bahwa usia James bahkan lebih tua darinya, <em>&#8220;Umurnya James itu 72 tahun, Ma!&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Loh kok kamu panggil njangkar (panggil nama langsung <strong>-jw</strong>)?&#8221;<br />
&#8220;Lah lalu apa yang kau sarankan? Pakde? Eyang?&#8221;</p>
<p>Ketika ceritaku ke Mama itu kuceritakan pada James, ia hanya tergelak dan berujar <em>&#8220;I&#8217;m James! And always be James!&#8221;</em><br />
Ya&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Makan-makan? Bayar sendiri-sendiri</strong></p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Walah! Apa hubungannya antara bayar-membayar dan esensi syukuran?&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku pernah hampir mempermalukan diri sendiri dalam acara makan-makan ulang tahun teman kantor lamaku. Alasannya simple, siang itu, dalam acara makan-makan di restaurant, aku lupa bawa uang! Untung restaurannya menerima pembayaran via kartu ATM atau yang di sini populer dengan sebutan efpos. <em>&#8220;Lho acara makan ulang tahun teman, kamu yang disuruh bayar?&#8221;</em></p>
<p>Di sini, pesta makan-makan ulang tahun atau pesta apapun bukan berarti dibayari oleh yang mengundang kecuali memang ada pernyataan yang menyatakan demikian. Acara makan-makan ulang tahun, misalnya, si pengundang, alias yang berulang tahun hanya memutuskan di restaurant mana pesta akan diadakan, tapi makan dan minum ya bayar sendiri-sendiri.</p>
<p>Wah kalau begitu dimana esensi syukurannya kalau yang ulang tahun nggak mbayarin? Walah! Apa hubungannya antara bayar-membayar dan esensi syukuran? Bukankah kalau si pengundang acara membayar sampe tekor untuk semua hidangan dan dia nggak punya uang jadinya, lantas kalian baru bilang &#8220;Sukurin!&#8221; Itukah esensi &#8216;sukurin&#8217;? Eh, &#8216;syukurin&#8217; maksudku?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/11/07/gegar-budaya-lebih-dahsyat-ketimbang-gegar-bahasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agent of Change. Anda? Saya? Kita semua?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/09/19/agent-of-change-anda-saya-kita-semua.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/09/19/agent-of-change-anda-saya-kita-semua.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 06:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Einstein]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Purwakarta]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2171</guid>
		<description><![CDATA[Agent of change. Semula istilah itu hanya &#8216;milik&#8217; disiplin ilmu Manajemen dan mengacu pada mereka yang melaksanakan change management. Change management sendiri, oleh Jeff Hiatt dan Tim Creasey, di situs ini diartikan sebagai &#8220;Change management is the process, tools and techniques to manage the people-side of business change to achieve the required business outcome, and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/09/19/agent-of-change-anda-saya-kita-semua.html" title="Permanent link to Agent of Change. Anda? Saya? Kita semua?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_agent.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Agent of Change. Anda? Saya? Kita semua?" /></a>
</p><p>Agent of change.<br />
Semula istilah itu hanya &#8216;milik&#8217; disiplin ilmu Manajemen dan mengacu pada mereka yang melaksanakan change management. Change management sendiri, oleh Jeff Hiatt dan Tim Creasey, di <a href="http://www.change-management.com/tutorial-definition-history.htm">situs ini</a> diartikan sebagai <em>&#8220;Change management is the process, tools and techniques to manage the people-side of business change to achieve the required business outcome, and to realize that business change effectively within the social infrastructure of the workplace.&#8221;</em></p>
<p>Namun kini, seiring perkembangan jaman dan meluasnya peran media dalam menyampaikan apapun itu kepada kita, istilah &#8216;agent of change&#8217; telah tertarik jauh dari ranah keilmuan dan menjadi milik publik. Tak apa sih, toh tujuan awal dari semua asal bidang ilmu adalah mempermudah hidup manusia?</p>
<p>Lalu siapakah agent of change itu? Mereka? Kalian? Kamu? Aku? Kita?</p>
<p>Aku akan mengadakan &#8216;pendekatan&#8217; yang barangkali agak berbeda dengan yang lain ketika bicara tentang &#8216;agent of change&#8217; ini.</p>
<p>Albert Einstein dalam postulat pertamanya tentang hukum relativitas yang dikemukakan, berpendapat bahwa setiap obyek bergerak terhadap yang lainnya. Bayangkan kamu duduk diam dalam satu kereta yang bergerak dengan kecepatan 80 km per jam, melewati stasiun tanpa berhenti. Bagi orang yang berada di selasar stasiun, kamu dan keretamu bergerak 80 km per jam ke depan, sedangkan bagimu, orang-orang yang berada di stasiun itu &#8216;bergerak&#8217; dalam kecepatan yang sama, 80 km per jam ke belakang.</p>
<p>Bagiku, itulah hidup yang selalu bergerak dan berubah relatif terhadap yang lain. Hakikatnya, tak seorang pun tak mengalami pergerakan dan perubahan kecuali ketika ia berada pada kecepatan dan tempat yang sama (dalam contoh di atas, keadaan ini terjadi pada orang yang sama-sama naik kereta, atau orang yang sama-sama berada di selasar stasiun dan sama-sama diam).</p>
<p>Kalian bingung dengan pemikiran di atas? Ini adalah contoh yang semoga memudahkan pemahaman untuk mendapatkan gambaran.</p>
<p>Adalah <em>Windu</em> (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda kampung yang enggan pindah ke kota dengan alasan &#8216;ingin mbangun desa&#8217; berkomentar pedas kepada <em>Paijo</em>, teman masa kecilnya yang memilih hijrah ke ibukota. &#8220;Wah, kamu sudah banyak berubah, Jo! Tinggal di Jakarta setahun saja lagakmu sudah kayak Presiden!&#8221;<em> Padahal si Paijo tak pula pakai kantong mata *eh</em></p>
<p>Bagi Windu, Paijo temannya, telah berubah, sementara sebaliknya, dalam hati si Paijo pun, ia berujar &#8220;Ah, ketimbang kamu malah terbelakang! Tak mau ke kota alasan mbangun deso padahal mbok-mboken! Statis!&#8221; Bagi Paijo, Windu berubah semakin udik dan terbelakang. Windu dan Paijo&#8230; mana yang layak disebut agen perubahan?</p>
<p>Contoh lain.<br />
Aku bertemu dengan seorang kawan yang sudah sangat lama tak kutemui. &#8216;Namanya&#8217; juga tak lama bertemu, ketika ketemuan jadilah aku maunya &#8216;akrab-akraban&#8217; meski ternyata jauh hari setelah pertemuan itu, kutemui pendapatnya dari seorang kawan lain bahwa pertemuan waktu itu bukanlah &#8216;akrab-akraban&#8217; tapi &#8216;gila-gilaan&#8217;.</p>
<p>&#8220;Donny sudah berubah! Nggaya bener cuman tinggal di Australia situ lagaknya sudah kayak bule!&#8221; Padahal yang kulakukan hanya sekadar hang out ke kafe dan minum beer sebotol atau dua.</p>
<p>&#8216;Nyinyir&#8217; ku seketika kumat. Bagiku, teman dekatku tadi termasuk dalam kalangan sok alim yang demi persahabatan tak mau menyeruput beer barang setetes pun; sesuatu yang wajar kutemui dan lakukan di sini.</p>
<p>Aku dan temanku&#8230; mana yang agen perubahan?</p>
<p style="text-align: center;">*      *      *</p>
<p>Bagiku, baik Windu, Paijo, temanku dan diriku sendiri dan kita semua tanpa terkecuali adalah agen perubahan karena kita bergerak menuju tujuan kita masing-masing, apapun itu, demi perubahan sosial yang kita kehendaki.</p>
<p>Tak terkecuali bagi segelintir orang yang beberapa hari ini menggegerkan pemberitaan di Tanah Air karena merusak patung wayang di Purwakarta yang videonya bisa di simak di bawah ini.</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=7s-4iSMVMPE">http://www.youtube.com/watch?v=7s-4iSMVMPE</a></p>
</p>
<p>Bagi sebagian dari kita, barangkali tindakan mereka adalah sesuatu yang bodoh namun bagi mereka dan orang-orang yang membenarkan tindakan mereka, tidak ada hal yang lebih benar daripada melakukan perusakan patung karena tak sesuai dengan idealisme yang mereka pegang.</p>
<p>Jadi mereka pun agent of change, Don? Iya! Kalian tak percaya? Datanglah ke Purwakarta dan tanyailah penduduknya. Di antara sekian ribu yang tak setuju dengan aksi itu, kuyakin ada pula yang mengangguk setuju dengan aksi yang bagiku agak &#8216;tak masuk akal itu. Bagi mereka, si perusak patung tadi adalah agent of change, tiada lain.</p>
<p>Wajar. Bukankah setiap pahlawan memiliki massa, karena tanpanya tak kan ada yang sudi menabalkannya?</p>
<div class="zemanta-pixie" style="margin-top: 10px; height: 15px;"><a class="zemanta-pixie-a" title="Enhanced by Zemanta" href="http://www.zemanta.com/"><img class="zemanta-pixie-img" style="float: right;" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=b3e6a716-33e8-406b-8391-c28a3ddfc689" alt="Enhanced by Zemanta" /></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/09/19/agent-of-change-anda-saya-kita-semua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyampaikan Selamat Hari Raya, pakai cara apa?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/09/12/menyampaikan-selamat-hari-raya-pakai-cara-apa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/09/12/menyampaikan-selamat-hari-raya-pakai-cara-apa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 06:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[Hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[SMS]]></category>
		<category><![CDATA[Social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2113</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ide&#8221; yang sama, yang selalu berhasil kutangkap dalam setiap kemegahan perayaan hari besar agama di Indonesia pada level &#8216;sosial&#8221; adalah bagaimana kerelaan melakukan berbagai macam cara untuk menyampaikan sebuah pesan &#8220;Selamat hari raya&#8221; kepada sanak saudara. Pada setiap event Lebaran misalnya, jutaan orang rela mudik ke kampung halaman dari tanah rantau, puluhan juta pesan terkirimkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/09/12/menyampaikan-selamat-hari-raya-pakai-cara-apa.html" title="Permanent link to Menyampaikan Selamat Hari Raya, pakai cara apa?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_salam.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Menyampaikan Selamat Hari Raya, pakai cara apa?" /></a>
</p><p>&#8220;Ide&#8221; yang sama, yang selalu berhasil kutangkap dalam setiap kemegahan perayaan hari besar agama di Indonesia pada level &#8216;sosial&#8221; adalah bagaimana kerelaan melakukan berbagai macam cara untuk menyampaikan sebuah pesan &#8220;Selamat hari raya&#8221; kepada sanak saudara.</p>
<p>Pada setiap event Lebaran misalnya, jutaan orang rela mudik ke kampung halaman dari tanah rantau, puluhan juta pesan terkirimkan pula melalui berbagai macam jenis media penyampaian pesan mulai dari kartu ucapan dan surat, telepon, SMS, BBM, hingga yang sedang &#8216;happening&#8217; sekarang, social media, hanya demi sebuah ungkapan pesan &#8220;Selamat Idul Fitri&#8221;.</p>
<p>Menariknya, tata cara penyampaian pesan tersebut seperti memiliki tingkatan yang terwujud secara sosial bersumber dari pengalaman dan preferensi kita untuk &#8216;memilih yang mana untuk siapa&#8217;.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;tata cara penyampaian pesan tersebut seperti memiliki tingkatan yang terwujud secara sosial bersumber dari pengalaman dan preferensi kita untuk &#8216;memilih yang mana untuk siapa&#8217;&#8221;</p></blockquote>
<p>Untuk yang dituakan terlebih orang tua sendiri, misalnya, mudik adalah yang tertinggi arasnya karena kedatangan secara fisik adalah hal maksimal yang bisa diwujudkan manusia untuk menerjemahkan arti &#8216;silaturahmi&#8217;.<br />
Sekalinya orang tua tiada, mudik tahunan ke kampung halaman bisa jadi tinggal kenangan; sebagai gantinya, &#8216;anak&#8217; yang biasa mudik ke rumah orang tua, kini menjadi obyek yang &#8216;dimudiki&#8217; oleh anak-turunnya. Normal sih, setidaknya hal itu menandakan proses regenerasi sedang terjadi.</p>
<p>Tingkat kedua adalah telepon.<br />
Ketika orang tak bisa mudik dengan berbagai macam alasan, mengucapkan salam melalui telepon menempati posisi tertinggi untuk &#8216;bersilaturahmi&#8217;.<br />
Terlebih ketika orang semakin sadar bahwa mudik memerlukan ongkos tak sedikit baik itu finansial maupun tenaga ekstra untuk setidaknya melawan nafsu marah melihat jalanan bolong-bolong dan lalu-lintas yang kacau sepanjang perjalanan misalnya, telepon adalah sarana canggih yang nggak pake &#8216;macet&#8217; kecuali line lagi penuh dan nggak pake &#8216;mahal&#8217; kecuali mau arisan jam-jaman atau ngegosip tak tentu arah.</p>
<p>Esensi &#8216;fisik&#8217; juga tak hilang meski suara kita harus melewati proses decoding dan encoding selama proses transmisi melalui jalur komunikasi satelit yang terlalu njelimet untuk dijelaskan di sini.</p>
<p>Setelah kuputuskan pindah ke Australia, tiga tahun silam, sarana ini selalu kugunakan ketika harus mengucapkan selamat hari raya untuk sanak saudaraku di Indonesia.</p>
<p>Surat menyurat termasuk mengirimkan kartu ucapan kutempatkan di posisi ketiga.<br />
Sebenarnya kalau itu hanya surat-menyurat dalam arti kita menulis tangan di atas lembaran kertas kosong berlembar-lembar banyaknya, aku lebih menganggap itu sebagai sesuatu yang berarti ketimbang telepon karena ada effort yang tak sedikit untuk melakukannya. Tapi ketika lembaran demi lembaran itu tergantikan kartu ucapan yang template dan kita cuma membubuhkan &#8220;salam dari jauh &#8211; Donny Verdian&#8221; atau sesuatu yang singkat saja, &#8216;nilai&#8217; nya menurutku telah surut terlalu banyak.</p>
<p>SMS, kecuali SMS template, ada di posisi keempat.<br />
Agak subyektif sebenarnya, tapi sisi &#8216;personalisasi&#8217; dan &#8216;ongkos&#8217; yang tak murah meski kabarnya banyak operator kini menggratiskan jasa sms antar penggunanya, tapi tetap saja kalau dari Australia sini mengirimkan sms adalah &#8220;sesuatu banget&#8221; karena mahalnya <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Aku menggunakan jasa SMS untuk mengirim ucapan ke teman-teman dekat saja selama Idul Fitri kemarin. Semoga saja sih yang kukirimi juga sadar setidaknya SMS menempati level yang lebih tinggi ketimbang yang akan kusebut di bawah ini. Oh ya, soal SMS template, ia tak masuk ke kategori tingkatan manapun karena menurutku apa bedanya mengirim SMS template dengan tak mengirim? Bagiku sama saja&#8230; &#8220;otentik&#8221; adalah kata kuncinya!</p>
<p>Aku pernah dapat kiriman sms template dari seorang teman dan saking gemasnya, aku balas dengan copy-paste sebuah iklan baris di koran lokal Jogja waktu itu lalu kukirim sebagai balasan <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Social Media<br />
Adanya social media menguntungkan dua hal. Pertama, &#8216;derajat&#8217; SMS naik satu level. Kalau awal dekade lalu orang masih suka marah karena &#8216;Ngucapin Selamat Idul Fitri kok cuma lewat SMS&#8217; eh, kemarin dengar ada orang bilang &#8216;Masih untunggg si Anu ngirim ucapan lewat SMS.. lha si B malah cuma boardcast lewat social media tuh!&#8217; Kedua, &#8216;derajat keuangan&#8217; kita pun naik karena ongkos yang harus kita keluarkan untuk mengirim SMS jadi &#8216;aman&#8217; karena mengirim ucapan lewat social media apalagi boardcast, &#8220;Itu mah nothing!&#8221;</p>
<p>Nah itulah sekadar apa yang kupikirkan tentang sesuatu yang marak terjadi selama musim liburan hari raya&#8230;<br />
Bagiku, sebenarnya apapun jalur yang kita pilih, semua tak kan mematikan &#8216;pesan&#8217; yang kita sampaikan. Fisik, telepon, SMS, social media, maupun apapun yang hendak tercipta di masa mendatang untuk kita menyampaikan pesan, semuanya adalah &#8216;jalur&#8217; semua adalah &#8216;alat&#8217;. Tak ada satupun yang mampu mengurangi makna &#8216;pesan&#8217; dalam konteks mengirim ucapan hari raya.</p>
<p>Apakah ini sebuah bentuk degradasi sosial? Entahlah aku bukan pakar sosial tapi bahasa yang tepat untuk melukiskannya barangkali adalah &#8216;semua mengikuti arus perkembangan jaman.&#8217;<br />
Baik buruknya, kita harus memfilter dengan filter yang sama yang diberikan Tuhan sejak Adam dan Hawa hingga manusia terakhir yang akan diciptakannya sesaat sebelum kiamat dijadikanNya kelak, kemanusiaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><a href="http://www.freevectordownload.org/images/dialog-download-free-vector-bubbles-free-graphic-download-1235.jpg"><strong>Credit photo</strong></a>.</em></p>
<div class="zemanta-pixie" style="margin-top: 10px; height: 15px;"><a class="zemanta-pixie-a" title="Enhanced by Zemanta" href="http://www.zemanta.com/"><img class="zemanta-pixie-img" style="float: right;" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=edf17f57-b59e-4437-a84c-d9ad05e60a21" alt="Enhanced by Zemanta" /></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/09/12/menyampaikan-selamat-hari-raya-pakai-cara-apa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

