<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; ipod</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/ipod/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Odol dan Pasta Gigi</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/09/26/odol-dan-pasta-gigi.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/09/26/odol-dan-pasta-gigi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 06:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[aqua]]></category>
		<category><![CDATA[colt]]></category>
		<category><![CDATA[honda]]></category>
		<category><![CDATA[ipod]]></category>
		<category><![CDATA[jeep]]></category>
		<category><![CDATA[liman]]></category>
		<category><![CDATA[odol]]></category>
		<category><![CDATA[rinso]]></category>
		<category><![CDATA[walkman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2183</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menjadi yang tak terlupakan, sebenarnya kita tak perlu menjadi yang pertama dan  tak perlu pula jadi yang terbesar. Yang diperlukan praktis hanya bagaimana kita mampu meninggalkan kesan yang mendalam, tentu dalam arti yang positif. Tak percaya? Beberapa &#8216;brand&#8217; di bawah ini adalah contohnya. Saking tak terlupakannya, mereka bahkan berhasil menggeser istilah ragam produk menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/09/26/odol-dan-pasta-gigi.html" title="Permanent link to Odol dan Pasta Gigi"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_brand.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Odol dan Pasta Gigi" /></a>
</p><p>Untuk menjadi yang tak terlupakan, sebenarnya kita tak perlu menjadi yang pertama dan  tak perlu pula jadi yang terbesar. Yang diperlukan praktis hanya bagaimana kita mampu meninggalkan kesan yang mendalam, tentu dalam arti yang positif. Tak percaya? Beberapa &#8216;brand&#8217; di bawah ini adalah contohnya. Saking tak<br />
terlupakannya, mereka bahkan berhasil menggeser istilah ragam produk menjadi dirinya sendiri.</p>
<p><em>Sesuatu banget, kan?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Odol</h3>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 151px">
	<a href="http://www.euro-goodies.com/index.php?main_page=product_info&amp;products_id=766"><img class="   " src="http://euro-goodies.com/myfiles/Odol.jpg" alt="" width="151" height="122" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Odol (Euro-Goodies.com)</p>
</div>
<p>Entah di pulau lain, tapi di Jawa dan Jakarta (kutulis terpisah karena orang Jakarta biasanya mengklaim orang Jawa Tengah, Jawa Barat, Jogja dan Jawa Timur sebagai<em> &#8220;dari Jawa ya?&#8221;</em>),  setahuku kosakata &#8216;odol&#8217; lebih sering dipakai ketimbang &#8216;pasta gigi&#8217;.  Tak ada fakta asli tentang bagaimana istilah itu bisa tergantikan, tapi aku menengarai, penjajah Belanda lah yang membawa istilah ini ke Tanah Air lewat produk pasta gigi buatan Jerman bermerk &#8216;Odol&#8217;.</p>
<p>Untuk kalian tau saja, bahkan sejak 1930an, pasta gigi yang trademarknya dikuasai oleh <em>GlaxoSmithKline Consumer Healthcare</em> (perusahaan Jerman)  sudah diekspor ke lebih dari 20 negara dan bukannya tak mungkin para <em>meneer</em> dan <em>nonik</em> Belanda adalah salah satunya yang lalu membawa si Odol itu ke Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Honda</h3>
<p>Tak ada orang yang tak mengenal Honda. Produsen kendaraan bermotor yang kini telah melebarkan sayapnya hingga jadi produsen mobil dan mesin pesawat terbang. Saking terkenalnya, bagi sebagian orang kita, &#8220;Honda&#8221; adalah kata ganti &#8220;sepeda motor&#8221;. Beberapa kali dulu sering dengar orang bilang <em>&#8220;Pinjam honda-nya ya?!&#8221;</em> Atau mau yang lebih absurd lagi, <em>&#8220;Hondamu merk-nya apa?&#8221;</em></p>
<p>Untung, semoga ini benar, salah kaprah itu sudah mulai tergantikan. Kini orang lebih menggunakan &#8220;sepeda motor&#8221; atau &#8220;motor&#8221; saja ketimbang &#8220;Honda&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Aqua</strong></p>
<p>Kalau &#8220;Odol&#8221; itu<em> so 30s</em>, maka mau yang so millenium adalah &#8220;Aqua&#8221; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Aqua, brand minuman air mineral yang kini dimiliki Danone itu, bagi sebagian orang kini telah mengganti istilah &#8220;minuman air mineral&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Kupikir sapaan-sapaan di bawah ini tak asing lagi:<br />
&#8220;Eh, beli aqua sekotak buat acara besok di gereja ya!&#8221; <em>(Ngga taunya merknya bukan Aqua)</em><br />
&#8220;Air minum di rumahmu pakai aqua apa air PAM?&#8221;</p>
<p>Entahlah, butuh waktu berapa lama untuk menghilangkan kebiasaan ini karena sepertinya selain tak mudah, istilah asalnya &#8220;minuman air mineral&#8221; bukankah juga tak terlalu pendek untuk diucapkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Jip/Colt</h3>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 173px">
	<a href="http://imageshack.us/photo/my-images/243/willysty4.jpg/"><img class="   " src="http://img243.imageshack.us/img243/5639/willysty4.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Jeep Willys (Imageshack)</p>
</div>
<p>Sama halnya dengan &#8216;Jip&#8217;, adalah &#8216;Colt&#8217;, brand milik <strong>Mitsubishi</strong> yang keluar pada awal dekade 70-an. Bentuknya seperti wagon, mobil boks tertutup yang bisa dinaiki lebih banyak orang ketimbang sedan dan&#8230; jip misalnya. Bagi kalian yang tinggal di kawasan Solo &#8211; Klaten &#8211; Jogja, barangkali bahkan hingga kini masih akrab dengan istilah &#8220;<em>Kol Prambanan &#8211; Terban (Jogja)</em>&#8221; atau &#8220;<em>Kol Delanggu &#8211; Kartasura</em>&#8221; untuk mengistilahkan angkutan umum darat yang bentuk mobilnya kebanyakan memang mirip Mitsubishi Colt lawas itu.</p>
<p>Ah aku jadi ingat pertanyaan yang selalu ditanyakan eyangku kalau aku mudik dari Jogja ke Klaten pada tiap akhir pekan dulu. <em>“Kowe mau saka Jogja nge-bis po nge-kol?”</em> (Kamu tadi dari Jogja naik bis atau naik Colt?).</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Rinso</h3>
<p>Siapa tak kenal Rinso? Brand sabun cuci pakaian ini sudah mulai diproduksi bahkan sejak pergerakan nasional Indonesia masih merah bayi, 1908. Maka tak heran kalau hingga sekarang pun orang selalu mengidentikkan &#8220;sabun cuci pakaian bubuk&#8221; sebagai &#8220;Rinso&#8221;</p>
<p>Ini kisah nyata. Salah seorang kawan dekat baru-baru ini buka usaha laundry di sebuah sudut pinggiran Jogja. Suatu hari ia begitu kaget ketika ditanya oleh seorang ibu-ibu yang tinggal di sekitar situ.</p>
<p>&#8220;Mas, laundy sampeyan pake Rinso ngga nyucinya?&#8221;<br />
&#8220;Nggak, Bu.. saya pake produk lain.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya sudah.. ngga jadi kalau gitu..&#8221;<br />
&#8220;Lho Bu, tapi produk ini juga ngga kalah bagusnya lho (ktimbang Rinso!)&#8221;</p>
<p>Ia lalu menunjukkan sabun cuci bubuk yang ia pakai kepada ibu itu tadi. Lalu alangkah terkejutnya dia ketika si Ibu berujar &#8220;Lha, ini kan Rinso!&#8221;<br />
<em> #kemudianHening&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>iPod/Walkman</h3>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 109px">
	<a href="http://scrapetv.com/News/News%20Pages/Technology/pages-2/Dozens-left-in-the-lurch-as-Sony-suddenly-ceases-Walkman-production-Scrape-TV-The-World-on-your-side.html"><img class="  " src="http://scrapetv.com/News/News%20Pages/Technology/images-2/walkman.jpg" alt="" width="109" height="133" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Walkman (scrapetv.com)</p>
</div>
<p>Era digital bukan berarti berlalu tanpa &#8216;kesalahan&#8217;. Suatu waktu, pernah aku bertandang ke pasar malam di Jogja dan menemukan ada banyak penjual menjajakan dagangannya, sebuah pemutar musik digital berbagai macam merk China dengan label &#8220;Jual iPod bermacam-macam merk!&#8221;  Blah!</p>
<p>Kalian yang belum ngerti, iPod adalah alat pemutar musik digital besutan Apple inc yang laris manis tanjung kimpul itu!</p>
<p>Sama halnya dengan iPod, dua dekade di belakangnya, pasar pemutar musik kaset dan CD adalah milik SONY yang berkibar dengan brand &#8220;walkman&#8221; nya. Dulu sekali, waktu masih SD dan SMP, kalau sudah jalan-jalan pakai &#8216;walkman&#8217; sudah bangga setengah mati, meski kalau ditanya orang &#8220;Walkman-mu merk apa?&#8221; jawabnya bisa bermacam-macam dan tak lagi hanya SONY.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Remi</h3>
<p>Agak berbeda dengan &#8216;kesalahan&#8217; di atas, remi adalah jenis permainan yang bisa dilakukan dengan menggunakan kartu&#8230; apa ya nama kartunya.. ya kartu remi kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Nah, itulah&#8230; padahal dengan menggunakan kartu (remi) itu tadi, kita tak hanya bisa bermain  remi. Kita bisa main minuman (congklak), poker, black jack, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Bahasa Inggris kartu remi adalah Playing Card, tapi bahasa Indonesianya masak ya jadi &#8220;Kartu Permainan&#8221;? Tiada yang lebih cocok selain &#8220;Kartu Remi&#8221; Salah ya ndak papa&#8230; yang penting asyik <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Liman</h3>
<p>Kalau yang ini personal sekali sifatnya. Kira-kira dua puluh lima tahun silam, suatu pagi aku merengek-rengek minta dibelikan aquarium ke Papa (alm). Maka berangkatlah kami bertiga (aku, mama dan Papa.. Citra ditinggal di rumah bersama pembantu) ke sebuah toko penjual aquarium dan ikan hias. Aquarium sudah terbeli dan ikan sudah pula dipilih tinggal diplastiki hingga akhirnya penjualnya yang adalah orang tua teman sekolahku itu berujar,</p>
<p>&#8220;Nggak beli &#8216;Liman&#8217; sekalian, Pak?&#8221;<br />
&#8220;Oh apa itu?&#8221; demikian kira-kira tukas Papaku.<br />
&#8220;Liman itu untuk bikin gelembung udara di aquarium supaya ikannya nggak kehabisan nafas!&#8221; Ancur leburkah penjelasannya?! Huh?</p>
<p>Maka Papa pun membelinya serta dan sejak saat itu, setiap &#8216;Liman&#8217; nya rusak dan kami harus membeli yang baru, kami tinggal menyebut <em>&#8216;Mau beli LIMAN!&#8217;</em> dan uniknya setiap toko yang kami datangi tahu dan langsung memberikan sebuah waterpump ber-merk LIMAN itu. Yang mbikin lebih heran lagi, karena seingatku dulu Citra toh tak ikut ke toko ikan, beberapa waktu silam melalui <strong>Facebook</strong>, ia bercerita <em>&#8220;Abis beli LIMAN untuk akuarium.&#8221;</em></p>
<p>Aku lantas menjelaskan asal mula &#8216;kesalahan&#8217; itu dan ia ngeh&#8230; meski ku tak yakin ia mampu mengubah persepsi lama itu ke depannya. Barangkali sebenarnya tak hanya dia. Kalaupun aku tak tinggal di luar negeri yang mengharuskanku berbahasa Inggris, pasti akan tetap pakai istilah &#8220;LIMAN&#8221; ketika membeli ketimbang menyebut jenisnya, <em>waterpump</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/09/26/odol-dan-pasta-gigi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>iPod, Mobile Phone dan Terciptanya Sebuah Aturan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 17:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[ipod]]></category>
		<category><![CDATA[mobile phone]]></category>
		<category><![CDATA[rule]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Ketergelitikanku setelah memandang dengan takjub pada aturan yang kupotret di atas, semata-mata pada kelihaian si pembuat aturan, seorang pemilik coffeshop, merangkai sebab (kausalitas), menerangkan akibatnya lantas menjadikan relasi keduanya itu menjadi aturan yang persuasif, jauh dari kesan represif. Aku membayangkan, awal mula hingga terbit aturan itu barangkali demikian. Sebuah pagi di tahun 2004 sekitar dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S10IcGcJeWI/AAAAAAAAAWQ/4TwY_g3VpKA/rule_ipod.gif" alt="" width="350" height="377" /></p>
<p>Ketergelitikanku setelah memandang dengan takjub pada aturan yang kupotret di atas, semata-mata pada kelihaian si pembuat aturan, seorang  pemilik <em>coffeshop</em>, merangkai sebab (kausalitas), menerangkan akibatnya lantas menjadikan relasi keduanya itu menjadi aturan yang persuasif, jauh dari kesan represif.</p>
<p>Aku membayangkan, awal mula hingga terbit aturan itu barangkali demikian.</p>
<p>Sebuah pagi di tahun 2004 sekitar dua bulan sesudah coffeeshop buka untuk pertama kalinya, orang mulai ramai menyukai adonan kue dan pasnya <em>brewing</em> kopi yang dihidangkan. Saking ramainya, antrian panjang mengular adalah pemandangan yang umum di coffeeshop tersebut. Pada saat-saat seperti itu (biasanya di pagi hari) kecepatan layanan para <em>barista </em>(ahli peracik kopi) dan pelayan lainnya termasuk kasir adalah kunci berpengaruh terhadap berapa banyak orang yang bisa dilayani, berapa produk yang bisa terjual dan pada akhirnya berapa keuntungan yang bisa dicapai.</p>
<p>Sekonyong-konyong seorang pria parlente bertubuh tinggi besar yang masuk dalam antrian dan kebetulan sudah sampai di hilir tampak &#8216;mbudheg&#8217; karena berkonsentrasi mendengarkan musik dari piranti yang lantas dikenal dengan nama iPod.</p>
<p><em>&#8220;Next, please!&#8221;</em> Si barista mempersilakan antrian berikutnya untuk maju ke depan, dilayani. Tapi si parlente itu tak bereaksi, ia malah manggut-manggut berirama.</p>
<p><em>&#8220;Neeexttt, pleaseee!&#8221;</em> Si barista kembali bersuara, kali ini dengan tekanan yang lebih keras dan suara yang terdengar jauh lebih lantang.</p>
<p>Tapi skali lagi, si parlente diam saja sambil melamun ke arah lain hingga akhirnya ia &#8216;ngeh&#8217; setelah bahunya yang masif ditepuk oleh pengantri di belakangnya.</p>
<p><em>&#8220;Oh, ssoooryyy&#8221;</em> Ia pun maju ke depan tergopoh-gopoh kehadapan barista yang mencoba tetap bersikap cool meski hatinya kecut masam!</p>
<p>* * *</p>
<p>Hari berikutnya, seorang wanita setengah baya melakukan hal yang kurang lebih sama.<br />
Ketika sedang mengantri membeli kopi, rupanya ia lupa menitipkan kunci rumah kepada suami yang telah lebih dulu berangkat kerja, maka ia segera menelpon suaminya.<br />
<em> &#8220;Haloo.. Pa&#8230; Aduh, sorry aku tadi lupa titip kunci ke kamu! Trus gimana nanti kamu masuk rumah kalau aku belum pulang ya?&#8221;</em> ujarnya di telepon. Lalu percakapan pun memanjang, sementara antrian terus maju ke depan hingga si wanita sibuk itu sampai pula di bagian hilir antrian.</p>
<p><em>&#8220;Next please!&#8221;</em> seru si barista yang kebetulan juga sama dengan barista yang bertugas kemarin.<br />
Si wanita tersenyum melambaikan tangannya ke arah barista seperti hendak berbicara <em>&#8220;Tunggu bentar ya&#8230;&#8221;</em><br />
Si Barista membalas senyuman dan lambaian tangan itu dengan cibiran yang kecut &#8230;<br />
Ia, yang kemarin berhadapan dengan pria parlente ber-iPod, tak mau kehilangan akal dan tak mau mengecewakan antrian berikutnya. Si barista itu lantas meminta orang yang berada di antrian kedua untuk maju ke depan mendahului si wanita yang.. masih tetap on the phone itu.</p>
<p>Hingga lima kali &#8216;dilangkahi&#8217;, pada akhirnya si wanita itupun selesai menggunakan telpon.<br />
Alih-alih kembali masuk ke dalam antrian, ia langsung maju ke depan dan menggebrak meja barista. <em>&#8220;Hey! Bukannya aku tadi sudah bilang TUNGGU SEBENTAR! Aku kan sedang telepon dengan suamiku, kenapa tak kamu pedulikan?&#8221;</em></p>
<p>Tatap matanya tajam seperti macan kehausan dan setiap kata yang terlontar adalah sembilu yang menancap sementara si Barista yang tampak masih muda itu &#8216;ngeper&#8217; menghadapi si wanita lalu beringsut ke belakang melapor kepada bosnya. Nggak pake lama, perkara itupun diselesaikan dengan baik oleh Sang Bos. Secangkir kopi gratis dan setumpuk kata <em>&#8220;Sorry&#8221;</em> diberikan kepada si wanita macan secara cuma-cuma  sebagai obat penawar kecewanya. Keuntungan pagi itupun ternodai dengan menipisnya mental si Barista akibat dibentak, serta keuntungan secangkir longblack yang melayang percuma&#8230;</p>
<p>* * *</p>
<p>Sore harinya, ketika meeting evaluasi antar barista dan manajemen, diputuskanlah untuk membuat tata aturan yang menyangkut kejadian dua hari berturut-turut terkait dengan penggunaan iPod dan telepon genggam. Revisi sana, revisi sini, tambah sini dan hapus yang sebelah sana, palu pun diketok, aturan dicetak lalu dengan sedikit laminasi dan bantuan plester, dipasanglah ia seperti terpampang di atas itu tadi.</p>
<p>Dari sebuah foto tentang aturan serta peristiwa kecil yang kureka-reka di atas, aku belajar satu hal&#8230;<br />
Manusia adalah makhluk yang bisa memperkaya dirinya dengan sesuatu yang telah lewat.<br />
Ketika ia menghadapi satu hal dengan jalan yang mulus, ia lantas mempelajarinya sebagai pola dan menerapkannya ke masa depan sebagai resep&#8230; jurus untuk mendapatkan kemulusan yang sama bahkan lebih. Namun ketika ia menghadapi satu hal yang menghambat kemulusan, ia akan mengingatnya dan tidak menginginkan hal itu terjadi di masa depan. Lantas, terbesitlah tata aturan, yang membuat langkah-langkah pengecualian dan penanggulangan ketika penghambat itu menghadang di depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

