<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; israel</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/israel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Israel&#8230;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/06/12/israel.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/06/12/israel.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 16:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanapun juga, Mel Gibson terhitung sukses berat mengusung kisah sengsara Yesus dalam film yang begitu &#8216;menyayat-yayat&#8217;, Passion of the Christ. Enam tahun silam, ketika film ini dirilis untuk pertama kalinya, aku termasuk orang yang tiba-tiba tergila-gila pada film itu, baik secara teknis pembuatan maupun kisah sengsara Yesus itu sendiri, sesuatu yang seharusnya memang perlu selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Bagaimanapun juga, <strong>Mel Gibson</strong> terhitung sukses berat mengusung kisah sengsara Yesus dalam film yang begitu &#8216;menyayat-yayat&#8217;, <em>Passion of the Christ</em>. Enam tahun silam, ketika film ini dirilis untuk pertama kalinya, aku termasuk orang yang tiba-tiba tergila-gila pada film itu, baik secara teknis pembuatan maupun kisah sengsara Yesus itu sendiri, sesuatu yang seharusnya memang perlu selalu &#8216;digilai&#8217; oleh seorang Katolik seperti aku.<br />
Namun ternyata tak hanya itu, secara tak kusengaja, ada perasaan sentimen dan kebencian yang membukit terhadap bangsa Israel setelah menikmati Passion of the Christ.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://us.detiknews.com/images/content/2009/01/20/157/coveranjal.jpg" alt="" width="198" height="180" />Pasalnya adalah dalam film tersebut, visualisasi tentang bagaimana <strong>Anas</strong> dan <strong>Kayafas</strong>, dua imam besar Israel memainkan intrik politik untuk menjerat dan menyerahkan Yesus kepada pemerintahan pendudukan Romawi di Israel (yang kemudian menjatuhkan hukuman mati terhadapNya) tampak begitu nyata dan sangat antagonis sekali.</p>
<p>Tapi untunglah, rasa itu hanya muncul sementara dan sesudahnya hilang menghablur. Aku mengikis rasa itu dengan berpikir analogis sederhana seperti di bawah ini:</p>
<p>Sebagai orang Indonesia, tentu aku tak ingin dinilai sebagai &#8216;bangsa penjajah&#8217; oleh orang-orang Timor Leste hanya karena pemerintah negaraku pernah dianggap melakukan &#8216;invasi dan okupansi&#8217; terhadap Timor-Timur 34 tahun silam.</p>
<p>Sebagai orang Indonesia, tentu aku tak ingin dinilai sebagai &#8216;bangsa bomber&#8217; hanya karena ulah sekian orang yang kebetulan sama-sama orang-orang Indonesianya dan &#8216;ngebom&#8217; Bali tahun 2002 mengakibatkan korban lebih dari 202 orang tewas serta 209 lainnya cedera&#8230;</p>
<p>Dari situ aku lantas berkesimpulan bahwa alasanku untuk membenci sebuah bangsa hanya karena tindakan segelintir orang yang kebetulan bersuku bangsa sama adalah alasan yang tak masuk akal. Bagiku, tak ada yang bisa dinamakan sebagai dosa suku bangsa karena kalaupun dosa itu benar-benar ada, ia melekat pada setiap persona, bukan?</p>
<p>Hari Senin kemarin aku kembali mengingat peristiwa di atas.<br />
Pada acara perpisahanku di kantor lama, dengan bebas merdeka aku menjabat erat<em> Lapinski</em>, rekan kerjaku yang bersuku bangsa Israel. Kami tak pernah bermasalah, bekerja dengan damai dan terbukti dalam satu setengah tahun, aku dan dia adalah tim kerja yang apik.<br />
Tak sekalipun kami pernah meributkan apa yang pernah terjadi 2000 tahun silam antara imam besar bangsanya terhadap Yesus, manusia yang Tuhan, Tuhan yang manusia itu. Bukan karena aku tak peduli atau meletakkan kedamaian di atas kebenaran, tapi sekali lagi lebih pada pemikiran bahwa salah benar dan baik buruk orang itu melekat pada personal dan bukan suku bangsa juga agama seseorang.</p>
<p>Selamat berakhir pekan&#8230;</p>
<p><strong>Sumber foto: <a href="http://detik.com">Detik</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/06/12/israel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Lama Dendam dan Permusuhan Memiliki Usia?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/11/21/seberapa-lama-dendam-dan-permusuhan-memiliki-usia.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/11/21/seberapa-lama-dendam-dan-permusuhan-memiliki-usia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 17:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[dendam]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Aku punya dua orang teman yang saling bersahabat. Yang seorang berperawakan tinggi besar, ia berasal dari Jerman. Seorang lagi kurus dan jauh lebih pendek, berkulit merah serta berambut hitam. Sekitar lima bulan setelah aku mengenalnya, barulah kutahu bahwa ia berasal dari Israel. Kebetulan keduanya mengerjakan bagian yang nyaris sama dalam pekerjaan dan kantor yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div style="text-align:center;"><a href="http://view.picapp.com/default.aspx?term=clock&amp;iid=274845" target="_blank"><img src="http://cdn.picapp.com/ftp/Images/0271/e0ea3bba-de8f-4007-93ed-c0ab3d08af91.jpg?adImageId=7649516&amp;imageId=274845" border="0" alt="Detail view of a clock displaying lunch hour" width="500" height="335" /></a></div>
<p><script src="http://cdn.pis.picapp.com/IamProd/PicAppPIS/JavaScript/PisV4.js" type="text/javascript"></script></p>
<p>Aku punya dua orang teman yang saling bersahabat.<br />
Yang seorang berperawakan tinggi besar, ia berasal dari Jerman. Seorang lagi kurus dan jauh lebih pendek, berkulit merah serta berambut hitam.  Sekitar lima bulan setelah aku mengenalnya, barulah kutahu bahwa ia berasal dari Israel.</p>
<p>Kebetulan keduanya mengerjakan bagian yang nyaris sama dalam pekerjaan dan kantor yang sama pula. Hampir setiap weekend, keduanya beserta keluarga masing-masing berkumpul menikmati akhir pekan bersama entah itu sekadar saling mendatangi rumah, piknik dan makan bersama bahkan sampai bermain water-ski di sebuah teluk di utara Sydney tak jauh dari tempat tinggal mereka.</p>
<p>Menyimak serunya persahabatan antar mereka, aku jadi sering terkagum-kagum betapa persahabatan mereka seperti tak menyisakan dendam tua antar kedua bangsa. Padahal seperti kita ketahui bersama, Jerman dan Israel adalah dua bangsa yang pernah saling bertarung, pihak penindas dan yang ditindas, dan kisah kelamnya menjadi titik hitam dalam khasanah sejarah kemanusiaan manusia. Mungkin saja, ini kemungkinan, kedua orang tua / kakek-nekek mereka pun dulu (yang kubayangkan lahir dan besar pada masa Perang Dunia I) terlibat dalam rasa saling benci serta dendam yang luar biasa besarnya dulu. Atau mungkin pula salah satu saudara si Israel dulu pernah menjadi korban keganasan kamp konsentrasinya Hitler, si pemuka dari Jerman itu.</p>
<p>Kisah tentang persahabatan dua teman baruku di atas pada akhirnya mencelikkan mata hatiku untuk tak hanya puas mengagumi tapi sekaligus menggantungkan berbagai macam tanya terkait tentang dendam, permusuhan serta persahabatan itu sendiri.</p>
<p><em>Kapan dan seperti apa sebenarnya mata rantai dendam itu akhirnya putus, menghablur dan hilang begitu saja?</em></p>
<p><em>Butuh pengorbanan seperti apa dan penyangkalan diri sehebat apa dari masing-masing pihak yang berseteru dan mendendam sehingga dendam bisa disapu bersih dari pelataran hati masing-masing?</em></p>
<p><em>Bilakah seorang yang telah menyakiti meminta maaf dan bersahabat dengan orang yang disakiti?<br />
Bilakah seorang yang disakiti memaafkan orang yang menyakiti lalu menerimanya sebagai seorang sahabat?</em></p>
<p><em>Bilakah George W. Bush berdamai dengan Osama Bin Laden?<br />
Bilakah George Bush Sr berpelukan damai dengan Saddam Hussein?<br />
Bilakah ratusan ribu (hingga jutaan?) manusia Indonesia yang dulu dicap sebagai &#8220;PKI&#8221; memaafkan Soeharto dan Orde Barunya?<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.<br />
&#8230;.</em></p>
<p><em>Bilakah Setan mengaku salah dan kalah lalu menggapai Tuhan untuk bersahabat kembali?<br />
Bilakah Tuhan memaafkan Setan lantas menerima pertemanan itu kembali?</em></p>
<p>Bilakah? Bilakah? Bilakah?</p>
<p>Selamat berakhir pekan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/11/21/seberapa-lama-dendam-dan-permusuhan-memiliki-usia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

