<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; little nyonya</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/little-nyonya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Little Nyonya</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/20/little-nyonya.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/20/little-nyonya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[DVD]]></category>
		<category><![CDATA[little nyonya]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[singapore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Tak ubahnya seperti sinetron kebanyakan, Little Nyonya sebenarnya menawarkan deretan konflik yang standar; drama percintaan yang mbulet namun mudah ditebak ditemani riak-riak cerita yang sedikit &#8216;nggak penting&#8217;. Tapi toh agak sedikit di luar nalar, karena pada akhirnya aku menyukainya. Peristiwa &#8216;aku menyukai sinetron&#8217; barangkali sama halnya dengan peristiwa gerhana matahari yang boleh terjadi 100 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><a href="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs097.snc1/4976_95052033302_22268538302_2121990_6554648_n.jpg"><img class="alignleft" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs097.snc1/4976_95052033302_22268538302_2121990_6554648_n.jpg" alt="" width="154" height="217" /></a> Tak ubahnya seperti sinetron kebanyakan, <strong>Little Nyonya</strong> sebenarnya menawarkan deretan konflik yang standar; drama percintaan yang mbulet namun mudah ditebak ditemani riak-riak cerita yang sedikit &#8216;nggak penting&#8217;.  Tapi toh agak sedikit di luar nalar, karena pada akhirnya aku menyukainya. Peristiwa &#8216;aku menyukai sinetron&#8217; barangkali sama halnya dengan peristiwa gerhana matahari yang boleh terjadi 100 tahun sekali, sesuatu yang&#8230; sangat langka terjadi!</p>
<p>Kisah Little Nyonya adalah kisah percintaan antara <strong>Yueniang </strong>(diperankan oleh Jeanete Aw)<strong> </strong>dengan <strong>Chen Xi </strong>(Qi Yuwu), dua insan produk peranakan, hasil kawin campur suku China dengan suku lainnya (dalam hal ini melayu dan biasa disebut baba-nyonya) yang terpisah strata sosial dan ekonomi bagai bumi dan langit, klise huh?! Konflik cerita yang terjadi pun tak jauh-jauh dari soalan suratan takdir, percintaan dan perselingkuhan dan tak lupa tentu kriminalitas, pembunuhan serta pertobatan dan penyesalan seperti kebanyakan cerita sinetron lainnya.</p>
<p>Lantas yang membuatku tertarik terutama adalah frame cerita yang kuat!</p>
<p>Little Nyonya &#8216;didirikan&#8217; di atas sebuah gagasan besar tentang pertumbuhan kaum china peranakan di semenanjung Malaka mulai awal abad 20-an hingga masa kini. Bagaimanapun, cerita sejarah tentang pertumbuhan kaum ini bagiku sangat dan selalu menarik karena dari sisi daya juang untuk hidup, mereka yang hijrah dari tanah leluhur di RRC dan lantas berasimilasi dengan penduduk sekitar itu memiliki satu daya dobrak luar biasa yang patut dicontoh.</p>
<p>Sementara hal lain yang juga tak kalah menarik adalah masalah bagaimana si penulis skenario mengakhiri rangkaian ceritanya.<br />
Little Nyonya yang terdiri dari 34 episode ini dikemas bukan sebagai drama yang happy ending dalam artian bahwa si tokoh perempuan tak harus menikah dengan tokoh pria. Yueniang dan Chen Xi pada akhirnya terpisah oleh nasib, terbelenggu takdir.</p>
<p>Kukatakan menarik karena ini di luar kebiasaan pattern sinetron yang hilir mudik di televisi yang selalu memberikan jaminan kepada penonton bahwa se-absurd apapun alur cerita yang sedang ditayangkan, yakinlah bahwa akhirnya si upik abu itu akhirnya dipersunting oleh sang pangeran!</p>
<p>Bagi yang ingin tahu tentang Little Nyonya ini, <strong><a href="http://littlenyonya.mediacorptv.sg/">silakan klik di sini</a></strong> namun sayangnya sinetron ini tak memiliki jadwal tayang di Indonesia karena ia disiarkan di Singapura, Malaysia, Hongkong hingga USA. Akan tetapi jika kalian ingin mencari DVD-nya, barangkali di Jakarta atau barangkali sekalian liburan ke Negeri Singa, sempatkanlah mencari keping DVD ini.</p>
<p>Selanjutnya, aku tak ingin bicara tentang Little Nyonya lebih lanjut di sini. Otakkku justru ter-pop-up dengan suatu pemikiran yaitu, kenapa kita tak bisa membuat sinetron se-greget Little Nyonya ini?</p>
<p><strong>Alur cerita yang &#8216;Maju ke Depan&#8217; </strong></p>
<hr />
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 540px">
	<img src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S1U9FhClN9I/AAAAAAAAAVk/uMB1fXS8YUc/sinetron.jpg" alt="" width="540" height="174" />
	<p class="wp-caption-text">Si Doel - Kiamat - Bajaj Bajuri</p>
</div>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Aku tak bisa bilang bahwa semua alur cerita sinetron itu jelek. </span><span style="font-weight: normal;">Si Doel Anak Sekolahan</span><span style="font-weight: normal;">, </span><span style="font-weight: normal;">Bajaj Bajuri</span><span style="font-weight: normal;"> dan </span><span style="font-weight: normal;">Kiamat Sudah Dekat</span><span style="font-weight: normal;">-nya</span><span style="font-weight: normal;"> Deddy Mizwar</span><span style="font-weight: normal;"> adalah beberapa yang bisa kubilang sebagai sinetron jempolan karena kita disuguhi alur cerita yang lugas <em>(meski aku agak sedikit kecewa ketika Si Doel Anak Sekolahan mulai diulur-ulur hingga beberapa seri sesudahnya).</em></span></strong></p>
<p>Kuncinya kupikir adalah bagaimana mengemas alur cerita yang &#8216;maju ke depan&#8217;.</p>
<p>Kebanyakan sinetron, dari episode pertama hingga ke sepuluh, alur ceritanya akan berjalan dengan mulus dan memiliki rel yang jelas, akan tetapi selanjutnya, alur cerita menjadi limbung tak tentu arah hendak ditujukan kemana, akan berakhir berapa lama&#8230; bertele-tele dan membosankan!</p>
<p><strong>Cinta? Tak mengapa, asal&#8230;</strong></p>
<hr />Sinetron tak bisa lepas dari cinta? Tak mengapa asal dikemas dalam bingkai frame yang menarik!</p>
<p>Si Doel mengangkat cinta tapi ia bisa menarik karena dikemas dalam pola pandang aspek hidup orang Betawi yang &#8216;ternyata&#8217; termarjinalkan di tanahnya sendiri.<br />
Kiamat Sudah Dekat menarik karena meski itu adalah sinetron dakwah tapi ia disajikan jauh dari tafsir-tafsir ketat ajaran agama meski aroma spiritualnya masih pekat terasa.<br />
Bajaj Bajuri juga terbilang OK karena ia mengangkat sinisme dari keadaan hidup kaum pra-sejahtera lalu menjungkirbalikannya menjadi sebuah humor situasi.</p>
<p>Ironis tapi menghibur!</p>
<p>Sinetron berbasis cerita hantu pun sebenarnya bisa jadi menarik.</p>
<p>Tapi kalau lantas ada seribu sinetron pengikut yang juga bercerita soal hantu&#8230; aduhhhh, thanks, but no thanks!</p>
<p><strong>Be real</strong></p>
<hr />Hal yang paling kuingat tentang &#8216;kejanggalan&#8217; sinetron adalah demikian, adegan seorang perempuan tidur pulas tapi tetap dengan make up super tebal yang masih terpelihara bahkan hingga pagi harinya!</p>
<p>Come on! Siapa sih yang mau dan mampu mempertahankan make-up hingga menjelang tidur?!</p>
<p>Bahkan seorang ratu-pun kupikir juga akan lebih memilih cuci muka sebelum tidur untuk mengangkat sisa-sisa kosmetiknya lalu bangun dalam kondisi paras yang sama halnya seperti kita, kucel adanya!</p>
<p>Belum lagi adegan-adegan yang tak masuk akal seperti misalnya seorang ibu yang bicara dengan si anak:</p>
<p>Anak: <em>Bu, kenapa aku dilahirkan?</em></p>
<p>Ibu: <em>Jadi begini, Nak&#8230; *ia berdiri lantas memandang ke jendela&#8230; menerawang&#8230; dan musik soundtrack diputar agak sedikit lebih keras*</em></p>
<p>Aduh! Ngomong ya ngomong aja.. sesedih apapun dan sebesar-besarnya nafsu untuk menerawang, tak mungkinlah kalau sampai harus berdiri dulu, mendekat ke jendela, menerawang baru lantas ngomong. <em>That&#8217;s toooo much!</em></p>
<p><strong>Berpikir tentang kemasan</strong></p>
<hr />Dari apa yang kupelajari di Little Nyonya, sinetron Singapore ini tak henti melakukan inovasi kemasan.</p>
<p>Maksudku, ia tak hanya disajikan di televisi, tapi lebih daripada itu,MediaCorp, produsennya mengemas Little Nyonya dalam format DVD. Little Nyonya juga disiarkan hingga ke luar negeri bahkan luar kontinen hingga ke Amerika Serikat.</p>
<p>Internet tak lupa juga dijadikan sebagai media alternatif untuk menawarkan konsep ekstensi kemasan Little Nyonya.<br />
Membuat <strong><a href="http://www.facebook.com/pages/The-Little-Nyonya/22268538302">laman di Facebook</a></strong> hingga menayangkan beberapa petikan hasil rekaman baik yang berasal dari tayangan &#8216;resmi&#8217; maupun behind the scene di Youtube membuat orang jadi merasa selalu intim dengan Little Nyonya.</p>
<p>Original soundtracknya juga digarap serius dan diperjualbelikan dengan label &#8216;Little Nyonya&#8217; yang menempel. Aku tak tahu mana yang lebih dulu diciptakan, lagu-lagu tema atau sinetron Little Nyonya, akan tetapi yang jelas keduanya saling menguatkan.</p>
<p>Tak berhenti di situ, setahun setelah masa penayangan berlalu, <strong>MediaCorp </strong>menghentak lagi dengan mengadakan acara makan malam reuni Little Nyonya menghadirkan hampir semua mantan pemain utama lantas memutar ulang di televisi tepat pada perayaan Tahun Baru Imlek 2009.</p>
<p>Dari situ lantas <strong>MediaCorp </strong>ancang-ancang untuk membuat sekuel Little Nyonya yang katanya akan diputar tahun ini.<br />
Meski percayalah, sampai titik itu, ketertarikanku pada Little Nyonya dipastikan akan berakhir karena aku sudah menengarai bakalan ada suatu alur cerita yang sepertinya akan diputar-putarkan seperti kebanyakan sinetron lainnya juga <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Sumber foto:</strong></p>
<p>Poster Little Nyonya (<strong><a href="http://www.facebook.com/pages/The-Little-Nyonya/22268538302">laman Facebook</a></strong>),  Bajaj Bajuri ( <strong><a href="http://img.youtube.com/vi/df-8EKBLEdk/0.jpg">dari sini</a></strong>), Kiamat Sudah Dekat (<strong><a href="http://elabidisme.blogspot.com">dari sini</a></strong>), Si Doel (<strong><a href="http://alformer259.files.wordpress.com/2009/06/si-doel.jpg">dari sini</a></strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/20/little-nyonya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

