<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; logika</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/logika/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pertimbangan logika</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/05/19/pertimbangan-logika.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/05/19/pertimbangan-logika.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 16:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[logika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=950</guid>
		<description><![CDATA[Aku percaya bahwa dalam setiap hal yang menjadi keputusan di dunia ini, harus selalu ada alasan yang logis dibaliknya atau setidaknya, bisa didekati dengan pendekatan logika hingga kita tahu kenapa keputusan tersebut pada akhirnya ada. Beberapa waktu lalu, melalui sebuah surat elektronik, aku mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan yang tak pernah kuduga sebelumnya akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Aku percaya bahwa dalam setiap hal yang menjadi keputusan di dunia ini, harus selalu ada alasan yang logis dibaliknya atau setidaknya, bisa didekati dengan pendekatan logika hingga kita tahu kenapa keputusan tersebut pada akhirnya ada.</p>
<p>Beberapa waktu lalu, melalui sebuah surat elektronik, aku mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan yang tak pernah kuduga sebelumnya akan bersentuhan denganku: adult material site. Adult material site? Yup, situs khusus dewasa yang kebanyakan memang ber-referensi pada situs porno.</p>
<p>Tawaran tersebut sejatinya sangatlah menggiurkan.<br />
Gajinya boleh dibilang besar, jauh lebih besar dari apa yang kuterima sekarang. Letak kantornya juga strategis, tak jauh dari pusat keramaian kota dan tak memakan waktu lama pula jika ditempuh perjalanan dari rumah tempatku tinggal saat ini. Jam kerjanya pun aduhai. Aku tak perlu ngantor dari pagi hingga sore; mereka membebaskanku memilih jam kerja sesukaku karena selama aku bisa menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan dalam tenggat waktu yang ditentukan, waktu tak lagi jadi kendala.</p>
<p>Terkait dengan kesediaanku, si pemberi kerja memberiku waktu selama seminggu untuk berpikir dan memutuskan apakah aku akan menerima pekerjaan itu atau mempersilakan sang pemilik perusahaan mencari developer lainnya.</p>
<p>Sebenarnya, tak perlu menunggu satu minggu, dalam hitungan menit pun aku sudah memiliki jawaban yaitu, aku tak menerimanya.<br />
Dosa adalah alasan terbesarku, akan tetapi berhenti pada alasan itu saja tanpa menjelaskan &#8220;kenapa hingga berujung dosa?&#8221; juga merupakan &#8216;dosa besar&#8217; bagi kemanusiaan kita karena itu sama saja dengan mengingkari bahwa kita pun sanggup berpikir logis untuk menyaring sesuatu dilihat dari sisi baik buruknya, kan?</p>
<p>Jadi, berikut ini adalah runtutan proses logis yang terjadi hingga pada akhirnya bermuara pada satu statemen yang singkat serta padat, dosa.</p>
<p>Aku membayangkan, anggaplah aku menerima pekerjaan itu, maka aku pasti larut dalam pekerjaan dan mencintainya mengingat segala kemudahan-kemudahan yang ditawarkan. Selain itu, sebagai manusia dan lelaki normal, bekerja di bidang yang sangat &#8216;mbokep&#8217; itu pasti akan menyenangkan kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mengingat sifat gila kerja jika sudah menghadapi sesuatu yang kusuka, bisa kupastikan waktu untuk keluargaku akan semakin berkurang. Dengan berbagai macam alasan, aku pasti akan semakin &#8216;jauh&#8217; dari anak serta istriku, terlebih gaji besar yang tentu akan cukup kuat untuk membangun tameng yang bertajuk &#8220;Demi dapur yang mengepul dan cita-cita yang kita impikan sejak sebelum nikah!&#8221;</p>
<p>Namun karena aku punya istri yang cerdas yang tak hanya tinggal diam ketika menghadapi sesuatu yang hilang keseimbangannya, ia pasti akan mulai berteriak dan memintaku untuk tetap menjaga perhatian ke keluargaku.<br />
Awalnya barangkali aku akan tersadar dan menyatakan tobat, tapi tak lama, karena godaan sekaligus himpitan hidup, aku pasti lama-lama akan pula &#8216;tersadar&#8217; bahwa pekerjaan tempatku bekerja menawarkan solusi yang lebih hebat dan menjadi tempat berlindung dari amukan istriku. Maka, bukannya kembali ke jalan yang benar, lama kelamaan, aku justru pasti akan berpikir bahwa hidup dengan mencintai pekerjaan yang menyenangkan dan mencukupkan adalah lebih berharga ketimbang harus menghadapi keluarga lengkap dengan istri yang tak pernah diam. Belum lagi kalau, ah&#8230; sang foto model yang fotonya kerap kukerjakan lantas kukenal akrab, kami bergaul dan dia bisa kugauli dengan mudah?<br />
Apalagi yang tak bisa kucapai dalam dunia ini lantas?</p>
<p>Pada saat itu, bisa kupastikan bahwa cara pandangku terhadap hidup dan kehidupan akan telah bergeser yang semula menganggap hal yang tak lumrah adalah sesuatu yang harus dijauhi, tapi kemudian sejak saat itu, lambat laun aku akan menganggap bahwa semua hal yang tak lumrah bisa jadi lumrah selagi ada alasannya. Lalu kejadian demi kejadian yang serupa akan kualami hingga pada satu titik yang berujung pada penyesalan yang masih bagus jika datangnya tak terlampau lambat, tapi kalau sudah terlambat, yang ada hanyalah seruan-seruan memanggil nama Tuhan yang tak berkesudahan, bukan?</p>
<p>Oleh karena serangkaian bayangan di atas itulah, aku lantas mengirimkan surat elektronik kepada si pemberi pekerjaan tak lama setelah aku menerimanya.<br />
Dengan tetap menggunakan kata-kata santun kukatakan kepadanya bahwa tawaran pekerjaannya sangatlah menggiurkan tapi sayangnya bertentangan dengan prinsip yang kuanut dan kuperjuangkan selama ini.</p>
<p>Satu tantangan dan sekaligus pertentangan berhasil kulalui dan hidup hakikatnya adalah menghadapi tantangan-tantangan yang baru berbekal pengalaman menghadapi tantangan-tantangan yang kita lewati sebelumnya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/05/19/pertimbangan-logika.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

