<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; obituari</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/obituari/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Leo, singa yang mengaum</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/02/06/leo-singa-yang-mengaum.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/02/06/leo-singa-yang-mengaum.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 17:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Leo, Leonardus Raditya. Aku mengenalnya sejak delapan tahun silam saat ia masih gemar mengaum. Kalian boleh menganggap kata &#8216;mengaum&#8217; ini betulan karena sebagai Leo yang artinya &#8216;singa&#8217; ia memang dulunya dikenal cukup beringas meski siapa nyana, dibalik segala keberingasannya itu, Leo yang kukenal adalah seorang yang cerdas, brillian dan memiliki tingkat kepekaan lingkungan yang tinggi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Leo, Leonardus Raditya.<br />
Aku mengenalnya sejak delapan tahun silam saat ia masih gemar mengaum.</p>
<p>Kalian boleh menganggap kata &#8216;mengaum&#8217; ini betulan karena sebagai Leo yang artinya &#8216;singa&#8217; ia memang dulunya dikenal cukup beringas meski siapa nyana, dibalik segala keberingasannya itu, Leo yang kukenal adalah seorang yang cerdas, brillian dan memiliki tingkat kepekaan lingkungan yang tinggi.</p>
<p>Ia adalah satu dari sedikit orang yang kukenal di lingkungan &#8216;rohani&#8217; yang masih mau berpikir dan beropini lebih dari sekedar mengungkap &#8220;<em>Ya, pasrah deh ke Tuhan apapun yang terjadi!</em>&#8221; atau &#8220;<em>Menurut kitab suci&#8230;ini yang benar!</em>&#8220;.</p>
<p>Ia selalu mau berusaha untuk apapun yang harus diusahakannya dan menilik ke sisi moralitas yang berpihak pada manusia ketimbang belum apa-apa sudah membuka buku tebal nan suci untuk jadi tempat referensi yang tertinggi.<br />
Tidak, setahuku tidak sama sekali seperti itu.</p>
<p>Sejak awal perkenalan, akupun jadi tak butuh waktu lama untuk dapat akrab dengannya.  Maklum, sedikit banyak, aku juga berpandangan yang kurang lebih sama dengannya.</p>
<p>Ketika dulu aku masih sering ke Solo, pada saat aku harus pulang kemalaman ke Jogja dan aku belum punya kendaraan, Leo yang asli Solo itu, dengan bebek kawasaki hitamnya adalah sahabat setia yang selalu menawarkan diri dengan bilang &#8220;<em>Ayo! Kuanterin ke terminal sekalian aku juga mau jalan pulang</em>!&#8221; Meski kutahu rumahnya sebanarnya tak searah dengan terminal.</p>
<p>Semenjak tahun 2003, boleh dibilang frekuensiku bertemu dengan Leo lantas berkurang bukan karena apa-apa, tapi karena aku perlu melakukan banyak hal &#8216;real&#8217; di tempat kerja meskipun di hari Minggu sekalipun. Namun hal ini tak lantas membuat hubunganku dengannya putus begitu saja meski merenggang, iya.</p>
<p>Setiap ada kesempatan pergi ke jogja, ia selalu mengabarkan bilamana aku ada kesempatan untuk bertemu sapa dengannya meski sebaliknya ketika aku ada tugas ke Solo, aku selalu tak lupa untuk berpikir apalah gunanya menghubunginya karena aku begitu repot!</p>
<p>Tahun demi tahun beranjak, aku semakin jarang berhubungan dengannya.<br />
Tapi media internet adalah lorong serta corong terbaik yang selalu mempertemukanku dengannya dan menyuarakan kabar baik tentang Leo, sobat lamaku itu. Hingga dua bulan lalu, aku masih berkomunikasi cukup intens lewat facebook dan dari sana kutahu ia sedang sakit meski aku tak tahu dan tak mau tahu apa macam sakitnya.</p>
<p>Bukannya tak peduli, tapi lebih pada pemikiran bahwa ia adalah Leo, singa mengaum yang sepertinya tak ada dan tak kan pernah ada yang sanggyup mengalahkannya termasuk penyakit sekalipun!</p>
<p>Namun kali ini anggapanku salah.<br />
Sebuah penyakit <em>auto-immune</em> yang sangat jarang ditemui dan belum terdefinisi jenis dan namanya pada akhirnya berhasil mengurung Leo dalam keterpurukan selama setahun terakhir. Hingga pada akhirnya, penyakit itu pula yang mengantarkannya pulang ke tempat semua kita juga akan berpulang.</p>
<p>28 Januari 2010.<br />
Leo, Lenardus Raditya, sobat lamaku itu pergi tanpa pesan tapi penuh damai dan sejahtera.<br />
Dalam bayangku, proses hidupnya yang tak lebih dari 29 tahun itu layaknya sebuah musim kemarau dimana ia seperti halnya singa yang menampakkan diri di rerumputan padang ilalang namun seketika, sesaat sebelum musim dingin tiba, ia berlalu kembali masuk ke rerimbunan hutan demi sebuah kehangatan yang tak kan dapat ditemuinya di padang ilalang dan sejak saat itu tak memunculkan diri lagi.</p>
<p>Selamat jalan, Leo!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/02/06/leo-singa-yang-mengaum.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

