<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; odilia</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/odilia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Terimakasih seribu&#8230;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/02/14/terimakasih-seribu.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/02/14/terimakasih-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 06:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[donny banget]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1278</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Selain kepada Tuhan, berterimakasihlah kepada orang-orang di sekitarmu!&#8221; demikian yang selalu kuucapkan pada salah satu temanku dulu. Jadi, selain kepada Tuhan, pada kesempatan ulang tahun pertama anakku yang jatuh pada hari minggu (13/02) lalu, atas nama doa, cinta, perhatian dan bimbingan yang diberikan selama ini, aku dan Joyce, istriku, berterima kasih kepada: Keempat orangtuaku, Mama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>&#8220;Selain kepada Tuhan, berterimakasihlah kepada orang-orang di sekitarmu!&#8221; demikian yang selalu kuucapkan pada salah satu temanku dulu.</p>
<p>Jadi, selain kepada Tuhan, pada kesempatan ulang tahun pertama anakku yang jatuh pada hari minggu (13/02) lalu, atas nama doa, cinta, perhatian dan bimbingan yang diberikan selama ini, aku dan <strong>Joyce</strong>, istriku, berterima kasih kepada:</p>
<p>Keempat orangtuaku, Mama, Mama mertua, Papa dan Papa mertua. Kepada merekalah, Odilia bisa memanggil &#8220;Uti&#8221;, &#8220;Nana&#8221;, &#8220;Akung&#8221; serta &#8220;Dada&#8221;.<br />
<em> (Terimakasih, untuk Mama mertua dan Papa mertua atas terselenggaranya pesta ulang tahun yang begitu meriah, utamanya atas perhatian dan luangan waktu yang sungguh kutahu tak mudah untuk mencari sela di antara jadwal kerja Papa yang begitu padat).</em></p>
<p>Adik dan kakak ipar beserta keluarganya.</p>
<p>Teman-teman &#8216;untel-untelan&#8217; di Sydney: Jaya-Irna, Paul-Rinda-Gerry dan Darrel-Cucu-Ben.<em> (terutama untuk Jaya atas foto-fotonya yang semakin mempercantik Odilia yang cantik:p )</em></p>
<p>Mami Puspa dan Papi Echa, orangtua baptis Odilia, juga Baby Zara,<em> &#8220;Hey, Zara!&#8221;</em></p>
<p>Ann Ann untuk cupcakes cantiknya.</p>
<p>Serta semuanya, kalian yang tak kan bisa tersebutkan satu-per-satu, karena bagaimana mungkin aku mampu mengeja dan menghitung nama-nama bintang yang tercantum di langit yang kelam sedang jumlah tepatnya pun aku tak tahu apakah bilangan serta angka masih sanggup merangkumnya?</p>
<p><img class="aligncenter" src="https://lh6.googleusercontent.com/_Rd9gRsjPSek/TVjMnVAoDcI/AAAAAAAAA08/yNLcqIGyJWA/blog_1stOdilia.jpg" alt="" width="455" height="482" /></p>
<p><strong>Odilia,</strong><br />
secara khusus aku dan istriku ingin berterima kasih kepadamu karena sejak setahun lalu, karena engkaulah maka kami mendapat gelar baru, &#8220;Papa&#8221; dan &#8220;Mama&#8221;.<br />
Selamat ulang tahun, Nak!<br />
Doa kami di nadimu sekarang serta selamanya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/02/14/terimakasih-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merapi</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/11/11/merapi.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/11/11/merapi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 07:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata &#8216;Merapi&#8217;? Sebagai orang kelahiran Klaten, kota administratif yang terletak sekitar 25 kilometer arah tenggara Gunung Merapi, ingatan paling awalku tentang Merapi adalah bahwa ia selalu menemani tatkala aku diboncengkan Mama di atas sepeda jengkinya, pergi ke gereja pada setiap minggu pagi. Gereja itu, Gereja Katholik St Maria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/TNp4qtuuo-I/AAAAAAAAAvM/LCr2UcsFCGg/merapi.jpg" alt="" width="499" height="127" /></p>
<p>Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata &#8216;Merapi&#8217;?</p>
<p>Sebagai orang kelahiran Klaten, kota administratif yang terletak sekitar 25 kilometer arah tenggara Gunung Merapi, ingatan paling awalku tentang Merapi adalah bahwa ia selalu menemani tatkala aku diboncengkan Mama di atas sepeda jengkinya, pergi ke gereja pada setiap minggu pagi. Gereja itu, Gereja Katholik St Maria Assumpta, terletak di tepi barat laut kota, sehingga bersama Merbabu &#8216;saudaranya&#8217;, Merapi bertengger begitu indah di utara gereja.</p>
<p>Aku selalu bertanya kepada Mama, mana yang Merapi dan mana yang Merbabu karena bagiku kedua gunung yang bersebelahan itu sama saja, sama-sama menjulang dan bertengger yang saking dekatnya seolah hanya berbatasan dengan sawah-sawah yang menghampar hijau di depan sana.</p>
<p>&#8220;<em>Nek Merbabu ki sing ora ono kebule..</em>(Kalau merbabu itu yang tidak mengeluarkan asap -<strong> jawa</strong>)&#8221; ujar Mama sambil terus mengayuh jengkinya, suaranya terdengar disela deru kendaraan bermesin yang berlalu-lalang.<br />
&#8220;<em>Oh.. dadi nek Merapi ki sing metu kebule terus yo, Ma? </em>(Oh, jadi kalau Merapi itu yang selalu berasap ya, Ma -<strong> jawa</strong>)&#8221; tanyaku yang lantas diiyakan Mama.</p>
<p>*  *  *</p>
<p>&#8216;Kecintaanku&#8217; kepada Merapi menjadi-jadi ketika aku pindah domisili ke Jogja sejak 1993.<br />
Saat tinggal di asrama SMA Kolese De Britto yang terletak di kawasan Papringan, Sleman, kebetulan kamarku menghadap ke arah utara dan waktu itu bangunan-bangunan tinggi di sekitar asrama belum bermunculan seperti sekarang ini. Mau tak mau, setiap pagi, hal pertama yang kulihat ketika membuka pintu kamar adalah Merapi. Ia seperti menjadi lekatan bagi Jogja bahwa ketika kamu memandang ke sisi utara dan ada gunung Merapi, maka kamu berada di Jogja.<br />
Pernah suatu waktu aku berlibur ke Bali. Pada pagi pertama saat bangun pagi dan membuka kamar hotel, betapa terkejutnya aku ketika tak menemui Merapi di depan sana.<br />
Aku sempat berpikir kemana perginya Merapi hingga beberapa saat akhirnya aku sadar bahwa aku sedang tidak ada di Jogja.</p>
<p>Ketika mahasiswa, masih di Yogya, aku bukanlah mereka yang berasal dari kelompok pecinta alam.<br />
Beberapa kali memang aku naik gunung, tapi itupun kalau sedang niat saja, oleh karenanya aku belum pernah sekalipun naik ke puncak Merapi (satu hal yang pada akhirnya membuatku iri karena aku belum pernah ke sana)&#8230;</p>
<p>Interaksi terdekatku dengan Merapi hanya terjadi hingga &#8216;batas&#8217; Kaliurang saja.<br />
Nyaris setiap akhir pekan aku selalu menghabiskan waktuku untuk sekadar menghabiskan beberapa poci teh tubruk &#8211; gula jawa yang dijual di kaki gunung Merapi itu bersama sobat sambil menikmati dinginnya udara yang mengalir ke permukaan lalu lantas menjelang dinihari memutih membentuk embun&#8230; Saat ufuk timur merekah jingga, diiringi seruan adzan Subuh dan kokok ayam jantan, ia mewujud menjadi titik air yang menyegarkan dan itu semua adalah pertanda bahwa aku harus turun kembali ke Jogja&#8230;</p>
<p>Pernah pula suatu waktu aku dapat order untuk mengerjakan situs web Museum Ullen Sentalu yang letaknya juga di Kaliurang.<br />
Demi memperoleh &#8216;pencerahan ide&#8217;, Pak Thomas, salah satu pengelola museum jawa itu lantas membebaskanku untuk berkunjung ke sana untuk &#8216;menimba&#8217; sisi-sisi yang bisa kucurahkan ke dalam karyaku untuknya. Akupun tak menyia-siakan kesempatan itu. Beberapa kali aku &#8216;naik&#8217; ke Kaliurang tanpa tujuan selain hanya merasakan atmosfirnya yang menyegarkan dan segera setelah &#8216;kenyang&#8217;, aku lantas turun ke Jogja dan kurasai saat itu, sisi-sisi yang harus kutaruh di dalam karyaku itu telah ikut turun pula bersamaku.</p>
<p>Moment itu adalah salah satu momen terbaik yang bisa raup dari interaksiku dengan &#8216;tanah&#8217; Merapi. Hingga sekarang ketika aku menuliskan semua ini, anganku masih sanggup membayangkan segarnya udara yang kuhirup di atas sepeda motor yang mengantarkanku turun ke bawah di sore hari, rindang pohon menghijau yang memagari jalanan berliku ketika sinar matahari menjelang redup ke peraduan menyelinap di antara dedaunannya; dan kabut mulai mengulas ke bawah, suara muazzin masjid menyuarakan adzan, bebek-bebek yang rapi berbaris menyusuri rumput di pematang, nenek-nenek yang tersenyum pulang ke rumahnya setelah menjual hasil bumi ke kota adalah sebuah potret tentang kesempurnaan hidup yang sederhana namun menyegarkan.</p>
<p>Aku sempat terperanjat dengan &#8216;perangai&#8217; Merapi pada Mei 2006.<br />
Ketika gempa yang menggoncang Jogja itu terjadi, aku barangkali adalah satu dari sekian ribu penduduk Jogja yang mengira bahwa gempa itu adalah &#8216;ulah&#8217; Merapi.<br />
Setelah susah payah keluar dari rumah ketika gempa mengirama, pandangan kutujukan ke arah utara, tempat dimana Merapi berada&#8230;</p>
<p>Tiga minggu sesudahnya, setelah lelah membantu para korban gempa, aku bersama kawan-kawan akrab naik ke Kaliurang untuk melepas lelah, menyewa villa dan menginap di sana semalam lamanya. Kami begitu menikmati malam itu ditemani televisi beserta siaran langsung Piala Dunia 2006 di dalamnya, berpiring-piring makanan, berbotol-botol minuman beralkohol serta bergumpal-gumpal kegembiraan.<br />
Menjelang pagi baru kami terlelap dan terbangun ketika sebuah gedoran mengguncang villa kami.</p>
<p>&#8220;Turun! Turun! Turun!&#8221; teriak mereka yang ada di luar villa yang kemudian kami tahu mereka adalah penduduk asli Kaliurang.<br />
Kami terkejut sangat dan berpikir apakah ada gempa susulan yang lebih besar barangkali?<br />
Sesaat ketika kami membuka pintu, tersadarlah kami bahwa permukaan jalan, ranting-ranting pepohonan serta atap-atap rumah telah memutih, berabu.<br />
<em>&#8220;Ayo gek ndhang mudhun! Merapi njebluk! </em>(Ayo! Buruan turun! Merapi meletus! &#8211; jawa)&#8221; papar salah satu warga yang mengomando.</p>
<p>Hari terakhir ketika aku pergi meninggalkan Jogja untuk pindah ke Australia, akhir Oktober 2008.<br />
Di dalam lambung pesawat yang kutunggangi, di antara sesak dan isak pedih yang kurasakan karena meninggalkan kota tercinta lengkap dengan orang tua, adik serta teman-teman dan sejuta kenangan yang pernah ada, sesaat setelah pesawat mengangkasa, Merapi adalah titik terakhir yang tak kulepaskan pandangku padanya hingga ia benar-benar tak tampak lagi dari penglihatanku. Pada saat itu, pada pucuknya yang mengepul&#8230; yang kemebul itu, aku berjanji bahwa ketika kupulang nanti, aku akan kembali menginjak tanahnya, tanah Merapi, apapun yang terjadi&#8230;</p>
<p>Beberapa waktu silam, beberapa saat setelah Merapi memulai erupsi besarnya, aku memangku <strong>Odilia</strong>, anakku yang belum setahun usianya dan belum lagi mengenal dan &#8216;menyentuh&#8217; Merapi. Sambil menyimak televisi Indonesia yang kutangkap siarannya melalui parabola menyiarkan tentang duka yang begitu mendalam terkait dengan &#8216;bencana&#8217; letusan Merapi.<br />
Di antara sesaknya dada dan mata yang memanas mengiba, aku menggenggam tangan Odilia, kuarahkannya lengan dan telunjuknya ke arah televisi</p>
<p><em>&#8220;Sing metu kebule kae Ndhuk&#8230; Kae Merapi! </em>(Yang berasap itu Nak&#8230; Itu Merapi! &#8211; <strong>jawa</strong>)&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/11/11/merapi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengorbanan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/10/21/pengorbanan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/10/21/pengorbanan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 05:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[Semalam, Odilia demam. Meski tak terlalu parah, tapi hal itu cukup membuat kami, aku dan Joyce, istriku, kalang kabut. Pada akhirnya, kami memang memberikan obat penurun panas dan berhasil menurunkan demamnya secara permanen. Tapi yang hendak kuceritakan di sini adalah proses yang terjadi sebelum keputusan untuk memberi obat itu kami pilih. Seorang teman, beberapa bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Semalam, Odilia demam.<br />
Meski tak terlalu parah, tapi hal itu cukup membuat kami, aku dan Joyce, istriku, kalang kabut. Pada akhirnya, kami memang memberikan obat penurun panas dan berhasil menurunkan demamnya secara permanen. Tapi yang hendak kuceritakan di sini adalah proses yang terjadi sebelum keputusan untuk memberi obat itu kami pilih.</p>
<p>Seorang teman, beberapa bulan lalu berujar bahwa saat anak mengalami demam, usirlah panas tubuhnya dengan cara &#8216;mentransfer&#8217; demam itu ke tubuh kita.<br />
Kami lantas mencoba melakukan hal yang sama. Odilia kami lucuti baju dan celananya, lalu dalam keadaan setengah telanjang (tinggal mengenakan nappy) kami tidurkan  di atas tubuh Joyce yang juga tak berpakaian.  Istriku lantas memeluk Odilia untuk beberapa puluh menit lamanya. Ajaib, berangsur-angsur panas tubuhnya benar-benar &#8216;berpindah&#8217; dari Odilia ke Joyce. Ia tak lagi demam tapi sebaliknya, Joyce, tubuhnya menghangat dan matanya memanas.</p>
<p>Hal yang menarik yang bisa kuambil dari peristiwa di atas adalah bahwa ternyata, ada satu kondisi tertentu dimana insting untuk berkorban demi orang yang kita sayangi itu muncul dengan sendirinya.<br />
Ini adalah hal yang benar-benar baru bagi kami.<br />
Ketika aku mencoba untuk berpikir menjadi istriku yang rela untuk &#8216;ditransferi&#8217; panas itu, aku berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang luar biasa! Ada satu penggerak yang bisa mengecualikan kondisi terburuk sekalipun untuk ditimpakan ke diri kita atas nama orang lain.</p>
<p>Semangat untuk berkorban bagiku bukanlah satu kemampuan yang bisa kita pelajari tapi lebih pada sebuah efek terhadap satu hal yang terjadi; yang memicu timbulnya pengorbanan itu tadi. Layaknya keringat yang keluar dari tubuh kita tatkala kita melakukan olah badan, bagiku semangat rela berkorban akan keluar dengan sendirinya karena kita melakukan kegiatan mencintai orang yang kita bela; kita cintai.</p>
<p>Oleh karenanya, pengorbanan bersifat sangat subyektif; sangat bergantung pada orang yang berkorban dan tak peduli pada mereka yang melihat pengorbanan bahkan pada orang yang dibela dengan pengorbanan itu sendiri. Berpijak dari situ, kuyakin bahwa pengorbanan kepada pihak yang salah adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena subyektivitas itu tadi; sementara berkorban dengan cara yang salah&#8230; adalah jamak adanya!</p>
<p>Dalam konteks yang lebih luas sering kita lihat dan dengar bagaimana sebondongan orang melakukan tindak anarkis dan semena-mena terhadap manusia lain hanya demi membela Tuhan dan agama. Malah tak jarang mereka rela berkorban bahkan mengorbankan diri dan hidupnya sendiri demi sesuatu yang mereka yakini sebagai Tuhan dan agama itu tadi.</p>
<p>Salahkah? Tidak!<br />
Karena seperti yang kubilang di atas, pengorbanan bersifat sangat pribadi; subyektif.<br />
Akan tetapi, begitukah cara membela Tuhan dan agama mereka? Sebetulnya hal inipun masih dalam kerangka yang subyektif pula. Akan tetapi ketika ekses dari pengorbanan itu telah merugikan orang lain,  tentu hukum obyektif yang harusnya ambil peranan, bukan hukum Tuhan yang sayangnya sangat subyektif itu.</p>
<p>Dengan pertimbangan di atas itulah pada akhirnya aku meminta istriku untuk berhenti membiarkan tubuhnya &#8216;ditransferi&#8217; panas tubuh Odilia.<br />
Pemikiranku simple, meski pengorbanan adalah haknya, namun efek itu dapat memicu perpindahan panas tubuh kepada dirinya dan apabila ia sakit lalu siapa yang harus mengurus Odilia sementara aku masih harus bekerja?</p>
<p>Pada akhirnya aku memilih untuk mengorbankan uang sekian dollar untuk membeli obat penurun demam anak-anak. Lebih baik bagiku untuk mengorbankan uang yang &#8216;tak seberapa&#8217; ketimbang melihat dua mutiara hatiku itu mentransfer dan ditransferi demam.</p>
<p>Pengorbanan juga butuh prioritas&#8230; Prioritas tentang apa yang harus dikorbankan terlebih dulu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/10/21/pengorbanan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekal hidup si anak panah</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/09/27/bekal-hidup-si-anak-panah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/09/27/bekal-hidup-si-anak-panah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 08:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>
		<category><![CDATA[two cents]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Margaret, anggap saja demikian, umurnya baru 21 tahun. Posturnya ceking, berambut sebahu, berkacamata dan berpenampilan seperti layaknya ABG-ABG seusianya. Ia berasal dari Vietnam oleh karenanya, kulitnya kuning langsat, bermata sipit dan bertulang pipi tinggi seperti kebanyakan dari kalangan mereka berasal. Tiga tahun silam ia dikirim ke Australia oleh orang tuanya untuk melanjutkan studi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/TKBRrDRzVKI/AAAAAAAAAtI/GWtIdFV20Fk/odilia.jpg" alt="" width="250" height="317" />Namanya Margaret, anggap saja demikian, umurnya baru 21 tahun.<br />
Posturnya ceking, berambut sebahu, berkacamata dan berpenampilan seperti layaknya ABG-ABG seusianya.<br />
Ia berasal dari Vietnam oleh karenanya, kulitnya kuning langsat, bermata sipit dan bertulang pipi tinggi seperti kebanyakan dari kalangan mereka berasal. Tiga tahun silam ia dikirim ke Australia oleh orang tuanya untuk melanjutkan studi di bidang yang ia sukai, graphic design. Harapan orang tuanya, setelah lulus nanti ia akan kembali ke negara asalnya dengan posisi yang lebih baik dibanding teman-teman sepantarannya yang hanya mengenyam pendidikan &#8216;lokal&#8217; saja.</p>
<p>Dalam seminggu terakhir, Maggy, demikian aku memanggil Margaret, duduk di komputer sebelahku untuk mendapatkan &#8220;working experience&#8221;, semacam Kerja Praktek dalam sistem perkuliahan Indonesia-nya. Sehari-hari ia tak banyak bicara. Hanya berucap <em>&#8220;Good morning, Donny&#8221;</em> berbasa-basi sebentar lalu selebihnya tenggelam di depan komputernya dengan setumpuk pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh supervisornya.</p>
<p>Meski tak banyak bercakap, namun aku sering tak mampu untuk tak memperhatikannya dalam beraktivitas.<br />
Kadang lewat sudut mata maupun pantulan screen computer yang ada di depanku, aku bisa mendapatinya dan terus terang saja aku terpana dibuatnya. Aku sangat suka memperhatikan ketika ia sedang mengernyitkan dahi dengan mata yang dipelotot-pelototkan ketika memperhatikan sesuatu baik dari kertas maupun layar monitor, maupun saat ia tiba-tiba bisa tersenyum sendiri dan dengan celetukan &#8220;gotcha!&#8221; atau &#8220;yes!&#8221; aku bisa merasakan ia tengah mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dari apa yang ia kerjakan! Singkat kata, memperhatikannya secara sembunyi-sembunyi adalah sesuatu yang menyenangkan.</p>
<p><em>Hey&#8230; kenapa kalian diam saja sambil senyum-senyum gitu bacanya?<br />
Kau pikir aku jatuh cinta lagi dengan wanita lain selain istriku? Oh tidak <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em><br />
Aku tidak sedang berpikir untuk menambah istri maupun membagi hati&#8230; tapi justru dengan merasakan apa yang kurasakan di atas, aku harus menyadari ada yang &#8216;berubah&#8217; dari hatiku. Ya, ketika memperhatikan Maggy, pikiranku selalu tertuju kepada Odilia, putriku.</p>
<p>Aku berpikir seolah-olah Maggy adalah Odilia yang akan kudapati pada 20 tahun yang akan datang.<br />
Ketika melalui screen computer dan kucari-cari dimana wajah Maggy tercermin, disitulah aku merasa seperti mencari wajah Odi, kelak.<br />
Akankah juga ia akan sama seperti Maggy yang memiliki semangat belajar nan tinggi, kemauan kerja yang keras termasuk keseriusan dalam setiap menerima tugas meski itu hanya dalam paparan &#8220;Working Experience&#8221;? Akankah Odilia nanti juga akan berprofesi dan berpendidikan sama dengan Maggy yang tekun di bidang seni? Atau malah ia akan jadi seorang seniman di bidang lain seperti musik misalnya?</p>
<p>Bicara tentang masa depan dan harapan kita terhadap anak memang sesuatu yang selalu menarik!<br />
Terlebih anak sendiri, kita merasa seperti menggali diri sendiri dan lingkungan sekitar lantas mengambil hal-hal yang menurut kita positif , yang kita senangi, lalu menaruhnya ke dalam loyang adonan dan kita tuangkan ke sosok anak kita kelak. Sehingga ketika besar nanti, anak kita adalah paduan dari segala hal yang, sekali lagi, menurut kita baik dan positif.</p>
<p>Bagus? Iya&#8230; namanya juga harapan orang tua.</p>
<p>Tapi sebentar, adilkah itu?<br />
Adilkah bagi diri si anak untuk &#8216;dicetak&#8217; sedemikian rupa sesuai harapan orang tua dan seolah tak menyisakan space untuk dirinya mengembangkan diri sesuai keinginannya?</p>
<p>Bagiku itu tidaklah adil!<br />
Bagaimanapun juga meski ia adalah seorang anak, ia adalah seorang yang kelak akan menjadi orang lain yang bukan buntut, bukan ekor yang selalu menempel di pantat kita. Anak adalah busur panah yang saat ini harus kita persiapkan sebagus, setajam dan segesit mungkin sehingga ketika semuanya sudah siap, sekali tarik ke belakang, lalu lepaskan ke depan dan Ia tak kan pernah &#8216;kembali&#8217; ke kita untuk menerobos maju menantang masa depan!</p>
<p>Lantas kalau memang demikian, apa yang kemudian menjadi yang terpenting bagi orang tua dalam mempersiapkan &#8216;busur panah itu&#8217;? Bagiku dan istriku, menularkan nilai-nilai baik untuk bekalnya menghadapi kehidupan adalah yang terpenting. Aku tak melulu bicara agama adalah sesuatu yang harus dipegang teguh, akan tetapi kesadaran akan Tuhan dan poin-poin Katolisitas (hal-hal kebenaran yang termaktub dalam ajaran agama Katolik) adalah sesuatu yang tetap harus Odilia pertahankan sampai kapanpun itu. Kejujuran, kesabaran serta berlaku yang terbaik bagi diri sendiri dan sesama adalah tiga hal yang harus sebanyak mungkin kami sampaikan kepadanya sehingga ketika ia dewasa dan busur telah dilepaskan, ia telah mendapatkan pedoman hidup yang sesungguhnya.</p>
<p>Lalu selebihnya adalah bagaimana menitipkan ruang kosong yang bernama keillahian dalam diri Odi untuk setiap sesuatu yang tak pernah terjawab karena memang kehidupan ini sejatinya selalu menyisakan tanda tanya hingga akhir masa?</p>
<p>Ah sudah lah.. aku tak mau memperpanjang tulisan ini lagi..<br />
Semakin banyak menumpahkan abjad di tulisan ini, aku merasa mendadak semakin tua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/09/27/bekal-hidup-si-anak-panah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan doa</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/09/20/mengajarkan-doa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/09/20/mengajarkan-doa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 07:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, teman dekatku bertanya via YM, &#8220;Mas, anakmu sudah kau kenalkan dengan Tuhan?&#8221; Aku &#8216;mengenalkan&#8217; Tuhan&#8217;melalui piranti agama yang aku dan istriku anut, Katholik, sejak Odilia, anakku itu, masih dalam kandungan. Pada saat itu, setiap pergi ke gereja, saat doa Bapa Kami (Our Father / Pater Noster) dikumandangkan, selain menggandengku, tangan istriku yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="aligncenter" src="http://lh4.ggpht.com/_bZbE1zcmZyA/TJcJXWXvleI/AAAAAAAAAFY/ZpKIo7BTEN8/G_Photo_1.jpg" alt="" width="319" height="320" /></p>
<p>Beberapa waktu lalu, teman dekatku bertanya via YM, &#8220;Mas, anakmu sudah kau kenalkan dengan Tuhan?&#8221;</p>
<p>Aku &#8216;mengenalkan&#8217; Tuhan&#8217;melalui piranti agama yang aku dan istriku anut, Katholik, sejak Odilia, anakku itu, masih dalam kandungan.<br />
Pada saat itu, setiap pergi ke gereja,  saat doa<strong> Bapa Kami</strong> (<em>Our Father / Pater Noster</em>) dikumandangkan, selain menggandengku, tangan istriku yang sebelah lagi ditumpangkan di atas perutnya buncitnya sebagai pertanda bahwa kami, aku, istri dan anakku, bergandengan tangan dan menyuarakan doa yang sama seperti yang diajarkan Yesus itu.</p>
<p>Sesaat setelah lahir, inginku membisikkan doa Bapa Kami ke telinga anakku.<br />
Ide ini terinspirasi oleh beberapa kawan muslim yang membisikkan adzan di telinga orok mereka sesaat setelah lahir. Tapi karena keadaan, waktu itu Odilia harus di-capsuled beberapa hari setelah lahir sehingga tak memungkinkanku untuk menyuarakan doa di telinganya, aku lantas memegang tangan mungilnya dari lubang akses kapsul khusus itu dan &#8216;kuajak&#8217; ia berdoa Bapa Kami.</p>
<p>Sebulan lebih sedikit setelah ia lahir, bertepatan dengan Hari Raya Paskah, aku dan istriku membaptiskan Odilia ke Gereja Katholik. Orang-orang yang skeptis terhadap agama akan berujar bahwa itu adalah pemaksaan kepercayaan, sementara tetangga sebelah yang fanatik bisa berujar &#8220;Kristenisasi!&#8221;  Tapi apa daya, aku tak punya pilihan, Itulah janjiku saat pernikahan yang kuucapkan di hadapan Tuhan yaitu mengajar dan mendidik anak-anakku secara Katholik, tiada lain.</p>
<p>Menginjak usia tiga bulan, saat ia sudah mulai bisa lebih &#8216;alert&#8217;, aku maupun istriku selalu mengajaknya untuk berdoa malam dan pagi.<br />
Kugenggam tangan kanannya untuk bersama-sama membuat tanda salib, mengatupkan tangannya ke depan dada dan sambil menatap matanya, kuajak dia untuk bersyukur tentang hidup kepada Tuhan.<br />
Teristimewa untuk pagi, ketika mengajaknya berdoa, aku gendong Odilia dan membuka jendela menghadap ke arah timur memandang kilau jingga di kaki langit dan mengucap syukur.<br />
<em>(Ah, well&#8230;. aku ini ternyata Pagan sekali ya! Orang-orang Pagan-Katolik ritus timur jaman dahulu memang selalu berdoa menghadap &#8216;kiblat&#8217; timur karena mereka (dan aku) percaya bahwa Yesus untuk kedua kalinya akan datang dari arah timur&#8230; hahaha)</em></p>
<p>Enam bulan, ketika ia mulai menerima asupan makanan lunak, setiap hendak makan meski tangan dan kakinya sudah diayun-ayunkan karena tak sabar menahan lapar, aku selalu menahan sejenak dan berujar &#8220;Eits, berdoa dulu ya, Odilia!&#8221; lalu kupimpin ia untuk mengucap syukur atas makanan yang masih diberikan Tuhan kepadanya. Sesekali kuselipkan pula doa bagi saudara-saudara yang masih kesulitan untuk mendapatkan jatah makan seperti yang hendak kuberikan kepadanya.</p>
<p>Lalu temanku yang di atas kuceritakan bertanya lagi itu, kembali bertanya &#8220;Kenapa kamu ajarkan semua itu ke anakmu, Mas?&#8221;<br />
Aku diam sejenak&#8230; beberapa kali aku mencoba menulis jawaban di kotak jawab YM di hadapanku tapi berkali-kali pula aku menghapusnya sambil menunggu otakku menemukan kata yang pas sebagai jawaban.<br />
Hingga akhirnya jawaban ini pun tersurat &#8220;Karena tak ada kekuatan lain yang lebih kuat dari Nya yang harus kuajarkan sebagai dasaran hidupnya kelak, Bung!&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/09/20/mengajarkan-doa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membagi Waktu Membagi&#8230; Cinta</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/03/17/membagi-waktu-membagi-cinta.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/03/17/membagi-waktu-membagi-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 17:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>
		<category><![CDATA[simba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Hampir sebulan terakhir ini, ada delapan makhluk yang sedang mengalami krisis identitas di rumah setelah kelahiran Odilia, anak pertamaku.  Mereka adalah ketujuh ikan cupangku (Broto, Parno, Bambang, Jarwo dan tiga lain yang belum kuberi nama) serta Simba, anjing kesayanganku. Sindrom yang ditunjukkan di antaranya turunnya nafsu makan, kegelisahan yang meningkat (kalau Simba dengan cara meringik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Hampir sebulan terakhir ini, ada delapan makhluk yang sedang mengalami krisis identitas di rumah setelah kelahiran <strong>Odilia</strong>, anak pertamaku.  Mereka adalah ketujuh ikan cupangku (<strong>Broto, Parno, Bambang, Jarwo</strong> dan tiga lain yang belum kuberi nama) serta <strong>Simba</strong>, anjing kesayanganku.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://lh6.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S5940fpZeTI/AAAAAAAAAh4/ygqGvSTgCuk/blog_cinta.jpg" alt="" width="404" height="118" /></p>
<p>Sindrom yang ditunjukkan di antaranya turunnya nafsu makan, kegelisahan yang meningkat (kalau Simba dengan cara meringik sedangkan ikan cupangku menunjukkannya dengan belingsatan menabrak-nabrak kaca akuarium) serta khusus untuk Simba adalah tatapannya yang nanar lengkap dengan ekor yang dijatuhkan tepat diselangkangannya ketika akan kami tinggal tidur ke atas setiap malam tiba.</p>
<p>Lantas kenapa itu semua bisa terjadi?</p>
<p>Tak lain dan tak bukan karena mereka semua merasa kehilangan segala kehangatan yang pernah didapatnya dariku dan istriku hingga sesaat sebelum Odi hadir&#8230;<br />
Berikut adalah salah sedikit contoh dari apa yang &#8216;mereka dapat&#8217; sebelum Odi dilahirkan:</p>
<ul>
<li>Simba, terlebih selama istriku hamil, adalah teman tidur kami. Kami terbiasa membagi ranjang bertiga dengannya.</li>
<li>Ketika sedang menonton tv, Simba tak duduk di lantai layaknya anjing biasa, ia dibebaskan melompat dan nangkring di atas sofa bersama dengan kami.</li>
<li>Ketika makan, tak jarang kami menyuapinya langsung dari tangan terlebih kalau ia sedang tampak malas melahap, kami sodorkan butir demi butir makanan ke mulutnya.</li>
<li>Kami masih agak sedikit ragu dengan manjurnya ungkapan &#8220;Beri perhatian pada anjing kesayangan dengan mengelus-elus kepala dan perutnya&#8221;, kami lebih merasa optimal untuk menyayanginya dengan cara menciumnya, ya benar-benar mencium, menempelkan bibir kami padanya.</li>
<li>Ikan-ikan cupangku, meski mereka tak kami dudukkan di sofa (bagaimana bisa?), mereka bertengger mesra di atas almari pakaian kami di kamar hingga dua hari sesudah Odi pulang ke rumah, mereka kami pindahkan ke kamar mandi.</li>
<li>Tiga puluh menit menjelang tidur, dulu kami selalu meluangkan waktu untuk memberi makan dan sekadar bercengkrama dengan para ikan itu tadi.</li>
</ul>
<p>Sekarang bagaimana? Ya, sejujurnya sekarang jelas berbeda keadaannya. Kami, aku dan istriku, tak bisa lagi memberikan perhatian seperti yang kutulis di atas. Sebagian besar waktu kami habiskan untuk mengurus si kecil Odilia.</p>
<p>Namun meski demikian, dengan segala apa yang ada sejujurnya, cinta kami kepada Simba dan ketujuh ikan cupang itu boleh dibilang tak menghablur sedikitpun! Secuilpun!</p>
<p>Halah, masa? Nggak percaya, coba kalian tanya pada istriku apakah cintanya berkurang pada Simba dan konco-konconya setelah Odi muncul di tengah kami? Dengan gusar, aku bisa membayangkan ia pasti akan menjawab , <em>&#8220;Eh, nggak ya! Aku tetep cinta Simba!&#8221;</em> Dan, tak kurang akupun juga akan seperti itu kalau ditanya &#8230;</p>
<p>Cinta, bagiku, adalah sesuatu yang tak bisa dinilai, ditakar dan didefinisikan akan tetapi kalau disuruh membayangkannya, aku lebih suka menggambarkan cinta sebagai gumpalan sesuatu yang besarnya seperti apa akupun tak tahu. Ia termasuk dalam aras <em>uncountable </em>(tak terhitung) namun justru dari situlah manusia lantas mencoba menghitung serta menakarnya sesuai dengan kemampuan dan keterbatasannya.</p>
<p>Kemampuan dan keterbatasan yang lantas dinamai akal budi itu lantas menggiring kita untuk menggunakan &#8220;waktu&#8221; sebagai variabel bantu penghitung cinta.Waktu adalah variabel yang bisa dihitung dan padanyalah bersandar pula daur seumur hidup kita, oleh karenanya tak heran kita lantas meletakkan cinta kepada waktu, cinta terhadap waktu. Perpaduan keduanya menimbulkan ekuivalensi, sebuah persamaan yang sebenarnya tak sama benar seperti kutulis di bawah ini:</p>
<p>Ketika kamu bicara seberapa banyak waktumu untuk mencintai seseorang, orang lain lantas menterjemahkannya sebagai seberapa besar cintamu kepadanya berdasarkan berapa ribu detik yang kau habiskan dalam seminggu untuk bersamanya. Dan konsekuensinya, ketika kamu absen di depan hidungnya, ia yang sebenarnya tetap kau simpan cintanya dalam hatimu itu bisa meluap-luap marahnya hanya karena dalih &#8220;Nggak ada waktu.. nggak cinta!?!&#8221;</p>
<p>Sekarang persoalannya, salahkah kita menghitung dan menakar cinta?Jawabku adalah tak mengapa, asalkan kita tak semena-mena langsung mengidentikkan hasil penghitungan dan penakaran itu kepada cinta itu sendiri.</p>
<p>Therefore, kembali ke soal hubungan kami dengan para binatang piaraan yang kami begitu cintai,Kalau ukurannya adalah waktu, maka penghakiman tentang berkurangnya cinta kami pada mereka bisa diputuskan sebagai suatu yang benar, tapi kalau ukurannya adalah cinta itu sendiri, hakikatnya tidak akan pernah ada penghakiman karena tak ada hakim yang mampu menakar dan menghitung cinta sejak manusia tak ditakdirkan untuk dapat mendefinisikannya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/03/17/membagi-waktu-membagi-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak, Bapak</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/02/20/pak-bapak.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/02/20/pak-bapak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 17:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dibilang sedang lesu menulis ya sebenarnya tidak karena di GoogleDocs aku masih menyisakan beberapa tulisan siap tayang untuk beberapa pekan depan. Yang lebih tepat untuk dianggap terkait dengan &#8216;absen&#8217; postingan hari rabu kemarin adalah karena pikiran dan kehendakku sedang benar-benar tidak pada porsinya untuk &#8216;mengurus&#8217; blog ini. Sejak Sabtu, 13 Februari 2010 yang lalu aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div id="_mcePaste">
<p><img class="aligncenter" src="http://lh6.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S359k8SUkDI/AAAAAAAAAa8/0JPaNk4FNSw/odilia.jpg" alt="" width="550" height="550" /></p>
<p>Kalau dibilang sedang lesu menulis ya sebenarnya tidak karena di <em>GoogleDocs </em>aku masih menyisakan beberapa tulisan siap tayang untuk beberapa pekan depan. Yang lebih tepat untuk dianggap terkait dengan &#8216;absen&#8217; postingan hari rabu kemarin adalah karena pikiran dan kehendakku sedang benar-benar tidak pada porsinya untuk &#8216;mengurus&#8217; blog ini.</p>
</div>
<div>
<p>Sejak Sabtu, 13 Februari 2010 yang lalu aku mulai tak hanya dituntut untuk menjadi seorang suami yang bijak cendekia, tapi juga harus memulai peran baru sebagai seorang bapak yang cekatan dan cerdas.</p>
</div>
<div>
<p>Oleh karenanya, ditandai dengan beraneka ragam kejadian dan hal-hal baru yang harus kulalui dan lakukan, rabu kemarin kuputuskan untuk men-skip postingan yang seharusnya tayang. Barangkali, kebanyakan dari kalian akan berujar <em>&#8220;Ah, nggak papa, kamu kan sedang repot!&#8221;</em> (Atau mungkin ada lebih banyak yang sinis menggumam <em>&#8220;Cih! Siapa pula yang peduli!?!&#8221;</em>)  tapi bagiku, janji menerbitkan tulisan setiap rabu dan sabtu adalah janji pada komitmenku itu sendiri sehingga perlulah bagiku untuk berujar maaf atas kekosongan artikel pada rabu silam <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>
<div id="_mcePaste">
<p>Melalui postingan ini, aku juga hendak berterimakasih kepada kalian semua yang sudah menyalutiku baik melalui facebook, twitter, sms, email serta beberapa di kolom komentar posting sebelumnya di blog ini atas kelahiran anakku yang pertama, <strong>Odilia Maura Taufan-Verdian</strong>, pada sabtu minggu lalu. Meski sederhana, tapi aku selalu mengartikan bahwa ucapan selamat adalah doa, dan doa adalah pondasi terkuat dari sebuah kehidupan yang ada di depan. Semoga Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik bagi kalian seperti halnya Ia selalu menjadikan yang terbaik pula bagiku dan keluargaku.</p>
</div>
<div id="_mcePaste">Nah, sekarang kalian boleh secara resmi memanggilku Pak, Bapak! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/02/20/pak-bapak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

