<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; pelacur</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/pelacur/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kuli Angkut? Pelacur Aja!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/07/26/kuli-angkut-pelacur-aja.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/07/26/kuli-angkut-pelacur-aja.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 06:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[kuli angkut]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[Kemana larinya gajimu setiap bulannya? Berani taruhan, kemanapun itu, seberapapun besar gajimu, ia tak kan pernah terasa cukup! Barangkali benar ini memang perkara psikologis yang sederhana bahwa ada uang berapapun itu jumlah, hukumnya harus dihabiskan, termasuk ditabung! Aku sendiri memilih untuk memasrahkan 100 persen gajiku kepada istri, sesuatu yang kucontoh dari apa yang Papaku selalu lakukan terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Kemana larinya gajimu setiap bulannya? Berani taruhan, kemanapun itu, seberapapun besar gajimu, ia tak kan pernah terasa cukup! Barangkali benar ini memang perkara psikologis yang sederhana bahwa ada uang berapapun itu jumlah, hukumnya harus dihabiskan, termasuk ditabung!</p>
<p>Aku sendiri memilih untuk memasrahkan 100 persen gajiku kepada istri, sesuatu yang kucontoh dari apa yang Papaku selalu lakukan terhadap Mama dulu.<br />
Ini bukan semata-mata &#8216;wujud cinta&#8217; atau &#8216;penyerahan diri&#8217; semata tapi lebih dari itu, karena aku sadar aku bukanlah manajer keuangan yang baik. Aku adalah tipikal orang yang tanpa bantuan orang lain bisa menerbitkan keinginan dan mewujudkannya sehingga akan sangat berbahaya jika berapapun uang yang kudapat lalu kusimpan sendiri, bisa dipastikan, cepat atau lambat, uang itu akan habis sia-sia.</p>
<p>Sia-sia?<br />
Ya! Aku adalah penggila belanja, belanja apa saja! Mulai dari baju dan celana, alat musik, gadget elektronik hingga kebutuhan-kebutuhan kecil bisa kubeli ketika otakku berpikir &#8220;<em>Kayaknya bagus</em>!&#8221; atau &#8220;<em>Duh, sepertinya aku butuh beli untuk ini dan itu!</em>&#8220; Adakah dari kalian yang memiliki pola pikir dan lemahnya memegang uang sepertiku? Kuhargai kalau sampai kalian mengaku <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi bicara soal gaji dan kesia-siaan, tentu kalian masih ingat dengan tulisanku beberapa waktu silam yang berjudul <strong><a href="http://donnyverdian.net/2010/07/14/tentang-gaji-seorang-kuli-angkut-barang.html">Tentang Gaji Seorang Kuli Angkut Barang</a></strong>, bukan?<br />
Nah, salah satu komentator yang cukup loyal di blog ini sekaligus teman baikku, <strong>Femi Khirana</strong>, mengungkapkan bahwa sepertinya perlu bagiku untuk membahas kemana gaji besar para kuli angkut yang kuceritakan di tulisan itu akhirnya menguap?</p>
<p>Bukan sesuatu yang kebetulan pula kalau sebenarnya aku memang masih menyimpan serpihan &#8216;interview&#8217; ku dengan orang China yang kuceritakan dalam artikel tersebut.<br />
Berikut ini lanjutannya,</p>
<p>&#8220;Oh, besar amat ya, jadi 800 dollar dalam semalam?&#8221; aku masih tergagap-gagap.<br />
&#8220;Iya! Gila kan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu kenapa kamu milih ke jasa angkut barang pindahan dan bukannya jadi seperti mereka?&#8221;<br />
&#8220;Dulu, sebelum aku menikah aku kerja jadi kuli angkut pasar selama dua tahunan lebih&#8230;&#8221; Ia menerawang.</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tapi lantas orang tuaku menyarankanku untuk menikahi tetangga di kampungnku sana yang akhirnya menjadi istriku sekarang ini..&#8221;<br />
&#8220;Oh, kenapa? Kenapa menyarankan?&#8221;<br />
&#8220;O well&#8230; usiaku menua tapi aku belum pengen beristri waktu itu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Wew&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Lagipula kenapa harus beristri kalau waktu itu aku bisa &#8216;beli&#8217;?&#8221; matanya yang sipit itu melirik ke arahku penuh arti.</p>
<p>&#8220;Whaattt???&#8221;<br />
Dan, si orang Cina itupun hanya tertawa terkekeh-kekeh&#8230; terpingkal-pingkal.</p>
<p>Ya, jadi meski bergaji besar, ternyata orang Cina yang dulu dua tahun pernah bekerja sebagai kuli angkut bergaji 800 dollar per malam itu menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya. Ia bercerita bahwa separuh lebih dari uangnya habis untuk berjudi, mabuk-mabukan dan berpesta pora dengan teman-temannya. Hal itu ia lakukan hampir setiap siang hingga sore, sebelum balik kerja pada malam harinya.</p>
<p>&#8220;Tiga bulan sekali aku juga mudik ke Cina&#8230; Berwisata!&#8221; tambahnya.<br />
Tak hanya ke Cina, ia juga bercerita beberapa kali ia bahkan menyempatkan diri berlibur ke Hawaii dan Samoa, dua kawasan wisata mahal di daerah Pasifik yang terjangkau tak terlalu jauh dari sini.</p>
<p>&#8220;Tapi kamu sempat nabung kan?&#8221; tanyaku.<br />
Ia menggeleng-geleng mantap&#8230;<br />
&#8220;Tabunganku di sini!&#8221; ujarnya seraya mengelus-elus perut yang tambun itu. &#8220;Dan di bawahnya&#8230;(menunjuk bawah perutnya yang tambun)&#8221; kali ini ia terkekeh-kekeh lagi.</p>
<p>&#8220;Oh iya?&#8221;<br />
&#8220;Iya, kan tadi aku bilang kalau aku bisa &#8216;beli&#8217;?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Damn&#8230; oh iya. Maksudmu, kamu ke prostitusi?&#8221; Aku berlagak bodoh.<br />
&#8220;Yup!&#8221; ujarnya mantap&#8230; &#8220;Makanya aku bilang beli&#8230; aku tak perlu menikah dan ngurus ini itu serta anak.. cukup pergi ke rumah bordil, ambil satu yang terbaik, bayar, pakai 1 jam, lalu pulang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kamu tau apa keuntungan buruh kerja malam yang pergi ke prostitusi?&#8221; ujarnya menggoda.<br />
&#8220;Apa?&#8221; Kali ini aku benar-benar tak berlagak bodoh.<br />
&#8220;Dapat harga lebih murah karena itu siang hari, jam sepi mereka&#8230; orang-orang pada kerja dan aku &#8216;bermain-main&#8217; di sana! Hahahaha&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng-geleng kepala&#8230;<br />
&#8220;Hmm boleh tanya, berapa emangnya sekali beli di sini?&#8221;<br />
&#8220;Hayoh! Kamu tertarik ya?&#8221; Matanya membelalak menyerangku.</p>
<p>&#8220;No Uncle, No! Aku hanya ingin tahu berapa uang yang kau habiskan dari sisa gaji yang kaudapat&#8230;&#8221; kurasai wajahku ter-rebus olehnya.<br />
&#8220;Hmmm&#8230; 300 dollar&#8230;&#8221;</p>
<p>Akupun terdiam cukup lama.<br />
&#8220;Kenapa kamu terdiam?&#8221; ujarnya dan kali ini aku membiarkannya yang terus meledekku.<br />
Entah kenapa bayangan tentang enak dan mewahnya hidup sebagai kuli angkut itu mendadak hilang.<br />
Kini aku berpikir tentang pelacur. Tentang berapa yang ia peroleh dalam sehari dan semalam, dalam semingu dan sebulan, dalam setahun dan tahun-tahun selanjutnya&#8230;</p>
<p>Damn!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/07/26/kuli-angkut-pelacur-aja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

