<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; play back</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/play-back/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Saya benci lip synch/playback. Anda?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/07/21/saya-benci-lip-synchplayback-anda.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/07/21/saya-benci-lip-synchplayback-anda.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[lip synch]]></category>
		<category><![CDATA[play back]]></category>
		<category><![CDATA[slank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[Entah bagi kalian, tapi bagiku melihat seorang penyanyi / sebuah grup band yang tampil di layar kaca membawakan lagu andalannya dalam lip synch/playback mode adalah sesuatu yang menyebalkan. Bagiku itu tak ubahnya seperti melihat pertunjukan boneka di Ancol yang dengan mulut megap-megap pura-pura bernyanyi dan tangan musisinya sok sibuk menabuh instrumen padahal semua suara yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Entah bagi kalian, tapi bagiku melihat seorang penyanyi / sebuah grup band yang tampil di layar kaca membawakan lagu andalannya dalam lip synch/playback mode adalah sesuatu yang menyebalkan. Bagiku itu tak ubahnya seperti melihat pertunjukan boneka di Ancol yang dengan mulut megap-megap pura-pura bernyanyi dan tangan musisinya sok sibuk menabuh instrumen padahal semua suara yang keluar tak lebih dari sebuah cakram pemutar musik yang diputar dan diperdengarkan keras-keras.</p>
<p>Barangkali ada yang protes kenapa aku membencinya? Demikianlah di bawah ini alasan-alasanku:</p>
<p><strong>Perampasan proses pengayaan interpretasi karya musik</strong><br />
Sebuah lagu, meski dibawakan oleh orang yang sama tapi pada waktu yang berbeda harusnya membawa kesan yang berbeda pula bagi pendengarnya. Hal ini merunut pada hukum alam bahwa tidak ada satupun yang sama meski keduanya identik, dan dalam dunia seni, sejauh dilakukan dengan &#8216;hati&#8217;, perbedaan ini justru akan memperkaya interpretasi orang terhadap karya musik itu sendiri. Sebagai pecinta live music, hal tersebut adalah yang paling kutunggu.</p>
<p>Contohnya kuingat betul waktu <strong>Slank</strong> manggung di Jogja tahun 94 (Damn! So longgg ago!) silam dan tiba di lagu<em> Reaksi Kimia</em> yang menawan itu, tiba-tiba di atas panggung dihadirkan seorang peniup flute dan jadilah lagu itu terdengar sangat jauh berbeda dengan versi rekaman aslinya.</p>
<p>Atau, simaklah bagaimana<strong> Bono (U2)</strong> memberikan snippet (imbuhan di bagian akhir) pada <em>With or Without You</em> ketika manggung di Slane Castle, Dublin, 2001, kata-kata seperti, <em>&#8220;Yeah, we&#8217;ll shine like stars in summer night&#8230; we&#8217;ll shine like stars in winter night&#8230; one heart, one soul&#8230;&#8221;</em> Hal itu sangat menggairahkan karena tak kita temui di lagu <em>With or Without You</em> versi rekaman yang ada di album <em>Joshua Tree</em>.</p>
<p>Sayangnya, teknologi lip synch/playback menghilangkan semua itu.<br />
Hak untuk merasakan &#8216;gregetan&#8217; dan &#8216;terkejut&#8217; pada setiap perbedaan interpretasi karya seni yang mungkin dihasilkan terampas begitu saja karena semua suara hanya bersumber dari cakram yang sama yang<br />
telah dipersiapkan jadi sebelumnya&#8230;</p>
<p><strong>Cara mudah menjadi Penyanyi/Band rekaman!?</strong><br />
Playback/lip synch mau tak mau juga turut membuat persepsi baru yang beredar bahwa menjadi penyanyi atau group band rekaman itu mudah!<br />
Mereka seperti tak perlu lagi menguatkan skill musik terkait dengan live performance karena semuanya tergantikan dengan lip synch/playback. Tinggal bagaimana mempersiapkan kostum, mengarang ide koreografi serta menjaga kemulusan kulit dan kesehatan rambut saja untuk menjaga penampilan. Salah? Tidak, tapi pertunjukan musik kan bukan fashion show! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Ongkos Produksi minim, &#8216;value&#8217; panggung menyusut</strong><br />
Bagiku, seni itu harus mewah demi menjaga persepsi bahwa seni itu adalah semua yang bisa diberikan untuk keindahan.<br />
Jadi, kalau ada alasan bahwa menghadirkan teknologi playback itu memangkas ongkos produksi, alangkah memprihatinkannya pendapat tersebut.<br />
Atas nama seni, acara-acara berbiaya rendah (namun tetap mengharapkan tayangan iklan yang optimal) tersebut harusnya ditutup dan digantikan dengan pemutaran video klip saja. Lebih mudah dicerna, tak perlu dicerca dan jelas tak menciderai &#8216;perasaan&#8217; seni itu sendiri toh?</p>
<p>Ah, tiba-tiba aku jadi rindu acara-acara semacam MTV Unplugged!<br />
Acara dimana bahkan seorang legenda <strong>Kurt Kobain</strong> (Nirvana) pun dibiarkan melakukan &#8216;kesalahan&#8217; pengambilan nada dasar demi menegaskan karya musik mereka adalah karya manusia bukan robot atau teknologi yang bernama digital.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/07/21/saya-benci-lip-synchplayback-anda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

