<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; rule</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/rule/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>iPod, Mobile Phone dan Terciptanya Sebuah Aturan</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 17:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[ipod]]></category>
		<category><![CDATA[mobile phone]]></category>
		<category><![CDATA[rule]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Ketergelitikanku setelah memandang dengan takjub pada aturan yang kupotret di atas, semata-mata pada kelihaian si pembuat aturan, seorang pemilik coffeshop, merangkai sebab (kausalitas), menerangkan akibatnya lantas menjadikan relasi keduanya itu menjadi aturan yang persuasif, jauh dari kesan represif. Aku membayangkan, awal mula hingga terbit aturan itu barangkali demikian. Sebuah pagi di tahun 2004 sekitar dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S10IcGcJeWI/AAAAAAAAAWQ/4TwY_g3VpKA/rule_ipod.gif" alt="" width="350" height="377" /></p>
<p>Ketergelitikanku setelah memandang dengan takjub pada aturan yang kupotret di atas, semata-mata pada kelihaian si pembuat aturan, seorang  pemilik <em>coffeshop</em>, merangkai sebab (kausalitas), menerangkan akibatnya lantas menjadikan relasi keduanya itu menjadi aturan yang persuasif, jauh dari kesan represif.</p>
<p>Aku membayangkan, awal mula hingga terbit aturan itu barangkali demikian.</p>
<p>Sebuah pagi di tahun 2004 sekitar dua bulan sesudah coffeeshop buka untuk pertama kalinya, orang mulai ramai menyukai adonan kue dan pasnya <em>brewing</em> kopi yang dihidangkan. Saking ramainya, antrian panjang mengular adalah pemandangan yang umum di coffeeshop tersebut. Pada saat-saat seperti itu (biasanya di pagi hari) kecepatan layanan para <em>barista </em>(ahli peracik kopi) dan pelayan lainnya termasuk kasir adalah kunci berpengaruh terhadap berapa banyak orang yang bisa dilayani, berapa produk yang bisa terjual dan pada akhirnya berapa keuntungan yang bisa dicapai.</p>
<p>Sekonyong-konyong seorang pria parlente bertubuh tinggi besar yang masuk dalam antrian dan kebetulan sudah sampai di hilir tampak &#8216;mbudheg&#8217; karena berkonsentrasi mendengarkan musik dari piranti yang lantas dikenal dengan nama iPod.</p>
<p><em>&#8220;Next, please!&#8221;</em> Si barista mempersilakan antrian berikutnya untuk maju ke depan, dilayani. Tapi si parlente itu tak bereaksi, ia malah manggut-manggut berirama.</p>
<p><em>&#8220;Neeexttt, pleaseee!&#8221;</em> Si barista kembali bersuara, kali ini dengan tekanan yang lebih keras dan suara yang terdengar jauh lebih lantang.</p>
<p>Tapi skali lagi, si parlente diam saja sambil melamun ke arah lain hingga akhirnya ia &#8216;ngeh&#8217; setelah bahunya yang masif ditepuk oleh pengantri di belakangnya.</p>
<p><em>&#8220;Oh, ssoooryyy&#8221;</em> Ia pun maju ke depan tergopoh-gopoh kehadapan barista yang mencoba tetap bersikap cool meski hatinya kecut masam!</p>
<p>* * *</p>
<p>Hari berikutnya, seorang wanita setengah baya melakukan hal yang kurang lebih sama.<br />
Ketika sedang mengantri membeli kopi, rupanya ia lupa menitipkan kunci rumah kepada suami yang telah lebih dulu berangkat kerja, maka ia segera menelpon suaminya.<br />
<em> &#8220;Haloo.. Pa&#8230; Aduh, sorry aku tadi lupa titip kunci ke kamu! Trus gimana nanti kamu masuk rumah kalau aku belum pulang ya?&#8221;</em> ujarnya di telepon. Lalu percakapan pun memanjang, sementara antrian terus maju ke depan hingga si wanita sibuk itu sampai pula di bagian hilir antrian.</p>
<p><em>&#8220;Next please!&#8221;</em> seru si barista yang kebetulan juga sama dengan barista yang bertugas kemarin.<br />
Si wanita tersenyum melambaikan tangannya ke arah barista seperti hendak berbicara <em>&#8220;Tunggu bentar ya&#8230;&#8221;</em><br />
Si Barista membalas senyuman dan lambaian tangan itu dengan cibiran yang kecut &#8230;<br />
Ia, yang kemarin berhadapan dengan pria parlente ber-iPod, tak mau kehilangan akal dan tak mau mengecewakan antrian berikutnya. Si barista itu lantas meminta orang yang berada di antrian kedua untuk maju ke depan mendahului si wanita yang.. masih tetap on the phone itu.</p>
<p>Hingga lima kali &#8216;dilangkahi&#8217;, pada akhirnya si wanita itupun selesai menggunakan telpon.<br />
Alih-alih kembali masuk ke dalam antrian, ia langsung maju ke depan dan menggebrak meja barista. <em>&#8220;Hey! Bukannya aku tadi sudah bilang TUNGGU SEBENTAR! Aku kan sedang telepon dengan suamiku, kenapa tak kamu pedulikan?&#8221;</em></p>
<p>Tatap matanya tajam seperti macan kehausan dan setiap kata yang terlontar adalah sembilu yang menancap sementara si Barista yang tampak masih muda itu &#8216;ngeper&#8217; menghadapi si wanita lalu beringsut ke belakang melapor kepada bosnya. Nggak pake lama, perkara itupun diselesaikan dengan baik oleh Sang Bos. Secangkir kopi gratis dan setumpuk kata <em>&#8220;Sorry&#8221;</em> diberikan kepada si wanita macan secara cuma-cuma  sebagai obat penawar kecewanya. Keuntungan pagi itupun ternodai dengan menipisnya mental si Barista akibat dibentak, serta keuntungan secangkir longblack yang melayang percuma&#8230;</p>
<p>* * *</p>
<p>Sore harinya, ketika meeting evaluasi antar barista dan manajemen, diputuskanlah untuk membuat tata aturan yang menyangkut kejadian dua hari berturut-turut terkait dengan penggunaan iPod dan telepon genggam. Revisi sana, revisi sini, tambah sini dan hapus yang sebelah sana, palu pun diketok, aturan dicetak lalu dengan sedikit laminasi dan bantuan plester, dipasanglah ia seperti terpampang di atas itu tadi.</p>
<p>Dari sebuah foto tentang aturan serta peristiwa kecil yang kureka-reka di atas, aku belajar satu hal&#8230;<br />
Manusia adalah makhluk yang bisa memperkaya dirinya dengan sesuatu yang telah lewat.<br />
Ketika ia menghadapi satu hal dengan jalan yang mulus, ia lantas mempelajarinya sebagai pola dan menerapkannya ke masa depan sebagai resep&#8230; jurus untuk mendapatkan kemulusan yang sama bahkan lebih. Namun ketika ia menghadapi satu hal yang menghambat kemulusan, ia akan mengingatnya dan tidak menginginkan hal itu terjadi di masa depan. Lantas, terbesitlah tata aturan, yang membuat langkah-langkah pengecualian dan penanggulangan ketika penghambat itu menghadang di depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/27/ipod-mobile-phone-dan-terciptanya-sebuah-aturan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

