<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; sampah</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/sampah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sampah Handphone</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/07/17/sampah-handphone.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/07/17/sampah-handphone.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 16:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[mobile muster]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[waste management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[Hingga detik ini, satu hal yang kupercayai terkait dengan isu bobroknya manajemen penanganan sampah di seluruh dunia adalah karena sikap konsumtif kita terhadap produk-produk yang limbahnya tidak ramah lingkungan hidup, termasuk handphone. Sikap konsumtif yang kumaksud adalah gaya hidup yang lebih mengedepankan nikmat dan nyamannya memiliki handphone terbaru serta meninggalkan yang lama padahal dari sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Hingga detik ini, satu hal yang kupercayai terkait dengan isu bobroknya manajemen penanganan sampah di seluruh dunia adalah karena sikap konsumtif kita terhadap produk-produk yang limbahnya tidak ramah lingkungan hidup, termasuk handphone.  Sikap konsumtif yang kumaksud adalah gaya hidup yang lebih mengedepankan nikmat dan nyamannya memiliki handphone terbaru serta meninggalkan yang lama padahal dari sisi kegunaan, handphone yang lama masih bisa difungsikan secara baik dan optimal.</p>
<p>Marilah kita sejenak melongok ke belakang, kapan pertama kali kamu menggunakan handphone dan sudah berapa kali kamu ganti bukan dengan alasan rusak tapi lebih karena supaya tak ketinggalan jaman?</p>
<p>Aku sendiri memiliki sejarah per-henpon-an yang cukup &#8216;mengesankan&#8217; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Sejak pertama kali menggunakan handphone tahun 2000, aku nyaris selalu berganti handphone setiap tahunnya.<br />
Malah kalau tak salah ingat sejak 2004 hingga sekarang, aku menggunakan dua nomor pada dua handphone. Alasannya klasik, aku ingin membagi arus informasi dalam dua kanal, kanal pekerjaan dan kanal personal. Tapi alasan itu tetaplah hanya menjadi alasan karena pada praktiknya, penggunaan kedua nomor malah jadi tak optimal meski memiliki dua handphone sekaligus adalah pemuas nafsu konsumtifku itu tadi.<br />
Oh ya ada satu lagi yang hampir kelupaan untuk kuceritakan, minimal setiap tahun sekali, aku selalu mengganti handphone-handphone itu dengan edisi terbaru dengan alasan yang tak kalah klasiknya, supaya tak ketinggalan jaman!</p>
<p>Nah, bayangkan jika di dunia ini ada lebih dari sejuta orang yang berpola pikir serta bersikap sepertiku, maka secara logika, dari tahun 2000 hingga 2010, sejuta orang itu akan memiliki handphone dan &#8216;sampah&#8217; handphone sebanyak (1 + 1 + 1 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2) x 1 juta = 15 juta handphone!</p>
<p>Di negara berkembang seperti Indonesia, barangkali &#8216;sampah&#8217; itu tetap bisa terkendali karena seperti yang pernah dan selalu aku lakukan dulu, sebelum aku membeli yang baru, beberapa saat sebelumnya aku telah menjual terlebih dulu yang lama. Akan tetapi, bagi negara seperti Australia, karena harga handphone baru semakin murah, handphone second hand jadi tak memiliki pasar dan oleh karenanya,<br />
sangat jarang orang menjual handphone bekas. Akibatnya, orang-orang yang mengikuti teknologi sebagai mode dan gaya hidup itu akan menumpuk begitu banyak handphone tak terpakai di rumahnya dan tinggal menunggu waktu saja sebelum akhirnya dibuang begitu saja.</p>
<p>Persoalannya sekarang adalah, hampir semua bagian handphone yang terbuang itu bersifat tak dapat diuraikan dalam kurun waktu yang singkat, malah beberapa komponennya memiliki sifat yang meracuni lahan pembuangan! Tentu saja ini bukan sesuatu yang menyenangkan di tengah maraknya isu pemanasan global dan rusaknya keseimbangan lingkungan hidup, kan?</p>
<p>Nah, saat jalan-jalan ke mall weekend silam, ketika sedang masuk ke sebuah toko peralatan elektronik yang cukup ternama, aku menemukan sebuah kotak berisi handphone-handphone bekas yang terpajang di dekat kasir. Kotak tersebut menarik perhatian karena sebagai orang yang dulu &#8216;hobi&#8217; gonta-ganti handphone, tentu kotak itu membuatku flashback ke belakang, mengingat jenis-jenis handphone yang pernah kumiliki dan sekarang &#8216;tinggal nama&#8217; itu. Ada puluhan bahkan ratusan handphone yang tertumpuk di kotak itu. Aneka rupa handphone keluaran hingga tiga tahun silam, semuanya dibiarkan tak bertuan di situ.</p>
<p>Mau dikemanakan tumpukan handphone itu?<br />
Ternyata eh ternyata, ada sebuah layanan yang namanya <strong><a href="http://www.mobilemuster.com.au/">Mobile Muster</a></strong> yang melakukan jasa pembuangan limbah handphone secara baik dan terstruktur, sehingga meski tak mungkin dapat mereduksi 100 persen<br />
pembuangan limbahnya tapi setidaknya faktor perusakannya diminimalkan.</p>
<p>Handphone-handphone itu didekonstruksikan.<br />
Bagian-bagian yang memang tak bisa dipakai lagi akan dibuang dalam pembuangan khusus yang terproteksi dari lahan bebas. Sementara itu bagian-bagian yang bisa digunakan kembali (reuse) akan diurai dan dikelompok-kelompokkan untuk kemudian dipakai lagi pada produk-produk baru. Alhasil, perusahaan-perusahaan produsen handphone dan barang-barang elektronik lainnya yang bisa menggunakan bahan dasar yang sama dengan handphone pun jadi punya pilihan untuk tidak selalu mengambil bahan dasar langsung dari alam, melainkan menggunakan yang pernah dipakai sebelumnya dan telah diurai dengan baik.</p>
<p>Sebuah wujud dari tujuan yang begitu mulia, bukan?<br />
Tapi bagiku, sebenarnya jika mau lebih dioptimalkan &#8216;kemuliaan&#8217; nya, ide untuk me-recycle itu bisa dipecah dua dengan tak hanya mengurai namun juga mengirimkannya ke negara-negara lain yang membutuhkan handphone-handphone lama tersebut untuk keperluan komunikasi. Aku berpikir demikian karena selain bisa lebih meminimalkan lagi kemungkinan kerusakan alam, pembagian maupun penjualan dengan harga murah bagi handphone-handphone tak terpakai itu bisa menekan angka penjualan handphone-handphone baru sehingga meski langkah ini akan banyak dibenci oleh produsen-produsen handphone, setidaknya hal itu akan lebih memberikan arti tentang bagaimana kita menjaga alam ini untuk tetap lestari dalam waktu yang lebih lama lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/07/17/sampah-handphone.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

