<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; setengah fiksi</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/setengah-fiksi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hakikat Doa</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/13/hakikat-doa.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/13/hakikat-doa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 17:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[setengah fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Budi, teman lama yang tua-mudanya kira-kira sama denganku. Teman-teman sering bilang kami ini,aku dan Budi, seperti halnya saudara kembar karena secara fisik dan beberapa kebiasaan serta hobi kami nyaris sama. Tapi dari semua kesamaan yang ada, pembedanya adalah ketika dulu aku sudah harus mulai sibuk bekerja membanting tulang, ia malah sibuk berdoa dan terlibat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/StetFVTCtwI/AAAAAAAAADA/Kv6F5A6FDB8/donnyverdian0381.jpg" alt="" width="500" height="188" /></p>
<p>Adalah <strong>Budi</strong>, teman lama yang tua-mudanya kira-kira sama denganku.</p>
<p>Teman-teman sering bilang kami ini,aku dan Budi, seperti halnya saudara kembar karena secara fisik dan beberapa kebiasaan serta hobi kami nyaris sama. Tapi dari semua kesamaan yang ada, pembedanya adalah ketika dulu aku sudah harus mulai sibuk bekerja membanting tulang, ia malah sibuk berdoa dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan agama. Aku sendiri sebenarnya penasaran apa sih motivasinya untuk berkubang dalam hal-hal berbau agamis dan &#8216;tak kasat mata&#8217; seperti itu.</p>
<p>Kian hari, rasa penasaran itu kian meluap hingga akhirnya aku tak sanggup lagi untuk menahan tanya tentang perilaku doanya.</p>
<p>&#8220;Bud, kenapa kamu begitu lama berdoa? Apa saja yang kau katakan dalam doamu itu?&#8221; begitu tanyaku.</p>
<p>Bukannya sungkan atau risih, ia malah sumringah memberikan jawaban terkait dengan &#8216;hobinya&#8217; itu.</p>
<p>&#8220;Wah, Don! Kamu bertanya pada orang yang tepat tapi tidak dengan pertanyaan yang tepat!&#8221; jawabnya mantap.</p>
<p>&#8220;Weleh, kenapa demikian, Bud?&#8221;</p>
<p>&#8220;Banyak, Don! Banyakkk betul yang biasa kukatakan dalam doaku. Saking banyaknya aku bingung mau kasih jawaban yang mana ke kamu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh begitu&#8230; Ya sudah, ndak usah semua lah, Bud. Satu-dua biji saja sebagai contoh!&#8221; desakku.</p>
<p>&#8220;Hmmm, begini&#8230; aku selalu berdoa apaaaa saja!</p>
<p>Mulai dari keinginanku untuk meminta grand piano baru, keinginanku supaya dicarikan jodoh dari kalangan yang baik-baik dan seiman&#8230; sampai keinginanku supaya Tuhan nggak memberikan hujan hari ini.. dan lihatlah! Nggak hujan tho hari ini? Makanya aku bisa main ke rumahmu dengan kondisi langit yang terang-benderang!&#8221;</p>
<p>Aku pun terdiam dibuatnya. Meski tak sepaham dan jauh dari faham atas penjelasannya, aku memilih manggut-manggut saja.</p>
<p>Bagiku, tingkah doanya terlalu memusingkan.</p>
<p>* * *</p>
<p>Masa pun berganti. Beberapa lama setelah pertemuan terakhir itu, Budi menghilang.</p>
<p>Tapi sebenarnya, entahlah.. Aku tak tahu apakah dia yang menghilang atau justru aku yang menghilang daripadanya.</p>
<p>Hingga di suatu siang yang kerontang, Budi mendatangi kantorku untuk menemuiku.</p>
<p>&#8220;Halo Don, apakabarmu?&#8221; wujudnya masih sama meski kulitnya agak sedikit melegam.</p>
<p>&#8220;Wah baik Mbut eh&#8230; Bud hehehe!&#8221; tukasku bercanda.</p>
<p>Kusodorkan tanganku kepadanya dan kamipun erat berjabat tangan.</p>
<p>Setelah berbasa-basi sejenak, untuk melanjutkan obrolan, kuajak dia ke warung angkringan tak jauh dari kantor  yang buka sejak siang.<br />
Obrolan pun membuncah ditingkahi dengan saling tukar informasi tentang apapun terutama tentang kawan-kawan lama yang juga telah lama menghilang.</p>
<p>Kupikir awalnya pertemuan siang itu bakalan jadi sekadar temu kangen saja karena kami toh sudah sekian lama tak bertemu, akan tetapi tak kusangka, hari itu Budi mengajakku berdiskusi, sedikit banyak bertanya kepadaku tentang hal yang seharusnya justru aku tanyakan kepadanya.</p>
<p>&#8220;Don, kamu pernah merasa dikecewakan Tuhan?&#8221; tanyanya membuka obrolan yang lebih serius di tengah suara deru kendaraan yang wira-wiri di jalanan.</p>
<p>&#8220;Heh!? Maksudmu, Bud?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Iya! Tuhan pernah nggak, nggak menjawab doamu? Atau setidaknya cuek kepadamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;&#8221; aku bingung seperti mencari hilangnya utas tali jawaban di benakku.</p>
<p>&#8220;Hmmm, dikecewakan sih nggak, justru aku yang sepertinya selalu mengecewakan Tuhan, Bud!&#8221; jawabku serius.</p>
<p>Kutatap matanya, dan mata itu mendarat ke bawah, Budi seperti kehilangan sesuatu, tak seperti dulu dimana sorot matanya adalah pisau tajamnya untuk meyakinkan lawan bicaranya.</p>
<p>&#8220;Hmmm, gitu ya..? Kok bisa? Kok bisa nggak pernah dikecewakan?&#8221; tanyanya lagi mendesak.</p>
<p>&#8220;Sik..sik! Sebentar, Bud&#8230; Ini menarik! Kenapa kamu tiba-tiba datang dan bertanya seperti itu?&#8221; tanyaku balik sambil membenarkan posisi dudukku, kali ini aku benar-benar berhadapan dengannya.</p>
<p>&#8220;Begini, Don&#8230; beberapa waktu yang lalu tiba suatu saat dimana aku merasa sangat dikecewakan Tuhan.</p>
<p>Aku sudah minta ini dan itu, terkadang dikabulkan tapi kadang juga diabaikan. Terakhir kali ketika aku sudah tinggal selangkah lagi menikah, pacarku memutuskanku karena alasannya aku belum dapat pekerjaan tetap&#8230;&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Lha, kamu sudah pernah meminta Tuhan supaya Ia memberikan pekerjaan tetap apa belum?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Hmmmm&#8230; belum!&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Kenapa nggak minta?&#8221; tanyaku mendesak balik.</p>
<p>Tiada jawaban darinya. Hening.</p>
<p>&#8220;Bud&#8230; Budi. Aku nggak pernah merasa dikecewakan Tuhan barangkali karena aku nggak pernah meminta terlalu banyak dariNya.&#8221; Jawabku singkat.</p>
<p>&#8220;Maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini soal pola doa. Aku nggak pernah meminta tapi selalu bersyukur untuk apa yang telah diberikanNya! Aku tak pernah minta diberi gitar Gibson atau kamera digital dSLR terbaru sehingga ketika aku belum mendapatkannya ya aku tenang-tenang saja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kan Tuhan tempat segala permohonan ditujukan, Don?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya memang, tapi apa bedanya dengan tempat sampah kalau kamu mengirimkan semua keinginan ketimbang kebutuhanmu padaNya?&#8221; jawabku lagi.</p>
<p>Sesaat ia terdiam lagi. Matanya masih malas menyapu pada permukaan kayu tempat duduk sementara makanan yang tak disentuhnya sedari tadi sudah semakin mendingin.</p>
<p>&#8220;Hmmmm, benar juga katamu, Don! Lantas bagaimana doamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Doaku? Aku berdoa tak terlalu bertele-tele. Terkadang hanya dalam diam, dalam tangis pernah juga aku doa sambil ketawa-tawa, Bud! Aku percaya Tuhan adalah translator yang baik; penerjemah ulung yang mampu membaca semua perasaanku&#8221;</p>
<p>Ia manggut-manggut.</p>
<p>&#8220;Aku tak pernah ragu untuk segala apa yang kuperlukan, Bud. Makanya aku tak pernah minta yang neko-neko seperti hmmm sorry, seperti kamu dulu!&#8221; tegasku lagi.</p>
<p>&#8220;Apa salahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku nggak menyalahkanmu! Tapi aku berpikir ketimbang kamu berdoa minta ini-itu, mendingan kamu berdoa supaya kamu diberi rejeki secukupnya dan semangat untuk melakukan yang terbaik, itu cukup! Jadi ndak peduli kamu kehujanan, kepanasan, kelaparan dan kehausan ataupun kekurangan, Tuhan akan tetap kamu rasakan membimbing setiap langkah dan nafasmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;..&#8221; Budi terdiam.</p>
<p>&#8220;Trus masih ada lagi, Bud.&#8221; tegasku.</p>
<p>&#8220;Hmmm?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan terlalu banyak berdoa kalau kamu bahkan untuk bekerja pun tak sempat!</p>
<p>Aku yakin Tuhan senang kamu berdoa tapi Ia juga akan senang kalau tahu bahwa kamu adalah manusia yang giat yang mau menggunakan segala daya dan upaya yang ada padamu untuk berusaha!&#8221; jawabku.</p>
<p>Budi tak lagi sanggup berkata-kata.</p>
<p>Sosok yang dulu kukenal berapi-api itu bagaikan arang kehilangan bara, ayam jantan kehilangan tajinya.</p>
<p>Sejenak keheningan kubiarkan menguasai ruang sempit di antara kami berdua supaya kata-kataku yang meluncur kepadanya itu tak menggilasnya lebih tandas.</p>
<p>Lima belas menit terlewati, aku melihat ke arah arloji yang kukenakan,</p>
<p>&#8220;Bud, sorry aku harus kembali&#8230; berdoa!&#8221;</p>
<p>Budi terkaget-kaget seketika. &#8220;Eh, kamu mulai rajin berdoa sekarang?&#8221;</p>
<p>Dalam pertanyaannya kulihat ia sumringah seperti mendapatkan &#8216;teman&#8217; baru atas kekhawatirannya.</p>
<p>&#8220;Sejak dulu, sejak kamu sering ngumpet di kamar hanya untuk berdoa, aku telah lebih dulu rajin berdoa!&#8221; ujarku.</p>
<p>&#8220;Oh ya?&#8221; tukasnya.</p>
<p>&#8220;Yupe! Tapi bedanya, doaku tidak lewat kata-kata! Doaku ada dalam setiap hasil karyaku, rasa pusing di otakku, degup serta detak jantungku, letih-letih di ototku, rasa kecut-masam di keringatku serta &#8230; serta justru di setiap kata-kata pisuhan dan kecewaku. Di sana&#8230;. kuyakin Tuhanmu, Tuhan yang sama denganku mendengarkanku, Bud!&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Pertemuan itupun mendekati paripurnanya. Waktu terus bergulir dan aku benar-benar harus kembali bekerja.</p>
<p>Kami berdiri dan kupeluk dia sebagai seorang sahabat. Tak sepatah katapun kulontarkan lagi kepadanya selain senyum dan sorot mataku yang menancap di benaknya.</p>
<p>Lalu kutinggalkan ia sendirian di warung angkringan itu.<br />
Satu hal yang cukup menggetarkan telah kulewati hari itu&#8230;</p>
<p>Untuk kalian yang merasa kenyang hanya dengan berdoa&#8230;.<br />
<em><strong>Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga&#8230;. &#8220;(Matius 7:21-23)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/13/hakikat-doa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

