<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; simba</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/simba/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Membagi Waktu Membagi&#8230; Cinta</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/03/17/membagi-waktu-membagi-cinta.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/03/17/membagi-waktu-membagi-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 17:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[odilia]]></category>
		<category><![CDATA[simba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Hampir sebulan terakhir ini, ada delapan makhluk yang sedang mengalami krisis identitas di rumah setelah kelahiran Odilia, anak pertamaku.  Mereka adalah ketujuh ikan cupangku (Broto, Parno, Bambang, Jarwo dan tiga lain yang belum kuberi nama) serta Simba, anjing kesayanganku. Sindrom yang ditunjukkan di antaranya turunnya nafsu makan, kegelisahan yang meningkat (kalau Simba dengan cara meringik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Hampir sebulan terakhir ini, ada delapan makhluk yang sedang mengalami krisis identitas di rumah setelah kelahiran <strong>Odilia</strong>, anak pertamaku.  Mereka adalah ketujuh ikan cupangku (<strong>Broto, Parno, Bambang, Jarwo</strong> dan tiga lain yang belum kuberi nama) serta <strong>Simba</strong>, anjing kesayanganku.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://lh6.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S5940fpZeTI/AAAAAAAAAh4/ygqGvSTgCuk/blog_cinta.jpg" alt="" width="404" height="118" /></p>
<p>Sindrom yang ditunjukkan di antaranya turunnya nafsu makan, kegelisahan yang meningkat (kalau Simba dengan cara meringik sedangkan ikan cupangku menunjukkannya dengan belingsatan menabrak-nabrak kaca akuarium) serta khusus untuk Simba adalah tatapannya yang nanar lengkap dengan ekor yang dijatuhkan tepat diselangkangannya ketika akan kami tinggal tidur ke atas setiap malam tiba.</p>
<p>Lantas kenapa itu semua bisa terjadi?</p>
<p>Tak lain dan tak bukan karena mereka semua merasa kehilangan segala kehangatan yang pernah didapatnya dariku dan istriku hingga sesaat sebelum Odi hadir&#8230;<br />
Berikut adalah salah sedikit contoh dari apa yang &#8216;mereka dapat&#8217; sebelum Odi dilahirkan:</p>
<ul>
<li>Simba, terlebih selama istriku hamil, adalah teman tidur kami. Kami terbiasa membagi ranjang bertiga dengannya.</li>
<li>Ketika sedang menonton tv, Simba tak duduk di lantai layaknya anjing biasa, ia dibebaskan melompat dan nangkring di atas sofa bersama dengan kami.</li>
<li>Ketika makan, tak jarang kami menyuapinya langsung dari tangan terlebih kalau ia sedang tampak malas melahap, kami sodorkan butir demi butir makanan ke mulutnya.</li>
<li>Kami masih agak sedikit ragu dengan manjurnya ungkapan &#8220;Beri perhatian pada anjing kesayangan dengan mengelus-elus kepala dan perutnya&#8221;, kami lebih merasa optimal untuk menyayanginya dengan cara menciumnya, ya benar-benar mencium, menempelkan bibir kami padanya.</li>
<li>Ikan-ikan cupangku, meski mereka tak kami dudukkan di sofa (bagaimana bisa?), mereka bertengger mesra di atas almari pakaian kami di kamar hingga dua hari sesudah Odi pulang ke rumah, mereka kami pindahkan ke kamar mandi.</li>
<li>Tiga puluh menit menjelang tidur, dulu kami selalu meluangkan waktu untuk memberi makan dan sekadar bercengkrama dengan para ikan itu tadi.</li>
</ul>
<p>Sekarang bagaimana? Ya, sejujurnya sekarang jelas berbeda keadaannya. Kami, aku dan istriku, tak bisa lagi memberikan perhatian seperti yang kutulis di atas. Sebagian besar waktu kami habiskan untuk mengurus si kecil Odilia.</p>
<p>Namun meski demikian, dengan segala apa yang ada sejujurnya, cinta kami kepada Simba dan ketujuh ikan cupang itu boleh dibilang tak menghablur sedikitpun! Secuilpun!</p>
<p>Halah, masa? Nggak percaya, coba kalian tanya pada istriku apakah cintanya berkurang pada Simba dan konco-konconya setelah Odi muncul di tengah kami? Dengan gusar, aku bisa membayangkan ia pasti akan menjawab , <em>&#8220;Eh, nggak ya! Aku tetep cinta Simba!&#8221;</em> Dan, tak kurang akupun juga akan seperti itu kalau ditanya &#8230;</p>
<p>Cinta, bagiku, adalah sesuatu yang tak bisa dinilai, ditakar dan didefinisikan akan tetapi kalau disuruh membayangkannya, aku lebih suka menggambarkan cinta sebagai gumpalan sesuatu yang besarnya seperti apa akupun tak tahu. Ia termasuk dalam aras <em>uncountable </em>(tak terhitung) namun justru dari situlah manusia lantas mencoba menghitung serta menakarnya sesuai dengan kemampuan dan keterbatasannya.</p>
<p>Kemampuan dan keterbatasan yang lantas dinamai akal budi itu lantas menggiring kita untuk menggunakan &#8220;waktu&#8221; sebagai variabel bantu penghitung cinta.Waktu adalah variabel yang bisa dihitung dan padanyalah bersandar pula daur seumur hidup kita, oleh karenanya tak heran kita lantas meletakkan cinta kepada waktu, cinta terhadap waktu. Perpaduan keduanya menimbulkan ekuivalensi, sebuah persamaan yang sebenarnya tak sama benar seperti kutulis di bawah ini:</p>
<p>Ketika kamu bicara seberapa banyak waktumu untuk mencintai seseorang, orang lain lantas menterjemahkannya sebagai seberapa besar cintamu kepadanya berdasarkan berapa ribu detik yang kau habiskan dalam seminggu untuk bersamanya. Dan konsekuensinya, ketika kamu absen di depan hidungnya, ia yang sebenarnya tetap kau simpan cintanya dalam hatimu itu bisa meluap-luap marahnya hanya karena dalih &#8220;Nggak ada waktu.. nggak cinta!?!&#8221;</p>
<p>Sekarang persoalannya, salahkah kita menghitung dan menakar cinta?Jawabku adalah tak mengapa, asalkan kita tak semena-mena langsung mengidentikkan hasil penghitungan dan penakaran itu kepada cinta itu sendiri.</p>
<p>Therefore, kembali ke soal hubungan kami dengan para binatang piaraan yang kami begitu cintai,Kalau ukurannya adalah waktu, maka penghakiman tentang berkurangnya cinta kami pada mereka bisa diputuskan sebagai suatu yang benar, tapi kalau ukurannya adalah cinta itu sendiri, hakikatnya tidak akan pernah ada penghakiman karena tak ada hakim yang mampu menakar dan menghitung cinta sejak manusia tak ditakdirkan untuk dapat mendefinisikannya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/03/17/membagi-waktu-membagi-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

