<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; target</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/target/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Definitely, Maybe, Next Time</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/10/14/definitely-maybe-next-time.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/10/14/definitely-maybe-next-time.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 07:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1112</guid>
		<description><![CDATA[Berapa undangan pernikahan yang kalian hadiri pada hari Minggu, 10 Oktober 2010 kemarin? Pastinya banyak karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa kecenderungan kita adalah untuk berusaha mengkaitkan momen istimewa tersebut dengan &#8216;bagus tidaknya&#8217; sebuah tanggal. Mereka (dan kita) berharap bahwa &#8216;hari baik&#8217; yang termaktub dalam &#8216;tanggal baik&#8217; tersebut dapat menginspirasi sebuah pernikahan menjadi baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="aligncenter" src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/TLVlBTQSDLI/AAAAAAAAAuI/8tiHHoKabUw/blog_target.jpg" alt="" width="488" height="218" /></p>
<p>Berapa undangan pernikahan yang kalian hadiri pada hari Minggu, 10 Oktober 2010 kemarin?<br />
Pastinya banyak karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa kecenderungan kita adalah untuk berusaha mengkaitkan momen istimewa tersebut dengan &#8216;bagus tidaknya&#8217; sebuah tanggal. Mereka (dan kita) berharap bahwa &#8216;hari baik&#8217; yang termaktub dalam &#8216;tanggal baik&#8217; tersebut dapat menginspirasi sebuah pernikahan menjadi baik pula adanya.</p>
<p>Tapi sebenarnya, baik kah pernikahan itu?</p>
<p>Dua minggu silam aku pergi shopping ke <strong>Target</strong>, salah satu retail brand ternama di Australia yang banyak menghadirkan barang-barang (terutama busana) berkualitas &#8216;not bad&#8217; dengan harga yang &#8216;bloody good&#8217;! Aku pergi ke Target karena untuk keperluan busana kantor selain jacket, jas dan dasi, kupikir aku tak mau membuang uang terlalu banyak toh akan dipakai hampir setiap hari dan&#8230; ah siapa pula yang memperhatikan, kan? Maka setelah beberapa hari sebelumnya melihat tayangan iklan diskon gede-gedean di Target khusus untuk busana dan perlengkapan kantor aku memutuskan untuk berbelanja pada hari itu.</p>
<p>Seperti yang sudah kubayangkan, pengunjung begitu membludak, merayap di sela-sela kounter barang yang bisa dipilih secara swalayan itu.<br />
Memang tak seheboh ramainya mall-mall di Indonesia menjelang Lebaran,  tapi dua tahun tak pernah melihat yang seperti itu, sekalinya disodori ya tetap kaget lah! Sempat sedikit gelagapan tapi apa mau dikata, namanya juga sudah niat&#8230; aku lalu cuek membaur bersama mereka berdesak-desakan dan adu cepat memilih barang sebagus mungkin dengan harga semurah mungkin.</p>
<p>Tak sampai setengah jam, beberapa pilihan pakaian dan celana panjang katun sudah kugenggam. Praktis tak butuh waktu lama untuk memilih pakain yang hendak kubeli karena bagiku toh pakaian kerja formal itu memang harus simple; kalau ngga kotak-kotak, garis-garis ya polos, kan? Tinggal pilih warna mana yang sesuai, langsung comot dan bawa ke kasir toh untuk urusan ukuran, standardnya sama.</p>
<p>Tapi pendapat istriku yang akhirnya membuat semua jadi tak &#8216;secepat&#8217; itu.<br />
&#8220;Ini kan baju-baju yang murah meriah.. takutnya ada lubang sana sini atau&#8230; siapa tahu ukurannya beda dengan yang biasa kamu beli!&#8221;<br />
Aku berpikir sejenak lalu mengiyakan pendapatnya.</p>
<p>Setelah memilih beberapa buah baju untuk dicoba aku bergegas menuju ke kamar ganti. Tapi lagi-lagi, kapasitas kamar ganti yang disediakan tak mencukupi untuk menampung semua calon pembeli pada saat yang bersamaan, terpaksalah kami antri. Ada sekitar delapan orang yang berdiri di depanku namun pada beberapa menit sesudahnya berkurang hingga lima. Sebabnya, ternyata ada aturan baru bahwa mencoba baju minimal hanya tiga potong saja, barangkali ini aturan sementara karena memang tingkat kunjungan siang itu yang ‘peak’ sangat.</p>
<p>Ketika giliranku tiba, aku segera masuk ke dalam.<br />
Tak seperti biasanya, kali ini begitu masuk, aku tak langsung mencoba baju yang kubawa namun untuk sesaat aku dibuat takjub oleh tiga buah gantungan baju yang masing-masing diberi label &#8220;Definitely&#8221;, &#8220;Maybe&#8221; dan &#8220;Next Time.&#8221;</p>
<p>Ini adalah sesuatu yang beda ketimbang toko-toko lainnya.<br />
Sesuatu dengan maksud yang jernih, mudah dicerna dan kupikir ini brilian. Adanya tiga buah gantungan itu menjadi semacam alat bantu untuk memudahkan kita memilih mana baju yang pada akhirnya kita beli, mana yang perlu kita timbang-timbang dan mana yang dengan mudah kita bisa bilang &#8220;Ah, tak sekarang! Besok saja&#8221;</p>
<p>Di ‘situ’ aku termenung.<br />
Sekonyong-konyong aku dihadapkan pada soal pernikahan meski pada kenyataannya perkara memilih baju sebenarnya jauh berbeda dan tak bisa dianalogikan dengan proses pencarian jodoh apalagi pernikahan. Tapi apa mau dikata, itulah yang bisa ‘kuserap’ tanpa bisa kuminta dan otakku terperas ke sana.</p>
<p>Pernikahan, meski ada beberapa yang menganggapnya sebagai sebuah ‘permainan’ tapi kuyakin sebagian besar dari kita masih percaya bahwa ia adalah sesuatu yang sakral. Saking sakralnya, kitapun rela untuk mengintepretasikan kesakralan itu sebagai sesuatu yang hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup. Oleh karenanya, penentuan dengan siapa kita akan menikah lantas menjadi sesuatu yang sangat krusial.</p>
<p>Seperti halnya proses memilih satu baju dari tiga di kamar pas Target itu tadi, karena berapapun yang kita pilih, pada akhirnya,  kita harus memilih satu calon yang definitif dan menyingkirkan dua serta calon lainnya.  Sebagian besar, yang menganggap pernikahan sekali seumur hidup adalah yang terbaik, lantas merasa perlu untuk mengambil waktu yang panjang sebelum pernikahan digelar meski aku percaya, sepanjang apapun itu, sangat sulit untuk menentukan bahwa proses pemilihan telah benar-benar selesai.</p>
<p>Banyak yang akhirnya tak kunjung melangkah hingga akhir hayat memilih untuk &#8216;tetap mencari&#8217;. Ada pula yang tak berani memilih dan akhirnya memungkiri pernikahan sebagai sesuatu yang memang tak perlu dilakukan hanya gara-gara rasa takut memilih itu tadi. Ada juga yang memaksakan diri untuk memilih karena dikejar waktu dan pada akhirnya harus &#8216;membatalkan pilihan dan memilih ulang&#8217; ketika pernikahan sudah digelar.</p>
<p>Sikap terbaik, barangkali adalah dengan membatasi waktu pencarian, menentukan sikap dan maju ke depan untuk mengucapkan janji pernikahan. Perkara tak sreg itu toh wajar karena siapa yang pernah sreg terhadap sesuatu maupun seseorang untuk selama-lamanya tanpa pernah goyah seinci pun?<br />
Seperti halnya dalam memilih baju, mana sanggup kita membayangkan bahwa betapapun indah dan eloknya baju yang kita pilih dan ditaruh di gantungan &#8220;definitely&#8221; adalah baju yang tetap akan indah dan elok ketika telah kita pakai dalam setahun misalnya?</p>
<p>Akankah ia tetap kelihatan pamornya meski misalnya si pemilik  telah semakin melar tubuhnya dan tak muat lagi untuk dibalut dengan baju yang elok itu tadi?<br />
Dan hey&#8230; bukankah kita biasanya akan lebih senang berujar &#8220;Ah, bajunya udah kekecilan.. mari kita hunting lagi!&#8221; ketimbang &#8220;Wah, aku yang kegemukan&#8230; mari kita lebih giat berolahraga lagi!&#8221;</p>
<p>Bagiku, pernikahan itu tak pernah tak baik.<br />
Ia adalah sebuah ide gila yang datang dari Tuhan untuk menyatukan dua manusia yang berlainan. Uniknya, meski demikian, pernikahan tak kan pernah bisa benar-benar menyamakan dua manusia itu karena satu bukan berarti sama dan sama tak harus satu. Ada kalanya ia berhasil dan berproses, tapi tak jarang pernikahan belum-belum sudah dipandang gagal dan ditabalkan sebagai langkah bunuh diri oleh mereka&#8230; mereka yang memang tak ingin berhasil pada sebuah pernikahan.</p>
<p>Jadi, sudah baikkah pernikahan kalian?</p>
<p><em>Untuk mereka, yang baru melepas masa lajang&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/10/14/definitely-maybe-next-time.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Made in China</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/05/12/made-in-china.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/05/12/made-in-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 16:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[china]]></category>
		<category><![CDATA[in]]></category>
		<category><![CDATA[made]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Berterimakasihlah pada China! Karena, sedemikian murah dan cekatannya tenaga kerja di negeri itu, maka kita bisa mengenakan pakaian bagus dengan harga terjangkau. Awal 2000-an lalu, aku masih begitu alergi setiap belanja pakaian dan melihat dibalik tag name nya atau di bungkus produknya tertera tulisan &#8220;Made in China&#8221;. Bukannya berlebihan, tapi waktu itu tendensi barang bagus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Berterimakasihlah pada China!<br />
Karena, sedemikian murah dan cekatannya tenaga kerja di negeri itu, maka kita bisa mengenakan pakaian bagus dengan harga terjangkau.</p>
<p>Awal 2000-an lalu, aku masih begitu alergi setiap belanja pakaian dan melihat dibalik tag name nya atau di bungkus produknya tertera tulisan &#8220;Made in China&#8221;. Bukannya berlebihan, tapi waktu itu tendensi barang bagus selalu diidentikkan kalau nggak Amerika Serikat ya Kanada atau Inggris meski kita tak tahu apakah saat itu barang-barang yang &#8216;ngakunya&#8217; buatan negara-negara barat itu sebenarnya sudah diproduksi di China atau belum.</p>
<p>Tapi semakin kemari, menghindari tag name yang tak menerakan tulisan &#8220;Made in China&#8221; adalah satu kesulitan yang luar biasa apalagi kalau jangkauan kita hanyalah retailer-retailer yang menjamur di pusat-pusat pertokoan. Bisa sih kalau kamu pergi ke butik-butik khas Eropa yang mahalnya nggak ketulungan itu, semua masih menggunakan &#8220;Made in Italy&#8221;, &#8220;Made in France&#8221; atau &#8220;Made in Germany&#8221;.<br />
Tapi pertanyaanku lantas, siapa yang bisa menjamin bahwa barang-barang yang mahal itupun benar-benar buatan Eropa dan bukannya buatan China?</p>
<p>Aku ingat, terakhir kali membeli pakaian yang bukan &#8220;Made in China&#8221; adalah Nudie Jeans yang kubeli April 2009.<br />
Jeans yang konon banyak dipakai para artis itu kulego dengan harga yang cukup tinggi, 250 dollar dan ah&#8230;. betapa lega hatiku ketika melihat tulisan di tagnya &#8220;Made in Italy&#8221;. Tapi siapa nyana, dan aku tak mengkait-kaitkan dengan &#8220;made in&#8221; mana, setahun berikutnya, tiga minggu silam, aku terpeleset di tangga, jatuh terpelengkang dan bretttttt jeans seharga selangit itupun robek tak terperikan, menyisakan tawa seorang cewek bule yang melewatiku dan meninggalkan muka merah nan masam di wajahku dan membuatku berkata, &#8220;Asu!&#8221; Lalu kembalilah aku kepada Levi&#8217;s 501, jeans legendaris Amerika Serikat yang &#8216;sayangnya&#8217; juga sudah buatan China <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Produk &#8220;China&#8217; memang pada akhirnya membanjiri dunia sesaat setelah banyak produsen-produsen dunia membanjiri China untuk usaha produksinya, tak terkecuali Australia! Di satu sisi ini tentu pertanda buruk karena menandakan begitu besarnya superioritas China dan mengkerutnya kedigdayaan dunia barat, tapi di sisi lain, dengan harga jual yang relatif lebih rendah, kesempatan setiap lapisan masyarakat untuk merasakan nikmatnya menggunakan produk &#8216;bagus&#8217; menjadi begitu besar.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S-i9pHoOTBI/AAAAAAAAAns/6fSWX6ySZMg/blog_target.jpg" alt="" width="250" height="333" />Tengoklah Target, misalnya.<br />
Raksasa retail yang menjajakan aneka kebutuhan rumah tangga dengan harga miring dan terjangkau di Australia itu menjadi &#8216;tempat bersandar&#8217; bagi kalangan menengah untuk berbelanja.<br />
Sebagai contoh, kaos Transformer dengan label asli &#8216;Transformer&#8217; dijual dengan harga dibawah 20 dollar. Kaos-kaos bergambar tokoh Disney yang dulu harus dibeli dengan mahal, sekarang pun bisa ditebus dengan harga sekitar 15-an dollar, tapi ya tentu ber-Made in China. Jeans tebal yang kuyakin tak kan robek meski jatuh terpelengkang dijual di bawah bandrol 100 dollar bahkan sepatu-sepatu kanvas yang digilai ABG dijual dengan bandrol terendah hanya 6 dollar, juga cetakan Shanghai dan sekitarnya!</p>
<p>Jangan heran, ini bukan sulap lagi bukan sihir, tapi lebih sebagai sebuah mukjizat di awal abad 21 oleh China bagi dunia.</p>
<p>Oleh karenanya, tak heran kalau dengan bangga, di setiap dinding terdekat dengan kasir, di setiap outlet Target terpampang tulisan yang tampak di gambar samping. Bahwa setiap warga Australia berhak atas pakaian yang bagus adalah benar, tapi bahwa setiap warga Australia berhak atas pekerjaan dalam membuat pakaian yang bagus itu tidak benar, karena orang China lah pembuatnya <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/05/12/made-in-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

