<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; tips</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/tips/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tulisan &#8220;keren&#8221;, tulisan &#8220;tak keren&#8221;</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/11/28/tulisan-keren-tulisan-tak-keren.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/11/28/tulisan-keren-tulisan-tak-keren.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2323</guid>
		<description><![CDATA[x: Don, tulisan loe keren-keren! DV: errrrr&#8230;..! Bukannya tak mau berterimakasih dibilang ‘keren’, tapi persoalannya, dalam tatanan sebenarnya, pantaskah ‘keren’ dan ‘tak keren’ dijadikan patokan sebuah tulisan? Jauh sebelum aku terbiasa menulis dulu, aku sepakat bahwa pembatas yang memisahkan derajat tulisan memang ‘keren’ dan ‘tak keren’. Waktu itu, tulisan keren bagiku adalah tulisan berbunga-bunga, puisi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/11/28/tulisan-keren-tulisan-tak-keren.html" title="Permanent link to Tulisan &#8220;keren&#8221;, tulisan &#8220;tak keren&#8221;"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_pensil.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Tulisan &#8220;keren&#8221;, tulisan &#8220;tak keren&#8221;" /></a>
</p><p><em><strong>x</strong>: Don, tulisan loe keren-keren!</em><br />
<em><strong> DV</strong>: errrrr&#8230;..!</em></p>
<p>Bukannya tak mau berterimakasih dibilang ‘keren’, tapi persoalannya, dalam tatanan sebenarnya, pantaskah ‘keren’ dan ‘tak keren’ dijadikan patokan sebuah tulisan?</p>
<p>Jauh sebelum aku terbiasa menulis dulu, aku sepakat bahwa pembatas yang memisahkan derajat tulisan memang ‘keren’ dan ‘tak keren’.</p>
<p>Waktu itu, tulisan keren bagiku adalah tulisan berbunga-bunga, puisi, yang kerap muncul di majalah-majalah remaja atau kerap dibacakan sebagai pesan ‘cinta’ oleh seorang penyiar radio dan ditujukan bagi ‘yang disasar’ entah siapa&#8230;</p>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Jauh sebelum aku terbiasa menulis dulu, aku sepakat bahwa pembatas yang memisahkan derajat tulisan memang ‘keren’ dan ‘tak keren’.&#8221;</p></blockquote>
<p>Istilah kata, kalau tak ada kata yang mendayu-dayu, otak lantas mengirim sinyal kepada lidah untuk berkata, <em>“Tulisan ini tidak keren!”</em></p>
<p>Masa’berbunga-bunga’ terlewati, lalu aku berani bilang tulisan <strong>Pramoedya</strong> itu keren! Padahal, di dalam kata-kata yang dituliskannya tak ada satupun bunga-bunga kecuali malah bunga perjuangan, dendam, semangat pokoknya yang keras-keras karena memang ia selama lebih dari separuh hidupnya mengalami hidup dalam standard yang keras.</p>
<p>Lama aku mencoba mendalami Pramoedya, beberapa waktu silam sebelum sekarang aku menganggap<strong> Coelho</strong> dan <strong>Salman Rushdie</strong> juga keren! Padahal apanya yang keren kalau ketika membacanya aku harus berbagi konsentrasi antara menelaah kata-katanya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sekaligus? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hingga beberapa waktu silam aku tersadar apakah sebuah tulisan harus dikategorikan sebagai ‘keren’ dan ‘tak keren’ setelah beberapa temanku berkomentar seperti yang kutulis di kalimat pertama tulisan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Penyampai Pesan</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Tak ada tulisan yang tak menyampaikan pesan bahkan ketika pesan dari tulisan tersebut adalah “Tak berpesan” &#8220;</p></blockquote>
<p>Fungsi tulisan bagiku simple, ia harus menyampaikan pesan. Tak ada tulisan yang tak menyampaikan pesan bahkan ketika pesan dari tulisan tersebut adalah <em>“Tak berpesan”</em> <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tulisan tak mengisyaratkan dialog, beda dengan ketika kita menelpon seseorang. Kamu menelpon orang lain dan orang lain di seberang diam, kamu bisa bilang bahwa telpon kamu ‘gagal’ entah karena sebab apa.</p>
<p>Tak percaya? Coba tanya dari sekian ratus ribu orang yang membaca buku teori Hawking, berapa persen yang ‘ngerti’ dan berapa orang yang ‘sok ngerti’ lalu bilang “Wah, tulisan doi keren!” ?</p>
<p>Tulisan, sama halnya dengan media penyampai pesan lainnya akan dianggap berhasil ketika ia ternyatakan. Habis perkara!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Ikut Arus ‘Keren’ dan ‘Tak Keren’</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Memiliki rasa bangga atas diri sendiri adalah wujud perlawanan untuk mengalahkan label bahwa kita dan segala kreasi kita itu tak keren!&#8221;</p></blockquote>
<p>Tapi ketika ada tulisan yang dikategorikan &#8216;keren&#8217; dan &#8216;tak keren&#8217;, barangkali itu karena kita terlampau menarik dan membandingkan setidaknya dua tulisan ke dalam &#8216;kompetisi&#8217; yang bermuara pada <em>&#8216;Mana tulisan yang lebih bagus?&#8217;</em></p>
<p>Terkadang kita terlalu memasukkan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita sebagai sebuah perlombaan. Padahal apakah sejatinya memang demikian? Tentu tidak! Ada hal yang harus dimasukkan sebagai kompetisi tapi ada pula yang harus dibuang jauh-jauh sebagai wujud bahwa kita ini adalah manusia yang tidak selamanya menyukai persaingan.</p>
<p>Apalagi tulis-menulis, apalah persaingan yang perlu diimbuhkan ke dalamnya selain bahwa masing-masing penulis berhak untuk menyampaikan pesannya dan wajib sadar diri bahwa pembaca tak harus membacanya lebih-lebih mengerti arti pesan lewat tulisannya, toh? Apalagi kalau pertimbangan itu pada akhirnya justru akan melemahkan kita dalam menjaga hasrat untuk tetap menulis.</p>
<p>Orang yang rendah diri dan orang yang &#8216;sok&#8217; rendah diri akan berujar bahwa tulisannya tak keren dibandingkan si A, si B, atau.. si DV! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Padahal apa untungnya menjadi rendah diri dalam hal seperti ini selain hanya memang pada akhirnya membuat diri kalian benar-benar rendah? Kita dulu memang pernah dijajah, tapi tak selamanya kita harus jadi kuli kan?</p>
<p>Memiliki rasa bangga atas diri sendiri adalah wujud perlawanan untuk mengalahkan label bahwa kita dan segala kreasi kita itu tak keren! Jadi, keluarkan kertas dan pensil atau penamu. Atau buka aplikasi menulismu di komputer atau apapun gadgetmu lalu mulailah merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat dan kalimat itu bermakna! Makna berarti menggenggam dunia!</p>
<p><em><strong>x:</strong> Oh! Jadi tulisanmu tak keren, Don?</em><br />
<em><strong> DV:</strong> Bukan tak keren&#8230; tapi terlepas dari keren dan tak keren, aku menulis&#8230; dan itu keren!</em><br />
<em><strong> x:</strong> errrrrrr!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/11/28/tulisan-keren-tulisan-tak-keren.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalian tidak sedang menjual blog kalian, kan?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/08/08/kalian-tidak-sedang-menjual-blog-kalian-kan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/08/08/kalian-tidak-sedang-menjual-blog-kalian-kan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 06:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=2002</guid>
		<description><![CDATA[Sayangnya, tak semua blog pada akhirnya ditujukan untuk pembagian informasi oleh pemiliknya. Mula-mulanya sih barangkali demikian, bahkan bisa dibilang hampir semua (barangkali?), namun seiring berjalannya waktu, sesuai semboyan &#8220;Go monetize your blog&#8221; mereka lambat laun berubah menjadi zombie penghisap uang dengan cara-cara yang sebenarnya halal namun kerap agak sedikit kurang berkenan bagi mereka yang membaca. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/08/08/kalian-tidak-sedang-menjual-blog-kalian-kan.html" title="Permanent link to Kalian tidak sedang menjual blog kalian, kan?"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_review.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Kalian tidak sedang menjual blog kalian, kan?" /></a>
</p><p>Sayangnya, tak semua blog pada akhirnya ditujukan untuk pembagian informasi oleh pemiliknya. Mula-mulanya sih barangkali demikian, bahkan bisa dibilang hampir semua (barangkali?), namun seiring berjalannya waktu, sesuai semboyan <em>&#8220;Go monetize your blog&#8221;</em> mereka lambat laun berubah menjadi zombie penghisap uang dengan cara-cara yang sebenarnya halal namun kerap agak sedikit kurang berkenan bagi mereka yang membaca. Tapi tenang, kamu yang sedang membaca tulisan ini pasti bukan bagian dari kawanan zombie-zombie itu karena kalian adalah kawanku yang baik <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mungkin kalian kaget kenapa tiba-tiba aku meracau demikian sepagi ini di awal tulisan?<br />
Tak apa-apa sebenarnya, hanya saja akhir-akhir ini agak sedikit merasa <em>overwhelmed</em>&#8230;muak dengan besutan review produk-produk yang dilakukan beramai-ramai di blog mereka masing-masing dalam waktu yang hampir bersamaan. Itu belum sampai titik yang puncaknya, karena yang paling memuakkan adalah ketika kita temui cara review produk yang terkesan sangat &#8216;menghamba&#8217; kepentingan produk yang direview, seolah-olah ia adalah produk yang turun dari surga, tanpa cacat dan cela.</p>
<p>&#8220;Ehmmm&#8230; siapakah mereka itu, Don?&#8221;<br />
&#8220;Ah mau tau aja <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Ya rahasia!&#8221;<br />
Yang pasti, sekali lagi, bukan kalian, karena kalian, sekali lagi, adalah kawanku yang baik <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;namun seiring berjalannya waktu, sesuai semboyan &#8220;Go monetize your blog&#8221; mereka lambat laun berubah menjadi zombie penghisap uang&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Review produk di blog itu sendiri sebenarnya penting. Ia bisa menjadi petunjuk bagi para pencari tahu yang tak puas dengan penjelasan resmi dari situs web produsen. Aku sendiri beberapa kali sering menambatkan hati pada review produk di blog ketika tertarik untuk mencari tahu informasi tentang sebuah produk. Namun ketika harus membuat perbandingan kualitas produk, termasuk mencari hal-hal yang menjadi kelemahannya, blog dengan review produk nyatanya tak pernah memuaskanku. Untuk yang seperti itu, forum diskusi-forum diskusi di internet lebih &#8216;berani&#8217; mengutarakan fakta yang sesungguhnya tentang produk.</p>
<p>Lalu bagaimana baiknya mereview produk? Beberapa kali teman memintaku untuk mereview produk mereka secara cuma-cuma di blog ini, tapi itupun kupikir bukan contoh terbaik. Oleh karenanya, poin-poin di bawah ini bukanlah saranaku untuk menggurui kalian, tapi lebih sebagai teriakan seorang blogwalker terhadap keadaan pe-review produk yang sedang menggejala akhir-akhir ini&#8230;</p>
<h3></h3>
<h3>Lengkapi foto produk</h3>
<p>Ya! Lengkapi reviewmu dengan foto produk, bukan malah tulisan dan tulisan melulu. Orang bilang kan <em>&#8220;No pic.. HOAX!&#8221; </em>Setidaknya, berikan pandangan pada pembaca tentang penampilan produk. Tak perlu dari banyak sisi, tapi kalian kan tahu dari sisi mana produk itu tampak seperti aslinya; tak menutupi kelemahan tapi juga tak terlalu menonjolkan keunggulannya.<br />
Eh, tapi juga malah jangan terlalu banyak menampilkan foto bagaimana kalian meliput acara itu karena kami tak butuh melihat tampangmu <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Kami butuh tampang SPG-SPG&#8230; eh, maksudku, kami butuh foto produk yang kamu review!</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Sajikan spesifikasi</h3>
<p>Kalian tahu bedanya spesifikasi dan deskripsi?<br />
Spesifikasi adalah fakta-fakta obyektif yang biasanya berurusan dengan angka pasti. Katakanlah kalian me-review produk mobil, maka yang kumaksud dengan spesifikasi adalah fakta-fakta seputar ukuran rangka mesin, tebal kaca, kapasitas tangki, detail kulit pelapis kursi penumpang, ABS nya seperti apa, dan segala tetek bengeknya&#8230; kalau itu berurusan dengan review mobil.</p>
<p>Jangan malah<em> &#8220;Ouch, membayangkanmu duduk di kursi empuk mobil ini lalu membawamu jalan-jalan keliling kota alangkah indahnya&#8221;</em>, bagiku ini info menyesatkan karena empuk itu takarannya apa, dan eh kalau naik mobil masak harus &#8216;jalan-jalan&#8217;? Jalan kaki? Kan pake mobil?</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Hadirkan benchmark</h3>
<p>Me-review produk, menurutku, harus memiliki landasan berpikir.<br />
Maksudku, me-review produk harus memiliki ekspektasi awal mula terhadap ranah produk sebelum menuliskannya. Misal, kamu mau nulis review tentang produk pemutih kulit, kamu punya ekspektasi misalnya <em>&#8220;Apakah produk ini bisa memutihkan kulitku seputih tembok pada minggu ketiga?&#8221;</em> Lalu dalam pendalaman materi, ternyata kalian mendapati kenyataan bahwa produk pemutih itu bekerja lebih cepat dari ekspetasi&#8230; dari bencmark kalian yang tiga minggu itu.</p>
<p>Nah, lalu di akhir tulisan kalian akan menjawab ekspektasi itu dengan, <em>&#8220;Wah, bener lho tuips! Ternyata dengan memakai produk ini, kita seputih tembok dalam hitungan menit!&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Bersikap fair terhadap produk</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Bersikap fair terhadap produk bukan pula berarti kita harus menjelek-jelekkan produk lho. Hal itu lebih ke jangan hanya pamer keunggulan produk&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Produsen membayar untuk di-review produknya? Benar dan itu kan yang kalian cari? Tak mengapa, tapi bukan berarti lantas kalian harus tunduk oleh karena uangnya. Jadilah pe-review yang tak mau disuap dengan uang untuk mengatakan bahwa tai kucing itu cokelat bersalut gula dan caramel, karena selain kamu meracuni opini masyarakat, secara tak langsung kamu telah menjadi kutu busuk yang gemuk karena kebohongan yang kamu tulis!</p>
<p>Bersikap fair terhadap produk bukan pula berarti kita harus menjelek-jelekkan produk lho. Hal itu lebih ke jangan hanya pamer keunggulan produk tapi kita juga perlu melihat hal-hal buruk dari produk tersebut. Dalam pembahasaan tentu kita bisa mengantisipasi hal tersebut dengan memperhalus bahasa menjadi <em>&#8220;Hal-hal yang perlu dibenahi untuk produk versi berikutnya&#8221;</em> ketimbang <em>&#8220;Produk ini buruk sekali!&#8221;</em> ya mirip seperti bagaimana dulu guru wali kelasmu bicara dengan orang tuamu mengevaluasi prestasi belajarmu. <em>&#8220;Anak bapak tidak bodoh, hanya saja barangkali perlu pendalaman setahun lagi di kelas ini!&#8221;</em> Kan lebih halus hehehe&#8230;</p>
<p>Sebagai penutup, aku akan bercerita tentang seorang kawan lama, pe-review produk dari surat kabar terutama di Indonesia. Ia adalah pe-review gadget-gadget mulai dari komputer mainframe industrial hingga laptop, dari mobile phone hingga usb flash disk.</p>
<p>Bagiku ia adalah pe-review yang baik karena ia tak mau tunduk pada kemauan produsen meski tawaran &#8216;yang macam-macam&#8217; disiapkan baginya hanya demi sebuah review yang muncul di surat kabar tempat ia bekerja. Tapi ia bersikukuh terhadap kejujurannya, <em>&#8220;Gue ngga butuh yang macem-macem. Gue udah dapet semuanya dari company tempat gw bekerja, Don!&#8221;</em> tukasnya suatu waktu.</p>
<p>Ia berprinsip bahwa kalau produsen membuat produk yang bagus, produsen tak perlu membayarnya dengan ongkos ekstra karena baginya menyebarkan berita bagus adalah tugasnya.<br />
Semula tak banyak produsen yang mengerti prinsipnya tersebut, namun lambat laun mau-tak-mau, produsenlah yang harus mengikuti alur kerjanya.</p>
<p>Maka jadilah hingga saat ini, hampir setiap minggu ia menerima protoype produk terbaru dari produsen yang siap mengantri untuk di-review. <em>&#8220;Keputusan final tentang akan jadi/tidaknya direview, tetap keputusan gue dong, heheheh!&#8221;</em> Ia, yang kerap kupanggil dengan sebutan &#8220;Om&#8221; itu menyeringai menampakkan gigi rapinya.</p>
<p>Teman-teman&#8230;<br />
Jadilah raja atas apa yang setidaknya kau miliki saat ini. Kau adalah blogger, jadilah raja atas blogmu karena itu milikmu dan jangan sekalipun memberi kesempatan kepada siapapun termasuk kapitalis untuk menguasai apa yang harusnya kau kuasai itu hanya demi segepok uang. Percayalah, uang itu melenakan namun kuasanya harusnya tak sampai bisa menjengkali harga dirimu.</p>
<p><em>Foule esclave, debout, debout (Enslaved masses, stand up, stand up! <strong>-eng</strong>)</em><br />
<strong><em> The Internationale (Eugène Pottier, 1871)</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/08/08/kalian-tidak-sedang-menjual-blog-kalian-kan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog kenapa harus ngga serius? &#8211; JANGAN MALAS adalah obat malas terampuh sedunia (2 dari 2 tulisan)</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/06/06/blog-kenapa-harus-ngga-serius-jangan-malas-adalah-obat-malas-terampuh-sedunia-2-dari-2-tulisan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/06/06/blog-kenapa-harus-ngga-serius-jangan-malas-adalah-obat-malas-terampuh-sedunia-2-dari-2-tulisan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 06:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini tulisan lama, tapi baru sempat kupublikasikan sekarang. Awalnya berupa satu tulisan, namun karena terlalu panjang maka kupecah jadi dua. Satu bagian lainnya, kuberi judul "Blog kenapa harus ngga serius? – ide, ide dan ide (1 dari 2 tulisan)" Ide telah didapat dan beberapa kali telah melalui proses hingga melahirkan pintalan; serpihan-serpihan &#8216;kain&#8217; yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Sebenarnya ini tulisan lama, tapi baru sempat kupublikasikan sekarang.
Awalnya berupa satu tulisan, namun karena terlalu panjang maka kupecah jadi dua.
Satu bagian lainnya, kuberi judul <strong>"<a href="http://donnyverdian.net/2011/06/02/blog-kenapa-harus-ngga-serius-ide-ide-dan-ide-1-dari-2-tulisan.html">Blog kenapa harus ngga serius? – ide, ide dan ide (1 dari 2 tulisan)</a></strong>"</em></pre>
<p><span class="drop_cap">I</span>de telah didapat dan beberapa kali telah melalui proses hingga melahirkan pintalan; serpihan-serpihan &#8216;kain&#8217; yang siap disatukan dalam bentuk satu tulisan jadi. Ini langkah-langkah selanjutnya.</p>
<h3>Drafting</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Satu-satunya obat penghilang rasa malas adalah JANGAN MALAS.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ide sudah didapat, sudah pula dituang dan tersimpan aman&#8230; tapi penyakit yang muncul berikutnya lagi-lagi sama, MALAS! Ya, malas melanjutkan karena jangan-jangan justru kalian sibuk mencari ide yang lain lagi dan lagi dan lagi? Kalau pekerjaannya sebagai pencari ide doang sih nggak masalah, tapi sebagai seorang blogger, ide kan harus diubah bentuk menjadi tulisan jadi? So, jangan malas? Satu-satunya obat penghilang rasa malas adalah JANGAN MALAS <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika malas sudah hilang, yang perlu dilakukan setelah ide tersimpan adalah menuangkannya ke dalam bentuk setengah jadi, draft. Untuk melakukan proses ini, dulu aku selalu menggunakan software penulis sederhana seperti <em>Notepad</em>. Hasil tulisan lalu kusimpan dan kuunggah ke internet entah itu melalui FTP, ataupun kukirim ke alamat emailku sendiri sebagai attachment.</p>
<p>Kenapa harus diunggah di internet? Sebenarnya tujuannya simple supaya aku bisa mengakses dimanapun lalu memperbaikinya dan terus-menerus demikian. Kalau tak ada internet? Tak masalah kalau kalian tak bisa mengunggahnya karena kalian bisa pakai USB Flashdisk untuk menyimpan draft itu.</p>
<p>Nah, akhir-akhir ini, aku mengandalkan <a href="http://docs.google.com/"><strong>Google Document</strong></a> untuk proses <em>drafting</em>. Google Document adalah aplikasi pengolahan dokumen gratis berbasis online. Keunggulan lain dari Google Document adalah sharing system yang baik dilengkapi dengan <em>macro </em>(format style) yang mirip sama dengan Microsoft Word.</p>
<p>Lho, draft kok dibagikan?<br />
Iya, karena selain menulis di blog ini, aku beberapa kali secara rutin juga membantu rekan-rekan di lingkup kerohanian Katolik dengan cara mengirimkan tulisanku ke buletin mereka.<br />
Nah, karena lingkup rohani sebenarnya bukan lingkupku, maka aku mempersilakan mereka untuk ikut &#8216;membatasi&#8217; keliaran tulisanku atau dengan kata lain, aku dan mereka bisa berkolaborasi untuk tulisan yang sama.</p>
<p>Lama proses drafting ini tergantung, tapi toh kita bisa membatasi. Aku membatasi diriku untuk paling lama 1 jam menulis draft.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Baca ulang</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;Posisikan dirimu bukan sebagai penulis tulisan itu tapi sebagai kritikus yang menjadi musuh paling beringas yang tak segan bilang Tulisan ini jelek sekali!&#8221;</p></blockquote>
<p>Proses drafting telah terlewati, yang berikutnya harus dilakukan adalah membaca ulang, edit dan ulang dan edit dan ulang dan edit kembali. Proses ini sebenarnya akan tergantikan jika kita punya editor, tapi siapa pula blogger gratisan kayak kita yang sampai punya editor? Apa perlunya menggaji editor sementara kalian baca tulisan ini juga gak bayar kan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Maka, jadilah editor bagi diri sendiri.  Caranya? Baca ulang dan ulang dan ulang karena niscaya dalam setiap perulangan itu kalian menemukan hal-hal yang perlu dipangkas atau bahkan perlu ditambahkan. Posisikan dirimu bukan sebagai penulis tulisan itu tapi sebagai kritikus yang menjadi musuh paling beringas yang tak segan bilang &#8220;Tulisan ini jelek sekali!&#8221; atau &#8220;Nggak usah dipublikasi dan berhentilah menulis, Donny! Tulisanmu hancur!&#8221;</p>
<p>Kenapa harus demikian, karena semakin kita kritis terhadap diri dan hasil karya kita, niscaya kita bisa lebih maju lagi. Semoga!</p>
<p>Oh ya, pernah ada satu cerita&#8230;. Aku mempersiapkan satu tulisan dan dalam beberapa kali proses baca ulang tampak ia , tulisan itu, semakin kuat. Namun malam sebelum kupublikasikan sebagai tulisan, dalam sebuah baca ulang secara perlahan aku melihat betapa tulisan itu sebenarnya tak terlalu baik dalam perspektif tertentu. Akhirnya tulisan itu kucoba rombak namun tetap tak bisa juga dan akhirnya kuhapus begitu saja.</p>
<p>Perkara baca ulang ini menjadi semakin pelik dan aku sarankan untuk kalian lakukan berkali-kali karena sekarang ini sudah ada begitu banyak undang-undang yang siap menjerat kita kalau tulisan kita dinilai merugikan orang lain. Jadi hati-hatilah!</p>
<p>Lama baca ulang adalah secepat apa kamu membaca dan semantap apa kamu mengatakan bahwa semua sudah OK dan siap dipublikasikan <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Rata-rata aku butuh 15 menit untuk membaca perlahan&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Publikasi</h3>
<blockquote class="left"><p>&#8220;Aku tak pernah menulis secara spontan kecuali untuk hal-hal yang bersifat sangat penting&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Nah, ketika semua proses sudah terlalui, hal berikutnya yang dilakukan adalah publikasikan tulisan!</p>
<p>Pindahkan draft jadi ke blog editor. Karena aku pakai WordPress, maka draft tulisan kupindah ke <em>WordPress</em> editor tentu saja. Sesudahnya aku melakukan proses make-up dengan mengedit bentuk tulisan, membubuhkan tanda baca dengan benar dan tanda huruf tebal, miring maupun menempatkan link ke site lain jika diperlukan.</p>
<p>Di tahap ini aku juga tak lupa menyertakan gambar yang kebanyakan kudapat dari memotret sendiri menggunakan kamera yang menempel di iPhone-ku. Aku juga mencari bagian tulisan yang kira-kira layak dijadikan quote untuk ditampilkan secara lebih menonjol ketimbang yang lainnya.</p>
<p>Pemilihan judul harusnya sudah ada di tahap sebelum Publikasi, namun entah kenapa proses ini adalah proses yang sulit bagiku sehingga memutuskan judul justru kuletakkan di bagian akhir dengan harapan mau-tak-mau aku harus secepatnya memberi judul. Alasan yang konyol ya? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika semua sudah siap dan di-review, aku tak buru-buru memencet tombol publikasi. Aku memilih untuk melakukan proses penjadwalan meski jeda waktu antara saat itu dengan saat penayangan sesuai jadwal hanya lima menit jaraknya toh tetap saja.</p>
<p>Alasannya? Sebenarnya ini bersumber dari kebiasaan. Aku tak pernah menulis secara spontan kecuali untuk hal-hal yang bersifat sangat penting. (Aku memiliki jadwal publikasi yaitu setiap Senin dan Kamis pukul 17.00 WIB).</p>
<p>Selain itu, bukannya tak pernah, sebuah tulisan kujadwalkan untuk tampil tapi mendadak aku perlu membatalkannya pada jeda waktu antara proses penjadwalan dan publikasi.<br />
Bagiku, lama waktu publikasi rata-rata 30 menit sudah termasuk mengatur setting, mengunggah foto dan menambah code sana-sini.</p>
<p>Nah, itulah tahapan demi tahapan yang hampir selalu kulakukan dalam mengelola blog dan menuliskan beberapa tulisan &#8216;pesanan&#8217; kawan-kawan lain. Masih berani bilang &#8220;rumit&#8221; atau &#8220;lama&#8221; ? Total jenderal dalam kasus tulisan ini aku hanya butuh waktu tak sampai dua jam. Untuk sebuah hobi &#8220;serius&#8221;, bukankah dua jam itu tak berarti apa-apa?</p>
<p><strong>(TAMAT)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/06/06/blog-kenapa-harus-ngga-serius-jangan-malas-adalah-obat-malas-terampuh-sedunia-2-dari-2-tulisan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog kenapa harus ngga serius? &#8211; ide, ide dan ide (1 dari 2 tulisan)</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/06/02/blog-kenapa-harus-ngga-serius-ide-ide-dan-ide-1-dari-2-tulisan.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/06/02/blog-kenapa-harus-ngga-serius-ide-ide-dan-ide-1-dari-2-tulisan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 06:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1542</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini tulisan lama, tapi baru sempat kupublikasikan sekarang. Awalnya berupa satu tulisan, namun karena terlalu panjang maka kupecah jadi dua. Satu bagian lainnya, kuberi judul "Blog kenapa harus ngga serius? - JANGAN MALAS adalah obat malas terampuh sedunia" akan kupublikasikan Senin, 6 Juni 2011 mendatang! Epping Station, pada sebuah jumat malam, menjelang pergantian hari. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><pre><em>Sebenarnya ini tulisan lama, tapi baru sempat kupublikasikan sekarang.
Awalnya berupa satu tulisan, namun karena terlalu panjang maka kupecah jadi dua.
Satu bagian lainnya, kuberi judul <a href="http://donnyverdian.net/2011/06/06/blog-kenapa-harus-ngga-serius-jangan-malas-adalah-obat-malas-terampuh-sedunia-2-dari-2-tulisan.html"><strong>"Blog kenapa harus ngga serius? - JANGAN MALAS adalah obat malas terampuh sedunia</strong>"</a>
akan kupublikasikan Senin, 6 Juni 2011 mendatang!</em></pre>
<p><strong>Epping Station, pada sebuah jumat malam, menjelang pergantian hari.</strong><br />
Aku duduk di sebuah bangku panjang sendirian. Sejauh mata memandang hanya ada tiga orang lainnya yang duduk saling berjauhan sementara tak banyak suara yang berkelindan kecuali sesekali pengumuman tentang kereta api selanjutnya yang akan lewat.</p>
<p>Mataku tiba-tiba tertuju pada iklan yang terletak tepat di depanku seperti yang tampak di bawah ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1543" class="wp-caption aligncenter" style="width: 600px">
	<a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blog_JADI.jpg"><img class="size-full wp-image-1543" title="blog_blog_JADI" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blog_JADI.jpg" alt="" width="600" height="367" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Iklan &quot;tanpa spasi&quot;</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku lantas &#8220;masuk&#8221; ke dalamnya. Pikiranku memainkan ide yang tertangkap lewat iklan itu.</p>
<p><em>Kenapa kata-kata dalam iklan itu ditulis nyaris semuanya tanpa spasi? Bukankah ketidakhadirannya menjadikan pesan tak mudah untuk dimengerti pembacanya? Sekuat itukah peran spasi untuk menciptakan pengertian yang lebih tentang makna kata-kata yang dipisahkan olehnya bagi kita?</em></p>
<p>Ide. Ide. Ide. Ia berenang-renang di situ membuat kesan. Kesan memintal opini, lalu opini terajut menjadi cerita. Tak sampai sepuluh menit sesudahnya, kurogoh piranti digitalku yang lainnya dari saku celana, kubuka aplikasi Notes dan jari-jemariku bermain di atas keyboard menuliskan apapun itu cerita, opini maupun kesan yang tertuang. Serabutan memang.</p>
<p>Sesampainya di rumah, sembari buang air besar, kubuka lagi note yang kubuat tadi, kuperbaiki sedikit demi sedikit tatanan bahasa dan gaya penyampaianku. Dua hari berganti tanpa kusentuh note itu, hingga pada senin minggu berikutnya, di sela-sela waktu istirahat siangku, kubuka aplikasi <strong>Notepad </strong>di komputer jinjingku untuk menyalin serabutan cerita, opini dan kesan yang tertuang di piranti digitalku itu tadi untuk kurangkai sebagai sebuah draft tulisan dan setelah melalui beberapa kali proses baca-ulang dan pemantapan, jadilah tulisan yang kuanggap jadi lalu kupublikasikan dengan judul, <a href="http://donnyverdian.net/2010/04/07/hidup-dan-spasi.html"><strong>&#8220;Hidup dan Spasi&#8221;</strong></a> dan bisa kalian baca, komentari dan sebarluaskan jika memang diperlukan.</p>
<p>Hampir semua tulisan yang ada di media ini selalu melalui proses seperti yang kutulis di atas.  Ada proses penemuan ide, pencatatan, penuangan dalam bentuk draft dilanjutkan dengan proses baca-ulang dan publikasi.  Wah, kalau begitu butuh waktu lama dong?.. Rumit dong? Ah nggak juga&#8230; baca penjelasanku berikut ini dan siapkan perhitungan berapa menit kubutuhkan untuk melakukan semuanya.</p>
<h3>Ide? Ditemu? Diproduksi? Didapat!</h3>
<p>Bagiku ide bukanlah sesuatu yang bisa diproduksi otak kita. Jadi kalau kalian memintaku memilih lebih suka mana antara istilah <em>&#8220;Aku punya ide!&#8221;</em> atau <em>&#8220;Aku mendapatkan ide!&#8221;</em> tentu yang terakhirlah yang kuambil.</p>
<blockquote class="left"><p>&#8220;&#8230;syarat untuk mendapatkan ide adalah dengan mencari referensi baik itu melalui membaca, melihat dan mendengarkan tentang apapun yang ada di sekeliling kita.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ide layaknya buah yang ranum dan tumbuh di pohon. Ada kalanya ia tertutupi dahan sehingga kita tak melihatnya. Ada kalanya ia tampak nyata tapi kita sudah terlalu kenyang dan tak bernafsu untuk memetiknya dan ada kalanya juga kita lapar dan buah ide tampak di depan mata tapi sayangnya ia tumbuh di pekarangan milik orang lain yang jelas tak boleh dipetik sembarangan. Segala kondisi &#8216;prasayarat&#8217; itulah yang lantas membuat kita harus jeli ketika kita memang ingin memetik ide.</p>
<p>Dalam implementasinya, bagiku syarat untuk mendapatkan ide adalah dengan mencari referensi baik itu melalui membaca, melihat dan mendengarkan tentang apapun yang ada di sekeliling kita. Tak selalu apa yang kita baca, lihat dan dengar selalu menghasilkan ide namun setidaknya dengan melakukan hal-hal itu kita telah berusaha untuk aktif mendapatkan ide.</p>
<p>Selain hal-hal yang kusebut di atas yang barangkali sudah sering kalian dengar dari orang-orang lain, satu hal yang ingin kubagikan sebagai sumber referensi adalah melamun.</p>
<p>Aku adalah orang yang selalu butuh waktu untuk melamun meski hanya beberapa saat dalam sehari. Di atas toilet, di dalam kereta, ketika berjalan kaki lewat jalur yang sudah biasa kulewati hingga sesaat setelah selesai menyantap makan saat istirahat siang, aku selalu mengisinya untuk melamun.</p>
<p>Bagiku, melamun itu seperti halnya memberi relaksasi kepada otak untuk tak memikirkan hal-hal berat dan membebaskannya bergerak kemana ia suka, dan biasanya, di saat-saat seperti itu, ide tertangkap, ia diolah dan jadilah cerita seperti yang terjadi saat aku memandang iklan di stasiun kereta api tadi.</p>
<p>Berapa lama proses menemu ide? Bisa sedetik, bisa sepuluh menit, pokoknya hitungannya adalah pada detik kamu menemukan ide itu. Dalam kasus tulisan yang kucontohkan di atas, ide kutemu dalam waktu tak lebih dari lima menit sesudah memandang papan iklan tadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Tuangkan!</h3>
<blockquote class="right"><p>&#8220;&#8230;setiap dapat ide, aku selalu menuangkannya ke dalam bentuk yang bisa disimpan untuk kemudian dikeluarkan.&#8221;</p></blockquote>
<p>Lalu ada orang berkomentar, <em>&#8220;Aku sebenernya dapat banyak sekali ide, tapi hilang!&#8221;</em> Ada juga pakar menulis berkata, <em>&#8220;Tuliskan dulu di dalam otak&#8230; nanti ketika ide itu memang benar-benar kuat, ia akan datang lagi kok!&#8221;</em></p>
<p>Tapi aku nggak mau kehilangan momentum. Banyak orang bilang aku cukup handal dalam perkara mengingat sesuatu, namun usia toh terus bertambah dan daya ingat pasti akan semakin menurun belum lagi banyak hal lain yang perlu diingat yang dalam skala prioritas kehidupan lebih penting ketimbang mengingat ide untuk mengupdate blog, kan?</p>
<p>Maka jadilah, setiap dapat ide, aku selalu menuangkannya ke dalam bentuk yang bisa disimpan untuk kemudian dikeluarkan. Untuk itu aku menggunakan handphone. Tak perlu handphone canggih selama itu ada keyboard yang memungkinkan kita untuk menulis dan ada software yang terinstall di dalamnya. Dulu, ketika handphone belum secanggih sekarang aku selalu menuliskan ide dalam Draft SMS! Itupun tak mengapa!</p>
<p>Kalau lagi malas ngetik? Ceritalah tentang idemu itu dan rekamlah dalam bentuk audio file. Beberapa kali aku melakukannya. Ketika itu aku sedang jalan kaki dari fitness center ke rumah tiba-tiba aku dapat ide untuk bahan tulisan renungan yang harus kupersiapkan untuk sebuah komunitas Katolik di Sydney. Karena nggak mungkin menulis sembari jalan kaki, aku lantas mengeluarkan handphone, membuka aplikasi Voice Recorder lalu merekam suaraku. Kayak orang gila dong? Ember!</p>
<p>Foto dan Video juga bisa diberlakukan sebagai pengingat ide. Lihat gambar di bawah ini&#8230; Ini adalah potongan-potongan ide yang kudapat lewat iklan dan belum kutuangkan dalam bentuk tulisan hingga sekarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1545" class="wp-caption aligncenter" style="width: 600px">
	<a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blog_JADI_3.jpg"><img class="size-full wp-image-1545" title="blog_blog_JADI_3" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blog_JADI_3.jpg" alt="" width="600" height="376" /></a>
	<p class="wp-caption-text">potongan ide</p>
</div>
<p>Alasannya? Masih malas! <em>&#8220;Lho, nggak takut ilang?!&#8221;</em> Nggak dong, kan sudah kusimpan lewat foto <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kalau lewat foto, lama penuangan ide menjadi &#8216;coretan&#8217; adalah sekerjap yaitu sesaat ketika obyek difoto.  Rata-rata aku membutuhkan waktu lima menit-an untuk menuliskan ide dalam &#8216;coretan&#8217; seperti yang tampak di bawah ini:</p>
<div id="attachment_1544" class="wp-caption aligncenter" style="width: 200px">
	<a href="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blog_JADI_2.jpg"><img class="size-full wp-image-1544" title="blog_blog_JADI_2" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/blog_blog_JADI_2.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>
	<p class="wp-caption-text">coret-coretan ide</p>
</div>
<p><em><strong>(bersambung)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/06/02/blog-kenapa-harus-ngga-serius-ide-ide-dan-ide-1-dari-2-tulisan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Kabel</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2011/03/31/mengelola-kabel.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2011/03/31/mengelola-kabel.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 06:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[kabel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[wire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=1395</guid>
		<description><![CDATA[Sehebat-hebatnya perkembangan teknologi informasi yang bisa kita nikmati dalam piranti-piranti (gadget) mutakhir, satu hal yang paling tak kusuka dari itu semua adalah ketergantungan mereka terhadap kabel. Ya, kabel yang biasa digunakan untuk menghubungkan antara gadget dengan sumber tegangan listrik maupun kabel yang digunakan untuk inter-koneksi antar-gadget, semuanya sama-sama menyebalkan. Kenapa? Kabel yang tak dikelola dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="post_image_link" href="http://donnyverdian.net/2011/03/31/mengelola-kabel.html" title="Permanent link to Mengelola Kabel"><img class="post_image alignleft remove_bottom_margin" src="http://donnyverdian.net/wp-content/uploads/kabel.jpg" width="230" height="230" alt="Post image for Mengelola Kabel" /></a>
</p><p><span class="drop_cap">S</span>ehebat-hebatnya perkembangan teknologi informasi yang bisa kita nikmati dalam piranti-piranti (gadget) mutakhir, satu hal yang paling tak kusuka dari itu semua adalah ketergantungan mereka terhadap kabel.<br />
Ya, kabel yang biasa digunakan untuk menghubungkan antara gadget dengan sumber tegangan listrik maupun kabel yang digunakan untuk inter-koneksi antar-gadget, semuanya sama-sama menyebalkan.</p>
<p>Kenapa? Kabel yang tak dikelola dengan baik, keberadaannya akan sangat menganggu. Kalian pasti akan berkomentar “Semrawut!” ketika melihat sebuah meja dengan komputer di atasnya tampak rapi tapi ketika melongok ke kolong meja tampaklah kabel yang tumpang tindih tak keruan. Tak hanya itu, bagi anak kecil, keberadaan kabel yang tidak diatur juga sangatlah berbahaya. Mereka bisa ‘kesrimpet’ jatuh, dan bisa pula kalau ternyata kabel itu terhubung dengan sumber tegangan, lalu ada kelupasan karet di sana-sini dan tersentuh kulit mereka&#8230; kesetrum, bisa celaka!</p>
<p>Yang terakhir, yang paling kerap menjadi sumber ‘sebal’ di pagi hari adalah ketika hendak mendengarkan musik sepanjang perjalanan pergi ke kantor dan mendapati kabel earphone tak teratur rapi dan butuh waktu tak sebentar untuk mengurai kekusutannya.</p>
<p>“Loh Don, tapi kan sekarang ada teknologi bluetooth?” Benar, tapi sepanjang penggunaannya belum optimal dan memasyarakat yang menyebabkan kabel masih tetap ada, maka selama itu pula bagiku kabel adalah sesuatu yang menyebalkan.</p>
<p>Tapi bukannya tak ada jalan keluar! Beberapa waktu lalu, aku berusaha untuk merapikan kabel-kabel yang mengular di sekitar meja kerjaku dan beberapa ada tips yang bisa kuberikan tentang bagaimana mengelola kabel itu.</p>
<h3>Kabel Pengikat</h3>
<p>Ini bukan ide baru. Gunakan kabel berkawat untuk mengikat kabel menjadi satu.Keunggulannya, selain kabel tampak rapi, harga kawat juga lumayan murah dan mudah dicari serta bisa diganti dengan tali ataupun karet asal kuat.</p>
<p>Kerugiannya, ketika ada tambahan kabel baru yang perlu kita masukkan ke dalam ikatannya, kita harus membuka satu per satu, mengatur lalu menutupnya lagi.<br />
Beberapa waktu lalu, ketika masih menggunakan Blackberry dan iPhone (sekarang aku memutuskan untuk tidak menggunakan BB dan cukup iPhone karena alasan kepraktisan) aku mengakali dua kabel charger dengan kabel pengikat. Jadi, kemanapun pergi aku selalu membawa sebuah gulungan yang &#8216;terikat&#8217; jadi satu. Jadi bahkan ketika keduanya, BB dan iPhone, butuh untuk di-charge, aku bisa mencharge kedua-duanya secara bersamaan dengan catatan tentu cukup USB-hole di gadget/komputermu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Papan Penggulung</h3>
<p>Sebenarnya bukan mutlak dan murni papan dan tak harus juga.Untuk keperluan menggulung kabel ear-phone yang ribet banget aku membeli papan-penggulung, semacam karet yang agak keras untuk menggulung kabel sehingga kita bisa mengatur seberapa panjang yang kita butuhkan lalu ketika tak membutuhkan lagi, kita bisa menggulung sepanjang kabel ke dalam papan itu. Kalian sebenarnya tak perlu beli, sesekali mencoba D-I-Y untuk hal-hal seperti ini juga baik dan irit!.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Jalur/Pipa Kabel</h3>
<p>Ini barangkali yang terbaik meski makan ongkos juga. Bukan melulu ongkos dalam arti uang tapi lebih dari itu, butuh perhitungan yang tepat serta tenaga yang besar karena untuk memasang jalur/pipa kita perlu melakukan perhitungan terkait dengan kontruksi tempat tinggal serta ketepatan instalasi. Yang paling baik tentu adalah menyertakan rencana pemasangan kabel ketika membangun/renovasi tempat tinggal sehingga begitu jadi, kita tak perlu melihat sliweran kabel di dinding maupun lantai karena semuanya sudah tertanam permanen.Lha kalau mau nambah gadget gimana? Entahlah&#8230; bongkar rumah? hehehehe..</p>
<p>Selain itu, gambar-gambar di bawah ini barangkali bisa jadi alternatif. Beberapa waktu lalu aku iseng Googling tentang bagaimana mengelola kabel, so silakan klik pada tiap gambar. Kalian tak perlu membeli tapi setidaknya dari situ ide untuk mengatur keberadaan kabel bisa muncul, kan?</p>
<p><a href="http://www.thinkgeek.com/computing/d500/"><img src="http://www.thinkgeek.com/images/products/frontsquare/d500_cordies.jpg" alt="" width="147" height="147" /></a><a href="http://www.thinkgeek.com/computing/bec4/"><img class="alignleft" src="http://www.thinkgeek.com/images/products/frontsquare/bec4_cabledrop_cable_clips.jpg" alt="" width="147" height="147" /></a><a href="http://www.thinkgeek.com/homeoffice/supplies/c78a/"><img class="alignleft" src="http://www.thinkgeek.com/images/products/frontsquare/c78a_cable_monkey_cable_organizer.jpg" alt="" width="147" height="147" /></a><a href="http://www.thinkgeek.com/homeoffice/supplies/d4ef/"><img class="alignleft" src="http://www.thinkgeek.com/images/products/frontsquare/d43f_twistist_cable_organizer.jpg" alt="" width="147" height="147" /></a></p>
<p>Nah, share pengalaman dong, bagaimana kalian mengelola kabel yang semrawut?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2011/03/31/mengelola-kabel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkomentarlah yang Baik</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/12/09/berkomentarlah-yang-baik.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/12/09/berkomentarlah-yang-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[commenting system]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran sistem pemberian komentar (commenting system) dalam blog itu menurutku bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, komentar adalah satu hal yang sangat dinantikan oleh blogger namun ketika komentar sudah mulai berdatangan, pertanyaan selanjutnya adalah komentar seperti apa yang sebenarnya diharapkan keberadaannya? Menulis tentang cara memberi komentar yang baik, sedikit banyak dari kalian barangkali berpikir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div style="text-align:center;"><a href="http://view.picapp.com/default.aspx?term=microphone&amp;iid=193832" target="_blank"><img style="border: 0px initial initial;" src="http://cdn.picapp.com/ftp/Images/0190/d6ac8849-1b57-4843-a569-5f1bc330ec6f.jpg?adImageId=8113961&amp;imageId=193832" border="0" alt="Microphone" width="223" height="276" /></a></div>
<p><script src="http://cdn.pis.picapp.com/IamProd/PicAppPIS/JavaScript/PisV4.js" type="text/javascript"></script></p>
<p>Kehadiran sistem pemberian komentar <em>(commenting system)</em> dalam blog itu menurutku bagai pisau bermata dua.<br />
Di satu sisi, komentar adalah satu hal yang sangat dinantikan oleh blogger namun ketika komentar sudah mulai berdatangan, pertanyaan selanjutnya adalah komentar seperti apa yang sebenarnya diharapkan keberadaannya?</p>
<p>Menulis tentang cara memberi komentar yang baik, sedikit banyak dari kalian barangkali berpikir bagaimana mungkin aku yang bertabiat &#8216;tak terlalu baik&#8217; dalam memberikan komentar ke blog orang lain menuliskan semua ini?<br />
Tapi tak mengapalah! Maklumiku! Karena bukankah penjahat kelas kakap pun berhak mempunyai bayangan ideal tentang dirinya seandainya suatu saat ia menjadi orang baik? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, berikut ini adalah pandanganku tentang bagaimana memberi komentar yang baik di blog.</p>
<p><strong>Bacalah!</strong><br />
Bacalah postingan terlebih dahulu sebelum memberikan komentar.<br />
Kalau bisa membaca secara mendetail bagus, tapi scanning pun tak masalah yang penting jangan cuma modal scroll ke bawah menuju kolom pemberian komentar lalu berkomentar yang kadang nyambung, kadang nggak nyambung!<br />
Jangan pula hanya sekadar membaca judul tulisan lalu mereka-reka isi konten dan srrtttt langsung menuju kolom komentar dan membubuhkan komentar seadanya di sana.</p>
<p><em>Tapi kan males, Kak kalau tulisannya panjang-panjang?<br />
Ya kalau malas jangan berkomentar!</em></p>
<p><strong>Hindari &#8216;Pemakaian&#8217; Pertamax</strong><br />
Hindari komentar &#8216;pertamax&#8217;, &#8216;keduax&#8217; ataupun &#8216;hetrix&#8217;.<br />
Bukannya kenapa-napa, tapi kalau tujuanmu adalah supaya link yang kamu tinggalkan diklik balik oleh orang lain, kupikir kamu salah menciptakan impresi. Kalau tujuanmu supaya kamu dikomentari balik oleh si pemilik blog, ya kalau orangnya lagi baik, kalau nggak? bisa-bisa dibalas dengan hal yang sama atau bahkan lebih buruk!<br />
Atau, oh kamu tak terlalu mempermasalahkan kalau dikomentari balik demikian? Ya, terserah!</p>
<p><strong>Komentar memperkaya konten</strong><br />
Berpikirlah bahwa posting yang akan kamu komentari bukanlah ayat-ayat dalam kitab suci yang sulit dibantah dan harus dituruti. Kembangkan sisi lain dari tema posting yang ada, jadilah komentator yang dapat memperkaya konten bukannya merusak konten. Itulah salah satu hakikat dikembangkannya pola web 2.0, pola open-shared terhadap apapun di internet termasuk konten.</p>
<p>Contohnya? Mudah!<br />
Andai kamu menemui postingan yang mengangkat tema tentang<strong> </strong>kondisi lalu lintas yang macet di ruas pantura dan karena kamu tinggal di salah satu daerah yang dilewati pantura, Pekalongan misalnya, maka kamu memberikan komentar tentang<strong> </strong>&#8220;jalan alternatif ketika pantura sedang dilanda kemacetan.&#8221;</p>
<p><strong>Berkomentar bukan posting</strong><br />
Yakinlah bahwa membuat blog itu sekarang sangat mudah. Banyak provider yang bilang bahwa &#8220;<em>it will take only in 3 minutes</em>&#8221; dan jadilah blog kamu. Maka, ketimbang kamu bikin komentar yang panjang-panjang, rada nggak nyambung dan membosankan, lebih baik kamu mbikin blog sendiri dan posting komentar super panjangmu itu di sana.</p>
<p><strong>Pahami karakter blog, pemilik blog dan postingannya</strong><br />
Ada orang yang tak suka blognya dikomentari yang neko-neko.<br />
Ada juga orang yang suka dan mempersilakan blognya dikomentari yang aneh-aneh. Tapi anehnya, ada orang yang sebenarnya ia suka untuk dikomentari aneh-aneh, tapi pada satu postingannya, ia berharap kamu untuk menulis komentar dengan baik dan benar. Ini sangat awam dan bahkan sebagian besar dari kita adalah demikian.<br />
Misalnya pada blog seorang pelawak. Seratus postingannya bernada guyon dan biasa ditimpali dengan komentar-komentar yang nggak kalah becandanya. Tapi suatu waktu ia menuliskan tentang suatu yang serius dan menyedihkan: istrinya menceraikannya. Maka, ya jangan lantas kamu berkomentar yang tetap guyon.. Pelawak juga manusia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/12/09/berkomentarlah-yang-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mengelola Password</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/11/18/tips-mengelola-password.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/11/18/tips-mengelola-password.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 17:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[password]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Menurutku, permasalahan yang muncul seputar penggunaan password umumnya hanya ada dua. Yang pertama adalah kita lupa password, dan yang kedua, password kita diketahui oleh orang lain. Maka berikut ini adalah beberapa tips untuk menghindari kedua masalah tersebut. Semua kususun berdasarkan pengalaman dan membaca dari sana-sini termasuk dari gmail blog. Gunakan password yang berbeda. Penggunaan password [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Menurutku, permasalahan yang muncul seputar penggunaan password umumnya hanya ada dua. Yang pertama adalah kita lupa password, dan yang kedua, password kita diketahui oleh orang lain.</p>
<p>Maka berikut ini adalah beberapa tips untuk menghindari kedua masalah tersebut.<br />
Semua kususun berdasarkan pengalaman dan membaca dari sana-sini termasuk dari <strong><a href="http://gmailblog.blogspot.com/2009/10/choosing-smart-password.html">gmail blog</a></strong>.</p>
<p><strong>Gunakan password yang berbeda. </strong><br />
Penggunaan password yang sama untuk sejumlah login account yang berbeda sangat berbahaya. Kecenderungan orang yang tahu salah satu password kalian akan mencoba memasukkannya pada login account yang lain sehingga jika password kalian sama, habislah kalian! Cara menghindarinya, buatlah password yang berbeda-beda untuk setiap login account yang berbeda pula.</p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><br />
</span></strong></p>
<p><strong>Perhatikan panjang-pendek password dan rangkailah dari peng gabungan angka, simbol dan karakter.</strong><br />
Pilihlah menggunakan password &#8216;t0n0&#8242; atau &#8216;BuDy&#8217; ketimbang &#8216;tono&#8217; atau &#8216;budy&#8217; atau kalau perlu, buatlah yang lebih rumit lagi. Kenapa? Semakin rumit password, semakin susah ditebak oleh pihak yang mencoba membobol password kamu. Lebih baik lagi jika kalian juga menggabungkan simbol ke dalam angka serta karakter sebagai password.<br />
Juga jangan lupa pilihlah password yang tidak terlalu panjang namun juga tak terlalu pendek. Password yang terlalu panjang akan memperbesar kesalahan ketik sedangkan password yang terlalu pendek, meski rumit, tetap lebih mudah ditebak. Konon, password yang ideal adalah yang memiliki panjang karakter 6 &#8211; 10 ketimbang 26 ataupun 5 karakter saja.</p>
<p><em>Rujukan: <span style="font-style: normal;">Ingin men-test seberapa kuat passwordmu? <strong><a href="http://www.microsoft.com/protect/fraud/passwords/checker.aspx">Coba uji di sini</a></strong> sebelum menggunakannya.</span></em></p>
<p><strong>Jangan gunakan personal data sebagai password.</strong><br />
Aku lahir di Klaten, Jawa Tengah dan konyolnya, sekitar 10 tahun silam aku pernah menggunakan kata &#8220;Klaten&#8221; sebagai password di salah satu email lamaku.<br />
Akibatnya, tak terlampau lama sesudah itu emailku pun dibobol maling. Oleh karena itu hindari penggunaan password dengan menggunakan data personalmu. Gunakanlah password tentang sesuatu yang antah-berantah, sehingga sukar ditebak oleh orang-orang terdekat sekalipun.</p>
<p><strong>Simpan password di tempat yang tak terduga, hindari ruang publik</strong><br />
Seberapa besar memori otak kita untuk mengingat password?<br />
Jangan ambil resiko, lebih baik kalian tuliskan password-password beserta username login accountmu ke dalam media tertentu ketimbang pasrah berserah pada otak yang ada sisi lemahnya juga. Akan tetapi menaruh password list di dekat monitor komputer kerja atau di salah satu notesmu di <strong><a href="http://www.facebook.com">Facebook</a></strong> adalah sebuah bunuh diri yang tak ksatria <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oleh karena itu berhati-hatilah!<br />
Pilihlah tempat-tempat yang tak terduga seperti misalnya di dalam subfolder komputer atau di salah satu emailmu. Meski tak dianjurkan, tapi kalau kalian merasa menyimpan password di balik celana dalam atau dalam BH adalah satu hal yang sangat membantu, kenapa tidak dilakukan? <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Secara periodik gantilah password.</strong><br />
Meski tak perlu sampai seminggu sekali tapi jangan pula memakai password hingga tahunan misalnya. Kenapa demikian? <em>Man</em>, di dunia ini tak ada yang tak berubah!</p>
<p>Bayangkan kalau kamu punya pacar baru, ketika masa manis-manisnya pacaran tiba, kamu dengan bangga menyerahkan password email dan facebok kepadanya. Tapi ketika kalian sudah berada di ambang perpecahan, atau misalnya tiba-tiba ia memutuskan hubunganmu dengannya, bisakah kau bayangkan akan segeram apakah dirimu melihat facebook accountmu diacak-acak mantan pacarmu? Atau, bisakah membayangkan kalau aksimu untuk PDKT ke cewek baru ditelikung dari belakang oleh mantanmu dengan cara mengirim email yang tidak-tidak menggunakan account emailmu ke orang yang sedang kamu &#8220;incar&#8221; itu?</p>
<p><strong>Hindari mengakses email atau social media site dari komputer umum.</strong><br />
Ini memang tips yang subyektif karena tak semua dari kita memiliki komputer pribadi. Tapi katakanlah kalian memang punya komputer pribadi, hindarilah untuk menggunakan komputer umum di warnet, laboratorium kampus hingga komputer kerja di kantor untuk mengakses email dan <em>social media site</em> lainnya.<br />
Kenapa? Karena semenjak itu adalah sarana umum, maka kamu tak akan pernah tahu seperti apa setting sekuriti yang terinstall di sana bukan?</p>
<p><strong>Jangan lupa untuk membersihkan cookies ketika &#8216;terpaksa&#8217; mengakses dari komputer umum</strong><br />
Hal yang terpenting yang harus kamu lakukan ketika terpaksa harus mengakses dari komputer umum adalah meminimalkan jejak dengan cara menghapusnya. Aku tak berani bilang menghapuskan semuanya, makanya aku menggunakan istilah &#8216;meminimalkan&#8217; karena aku percaya kemajuan teknologi &#8216;membobolkan&#8217; itu jauh lebih maju dan unexposed ketimbang teknologi &#8216;usaha untuk tidak kebobolan&#8217;.<em>Rujukan: <strong><a href="http://email.about.com/od/clearprivatebrowserdata/Clear_Private_Data_Empty_Caches_and_Remove_Cookies_in_Your_Browser.htm">Petunjuk penghapusan caches dan cookies</a></strong></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p><strong>Waspada  ajakan-ajakan yang dikirim melalui email</strong><br />
Pernahkah kamu mendapatkan undangan untuk bergabung dengan social media site tertentu atau satu gerakan non-profit yang tampaknya baik? Atau malah barangkali ada di antara kalian yang tiba-tiba mendapatkan email berjudul <em>&#8220;Selamat! Anda mendapatkan uang 4 juta poundsterling!&#8221;</em></p>
<p>Hati-hati!<br />
Selain uang dan nama baikmu dipertaruhkan, biasanya undangan-undangan seperti ini adalah pancingan untukmu &#8216;menyerahkan&#8217; username dan password login account yang biasa kamu gunakan. Mereka tak segan untuk menyaru sebagai pihak yang minta kamu untuk memasukkan email account dan password emailmu dengan dalih untuk memperlancar urusan.  Jadi, sekali lagi.. hati-hati&#8230;.<br />
Kalau kamu ingin mendaftarkan diri ke social network media, pilihlah yang sudah ngetop saja, atau katakanlah kamu ingin bergabung dengan undangan yang dikirimkan padamu, pelajari dulu situsnya jangan terburu-buru. Dan, berbicara soal hadiah uang yang mendadak datang, berpikirlah bahwa ini jaman sedang krisis, mana ada orang mau berbagi uang secara cuma-cuma lewat internet pula? Kalau mereka serius untuk memberi kita uang, mereka pasti akan menempuh jalur-jalur yang lebih formal untuk menghubungi kita.<br />
Percayalah!</p>
<p><strong>Keep update!</strong><br />
Seperti kubilang pada point ke-7, teknologi &#8216;membobol&#8217; itu kebut-kebutan dengan teknologi &#8216;usaha untuk tidak kebobolan&#8217;.<br />
Oleh karenanya, kamu perlu update semua info yang terkait dengan situs dimana kamu memiliki login accountnya.<br />
Kamu tak perlu harus update semua info yang berlalu lalang di ranah maya kok, cukup misalnya berlangganan beberapa blog resmi dari situs tempat kamu memiliki login account. Jadi, misalnya ada update tentang security atau tentang apapun itu, kamu akan lebih cepat tanggap.</p>
<p><strong>Hati-hati dengan Hint Question</strong><br />
Hint question adalah pertanyaan yang diajukan oleh provider login account kamu ketika kamu kehilangan password dan harus dijawab. Pertanyaan-pertanyaannya biasanya adalah sebagai berikut:</p>
<p><em>&#8220;Siapa nama ibumu sebelum menikah (your mom maiden name)?&#8221;<br />
&#8220;Dimana kota lahirmu?&#8221;<br />
&#8220;Sebutkan frequently flyer number-mu!&#8221;</em></p>
<p>Satu pesanku, jangan dungu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sesuai  jawaban yang sebenarnya seperti misalnya &#8220;<em>Dimana kota lahirmu?</em>&#8221; lantas kau jawab &#8220;<em>Jakarta</em>!&#8221;</p>
<p>Cobalah cari jawaban yang mengecoh sehingga tak mudah ditebak oleh mereka yang pura-pura meminta hint question dari provider untuk merampas passwordmu. Pilihlah (misalnya) &#8220;<em>Dimana kota lahirmu?</em>&#8221; dan jawabannya adalah &#8220;<em>Mbuh ra weruh!</em>&#8221;</p>
<p><strong>Handphone? Hati-hati!</strong><br />
Semakin hari, konvergensi teknologi juga semakin menggejala, salah satunya adalah verifikasi pengubahan password.<br />
Ada beberapa email provider dan social network yang mengirimkan kode tertentu sebagai pengganti hint question ke handphone atau optional email kalian.<br />
Mereka akan memintamu memasukkan kode yang terkirim itu ke sebuah URL yang sudah ditentukan untuk meyakinkan bahwa memang kamu yang meminta pengubahan password. Nah, kalau sudah begini, berhati-hatilah terutama dalam meminjamkan handphone ke orang lain. Bisa jadi orang lain itu lantas membuka sms atau emailmu dan mengingat kode lantas mengeksekusinya. Kalau demikian, kita pula yang kena!</p>
<p><strong>Jangan lupa selalu logout/sign out/keluar</strong><br />
Tak peduli di komputer umum atau pribadi, biasakan untuk menekan tombol logout/sign out/keluar. Tombol-tombol tersebut befungsi melepaskanmu dari area yang terproteksi password.</p>
<p>Kenapa harus?<br />
Bayangkan kalau kamu sedang bermain Facebook lalu tiba-tiba kamu harus pergi untuk sekadar membeli rokok dan kamu tidak logout dari Facebook. Dalam keadaan komputer yang terus menyala, pembantumu dengan iseng menggunakan komputer lalu mengganti password facebookmu dan melogoutnya. Sekembalinya dari membeli rokok, kamu pasti akan terkaget-kaget ketika akan login kembali dan passwordmu telah terganti.<br />
Suramlah hari depanmu!</p>
<p><strong>Hati-hati dengan Tawaran &#8220;Keep your account&#8221;, &#8220;Remember this password?&#8221; atau  &#8220;Auto Login&#8221;</strong><br />
Hati-hati dengan tawaran tersebut terutama kalau kamu biasa menggunakan komputer umum. Tawaran seperti ini biasanya diberikan oleh web browser dan atau website-website tertentu. Tujuannya pun sebenarnya juga baik supaya kita tak terlalu pusing dengan urusan menyimpan dan mengingat password.</p>
<p>Akan tetapi, efek buruknya sangatlah berbahaya.<br />
Anggaplah kamu punya account email di xxxmail.com lalu kamu set username dan password kamu untuk secara langsung logged in di sana. Lalu seorang temanmu meminjam komputermu untuk mengakses email yang ada di xxxmail.com juga, maka secara langsung temanmu tadi bisa mengakses emailmu karena secara otomatis sistem/web browser akan memasukkan username/passwordmu dan bukannya username/password temanmu itu tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/11/18/tips-mengelola-password.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nge-Tweet, Nge-Plurk, Nge-Facebook.. Nge-BLOG!</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/10/31/nge-tweet-nge-plurk-nge-facebook-nge-blog.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/10/31/nge-tweet-nge-plurk-nge-facebook-nge-blog.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan kawan Herman Saksono di blognya yang berjudul &#8220;Trend Sesaatnya Blog&#8221; membawaku pada sebuah permenungan tentang hakikat ngeblog itu sendiri. Tapi karena aku tak terlalu pintar merangkai kata, alih-alih mendapatkan satu pencerahan tentang makna blog, aku malah ngelantur membayangkan sebuah percakapan imajiner dengan sosok SR (Skala Richter), seorang pakar telematika yang ternama! SR: Nah, kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div style="text-align:center;"><a href="http://view.picapp.com/default.aspx?term=blog&amp;iid=306844" target="_blank"><img src="http://cdn.picapp.com/ftp/Images/0303/0000303554.jpg?adImageId=6993805&amp;imageId=306844" border="0" alt="Metal type spelling blog" width="500" height="332" /></a></div>
<p><script src="http://cdn.pis.picapp.com/IamProd/PicAppPIS/JavaScript/PisV4.js" type="text/javascript"></script>Tulisan kawan <strong><a href="http://www.hermansaksono.com">Herman Saksono</a></strong> di blognya yang berjudul <strong><a href="http://hermansaksono.com/2009/10/tren-sesaatnya-blog.html">&#8220;Trend Sesaatnya Blog&#8221;</a></strong> membawaku pada sebuah permenungan tentang hakikat ngeblog itu sendiri. Tapi karena aku tak terlalu pintar merangkai kata, alih-alih mendapatkan satu pencerahan tentang makna blog, aku malah ngelantur membayangkan sebuah percakapan imajiner dengan sosok <strong>SR </strong><strong>(Skala Richter),</strong> seorang pakar telematika yang ternama!</p>
<p><strong>SR: </strong>Nah, kamu lihat tho sekarang, Mas DV! Kenyataannya blog memang benar-benar trend sesaat, seperti yang saya bilang dulu!<br />
<strong> DV:</strong> Oooo.. iya ya? Kok bisa!?<br />
<strong> SR:</strong> Lha itu mbok dilihat! Narablog-narablog yang katanya dulu kesohor sekarang sudah mulai hilang semangat ngeblognya! Mulai <em>mblirit </em>(surut &#8211; <strong>jw</strong>), Mas! Hampir habis!</p>
<p><strong>DV:</strong> Oh, kok bisa? Mereka mungkin memang <em>mblirit </em>bolehnya ngeblog di blog mereka, Pak.. Tapi mereka tetap &#8216;ngeblog&#8217; di <strong><a href="http://www.plurk.com">Plurk</a></strong>, <strong><a href="http://www.facebook.com">Facebook </a></strong>dan <strong><a href="http://www.twitter.com">Twitter </a></strong>tho, Pak SR?<br />
<strong> SR:</strong> Lha itu beda! Ndak bisa disamakan! Ngeblog ya ngeblog beda dengan plurk, twitter maupun facebook, Mas!</p>
<p><strong>DV:</strong> Hmmm.. lha tapi kan sama-sama nulisnya tho? Apa itu beda juga? Semangatnya kan sama!?<br />
<strong> SR:</strong> <em>Wealaahhh</em>! Mas DV ini gimana <em>tho</em>!? Nih, kukasi analogi yang enteng&#8230; <em>Sampeyan </em>ingat tho berapa jumlah koleksi <em>mersi </em>(mercedes benz <strong>-red</strong>) lama saya di Jogja?</p>
<p><strong>DV:</strong> Iiiii&#8230; ingat.. sekitar delapa&#8230;<br />
<strong> SR:</strong> Hush! Jangan disebutin di sini! yang penting ingat tho?<br />
<strong> DV: </strong>Ya! Ya&#8230; aku ingat, Pak!</p>
<p><strong>SR: </strong>Nah&#8230; dari sekian banyak mersi itu, meski sama-sama mersinya ya tetap saja beda satu sama lain tho, Mas!</p>
<p><strong>DV:</strong> Beda apanya tho, Pak?<br />
<strong> SR:</strong> Lho! Ya beda! Nomer serinya saja beda! Belum lagi rasa nyetirnya setiap mersi pun juga beda, Mas!<br />
Begitu juga dengan blog, twitter, plurk dan facebook! Tetap saja beda meski katanya semangatnya sama!</p>
<p><strong>DV:</strong> Jadi gimana? Berarti anggapan bapak dulu benar? Blog hanya trend sesaat?<br />
<strong> SR:</strong> Ya mau gimana lagi?!? Buktinya kan demikian tho? RSS Reader mulai sepi! <em>Blogosphere </em>mulai sepi!</p>
<p><strong>DV:</strong> Tapi<strong><a href="http://www.pestablogger.com/"> Pesta Blogger</a></strong> kemarin rame lho, Pak! Njenengan dateng nggak?<br />
<strong> SR: </strong>Halah, itu kan beda! Pestanya rame, tapi apa pesertanya para blogger semuanya? Hayo&#8230; njenengan kan juga ngga dateng tho, Mas DV?</p>
<p><strong>DV: </strong>Hehehe.. iya juga&#8230; So, <em>back to topic</em>, Pak&#8230; Lantas gimana supaya anggapan Bapak tetap salah?<br />
<strong> SR:</strong> Welah&#8230;. ya nggak ada jalan lain ya tetap mesti ngeblog di blognya masing-masing! Teruslah ngeblog kalau berani menerima tantangan saya! Kalau nggak.. ya itu membuktikan bahwa omongan saya betul tho!</p>
<p>Dan SR pun tertawa terbahak-bahak!<br />
Kumisnya yang segaris di atas bibirnya itupun naik turun, sesekali tampak mengkilap basah terkena air liurnya sendiri&#8230;</p>
<p>Selamat memperingati hari blog nasional yang ketiga yang jatuh pada <strong><a href="http://ndorokakung.com/2009/10/28/tumpeng-pecas-ndahe/">27 Oktober 2009</a></strong> yang lalu!<br />
Apapun platformnya, ngeblog adalah spiritnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/10/31/nge-tweet-nge-plurk-nge-facebook-nge-blog.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resep Ngeblog Konsisten</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/09/29/resep-ngeblog-konsisten.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/09/29/resep-ngeblog-konsisten.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 13:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Aku bukan guru meski kemarin ada yang tega bertanya padaku, &#8220;Mas, Anda kok ngeblognya bisa awet dan stabil tho? Minta tolong diajari tips dan triknya dong!&#8221; Aku juga tak lantas menganggap si penanya itu sebagai muridku, karena aku tak digaji untuk mengajar kepadanya dan sekali lagi, aku bukanlah guru. Jadi, ini hanyalah rekaman tentang apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>
Aku bukan guru meski kemarin ada yang tega bertanya padaku, <i>&#8220;Mas, Anda kok ngeblognya bisa awet dan stabil tho? Minta tolong diajari tips dan triknya dong!&#8221;</i> Aku juga tak lantas menganggap si penanya itu sebagai muridku, karena aku tak digaji untuk mengajar kepadanya dan sekali lagi, aku bukanlah guru.</p>
<p>
Jadi, ini hanyalah rekaman tentang apa yang kupercaya bisa membuat daya blog kita meningkat dan konsisten <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Semoga kalian bisa memakainya, kalaupun tidak, catatan ini akan kupergunakan sebagai sebuah usahaku melawan lupa, itu saja.</p>
<p>
<b>Pahami Mood</b><br />
Penulis-penulis tangguh biasanya bilang <i>&#8220;Persetan dengan mood, nulis adalah nulis!&#8221;</i><br />
Tapi karena aku belum setangguh mereka, maka bagiku, <i>&#8220;Mood bisa menjadi setan! Hati-hati dengannya!&#8221;</i></p>
<p>Ketika mood bagus, aku bisa menulis 5 &#8211; 10 draft tulisan per hari tapi ketika mood jelek, lebih dari 10 hari&#8230; dan tak satupun draft terselesaikan.</p>
<p>Oleh karenanya, pahamilah mood. Ketika mood sedang bagus, jangan berhenti untuk menulis; tulislah sebanyak-banyaknya hingga mood buruk menghampiri.<br />
Ketika mood buruk benar-benar datang, jangan ragu untuk berhenti menulis sementara, lakukan kegiatan-kegiatan lain untuk mengembalikan mood.</p>
<p>Realistis saja, berjuang mengatasi mood memang tak mudah!<br /> <br />
Jangan gegabah!</p>
<p>
<b>Atur Jadwal Publikasi</b><br />
Bagiku, jadwal mempublikasikan tulisan sebaiknya tidak disamakan dan disebandingkan dengan jumlah tulisan kita.<br />
Artinya, bukan berarti kalau kita punya 10 tulisan dalam hari ini maka semuanya harus terpublikasi pada hari yang sama karena kalau sebaliknya yang terjadi, 10 hari tanpa ada satupun tulisan, maka akan sangat buruk kalau selama itu pula blog kita tak terupdate, bukan?</p>
<p>Mengenai yang satu ini, aku memilih mengatur jadwal seringan mungkin, tidak boleh terlalu kendor tapi juga tidak membebani karena sekali lagi, blog adalah hobi bukan pekerjaan utama.<br />
Blog yang kalian baca ini mempunyai jadwal publikasi untuk setidaknya setiap Rabu dan Sabtu. Jadi, sebanyak apapun tabungan tulisanku, semua akan terpublikasi dalam dua kali seminggu, semoga tidak lebih dan tidak boleh kurang.</p>
<p>Pengaturan jadwal akan membuat tabungan tulisan kita awet dan ketika bad mood tiba, kita bisa tetap tenang dengan tabungan tulisan yang masih ada sejak good mood sebelumnya <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>
<b>Menulis Bagus vs Menulis Tak Bagus</b><br />
Tak ada yang tak ingin menulis bagus, tapi bagus atau tidak menurutku bukanlah hal yang harus kita kejar secara membabi buta.<br />
Semua butuh proses bahkan orang belajar naik sepeda pun butuh jatuh-jatuh lebih dulu sebelum akhirnya bisa bersepeda.<br />
Jadi, jangan sampai alasan &#8220;Takut menulis nggak bisa bagus&#8221; menjadi kendala untuk blogmu tidak ter-update dengan baik <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>
<b>Kulik Ide Baru</b><br />
Jangan bilang ngga ada ide kalau kamu masih bisa mikir sesimple aku, begini:</p>
<ul>
<li>Kenapa semut hitam warnanya?</li>
<li>Kenapa kalau pagi kita selalu ingin buang air besar?</li>
<li>Kenapa rambut tumbuh di kepala dan bukan di alas kaki?</li>
</ul>
<p>Siapa bilang ide sesimple itu tidak bisa dijadikan ide untuk menulis di blog?<br />
Bahas dalam pola pikirmu sendiri, tuliskan dalam dua atau tiga paragraf dan tampilkan&#8230; jadilah postingan! Thats it!</p>
<p>
<b>Manfaatkan Alat</b><br />
Menulis membutuhkan alat!<br />
Meski itu adalah otak, hakikatnya tetaplah alat! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />
Seperti kata <a href="http://www.webersis.com">Pak Ersis</a>, simpan tulisan, tulis dia di dalam otak lalu jabarkan dalam media secepat mungkin.<br />
Kalau kalian punya Blackberry atau handphone lainnya, bagus! Tuliskan tulisan dalam aplikasi menulis yang ada di dalamnya.<br />
Kalau kalian punya komputer ataupun notebook, <i>even better!</i> Tuliskan tulisan dalam aplikasi-aplikasi word proccessor atau kalau terkoneksi internet, simpan saja di space penyedia jasa penyimpan data online seperti <a href="http://www.google.com/docs">GoogleDocs</a>, misalnya.</p>
<p>
<b>Konsentrasi pada satu blog.</b><br />
Ini bukan berniat membatasi, karena pada kenyataannya sekarang banyak blogger yang mengelola blog lebih dari satu dan itu bagus!<br />
Tapi seberapa besar energi yang tersisa untuk melakukan semuanya? Itu tergantung&#8230;<br />
Saranku, berkonsentrasi pada satu blog lebih bagus ketimbang memelihara 2 atau 3 blog kalau tak terlalu penting dan malah terbengkalai semuanya.</p>
<p>
<b>Seimbangkan waktu untuk blog dengan social media network lainnya.</b><br />
Godaan social media network seperti Facebook, Twitter, MySpace dan lain sebagainya memang melenakan.<br />
Mereka menawarkan hal yang tak mudah kita raih dengan blog kita sendiri yaitu broadcasting yang luas dan cepat dan sifatnya yang komunal. Ingin ngetop di Facebook dan Twitter itu jauh lebih mudah ketimbang menuliskan sensasi di blog, bukan?</p>
<p>Jadi bagaimana?<br />
Ya, sebenarnya terserah&#8230; Ada teman yang berujar, <i>&#8220;Aduh jadi males ngeblog ah.. enakan FB&#8221;</i> ya monggo, tapi bagiku blog adalah tetap <i>&#8220;media utama&#8221;</i> untuk eksis, sedangkan Facebook, Twitter dan lainnya adalah &#8220;media lain-lain&#8221; yang harusnya justru bisa menjadi corong dan penunjang bagi eksistensi blog kita, bukan sebaliknya.</p>
<p>
<b>Membacalah</b><br />
Ya, membacalah dan niscaya sense menulis kamu akan bangkit. Ini adalah tips yang banyak dibilang senior-seniorku dalam menulis.<br />
Awalnya aku tak percaya, tapi setelah melakukannya, hal ini terbukti, dengan membaca kita bisa menulis dan bukan sebaliknya. <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/09/29/resep-ngeblog-konsisten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

