<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; twitter</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/twitter/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tentang blog yang mulai sepi komentar</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/06/02/tentang-blog-yang-mulai-sepi-komentar.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/06/02/tentang-blog-yang-mulai-sepi-komentar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 16:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[Blog bagaimanapun kuat dan fenomenalnya, ia tetap sebuahlah entitas yang mengalami pasang surut dan tetap berada dalam garis daur hidup yang mengenal istilah lahir, berproses lalu mati sebagai takdirnya. Oleh karenanya, ketika kita mengamati mulai ada beberapa blog yang sudah tak terlalu diurus oleh pemiliknya, atau ketika tiba-tiba ada blogger yang memutuskan untuk &#8216;hiatus&#8216; menutup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Blog bagaimanapun kuat dan fenomenalnya, ia tetap sebuahlah entitas yang mengalami pasang surut dan tetap berada dalam garis daur hidup yang mengenal istilah lahir, berproses lalu mati sebagai takdirnya. Oleh karenanya, ketika kita mengamati mulai ada beberapa blog yang sudah tak terlalu diurus oleh pemiliknya, atau ketika tiba-tiba ada blogger yang memutuskan untuk &#8216;<em>hiatus</em>&#8216; menutup blognya, itu adalah hal yang perlu kita mahfumkan sebagaimana kita memaklumkan ketika mendapati kabar tentang orang meninggal. Demikian pula ketika ada blog baru yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan, ya, itupun sesuatu yang normal selayaknya kita mendengar kabar tentang bayi lucu yang baru dilahirkan.</p>
<p>Kematian (dan kelahiran) blog-blog itu lantas hendak kukaitkan dengan apa yang menjadi kekhawatiran <strong>Mister Entah</strong>, seorang blogger kugiran yang datang kepadaku beberapa waktu lalu dan ngudar-rasa mengungkapkan bahwa jumlah komentar per post di blognya menurun drastis sebulan ini.<br />
<em> &#8220;Lho, tapi apa pengaruhnya antara pasang surut dunia perbloggeran dengan sedikitnya komentar di blogku, Don?&#8221;</em> tanyanya pasrah.</p>
<p>Begini.<br />
Menurutku, apapun istilahnya, kita harus sama-sama jujur terlebih dahulu untuk menganggap bahwa tak semua komentar yang kita terima itu datang dengan ketulusan dari komentatornya. Komentar, sejatinya hadir untuk memperkaya konten atau setidaknya sebagai sarana pengapresiasian terhadap konten yang dihadirkan si penulis, dalam hal ini blogger.</p>
<p>Ada beberapa komentar, tak semua, yang datang karena pemberi komentarnya mengharapkan kunjungan serta komentar balik dari kita ke blog serta tulisan-tulisannya. Ketika harapan itu terpenuhi, maka yang ada kemudian adalah hubungan &#8216;timbal-balik&#8217; yang seimbang. Setiap ada tulisan baru di blog milik A, maka si B akan segera berkomentar di sana, sementara ketika ada tulisan baru di blog milik B, maka si A buru-buru &#8216;meninggalkan jejak&#8217; pula di sana.</p>
<p>Haramkah itu? Tentu tidak selama kedua belah pihak sama-sama menikmatinya, bukan?<br />
Akan tetapi semuanya menjadi &#8216;tidak nikmat&#8217; ketika misalnya si B karena bosan, memutuskan untuk tidak nge-blog lagi. Dalam kondisi demikian, akankah tetap tercipta hubungan bahwa si B meski tak ngeblog lagi namun ia tetap memberi komentar ke setiap tulisan A? Bukannya berpikir negatif, tapi kalau memang demikian adanya, si B adalah seorang yang berhati mulia atau tulisan-tulisan di blog A sangatlah kuat dan menarik.</p>
<p><em>&#8220;Itulah&#8230; itulah simpul yang kuanggap menghubungkan antara fenomena &#8216;kematian blog&#8217; dengan menurunnya jumlah komentar pada blogmu!&#8221;</em> jawabku pada si Mister Entah yang termangu kehilangan daya hanya gara-gara kehilangan komentar begitu banyak di tulisan-tulisannya.</p>
<p><em>&#8220;Lantas selanjutnya?&#8221;</em> tanyanya.<br />
<em> &#8220;Carilah teman-teman baru!&#8221;</em> jawabku.</p>
<p>Ingat,  beberapa blog bahkan yang kesohor sekalipun boleh mati karena ditinggal pemiliknya, tapi percayalah pada takdir bahwa sepuluh blog mati, berpuluh-puluh lainnya tumbuh menggantikannya. &#8216;Tangkaplah&#8217; mereka menjadi kawan, bukan lawan! Jangan berpikir <em>&#8220;Ah, mereka anak baru!&#8221; </em>tapi justru berpikirlah <em>&#8220;Ah, ada anak baru.. sepertinya menarik untuk dijadikan teman!&#8221;</em></p>
<p>Lantas bagaimana caranya berteman?<br />
Jangan munafik, lemparkanlah komentar untuk mengapresiasi tulisannya dan tunggulah apa yang terjadi selanjutnya, apakah ia akan membalas komentarmu atau tidak.</p>
<p>Haram? Sekali lagi, tidak&#8230;<br />
Naif? Kalau hanya berhenti di sini barangkali iya&#8230; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oleh karenanya, teruslah berlanjut!<br />
Kembangkan sayapmu dengan menggunaan jejaring sosial yang sedang marak digunakan.<br />
Sampaikan lewat <strong>Twitter </strong>dan <strong>Facebook </strong>tentang tulisan-tulisan terbarumu sehingga kawan-kawan yang ada di jaringanmu akan tahu dan sudi mampir ke blogmu. Eh, jangan lupa juga bahwa ada banyak &#8216;mantan blogger&#8217; yang surut menulis karena aktif di dua jejaring sosial itu dengan alasan spontanitas dan &#8216;kemudahan&#8217;. Siapa tahu &#8216;kehadiranmu&#8217; di sana menjadi pelita bagi mereka untuk kembali ke &#8216;<em>khittah</em>&#8216;, nge-blog meski jangan berlaku sebaliknya, kamu yang keblinger dengan nikmatnya komunikasi instant yang ditawarkan dan lupa kepada blogmu sendiri!</p>
<p><em>&#8220;Sudah, itu saja?&#8221;</em> tanya Mister Entah tak sabar.<br />
<em> &#8220;Oh belum&#8230; yang terpenting dari semua yang paling penting adalah menulislah secara konsisten dan selalu berusaha menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.&#8221;</em><br />
<em> &#8220;Ah, Klise!&#8221;</em> tukas Mister Entah skeptis.</p>
<p>Memang!<br />
Tapi percayalah konsistensi akan menampakkan dirimu di belantara blog yang pasang-surut. Semakin kamu konsisten, harusnya semakin lancar pula cara menulismu. Tinggal pilih topik yang menarik tapi tak bombastis, analisa dan ungkap dengan jelas dan menyenangkan menggunakan bahasa yang mudah dipahami maka jadilah tulisan yang menarik.</p>
<p>Tulisan yang menarik, harusnya, menarik pula minat baca banyak orang sehingga kalaupun tetap sepi komentar, berpikirlah positif! Berpikirlah bahwa barangkali tulisanmu sudah terlalu baik sehingga mereka tak perlu lagi berkomentar. Atau berpikirlah sebaliknya, barangkali kamu harus terus belajar untuk menulis dan menulis sehingga perbanyaklah praktek menulis! Hanya itulah cara untukmu meningkatkan konsistensi dan kualitas-kualitas tulisanmu.</p>
<p><em>&#8220;Begitu! Puas?&#8221;</em> tanyaku.<br />
Mr Entah tampak manggut-manggut. Bola matanya mulai bermain-main riang, dan meski masih dikulum, kuperhatikan senyum tampak mulai membersit di bibir kusamnya.</p>
<p><em>&#8220;Nah, sekarang kamu sudah lega kan&#8230; coba kutanya balik padamu, Mr Entah, sedari tadi kamu mengeluhkan soal komentar di blogmu&#8230; Sebenarnya, seberapa penting sih komentar itu bagimu?&#8221;</em></p>
<p>Senyum itu mendadak pudar. Bola matanya kembali beku, Mr Entah mengernyitkan dahi pertanda otaknya sedang mengunyah pelan-pelan pertanyaanku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/06/02/tentang-blog-yang-mulai-sepi-komentar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Livetweeting? Pentingkah? Mudahkah?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/01/06/livetweeting-pentingkah-mudahkah.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/01/06/livetweeting-pentingkah-mudahkah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 17:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[green day]]></category>
		<category><![CDATA[livetweeting]]></category>
		<category><![CDATA[tweet]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Semula aku ingin menceritakan tentang bagaimana serunya konser Green Day yang kutonton pada 11 Desember 2009 yang lalu, akan tetapi kupikir percuma karena kalian tak kan bisa menemukan sesuatu yang baru dari ceritaku selain dahsyat, dahsyat dan dahsyat  Oleh karenanya, aku berpikir untuk menampilkan &#8216;sisi lain&#8217; dari konser yang kutonton dengan melego tiket seharga 102 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Semula aku ingin menceritakan tentang bagaimana serunya konser <strong><a href="http://www.greenday.com/">Green Day</a></strong> yang kutonton pada 11 Desember 2009 yang lalu, akan tetapi kupikir percuma karena kalian tak kan bisa menemukan sesuatu yang baru dari ceritaku selain dahsyat, dahsyat dan dahsyat <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Oleh karenanya, aku berpikir untuk menampilkan &#8216;sisi lain&#8217; dari konser yang kutonton dengan melego tiket seharga 102 AUD tersebut.</p>
<p>Adalah <em>livetweeting</em>.<br />
Hah? Livetweeting? Makanan apa pula itu?<br />
Livetweeting menurutku adalah istilah terkait dengan peliputan sebuah acara/kejadian/keadaan dengan cara mengirimkan <em>tweet </em>(terjemahan Indonesianya sih kicauan, tapi kok kurang pas ya :p) ke akun website <strong><a href="http://www.twitter.com">twitter.com</a></strong> secara periodik dan real time.</p>
<p>Lalu kaitannya dengan konser Green Day kemarin?<br />
Ada! Sebelum, selama dan sesudah konser Green Day, aku melakukan pelaporan dengan menggunakan metode livetweeting.</p>
<p><strong>MENGAPA TWITTER?</strong><br />
Ya, mengapa Twitter dan bukannya <strong><a href="http://www.facebook.com">Facebook </a></strong>atau langsung di blog ini?<br />
Jawaban sederhananya adalah karena Twitter lebih tersegmen untuk penyampaian pesan (tweets) ketimbang mencari teman atau bermain game seperti di Facebook sehingga karakter follower (pengikut akun) di twitter lebih terkonsentrasi pada tweet yang terkirim, bukan pada update foto, berapa jumlah kawan, game apa yang sedang nge-trend dan sebagainya.</p>
<p>Sementara blog tidaklah terlalu tepat untuk mengirimkan pesan secara langsung lebih karena kebanyakan blog memiliki sifat lebih &#8216;<em>soliloquy</em>&#8216; alias penyendiri (meminjam istilahnya <strong><a href="http://www.blogombal.org">Paman Tyo</a></strong> di salah satu tulisannya di <strong><a href="http://epaper.korantempo.com/">Koran Tempo</a></strong>) meski mungkin ia memiliki komentator tetap, komunitas serta RSS yang siap terupdate secara real time pula dan diikuti banyak orang.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 495px">
	<img class=" " src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S0Kw13THWwI/AAAAAAAAASo/oa5dGp3xHWU/livetweeting01.jpg" alt="" width="495" height="432" />
	<p class="wp-caption-text">Kaitan livetweeting, Twitter dan kanal-kanal social media lainnya</p>
</div>
<p>Selain komparasi antara Twitter, Facebook serta blog di atas, satu keunggulan Twitter lainnya adalah konektivitasnya yang tinggi dengan kanal-kanal social media seperti Facebook, <strong><a href="http://myspace.com">Myspace</a></strong>, <strong><a href="http://linkedin.com">LinkedIn </a></strong>dan blog itu sendiri. Maksudku, dengan menginstall plugin atau memenuhi setting tertentu, kita bisa me-relay tweet kita ke kanal-kanal tersebut di atas secara real time.</p>
<p><strong>APA YANG DIBUTUHKAN?</strong><br />
Jelas kamu butuh akun twitter sehingga kamu diperbolehkan untuk berkicau di sana.<br />
Belum punya? Tinggal bikin <strong><a href="https://twitter.com/signup">di sini</a></strong>, gratis, mudah lagi cepat.</p>
<p>Selain akun, kamu juga butuh gadget/piranti yang terinstalasi aplikasi twitter client serta terkoneksi internet.<br />
Gadget yang kumaksud di sini bisa handphone, blackberry, netbook, notebook.. atau kalau kamu memang mungkin membawa desktop computer, itupun juga bisa <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aplikasi twitter client yang kumaksud adalah aplikasi yang terinstall di gadget dan memiliki kemampuan untuk setidaknya mengirimkan tweets ke akun twitter kita (kebanyakan aplikasi ini memiliki kemampuan ganda, mengirim serta menerima tweets yang ada di timeline kita). Tak memiliki aplikasi twitter client tak mengapa, kamu juga bisa mengirim tweets via <strong><a href="http://www.twitter.com">website langsung</a></strong>.</p>
<p>Jika kamu mobile; gadgetmu tidak tercolok ke sumber listrik AC dan satu-satunya sumber energi adalah batere, sebelum melakukan livetweeting pastikan untuk memiliki sisa daya batere yang lebih dari cukup untuk melakukan livetweeting.</p>
<p><strong>ADAKAH KENDALANYA?</strong><br />
Ada! Banyak malah!<br />
Berdasarkan pengalaman melakukan livetweeting kemarin, kendala terberat adalah panjang teks yang terbatas.<br />
Seperti yang kita tahu, Twitter hingga saat ini hanya memperbolehkan penggunaan 140 karakter untuk sekali pengiriman tweets. Dengan kata lain, panjangnya bahkan 20 karakter lebih pendek ketimbang ukuran standar sebuah SMS.</p>
<p>Koneksi internet juga menjadi sesuatu yang bisa jadi menjengkelkan.<br />
Konser Green Day kemarin diadakan di ruang tertutup, berdinding beton dan &#8216;miskin&#8217; koneksi internet yang bagus. Padahal, untuk melakukan live tweeting, koneksi internet yang stabil (tak perlu cepat) adalah mutlak diperlukan.</p>
<p>Batere juga merupakan satu hal yang perlu diperhatikan.<br />
Pada saat liputan, aku menggunakan piranti <strong>Blackberry Bold 9000</strong> dengan batere standard dan.. adalah menjadi rahasia umum bahwa batere standard BB Bold 9000 itu tak terlalu tahan lama. Hal itu ditambah lagi dengan koneksi internet yang tak terlalu bagus sehingga gadget berusaha semaksimal mungkin untuk selalu mencari (searching) sinyal yang bagus dan hal ini membutuhkan daya batere yang lebih banyak ketimbang biasanya. Aplikasi twitter client yang dipergunakan (aku menggunakan <strong>UberTwitter</strong>) juga turut mempengaruhi daya tahan batere. Terlebih karena kebanyakan twitter client menuntut aplikasi untuk me-refresh latest updates di timeline kita; hal ini berarti ada koneksi antara gadget dengan server yang berarti pula penggunaan daya batere yang lebih pula.</p>
<p><strong>LALU, BAGAIMANA BAIKNYA?</strong><br />
Dalam ber-livetweeting, berdasarkan pengalamanku kemarin, hal yang terpenting adalah memaksimalkan berita (reportase) dalam minimnya karakter serta keterbatasan-keterbatasan yang ada di atas.</p>
<p>Dalam prakteknya, bisa jadi demikian:</p>
<p>Ketimbang menuliskan <em>&#8220;GreenDay memang luar biasa! Tata panggungnya memesona. Ada lebih dari 20 gitar ada di samping panggung kanan-kiri&#8221;</em> lebih baik ditulis sebagai <em>&#8220;G&#8217;day top! Panggung top! 20 gitar di ki-ka panggung!&#8221;</em></p>
<p>Ketimbang menuliskan <em>&#8220;Lagu pertama ini judulnya apa ya, kayaknya sih Do You Know the Enemy&#8221;</em> lebih baik ditulis sebagai <em>&#8220;1st song, D&#8217; u knw the enemy?!?&#8221;</em></p>
<p>Ketimbang menuliskan <em>&#8220;American Idiot! Billy Amstrong menarik seorang wanita ke panggung untuk nyanyi bersama&#8221;</em> lebih baik ditulis sebagai <em>&#8220;American Idiot! Ada ce naik stage nyanyi w/ Billy&#8221;</em></p>
<p>Loh, kalau begitu, tata bahasanya jadi awut-awutan dong?<br />
<em> *Speechless!.. help!!!*</em> Tapi sejujurnya, kalau memang bisa untuk tetap menjaga tidak awut-awutan itu lebih baik kok!</p>
<p>Selain itu penggunaan <em>hash tag</em> (contoh <strong>#gdayconcert</strong>) juga dianjurkan.<br />
Kenapa? Karena menulis tweet menggunakan hashtag secara otomatis akan membentuk kanal (channel) tersendiri yang mudah di-track oleh follower dengan cara meng-klik hashtag tersebut. Selain itu, follower ataupun pihak luar sesama pemilik akun twitter (biasa disebut tweeps) dengan mudah bisa ikut bergabung menuliskan tweet dalam hashtag yang sama. Semakin banyak penulis tweet menggunakan hashtag yang sama, semakin besar peluang hashtag tersebut menjadi trending topic. Oh ya, atas nama minimnya karakter yang diperbolehkan untuk digunakan dalam sekali tweeting, pemilihan hashtag janganlah pula terlalu panjang.</p>
<p>Livetweeting memang menyenangkan namun ingat bahwa setiap tweet yang kita kirimkan bisa berarti informasi yang berguna, bisa pula berarti sampah bagi orang lain. Memahami prinsip ini kupikir akan membuat kita berpikir berulang-ulang sebelum meluncurkan tweet ke timeline kita.</p>
<p>Mengenai penyertaan gambar, sejauh kita bisa mengatur besar kompresi filenya, menganalisa seberapa kuat koneksi internet serta berapa lama sisa baterei sebelum habis, akan menjadi satu nilai tambah yang luar biasa. Tapi kalau tak yakin dengan semua syarat yang kusebutkan, mending tak perlu mengirimkan bahkan tak perlu pula menjepret karena ini mempengaruhi borosnya batere atau alternatif lain, jepretlah dengan gadget lainnya.</p>
<p>Oh ya, last but no the least, jangan lupa set auto-update pada periode waktu yang terbesar yang termungkin software twitter client, karena seperti yang kutulis di bagian KENDALA di atas, semakin sering kamu meminta aplikasi twitter client untuk melakukan refresh, semakin boros pula daya batere yang dibutuhkan.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong><br />
Mungkin ini terlalu pagi karena hanya berdasarkan satu kali pengalaman, tapi jika harus membuat sebuah pernyataan yang bisa dijadikan &#8216;muara&#8217;,  penggunaan livetweeting dalam peliputan seperti kemarin sangatlah bermanfaat jika kita memang ingin memberikan laporan langsung dan memberikan update demi update secara periodik.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 495px">
	<img src="http://lh4.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S0Kw1ywOlNI/AAAAAAAAASs/L8LkSmnc7p0/livetweeting02.jpg" alt="" width="495" height="432" />
	<p class="wp-caption-text">LiveTweeting PLUS Blogging! Superr! <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
</div>
<p>Akan tetapi, untuk lebih membantu follower serta orang lain diluar lingkup Twitter itu sendiri, ada baiknya jika kita tak hanya melakukan livetweeting namun mengkombinasikannya dengan media penulisan yang lebih &#8216;lebar lagi leluasa&#8217; seperti blog contohnya. Sinergi antar keduanya bisa dilukiskan sebagai demikian; menyampaikan inti acara dengan listing hal-hal penting via twitter (livetweeting) lalu di akhir livetweeting diimbuhkan kata-kata &#8220;Untuk lebih lanjut, silakan check blog dua hari sesudah sekarang&#8221;.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 495px">
	<img src="http://lh5.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/S0Kw161_VQI/AAAAAAAAASw/ly7b4wjauQk/livetweeting03.jpg" alt="" width="495" height="432" />
	<p class="wp-caption-text">Ilustrasi &#39;kerjasama&#39; tweets dan blog post. Jelas?</p>
</div>
<p>Sambil menyelam minum air&#8230; sambil ber-livetweeting skaligus iklan blog gratis <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Apa salahnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/01/06/livetweeting-pentingkah-mudahkah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LunMay</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2009/12/19/lunmay.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2009/12/19/lunmay.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 17:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nirmana]]></category>
		<category><![CDATA[infotaintment]]></category>
		<category><![CDATA[luna maya]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Kupikir, jika benar gagal aksesnya halaman twitter @LunMay adalah karena dihapus oleh pemiliknya, Luna Maya, maka hal ini adalah tindakan yang paling tepat yang bisa dilakukan di saat-saat ini. Meski barangkali hal itu tak bisa mengurungkan niat PWI Jaya seksi infotaintment untuk membawa kasus &#8216;komentar pedas&#8217; tentang infotaintment dari akun twitter tersebut ke ranah hukum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Rd9gRsjPSek/Syt9TtDJnGI/AAAAAAAAAQE/NEaVRSf_eZY/lunmay.jpg" alt="skrinsyut @lunmay" width="500" height="210" /></p>
<p>Kupikir, jika benar gagal aksesnya halaman twitter <strong><a href="http://twitter.com/lunmay">@LunMay</a></strong> adalah karena dihapus oleh pemiliknya, <strong>Luna Maya</strong>, maka hal ini adalah tindakan yang paling tepat yang bisa dilakukan di saat-saat ini.</p>
<p>Meski barangkali hal itu tak bisa mengurungkan niat PWI Jaya seksi infotaintment untuk membawa kasus &#8216;komentar pedas&#8217; tentang infotaintment dari akun twitter tersebut ke ranah hukum, namun setidaknya hal itu membuktikan bahwa Luna Maya punya niat untuk meminta maaf terhadap apa yang telah ia katakan dan semoga memang demikian.</p>
<p>Akan tetapi, terlepas dari itu semua, secara pribadi aku berkomentar bahwa tindakan untuk mem-posting tulisan:</p>
<blockquote><p><strong><em>&#8220;Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!&#8230;&#8221;</em></strong></p></blockquote>
<p>pada Selasa (15/12/2009) di Twitter/LunMay adalah sesuatu yang tak bisa dibenarkan sama sekali.</p>
<p>Adalah benar bahwa Luna Maya, kamu, aku dan kita adalah manusia biasa yang boleh jengkel terhadap infotaintment atau terhadap apa saja yang memang dirasa menjengkelkan. Tapi mengutarakannya dalam kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan terlebih di ranah publik, meski bisa menyelesaikan kejengkelan tapi di satu sisi justru akan membuka peluang masalah baru yang bisa dimunculkan oleh pihak lain yang terkait.</p>
<p>Kasus ini, dan demikian juga halnya dengan banyak kasus yang mempersengketakan statement seseorang/kelompok di dunia maya semoga bisa menjadi guru terbaik bagi kita untuk menyadari bahwa bagaimanapun juga, meski kita memiliki kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat, namun lebih daripada itu, kenyataan bahwa kebebasan tersebut berkelindan dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat orang lain, adalah sesuatu yang harus dihadapi.</p>
<p>Bebas yang bertanggung jawab lantas menjadi kunci bagi setiap orang untuk tetap eksis di dunia 2.0 ini. Tiada lain!</p>
<p>Selamat berakhir pekan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2009/12/19/lunmay.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

