<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Donny Verdian &#187; unhappy</title>
	<atom:link href="http://donnyverdian.net/tag/unhappy/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donnyverdian.net</link>
	<description>ps: bukan catatan semata ™</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 06:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Are you happy?</title>
		<link>http://donnyverdian.net/2010/05/15/are-you-happy.html</link>
		<comments>http://donnyverdian.net/2010/05/15/are-you-happy.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 16:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cetusan]]></category>
		<category><![CDATA[happy]]></category>
		<category><![CDATA[relationship]]></category>
		<category><![CDATA[unhappy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donnyverdian.net/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[Happy dan Not happy/Unhappy adalah dua hal yang sangat menentukan apakah satu relasi antar manusia di negara ini berjalan dengan baik atau tidak. Pada saat kamu diterima kerja, pertanyaan yang akan muncul pertama kali dari bos kantor yang merekrutmu adalah &#8220;Are you happy to work with me (and the salary as well)?&#8221; Kalau kita gamang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>Happy </em>dan <em>Not happy/Unhappy</em> adalah dua hal yang sangat menentukan apakah satu relasi antar manusia di negara ini berjalan dengan baik atau tidak.</p>
<p>Pada saat kamu diterima kerja, pertanyaan yang akan muncul pertama kali dari bos kantor yang merekrutmu adalah <em>&#8220;Are you happy to work with me (and the salary as well)?&#8221;</em><br />
Kalau kita gamang lantas menjawab <em>&#8220;No, i&#8217;m not sure&#8230;I&#8217;m not happy!&#8221;</em> maka proses akan berhenti di situ.<br />
Tapi kalau kamu dengan lantang menjawab <em>&#8220;Yes, i&#8217;m happy!&#8221; m</em>aka perekrutmu pasti akan bilang bahwa ia juga happy.<span id="more-927"></span></p>
<p>Kenapa? Karena ia tahu bahwa kamu telah siap untuk membalas rasa &#8220;happy&#8221; mu dengan membuat mereka &#8220;happy&#8221; <img src='http://donnyverdian.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Sehingga, jika setelah bekerja sekian lama dan kamu tak berhasil membuat mereka &#8220;happy&#8221; atau meskipun kamu sudah bisa membuat ia berujar <em>&#8220;I&#8217;m pleased but not happy&#8221;</em> itu berarti PR besar bagimu menanti. Mereka akan menagih dan menagih ke-happy-an mereka darimu hingga kapanpun selama kamu dinilai masih berpotensi mampu membuat mereka &#8220;happy.&#8221;</p>
<p>Sepasang suami istri yang masih belia pergi ke dokter dengan perasaan kalut menggendong anaknya yang sedang sakit.<br />
<em> &#8220;Dok, anakku sakit! Badannya demam tak turun-turun sejak semalaman! Sepanjang tidurnya iapun mengigau tak keruan! Piye ini, Dok?!?&#8221;</em> tutur si Ibu dengan suara bergetar karena khawatir akan keadaan anaknya.</p>
<p><em>&#8220;Oh, ok&#8230; i&#8217;ll have a look!&#8221;</em> Sang dokter lantas melakukan tugasnya dengan senyuman dan lemah lembut&#8230; memasang stetoskop, menempelkan ujungnya ke dada si sakit, check sana, check sini.. dan berikut ini jawabannya.<br />
<em> &#8220;Oh, not to worry! Anakmu nggak kenapa-napa&#8230; semua OK, ini cuma gejala cold doang, makanya beri selimut yang tebal dan kaos kaki serta jangan lupa pakaikan topi hangat ketika berada di luar ruangan.&#8221; </em></p>
<p>Dan si ibu tadi mendadak bahagia, bapak pun juga!<br />
<em> &#8220;Are you happy now?&#8221;</em> ujar dokter sambil menggulung kabel statoskopnya.<br />
<em> &#8220;Yes, we are!&#8221;</em> Interaksi itupun selesai.<br />
Si dokter lantas mempersilakan orang tua dan anak itu untuk keluar ruangan prakteknya dan digantikan dengan orang lain yang harus dibuat happy juga olehnya.</p>
<p>Seorang wanita tua mendadak kalut setelah tahu bahwa suaminya berkeluh kesah pada koleganya bahwa ia tak lagi happy dengan pernikahan mereka.<br />
<em> &#8220;Itulah alasanku kenapa akhirnya aku selingkuh dengan kasir convinient store dekat stasiun, Sam!&#8221;</em> ujar si suami kepada koleganya tadi.<br />
<em> &#8220;Loh, kenapa memangnya?&#8221;</em> sahut si kolega keheranan.<br />
<em> &#8220;Ya, karena aku udah nggak happy dengan si Wati lagi!&#8221;</em></p>
<p>Namanya juga negara barat, pernikahan yang sudah berumur puluhan tahun dan menghasilkan lima anak nan gemilang itupun diparipurnakan hanya dengan mendatangi kantor pemerintahan untuk menyatakan perpisahan mereka secara baik-baik. <em>&#8220;Dia istri yang baik, nice and good person&#8230; tapi, aku sudah nggak happy menikah dengannya!&#8221;</em><br />
Talak pun diberlakukan&#8230; sepulang dari kantor itu, si suami ngeloyor pergi bersama kekasih barunya dan si Wati, wanita tua itupun pergi dalam kemalangan dan kesendirian yang abadi.</p>
<p>Kalian mungkin berujar <em>&#8220;Sebegitu mudahkah menilai interaksi inter-personal hanya dengan dinilai dari happy dan nggak happy saja?&#8221;</em><br />
Tapi lantas aku berani balik bertanya, justru haruskah sebuah interaksi inter-personal dipertahankan kalau ia tak mampu membuat kalian happy?</p>
<p>Berapa orang pasangan suami-istri yang tak berani berujar happy-unhappy hanya karena larut dalam perasaan &#8216;tak enak&#8217; atau &#8216;tak etis&#8217;?</p>
<p>Berapa banyak pegawai yang sebenarnya tak terlalu &#8216;happy&#8217; bekerja di perusahaan tapi harus pura-pura &#8216;happy&#8217; karena takut dipecat dan malas untuk mencari sesuatu yang lebih baik dan lebih meng-happy-kan meski butuh sedikit perjuangan lebih keras lagi?</p>
<p>Berapa banyak kantor yang barangkali jika mau menuruti aturan sudah bisa dikatakan &#8216;unhappy&#8217; tapi karena pertimbangan &#8216;etis&#8217;, &#8216;takut didemo&#8217; dan &#8216;nggak enak&#8217; lantas tetap mempekerjakan pegawai yang tak membuatnya happy?</p>
<p>Tulisan ini bukan ajakan untuk membuat perpecahan dalam interaksi apapun itu namanya karena bagiku, sampai kapanpun itu, perpecahan tentang sesuatu yang baik adalah pertanda kemenangan si hitam ketimbang si putih. Tapi pesan yang ingin kusampaikan adalah keterbukaan dan keberanian. Kalian boleh mengaku sebagai manusia modern yang open mind dan tak tradisional, tapi kalau kalian tak berani untuk setidaknya menakar jalannya interaksi dalam kata-kata yang simple, happy dan unhappy saja, haruskah segala predikat itu tadi dipertahankan?</p>
<p>Jadi, sekarang&#8230; kalau kutanya terkait dengan  pekerjaanmu,  keluargamu ataupun dengan pertemananmu, beranikah kamu menjawab yang sejujurnya dari satu pertanyaan simple ini,  <em>Are you happy?</em></p>
<p>Selamat berakhir pekan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donnyverdian.net/2010/05/15/are-you-happy.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

